Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia

Rate this book
Gambaran sejarah politik, khususnya sejarah pembesar atau yang di Jakarta tempo doeloe mahsyur disebut sebagai "orang pangkat-pangkat".

304 pages, Paperback

First published June 1, 2007

7 people are currently reading
125 people want to read

About the author

Mona Lohanda

10 books2 followers
Mona Lohanda was an Indonesian historian, archivist and academic, as well as a curator of the National Archives of Indonesia. She was a leading authority on the history of Batavia, as well as its Chinese-Indonesian community.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (17%)
4 stars
15 (44%)
3 stars
8 (23%)
2 stars
5 (14%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for lita.
440 reviews67 followers
June 3, 2009
Jakarta Milik Siapa?

Jakarta adalah rumah bagi lebih dari 10 juta orang. Ibu kota negara ini mengemban begitu banyak fungsi. Pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat pendidikan, bahkan pusat pariwisata. Multifungsi ini membuat Jakarta tak pernah berhenti berdenyut.

Jakarta adalah jantung Indonesia. Roda pemerintahan dan ekonomi tak pernah berhenti bergulir di kota seluas 661,26 kilometer persegi ini. Sebagai pusat perputaran rupiah, Jakarta adalah magnit bagi warga daerah. Berduyun-duyun mereka datang demi mewujudkan mimpi gemilang masa depan.

Kaum pendatang yang kemudian menetap di Jakarta - dan mengklaim sebagai warga Jakarta - tidak hanya menimbulkan harmonisasi atas penetrasi dalam budaya yang berkembang di kota ini. Pergulatan hidup yang keras membuat mereka saling sikut, bahkan berselisih. Dan ada satu kelompok yang merasa tersisih atas dinamika ini: Betawi.

Suku Betawi mengklaim merekalah penduduk asli Jakarta. Merekalah yang seharusnya pertama menikmati hasil dinamika dan pembangunan Jakarta. Sayangnya, suku bangsa ini semakin terpinggirkan. Terlebih penggusuran permukiman warga di pusat kota memaksa mereka pindah ke pinggiran Jakarta.

Padahal, jumlah masyarakat Betawi di Jakarta tidak sedikit. Sensus 2001 mencatat angka 27 persen atau 2.310.587 jiwa, menempati urutan kedua setelah suku Jawa. Mereka tersebar di lima wilayah kota, dan masih ada 2.340.000-an jiwa yang berdiam di Bekasi, Tangerang, dan Depok.

Betawi sebetulnya bukan penduduk asli Jakarta. Dr Yasmine Zaki Shahab, antropolog Universitas Indonesia, menaksir suku bangsa ini baru terbentuk satu abad lalu, antara 1815 - 1893, jauh setelah Gubernur Jan Pieterszoon Coen membangun Batavia pada 1619. Kelompok ini terbentuk dari perpaduan berbagai suku bangsa yang telah lama hidup di daerah bekas kekuasaan Kerajaan Tarumanegara: Sunda, Jawa, Bali, Melayu, Ambon, Sumbawa, serta turunan Arab dan China yang dibawa ke Jakarta sebagai budak.

Pendapat ini timbul berdasarkan sensus yang selalu dilakukan pemerintah Hindia Belanda. Dalam catatan sensus 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai etnis, namun tidak ada catatan mengenai suku Betawi. Dari hasil studi sejarah demografi Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle, suku Betawi muncul sebagai kategori baru dalam catatan sensus 1930 dengan jumlah 778.953 jiwa dan menjadi kelompok yang mendominasi penduduk Batavia waktu itu.

Meski demikian, sejumlah pakar menduga kesadaran identitas suku Betawi belum mengakar pada tahun tersebut. Dalam memperkenalkan identitas, mereka lebih senang menyebut lokasi permukiman, seperti orang Tenabang, Kemayoran, Senen, atau orang Mampang. Padahal, pengakuan Betawi sebagai satuan sosial dan politik telah muncul saat Muhammad Husni Thamrin mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi di tahun 1923.

Memperdebatkan fakta ini tentu tak akan ada habisnya. Masyarakat Betawi telanjur mengklaim sebagai warga "pribumi" Jakarta. Mereka terus memperjuangkan apa yang mereka anggap memang hak mereka, meski kesan negatif yang justru timbul kemudian. Berbagai tindak premanisme sering diusung oleh banyak organisasi yang mengatasnamakan warga Betawi. Tindakan sewenang-wenang seperti pengusiran penyanyi Inul Darastita dari Jakarta beberapa tahun lalu adalah salah satu contoh yang mencoreng nama mereka.

Badan Musyawarah Betawi, sebagai induk organisasi legal masyarakat Betawi, mencatat terdapat 76 organisasi Betawi. Tugas badan musyawarah ini mengawasi dan membina komunikasi di antara pemimpin kelompok agar tidak terjebak pada kondisi yang memecah belah persatuan Betawi.

Agaknya tujuan baik itu masih jauh dari jangkauan. Tentu kita masih ingat perseteruan Forum Betawi Rempug dan Ikatan Keluarga Betawi yang sama-sama mengusung nama Betawi yang dipicu oleh faktor ekonomi.

Kini Jakarta berulang tahun ke-482. Akankah ibu kota negara hanya jadi ladang rebutan? (lits)

Profile Image for Arinamidalem.
106 reviews7 followers
August 31, 2009
sejarah bisa sangat menyenangkan tergantung bagaimana penyajiannya, bisa dalam bentuk buku atau film (visual biasanya lebih mudah diingat).

buku ini memaparkan episode panjang sejak awal kedatangan VOC hingga permulaan abad 19 dalam bahasa yang bersahabat untuk awam.. belajar sejarah jadi menarik :)

informasi dan dokumentasi yg ada dibuku ini saling menunjang..
bbrp hal cukup menarik perhatian..

hal.67: VOC mengalami kerugian yg besar akibat epidemi penyakit di Batavia, terutama Malaria. Para staf kompeni dagang ini kurang kebal terhadap penyakit, terutama yg baru datang dan kurang dari 6 bulan.
hal.79: J.P Coen, merebut Jakarta dan mendirikan Batavia. Banyak sekali mengeluarkan peraturan2 untuk warga dan staf VOC, dan cukup ketat menjalankan peraturan. Meninggal karena sakit perut (kyknya dulu tbc).
hal.145; foto pasar baroe..penasaran, rumah kuno tsb masih ada gak ya?
hal.191: tanah abang dan kali sodetan th 1900-an. penduduk menangkap ikan dikali.. kalo saat ini dah gak mungkin bgt.. adanya penduduk mengangkut sampah dari kali..
hal234: trem kota di salemba-kramat.. dimana skrg kau trem ??..

asik jg sptnya kalo mau baca ulang ;)


Profile Image for Jimmy.
155 reviews
June 5, 2009
Ripiu-nya habis siaran Senin depan aja, lagi ngga mood bikin ripiu, mood-nya lagi pengen baca tok :D
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.