Gaji? Cukup, cukup besar. Karier? Mulus melesat. Bisnis? Sebentar lagi soft launching. Karya? Sudah banyak yang suka. Jodoh? Aih! Sedikit lagi.
Mantap betul nasib Arko, Gala, Juwisa, Sania, Ogi dan Randi. Para alumni Kampus UDEL yang amburadul ini, ternyata berhasil melawan tikus-tikus kehidupan.
Namun, tikus-tikus tersebut nyatanya tidak sepenuhnya hilang. Mereka malah membesar, menyelinap dalam pekerjaan yang menyita waktu, mimpi-mimpi yang makin terasa jauh, dan dilema antara kembali ke kampung atau terus bertarung di kota tanpa tujuan.
Akankah mereka menemukan jawaban dari semua ini? Atau terus melakukan pembenaran lewat bac*t tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya diinginkan hati?
Buku ini wajib dibaca oleh pelajar SMA, mahasiswa, orangtua, karyawan, petinggi perusahaan, para pengambil kebijakan di berbagai institusi, hingga Presiden Amerika Serikat karena dua novel sebelumnya sudah dibaca Presiden Korea Utara.
Buku ketiga dari serial novel "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" dan "Kami (Bukan) Jongos Berdasi."
Usahakan baca minimal 1 fiksi, dan 1 non-fiksi setiap bulan. Fiksi untuk hati, non-fiksi untuk kepala. – Ini juga pesan untuk kawan-kawan yang mencoba merintis jadi penulis. Jika ada yang menganggap karyamu baik, maka syukuri dan jangan terlalu terbang. Rekam itu di ingatan, jadikan dorongan untuk memberi dampak dan membawa pesan-pesan yang seru dan penting.
Jika rupanya ada yang tak suka, memberi kritik, saran, itu tak masalah. Beberapaa kritik malah bisa jadi pelontar yang ampuh untuk karyamu berikutnya. Lagi pula, orang sudah keluar uang untuk beli karyamu, masa mengkritik saja tidak boleh. Selama sesuatu itu karya manusia, pasti ada saja retak-retaknya.
Lain cerita jika menghina. Memang benar tak harus jadi koki untuk bisa menilai satu menu masakan itu enak atau tidak. Namun cukup jadi manusia untuk tidak menghina makanan yang barang kali tak cocok di lidahmu, kawan. – “Karya yang terbaik adalah karya yang selanjutnya.” Bisik seorang sahabat. “Tulislah sesuatu yang bahkan engkau sendiri akan tergetar apabila membacanya.” Sambung sahabat yang lain.
Novel laniutan dari kami bukan sarjana kertas dan kami bukan jongos berdasi, melanjutkan kisah Ogi, Randi, Arko, Juwisa, Sania, dan Gala. Takjub aku dibuat dengan kisah mereka pada buku ini. Namun ending yang masih ngegantung ini buatku tak sabar menunggu lanjutan kisah mereka.
Kamu tahu persamaan mimpi dan konsumsi narkotika? Keduanya sama-sama memiliki pengaruh adiktif. Sulit untuk berhenti kalau sudah ketagihan. Menjalani mimpi memang dianjurkan, kalau konsumsi narkotika jangan. Lebih baik Kamu baca buku ini. Siapa tahu api kecil di dalam hatimu tentang mimpi yang sempat terkubur akibat repetisi dalam hidup bisa kembali kau pelihara. Secara isi cerita, tak usah kau tanyakan lagi. Bahkan serial 'Kami (Bukan)' ini membuat beberapa temanku ketagihan membaca buku. 'Asupan fiksi yang sangat bagus dan relevan dengan kids jaman now, diperlukan untuk anak muda.' - Kata Mario Wikwik.
Selesai seri 2 nya, lanjut baca ini. Mungkin karena bukunya lebih tipis dari yang lainnya, jadi bisa selesai agak cepat.
Masih bercerita tentang dunia kerja Ogi dkk. Tentang pencapaian, tentang ide yang mereka miliki, tentang impian. Cukup dekat dan relate dirasakan di dunia dewasa ini. Yaitu membandingkan diri kita dengan orang lain, overthinking, rasa minder, ketika melihat kawan seperjuangannya punya karir yang mulus nan melejit, kawan lainnya punya bisnis, ada yang sudah bisa beli rumah, ada juga yang bisa beli mobil. Di situlah ada perasaan belum jadi apa-apa, merasa gini-gini aja. Ohh, ada juga ada yang masih susah fokusnya sebenernya mau kemana.
