Jump to ratings and reviews
Rate this book

Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan

Rate this book
Pendekatan pembangunan inklusif yang digagas pemerintah belum berbasiskan pemahaman terhadap situasi khas dan keragaman masyarakat adat di Indonesia. Padahal, pemanfaatan sumber daya lokal dapat menjadi pilar dalam mencapai kedaulatan pangan di Indonesia.

Buku ini berpendapat, model pembangunan inklusif seharusnya memperhitungkan keragaman karakteristik masyarakat lokal, khususnya jalan pangan masyarakat adat yang bergantung pada lahan dan hutan. Sementara itu, ukuran keberhasilan pertanian pangan sudah saatnya tidak lagi diukur dari produksi sejumlah jenis pangan saja seperti padi, jagung, atau kedelai. Bila tidak, kita akan masuk dalam jeratan sistem pangan global yang mengkomodifikasi pangan, ketika produksi dalam negeri tidak memadai.

Ironis bahwa bangsa ini telah menyia-nyiakan sumber pangan yang berlimpah, sementara kita menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia! Kasus gizi buruk yang masih menjadi momok di negeri ini, bukan disebabkan oleh kekurangan sumber pangan, melainkan oleh kesalahan tata kelola.

Sebagai pilar kedaulatan pangan, keberlimpahan sumber daya pangan lokal yang tersebar di seluruh Nusantara dapat menjadi penyelamat dalam situasi bencana seperti sekarang ini, yaitu pandemi Covid-19. Maka, masyarakat adat adalah benteng terakhir dalam menjaga keragaman hayati dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan.

Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan adalah buku ketiga dari Seri Pangan Nusantara yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.

308 pages, Paperback

First published February 1, 2021

28 people are currently reading
294 people want to read

About the author

Ahmad Arif

16 books18 followers
Ahmad Arif is a Kompas Daily Journalist. He won several award, including Mochtar Loebis award two years in a row in 2009 and 2010 for Best Feature

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (54%)
4 stars
43 (43%)
3 stars
2 (2%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 28 of 28 reviews
Profile Image for Bivisyani Questibrilia.
Author 1 book23 followers
October 3, 2021
Sebagai pembaca setia dari seri Pangan Lokal karya Ahmad Arif, buku ke-3 ini sangat aku tunggu-tunggu. Jika sebelumnya kita sudah diperkenalkan kembali pada Sagu Papua Untuk Dunia dan Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan, kali ini kita berjelajah lebih jauh ke aspek antropologi, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi hubungan manusia dengan pangan, terutama pangan lokal dan keberagaman hayati.

Berbeda dengan 2 buku sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada hubungan masyarakat Indonesia dengan pangan tertentu di masa kini—serta makanan itu sendiri—buku kali ini lebih menelusuri sejarah beragam jenis pangan sampai ke Indonesia, hingga kita memberi cap mereka sebagai pangan lokal, serta apa yang terjadi hingga keakraban masyarakat adat dengan pangan tersebut merenggang hingga saat ini. Jika awalnya kita mengira faktor ekologis dan biologis saja yang akan memengaruhi hubungan tersebut, sayangnya bukan itu saja faktor-faktor utamanya—adapula pengaruh kekuatan ekonomi politik yang menajamkan ironi timbulnya kelaparan di kalangan masyarakat yang secara turun temurun sudah menjalin hubungan sangat dekat dengan berbagai makanan yang mereka konsumsi.

Aku pribadi sudah mengenal beberapa hal yang disebutkan di dalam buku ini, setelah membaca buku The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism karya Naomi Klein, namun kini seolah diberi kesempatan untuk mengobservasi hal tersebut dari kacamata domestik dan aktual. Banyak fakta yang disebutkan dalam buku ini yang membuatku cukup kecewa dengan pemerintah dan skeptis pada identitas kita sebagai satu bangsa dari negara yang sama. Sebagai bangsa yang kerap kali membanggakan diri sebagai korban penjajahan yang berhasil lepas, toh Indonesia juga memberikan perilaku serupa terhadap suku-suku dan kebudayaan yang lebih minoritas. Mengutamakan kenaikan posisi negara dari segi ekonomis dan memarjinalkan penduduk lokal yang ingin berpegang teguh pada ratusan budaya mereka masing-masing—budaya yang sering dijunjung tinggi dalam Bhinneka Tunggal Ika. Namun nyatanya apa?

