Ada seorang perempuan yang merasa jadi pecundang malang setelah bertemu lelaki yang ternyata tak setampan yang ia bayangkan saat mereka saling curhat di chat room. Ada seorang ibu muda yang nekat membenamkan kepala anak semata wayangnya ke dalam bak mandi hingga tewas seketika. Ada pula seorang anak yang mengemis sisa-sisa hidangan restoran mewah dengan dalih untuk makanan kucing dirumahnya, padahal makanan sisa itu untuk ibu-bapak dan adik-adiknya yang kerap menggigil lantaran perut tak berisi.
Sehimpun cerita pendek dalam buku ini membuat hal-ihwal yang semula terasa biasa dan sederhana, namun perlahan-lahan seolah bermetamorfosa menjadi kompleks, keras dan beringas. Barangkali dititik inilah letak kepiawaian Happy Salma, yang akhir-akhir ini semakin jatuh hati pada cerpen.
Buku pertama Happy Salma yang kubaca, seharusnya membaca Pulang dulu, yang kebetulan dapat gratis dari Mas Nanto yang punya 2 buku. Ku pikir Happy Salma specialis penulis Cerita pendek dengan ending tidak tertebak...hampir disemua cerita di Telaga Fatamorgana ini mempunyai akhir yang tidak terpikirkan waktu baca awal ceritanya. Dan kupikir Telaga Fatamorgana adalah salah satu judul dibuku Kumpulan cerita ini, ternyata salah dua...*halah*
Kisah Bobi bercerita mengenai Bobi yang diundang ke Ulang Tahun teman baiknya, Bobi anak dari keluarga miskin dijamu makan disebuah Restoran Mewah berikut dengan Hidangan yang belum pernah terbayangkan oleh Bobi. Dan selama acara dipikiran Bobi hanyalah bagaimana caranya supaya Bapak,Ibu dan adiknya bisa ikut merasakan nikmatnya makanan yang disajikan di Restoran tersebut. Dan setelah selesai dan meminta ijin untuk membawa makanan sisa Bobi berhasil membawa pulang makan tersebut. Tapi ternyata Bapak,Ibu dan adik Bobi memang belum bisa merasakan rejeki yang telah didapatkan Bobi, karena makanan sisa tersebut lebih layak untuk kucing liar daripada untuk dimakan manusia---Jadi ingat orang tuaku, ketika anak-anaknya masih kecil Bapak dan Ibu paling suka membawa makanan sepulangnya mereka dari kondangan...hehehehehe.( Nostalgila,tapi suka )
Naanaa, Seorang perempuan tua yang takut terhadap anaknya. Takutnya disebabkan karena anaknya semata wayang ini berubah menjadi liar dan pandai memupuk amarah, bahkan menjadi pandai menggertak dan membantah. Tapi hebatnya Naanaa disini, dia masih bisa berterima kasih pada sisa-sisa usianya meski dalam ketakutan, kekecewaan, kesedihan dan kesendiriannya hidup di asingkan.
Jalu, pergi dari rumah untuk menjadi seorang Tentara karena ingin mengabdi pada negaranya, mengecewakan Bapaknya yang mengharapkan dia untuk terus bersekolah dan menjadi Sarjana. Sebagai Tentara Relawan dia dikirim ke Aceh untuk berperang melawan GAM, tapi bukan mendapatkan impiannya untuk mengabdi tapi Jalu malah pulang dengan segala kecewa karena angan-angannya terenggut. Dan Bapaknya berkata sambil memeluknya, "Bapak Bangga, kamu sudah belajar hidup, Jalu.". Karena Manusia yang paling Tinggi derajatnya adalah orang yang berusaha menggapai cita-citanya sepenuh hati.
Telaga, bercerita mengenai anak laki-laki yang hilang di sebuah telaga yang membuatnya terpesona terutama karena ajakan seorang gadis cilik yang cantik. Tapi kembali lagi ke rumah setelah bertahun-tahun dan orang tuanya telah meninggal. Padahal anak ini berasa baru kemarin Maminya bilang untuk tidak keluar rumah tanpa ditemani penjaga rumah...hihihi Spooky!!!
Panca, Hantu Pantai yang menyelamatkan hidup seorang gadis yang mencoba bunuh diri.Ada yang bagus dari kata-kata Panca disini:Lukislah hidupmu,bukan sebaliknya.
Fatamorgana,Penantian seorang gadis korban cinta dunia maya di sebuah taman.
Aisya, ketakutan seorang Ibu muda akan masa depan anak semata wayangnya. Ketakutan yang berlebihan hingga membutakan matanya dan membunuh anaknya sendiri dengan membenamkannya di bak mandi...huh almost real in here.
Bapak Belum Pulang,Harapan seorang anak yang ingin bertemu bapaknya. Tapi sayang,mereka dipertemukan kembali di balik terali besi karena sang bapak masuk penjara.
