Mendengar premis cerita tentang arsitektur, asperger, dan OCD langsung membangkitkan rasa penasaran saya. Bagaimana ketiga elemen ini merupakan sesuatu yang baru dan unik dalam membangun sebuah cerita. Tak kalah dengan premis ceritanya, sampul bukunya pun menjadi daya pikat yang tak bisa dihiraukan. Ilustrasi sebuah bangunan bergaya modern dan minimalis berpadu dengan latar berwarna putih menciptakan visualisasi sampul yang elegan, indah, dan memikat. Jujur saya terpesona dengan sampul bukunya yang bergaya, tapi tidak tampil berlebihan. Selain itu sampul bukunya juga sangat relate dengan ceritanya yang berhubungan dengan arsitektur. Sebuah komposisi gambar dan warna yang berhasil menciptakan estetika.
Garis Lurus memiliki tema cerita tentang arsitektur dan mental illness. Kedua hal yang sebenarnya sangat kontras, tapi berhasil dipadukan menjadi sebuah cerita yang menarik. Bagaimana Miko yang mengidap asperger dan OCD harus berjuang untuk menempuh cita-citanya sebagai arsitek. Miko yang tidak bisa merasakan emosi dan cenderung cuek hanya bisa memikirkan arsitektur di dalam kepalanya. Akibatnya Miko dianggap aneh dan tidak normal. Namun, untungnya ada empat orang sahabat yang selalu setia mendukung Miko. Dream, Made, dan RH pun sama-sama dipandang aneh oleh orang-orang akibat penampilan mereka. Berbekal keunikan mereka masing-masing, Miko, Dream, Made, dan RH berhasil membentuk sebuah hubungan pertemanan yang solid. Dunia arsitektur yang dibahas sangat terasa. Banyak sekali istilah yang merujuk pada arsitektur, mulai dari gaya hingga konsep. Selain itu Miko yang mengidap asperger dan OCD pun digambarkan dengan baik. Terlihat Miko yang selalu fokus pada satu hal dan seringkali cuek, hingga bagaimana ia yang over protektif dalam hal kebersihan.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Miko. Miko digambarkan sebagai seorang arsitek yang sukses, namun mengidap asperger dan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Akibat penyakitnya itu Miko menjadi sosok yang cuek dan antipati. Namun, dibalik sikapnya yang datar itu, Miko memiliki passion yang besar dalam bidang arsitektur. Selain Miko ada empat tokoh pendukung yang berperan penting, yaitu Dream yang bersemangat, Made yang perhatian, RH yang bijaksana, dan Seroja yang bersahabat. Keempat tokoh tersebut merupakan kunci dan fondasi utama dalam membangun jalan ceritanya. Interaksi Miko dan keempat sahabatnya ini sangat menarik. Bagaimana lewat keunikan mereka masing-masing berhasil menyatukan mereka menjadi sahabat. Satu hal yang saya sayangkan adalah latar belakang keluarga Miko ini masih kurang begitu diekspos. Di sini bisa kita lihat jika Miko yang harus hidup dengan asperger dan OCD bisa menggapai cita-citanya akibat support system yang kuat dari ibu dan keempat sahabatnya.
Jalan ceritanya memiliki alur maju-mundur, di awal dan akhir kita akan melihat alur maju, dan di pertengahan cerita kita akan diajak mundur kembali pada masa kuliah Miko. Penulis dapat memosisikan alur maju-mundur dengan baik. Di mana kita tidak dibuat bingung perkara yang memicu Miko untuk kembali mengenang masa kuliahnya dulu. Gaya bahasanya terbilang lebih ke "menjelaskan" ketimbang "aksi". Namun, entah kenapa saya sendiri menikmati gaya bahasa yang mendeskripsikan segala sesuatunya dengan cara yang enak dibaca. Biasanya saya sering dibuat muak dan bosan dengan gaya bercerita yang deskriptif, tapi Garis Lurus tidaklah demikian. Sayangnya untuk beberapa penjelasan tentang dunia arsitektur tidak disediakan catatan kaki. Padahal banyak sekali istilah-istilah arsitektur yang akan lebih informatif jika dijelaskan dalam catatan kaki. Sudut pandang yang dipergunakan adalah sudut pandang orang pertama lewat tokoh Miko. Penulis tergolong sukses mengantarkan rasa seorang penderita asperger dan OCD melalui tokoh Miko. Di sini kita akan melihat isi pikiran Miko yang hanya terfokus pada arsitektur dan melupakan emosi di dalam hatinya. Selain itu sikapnya yang over protektif terhadap kebersihan pun diperlihatkan dengan jelas.
Konflik yang terjadi tidak terlalu rumit dan cenderung ringan. Kita akan melihat konflik yang muncul saat Miko mulai teringat kembali dengan keempat sahabatnya, Dream, Made, RH, dan Seroja, di masa kuliahnya. Pada saat itu Miko yang cuek dan datar akibat asperger mulai bisa menemukan rasa dan emosi dalam jiwanya. Namun, ternyata Miko tidak siap dalam merasakan emosi tersebut. Di sini kita akan melihat gejolak batin Miko yang menurut saya menarik untuk diikuti. Penulis cenderung memfokuskan cerita pada hubungan persahabatan Miko dengan keempat sahabatnya. Dan saya suka akan hal tersebut. Bagaimana Miko yang memiliki kekurangan dipertemukan dengan empat orang yang menjadi support system bagi dirinya. Meskipun tidak ada konflik yang berarti, tapi masih bisa kita nikmati.
Membaca adalah masalah selera, begitu pula dengan cerita dalam Garis Lurus. Mungkin tidak semua orang akan menikmati ceritanya yang kebanyakan "menjelaskan" ketimbang "aksi". Namun, bagi saya Garis Lurus merupakan sebuah novel yang segar, unik, dan menarik. Bagaimana dunia arsitektur bisa dikombinasikan dengan isu mental illness, khususnya asperger dan OCD. Kedua elemen tersebut menjadi magnet yang menarik saya untuk membacanya. Dan menurut saya penulis cukup berhasil menyajikan cerita Miko dengan baik. Dunia arsitektur dan mahasiswa yang ditunjukkan terlihat hidup. Namun, sayangnya penulis tidak menambahkan catatan kaki sebagi penjelasan beberapa istilah arsitektur. Sehingga menimbulkan sedikit kebingungan, khususnya bagi orang awam yang tidak mengenal dunia ini. Dan satu hal lagi yang menurut saya mengganggu adalah Miko yang selalu mengulang-ulang jika dia mengidap asperger dan OCD. Secara keseluruhan Garis Lurus memperlihatkan sisi lain dari pengidap asperger dan OCD yang bisa meraih cita-cita mereka jika memiliki support system yang tepat.