Jujur, sebagai salah seorang warga negara dan penduduk Indonesia, aku pun turut terjerat dalam wabah obsesi beras sekaligus kecanduan gandum yang melanda negeri ini. Hal itu sudah mendarah daging dalam keseharianku, hingga aku pun sudah tidak menyadarinya lagi. Aku yakin bisa dihitung dengan jari berapa orang—terutama di perkotaan—yang masih berpegang teguh hanya memakan pangan lokal saja. Bahkan mungkin 90% di antara mereka sama sekali tidak tahu menahu tentang jenis-jenis produksi pangan lokal yang ada di Nusantara. Yang mereka tahu hanya beras dan tempe, tapi selebihnya cukup buta.

Buku ini bukan hanya memberiku informasi yang berguna dan sangat diperlukan di zaman sekarang, namun juga membuka mataku untuk lebih memperhatikan makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Darimana datangnya makanan ini? Adakah alternatif lain yang bisa kupakai agar makananku tidak sama melulu setiap hari dan tetap mendukung swasembada lokal? Bagaimana cara aku berkontribusi dalam melindungi gaya hidup masyarakat adat yang masih merawat keanekaragaman hayati dan melestarikan pangan lokal?

Inilah kenapa buku ini begitu luar biasa: ia menginspirasi kita untuk introspeksi dan mengubah diri.

Terakhir, aku sangat merekomendasikan buku ini untuk siapa saja, terutama mereka yang tinggal di Indonesia. Cobalah untuk lebih penasaran dan peduli darimana datangnya makanan yang kini sedang kau makan. Apa dampaknya untuk lingkungan dan rakyat-rakyat yang termarjinalisasi?
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,386 followers
Read
February 27, 2024
Ahmad Arif adalah seorang jurnalis yang banyak mengangkat isu sains, bencana, dan lingkungan. 'Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan' adalah salah satu buku dari Seri Pangan Nusantara terbitan KPG.

Buku ini secara runut menceritakan tentang masyarakat adat, mulai dari definisi hingga situasi mereka di Indonesia saat ini. Bahasan tersebut berlanjut pada hubungan masyarakat Indonesia dengan pangan; mulai dari sejarah pola konsumsi kita, tergesernya bahan pangan asli Indonesia seperti sagu dan umbi-umbian, hingga kebijakan pemerintah yang juga berkelindan dengan masalah sosial masyarakat adat.

Walau topiknya cukup berat, namun 'flow'-nya membuat kita tidak kesulitan memahami hubungan sebab akibat masalah sosial terkait pangan yang begitu kompleks; tak lupa dilengkapi dengan penjelasan aspek biologi dan evolusi. Komplit, disusun apik dan dilengkapi juga dengan foto-foto dari lapangan.

Mungkin topiknya cukup spesifik dan terkesan begitu serius, tapi cocok untuk melatih rentang atensi dan kemampuan berpikir kritis apalagi buat yang sudah lama nggak baca tulisan-tulisan panjang 😁👍🏻
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
April 13, 2024
buku yang sangat membuka wawasan, tentang pangan di Indonesia. mulai dari sejarahnya, kehidupan masyarakat adat sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. regulasi pemerintah yang banyak merugikan masyarakat adat dan merebut tanah ulayat, yang pada akhirnya berakhir kepada krisis pangan dan masalah kesehatan.

buku ini memberikan banyak pengetahuan tentang berbagai macam pangan nusantara yang sebenarnya bisa kita konsumsi untuk mengurangi konsumsi beras yang sekarang kita impor dari luar negeri dan setiap tahunnya semakin meningkat. buku ini mengajarkan ku, bahwa banyak masyarakat adat yang sering jadi korban racism, terpinggirkan dan dipandang aneh oleh masyarakat modern padahal adat serta kebiasaan mereka dalam memperlakukan alam lah yang menjadikan mereka berlimpah pangan.