Saya cukup menikmati, bahkan termasuk cepat karena ya semengalir itu ceritanya. Hanya saja, ada beberapa yang menurut saya agak terlalu cepat. Melompatnya dari satu paragraf ke paragraf berikutnya itu menurut saya ada yang terlalu cepat, but overall is OK. Setelah ini, sepertinya harus menamatkan series Kami (Bukan) yang tersisa 1.
*Kalau berfikiran negatif saja, maka dunia ini salah saja di matamu. Kalau positif saja, dunia juga takkan berubah jadi surga. Namun setidaknya, senjata dalam kepala.
“Amak sendiri di sini tidak masalah. Dari sendiri, kita kembali sendiri.” –p.6
“Pergilah. Cuma sapi yang sampai besar pun ikut memamah pada orangtuanya. Kau anak manusia, bukan anak sapi. Merantaulah.” –p.7
“Hidupmu mungkin bukan yang paling baik. Dompetmu bukan yang paling tebal. Wajahmu bukan yang paling rupawan. Tak masalah. Pastikan saja kamu sudah melakukan yang terbaik untuk hidupmu. Kalau belum, besok coba lagi.” –p.8
“Ide brilian yang hanya dipikirkan, selalu tampak bagai sampah di depan ide yang diwujudkan.” –p.17
“Hidup selalu punya cara menyeimbangkan amanah, beban, rezeki, kebahagiaan, dan rasa sakit.” –p.20
“Bayangkan sekarang, seseorang yang kau idam-idamkan ada di depanmu. Kau akan berbuat sebaik dan semanis mungkin. Apa pun bisa membuatnya bahagia akan engkau lakukan bukan? Sekarang, ganti orang itu menjadi dirimu.” –p.25
“Gala. Lo tahu kan gue nakal dan gobl*k banget pas kuliah? Sampai ancur gitu hidup gue. Eh, pas naik dikit, rumah kebakaran, Bokap meninggal. Sekarang, gue berharap Bokap ada di sini ngelihat anak tol*lnya yang yah, bisa dibilang sedikit lebih baik dari dulu.” Ogi merendah. “Tapi bro, lo udah jadi ayah.” –p.30
“Membalas dendam dengan karya, dengan sukses, dengan harta, dengan terkenal, punya pasangan yang kece. Ah, rumit sekali. Cukup dengan menjadi bahagia dengan apa yang dijalani. Kalau cara melihatnya masih balas dendam, kapan hidup bahagianya?” –p.33
“Hal baik di masa lalu, kelak ternyata bisa tumbuh. Meski hal itu kecil, ia bisa berbuah lebat dan jadi rezeki runtuh. Arko pun belajar dua hal dari Ogi. Pertama, ia tak angkuh. Kedua, keandalan yang dilakukan dengan niat teguh dan sungguh-sungguh, bisa berdampak pada masa depan yang wadidih wadiduh.” –p.39
“Tulislah mimpi-mimpi yang tidak masuk akal sampai kau geleng-geleng kelala. Bahkan sampai semesta berbisik: Kalau mimpi anak ini terwujud, apa yang akan terjadi pada dunia, ya?” –p.50
“Tidak semua harus dibalas dengan karya, karena karya bukan ajang balas dendam.” –p.60
Mana aja yang nabok-nabok lo? Menggelitik? Menjitak? Semua? HAHA! Sama.
Gokil sih ini, padet sekali sindirannya, ahahah. Kayak setiap sendi kehidupan pasti ada aja yang dinyinyirin :) membuat ingin sadar, tergelitik, tertampar, ingin bangun, tetiba banyak self-talk, dan pingin ke gunung sambil overthinking. berkisah tentang kehidupan di masa-masa setelah menjadi dewasa. the real jungle katanya. di mana rasa minder, membandingkan diri sama pencapaian orang lain, kesuksesan orang lain, generasi sandwich, passion, musibah, romance yang mainstream dan anti mainstream, tikang-tikung kehidupan, keluarga; rangkumlah semua dan katakanlah slice of life, ya. menarik. menarik banget. dan tentunya, bertabur bac*tan orang-orang, sksksksk!
