Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ruang Milik Sendiri

Rate this book
J I K A I N G I N memahami kehidupan modern, karya-karya Virginia Woolf tetap penting untuk kita lirik. Masuk ke dalam karya-karya Woolf, baik dalam novel-novelnya, cerpen-cerpen- nya, esainya, pamfletnya, atau surat-surat yang diterbitkan, buku harian, dan memoar, mengantarkan kita ke dunia di mana segala sesuatu dalam kehidupan modern (sinema, sek- sualitas, fesyen, pendidikan, feminisme, politik, perang, dan sebagainya) mulai dieksplorasi, dipertanyakan, dan dipikirkan ulang. Modernitas membentuk karya dan dirinya sebagai pe- rempuan yang menulis.

150 pages, Paperback

First published September 1, 1929

10 people are currently reading
45 people want to read

About the author

Virginia Woolf

1,863 books28.9k followers
(Adeline) Virginia Woolf was an English novelist and essayist regarded as one of the foremost modernist literary figures of the twentieth century.

During the interwar period, Woolf was a significant figure in London literary society and a member of the Bloomsbury Group. Her most famous works include the novels Mrs. Dalloway (1925), To the Lighthouse (1927), and Orlando (1928), and the book-length essay A Room of One's Own (1929) with its famous dictum, "a woman must have money and a room of her own if she is to write fiction."

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (15%)
4 stars
21 (63%)
3 stars
6 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Hanif Nurrahman.
48 reviews2 followers
June 15, 2025
Dibuat pusing oleh perempuan dan fiksi. Kita diajak untuk berpikir bahwa, mungkin sejak dulu banyak perempuan yang menulis namun tak pernah muncul karena budaya yang menekan perempuan.

Buku tipis dan lambat.
Profile Image for Sandra Frans.
236 reviews3 followers
December 26, 2021
Walau sudah sering mendengar namanya, ini adalah tulisan Woolf pertama kali yang saya baca. Ruang Milik Sendiri adalah esai Woolf yang menganalisis mengenai perempuan dalam dunia kepenulisan. Entah itu sebagai penulis maupun yang digambarkan dalam tulisan. Di dalam buku singkat ini, Woolf mempertanyakan banyak hal juga menekankan hal lainnya. Gender sebagai struktur sosial banyak dimunculkan Woolf di sini. “Apa dampak kemiskinan terhadap pikiran, apa dampak kekayaan terhadap pikiran?”
Struktur sosial ini juga Woolf gambarkan dalam dunia akademis, dengan memakai perumpaan kampus Oxbridge. DI bagian lain, Woolf juga membahas tulisan para sastrawan dunia dan menelaah bagaimana mereka melihat perempuan dan fiksi di situ. (Saya kurang mengerti beberapa bagian di sini, mungkin karena banyak penulis yang belum pernah saya baca karyanya. Sepertinya memang harus membaca lebih teliti untuk lebih paham).

Hal yang sangat sederhana yang bisa saya tangkap adalah Woolf ingin menggambarkan bahwa perempuan masih ada pada posisi yang rentan dalam menuangkan isi pikirannya dia secara bebas. Perempuan butuh ruangan untuk berekspresi.

Salah satu quote yang saya suka adalah: ‘Apapun terjadi ketika keperempuanan tak lagi berada dalam posisi yang dijaga, pikirku membuka pintu. Namun apa hubungannya semua ini engan topik tulisanku, Perempuan dan Fiksi? Aku bertanya masuk ke dalam ruangan.’
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
March 9, 2022
"Sungguh, aku berani menebak bahwa Anon, yang menulis begitu banyak puisi tanpa membubuhkan namanya, adalah seorang perempuan."
(hlm. 56)

Ketika sudah diperingatkan oleh penerjemah tentang banyaknya gangguan kata hubung 'tetapi', elipsis, dan tanda kurung, kesulitan-kesulitan yang datang kemudian semestinya menjadi masalah saya sendiri. Tentu saja, ini buku pemikiran perempuan yang seharusnya sudah saya baca lama sekali sebelum saya setua ini—mungkin akan lebih mengigit jika membacanya bukan di kamar nyaman saya, di meja kerja kayu saya, di kasur empuk saya. Pada saat ini, membaca Ruang Milik Sendiri berarti menyuruh diri sendiri untuk mensyukuri keadaan keperempuanan saya hari ini, sebab menurut Woolf, untuk dapat menulis, perempuan harus memiliki ruang sendiri. Puji syukur, saya memilikinya.

3 menit Macat Analysis merangkum singkat buku ini, termasuk narasi Woolf tentang saudara perempuan fiktif Shakespeare, Judith Shakespeare : https://www.youtube.com/watch?v=ijEspjI_ox8. Woolf berpendapat jika ada perempuan penulis, pemain teater, seniman apa pun yang hidup pada zaman Shakespeare, perempuan itu sungguhlah bernasib sial, tidak punya kesempatan dan kebebasan berkarya seperti Shakespeare.

