Jump to ratings and reviews
Rate this book

Rumah Ilalang

Rate this book
Selepas kematian Tabita, Tania tampak begitu terpukul. Jenazah Tabita tak bisa dimakamkan. Ia ditolak di mana pun. Tidak di pemakaman muslim, maupun hanya untuk mendapatkan pelayanan kematian dari gereja. Kolom agama di KTP Tabita memang Islam, tapi di tahun-tahun akhir hidupnya, banyak orang yang melihat Tabita rutin mengikuti misa Minggu. Pelayanan kematian itu tak dapat diberikan karena--meski Tabita rajin mengikuti misa, tak sekalipun ia terdaftar sebagai warga jemaat. Terlebih, ia adalah seorang waria.

Usaha Tania memperjuangkan hak-hak kemanusiaan bagi sahabatnya untuk dimakamkan dengan layak, mempertemukannya pada kenyataan yang lain. Tentang latar belakang keluarganya, tentang keluarga Gosvino—pria seminarian yang mati-matian dicintai Tabita, tentang kelamnya rasa iri di antara para waria dan tentang dunia yang semakin tak manusiawi.

Semuanya seperti rumah yang dibangun dari ilalang. Rapuh. Mudah terbakar dan diterbangkan angin.

136 pages, Paperback

First published September 1, 2019

13 people are currently reading
167 people want to read

About the author

Stebby Julionatan

16 books55 followers
Stebby Julionatan. Lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 30 Juli 1983. Mantan Kang Kota Probolinggo 2006, finalis Raka-Raki Jawa Timur 2007 dan Rimata Jatim BPAP 2008. Pendiri Komunitas Menulis (KOMUNLIS). Bergiat di Komunitas Sae Sanget Indonesia (KSSI). Sehari-hari bekerja sebagai staf Diskominfo Kota Probolinggo, penyiar radio dan editor tabloid Suara Kota. Pernah dinobatkan sebagai Penulis Muda Berbakat 2007 atas karyanya “Ku Nanti Hujan di Pucuk Musim Kemarau” oleh Kolomkita. Karyanya yang telah terbit LAN (Bayumedia, 2010), Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali (Bayumedia, 2011) dan Biru Megenta (Ruang Kosong, 2015). Tahun yang sama, Biru Megenta masuk shortlist Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2015. Di 2016, manuskrip puisi Rabu dan Biru, menjadi nominator (5 besar) Siwanataraja Awards. Dapat disapa di @sjulionatan dan untuk berkirim email bisa ke sjulionatan@yahoo.com.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
38 (13%)
4 stars
108 (37%)
3 stars
120 (42%)
2 stars
18 (6%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 83 reviews
Profile Image for raafi.
928 reviews449 followers
October 19, 2019
Novela ini potensial. Tema yang diangkat begitu kontroversial sehingga pembaca dibawa pada dua sisi pro dan kontra yang bisa memusingkan.

Bercerita tentang seorang waria bernama Tabita yang tertabrak dan merenggut nyawanya sehingga membuat orang-orang yang ditinggalkannya merasa kesusahan—terutama Tania, sahabatnya, yang bersama seorang laki-laki bernama Ahmad mencari rumah ibadah yang mau memimpin, mendoakan, dan menyemayamkan jenazah Tabita. Keluarga Tabita pun tidak membantu—ayah dan ibunya terkena hasutan adiknya yang begitu fanatik terhadap agama lalu berpaling begitu saja pada Alang (nama asli Tabita). Belum lagi bagaimana warga sekitar tempat tinggal Tabita yang berkasak-kusuk dan enggan membantu. Untungnya, masih ada orang yang mau menolong menguburkan mayat Tabita.

Sayang beribu sayang, kisah potensial ini amat bikin risih dengan suntingannya yang kurang upaya untuk mengilapkan naskahnya. Begitu banyak hal mengganggu terkait kata dan kalimat: inkonsistensi sudut pandang, ketimpangan kalimat tunggal dan majemuk, kesalahan penyebutan nama yang sebetulnya krusial, penggunaan kalimat bercetak miring dan kalimat langsung. Ingin rasanya mengembalikan naskah ini untuk perbaikan. Sekali lagi, ceritanya potensial.

Setidaknya, pada akhirnya, saya bisa menyelesaikan cerita Tabita dan Tania (walau dengan sedikit misuh-misuh) dan merasakan dilematis berbagai macam lapisan masyarakat terhadap isu abu-abu seperti waria ini.
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
April 8, 2021
"Kebebasan yang disertai dengan minimnya rasa tanggung jawab adalah modal besar bagi runtuhnya demokrasi (Halaman 76)"

“Dalam salah satu adegan Sang Pencerah ada sebuah quote dari adegan yang paling ia sukai dari film itu. scene-nya sendiri berlangsung saat sang guru, Kyai Haji Ahmad Dahlan bermin biola. Si murid bertanya, “Agama itu sebenarnya apa, Kyai?” si guru tak langsung menjawabnya. Ia menyerahkan biola itu kepada muridnya dan berkata, “Mainkanlah.” Si murid tertegun dengan jawaban Sang Kyai, sebba ia tidak bisa memainkan alat musik, apalagi biola. Namun, karena rasa hormatnya, dia tetap mengambil biola itu dan mencoba memainkannya. Si guru hanya diam dan mendengarkan gesekan biola itu dan mencoba memainkannya. Si guru hanya diam dan mendengarkan gesekan biola sang murid yang compang-camping itu. fals kemana-mana. Setelah puas melihat muridnya dan si murid sadar diri bahwa permainan biolanya buruk, sang guru baru menjelaskan. “Seperti itulah agama. Dia akan menjadi harmoni yang indah di tangan orang yang tepat. Orang yang beragama adalah orang yang menyukai keindahan, ketentraman, damai, cerah...sedang hakikat agama itu seperti musim, senantiasa mengayomi, menyelimuti.” (Halaman 81 – 82)
"Fanatisme hanya tindakan orang bodoh" (Halaman 81)

Ini merupakan beberapa kutipan yang saya sukai. Memang, gaya penulis yang menurut saya cenderung unik karena berpindah-pindah sudut pandang memang agak menyulitkan saya. Buku ini, pada dasarnya menyampaikan kritik sosial yang menurut saya memang menyayat hati. Tentang bagaimana masyarakat menilai sesuatu didasarkan pada fanatisme agama. Ha-ha-ha. Atas nama agama, lantas bisa ya langsung membunuh dan membakar tanpa sebab dan didasarkan pada kebenaran hakiki, katanya?

Selama membaca buku ini, rasanya hati saya tercabik-cabik. Tabita, oh, Tabita, kasihan nian dikau. Dan untuk Gosvino, kau sungguh brengsek. Bukannya mulut diciptakan untuk berbicara? Lantas, mengapa pada akhirnya kau malah menghilang? tolol.

