Comics and cartoons from Japan, or manga and anime, are an increasingly common feature of visual and popular culture around the world. While it is often observed that these media forms appeal to broad and diverse demographics, including many adults, eroticism continues to unsettle critics and has even triggered legal action in some jurisdictions. It is more urgent than ever to engage in productive discussion, which begins with being informed about content that is still scarcely understood outside small industry and fan circles. Erotic Comics in Japan: An Introduction to Eromanga is the most comprehensive introduction in English to erotic comics in Japan, or eromanga. Divided into three parts, it provides a history of eroticism in Japanese comics and cartoons generally leading to the emergence of eromanga specifically, an overview of seven themes running across works with close analysis of outstanding examples and a window onto ongoing debates surrounding regulation and freedom of expression in Japan.
Buku ini dibuka dengan perdebatan apakah manga atau karya fiksi yang mengandung adegan XXX dengan anak-anak termasuk pornografi yang harus dilarang, diserupakan dengan tindakan kriminal yang sesungguhnya apabila terjadi pada anak-anak betulan. Di negara-negara seperti Kanada, Australia, dan Inggris sudah, tapi di Jepang ada pertentangan.
Pengantar yang sangat panjang sekali menunjukkan ruwetnya regulasi pornografi yang sifatnya fiktif di negara-negara liberal. Bahkan bagi negara-negara Barat yang liberal itu, Jepang memang agak laen. Dengan budaya penciptaan yang sudah sedemikian rupa, Jepang sendiri kesulitan dalam merumuskan aturan mengenai karya pornografi yang boleh beredar terutama pada era sebelum internet (buku ini mula-mula terbit pada 2006 kemudian 2014 dengan tambahan yang barulah mencakup eromanga era intenet). Alhasil, barang itu hanya boleh dijual di tempat tertentu dan biasanya dikeluarkan oleh penerbit-penerbit kelas tiga yang cari untung cepat walau kecil dengan kualitas seadanya. (Memang cuplikan manga yang ditampilkan sebagai ilustrasi dalam buku ini gaya gambarnya tampak tidak begitu rapi, menurut saya.)
Peminat eromanga memang selalu ada dan banyak yang menyediakan wadahnya, tapi bukan berarti itu diterima masyarakat luas di Jepang khususnya oleh kaum perempuan atau orang tua yang peduli kepada anak. Terlebih kemudian ada perkembangan tren gaya gambar dari gekiga yang memang untuk dewasa ke bishojo yang kekanak-kanakkan, dengan begitu dapat menarik perhatian anak di bawah umur untuk mengambilnya. Belum lagi tekanan dari dunia luar. Karya tersebut pun dianggap sebagai "harmful/obscene publications".
Yang menentang pembatasan menganggap itu melawan "kebebasan berekspresi" (seakan-akan itu harga mati yang tak boleh diganggu gugat). Pembela komik erotis khususnya genre lolicon (bahkan termasuk pengarang sekelas Neil Gaiman, pg. 30) mengatakan bahwa itu cuma gambar--garis-garis di atas kertas. Tidak ada anak-anak betulan yang tersakiti. Tidak ada kaitan signifikan antara penerbitan eromanga dan peningkatan kasus pedofilia (ataukah hanya tidak banyak yang melapor?).
Pengantar ini sekalian mengajukan persoalan etis, di antaranya (kurang lebihnya, dalam bahasa saya sendiri), apakah pornografi sekalipun yang sifatnya fiktif seperti anime dan manga itu lebih besar manfaatnya atau mudaratnya.
Masuk ke bagian utama, buku ini merunut sejarah eromanga mulai dari 1950-an lewat karya sang Dewa Manga yang telah demikian ternama, Osamu Tezuka. Dari sekian nama/karya lainnya yang disebutkan, ada beberapa yang terkenal sampai ke Indonesia yaitu Fujiko Fujio, Adachi Mitsuru, Captain Tsubasa, CLAMP, sampai Miyazaki Hayao. Kalau Fujiko Fujio, bagi pembaca Doraemon tentu jelas teringat adegan-adegan misal ketika tanpa sengaja lewat pintu ke mana saja Nobita memergoki Shizuka mandi. Dalam karya Fujiko Fujio lainnya yang terbit di Indonesia seperti Esper Mami, si tokoh utama adalah remaja perempuan yang menjadi model tanpa busana bagi ayahnya yang pelukis. (Dalam edisi Indonesia, tubuh Mami diwarnai sehingga seolah-olah memakai baju renang yang cukup menutup.) Captain Tsubasa di Jepang sana rupanya menginspirasi banyak karya fanfiction (parodi) versi yaoi. Komik keluaran CLAMP seperti Cardcaptor Sakura, bagi yang sudah mengerti, ternyata sarat dengan berbagai orientasi.
Kemudian, buku ini menjelaskan bahwa medium eromanga memungkinkan terjadinya adegan-adegan yang tidak dapat diterima di dunia nyata atau terlalu berisiko--jelas-jelas fiksi--maka dengan sendirinya pembaca pastilah dapat membedakan antara fantasi dan realita. Bahkan proporsi karakternya saja bisa jadi sudah tidak realistis, misal wajah dan tubuh imut-imut tapi organ vitalnya sebesar punya orang dewasa. Memang dari membaca pembahasan tentang eromanga ini saja, yang sekali-sekali menunjukkan hal-hal di luar nalar tersebut, berikut ringkasan cerita dan ilustrasi, kadang dengan nada takjub, yang timbul bukannya rasa erotis, alih-alih malah mual, ngilu, bahkan geli.