Ini novel seru banget sih, cuma menurut gue, agak terlalu cepat, bukan temponya, tapi gaya nulisnya sih yang bikin efek itu gue rasa. lompatan dari paragraf ke paragraf ada yang wush banget gitu loh. tiba-tiba pindah dimensinya membuat, hah, gimana di mana ada apa ini ceritanya.
but overall, sangat mennikmati. bahkan ini bacanya cepet banget ya, karena sengalir itu. yang paling berkesan di alur pas Arko di kampung, wkwk. sempet kesel karena, yah masa tokoh utama mati di tengah-tengah? eh ternyata... wkwk, cek sendiri dah
banyak kata mutiara yang bisa dikutip, tapi khasnya adalah, kata-kata ini nggak meninggalkan kesan dipaksakan atau dibuat-buat gitu, if you know what i mean, guys. mantepnya lagi novel ini adalah, dia bisa dinikmati terpisah dari buku serial edisi sebelumnya. jadi ga akan terlalu bingung kalo pertama kali baca serial "Bukan" ini nggak dari buku pertamanya. isokey.
_________ *ps: terlampir halaman bagi yang muk ngutip
"Tiap hari catatan hidupmu bertambah. Adakah di dalamnya kerja keras? Jika tidak ada, maka belajarlah pada lebah. Yang fokus pada bunga, bukan pada duri."
Setelah mendapatkan gelar dan juga pekerjaan yang sesuai, kehidupan itu masih terus berputar. Kadang berada di atas dan kadang juga berada di bawah. Begitu setiap harinya. Kita juga selalu lupa, padahal kita tahu, kalau kehidupan di media sosial itu akan selalu berbanding terbalik dengan kehidupan nyata. Tapi masih ada saja orang yang menilai ini dan itu.
Terus bagaimana kisah Ogi, Gala, Randi, Arko, Juwisa, Sania, dan Cath setelah mendapatkan apa yang menjadi kebanggaan orang-orang? Hanya bisa akan kalian temukan di buku series yang ini.
Isi ceritanya selalu bikin penasaran dengan lanjutan hidup mereka masing-masing. Yang tadinya mengira Sania akan menikah dengan siapa, eh ternyata di buku ini ngasih jawaban yang tidak sesuai dengan ekspetasi sebelumnya. Lucu ya. Ternyata yang dianggap angin lalu, bisa saja yang berusaha ingin menetap. Bisa saja yang terlihat luar biasa, ternyata punya segudang masalah yang tidak diketahui orang luar.
Dari buku ini juga kita belajar tentang dunia start-up untuk anak milenial. Mulai dari rencana tipis-tipis sampai komentar pengguna yang tidak puas dengan bisnisnya. Sebab dunia start-up itu bukan hanya tentang cuan, tapi juga tentang berjalan dan bermanfaatnya bisnis itu untuk orang banyak. Kalau sudah jelas manfaatnya, maka akan mudah untuk mendapatkan cuan. Iya, kan, Bang? 😁🤭
Buku kali ini, agak tipis dari dua buku series sebelumnya. Tapi nggak jadi masalah sih, mau halamannya tebal atau tipis, setidaknya penggemar cerita mereka bertujuh, jadi tahu, siapa sih di antara mereka yang diam-diam ingin melamar Bu Lira... Gempar menggelenggar. 😆🤣
Harapannya, semoga Ogi dan kawan-kawan bisa ketemu sama 4 jagoan silat di dalam cerita selanjutnya. Siapa tahu mereka dapat wejangan ala-ala dari mereka yang nggak berani punya mimpi, sampai mimpi itu terwujudkan. Di kabulin ya, Bang. 🤭
Ending-nya cukup membuat emosi wkwk. Dari semua novel ber-ending gantung yang pernah kubaca, buku ini sih yang paling ngehe. Sampai diam dulu bentar, mikir, "lah ini bercanda, beneran, apa bukunya ada kurang cetak?" Wkwkw. (*Tapi gapapa, soalnya udah punya buku berikutnya, tinggal lanjut gas baca).
