Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ekspedisi Anjer-Panaroekan - Laporan Jurnalistik Kompas: 200 Tahun Anjer-Panaroekan, Jalan (Untuk) Perubahan

Rate this book
Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dibuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels (1808-1811), membujur dari Anyer di barat ke Pana- rukan di ujung timur Pulau Jawa. Jalan sepanjang 1.100 kilometer ini menjadi akses penting bagi penguasa Belanda yang akan mempersingkat waktu tempuh, berprospek ekonomi, serta sebagai sistem pertahanan.

Di Serang dan Tangerang, perjumpaan dengan para buruh pabrik mengingatkan pada sistem ekonomi pengisapan warisan kolonial. Melewati Puncak Pas, di balik elok alam dan mojang Priangan, tersimpan kisah tentang petani yang menjadi buruh di bekas tanahnya sendiri.

Turun dari Cadas Pangeran, tempat ribuan korban pekerja tewas dalam pembangunan Jalan Raya Pos. Menemui petani-petani tebu di Cirebon saat ini serasa disedot ke masa dua abad lalu.Semarang menyisakan kota lama yang sekarat oleh hantaman rob dan penurunan muka tanah.
Pati-Rembang-Lasem menjadi kota pesisir yang miskin, di Juwana, Pati, melihat nelayan Desa Bendar yang tinggal di rumah-rumah gedongan.Di Tuban dan Gresik, harapan juga berseri ketika melihat pabrik-pabrik menjulang. Namun, kemiskinan ternyata tetap tak terusir. Di Porong, Sidoarjo, hingga dua tahun sejak lumpur menyembur, tak ada kepastian untuk pindah ke tempat lain. Buku ini membahas sejarah pembangunan jalan itu, memotret perkembangan daerah di sepanjang jalur, mengangkat kisah-kisah kemanusiaan yang menyentuh nurani, menggali potensi wisata dan investasi, serta dilengkapi dengan peta Jalan Raya Pos (De Grote Postweg).

464 pages, Paperback

First published November 1, 2008

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (16%)
4 stars
20 (40%)
3 stars
20 (40%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for ubi.
1 review
December 7, 2024
Baca buku ini beneran bikin sedih dan mikir. Bahkan setelah 200 tahun pun kondisi tidak banyak berubah. Bolehlah dulu kita menyalahkan penjajah yang mencuri sumber daya, tapi sekarang?

Industrialisasi yang dilakukan secara impulsif bagai pedang bermata dua. Terlihat menjanjikan di awal, namun ternyata mematikan Bangsa sendiri. Indonesia perlu berbenah, membangun industri yang lebih memanusiakan rakyat dan melestarikan alam. Lucu juga ketika membaca buku sejarah, Pulau Jawa selalu digambarkan sebagai pulau yang subur dan makmur. Tapi nyatanya, untuk makan pun rakyat harus menderita. Mau sampai kapan Indonesia terus terjebak dalam bayang-bayang kejayaan masa lampau? People are dying yet y'all stil had a gut to corrupt everything, shameless.
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
July 27, 2009
membangkitkan kenangan tersendiri bagi diriku yang pernah tinggal di cirebon, bandung, semarang, surabaya, kini jakarta.. lebih dari separuh hidupku melintasi jalan ini setidaknya sekali setiap tahun.
ingat kemacetan di alas roban yang kini tergantikan oleh jalan mulus. tempat bis berhenti di gringsing untuk makan malam. restoran di tuban yang langsung menampar laut. desa nelayan di losari. pelabuhan di cirebon. puncak pass yang segar. pasir putih di pasuruan..
betapa dalam buku ini banyak yang tergantikan.. era pasar bebas yang membuat rotan cirebon terpuruk, salah satu buaian rotan ini pernah dipakai oleh adikku..
kini, bypass dimana2 membuat kota2 yang dilaluinya menyepi.. pembangunan yang hanya menguntungkan bagi kalangan pemodal, sedangkan rakyatnya tertinggalkan. arah angin yang bertiup membuat yang tak bs memanfaatkan akan terhempas. tidak ada jalan lain selain perbaikan pendidikan, agar setiap ada goncangan maka akan ada pegangan, supaya tidak menjadi buruh di tanah sendiri..
jalan pos, jalan kenangan...
Profile Image for Pandasurya.
177 reviews119 followers
March 19, 2010
Keindahan itu sesungguhnya ada dalam ruang2 tersembunyi. Ia tidak larut dalam gebyar dunia, karena dialah yang sebenarnya menghadirkannya. Dia bukan tidak tampak, ia hanya bersetia dalam keheningan. (h. 211)

Kita catat dari daerah ini, kawan
nelayan dimakan ikan
sedang di darat hanya tiga jam istirahat
dari segala yang didapat
untuk tengkulak dan pajak
nasi dan pukat
(h. 321)

***

Setelah membaca buku ini maka pertanyaan besarnya adalah:
Setelah ratusan tahun kemudian kenapa kota2 di sepanjang Anjer-Panaroekan ini tidak tumbuh menjadi lebih baik, justru malah makin buruk?
Profile Image for Dina P..
194 reviews10 followers
February 7, 2013
Buku catatan perjalanan penelusuran jalan raya Anyer-Panarukan buatan Daendels tahun 1808. Buku yang menarik, banyak sejarah dan fakta yang dituliskan di sini meskipun banyak juga yang diulang-ulang dan agak membosankan.

Namun, kesan yang kuat justru "buku tentang cerita yang menyedihkan". Terutama karena salah urusnya negara ini terhadap potensi-potensi kota-kota dan pulau Jawa secara keseluruhan. benar-benar cerita yang membuat depresi.
Profile Image for Taufik Hidayat.
5 reviews4 followers
April 6, 2009
Woow . . . sejarah memang sangat menarik untuk ditelusuri . . . walaupun menemui kenangan pahit dimana 30rb nyawa menjadi harga pembuatan jalan anyer-panarukan :(
Profile Image for Bayu C Maulana.
11 reviews2 followers
May 1, 2009
Big nation is a nation that always remember its history...
Displaying 1 - 7 of 7 reviews