sangat aku rekomendasikan buat kamu yang ingin tahu lebih banyak ttg pangan, apalagi pangan merupakan hal yang kita konsumsi setiap hari, setiap saat.
Profile Image for boo.
37 reviews
November 11, 2025
bagusss!!! paling suka part menceritakan masyarakat adat Boti Dalam yang hidupnya balance banget🥺🫶
Profile Image for Qothrunnada.
99 reviews9 followers
October 24, 2022
4,3/5⭐
Berbeda dengan kedua buku sebelumnya yang aku baca, buku ini tidak ada khusus membahas suatu tamanan tertentu. Mostly buku ini membahas sejarah, bagaimana orang-orang di Indonesia bisa tersebar dari Sabang sampai Merauke; bagaimana keragaman flora dan fauna di Indonesia dikagumi bangsa lain; sampai penyebaran orang purba hingga masuk Indonesia. Bahasan tentang genetika juga tak luput di buku ini, misalnya suku Jawa adalah campuran Austro-asiatik dan Austronesia. Disini juga saya disadarkan bahwa sebenarnya istilah 'pribumi' itu ambigu, karena pada dasarnya hampir semua suku di Indonesia memiliki campuran antara genetik ini dan itu.
Buku ini juga lagi-lagi menyinggung tentang keseragaman pangan beras. Dilanjut dengan bagaimana Suku Boti dan Suku Baduy mempertahankan ulayatnya, dan bagaimana Suku Kasepuhan dan Suku Meuramba - Meurambe
I finish this book for almost a month karena dibantai perkuliahan hiks :")
Profile Image for Vinka Aprilla.
13 reviews
December 5, 2025
meup on le ate, tah on le usif yang artinya “bekerja seperti hamba, makan seperti raja” hal 240
Pangan merupakan fondasi bagi insan yang hidup. Buku ini membuka pandangan dan menambah pengetahuan saya terhadap isu pangan Indonesia yang ternyata sudah menjadi permasalahan berantai sejak awal negara ini terbentuk, dan mirisnya belum terputus hingga 80 tahun negara ini merdeka.
Adanya kesalahan tata kelola menjadi permasalahan utama dan mendasar yang menyebabkan bangsa yang “besar” ini masih kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya sendiri. Padahal, negeri masyhur kita memiliki sumber pangan yang melimpah. Contohnya adalah sumber karbohidrat, dari 77 jenis sumber, negara hanya berfokus dengan penyeragaman konsumsi beras yang pemanfaatannya terasa berlebihan. Tersedianya berbagai sumber karbohidrat lain seolah bukan menjadi opsi. Meskipun tren beberapa tahun terakhir mengalami penurunan konsumsi beras, alih-alih memanfaatkan sumber pangan lokal lain seperti jagung, sagu, sorgum, dll masyarakat justru memilih mengkonsumsi makanan berbahan dasar gandum yang hampir sepenuhnya diperoleh dari bahan impor.
“Potensi ragam pangan Nusantara dapat dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambahnya. Namun kini kita justru menempuh penyeragaman sumber pangan” hal 276
Buku ini menggambarkan tentang sejarah dan pengaruh bangsa lain (kolonialisme) pada budaya “makan” masyarakat adat dari berbagai belahan Nusantara. Tentang bagaimana mereka menyesuaikan sumber pangan dengan kondisi geografis dan kebiasaan adat mereka. Ada yang bisa bertahan, ada yang terusir dari tanah mereka karena alih fungsi lahan oleh pemerintah, ada yang mengalami gizi buruk hingga ada pula yang mampu berdaulat pangan seperti masyarakat Boti di Nusa Tenggara Timur. Mereka memberikan contoh bagaimana hidup dengan tidak berfokus pada 1 sumber pangan utama.
Pelibatan masyarakat adat dapat menjadi salah satu kontribusi efektif untuk menjaga keseimbangan alam (juga dalam menjaga keanekaragaman pangan lokal). Dan untuk bisa sampai pada tahap merdeka pangan harus dilakukan upaya perubahan oleh semua lapisan masyarakat bukan hanya dari pemerintah atau pemangku kebijakan.
“Setiap solusi yang berhasil dan menjadi jalan pangan di suatu komunitas harus mendekati nutrisi yang cukup dan seimbang bagi anggota populasi atau bisa kita sebut sebagai jalan pangan optimal” hal 128
Profile Image for Novita.
190 reviews13 followers
March 31, 2024
Laporan IPBES (2019) mengakui bahwa masyarakat adat sebagai benteng terakhir dalam menjaga keragaman hayati dan mengelola lingkungan secara lebih berkelanjutan. Pelibatan masyarakat adat dan komunitas lokal dalam membuat kebijakan dapat menjadi cara yang efektif untuk melindungi alam.

