Meranalah orang yang mencari sapi, padahal ia menunggang sapi.
Apakah kalian pernah percaya saat kalian jauh lebih muda dibandingkan saat ini, bahwa suatu saat kalian akan menjadi orang yang hebat? Maka kalian menjalani hidup sebaik mungkin, penuh tekad, berpegangan dengan apa yang kalian percayakan tersebut. Tapi kemudian, hidup berbalik kejam kepada kalian dan menghempaskan kalian ke titik yang memaksa kalian melakukan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kalian perjuangkan selama ini. Dan lalu, kekejaman hidup itu sendiri yang mendorong kalian ke dasar jurang. Kalian tidak memiliki pilihan lain selain mengeram di dasar jurang itu, tenggelam dalam ribuan pertanyaan dan penyesalan, diliputi kekecewaan.
Dan semuanya begitu nyata terjadi di luar kekuasannya, seolah-olah kehidupan dengan sengaja dan terencana mengembalikannya ke dalam nasibnya yang semula.(hlm. 105).
Bukankah kehidupan memang seperti itu?
Saat saya selesai membaca halaman terakhir, setidaknya begitulah yang bisa saya gambarkan tentang sosok Kusni Kasdut.
Namanya tersohor, walau beliau meninggal (dengan hukumannya) di tahun 1980 yang mana saya pun belum lahir. Itulah yang membuat saya tertarik membaca buku biografi ini (saya tidak tahu dimana batas fiksi buku ini, apakah Pak (mendiang) Parakitri yang mewawancari langsung Kusni Kasdut untuk menulis ini, atau ada campur-tangan beliau sendiri, atau Pak Parakitri mencampurkannya dengan fiksi imajinasinya sendiri). Entahlah, tapi setidaknya saya belajar banyak dari buku ini.
Memang benar buku ini adalah biografi dari Kusni Kasdut, menceritakan perjalanannya dari menjadi seorang pejuang kemerdekaan dan revolusi hingga menjadi kriminal tersohor yang harus dihukum mati oleh negara yang ia perjuangkan dulu. Tapi, bagian awal buku ini cukup menyorot sejarah Indonesia menjelang kemerdekaan, pasca kemerdekaan, hingga revolusi. Menyinggung dampak Perjanjian Renville dan Linggarjati, dan memposisikan rakyat (salah satu dan khususnya Kusni Kasdut) yang terkena efek dari perundingan-perundingan tersebut. Bisa dibilang, hampir seperempat buku ini berisi tentang sisi sejarahnya, baru fokus kepada Kusni Kasdut sampai akhir. Baguslah, untuk menyegarkan ingatan kita tentang sejarah Indonesia yang mungkin saja kita sudah lupakan tanpa sengaja.
Dengan kembali "diingatkan" tentang sisi pahit sejarah negara kita tersebut, membuat saya termenung. Ternyata hidup kita saat ini jauh sekali, amat sangat jauh, lebih mudah dibandingkan jaman dahulu, dibandingkan hidup masyarakat Indonesia baik saat jaman revolusi atau sebelum kemerdekaan (menarik ke jaman penjajahan tentunya terlalu jauh ya). Dari buku ini kita bisa mengetahui bahwa harapan hidup saat itu rendah sekali, untuk makan pun susah. Tempat tinggal seadanya, jauh dari kemewahan, uang susah didapatkan, apalagi mendapatkan pekerjaan ditambah dengan bumbu diskriminasi ras dan kolonialisme. Sekarang? Kalian bisa menilainya sendiri. Bersyukurlah kita karena kita kini berada di tempat yang diperjuangkan leluhur kita sampai titik darah penghabisan.
....tapi rupanya orang waktu itu tidak butuh pakaian melainkan makanan."(hlm. 109)
Tapi kemudian, mari kita fokus kepada Kusni Kasdut kembali. Mungkin kita bertanya satu hal. Jika Kusni Kasdut merupakan seorang pejuang dan pembela negara, mengapa kita kini mengingatnya sebagai sesuatu yang berbeda? Mengapa kita mengingatnya sebagai seseorang yang menculik dokter, membunuh pengusaha dan seorang polisi, merampok museum? Mengapa kita mengingatnya sebagai seseorang yang "ahli" lari dari penjara (di antara 7 kali percobaan, 4 kali berhasil)? Mengapa kita mengingatnya sebagai seseorang yang dihukum hati oleh pengadilan negara ini?