Ceritanya masih seru seperti buku 1 dan 2-nya. Dengan lebih banyak quotes yang menentramkan hati atau justru "relate" menyuarakan isi hati.
Cuma, nggak seperti 2 buku sebelumnya, aku nggak begitu nangkap maksud "generasi bacot" yang di judul dalam cerita. Menurutku, karakter²nya nggak ada yang cuma bacot omdo doang. Semua struggle dengan masalah dan jalan hidup masing². Bahkan Arko yang "menepi" dan tampaknya "agak tertinggal" juga terasa tetap berjuang—rehat kan tetap bagian dari dinamika kehidupan, toh?
Lalu, buku ke-3 ini agak kurang rapi dibanding 1 dan 2. Dibuka dengan Arko, tapi Arko-nya nggak dapat ending yang "proper" (beda dengan Ogi di buku 1 dan Sania di buku 2). Kisah² yang lain juga hadir lompat² dan terasa kurang halus muncul/hilangnya, seperti masalah ibu Juwisa, penyakit Randi, Gala-Cath-Tiana, Bu Lira. Yah, begitulah.
Kekurangan lainnya, masih ada beberapa salah ketik di buku ini. Salah ketik nama karakter (Rere dan Puti sempat tertukar, untung masih ngerti maksudnya), kurang spasi antar kata dan typo-typo.
Tapi tetap lanjut ke buku selanjutnya karena kepo (dan nanggung).
This entire review has been hidden because of spoilers.
ini buku ke 5 karya Kak Khairen yang aku baca, buku ketiga dari segi "Kami (Bukan) ...". Ternyata benar kata penulisnya, seri ini bisa dibaca tidak berurut., tetap bisa dicerna dengan nikmat. Aku belum membaca si merah, tapi si kuning sudah. Menurutku, si biru ini tidak mengecewakan. Malah makin asyik ceritanya. Di seri ketiga ini seluruh tokoh makin memiliki karakter yang kuat dengan problema masing-masing. Bahkan Bu Lira yang kehadirannya bisa dihitung jari, terasa berkesan. Juga kehadiran tokoh baru yang membuat jalan cerita nambah seru dan fresh.
Bagian favorit: ketika arko keramasan habis potong rambut, dia bawa hapenya ke sumur. Lalu, berdering karena panggilan masuk dan jatuhlah hapenya, dst... baca sendiri ajalah ya, kawan. :) Hati² buku ini bisa memicu kembali semangatmu yang tengah padam dan membuat kamu senyum².
"Membalas dendam dengan karya, dengan sukses, dengan harta, dengan terkenal, punya pasangan yang kece. Ah, rumit sekali. Cukup dengan menjadi bahagia dengan apa yang dijalani. Kalau cara melihatnya masih balas dendam, kapan hidup bahagianya?" hlm. 33.
Selama kita masih menjadi manusia yang terus bertahan hidup, selama itu pula kita akan bertemu masalah. Layaknya roda, hidup juga berputar. Ada masa dimana kita merasa bahwa yang kita jalani hanya jalan aspal yang lurus dan ada jalan berkelok serta berlubang. Hingga bisa sampai ditujuan, kita tentu perlu melalui aneka ragam perjalanan tersebut.
Pasca kuliah dan bekerja, lima sekawan mantan mahasiswa UDEL masih bertemu berbagai masalah yang menuntut mereka menjadi kecoak mandraguna dan anjing penjaga mimpi. Saling dukung saat salah satu diantara kelima nya memiliki masalah.
Ada-ada aja masalah yang datang silih berganti kepada para alumni kampus UDEL ini. Baru mendapat kebahagiaan, eh kemalingan. Baru beli mobil secara kredit, eh bapaknya nggak kerja lagi, mana masih bayar kredit rumah pula. Masih ngembangi start-up, ada-ada aja masalahnya. Ada rasa tak pantas tumbuh di dada, untungnya masih inget istri-anak di rumah. Hidup udah mulai bangkit, orang tak diundang datang tiba-tiba.
Saya salut banget sama uda Khairen yang bisaaaa banget nyiptain konflik+penyelesaiannya. Dan karena buku ini problemnya nggak fokus cuma ke satu tokoh, jadi ngebaca ya enak banget gitu. Gak nyesel baca seri ke tiga lanjutan dua seri sebelumnya. Dan masih menunggu untuk seri keempat, end of the series.