Buku ini bagus banget! Bahasanya mengalir, isi dan pembahasannya padat dan komprehensif, ditulis dengan runut dan mudah dipahami. Saya jadi paham dari A-Z tentang jalan pangan, masyarakat adat, dan pangan lokal yang awalnya saya sangat awam. Dan jelas, setelah dijelaskan panjang lebar terkait pola konsumsi yang telah bergeser ke beras yang ada di buku ini, menjadi refleksi kepada diri saya sendiri untuk mencoba mengonsumsi karbohidrat selain beras.

Profile Image for Diah.
198 reviews16 followers
January 13, 2025
Senang baru awal tahun udah nemu buku sebagus ini. Tidak berekspektasi serunut ini; dari mulai sejarahnya sampai hal-hal apa yang sedang diadvokasi untuk kedaulatan pangan. Mau nangis. Tapi seneng.
Profile Image for Faizah Lentera.
262 reviews2 followers
January 27, 2024
Masyarakat Adat & Kedaulatan Pangan membuka mata tentang kondisi masyarakat adat serta keberagaman pangan lokal di Indonesia. Buku ini berisikan perkembangan tanaman pangan mulai dari zaman prasejarah hingga masa kini. Awalnya masyarakat adat mengandalkan pangan lokal seperti ubi, sagu, maupun sorgum. Namun, pemerintah terobsesi kepada beras membuat pangan lokal terlupakan.

Sebagai orang yang familiar dengan pembangunan wilayah aku sering luput memikirkan kondisi penduduk lokal. Akademisi memang pandai secara teori, tetapi yang paling pandai secara praktik adalah masyarakat yang tinggal di sana. Sudah waktunya pemerintah membangun wilayah dengan pola pikir masyarakat sebagai subjek pembangunan. Mendengarkan mereka untuk kesejahteraan, bukan hanya mengeruk sumber daya alam tanpa pertanggung jawaban.

Orang mati bukan karena kekurangan makanan, melainkan karena kekurangan hak untuk memakannya.
Profile Image for Tita Amelia.
74 reviews
April 2, 2025
Kata kunci untuk merangkum permasalahan pangan di Indonesia: kesalahan tata kelola.

Pangan merupakan kebutuhan pokok paling asasi, yang menentukan keberlangsungan hidup, kesehatan, kualitas generasi penerus, bahkan juga identitas. You are what you eat.

Setidaknya ada 4 lapis masalah yg mengancam kedaulatan pangan kita. Pertama, bias pangan harus beras. Kedua, bias beras harus dari padi sawah. Ketiga, budidaya padi lewat pupuk kimia dan pestisida. Keempat, bias impor pangan, terutama gandum, sebagai sumber diversifikasi pangan kita. Keempat lapis persoalan ini berakar pada kegagalan memahami ekosistem dan budaya masyarakat Nusantara. Selain itu, pendekatan pembangunan kita juga masih bersifat sentralistik sehingga menghasilkan kebijakan2 yang tujuannya menyeragamkan bukan untuk mengakomodasi kekayaan pangan lokal itu sendiri. Salah satu dampaknya, untuk memenuhi kebutuhan beras, kini Indonesia harus mengimpor beras yang kuota tiap tahun tidak ada tanda2 penurunan bahkan bisa jadi naik. Padahal hasil penelitian FAO (2000), suatu negara dgn penduduk lebih besar dr 100 juta orang, tidak mungkin bisa maju, makmur, dan berdaulat bila kebutuhan pangannya bergantung pada impor.

Untuk mencari solusi pangan ke depan, kita harus kembali ke masa sebelum penghancuran sendi-sendi pertanian kita oleh Revolusi Hijau, bahkan melongok ke era sebelum kolonialisme. Jejak-jejak kearifan lokal masyarakat kita dalam mengelola pangan masih bisa kita jumpai pada masyarakat adat di Nusantara.

*)
Insight yang sangat apik, penulis berusaha memberikan gambaran holistik dari awal kemunculan penduduk pertama di Nusantara, bagaimana konstruksi sosial dan faktor ekonomi mendorong adanya keanekaragaman masyarakat adat, serta bagaimana gaya hidup dan faktor ekologis berpengaruh terhadap jalan pangan kelompok masyarakat tertentu. Penulis juga berusaha menekankan, pengelolaan pangan oleh pemerintah (pusat) justru membuat banyak masyarakat adat kehilangan kedaulatannya dalam menentukan jalan pangannya serta menjadi rentan terhadap penyakit dan berpotensi meningkatkan angka prevalensi malnutrisi pada anak-anak.