Lain dengan pornografi live action yang masih dalam batas-batas realita, lebih memberikan efek realistis atau seolah-olah nyata, padahal itu bisa jadi trik kamera. Malah saya dengar bocah-bocah yang baru terpapar biasanya menganggap itu sebagai gambaran realita yang sesungguhnya. Berkali-kali perbedaan itu ditekankan, sehingga buku ini tampak seperti apologi bahwa pornografi yang sekadar "coretan di atas kertas" itu tidaklah semembahayakan yang live action dengan orang-orang betulan. Bagi saya pribadi, ini meragukan. Karya fiksi apa pun yang bersifat wishful thinking, tidak mesti pornografi, mungkin berefek membesarkan rasa kecewa terhadap kenyataan. Malah, kenyataannya belakangan muncul fenomena di mana orang lebih memilih waifu bahkan sampai ada yang menikahi karakter 2D daripada berhubungan dengan perempuan betulan.
Lebih jauh, penulis kerap menyambungkan antara bentuk-bentuk ekspresi dalam eromanga dan kejiwaan manusia secara umum. Misal, dalam eromanga sesungguhnya terdapat "consciousness of sin" yaitu kesadaran bahwa yang terjadi dalam cerita memang salah sehingga biasanya diperlunak supaya antara objek dan subjek suka sama suka dan dengan begitu mengurangi perasaan berdosa(?). Terkait genre "little sisters and incest", diangkat mengenai relasi dengan anggota keluarga pada umumnya yang mana katanya secara genetik memang sudah diatur agar tidak sampai terjadi kawin sedarah. Maka "kakak" dan "adik" dalam karya inses lebih merupakan suatu permainan peran ketimbang proyeksi hasrat yang sebenarnya pada diri pembaca. Dalam hubungan dengan ibu sendiri, dibuat variasi seperti ibu tiri dan sebagainya sehingga memungkinkan kawin tanpa mesti sedarah. Dalam "disgrace and training", kaitannya dengan perasaan manusia terhadap satu sama lain yang di satu sisi mengharapkan cinta damai dengan sesama tapi di sisi lain senang lihat orang lain menderita, saling membenci, berbuat maksiat bila ada kesempatan, rendah diri, dan seterusnya.
Saya rasa memang ada kaitan antara apa yang ditampilkan dalam genre dan refleksi kejiwaan manusia, khususnya untuk "disgrace and training". Maksudnya, cerita dalam genre ini punya pola umum misalnya objek yang mula-mula dipaksa berangsur-angsur jadi sukarela; ini persis dengan perilaku orang pada umumnya yang mudah dipancing misalkan melalui kebijakan pemerintah, rayuan iklan, perspektif media, dan lain-lain, yang perlahan-lahan "mencuci otak" masyarakat agar menyukai apa pun yang mereka tawarkan, dari yang awalnya tidak ada minat sama sekali. Contohnya seperti penggunaan smartphone. Dahulu, orang bisa hidup tanpa benda ini tapi sekarang, suka atau tidak suka, kita semua harus memakainya untuk tetap terhubung dengan orang lain, mengetahui perkembangan terkini, membayar ini-itu, dan seterusnya. Ada yang menerima budaya baru ini dengan sukarela dan mendukung sepenuhnya, ada juga yang terpaksa sebab sadar akan dampak negatifnya sehingga membatasi penggunaannya.
Sebagaimana smartphone, kalau tidak ditawarkan ke pasar dan dibuat menyatu dengan sistem sebagaimana yang sudah telanjur sampai setaraf sekarang, orang tidak akan merasa butuh atau ingin terhadap itu. Kalau tidak demikian mudah mengakses pornografi di internet, orang mungkin akan mencari penghiburan atau pelampiasan yang lain. Kalau tidak demikian terbiasa dengan konten-konten sugestif ke arah hal itu dalam berbagai media, orang mungkin bisa punya jiwa yang rada bersih. Tapi, apakah seru dunia yang seperti itu? Sebegitu urgennya urusan syahwat sampai-sampai para pemuka agama pun lebih mementingkan pernikahan dini atau pernikahan berkali-kali daripada terlebih dahulu memperbaiki gaya hidup--yang lebih dari sekadar hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia--agar bumi ini layak ditinggali bakal anak-keturunan.
Selebihnya, saya cukup kesulitan mengikuti buku ini. Judulnya memang tampak "seru". Tapi, pada dasarnya buku ini adalah kajian akademis sehingga ilustrasi gambar sarunya tidak seberapa dibandingkan dengan halaman-halaman penuh teks. Malah ilustrasi itu pun sudah dibatasi sebab, kalau tidak, edisi terjemahan bahasa Inggris buku ini bakalan dilarang terbit di sejumlah negara. (Sekalipun yang menerbitkan edisi Inggris buku ini adalah universitas di negara yang terkenal dengan distrik lampu merahnya.)
Di samping tidak meminati genre-genre yang dibahas, juga kurang memahami konteks sehingga perlu sambil googling. Untuk kasus yang sangat terkenal seperti Miyazaki Tsutomu (cikal-bakal stigma terhadap otaku dan lolicon), karena pernah membaca/menonton tentang itu, saya masih ngeh, Sebelum ini juga saya sudah membaca sedikitnya dua buku tentang budaya populer Jepang (salah satunya yaitu Otaku: Japan's Database Animals oleh Azuma Hiroki yang kerap diungkit dalam buku ini) sehingga cukup kena dengan moe atau sales point atau elemen-elemen yang menjadi daya tarik bagi calon pembeli dalam industri ini.
Ini belum mencakup semua yang tercatat tapi saya rasa sudah cukup panjang.
Una visión muy interesante. Tengo que reposar las ideas principales porque hay temas que me han parecido muy duros pero en general es una muy buena lectura para iniciarse en el mundo de lo erótico en el manga.