Kadang, sebagai pembaca, kita boleh tidak percaya. Masa sih bisa jatuh cinta berulang kali tetapi hanya satu yang benar-benar berarti? Lalu apa istilah yang lain kalau bukan benar-benar? Yoko dan Rum, mungkin mau membuktikan hal ini. Perjalanan cinta mereka berdua ternyata jadi urusan keluarga kedua belah pihak, kekasih lama dan baru, teman dan sabahat, dengan segala rasa iri, simpati, cemburu, atau rindu. Sehingga tidak pernah jelas mana urusan pribadi dan mana yang mengurusi orang lain. Berbelit, meliuk ke sana kemari, dan beberapa peristiwa terjadi tak terduga. Opera Jakarta, menampilkan kisah sehari-hari, dengan segala kekuatiran dan keprihatinan kita. Tokoh-tokohnya bukan jagoan yang biasa muncul di layar film atau layar televisi, yang kisahnya habis setelah pertunjukan selesai. Justru sebaliknya, inilah kisah para penonton setelah pertunjukan selesai. Novel ini barangkali jadi semacam jembatan antara karya sastra yang dianggap angker dan karya pop yang dipandang sebelah mata pun tidak. Ketika dimuat bersambung di Kompas, beberapa pembaca menulis surat bahwa kisah dalam Opera Jakarta ini mirip dengan kisah mereka. Komentar penulisnya, “Banyak kisah semacam ini diangkat dari kisah sebenarnya, maka agak lucu jika justru mengilhami kecocokan dengan masa lampau seseorang.” Kita boleh percaya boleh tidak setelah membaca hingga selesai. Di jantung Jakarta ini segala apa bisa terjadi juga cinta, berulang kali tapi hanya satu yang benar-benar berarti kita baru tahu, sesaat sebelum mati Titi Nginung adalah nama samaran Arswendo Atmowiloto pada suatu ketika.
Buku yang sempat difilmkan pada tahun 80-an kalo ngga salah. Beli buku ini juga karena ingat ada film dengan judul yang sama selain karena pengarangnya yang dulu sering aku baca karyanya di majalah Hai. Titi Nginung alias Arswendo.
settingnya tahun 80an dan banyak hal yang membuat saya tertarik dari cerita maupun latar belakangnya. Dari gegap gempitanya pertandingan tinju hingga canggihnya campur tangan intel. Dari kisah cinta yang tiap hari jumpa seperti minum obat hingga kebiasaan lumrah orang jaman dulu yang tak tahu tahun atau bahkan tanggal lahirnya.
cerita kehidupan yang tak wajar tapi mungkin. anak yang seperti angin, tak terlalu diperhatikan dan dicari namun ada. kekasih yang putus nyambung benci tapi rindu. seorang sopir yang selalu "iya tuan" dan sahabat yang di-php-in. semua ada dalam cerita ini. seolah dari satu buku ini kita terlempar dijaman dulu dan menengok kehidupan jakarta masa itu.
titi nginung alias arswendo selalu pintar membawakan cerita, tapi kali ini saya benar-benar terpukau. so far ini novel terbaiknya yang pernah saya baca.
Buku ini sangat seru dari halaman pertama. Memaparkan konflik dan "gilanya" orang Jakarta dari berbagai kelas. Menarik. Awalnya seperti cerita detektif, sedikit demi sedikit terkuak problem-problem mendalam lainnya. Sayangnya mendekati bagian akhir ada beberapa bab yang terasa out of place, sepertinya penulis ingin memasukkan segala unsur genre di sini, misteri-thriller-drama-romansa berhasil tapi saat memaksakan adanya aksi over the top dan konspirasi, rasanya kok malah membuat cerita melambat dan berputar-putar. Tapi secara keseluruhan, buku ini sangat menarik dan intriknya masih relevan dengan masyarakat Jakarta sekarang ini. Rasanya sih ya.
Sepertinya saya pernah membaca versi kisah bersambung, ternyata dulu kisah ini memang merupakan cerita bersambung di Harian Kompas. Saat dahulu, keberadaan koran tercetak masih menjadi hal yang sangat dinantikan dan diperlukan.
Dulu, sepertinya saya membaca ketika duduk di sekolah menengah (ketahuan deh angkatannya). Kesan saat itu tentu berbeda dengan saat ini. Satu yang sama, kisah ini seru Hanya saya saja yang kurang cocok dengan tipe kisah seperti ini.
Terlepas dari karakter Rum dan Yoko yang super-annoying (mungkin juga toxic, kalau kata anak sekarang), perpaduan prosa berbunga gaya lama dengan gaya baru yang ekspresif menjadi kelebihan tersendiri dari Opera Jakarta. Sayang, rada bertele-tele saja alurnya. Dan sebagai produk Orde Baru, sentilan politiknya memang harus halus, meski sebenarnya bisa lebih garang lagi.
Kekuatan novel-novel Titi, selain suspens yang terjaga, adalah gaya bahasa yang memikat. Kalimat-kalimat pendek yang ia gunakan penuh tenaga dan tidak terkesan artifisial. Meluncur begitu saja tanpa terpengaruh konteks ruang dan waktu. Dengan luwesnya ia melompat dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu. Dunia yang dilahirkannya bukan dunia kenyataan, tetapi dekat dengan pembacanya. Lebih dari itu, Titi ingin mengajak kita untuk jujur, sekalipun dalam lamunan. Sebab bahkan, bukan tidak mungkin dalam lamunan pun kita tidak bisa berlaku jujur. ~ “Lamunan-Lamunan Lepas yang Menemukan Bentuk”, Harian Kompas, 1988.
Film jaman SD, nggak ingat sama sekali jalan ceritanya. Tapi rada ingat pemainnya ensambel aktor kuat jaman itu. Deddy Mizwar, Ray Sahetapi, Rano Karno, Mathias Muchus, dll...
Pertama kali tertarik baca novel ini karena lihat video Mas Yusi di Youtube tentang Olahraga dalam fiksi...si Yoko yang jadi tokoh utama novel ini udah kaya Giacommo Cassanova ya...