Sedikit catatan teknis, buku yg saya beli masih didapat typo yang menurut saya cukup mengurangi pengalaman membaca saya. Semoga pada cetakan berikutnya, hal ini bisa diperbaiki. 🙏🏻🙌🏻
Profile Image for Dina.
4 reviews
April 15, 2024
Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan — dua hal yang sebenar-benarnya perlu kita perhatikan dengan lebih serius dan intensional terutama ketika membicarakan inklusi dalam pembangunan “berkelanjutan”.

Saat memilih buku ini di antara jajaran buku lainnya di rak toko, aku memiliki ekspektasi bahwa ini secara konseptual akan menjelaskan interseksionalitas peran masyarakat adat dan upaya mencapai kedaulatan pangan — tentu disertai dengan ragam studi kasus. Setelah membaca keseluruhan buku, ternyata….. benar.
Tapi, buku ini juga menjelaskan lebih dari itu!

Di dua bagian pertama, aku diajak untuk memahami asal-usul jalur pangan dari kacamata geografi hingga paleoantropologi. Sebagai pembaca yang awam di bidang keilmuan tersebut, menurutku Ahmad Arif berhasil menjelaskannya dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Sebetulnya sepanjang tulisannya juga demikian.

Lanjut, masuk ke bab berikutnya, pembahasan semakin seru. Di sini konflik berupa disrupsi jalur pangan semakin tampak. Pembaca diajak menelusuri pengaruh kolonialisme terhadap jalur pangan, diteruskan dengan analisis kebijakan pemerintah pascakemerdekaan yang silih berganti tetapi sayangnya lagi-lagi gagal melihat masyarakat adat beserta keberagaman jalur pangan. Buku ini berhasil menggambarkan adanya dorongan yang lebih besar di balik kebijakan-kebijakan tersebut, yaitu sistem ekonomi kapitalistik (selanjutnya neoliberal) yang fokus pada komodifikasi pangan untuk profit. Terkait ini, sebagai komplementer, aku kira kita bisa nyambi membaca “The Less is More” oleh Jason Hickel.

Dengan demikian, alih-alih “dibantu” untuk menjadi “mandiri”, masyarakat adat sebetulnya justru semakin dipinggirkan dari jalur pangannya untuk kemudian diberikan solusi semu yang belum berhasil menyentuh akar masalah, seperti penyangkalan atas kepemilikan/akses hutan adat; diskriminasi terhadap tradisi dan adat masyarakat; hingga glorifikasi beras dan penyeragaman produksi-konsumsi yang tidak tepat sasaran.

Satu hal yang sangat menarik sempat disinggung di buku ini, adalah kasus stratifikasi sosial dalam sistem masyarakat adat di Sumba Timur, dimana kasta terbawah “Ata” memiliki akses yang sangat terbatas dalam sistem sosial masyarakat lokal. Ini semakin menambah kompleksitas isu. Pertanyaanku adalah, semisal pemerintah ingin memberikan independensi terhadap cara hidup masyarakat adat (tentu meliputi pola produksi-konsumsi pangan), sejauh apa ini bisa dilakukan ketika di dalam masyarakat tersebut ada sekelompok orang yang “tidak berdaulat” menurut kacamata kesetaraan? Tolok ukur apa yang akan dipakai? Atau mungkin lebih ngawang, bagaimana cara mengambil sikap konkret dalam mewujudkan misi “inklusivitas” ketika ada perbedaan (atau mungkin pertentangan) nilai antara masyarakat adat dengan kacamata yang kita pakai sekarang (Barat, kalau aku tidak salah)? Ini menarik sekali untuk digali lebih dalam.

Aku belum membaca buku Ahmad Arif yang lain, tapi aku rasa latar belakang beliau sebagai jurnalis ini yang membuat tulisannya begitu enak dibaca. Riset yang sangat baik. Jujur sudah lama sejak terakhir kali aku begitu menikmati bacaan non-fiksi. Bravo!
Profile Image for Void..
130 reviews27 followers
March 31, 2024
Buku ini mengubah cara pandang saya terhadap sekelompok orang yang karena keacuhan saya sebelumnya, saya tidak pernah perhatikan. Sebagai warga negara Indonesia, kita semua tahu kalau Indonesia terdiri dari berbagai macam budaya, adat, dan kepercayaan. Tapi apakah kita benar-benar mengetahui tentang negara kita sendiri?