Mungkin cuma itu. karena gelombang emosi yang dibawa buku ini....sungguh menyayat hati. Tapi, buku ini memberikan sudut pandang yang begitu banyak dari berbagai sisi sehingga saya pribadi merasa sendiri memiliki kesan bahwa apa yang ingin disampaikan tidak hanya bergantung pada satu nilai saja namun dari berbagai nilai dan membuat lebih menyeluruh dalam melihat satu kejadian terkait Tabita a.k.a Alang
Profile Image for Natsume Natsuki.
110 reviews23 followers
January 15, 2021
Buku ini banyak sekali lewat di timeline Twitterku. Banyak yang mengatakan ini bagus dan merekomendasikannya. Waktu aku baca blurb-nya, aku sangat tertarik dengan buku ini dan memutuskan untuk langsung membacanya. Untungnya masih banyak stok buku ini di ipusnas jadi gak perlu antri lagi.

Seperti yang dikatakan di blurb buku, cerita ini mengangkat tema yang agak sensitif di masyarakat kita, yaitu tentang keberadaan waria dan agak bersinggungan dengan agama juga kondisi sosial masyarakat Indonesia. Cukup jarang ada buku yang mau membahas isu sensitif ini, secara yang kita tahu di masyarakat bahwa menjadi waria sama dengan melanggar hukum yang ditetapkan Tuhan.

Sudut pandang yang dipakai juga dari beberapa sisi (orang) jadi kita bisa melihat cerita ini lebih luas. Mungkin terkesan agak membingungkan karena memakai sudut pandang beberapa orang, tetapi menurutku ini membuat karakter Tabita lebih banyak diungkap dalam berbagai pandangan yang berbeda-beda.

Walaupun begitu gaya penulisannya ringan dan sangat mudah dicerna.
Profile Image for Aldrina.
84 reviews15 followers
February 27, 2022
buku potensial dgn tema yg sensitif, tpi somehow narasinya suka "kabur," mungkin maksud penulis buat ngenalin background tokoh2 yg sepertinya digambarkan sbg wakil dari lapisan masyarakat tertentu. Tpi yaa gitu, bikin w bingung, dan malah cenderung sering lupa sblmnya bahas apa, trs sempet jg males lanjutin krna ya itu—suka kabur.

Tpi buku ini eye-opening sih buat w, w baru tau kalo terdaftar keanggotaan di suatu gereja tuh berefek segitunya.
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
November 19, 2019
Menyelesaikan membaca cerita ini bagi saya teramat sulit karena... entah ya, cerita ini sangat 'kena' secara personal dengan saya. Harus saya akui, waktu pertama mendapat buku ini saya bergegas ingin membacanya karena jarang-jarang saya mendapat karya mengenai minoritas seksual Indonesia.

Lalu baca halaman pertama. Saya segera tutup bukunya dan menangis. Lalu kesulitan kembali mulai membaca.

Bagi saya cerita ini sangat... raw? Nyata dan apa adanya, karena itu saya lebih sering menutup buku dan menenangkan diri dulu. Rasanya hampir sama seperti saat membaca A Little Life-nya Hanya Yanagihara dulu.

Yah, yang di goodreads hanya curhatan saja. Ulasan yang lebih tidak emosional akan segera menyusul di blog. :)
Profile Image for Dinira.
7 reviews
December 31, 2022
Rumah Ilalang merupakan sebuah novela—memuat topik sensitif yang jarang diangkat sebab sering menuai pro dan kontra. Di dalamnya dinarasikan perjalanan seorang waria yang jatuh cinta pada lelaki yang sering ditemuinya di gereja. Namun, lelaki itu seolah menampiknya sebab Tabita mengingatkannya pada sosok ayahnya.

Nahasnya, Tabita meninggal karena sebuah kecelakaan. Dari situlah konflik mulai bermunculan. Kesulitan-kesulitan dirasakan oleh para teman sekaligus keluarganya di rumah para waria. Seperti dijelaskan di dalam uraian singkat (blurb), kematian Tabita menuai masalah perihal krisis identitas yang bertalian dengan nilai-nilai sosial dan agama yang ada. Sahabat sesama warianya—Tania yang paling dekat dengan sosok Tabita berusaha mencari solusi agar jenazah sahabatnya bisa disemayamkan selayaknya manusia pada umumnya.

Perjalanan tersebut tidaklah mudah karena Tania berupaya mendatangi ustad-ustad atau bahkan pendeta yang ada di lingkungan sekitarnya. Hingga dalam prosesnya, masa lalu yang melatarbelakangi kehidupan Tabita saat sebelum dan setelah menjadi waria pun terkuak.

Dari sudut pandang seorang waria, mereka jelas tak mampu menyangkal keberadaannya di dunia, dipandang rendah dan menyalahi takdir yang ada—padahal dari sisi terdalamnya, mereka adalah manusia yang menebar kasih sayang kepada sesama manusia lain dengan beragam kebaikan yang tidak tampak ke permukaan.

Selain itu, novela ini menayangkan sisi hangat para waria yang terbuang dan ditelantarkan keluarganya. Walau statusnya ambigu, Tabita adalah salah satu waria yang semasa hidupnya memiliki tambuk berharga bagi orang-orang di sekitarnya.

Lantas seperti halnya di kehidupan nyata, sebaik apapun peran manusia dalam menebar kebaikan, rasa iri dan dengki dari orang sekitar—yang paling dekat sekalipun bisa menyelinap di dalam kehidupan para waria.

Tabita yang begitu dicintai teman-temannya, dalam proses pencarian jalan keluar agar bisa dikebumikan makin dipersulit sebab salah satu keirian yang bersemayam di antara teman sesama warianya. Hal itu tentu menimbulkan perpecahan di dalam sebuah keluarga dan masyarakat sekitar bagai rumah ilalang yang jika terbakar—terprovokasi, akan lenyap, hangus dan menyisakan debu yang beterbangan.

Maka, terlepas dari topik yang diambil penulis, keseluruhan alur cerita hingga penokohannya teramat kokoh dan menarik. Semuanya menyisakan jejak berkesan dari beragam alasan serta pesan yang tersemat secara tak gamblang.

Sajian yang disuguhkan novela ini mampu meluruhkan perasaan, bahwa terlepas dari status apa yang kita sandang, kita tetaplah makhluk sosial yang mau tidak mau memang terikat akan aturan-aturan dan budaya yang ada. Sehingga peran dan perilaku manusia akan dipengaruhi oleh hal itu.

Dalam kasus Tabita yang di akhir hidupnya harus menempuh perjalanan panjang untuk bisa disemayamkan, jelas terlihat bahwa ulama dan pendeta sekalipun terikat oleh aturan yang tidak memperbolehkan pemakaman Tabita karena kerancuannya entah seorang muslim atau jemaat gereja—juga eksistensinya sebagai seorang waria makin memperumit jalannya.