Undangan, hii lagi-lagi cerita Spooky...
Catatan, kekecewaan seorang kakak akan kelakuan adeknya yang sangat-sangat kebangetan menurutku. Ih amit-amit jangan sampai punya adek kayak Alip deh...habit yang menjadi penyakit karena sudah susah diperbaiki.
Ikan Besar,kisah Ikan yang menangis karrena takut sendirian...tapi ternyata cuma...hehehehe.
Pohon Keenam, mau belajar jadi preman baca cerita yang ini, endingnya miris juga sih.
Sengaja kasih 4 Bintang, bukan karena bagus atau tidaknya cerita, tapi lebih karena buku yang ringan, cerita ringan dan lumayan buat hiburan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kelihatannya ceu Salma terkena fatamorgana "menjadi cerpenis". Tanpa belok tanya2 sana-sini, terkumpul juga cerita-ceritanya di buku keduanya ini.
Kalau boleh sok mengkritik, ternyata ceu Salma belum mampu. Alurnya berantakan, gaya ceritanya mirip anak SD yang setahun dua kali membuat karangan karena disuruh gurunya. Akhir cerita bisa ditebak sebelum pengkolan kelihatan. Masih kalah dengan buku pertamanya, yang mungkin dia munculkan dengan deg2an tapi ternyata menciptakan euforia buatnya.
Ayo ceu, jangan kapok. Belok dulu bentar boleh, nanya2. Lalu keluarkan buku ketiga.
DUA tahun setelah meluncurkan kumpulan cerpen Pulang (2006), Happy Salma kembali meluncurkan 12 cerpen terbarunya dalam himpunan cerpen Telaga Fatamorgana. Penerbit Koekoesan kembali menjadi penerbitnya. Dengan begitu sidang pembaca cerpen Indonesia semakin diyakinkan akan tekad Happy Salma dalam menggeluti dunia sastra khususnya cerpen.
Apa yang menarik dari kumpulan cerpen kedua Happy Salma, Telaga Fatamorgana ini? Happy Salma sendiri mengaku kumpulan cerpen kali ini tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen dalam Pulang. "Bila ada yang berbeda, mungkin dari perbendaharaan kata atau penggalian alur yang menurut Happy lebih variatif sebagai proses pembelajaran itu sendiri." Sebagai catatan, dalam kumpulan cerpen Pulang, Happy Salma menyatakan sengaja menuliskan cerpen-cerpennya sebagai ajang aktualisasi diri.
Tak jauh berbeda, untuk kumpulan cerpen kedua ini, Happy Salma masih memandangnya sebagai ajang berekspresi. Hanya saja, Happy Salma tampak yakin dengan minat menulisnya ini dan untuk mengawali pembaca menikmati dan mencerna ke-12 cerpen di dalamnya, pembaca disuguhi "manifesto" Happy Salma dalam soal menulis: Menulis sebagai Hidup. Mungkin bagi Happy Salma, manifesto ini penting disampaikan mengingat dirinya oleh masyarakat dikenal sebagai artis dan selebriti dan sering masyarakat sinis pada artis dan selebriti yang memperkaya dan memperluas kemampuan diri dengan berbagai kesempatan dan peluang yang ada alias aji mumpung.
Dalam manifesto itu, Happy Salma setidaknya mengemukakan beberapa point penting mengapa ia terjun dan bergulat dalam dunia tulis-menulis. Pertama, "Dengan menulis aku banyak belajar. Setidaknya belajar mengenali diri sendiri." Ini mengingatkan kita pada kata-kata bijak Sokrates: "Kenalilah dirimu sendiri." Kedua, "Menulis, bagiku, adalah hidup. Hidup yang berisi perjuangan tiada henti." Sebuah kesimpulan yang luar biasa, terlebih sebelumnya Happy Salma juga menyatakan: "Bagiku sastra adalah identitas pribadi, selalu berbicara tentang hidup. Cikal bakal dari pemahaman segala ilmu pengetahuan yang ada di muka bumi ini, teori kehidupan yang tak ada rumusnya." Semua ini mengingatkan pada kita betapa penting aktivitas menulis dan tugas seorang penulis itu sendiri di tengah kehidupan sehari-harinya bersama beragam bagai macam orang di sekitarnya.
