8 tahun tinggal di Iran, traveling keliling Iran, penulis buku best seller Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Qur'an.
Dalam perjalanan itu, kami (saya dan keluarga), berjumpa orang-orang Iran dari berbagai etnis, budaya, dan agama. Kami menyaksikan keanggunan dan keningratan orang-orang Gilan di utara, militansi kesukuan orang-orang Kurdi di Barat, kehangatan nyala api orang-orang Majusi di Timur, hingga keramahan khas orang-orang etnis Arab di selatan Iran. Desa kuno berusia 5000 tahun di Abyaneh, kebun-kebun mawar yang air sulingan bunganya dipakai untuk mencuci Ka'bah, kebun teh di pinggir laut Kaspia, puing-puing perang di Khurramshahr, kuil sesembahan orang Persia kuno di pedalaman Shoush, kota kuno di Shoustar yang pernah diperebutkan pada era Khalifah Umar bin Khattab, masjid kaum Sunni di Sanandaj dengan beranda tuanya yang tenang, pegunungan Zagros yang membuat nafas tertahan, dan puing istana Persepolis yang menjadi bukti kemegahan peradaban Persia Kuno, adalah di antara keeksotisan Iran yang kami saksikan dalam perjalan itu.
Perjalanan mengelilingi Iran hanya dilakukan dalam rentang waktu dua bulan. Namun, yang tertuang di buku ini sejatinya adalah catatan tentang warna-warni pelangi yang selama delapan tahun saya saksikan di Iran. Semoga Anda pun menikmatinya. - Penulis dalam pengantar buku ini
"Perjalanan Dina ke berbagai wilayah Iran yang sangat beragam itu membuka mata kita tentang latar belakang kultur/budaya yang sangat beragam di Iran, kesukuan/etnisitas, agama, sejarah, bahkan modernitas dan gaya hidup orang-orangnya, di kota maupun di desa-desa di pegunungan. Keindahan Negara Iran juga digambarkan dengan saksama, menggoda kita untuk berangan-angan pergi ke sana pada suatu ketika."
- Sirikit Syah, penulis dan pengamat media (Pendiri Lembaga Konsumen Media-MediaWatch)
Buku ini adalah salah satu buku non-fiksi yang sangat saya minati. Pandangan saya tentang sebuah negeri bernama Iran banyak berubah setelah membaca buku ini.
Dina Y. Sulaeman dan suaminya, Otong Sulaeman, menyajikan beragam kisah, peristiwa dan tempat-tempat yang luar biasa yang mereka lewati di Iran. Bagi saya, buku ini bukan sekedar buku tentang sebuah negeri, melainkan juga buku yang bernilai relijius.
Satu kisah yang ditulis Otong bahkan membuat saya menangis tersedu-sedu dan begitu haru, mengingat kembali indahnya rasa ikhlas, merasakan kembali nikmatnya cinta Ilahi. Kisah itu adalah kisah Mehdy, seorang supir taksi yang membawa Otong berkeliling di suatu kota di Iran -- kisah inilah yang membuat saya memberi 5 bintang untuk buku ini.
Pemaparan tentang sistem pemilihan di Iran yang begitu simpel membuat saya sedih dengan sistem di sini. Andaikan warga Indonesia seperti itu juga, bersemangat dan jujur dalam memilih, tentunya tidak perlu repot-repot memesan kotak suara atau tinta khusus (yang nyatanya mudah hilang juga) sehingga menghabiskan uang rakyat.
Satu lagi yang membuat saya terkesan dengan Iran, yaitu gerbong kereta yang dipisahkan antara perempuan dan laki-laki -- meski ada juga gerbong campuran untuk suami istri). Kapan ya, Indonesia bisa seperti itu?
Andai buku ini dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar dunia barat dapat melihat Iran (dan/atau Islam) dengan cara berbeda...atau sudah?
Cerita tentang eksotisme iran, tentunya merupakan hal yang baru. Tetapi, penulisnya mampu mengemasnya dengan baik. Foto-foto yang disusun di tiap babnya membantu pembaca mengimajinasikan keindahan eksotisme Iran seindah yang dialami penulis.
Karena alasan inilah, pada Mei 2011 penerbit yang sama menerbitkan kembali buku ini dalam judul yang berbeda, yaitu 'Journey to Iran Bukan Jalan-Jalan Biasa'. Walaupun isinya kurang lebih sama dengan buku sebelumnya, buku terbitan terbaru ini lebih menekankan pada sisi traveling ke Iran. Selain dilengkapi dengan foto, buku terbarunya kini dilengkapi dengan tips jalan-jalan. Ukurannya juga lebih kecil dibanding dengan buku terbitan sebelumnya sehingga bisa lebih mudah ditenteng ke mana-mana.
Di tengah maraknya buku traveling, buku ini bisa dijadikan panduan dan pilihan bagi para travellers untuk tidak hanya menyusuri keindahan eksotisme iran tetapi juga mempelajari nilai-nilai budaya dan religinya. =D
Yang saya baca judulnya sudah Journey to Iran .. isinya mungkin sama
Jarang sekali buku yang membahas tentang tempat2 Wisata di Timur Tengah terutama Persia dan khususnya Iran, negeri yang selama ini saya kira tertutup tirai karpet itu..
Buku ini menceritakan perjalanan sang penulis ke tempat2 wisata dan tempat2 bersejarah yang berada di Iran, ternyata di Iran banyak situs2 sejarah yang dalam bayangan saya akan akan membawa saya ke masa-masa lalu .. exotis sekali
Bar tahu juga kalo di Iran ada 4 musim, ada saljunya lagi, kirain di Timur Tengah hanya melulu padang pasir tapi ternyata di Iran, tidak hanya panas padang pasir yang ada namun pohon2 rindang dan kesejukan udara di pegunungan juga ada ..
Ada juga teknologi menangkap angin untuk rumah2 yang terletak di daerah panas yang baru saya tahu dari buku ini ..
Ternyata Iran menarik untuk dikunjungi, namun kayaknya di Indonesia jarang2 paket2 wisata/tour yang menawarkan wisata ke Iran ..
buat siapa aja yang merasa iran sebagai negara yang "mengerikan" dan "kaku", baca deh buku ini...
penulisnya udah 8 tahun tinggal di sana.. dan buku ini semacam catatan keseharian serta interaksinya dengan masyarakat iran.
sbg negara yg pernah jadi salah satu pusat peradaban kuno dunia.. dan sekaligus negara yang sering dapat embargo ekonomi dari Paman Sam, ternyata masih banyak sisa peninggalan kebudayaan Persia yang dapat ditemukan di sana...
Menyusuri Eksotisme Iran. Buku setebal 297 halaman ini memang tidak sempurna, tapi cukup komplit menyajikan pernak pernik tentang Iran. Pelangi di Persia menjadi “buku wajib” bagi mereka yang akan melancong ke Iran, bisa juga menjadi rujukan mereka yang meminati kajian Timur Tengah atau sekedar koleksi bagi yang hanya ingin mengintip Pelangi di Persia.