I recommend this!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Memang manisnya penantian terbalaskan. Nunggunya hampir 1 bulan, bacanya butuh waktu 1 hari. Candu, satu kata buat buku ini. Ceritanya mengalir, dekat bgt sama orang2 yg lagi ngerasain fase jadi 'dewasa'-katanya dan semua tokohnya punya kekuatan di ceritanya masing-masing.
Satu saran bang, tadi nemu ada 2-3 percakapan yang namanya sepertinya salah ketik, harusnya diucapkan oleh Puti jadi Juwita dan nama tokoh lainnya.
Sukses bang, karyanya! Ditunggu buku terakhir dari serial kami (bukan). Semoga gempar menggelegar ajigijaw, fase-fase habis berlelah lelah dan senang senang kemudian. Penasaran sama akhir kisah 5 kecoak ini wkwkwk. Thank you bang!
Kurasa buku ini lebih ringan dari dua buku sebelumnya, ya. Tapi aku suka bagaimana para karakter disini menghadapi masalah mereka, mereka benar-benar bisa melangkah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Catat: mereka bukan lulusan kampus top, tapi tahu nilai dari diri mereka. Ini yang sering dijadikan alasan orang-orang yang keburu pesimis hanya karena kampusnya tidak besar. Jika dirimu berharga, dimanapun tempatnya, maka potensimu tetap akan terlihat. Yang penting bukan seberapa bergengsinya tempatmu berangkat, tapi seberapa gigih langkahmu berjalan. Orang-orang yang percaya pada dirinya sendiri akan selalu menemukan cara untuk bertumbuh. Tumbuh lebih baik~
Ini adalah buku ketiga dari seri 'Kami (bukan)' milik J.S. Khairen. Seperti dua buku sebelumnya, buku ini masih menceritakan kelanjutan hidup Ogi dkk sebagai alumni kampus UDEL, kampus pinggiran, yang berisi mahasiswa buangan. Tapi entah perasaanku saja atau atau memang begitu adanya, buku ini terasa lebih membosankan jika dibandingkan dengan dua buku sebelumnya. Gambaran 'generasi bac*t'-nya juga kurang terasa, lagi-lagi tidak seperti dua buku sebelumnya. Kesannya, buku ini malah agak terasa dipaksakan untuk menjadi buku ketiga yang berdiri sendiri.
Dari ketiga novel serial Kami, novel ini yang relate dengan kehidupanku. Salah satu diantaranya, bagaimana melihat rumput tetangga selalu lebih hijau padahal diri sendiri nggak tau apa yang sedang mereka perjuangkan sebenarnya.
Dan rasa penasaran pada kisah Juwisa terbayar sudah :)
Selalu suka diksi yang ditulis Bang Khairen, membuat pembaca tak bosan dengan tulisannya. Tau-tau sudah habis. Buku pengantar tidur selama dua hari ini.
Novel pertama yang saya beli dari JS Khairen adalah Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Pertama kali tertarik karna warna covernya yang mencolok. Dan saya sangat suka gaya bahasa penulis sehingga saya sampai lah di buku ketiga ini.
Tokoh Arko lebih menonjol di series kali ini. Seperti biasa, penulis selalu menyelipkan kata2 motivasi namun tidak terkesan menggurui. Saya sudah tidak sabar untuk menanti kelanjutan buku berikutnya.
