Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana: Kehidupan macam apa yang terbentuk di wilayah perusahaan sawit raksasa beroperasi? Namun, jawaban atas pertanyaan ini sama sekali tidak sederhana. Dengan menggunakan studi kasus dua perkebunan sawit di Kalimantan Barat, satu milik negara dan satu milik swasta, Tania Li dan Pujo Semedi menemukan sebuah bentuk kehidupan kompleks yang serba kontradiktif.
Perusahaan sawit datang dengan narasi "puing-puing imperialisme" yang memandang rendah penduduk desa dan masyarakat adat Kalimantan sebagai orang terbelakang dan perlu "dimodernisasi" hidupnya. Namun, janji-janji modernisasi itu tak kunjung terwujud tatkala perusahaan mencengkram tanah-tanah Kalimantan. Hal yang terwujud justru sebaliknya, yaitu berbagai ketidakefisienan yang terus dipertahankan karena segelintir orang mendapat keuntungan besar darinya. Ketidakefisienan itu tentu memakan korban, yakni tidak lain adalah penduduk desa dan masyarakat adat yang dirampas tanahnya dan hanya diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan subsisten.
Dengan menggabungkan pendekatan ekonomi politik dan teknologi politik, Li dan Semedi menemukan relasi yang dialektis antara subjek dan struktur yang bernaung di bawah perkebunan. Subjek penguasa yang meraup untuk dari perkebunan terus-menerus membangun jejaring kolutif antara pejabat-pengusaha-politisi dan menciptakan suatu rezim impunitas yang memelihara keberlangsungan perkebunan dengan segala ketidakefisienannya. Sementara itu, subjek yang dirugikan dari adanya perkebunan melakukan suatu bentuk perlawanan spesifik yang disebut oleh James Scott sebagai "perlawanan orang-orang kalah". Bentuk perlawanan ini adalah perlawanan-perlawanan individual-sporadis yang bertujuan untuk mengeruk untung dari sistem yang menguasai suatu subjek. Bentuk spesifik perlawanan tersebut, dalam buku ini, adalah tindakan pencurian, pemerasan, pemalakan, dan tindakan-tindakan lain yang berpotensi merugikan perusahaan. Dengan demikian, perusahaan menciptakan suatu kehidupan yang memaksa orang-orang di dalamnya untuk menjadi predator, saling memangsa satu sama lain.
Karena rezim impunitas yang terbentuk oleh kolusi pejabat-pengusaha-politisi, ketidakefisienan dan kehidupan predatoris yang terbentuk dalam perusahaan dapat diabaikan. Berbagai fakta telah menunjukkan bahwa perkebunan merusak keanekaragaman hayati, mengabaikan hak warga negara, dan membuat rakyat kehilangan banyak tanah. Namun, rezim impunitas yang terbentuk lagi-lagi melindungi perusahaan. Harga minyak sawit juga kerap membuat perusahaan hampir lumpuh. Namun, negara dengan sigap menyuntikkan dana investasi untuk menyelamatkannya. Dalam bahasa Li dan Semedi, perusahaan bagaikan angsa emas. Ia harus terus-menerus dibuat hidup karena ada segelintir orang yang mendapat untung darinya.
Buku ini mampu menyajikan pola kehidupan kompleks, penuh kontradiksi, dan penuh bahaya di bawah pendudukan perkebunan sawit. Analisis ekonomi politik dan teknologi politik yang dikombinasikan dengan etnografi yang serius membuat buku ini tidak hanya menyajikan deskripsi, tetapi juga terus bertanya mengenai asal-usul dan struktur penopang suatu bentuk kehidupan tertentu. Hal ini tentu menjadi catatan penting bagi peneliti etnografi pada masa mendatang, yang perlu secara tegas menentukan kacamata dan keberpihakan spesifik dalam melakukan penelitiannya.
Kekurangan buku ini adalah kurang mendalamnya analisis ekonomi politik dalam menjelaskan kehidupan di bawah pendudukan perkebunan sawit. Li dan Semedi mungkin dapat menjelaskan secara spesifik kekuatan kolutif gabungan antara unsur ekonomi dan politik yang dimiliki perusahaan untuk membentuk rezim impunitasnya. Namun, dalam memandang dan menganalisis masyarakat subjek pendudukan perkebunan, Li dan Semedi gagal menjelaskan diferensiasi kelas antara satu individu/kelompok masyarakat dengan individu/kelompok masyarakat lainnya. Diferensiasi kelas ini penting karena relasi ekonomi politik dalam rezim kapitalis yang eksploitatif tidak sesederhana oposisi biner antara perusahaan dan proletar. Sebuah analisis kelas spesifik diperlukan untuk membaca rantai produksi macam apa yang membentuk rezim kapitalis di suatu konteks spesifik, baik secara spasial maupun historis.