Apa penyebab Kusni Kasdut memilih jalan yang berbeda?
Jawabannya, adalah pepatah Tionghoa yang Sumiyati (istri kedua Kusni Kasdut) dapatkan dari mendiang ayahnya:
Meranalah orang yang mencari sapi, padahal ia menunggang sapi.
Kusni Kasdut tidak pernah puas (begitulah yang saya dapatkan saat membaca karakter dan memoar hidupnya). Ia terlalu banyak mencari, tanpa menyadari apa yang telah dimilikinya termasuk kesempatan dan "kekayaan dalam kesederhanaan" yang ia miliki, terlebih lagi...kebebasan. Sudah terlanjur telat bagi Kusni untuk menyadari apa yang dimilikinya, saat kebebasan sudah terenggut darinya. Terenggut, oleh "keserakahan" dan "tidak pernah cukup" yang membuatnya selalu mencari dan mencari.
Oh, seandainya ia sejak semula bisa sadar pada nafsu itu, lalu berhenti dan mulai mewujudkan hidupnya...(hlm. 287)
Lalu,
Batinnya pun kotor sehingga segala ukuran tertimbun dan lenyap, dan pada akhirnya ia kehilangan pedoman. Ia duduk di atas sapinya, tapi tidak lagi merasakannya, karena itu, dengan sia-sia dan penuh kelelahan mencari sapi ke ujung dunia. (hlm. 288)
Saat Kusni sudah melalui titik puncaknya dalam hidup, saat ia mulai menerima dan merengkuh di mana dirinya berada, ia banyak merenung.
....tubuhnya kehilangan tenaga, lumpuh, dan berkeringat. Lenyap segala kemauan, berhenti segala pikiran. Cukuplah sudah, keluhnya. Waktu telah menghajarnya dan mengembalikannya ke batas paling rendah.
Dan, seperti mengaitkan benang merah, dalam misi mencari tahu apa yang bergejolak dalam hati Kusni Kasdut beserta kepahitan apa yang telah dialaminya yang membuatnya memilih jalan kriminal, saya pun menggarisbawahi pemikiran dan perenungannya, serta menyimpulkan dari berbagai peristiwa yang terjadi.
Pertama, Kusni merasa ia terlahir dari bentuk suatu pergunjingan, dari ayah yang sudah menikah sebelumnya yang kemudian menikahi iparnya sendiri, yang mana adalah ibunya. Hal ini, yang disembunyikan oleh ibunya, membuatnya menjadi seroang yang pendiam, gemar mengasingkan diri, merasa kurang bahagia, dan karenanya
ia tidak bisa hidup di dunia dengan rasa aman tanpa menaklukkan dunia itu sendiri.
(hlm. 286)
Kedua. Pernahkah kalian mendengar, semakin dikejar, semakin jauh? Kusni mengakuinya:
Tapi dunia dan kehidupan ini rupanya bukan untuk ditaklukan tapi dihidupi.
. (hlm. 286) Ia selalu merasa belum berbuat cukup, masih banyak yang perlu ia kejar, dan ia ingin membuat pembuktian kepada yang telah menghina dan mengejeknya. Maka
ia terus berlari dan mengejar, tapi batas kehidupan ternyata tidak ada
. (hlm. 287)
Dunia ini menakutkannya, karena itu ia tak bisa hidup di dalamnya dengan damai kecuali menaklukkannya.(hlm. 180)
Ketiga, Kusni tenggelam dalam dendam, yang telah membalutnya begitu tebal hingga ia menipu dirinya sendiri.
...ia telah hanyut oleh dendam masa kanak-kanan dan tuntutan harga diri serta jasa sebagai pejuang
. (hlm. 287) Dan lalu,
...ia anak miskin merasa tanpa harga. Mengapa harus menolaknya dalam kehidupan?
