Setelah Diana pulas, keharuan Ridho meledak. Mata pemuda itu berkaca-kaca. Ia menyadari dirinya sedang ada di dalam kereta, duduk disamping putri bungsu Kyainya. Ia baru saja meninggalkan pesantren. Ia dalam perjalanan pulang. Inilah hidup, tidak ada yang tetap selamanya. Ia tidak mungkin terus tinggal di pesantren jadi santri sepanjang hayatnya. Matahari terus berputar pada garis edarnya. Bumi berputar pada porosnya. Siang dan malam datang pergi bergantian. Ia teringat nasehat Simbah Kyai Nawir dalam salah satu pengajiannya.
“Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang mengembara dan sangat rindu untuk segera bertemu keluarganya. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya dijalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat dan berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang megembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.”
Kang Abik, demikian novelis ini biasa dipanggil, adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai kental nilai Islaminya dan mendorong semangat para pembacanya.
Selama di Kairo, kang Abik banyak menulis naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr.Yusuf Qardhawi yang berjudul ‘Alim Wa Thaghiyyah, 2000), Darah Syuhada (2000).
Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005), Rihlah ilallah (Era Intermedia, 2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (FBA, 2001), Merah di Jenin (FBA, 2002), Ketika Cinta Menemukanmu (GIP, 2004), dll.
Karya-karyanya: Ayat-Ayat Cinta (2004) Di Atas Sajadah Cinta (2004) Ketika Cinta Berbuah Surga (2005) Pudarnya Pesona Cleopatra (2005) Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007) Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007)
Tulisan Habiburrahman El Shirazy atau dikenali sebagai Kang Abik ini tidak pernah mengecewakan. Saya antara pembaca hampir semua tulisan Kang Abik. Semuanya jalan cerita pembangun jiwa.
Kisah-kisahnya bukan hanya membangunkan jiwa-jiwa watak dalam novel malah menghidupkan hati-hati pembaca cerita tersebut. Indah bukan? :)
Novel terbaru ini berlatar belakang pesantren (pondok pengajian Al Quran) dan sebuah kampung yang berada di pelosok kawasan. Di mana seorang anak remaja perempuan yatim piatu terpaksa menyara keluarganya dengan menjual pisang goreng dan air mineral dengan berjalan kaki dari satu kawasan ke kawasan lain.
Atuk yang membesarkannya kini terlantar koma di penjuru rumah. Nenek dan nenek saudaranya yang kurang sihat bersama adik kecilnya memerlukannya untuk mencari rezeki bagi mereka semua. Dia mempunyai seorang abang sepupu yang boleh diharapkan untuk membantunya menyara keluarga. Abang sepupunya itu sedang menjalankan kewajipan menuntut ilmu jauh dari tempat tinggal mereka dan diperintah atuknya agar tidak pulang selagi mana tidak diperintah ketua pesantren (kiyai). Namun hatinya berat mengatakan mahu menulis kepada abang sepupunya untuk memaklumkan kondisi mereka sekeluarga.
Terdapat juga sisi lain dari novel ini yang terkait dengan watak utama. Plotnya tidak keterlaluan namun tetap memberi impak dan kesan terhadap jalan cerita. Saya kira hanya watak-watak utama sahaja yang mendapatkan penyelesaian dan masih lagi memerlukan sambungan untuk melengkapkan cerita serta ada watak yang tergantung dan tidak selesai.
Difahamkan novel ini adalah siri pertama dan ya saya menantikan untuk membaca kisah sambungan dari novel ini. Masih ada tunggakan yang belum selesai :)
Judul : kembara rindu Penulis : Habiburrahman El shirazy Penerbit : Republika Halaman : 266 Genre : Religi (tesis) romance (hipotesis)
Sinopsis : Buku ini mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Ridho yang baru pulang dari pesantren dan mulai merancang masa depan nya. Ia dihadapkan dengan berbagai masalah keluarga juga Masyarakat sekitar. Semua masalah itu mendominasi hidup nya hingga ia hampir lupa akan jalan kebahagiaan yang sebenarnya ia miliki.
Ada lagi Syifa, gadis kecil yang energik dan sangat berbakti. Dengan bakatnya, ia bisa saja menjadi penyanyi terkenal di kota. Namun hatinya lebih terpanggil untuk berdialog mesra dengan Kalam-Nya. Ada juga Diana dan Lina, dua perempuan cerdas yang taat pada agama.