Namun, di situlah sisi kemanusiaan dipertanyakan. Karena meskipun Tabita adalah seorang waria, dia tetaplah manusia yang juga memiliki hak untuk diperlakukan sebagai manusia. Hingga akhirnya, di balik tiap kesulitan yang dilalui oleh Tabita dan sisa keluarga warianya—akan berakhir memperoleh jalan keluar berupa kemudahan.

Dari Tabita, pembaca bisa belajar bahwa kebaikan tetap bisa dilakukan meskipun kita tidak tahu apakah hal itu mampu menyelamatkan kita atau tidak di akhir perjalanan nanti. Hidupnya tidak mudah dan terasing, dikucilkan dan dibuang. Namun kepedulian dan simpati tetap bermekaran di dalam jiwa-jiwa yang dengan sadar bahwa kehadiran mereka bukanlah hasil tawar menawar dengan Tuhan.

Lalu, melalui Tania dan orang-orang yang menerima banyak kehangatan Tabita, pembaca bisa belajar perihal persahabatan yang bisa tetap dipertahankan walau rintangan berupa jelmaan kedengkian mampu membinasakan segalanya.

Serangkaian perjalanan itu setidaknya bisa membukakan kesadaran tentang memanusiakan manusia, menghargai perbedaan yang ada tanpa bermaksud menormalisasinya, setidaknya bisa meningkatkan pemahaman untuk tidak seenaknya berbicara dan menghakimi keberadaan tiap manusia dan makhluk yang ada tanpa tahu bagaimana kehidupan yang ditempanya selama proses yang tidak terduga.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Shafira Indika.
303 reviews234 followers
March 1, 2021
4/5⭐️

Seneng banget akhirnya bisa dapet buku ini di ipusnas stlh queue dari bbrp bulan lalu. Sejujurnya aku penasaran sm buku ini karena byk yg ngomongin di twitter. Katanya ceritanya bagus dan mengangkat isu yg abu-abu di masyarakat.

Aku pribadi suka sama tema yg diangkat cerita ini—tentang SARA dan LGBT. Mungkin kalo diliat dari tema yg diangkat, banyak yg ngira ini novel agak berat atau gmn yaa.. tp menurutku ini novel–novella, tepatnya—yg ringan dan mudah dinikmati karena bahasa yg apa adanya (termasuk umpatan-umpatan yg apa adanya pula alias tanpa sensor wkwk).

Aku menikmati alur ceritanya. Bercerita tentang Tabita alias Alang, seorang waria yg terusir dari rumah namun dapat memberdayakan dirinya sendiri atas bantuan Mami Nancy dengan organisasi (?) Srikandi Utama yang ia dirikan. Tabita kemudian mengalami kecelakaan yg menewaskan dirinya. Kemudian, permasalahan muncul. Akan dimakamkan dgn cara apa si Tabita ini? KTP-nya muslim tapi ia beribadah di Gereja. Penolakan-penolakan pun muncul.

Pada chapter-chapter selanjutnya, kita diajak menyelami sudut pandang dari orang-orang terdekat Tabita. Tidak hanya yg menyenanginya seperti Mami Nancy dan Tania, sahabatnya, melainkan juga orang-orang yg mensyukuri ketiadaannya. Dari situ kita bisa memahami bagaimana pro kontra di masyarakat akan keberadaan waria yang—mengutip dari kata-kata seorang tokoh di buku ini—"lumrah namun tidak semua masyarakat menerima keabnormalannya". Ini hal yg aku suka dari 'Rumah Ilalang' dan bikin aku gabisa berhenti baca buku ini:)

Overall, ceritanya bagus dan bermakna sekaligus relatable dgn situasi sekarang ini. Namun, yg aku sayangkan adalah masih banyak typo-typo yg bertebaran jdnya agak kurang nyaman membacanya hehe.

Bukunya bagus tapi untuk membaca dan masuk ke dalam ceritanya, perlu pikiran yang terbuka—bukan untuk membenarkan buah pikiran penulis melainkan untuk menerima sudut pandang lain.

Ok, that's all from me :)
33 reviews
March 18, 2021
Pertama kali baca novel yang tabu. Ini jg karena warga twt litbase hehe, thank you sekali sama base itu karena buku buku yg kubaca semua rekomendasi folls nya.

"Rumah ilalang yang mudah tersapu oleh apa pun jika penghuni di dalamnya sendiri, yang menalinya, tidaklah kencang."


Pov nya ganti-ganti, jadinya bingung. Kecuali, di bab yang ada tulisan pov nama namanya. Kaya, bagi Aisha, bagi Dina dsb. Jadi tau kalau pov nya siapa.

Ada beberapa typo yg membingungkan.
Gw, aku, lo, kamu, kau nya ga konsisten.

Ceritanya sederhana, maksudnya, kata-katanya. Gaada yang membingungkan kaya pake kata yang jarang dipakai sehari-hari.
Ceritanya sih yaa tentang waria. Hal yang jarang dikisahkan gasih?
Tentang sudut pandang agama Islam di 'perwariaan' dan pengajaran agama Kristenisasi

Di awal, diceritakan pandangan keluarga, teman-teman nya tentang Tabita yang waria, si tokoh utama yg ada di sinopsis.
Di akhiran, baru diceritakan gimana usaha Tania dan lainnya mengurus kematian Tabita.
Profile Image for Meiliana Kan.
242 reviews52 followers
August 5, 2021
dnf 50%

Awalnya aku merasa topik yang diangkat cukup menarik karena terkait dengan isu transgender yang masih sangat sensitif di Indonesia dan karena buku ini hanya 130an halaman aku pikir buku ini akan memiliki pace yang cepat dan mengalir seperti Lusifer! Lusifer! Tapi, ternyata ekspektasiku salah..

Dengan alur maju mundur yang sekenanya dan gaya bercerita serta dialog yang kurang bisa aku nikmati, dengan terpaksa aku berhenti baca di halaman 62..
Profile Image for Ainay.
418 reviews78 followers
August 21, 2021
Sebenernya ini sangat potensial kalau dikembangkan jadi novel utuh, bukannya novella kayak gini. Terus ... kesalahan teknis kayak salah ketik nama beberapa kali kutemui, makanya agak membingungkan. Tapi ini bacaan yang oke 👍
Profile Image for Novita.
189 reviews13 followers
March 24, 2024
Salah satu buku yang membahas prasangka terhadap kaum transgender yang muncul di masyarakat adalah Rumah Ilalang karya Stebby Julionatan. Buku ini juga menyinggung soal agama dan dinamika sosial budaya Indonesia. Mungkin cukup jarang bagi seorang penulis untuk membahas topik yang kompleks dan sensitif seperti ini. Karena, seperti yang kita semua tahu, waria dipandang dalam budaya kita sebagai pelanggaran hukum agama.