A Room of One's Own terbit pada 1929, 19 tahun setelah perempuan pertama kali memperoleh hak suara di Inggris. Jadi, keenam esai ini merupakan buah perenungan, kritik atas sejarah yang memarjinalkan perempuan, khususnya dalam bidang seni dan sastra—didasarkan pada dua kuliah Woolf yang disampaikan pada Oktober 1928 di Newnham College dan Girton College, perguruan tinggi konstituen wanita di University of Cambridge.

Penutupan kuliahnya memuat nasihat kepada mahasiswanya:
...setidaknya ada dua perguruan tinggi perempuan di Inggris sejak tahun 1866; setelah tahun 1880 seorang perempuan yang menikah diizinkan oleh hukum untuk memiliki harta miliknya sendiri; dan pada tahun 1919 perempuan diberi hak suara. [...] Ketika kau merenungkan privilese besar ini dan lamanya waktu menikmatinya, dan fakta bahwa saat ini ada sekitar dua ribu perempuan yang mampu menghasilkan lebih dari lima ratus pound setahun dengan satu atau lain cara, kau akan setuju bahwa alasan kurangnya kesempatan, pelatihan, dorongan, semangat, waktu luang dan uang tak lagi berlaku.
(hlm. 134)

Sayang, buat saya, terjemahannya agak membingungkan. Butuh perhatian utuh untuk menelusuri kalimat satu ke kalimat lainnya, dengan paragraf-paragraf panjang (alhamdulillah, buku ini tipis!). Ketika kutanya editornya, beliau bilang versi bahasa inggrisnya pun melantur (sebelum menyebutnya melantur, saya lebih suka menyebutnya sebut dengan puitis). 4/5 untuk ide-ide esainya, 3/5 untuk terjemahannya.
Profile Image for Achandra.
212 reviews5 followers
April 2, 2024
Yg tertarik dengan bacaan feminism tapi pengen dibikin pusing yuk sini aku kasih rekomendasi

Oke, mungkin bagi yg masih asing dengan penulis buku ini aku akan deskripsiin secara singkat. Virginia Woolf, seorang novelis Inggris yg menjadi salah satu sastra mordenis abad ke-20. Meskipun julukan seorang feminis begitu melekat pada dirinya, tapi Woolf memilih menjadi seorang humanis. Meskipun karya-karyanya masih dikenang hingga abad ke-21, tapi kehidupan Woolf yg begitu menyedihkan hingga mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri.

Nah, buku Ruang Milik Sendiri atau dengan judul asli A Room of One's Own sebenarnya merupakan kritik atas budaya patriarki dalam bidang sastra, ketidaksetaraan gender, dan juga modernitas alur serta materialisme dalam dunia sastra. Buku ini membahas tentang perempuan dan fiksi. Dalam dunia fiksi, khususnya di abad 19-20 perempuan selalu digambarkan sebagai Dewi yg sempurna. Tapi pada kenyataannya perempuan tak lebih sebagai objek seksual maupun budak di dalamrumah tangga.

Apalagi di era masa lalu, hampir tak ditemukan perempuan sebagai ahli di bidang tertentu, seperti sastra, filsafat, ilmuwan dll. Hal tersebut terjadi karena perempuan tidak memiliki ruang sendiri. Keadaan perempuan selalu direncanakan dan diwujudkan oleh sistem patriarki yg dilanggengkan oleh keluarga. Ditambah lagi penulis sastra selalu menggambarkan perempuan sebagai perempuan ceria, baik hati, lemah lembut karena mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dgn baik.

Jika dibandingkan abad 20 ketika Woolf hidup dalam penjara patriarki, di masa sekarang sudah jauh berbeda. Banyak penulis perempuan dan fiksi tentang perempuan yg memberikan imajinasi bahwa perempuan juga bisa memilih profesinya sendiri. Tetapi, jika dicerna kembali beberapa profesi elit yg bisa didapatkan perempuan, tetapi seperti yg disebutkan oleh Woolf bahwa perempuan harus memiliki ruang dan materi untuk meraih hal tersebut.

Dan Woolf menutup bukunya dengan sebuah gagasan, bahwa kita harus bisa menulis apa yg kita inginkan tidak terikat oleh sebuah gender.
Profile Image for Stftrns.
74 reviews
December 25, 2025
Salah satu buku tipis yang terasa lambat ketika dibaca.
Entah karena isinya yang padat dan rapat atau dari segi bahasa penerjemahannya yang cukup kaku sehingga terkesan kurang mengalir. Karena itu, pembaca sebaiknya memberi jeda setiap beberapa halaman atau bab. Ketidaksinambungan antar kalimat kerap menimbulkan tanda tanya dan kebingungan, hingga membuat saya harus membaca ulang kalimat sebelumnya untuk benar-benar memahami maksud penulis.