Ini buku pertama dari seri pangan nusantara yang saya baca. Saya baru ngeh ini buku yang terkhir terbit dari tiga buku yang sudah ada dalam seri ini. Menurut saya sih, buku ini justru bisa mengenalkan saya mengenai bingkai perspektif yang dipakai oleh seri ini. Merunut dari penjelasan evolusi homo sapiens, asal-muasal penduduk indonesia mulai menetap, hingga perubahan mode hidup masyarakat adat di masa modern, buku ini padat dengan informasi penting yang dituturkan dengan cara yang mudah dipahami. Mengenai bagaimana koloni merampas kekayaan alam masyarakat adat, eksploitasi melalui strategi-strategi licik, dan keberlanjutan kekejaman tersebut oleh pihak berkuasa dari negara sendiri.

Selama membaca, nggak habis pikir saya betapa minimnya kepedulian negara terkait kesejahteraan masyarakat adat. Tidak hanya minim peduli sih, tapi secara sadar terus mengeksploitasi dan mengkriminalisasi orang-orang yang sebenarnya hanya ingin hidup tercukupi kebutuhannya sembari melestarikan adat mereka. Dari berbagai kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat adat, baik diversitas jenis bahan pangan, ragam tradisi dan budaya, alih-alih merangkul itu semua dan memberikan fasilitas memadai, negara justru memilih untuk merampas, memaksa, dan menerapkan kebijakan-kebijakan ngawur yang merugikan masyarakat adat.

Saya rasa pengetahuan mengenai peran kebijakan yang dibuat semena-mena hingga mengakibatkan masalah genting seperti kemiskinan dan gizi buruk ini harus menjadi pengetahuan umum. Terutama di kalangan pelajar. But in hindsight, it makes sense why there's barely any mention about it in schools curriculum. Saya jadi belajar tentang kompleksitas masalah kemiskinan yang begitu erat kaitannya dengan kerentanan pangan di masyarakat adat. Buku ini menjelaskan topik yang cukup luas secara komprehensif namun tetap memberikan ruang untuk pembaca mengambil kesimpulan sendiri. Dilengkapi dengan sumber-sumber kredibel, saya dibuat begitu terkesan betapa rapihnya penyusunan buku ini.

"Secara sosial, praktik hidup mereka (masyarakat adat) yang masih berpegang teguh pada pola kehidupan tradisional, kerap menjadi dasar ekslusi masyarakat sekitar yang telah mengadopsi pola hidup modern. Padahal, jika kita membaca baik-baik riwayat perjalanan negeri ini hingga menjadi Indonesia, mereka adalah fondasi bagi Indonesia yang beragam dalam tradisi kebudayaan, termasuk budaya atau jalan pangan kita saat ini."


Buku ini saya rekomendasikan untuk semua warga Indonesia. Sudah saatnya kita benar-benar mengenali negara kita sendiri.
Profile Image for Danis.
112 reviews2 followers
October 5, 2025
5/5⭐️
Akhirnya selesai baca setelah dianggurin lama. Bagus banget bukunya. Masyarakat kita sebenernya tidak kekurangan pangan, hanya doktrin dari penguasa yang membuat sumber pangan karbohidrat utama kita itu beras. Tiap daerah mempunyai produk unggulan untuk pemenuhan karbohidrat, namun karena upaya politik tertentu masyarakat kita tidak bisa terlepas dari beras. Beras. Beras. Beras. Sebagian daerah yang kekurangan beras karena tidak bisa memproduksi sendiri—padahal di daerah itu masih menghasilkan umbi & jagung dalam jumlah melimpah—dicap sebagai daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi & anak turunnya yang banyak mengalami tengkes, gizi buruk, & stunting. Sangat miris sekali, makanan bergizi bisa didapat di sekitar tapi karena sebuah doktrin yang sudah tertanam di bawah sadar & turun menurun membuat mereka jauh dari mengalami kesengsaraan. Demikian juga, nasib masyarakat adat yang tidak jelas statusnya karena negara tidak mengakuinya secara sah, padahal masyarakat adat merupakan penjaga keanakaragaman pangan lokal. Semua hal di atas sudah terjadi sejak lama ketika kedatangan Belanda, dan diperkuat ketika pemerintahan Sukarno yang menginisiasi program swasembada beras. Namun ketika Sukarno sudah lelah karena programnya tidak berhasil, ia pun membuat program buku resep Mustikarasa yang berisi cara pengolahan makanan dari pangan lokal Nusantara. Program mengembalikan pangan lokal setelah ketergantungan beras pada era Sukarno tidak berlangsung lama. Setelah Suharto menjabat, ia membuat program Revolusi Hijau di mana—lagi-lagi—masyakat disuruh untuk bergantung kepada beras lagi.
9 reviews
September 28, 2022
Saya butuh waktu beberapa puluh halaman di awal sebelum akhirnya saya jatuh hati dengan buku ini. Pemaparan di awal banyak menjelaskan peraturan dan regulasi terkait yang buat saya membosankan (karena memang saya tidak suka).