Mayoritas karakter dalam buku ini adalah waria dari berbagai latar belakang, yang membuatnya menjadi bacaan yang menarik. Tabita adalah seorang yang kaya raya tapi memiliki keluarga yang berantakan dan keluarganya pun tidak menerimanya karena ia seorang waria. Tania tidak bisa kuliah karena keluarganya pas-pasan tetapi keluarganya dapat menerima dia sebagai waria. Dan Mami Nancy, meskipun berasal dari keluarga berada, tetapi menikmati pahitnya bersekolah di sebuah pesantren yang memiliki tingkat kekerasan seksual yang tinggi.

Tabita—nama asli: Alang—adalah tokoh utama dalam buku ini. Penggambaran kehidupan Tabita di antara tokoh-tokoh transgender lainnya dalam buku ini menjadi metafora bagi kehidupan individu transgender di masyarakat kita. Karena stereotip negatif di masyarakat, waria sering kali diperlakukan tidak adil. Bahkan, misalnya ketika terjadi bencana alam, masyarakat Indonesia lebih cenderung untuk melimpahkan kesalahan pada keberadaan waria atau individu transgender lainnya daripada menyelidiki sumber bencana yang ada.

Dalam sudut pandang, novel ini terdiri dari beberapa sudut pandang individu yang berhubungan dengan Tabita. Meskipun hal ini mungkin membingungkan, tetapi menurut saya dengan dieksplorasi dan digambarkan dari beberapa sudut pandang menambah daya tarik karakter Tabita.

Rumah Ilalang, sebuah novel karya Stebby Julionatan, sebagian besar menggambarkan keberadaan individu transgender yang konvensional dalam masyarakat. Ada tiga karakteristik yang tercermin dalam hal ini, yaitu: tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak memiliki afiliasi agama, dan penolakan sosial. Waria menghadapi diskriminasi, penilaian rendah, dan bahkan penghakiman atas keberadaan mereka, yang merupakan representasi yang sangat realistis tentang bagaimana rasanya dinilai atas keputusan hidup seseorang ketika sudut pandang, sikap, dan keinginannya berbeda.

Dalam buku ini, Stebby Julionatan, sang penulis, secara efektif memotret dan menggambarkan segala bentuk prasangka gender dan agama yang ada di Indonesia. Menurut saya, buku ini layak diberi nilai 5/5.
Profile Image for DEE.
254 reviews3 followers
March 7, 2022
Saat baca blurbnya, kukira buku ini bakal lebih fokus ke konflik pemakaman Tabita. Ternyata lebih condong ke pemikiran orang-orang soal sosok Tabita sebagai seorang waria–dan tentu saja konflik yang Tabita rasakan selama dia menjadi seorang waria. Konflik tentang pemakamannya baru dibahas di 3/4 akhir bukunya.

Kecewa? Ngga dong, dari awal baca ini memang murni karena penasaran. Membuka wawasanku soal waria dan konflik batin diri mereka, juga orang-orang terdekat mereka (soal penerimaan akan 'identitas baru' mereka).

Bisa dibaca sekali duduk, singkat, padat, dan jelas.

Worth to read to widen your knowledge about this issue. The story is sad and heartbreaking knowing there are people out there who actually experience this.



4/5
Profile Image for isaiah.
157 reviews
July 28, 2022
literally, such a heartbreaking book. perhaps, i’ll be recommending it to everyone from now on.

overall, the book was good and i loved the characters and their paths. tapi, aku agak kurang srek dengan gaya penulisannya. 🙁

punctuations, penulisan kata ‘ya’ yang menurut aku too much, dan penulisan beberapa nama tokoh yang terbolak balik serta ada typo-nya—aku agak hilang nafsu baca kalo liat kayak ginian, huhu. serasa ini tuh kekurangannya. dan akhirnya aku nggak bisa terlalu fokus ke ceritanya–ya, walaupun aku tetap bakal ngerekomendasiin buku ini ke temen temen bookish di luar sana.

but it cannot change the fact that i loooove the story so much. juga, aku saranin buat nggak dibaca waktu kondisi emosi dan mental lagi nggak stabil. itu aja saran aku. 💯💕
Profile Image for rass.
16 reviews
July 21, 2021
Awalnya aku pikir buku ini akan diceritakan dengan pov (point of view) si Tabita. Tapi ternyata engga, setiap tokoh memiliki jatahnya masing-masing di cerita ini. Unique!
Alur dalam novel ini maju mundur. Aku suka dengan alurnya, meskipun maju mundur, tapi tetap bisa dipahami. Terlebih background story masing-masing tokoh yang bikin aku selama baca "oh wow ... oke" 😳

Buku ini bercerita tentang Alang atau Tabita. Seorang waria yang merupakan anggota di LSM Srikandi Utama. Kehidupan keluarganya pelik, dimulai dengan ayah dan adik laki-lakinya yang tidak menyukai jati diri Alang. Ibunya yang tak membela Alang. Hanya kakaknya, Dina, meskipun tidak setuju dengan keputusan Alang menjadi waria, Dina tetap memikirkan perasaan adiknya, Alang.

Tania adalah sahabat Tabita di Srikandi Utama. Wataknya lucu dan selalu ada untuk Tabita, bahkan di saat Tabita meninggalkan semuanya, Tania selalu ada dan membantu segala urusan Tabita. Such a good friend.

Beberapa kutipan yang aku highlight dari buku ini:

- "Agama itu baik, tetapi kadang pemainnya tidak."

- Kurasa menjadi orang tua itu perkara yang mudah. Lebih banyak mendengar. Jangan merasa benar sendiri. Jangan merasa tahu segala hal. Kasih waktu yang lebih saling menghargai. Tak perlu diingatkan karena kamu pada dasarnya sudah anak baik.