Selesai membaca novel ini aku berfikir sejenak. Ternyata banyak ide (yang mungkin besar) dan hanya mengendap di kepala dan tulisan. Tokoh favoritku sendiri di novel ini adalah Juwisa si "ubin masjid." Walaupun sebagian tubuhnya tidak berfungsi dengan normal, ia tetap gigih mengejar semua impiannya. Novel ini juga yang hampir membuatku menangis, saat Arko terpleset di sumur lalu meninggal. Dan ternyata itu hanya mimpi. Seketika aku berteriak di dalam hati
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pertama kali baca buku nya jskhairen, tmen fb ku yg udh melejit. Buku nya ringan tp sangat bermakna, banyak berisi filosofi kehidupan/ kalimat bijak yg sangat dekat dgn kehidupan namun kita jarang menyadarinya. Sesuai dgn kalimat sampul blkg nya, buku ini cocok dibaca oleh pelajar, mahasiswa, karyawan, bahkan presiden, karena buku ini menginspirasi n dekat dgn kehidupan realita.. semangat terus dalam berkarya, smoga selalu menginspirasi n bermakna
Sejak dari buku pertama, walaupun fiksi entah kenapa banyak yg relate dengan kehidupan ini :) Ceritanya gak pernah mengecewakan, JS Khairen jago banget mengaduk emosi pembaca dengan konflik yg berbeda dan naik turun dari setiap tokoh juga diksi yg digunakan berasa pingin comot jadi quote Walaupun ceritanya renyah tapi berisi dan berbobot, kalo diceritain, satu buku rasanya penting That’s why I have to give 5/5
Udah penikmat dari buku 1 sekarang udah selesai buki ke 3 tinggal buku terakhir nihh… gak sabar pengen liat endingnya semua tokoh yg diceritakan dari buku 1. Penasaran sama juwisa dan randi, Ogi sama bu Lira… crtanya bagus ringan tapi deep gimana yah ngebahasaiinyaa.. intinya relatenya kemana mana.. buku ini realistis dan mempunya berbagai sudut pandang tentang setiap konflik masing2 tokoh. Dan sangat menghibuurrr… ok bangetlaahhh pokoknyaa…
Bulan Januari 2020 ke gramed liat rak buku rekomendasi ada judul yang menarik dan buat kepikiran terus yaitu "Kami (Bukan) Jongos Berdasi" ternyata itu adalah seri lanjutan dari "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" beli deh 22 nya. Ternyata bagus dan mengena setelah dibaca , dan selalu menunggu karya selanjutnya. Ini seri ke 3 Kami (Bukan) Generasi Bacot nya juga bikin kagum dan penasaran nunggu lanjutannya.
Dr buku2 kmrn yg udah aku baca sampe ke buku ini ngajarin klo Dunia itu berputar seperti komedi putar. • Mengibaratkan hidup kita tidak selalu bahagia sebaliknyapun begitu, tinggal bagaimana kita menyikapi ketika kita sedang dibawah dan bagaimana cara untuk bergerak keatas.
Jangan terus meratapi keadaan, tp yuk bangkit naik... Naik itu butuh effort gaes
Cerita yang dikemas hampir sama dengan dua novel seri sebelumnya. Petualangan para tokoh novel ini sungguh membawa pembaca ikut merasakan ketegangan petualangan mereka. Kejadian yang dibangun dan konflik yang muncul enak sekali meresap di kepala, dikarenakan agendanya serupa dengan kejadian riil. Ah, seru sekali.
Bukunya santai dan ringan, mirip serial sebelumnya. Buku ini berfokus menceritakan kehidupan pekerjaan yang dialamai setiap tokoh sehingga memberikan gambaran bagaimana kerasnya kehidupan yang sebenarnya. Ada juga membahas masalah percintaan, seperti membahas kehidupan pernikahan Gala.
Ending dari buku ini sangat menggantung sehingga membuat tidak sabar untuk menunggu buku selanjutnya.
Adek baru dari sie kuning dan merah . Ceritanya diluar otak (pemikiran saya) dah ... better... Pokoknya sukses terus lah buat uda Khairen Tak banyak review dari saya pokoknya jika kalian sudah tau cerita dari si kuning dan merah pasti gak mungkin gak ikutan PO si Biru ini....
Banyak banget cerita yang relate sama kehidupan sehari-hari, apalagi buat mereka yang lagi ngerintis startup pasti paham. Ya emang produk apapun bakalan berkualitas kalo risetnya kuat. Keep inspiring buat Uda Khairen 🙌
Aaakk kangen banget pertama kali baca seri buku ini 5 tahun yang lalu. Ceritanya bagus, heartwarming, dan ringan. Tapi ada beberapa kesalahan dalam penulisannya yang agak sedikit menganggu waktu membacanya.
Candu menjadi candu memiliki beberapa karya dari beliau, semoga selalu komit bang untuk menampilkan apa yang sudah menjadi karakter bang khairen. Sukses selalu bang