Tapi setelahnya, wah! Keberagaman pangan, karakteristik dari beragama kebudayaan lokal, serta data global yang disajikan sangat menarik, dalam, dan komprehensif karena dibahas dari berbagai sisi. Tidak sempurna, tapi pemantik yang nyaris sempurna.

Pesona utamanya adalah bagaimana penulis dapat memaparkan metode berbagai komunitas adat dengan konteks budaya itu sendiri. Bagi saya yang berasal dari komunitas yang tidak legit budayanya, hal tersebut sangat menyegarkan hati.
Profile Image for shalv.
38 reviews4 followers
August 18, 2024
Ini buku paling nonfiksi yang aku baca di tahun ini, sejauh ini. 😆 Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan tentang isu pangan di Indonesia dan bagaimana hal itu terkait erat dengan masyarakat adat. Menariknya, hubungan tersebut bukan hanya dari faktor ekologis dan sosiologis, melainkan juga ekonomi dan politik. (All issues are political issues, said Orwell)😌

Penulis menerangkan tentang bagaimana terbentuknya masyarakat adat, bagaimana mereka rentan dengan keadaan, hingga penyeragaman jalan pangan dalam produksi dan konsumsi. Hal-hal yang membuat Indonesia tidak lagi menjadikan pangan lokal sebagai tulang punggung pangan nasional. Di akhir buku, penulis berharap masyarakat adat seharusnya menjadi pengelola dan pelestari keragaman pangan dan hayati lokal yang seharusnya difasilitasi oleh nasional.

Mengapa ketika produksi pangan memadai, bahkan berlimpah, kita sering mendengar berita petani membuang sayur ketika panen dan harganya anjlok, tetapi kelaparan Indonesia masih tingkat dua di Asia? Karena pangan berkaitan dengan dinamika politik. Politik kebijakan, politik harga, politik distribusi, dan masih banyak lagi.

Fakta-fakta dalam buku ini bukan baru, tetapi penulis berhasil mengemas dengan ‘flow’ yang menyenangkan, beserta sisipan gambar yang diambil dari lapangan. Sehingga tidak sulit bagi kita untuk memahami sebab akibat dari isu kedaulatan pangan dan masyarakat adat yang disajikan dalam buku.
Profile Image for Lolita.
18 reviews
November 5, 2024
"Gak makan nasi, gak kenyang" kurang tepat digunakan di Indonesia.
Setelah baca buku ini, teringat gagasan Soekarno bahwa :
"Makanan kita tidak boleh diseragamkan, karena kita memiliki kekayaan bahan pangan. Jika kita hanya mengandalkan satu jenis pangan sebagai pokok, maka kita bukan hanya kehilangan jati diri sebagai bangsa yang kaya akan budaya dan alam, tapi juga rentan terhadap kekurangan"

Buku yang cocok dibaca untuk saat ini, dimana konflik seperti kelaparan dan kegagalan program lumbung pangan nasional. Bahasa dan kalimat yang digunakan sangat ringan dan mudah dipahami.
Tidak heran buku ini sekarang sudah sulit didapatkan
Profile Image for Hal..
83 reviews1 follower
February 8, 2024
Salah satu buku bagus yang syukurnya bisa diselesaikan sebelum pilpres 2024 berlangsung. Buku ini bikin melek bahwa program 'makan siang gratis' itu bukanlah solusi, tapi bakalan nambah permasalahan baru.

Isinya padat, ditulis dengan runut dan mudah dipahami, termasuk buat orang-orang awam cem saya ini. Dimulai dari sejarah masyarakat adat, lalu bagaimana masyarakat adat terpinggirkan atas nama pembangunan dan modernitas, dan bagaimana negara merampas hak-hak mereka atas tanah, hutan, dan sumber pangan.