Oiya, aku baca buku ini di iPusnas.
Profile Image for Ann.
62 reviews4 followers
March 31, 2021
aaaAaA kerennnn abiz
gatau kenapa buku ini cukup membuka pandangan ku pada sudut pandang setiap babnya. setiap bab nya kaya akan sudut pandang siapapun teman Tabita. ternyata tidak mudah ya jadi mereka... speechless asli. cuman agak bingung setiap bab nya harus memahami lagi hehhehe.. tokohnya ada banyaak juga bikin bingung.

terlepas itu cerita nya bagus👍🏻
Profile Image for Arvia Maharhani.
231 reviews29 followers
December 15, 2020
Aku terlalu berekspektasi ketika baca sinopsisnya sih. Aku kira cerita ini hanya akan menampilkan sudut pandang Tabita, ternyata malah semua orang yang ada sangkut pautnya dengan Tabita diberikan 1-2 bab untuk menceritakan melalui sudut pandang mereka, bahkan tukang kuburnya :')
Buku ini mengajarkanku melihat sudut pandang baru, yaitu waria. Ada beberapa hal yang mengetuk hatiku.
Tapi menurutku pribadi ceritanya agak meloncat loncat sih, jadi sayang aja meskipun aku suka sama gaya penulisannya dan covernya.
Profile Image for Poppy Trisnayanti Puspitasari.
8 reviews3 followers
July 13, 2020
Dua orang teman saya di komunitas lintas iman, mengomentari teman perempuan lainnya yang berpenampilan tomboy. Salah satunya bilang begini,"Lebih parah ya dia dari X?" dan teman satunya lagi mengiyakan. Saya terhenyak tapi dalam hati saja, karena muka saya yang datar ini mau kaget atau marah ya begitu saja ekspresinya.

X berpenampilan tomboy dan teman perempuan lain yang disebut 'lebih parah' tadi tomboynya dianggap melebihi si X. Hingga pulang, saya bertanya-tanya. Apa di komunitas lintas iman yang para anggotanya disebut agen perdamaian sekalipun, keragaman hanya merujuk pada perbedaan agama saja dan ekspresi gender tidak termasuk? Apalagi penekanan kata 'lebih parah' itu nampak seperti keprihatinan dan lagi yang berkomentar adalah sesama perempuan.

Ya, bukan hanya laki-laki ternyata yang dipandang dengan begitu prihatin ketika ekspresi gendernya tidak sesuai standar pada umumnya. Dalam Rumah Ilalang, ada beberapa ekspresi gender yang diceritakan. Tessy yang berkeluarga dan menjadi keperempuan-perempuanan untuk mencari nafkah. Alang, yang sejak kecil menyukai benda dan permainan perempuan, pula tidak senang berkelompok dengan lelaki. Tacik Barbara, yang semasa bersekolah di SMAK Yos Sudarso mengalami perundungan dari guru dan anak-anak perempuan karena gayanya yang kemayu dianggap lucu. Ketika Tacik Barbara mengadukan ketidakadilan yang dialaminya, sang guru malah menyebutnya kurang lakik. Lha, lakik kok dirundung perempuan, mengadu lagi.

Selain dilengkapi dengan hadist. Novela ini juga mengangkat tokoh Hari si penggali kubur yang takut setengah mati dengan pekerjaannya sendiri. Ia diam-diam mengagumi Tabita, si banci yang berani memilih sendiri bagaimana ia mesti dikebumikan. Maka bagi Hari, sebutan banci lebih layak disemat padanya yang penakut menghadapi kematian, meski dalam keseharian ia berkeluarga dan diterima masyarakat.

Kemanusiaan dalam novela ini, menjadi pelebur segala perbedaan identitas. Meski bahasan LGBTQ sensitif sekali berapa tahun belakangan ini dan barangkali, ada dari kita yang setelah membaca pun akan tetap kukuh dengan hitan dan putih identitas dan bukannya kemanusiaa. Kalau sudah begitu ya... Bagaimana lagi? Setelah penulis melempar karyanya pada publik, mustahil memang ada satu jenis persepsi pembaca.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
September 24, 2019
Sepertinya saya tidak boleh membandingkan novela ini dengan novela-novela bagus yang pernah saya baca, terutama luar negeri. Bahkan cerpen panjang Alice Munro saja menurutku tidak boleh disisihkan.

Pertama yang harus saya komentari adalah tema: novela ini mengangkat tema waria yang meninggal akibat kecelakaan, kemudian konflik muncul sebab dia mau dimakamkan sebagai apa. Islam atau nonislam? Sedangkan keluarganya tidak lagi menerima Alang alias Tabita sebagai keluarga--meski tidakmenerimanya juga dengan alasan klise, keluarga terpandang dan malu. Tapi sebelum masuk ke caranya, yang ingin kukritik pertama adalah persoalan Tabita ini mau dimakamkan sebagai laki-laki atau perempuan. Keeekeeee. Meski dibahas, tapi "pergolakan" ini tidak dibahas sepanjang soal ia yang tidak diterima.

Kedua banyak hal-hal krusial yang tidak dijelaskan. Misalkan kisah Vino, anak seminari yang disukai Tabita, ini juga menjadi problematik sebab di akhir bagian Vino, penulis menyimpan persoalan yang tidak dijelaskan lebih lanjut.

Ketiga, soal Tania yang melakukan advokasi, saya rasa malah menjadi tidak kentara. Saya nggak begitu masuk dan menerima jiwa aktivisme Tania.

Keempat, menurutku adegan pembakaran wisma warianya harusnya tidak perlu ada.

Soal penyuntingan aku terganggu dengan dua hal: peletakan catatan kaki yang keliru, dan mendadak ada POV dua yang menganggu dan membingungkan. (untung cuma satu bab)

Lebih dari itu, aku merasa penulis novela ini sangat terburu-buru. Saya bahkan tidak bisa ikut bersedih saat adegan sedih, tidak bisa turut suka ria untuk adegan bahagia, dan lebih seperti sedang digelontorin banyak adegan tanpa ada oase.

Keburu-buruan ini menurut saya masih bisa "diampuni" sebab novela, tipis dan harus padat. Tapi kalau novel, jelas akan menjemukan. Saya pikir Stebby harus belajar membaca novel-novel panjang yang selain kedalaman konflik, juga tergambar universe yang menarik pembaca.
Profile Image for Andreiya Eliata.
73 reviews1 follower
February 13, 2021
Aku sangat tertarik membaca novella ini karena membaca blurb nya.

Ya, novella ini mengangkat tema dan isu sensitif yang cukup jarang ditemukan di buku Indonesia yaitu tentang kaum waria, gay, dan transgender. Novella ini terdiri dari 23 bab singkat. Kata-katanya sederhana dan gampang dimengerti. Ceritanya memang begitu menarik yaitu menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia yang masih sulit menerima kaum minoritas seksual. Selain itu novella ini juga banyak mengungkit tentang isu fanatisme agama dan konflik antar umat beragama yang kerap kali terjadi di Indonesia.

Namun disamping itu, ada beberapa hal yang kurang ku nikmati dari novella ini. Pertama dari segi gaya penulisannya. Aku pribadi kurang suka dengan gaya penulisan sudut pandang yang dipakai penulis. Pada awalnya, penulis menggunakan sudut pandang pertama lalu loncat ke sudut pandang ketiga. Lalu di pertengahan penulis menggunakan sudut pandang pertama lagi, dan kemudian kembali menggunakan sudut pandang ketiga. Jujur, aku cukup risih dengan ke-inkonsistenan ini. Setiap bab juga diceritakan dari sudut pandang tokoh yang berbeda-beda. Yah, walaupun cukup menarik karena kita bisa mengetahui backstory Tabita dan karakter di sekitarnya. Namun menurut ku, gaya penulisan dengan cara seperti ini cukup berantakan dan membingungkan. Selain itu, banyak kalimat yang salah pengejaan dan kurang tanda baca.