Ruang Milik Sendiri (A Room of One's Own) merupakan salah satu esai karya Virginia Woolf yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1929. Setahun setelah perempuan diberikan hak suara penuh di Inggris melalui Undang-Undang Hak Pilih Setara (Equal Franchise Acts) yang memberikan hak pilih kepada semua perempuan berusia 21 tahun ke atas, setara dengan laki-laki. Di tahun 1918 sebetulnya sudah ada hak suara tersebut, tapi masih terbatas untuk pemilik properti atau istri pemilik properti. Kehadiran esai ini menjadi penting karena membuka ruang bagi suara dan opini perempuan untuk dapat lebih didengar dalam ranah publik dan intelektual.

Kumpulan esai ini banyak membahas mengenai sastra serta bagaimana suatu kemiskinan berdampak terhadap akses pengetahuan. Woolf menyoroti bahwa banyak penulis yang sudah terlahir dari latar belakang ekonomi yang mapan. Dengan begitu, menulis menjadi kemewahan yang mudah diakses. Lalu bagaimana dengan yang miskin? Ada juga penulis perempuan yang miskin dan mampu menuliskan ceritanya sendiri, namun skalanya masih 1:sekian. Mereka yang kerap menerima upah lebih rendah dan akses terbatas harus terus bergulat pada kemiskinan struktural. Woolf juga mengkritik mengenai pendapatan perempuan yang tidak setara dengan laki-laki (untuk kasus ini, saya jadi mengingat teori feminisme liberal yang memperjuangkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki yang sayangnya baru muncul di akhir abad ke-19) yang menyebabkan banyak perempuan terpaksa hidup dalam kemiskinan.

Woolf juga menyinggung bagaimana sistem hukum dan sosial membatasi perempuan. Napoleonic Code, misalnya, merepresentasikan ketakutan negara terhadap otonomi perempuan dengan cara mengatur dan merepresi hak-hak mereka secara legal. Ketakutan serupa terlihat dalam dunia sastra, di mana perempuan seperti George Eliot terpaksa menggunakan nama samaran laki-laki demi menghindari diskriminasi.

Perempuan butuh ruang sendiri untuk menulis. Banyak perempuan di abad 18 ke bawah yang berada dalam posisi rentan sehingga mereka tidak memiliki kebebasan dalam berekspresi maupun untuk sekadar menuangkan isi pikirannya dalam secarik kertas kosong. Dengan adanya Jane Austen, George Eliot, dan perempuan-perempuan penulis lainnya tentunya memberikan keseimbangan dengan penulis laki-laki di zaman tersebut seperti Tolstoi, George Orwell, Fitzgerald, maupun penulis laki-laki ternama lainnya. Namun, fakta bahwa penulis perempuan harus berjuang ekstra menunjukan bahwa kebebasan perempuan kala itu masih sangat terbatas.

Keenam esai ini menjadi suatu kritik tajam di zamannya karena telah memarginalkan perempuan dalam bidang akademik dan sastra. Kini, jumlah penulis perempuan semakin berlipat ganda. Bahkan, peraih penghargaan nobel sastra di tahun 2024 adalah seorang perempuan (Hats off untuk Han Kang). Beruntung juga bagi kita semua sebagai seorang perempuan di zaman ini yang akhirnya dapat menikmati kebebasan untuk bersuara. Namun sayang, di negara ini kebebasan bersuara itu tetap rapuh. Di Indonesia, seorang perempuan bernama Laras Faizati harus mendekam di balik jeruji karena kritik yang diberikannya pada aparat kepolisian saat demo Agustus lalu.

Mari terus kawal kasus Laras Faizati dan mereka yang telah berani menyuarakan kebenaran.

Hidup Bangsa Indonesia!
Hidup perempuan yang melawan!
Profile Image for Suci Atmarani.
10 reviews
January 7, 2022
baca buku ini seperti membaca realita yang selama ini tabu, virginia woolf membeberkan segalanya tentang perempuan dan fiksi, bagaimana seorang perempuan harus memiliki dan diberikan ruang dan uang untuk bisa menulis fiksi, suatu ciri bahwa pemikiran dan imajinasi perlu ruang dan kemerdekaannya sendiri tanpa ada distraksi. baca buku ini juga seperti sedang mendengarkan orang yang bicara ngelantur, tapi penuh isyarat dan makna yang wajib kita pecahkan. i love this book! 💌
Profile Image for Miladiyah.
40 reviews
November 28, 2021
Postponing to finish this book again & again & again. I somehow got the message. The last few pages are so strong. I like the book, but the translation doesn’t deliver that much :-(
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.