Satu hal yang pasti: beras adalah salah satu bentuk kolonialisasi jalan pangan.
Profile Image for Debby.
41 reviews14 followers
November 17, 2023
Jarang2 bisa menamatkan genre buku kayak gini, but this one I finished it in about 2 weeks. Semenarik itu pembahasannya. Baca buku ini bikin aku jadi overthinking, menambah beban hidup diri hahaa tapi kearifan lokal dan back to basic itu emang sepertinya menjadi jalan paling tepat untuk dunia yg udah rusak ini walaupun ga mudah dan butuh kesadaran kolektif untuk berbenah.
1 review1 follower
May 19, 2025
Non fiksi yang ditulis dengan narasi dan deskripsi yang lengkap, membawa kita merasakan pengalaman masyarakat adat. Penjelasannya sangat lengkap dari sisi sejarah, antropologi, sosiologi, politik dan ekonomi. Rasanya tidak bisa melewatkan membaca catatan kaki yang dituliskan lengkap sumber-sumbernya
19 reviews
February 17, 2024
Menarik mengikuti jejak jalur pangan dari awal mula migrasi manusia ke wilayah nusantara dan sekarang. Mengisahkan beberapa masyarakat adat yang masih ada hingga saat ini dan berdaulat atas pangan. Hal ini memberi gambaran betapa penting keberagaman sumber pangan untuk mewujudkan kedaulatan pangan.
10 reviews
October 23, 2025
Ahmad Arif melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam menjelaskan peran penting masyakarat adat terhadap keberagaman pangan di Indonesia. Buku yang menjadi bekal utama bagi yang ingin mengenal budaya pangan di Indonesia dan mengapa hal tersebut perlu menjadi perhatian banyak pihak.
Profile Image for Getse.
22 reviews1 follower
Read
December 19, 2025
terima kasih, tulisannya bagus. semuanya based on riset.

very eye-wakening!
Profile Image for Rhea.
61 reviews
January 2, 2026
“Orang mati bukan karena kekurangan pangan, melainkan karena kehilangan hak untuk memakannya.” - Masyarakat Adat dan Kedaulatan Pangan hlm 225
Profile Image for Nanik Nur'aini.
515 reviews10 followers
July 29, 2024
Buku yang menurutku cukup membuka wawasan dan memberikan pengetahuan baru bahwa sumber pangan masyarakat Indonesia itu nggak melulu beras (padi), tapi juga ada sekian banyak macamnya. Buku ini menjelaskan bagaimana kehidupan masyarakat adat di Indonesia, asal-usul mereka, kebiasaan, tantangan yang harus mereka hadapi. Buku ini juga menjelaskan tentang sejarah pangan lokal, sebelum kita didoktrin dengan anggapan orang yang tidak bisa membeli beras adalah orang miskin, padahal mereka mempunyai/menghasilkan bahan pangan lain, doktrin yang akhirnya membuat negara ini harus mengimpor berton-ton beras setiap tahunnya. Buku ini juga membuatku sadar bahwa pernyataan yang banyak disebut orang "belum kenyang kalau belum makan nasi" itu hanyalah sebuah mitos. Kita mempunyai beragam sumber karbohidrat selain nasi, yang lebih rendah glukosa dan mempunyai kandungan gizi lebih baik. Jujur, aku bahkan baru mendengar sorgum di buku ini. Buku ini juga membuatku berpikir, bahwa gaya hidup yang dilakukan oleh masyarakat adat ini sebenarnya sangat ideal, mereka mempunyai variasi makanan yang tidak melulu harus nasi dan yang terpenting adalah mereka hidup selaras dengan alam, sustainable. Ketika gaya hidup masyarakat sudah mulai meninggalkan nasi, justru malah beralih ke gandum (mie instan, roti dll) yang jelas-jelas bukan bahan pangan asli Indonesia. Sampai di sini aku jadi mengevaluasi diriku sendiri yang selama ini suka beli oat dan makan roti. Lalu, muncul pertanyaan, apakah kita bisa mencapai kedaulatan pangan?
Profile Image for Asa.
26 reviews
February 16, 2025
What a great reading experience (I'm so stressed after finishing the whole series).
Displaying 1 - 28 of 28 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.