Diatas semua itu, menurutku novella ini cukup memberikan angin segar di dunia sastra Indonesia. Novella ini bisa memberikan kita pengetahuan dan pandangan baru mengenai kehidupan kaum waria di Indonesia.
Profile Image for Nisa F.
52 reviews9 followers
December 6, 2022
Sebenarnya sudah dibuat takjub dengan bab pertama. Oh wow gitu, ya. Namun, tidak dengan bab-bab setelahnya. Aku nggak tau ya kenapa penulis suka berpindah-pindah sudut pandang pada bagian yang sama. Entah ingin menghadirkan sesuatu yang unik atau apa, aku sendiri sebagai pembaca justru bingung—ini pendapat pribadi, kayaknya pembaca lain bakal berpendapat beda.

Dari banyaknya tokoh yang dibuka di novel ini, aku tidak memfavoritkan satu pun, tapi aku suka bagaimana penulis menguatkan karakter setiap tokoh yang memiliki satu benang merah—sosok Tabita.

Oh, soal tema sensitif yang diangkat, novel ini memang cukup berani dan kompleks menurutku. Soal agama dan kemanusiaan yang menurutku pribadi keduanya gak bisa dipisahkan. Terutama ketika masalah soal Tabita, yang membawa masalah-masalah lain berdatangan. Di situ pikiran pembaca soal pro dan kontra benar-benar dipermainkan.

Alurnya memang cepat, ya, apalagi jumlah halamannya gak nyampe 150, tapi nggak bikin ngos-ngosan. Masih oke buat diikutin sampai selesai.

Ada beberapa bagian yang menurutku banyak pembaca bakal merasa relate, dan ada kalimat yang aku suka tapi lupa kasih tanda karena baca via iPusnas.

Not my favorite book, tapi bisa kalian baca kalau memang sedang mencari bacaan dengan jumlah halaman tipis dan gak ribet.
Profile Image for ⚘.
41 reviews2 followers
December 19, 2023
3/5 ✨

Awal baca kupikir diceritakan gimana hidup Tabita dari perspektif orang terdekat dan memang fokusnya khusus ke Tabita, entah dari gimana kondisi keluarga dia sampai cara dia bisa dapat "rumah" dan berdamai sama dirinya sendiri. Karakter-karakter yang bersinggungan dengan waktu Tabita kecelakaan jadi ikut diberi gambaran hidup, walaupun nggak terlalu dalam. Itulah kenapa aku merasa baca ini fokusnya jadi kemana-mana, gak ada satu pun karakter yang dikulik lebih dalam, bahkan Tabita sendiri.
Profile Image for Rere.
48 reviews
May 29, 2021
Dengan membawa dua topik yang sangat sensitif di Indonesia, yaitu LGBT dan agama, novela ini sangat menyayat hati. Novela yang sangat menari untuk dibaca dalam sekali duduk.
Profile Image for Ilham Rabbani.
20 reviews4 followers
January 10, 2022
Paruh kedua 2019 silam, Basabasi menerbitkan novela berjudul Rumah Ilalang (2019) karya Stebby Julionatan, salah seorang sastrawan muda asal Jawa Timur. Naskah novela tersebut menjadi salah satu naskah pemenang dalam Sayembara Novela Penerbit Basabasi 2019. Rumah Ilalang berkisah perihal kehidupan seorang waria bernama Tabita (nama sebenarnya adalah Alang), yang lantaran ke-waria-annya, ia ditolak oleh keluarga dan cenderung tidak disukai oleh lingkungan sekitarnya. Ia dianggap menyimpang dari kodrat kelelakiannya.
Hal tersebut tidak membuat sang tokoh menyerah, melainkan justru berusaha menumbuhkan harapan dengan jalan mengasingkan diri ke kota lain. Di tempat baru tersebutlah Tabita diterima oleh Mami Nancy. Ia juga bertemu dengan Tania, tokoh lain yang menjadi sahabat karibnya. Mereka bersama-sama mengurus Lembaga Swadaya Masyarakat Srikandi Utama (LSM-SU), komunitas waria yang memiliki kepedulian sosial terhadap masyarakat. Para punggawa komunitas tersebut terus berjuang menepis stigma dari masyarakat lewat tindakan-tindakan riil. Perlahan, mereka pun dapat diterima dan membaur lebih cair dengan lingkungan sekitar, meskipun pandangan negatif dan sinis tetap tak bisa dihilangkan sepenuhnya. Akan tetapi, nahas menimpa Tabita tatkala ia berusaha mengantarkan kue ulang tahun untuk seorang lelaki yang dicintainya: Gosvino. Tabita terlibat dalam kecelakaan, dan tubuhnya terkoyak, tercacah, lantaran terlindas truk besar.
Masalah baru pun muncul, sebab dalam beberapa waktu belakangan, Tabita kerap disaksikan ikut misa oleh warga sekitar. Ia dianggap telah berpindah agama, dari Islam ke Kristen, namun belum memiliki identitas jemaat yang jelas. Pengurus pemakaman muslim menolak memakamkannya secara Islam, pun ia tak bisa diurus secara Kristen lantaran identitasnya. Jasad Tabita berada dalam ketakjelasan: ditolak oleh jemaah kedua agama.
Jika menilik sejarah sastra Indonesia, permasalahan waria dalam karya tak teralu banyak diangkat oleh para penulis. Cerita-cerita tentang waria, barulah mendapatkan tempat dan perhatian setelah tahun 2000-an. Di antara beberapa karya tersebut, misalnya Lost Butterfly (2011) karya Yandasadra, Yonathan Rahardjo lewat novel Taman Api (2011), Okky Madasari lewat Pasung Jiwa (2013), Dea Anugrah lewat “Perbedaan antara Baik dan Buruk” dalam kumpulan cerpen Bakat Menggonggong (2016), dan lain-lain.
Hal tersebut, sepemandangan pribadi saya, tak lepas dari konteks negara Indonesia yang cenderung menganggap bahwa pembicaraan tentang waria adalah hal yang tabu, bahkan hina. Pandangan tersebut diperparah seiring situasi beberapa tahun belakangan, yakni tatkala timbul berbagai gerakan yang menuntut persamaan hak bagi kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Trans-gender (LGBT). Tuntutan tersebut secara terang-terangan ditolak oleh sebagian besar Warga Negara Indonesia (WNI), yang notabene memang melekatkan pandangan semacam demikian diharamkan oleh agama. Masyarakat muslim menjadi penyuara paling keras dari aksi penolakan tersebut. Artinya, kehadiran waria cenderung dilihat sebagai persoalan antara ‘benar’ dan ‘salah’ dalam bingkai agama. Pertanyaannya, adakah ‘kacamata’, atau perspektif lain, yang dapat kita pergunakan dalam melihat eksistensi mereka? Saya pikir novela ini layak dibaca untuk memancing kehadiran alternatif perspektif tersebut.
Profile Image for bukutigatulip.
17 reviews
June 9, 2022
seandainya kamu transgender. di KTP agamamu islam, tapi kamu sering juga  menghadiri misa minggu. sekarang, keluargamu bingung bagaimana memakamkan dirimu. dan ini nyata buat tabita.