Sebab itu, menulis tak dapat dianggap sepele dan sembarangan. Begitulah, penulis-penulis sebelumnya semacam Kartini dan Pramoedya Ananta Toer menganggap tugas kepenulisan haruslah berguna bagi kemajuan kehidupan dan harkat martabat rakyat. Pram sendiri mengatakan: "Menulis, bagi saya, adalah tugas pribadi dan tugas nasional." Tentu ini adalah tugas yang berat. Menulis bertendensi tentu lebih rumit agar tak jatuh sebagai tulisan atau dicap hanya sekadar propaganda dan jauh dari keindahan sastrawi. Mungkin ini yang membuat Happy Salma mundur selangkah dan menarik diri dari beban berat penulis yang memiliki cita-cita semacam Pramoedya Ananta Toer dan seakan dengan ringan (tentu saja tanpa tendensi alias beban), menyatakan: "Saya ingin menulis dengan mengalir, penuh kenikmatan, tanpa tuntutan yang akhirnya membebankan..." Paradoksal atau inkonsistensi dengan pernyataan-pernyataan yang menggebu sebelumnya?
Tetapi akhirnya, apalah arti manifesto? Seorang cerpenis tentu harus dinilai berdasarkan cerpen-cerpen yang ditulisnya.
Bila ditilik dari segi tema, Telaga Fatamorgana memang masih menunjukkan kesamaan dengan kumpulan cerpen Pulang, yakni kekalahan, kepasrahan tapi ingin keluar dari situasi seperti ini walau tanpa perspektif yang jelas. Ujung-ujungnya, justru membingungkan: Apa sih maunya? Dan terkadang justru terkesan kekanak-kanakan, tanggung, tak ada keberanian.
Kisah Bobi misalnya, seandainya ia berani mengatakan yang sebenarnya tentu keluarga Wiilliam akan membungkus sisa makanan itu dengan baik tanpa dicampur dengan sisa makanan sampah yang pantas untuk kucing itu. Toh, dari awal diceritakan bagaimana William suka berteman dengannya. Pada Naanaa, bahkan kita temui kekalahan dan kesialan yang bertumpuk-tumpuk. Tak habis mengerti bagaimana itu bisa terjadi: Tak bisa pulang karena peristiwa G 30 S, hidup di negeri asing, Polandia, semakin sepi setelah ditinggal mati suami lebih dahulu dan akhirnya dibunuh anak lelakinya sendiri yang menjadi brandal dan jahat seakan tak pernah mendapat didikan yang benar walau sang ibu merasa sudah mendidik dengan benar.
Pun Jalu, yang bertekad menjadi tentara bahkan berdebat dan bertengkar hebat dengan bapaknya yang tak menghendakinya jadi tentara mengalami kegagalan tragis sebagai tentara kemudian invalid. Ia pulang ke rumah, tanpa kebanggaan sedikit pun dalam menatap masa depan. Begitu pun, Fatamorgana, Bapak Belum Pulang dan Pohon Keenam, masih di sekitar kekalahan dan kesialan.
Dalam Fatamorgana, seharusnya tak terjadi kesialan bila sementara chatting juga menggunakan cam atau saling berbagi pic. Bila itu tak dipakai, terimalah konsekuensinya dengan wajar. Toh, bertemu manusia masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
Di luar itu, Happy berusaha memasuki cerita mistis dan psikologis seperti Telaga, Panca dan Ikan Besar dan Aisya yang membunuh anaknya sendiri karena tak ingin anaknya hidup di dunia yang kejam dan penuh dosa. Keberanian dan ketegasan baru dapat kita temukan pada cerpen Catatan dan Undangan.
Walau begitu perlu dicatat, pada Telaga Fatamorgana, setting cerpen-cerpen Happy Salma cukup bervariasi dan beberapa berani memasuki setting krusial negeri ini, seperti peristiwa G 30 S 1965 pada cerpen Naanaa dan daerah operasi militer (DOM) Aceh pada cerpen Jalu. Ini menunjukkan Happy Salma masih bisa berkembang lebih baik dalam memasuki dunia persilatan cerpen Indonesia di tahun-tahun mendatang.
Akhirnya, harus dikatakan menulis cerpen memang bukan sekadar ajang berekspresi dan mengisi waktu senggang. Kemudaan tentu tak bisa menjadi alasan untuk bersembunyi dalam aktivitas bernama belajar mengingat negeri ini pun ditegakkan dan dibangun oleh para pemuda dengan perspektif cita-cita yang besar.
Mayoritas cerpen dalam buku Himpunan Cerita Pendek ini sangat membosankan dan terlalu menggelikan untuk ukuran jaman sekarang, berasa seperti membaca cerpen-cerpen tahun 80-an di majalah Bobo maupun Anita Cemerlang. Euuw ... Padahal dengan duit seharga buku ini lumayan bisa buat dipakai makan di mall, atau ngupi-ngupi di kafe sambil menggosip.
suka karena grafisnya. suka karena cokelatnya. selain tentu wajah penulisnya di sampul belakang. kalo ceritanya, Happy Salma sedang melatih satu jurus dalam buku ini. karakternya mayan beragam. besok lengkapnya
kita ketemu taun depan ya ceu happy...or ada yg mau kirimin satu kesini...hehehe...buku indonesia bakal laris lho disini...akan dibaca di tengah buku wajib baca lain...