(hlm. 287). Dituturkan dalam buku ini, Kusni memiliki perasaan tidak aman, perasaan dilukai tiap detik dalam kehidupan (hlm. 222). Kalau saya menyimpulkan, mungkin Kusni merasa sekelilingnya bersifat ekslusif, tanpa dirinya dilibatkan. Ia ditolak pekerjaan di sana-sini setelah negara mulai sedikit "agak" stabil setelah revolusi. Dan ia merasa "terbuang", terlebih lagi melihat sesama teman seperjuangan yang sukses sana-sini berusaha, sedangkan melihat dirinya di mana berada saat itu, ia merasa perjuangan dan pengorbanannya untuk negara dulu tidak berarti karena ia merasa sudah dilupakan. Tidak ada yang mau menerimanya bekerja bahkan ketika ia sudah menjelajahi pulau Jawa untuk mencari peluangnya. Bahkan BRN (Biro Rekonstruksi Nasional, mengurus penempatan bekar pejuang) hanya bisa memberinya uang sedikit dan surat keterangan yang tak ada artinya. Kusni yang juga sering lompat dari penjara satu ke penjara lainnya bahkan saat jaman revolusi pun, merasa muak diperlakukan seperti layaknya binatang dan bukan manusia, yang mana mempertebal rasa dendamnya. (hlm. 210). Ia bahkan bertanya, lewat narasi oleh Pak Parakitri,
atau mungkin bangsa sendiri lebih kejam dari Belanda?
(hlm. 208)
Apa mereka ini dulu ketika ia merangkan di bawah desingan peluru memburu Inggris dan Belanda? Tapi, sekarang mereka telah menguasainya!
(hlm. 207)
...pengorbanan tanpa batas, pengorbanan dan pengabdian tanpa noda. Sekarang apa yang membuatnya tercecer di belakang? Apa sebabnya seperti kembali saja ke masa hitam yang dulu?
(hlm. 186)
...bahwa hidupnya kini telah berada di antara batas suatu kekuasaan yang baru, yang sama sekali tidak dipahaminya. Ia merasa dirinya kembali, bahkan lebih kerdil daripada dulu.
(hlm. 180)
Keempat. Kusni terlena dengan apa yang dihasilkannya dari pertama kali merampok, yang dilakukannya dengan menculik seorang dokter. Hal ini membuatnya terlena, hingga ia percaya kesuksesan akan selalu terjadi seperti yang pertama kali. Sehingga ia terus ingin mencoba, mencoba, dan mencoba, mempercayainya sebagai "usahanya" dalam merengkuh kesuksesan dalam hidup seperti teman seperjuangannya. Dan inilah yang dimaksud dengan tidak ada pernah rasa cukup baginya, ketika ia bisa mengubah hidupnya dengan hasil yang ia dapatkan dari pertama kali merampok itu.
Hatinya begitu penuh. Tapi jelas bukan dengan kebahagiaan, tapi semacam kepuasaan seperti jika seseorang berhasil memukul jatuh seorang lawan yang lebih kuat dan menguasai.
(hlm. 193)
Kelima. Kusni tergerak oleh sekitarnya. Saat itu, mungkin ia tidak begitu mengerti apa yang ia perjuangkan. Semata-mata karena sekelilingnya dipenuhi orang-orang yang menyerukan kemerdekaan, memerangi dengan garang orang-orang yang tidak memiliki warna kulit sama dengan mereka. Saat percakapan antara Kusni dan Budi, Kusni tersulut emosi saat Budi berkata:
"...dan kenyataannya, banyak di antara pemegang senjata ini tidak pernah tahu tetnagn proklamasi dan berjuang bertahun-tahun hanya karena setiap orang terlibat di dalamnya." (hlm. 17).
Mungkin Kusni marah, merasa tersinggung, karena ia adalah apa yang dibicarakan Budi?