dulunya tabita bernama alang, dia anak dari sutradara terkenal. ayahnya berpegang teguh pada ajaran agama, maka itu dia tega mengusir alang. lalu tabita bertemu dengan mami nancy dan LSM srikandi utama. di sini juga tabita ketemu sama tania yang bakal jadi sahabatnya dan juga yang akhirnya mengurus permasalahan kematian tabita.

selain tokoh-tokoh di atas, ada pula beberapa yang juga perannya cukup besar. menurutku karena mereka punya bab sendiri-sendiri tentang pandangan mereka terhadap tabita.

ada vino, crush-nya tabita yang punya alasan tersendiri untuk nggak membalas perasaan tabita. ada maria, transgender anggota srikandi utama yang sirik sama tabita dan tak terduga mengakhiri kisah tabita. ada sutila, ibu tabita yang menganggap tabita adalah bentuk karma dari perbuatan masa remajanya. ada dina, kakak tabita yang paling peduli dan yang akhirnya menolong tania mengurus pemakaman.

novel ini bukan hanya menceritakan tabita sebagai individu, namun juga tentang srikandi utama. karena pada akhirnya, srikandi utama juga hancur. lagipula, di sini tania banyak berperan dan yang adegan-adegannya kebanyakan diambil dari sudut pandang tania (kecuali kilas balik tokoh-tokoh lain dalam hubungan mereka dengan tabita).

➕ Keunggulan buku:
- trope yang menarik, konfliknya makin rumit karena selain tabita transgender, dia juga entah islam entah kristen. baca blurp aja pasti langsung pingin baca keseluruhan bukunya👍

➖ Kekurangan buku:
- ada typo nama beberapa kali.
- sudut pandang yang membingungkan.
- beberapa kali untuk merujuk ke para transgender, dikatakan begini: 'wanita, eh, lelaki' yang cukup bikin aku risih. kan mereka sudah perempuan? buku ini kan tentang hak-hak mereka.

sekian review gray kali ini, see you when i see you!

love, gray.
Profile Image for Kai.
84 reviews2 followers
October 13, 2024
Mengangkat tema yang kontroversial—LGBTQ dan waria yang bersinggungan dengan agama dan sosial masyarakat—Rumah Ilalang membuat saya senantiasa dihadapkan dengan 2 sisi yang sama-sama mengiris hati dan penuh kritik sosial.

Awalnya, saya pikir Rumah Ilalang akan lebih memfokuskan cerita pada usaha Tania memakamkan sahabatnya. Namun, isinya lebih kompleks dan mengena.

Bercerita tentang tokoh Alang yang berasal dari keluarga kaya raya—dan ayah yang berpegang teguh pada ajaran agama—namun tidak menerimanya karena ia seorang waria, Rumah Ilalang yang menggunakan pov dari banyak tokoh akan mengungkap bagaimana karakter Alang atau Tabita menurut teman-teman (waria) nya.

Jujur, saya dibikin bingung banget dengan pergantian pov yang dipakai..ditambah kata gantinya juga inkonsisten 😭. Walaupun begitu, Rumah Ilalang tetap bisa dinikmati sampai akhir cerita.

Pada awal cerita saya sudah dibuat kaget dengan sisipan narasi yang menurut saya agak vulgar—yah, walau memang ditemukan narasi serupa lainnya—tapi ngga bohong kalau buku ini mampu membuka mata lagi tentang bagaimana pro dan kontra masyarakat dengan keberadaan waria..bagaimana konflik batin yang juga dirasakan mereka..

Saya akui, cerita yang dibawakan sangat amat relatable dengan situasi yang umumnya—dan mungkin akan makin banyak—ditemukan saat ini. Setuju juga, kalau buku ini layak untuk dibaca demi membuka dan menerima bagaimana sudut pandang yang lain—bukan membenarkan pikiran penulis.

Terakhir, saya sebenarnya berekspektasi lebih dengan ending-nya, tapi entah mengapa yang saya temui hanyalah akhir yang terkesan dipaksakan selesai—seperti terlalu terburu-buru.

Selepas membaca Rumah Ilalang, entah mengapa saya juga merasa hampa.. Kayak mempertanyakan, sebagaimana harusnya disikapi dengan benar? Apakah selama ini sudah menjadi hamba yang benar dan manusia yang memanusiakan sesama?
Pokoknya jadi campur aduk sendiri..
Profile Image for Hisyam.
125 reviews14 followers
December 19, 2021
Buku kedua dari series penerbit basa basi yang aku baca. 

Premis cerita yang diangkat unik dan jarang ada cerita yang seperti ini. Bukunya mengangkat tema yang cukup sensitif dan kontroversial bagi masyarakat kita, tentang keberadaan waria yang kerap bersinggungan dengan norma dan agama masyarakat. Seperti yang kita tahu, menjadi waria merupakan pelanggaran terhadap ketentuan hukum tuhan. 

Aku sendiri cukup menikmati alur ceritanya. Bercerita tentang waria bernama Tabita alias Alang yang terusir dari keluarganya karena ia ‘berbeda’. Kemudian ia dipertemukan dengan waria lain yang lebih tua, Nancy namanya, yang juga mendirikan Srikandi Utama, sebuah rumah pemberdayaan bagi waria untuk dapat mengembangkan diri dan mendapat pekerjaan. Tapi kejadian yang tak diinginkan terjadi, Tabita meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kemudian terjadi kesulitan dalam proses pemakaman Tabita.  Ia tak diterima oleh masyarakat. Kartu identitasnya menunjukkan ia muslim tapi sehari-harinya beribadah di Gereja. Sahabat karibnya, Tania ikut andil dalam membantu menemukan tempat yang mau menerima jenazah Tabita. 

Bukunya memiliki banyak sudut pandang, dari mulai orang tua dan saudaranya Tabita hingga tukang gali kuburnya juga mendapat kesempatan bercerita. Hal tersebut mungkin agak cukup memusingkan bagi sebagian orang, tapi aku merasa oke oke saja. 
Banyak hal-hal baru yang aku temukan dalam buku ini. Ceritanya juga cukup relate dengan keadaan masyarakat sekarang. Yang perlu diperhatikan selama membaca buku ini adalah diperlukannya pemikiran yang terbuka untuk menerima jalan ceritanya. 