Mereka hanya tahu bahwa penjajah harus minggat dari tanah air. (hlm. 87)
Terlebih lagi, Kusni sedang bergelut dengan masa lalu dan identitasnya sendiri. Itu masalahnya yang belum selesai, belum menciptakan damai dan tenang di hatinya. Tapi ia sendiri sudah "remuk" oleh peperangan yang diikutinya dan hanya menambah trauma dan dendam satu dan lainnya:
Apa urusannya dengan pertempuran yang sudah didasari cekcok macam ini sementara ia pun cekcok dengan dirinya sendiri?(hlm. 87)
Saya juga kurang menyukai sosok Kusni yang menurut saya terlalu cepat menaruh hati kepada wanita, hanya karena mereka menarik di matanya. Melalui buku ini, ia diceritakan menaruh hati kepada wanita karena kecantikan mereka: Rahayu, adik Subagyo. Wennie Mamisa, pujaan hatinya yang bahkan "tubuhnya" masih "menghantui" Kusni hingga masa-masanya di penjara. Lalu, istri pertamanya, Ningsih, yang masih belia saat menikah dengannya. Lalu, Sumiyati, inilah wanita yang paling saya kasihani. Hidupnya menderita karena Kusni, tetapi ia setia padanya. Kusni baru menyadari betapa ia membuang-buang Sumiyati dan perlakuannya yang semena-mena pada wanita itu saat semuanya sudah terlambat, dan penyesalan akan tidak bisa menebusnya pada Sumiyati sangat menghantuinya selama ia merenungi hidupnya di penjara. Melalui narasi oleh Pak Parakitri, Kusni digambarkan "rela" menebus kepahitan yang telah ia sebabkan pada hidup Sumiyati. Tapi justru saat itu, tidak mungkin lagi bisa. Yang kemudian saya tidak sukai adalah bagaimana Kusni tidak lagi menemukan istrinya (Ningsih, istri pertama) "menarik" lagi secara seksual, karena Ningsih sudah disibukkan oleh urusan rumah tangga. Saya menulis di halaman yang menuturkan ini, dengan tulisan bercetak tebal: "Dasar pria!". Tega sekali Kusni berpikir seperit itu di saat Ningsih rela setia menunggu dan mencintainya, di tengah keterbatasan pria itu.
Lalu ada bagian saat Kusni masuk ke Brigade Teratai, bertugas dalam Staf Pertempuran Ekonoomi. Ia "bertugas" mengambil alih uang, peralatan, atau senjata dari pihak musuh. Dalam cerita ini, ia "merampok" emas dari seorang rakyat Indonesia, yang disebutnya Cina Kaya. Dan mengatasnamakan kepentingan negara, ia pun "mengambil alih" apa yang bukan haknya.
...ia memang puas, menunaikan tugas mengabdi ibu Pertiwi, tanpa batas, tanpa noda. (hlm. 131). Dan saya pun mempertanyakan, iyakah begitu?
...ia telah tiba pada batas tenaganya. Dengan mata batin yang bening, bersih dari segala debu selama berdiri itu, ia melihat sapinya.....ia hanya bisa menanti pengampunan, bukan merebutnya.
(hlm. 288)
Tapi karena dia tahu kenangan dan keinginan hanya mimpi, dia seharusnya tak membiarkan diri dikuasai oleh semua itu.
(hlm. 289)
Sungguh miris bagaimana hidup "memperlakukan" Kusni, dan bagaimana Kusni bersikap reaktif terhadapnya. Apa yang telah ia jalani amat disesalinya, namun penyesalan selalu datang terlambat. Dari sini, kita belajar untuk membuka mata pada apa yang kita miliki dan tidak mencari-cari apa yang tidak kita miliki hingga melupakan hakikat kita sendiri....
(Terimakasih, melalui Cak Kus, saya banyak sekali belajar. Setidaknya, walau mungkin Kusni Kasdut tidak mendapatkan rasa puas yang diharapkannya semasa hidup, namanya dikenang hingga saat ini melalui tulisan-tulisan, dan kisah hidupnya yang lebih banyak diisi kepahitan akan menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang. Termasuk saya.)
Tapi Kusni tahu bahwa dalam satu hal yang sangat penting bagi manusia, (adalah) ia lebih beruntung dari kebanyakan orang. Dipelajari dan dipahaminya banyak hal langsung dari perbuatan, langsung dari kehidupan.
(hlm. 296)
Beberapa kutipan yang saya sukai:
-> "Tapi mengapa ada orang yang merasa lebih, karena itu melebih-lebihkan pengorbanannya, lantas merasa berhak menuntut imbalan lebih banyak dan kalau tak terkabul membenarkan tindakan-tindakannya?" (Budi, hlm. 18)
-> "Terhadap setiap kekuasaan, aku serasa tak berdaya dan karena itu anti. Bayangkan! Anti tapi tak berdaya bikin apa-apa." (Kusni. hlm. 101)
-> "Penjara kita memang penjara (Bung), tapi penjara yang sesungguhnya mungkin terletak di luar." (Kusni, hlm. 298)