“Seperti itulah agama. Dia akan menjadi harmoni yang indah di tangan orang yang tepat. Orang yang beragama adalah orang yang menyukai keindahan, ketentraman, damai, cerah… sedang hakikat agama itu seperti musim, senantiasa mengayomi, menyelimuti.” Halaman 81 – 82
Profile Image for The Book Club Makassar.
127 reviews8 followers
Read
December 26, 2022
Buku ini menceritakan tentang kematian seorang waria bernama Tabitha, yang jasadnya sempat ditolak oleh masyarakat untuk dimakamkan karena urusan agama. Pertama, Tabitha secara biologis adalah seorang pria. Kedua, menurut tulisan pada KTP-nya, Tabitha beragama Islam. Ketiga, berdasarkan pengamatan masyarakat sekitar, Tabitha pergi beribadahnya ke gereja. Tempat dimana pujaan hatinya, si calon pastur, berada.

Warga masyarakat yang mengaku Muslim, menolak untuk memakamkan jenazah Tabitha karena perbuatannya itu dianggap telah mempermainkan agama. Teman-teman waria Tabitha kemudian mecoba untuk mencari bantuan ke gereja tempat Tabitha biasa beribadah, barangkali, jenazah Tabitha bisa diterima dengan baik di sana. Ternyata, sama. Pihak gereja tidak bisa membantu dengan alasan bahwa Tabitha bukanlah anggota jemaat gereja tersebut. Dikatakan, bahwa gereja hanya melayani para jemaatnya saja. Seolah memberi penafsiran lain, bahwa selain jemaat, tidak dapat dilayani.

Buku ini mengajak kita untuk melihat perjuangan teman-teman waria Tabitha agar bisa menguburkan jasad sahabat mereka dengan layak, sebagai manusia, terlepas dari siapa dia dan apa yang dilakukannya semasa hidup. Naluri kemanusiaan kita betul-betul dipertanyakan kembali oleh penulisnya.

Buku ini juga menggambarkan relasi keluarga (sistem internal individu) yang menjadi tidak baik-baik saja karena keputusan yang dibuat oleh Alang, Ilalang, untuk mengubah dirinya menjadi Tabitha. Sampai pada kematiannya pun, Ilalang tetap dianggap bukan lagi anggota, oleh nyaris seluruh keluarga.

Seorang waria seperti Tabitha, baik hidup dan matinya, masih harus terus menghadapi penghakiman yang sering kali menjurus pada tindakan yang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

“Cintamu adalah produk pribadi, namun tetap saja, kematianmu adalah produk sosial.”

*Review by Indah
Profile Image for Tamira Bella.
177 reviews
March 13, 2024
Bacaan minggu lalu tapi baru sempat menuliskan ulasannya sekarang.

Buku ini memuat unsur yang tabu di kalangan masyarakat Indonesia. Secara garis besar konsep yang diangkat rumah ilalang menceritakan kematian seorang waria yang bernama Alang (Tabita) dimana terjadi perselisihan terkait tata cara penguburannya.

Kaum Muslim di sekitar menolak menguburkan Alang Tabita secara Islam, bukan karena Ia waria, namun menjelang kematiannya Alang Tabita tidak pernah sholat di Masjid sekalipun saat hari raya, bahkan warga melihatnya mengikuti Misa di Gereja. Warga Muslim menolak karena Alang Tabita dianggap sudah memeluk agama Katolik meski KTP-nya masih Islam. Sedangkan bagi pihak Gereja sekitar menolak melakukan penguburan Alang Tabita sebab, meski akhir-akhir ini rajin mengikuti Misa namun Alang Tabita tidak pernah melakukan pembaptisan serta tidak terdaftar sebagai jemaat di Gereja tersebut.

Alih-alih sesuai tema, penjabaran isi buku lebih banyak mengulas sudut pandang orang-orang disekitar Alang Tabita terhadap sosoknya selama masih hidup, mulai dari ayah, ibu, kakak, adik, mami panti, hingga rekan sesama waria. Dengan tema awal yang cukup berani maka tidak heran bahwa buku Ini juga sedikit menyentil pandangan orang-orang diantara kedua agama (Islam dan Katolik) terhadap sosok waria.

Rumah Ilalang tergolong Novelet.
Isinya tipis, tidak sepanjang novel pada umumnya namun tidak dapat pula dikatakan sebagai cerpen. Meski tema-nya menarik, sayangnya eksekusi cerita agak berantakan, alur yang digunakan alur campuran namun perpindahan dialog dan suasana dalam satu bab tidak terasa mulus saat dibaca. Namun tetap apresiasi saya berikan kepada penulis.
Profile Image for Jess.
609 reviews141 followers
January 14, 2023
3.5 / 5

Tampil di hadapan publik sebagai seorang ibu yang penyayang, namun di hadapan Tuhannya, ia tetaplah pria bersarung. Ia menjalani dualisme perannya tanpa lagi marah, bertanya-tanya dan berontak.


Novela yang satu ini bercerita mengenai kehidupan seorang waria bernama Tabitha, di awal buku penulis sudah menjelaskan tentang kehidupan naas Tabita yang meninggal karna kecelakaan. Dari masa itu, setiap chapter diikuti dengan pov masing-masing orang yang dekat dengan Tabitha. Mulai dari keluarga, teman satu LSM, sampai romo yang Tabitha sukai.

Buku ini berhasil membahas beberapa isu penting dalam 151 halamannya, seperti LGBTQ+ dan pandangan serta statusnya dalam masyarakat Indonesia, pembullyan hingga penghinaan yang mereka terima hanya karna sexual orientation yang mereka pilih, diskriminasi yang didapatkan sejak masih kanak-kanak bahkan tidak diakui dalam keluarga sendiri, it truly breaks my heart.

Buku ini juga membahas mengenai agama, beberapa satir dan kebobrokan agama yang ada juga diperlihatkan. Baca buku ini seperti ditelanjangi oleh fakta yang berusaha ditutupi masyarakat.

Walaupun masih ada typo dimana-mana serta beberapa plot yang menurutku kurang rapih. Tapi aku tetap suka dan enjoy membaca buku ini.

Buku ini membuka pengetahuan dan kesadaran tentang banyak hal yg berusaha ditentang masyarakat Indonesia, buku ini ngajarin ku banyak hal, tentang toleransi, memberikan hak asasi manusia yang layak bagi setiap individu, sampai basic manner kehidupan bersosialisasi dengan org lain.
Displaying 1 - 30 of 83 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.