Novel ini memiliki banyak kisah inspiratif; tentang kerja keras, kasih sayang keluarga, keberanian, keikhlasan, tanggung jawab, juga tentang menerima takdir. Semua kisah itu menjurus pada satu tujuan yaitu meraih hidup yang berkah. Satu kekuatan dahsyat yang diusung untuk mencapai nya adalah kekuatan rindu.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisah Ridho dalam merancang masa depan? Apakah Syifa akan terus berdekatan dengan Kalam-Nya? Dan Siapa magnet utama yang menarik lembut para perindu? Silakan langsung baca bukunya atau tonton video review nya hanya di pecinta pena.
Quote : "Kebahagiaan itu kalau kita bersama kebaikan dan orang-orang yang baik." (Hal. 52)
Catatan: Novel ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang ingin mengetahui kehidupan para santri.
Sesungguhnya novel Kang Abik ini merupakan suatu nasihat, suatu peringatan. Membaca setiap ayat, dari satu perenggan ke satu perenggan, dari satu bab ke satu bab, penulis menyampaikan nasihat, berdakwah kepada pembacanya. Saya benar-benar cukup tersentuh.
Terus terang saya mengakui antara sebab mengapa saya mendapatkan novel ini adalah kerana saya turut menjualnya! Saya merupakan seorang agen dropship buku, dan buku-buku Habiburrahman adalah antara novel yang LAKU KERAS dan paling banyak ditanya oleh pelanggan-pelanggan saya (selain Tere Liye dan Andrea Hirata). Dan apabila ditanya pelanggan tentang buku-buku Habiburrahman, saya tertanya-tanya Adakah Bagus Bener Penulisannya, hingga dicari-cari pembaca Malaysia. Nah, persoalan saya kini terjawab.
Ternyata Kang Abik (nama lain penulis ini di Indonesia) amat bijak memainkan kata-kata. Setiap ayatnya halus menyentuh jiwa pembaca. Kang Abik seolah-olahnya ‘memujuk’ jiwa-jiwa manusia yang sering diuji dan diduga, dengan mengatakan bahawasanya “Di setiap kesusahan, akan datang kesenangan”.
Cerita novel ini ringkas sahaja, tidaklah komplikated. Jalan cerita yang mudah faham. Yang kita selalu dengar. Kisah perjuangan sebuah keluarga di pinggir bandar, kedudukan kewangan tidak kukuh dan beberapa ahli keluarga yang dibelenggu masalah kesihatan. Yang menguatkan jiwa untuk melalui ujian ini adalah keimanan dan keyakinan yang teguh terhadap perancangan Allah S.W.T.
Salah satu babak yang amat menyentuh hati ialah apabila LIMA nasihat atau peringatan yang disampaikan melalui tuan guru kepada muridnya. Saya kongsikan di bawah ini LIMA nasihat tersebut. 1) Makmurkan masjid di depan rumahmu itu! Kau makmurkan rumah Allah, maka Allah akan memakmurkan hidupmu! 2) Banyakkan zikir kepada Allah dan gunakan akal fikiran. 3) Niatkan untuk menghidupkan agama Allah, jangan sekali-kali ada niat duniawi. Dan apa yang kata orang melemahkan, jangan hiraukan. Mencari ridha semua umat manusia itu keinginan yang tidak mungkin didapatkan 4) Teruskan pengajian dan pembelajaran seperti yang sepatutnya. Lebih baik sambung pengajian di sekolah pesantren (sekolah pondok) 5) Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah! Jada adab dan sopanmu terhadap Allah. Adapun kepada sesama, jaga terus sikap rendah hati. Jangan pernah tinggi hati. Kalau nanti kau dijahati orang, jangan membalas. Biarlah Allah menangani Dan ada seribu satu nasihat lagi yang bisa muncul apabila meneruskan pembacaan.
Dari sini dapat saya simpulkan beberapa teladan dan pengajaran dalam kehidupan Hutang harus dilunaskan dengan sedaya mampu, tidak kira apa jua yang menghalang Jauhkan dari menganiaya orang, lebih-lebih lagi anak-anak yatim. Apatah lagi memakan harta dan hak mereka. Islam itu mudah dan indah, dan sabar itu juga indah. Dan ada banyak lagi pengajaran dapat kita simpulkan dari novel ini.
Sekiranya anda risau kalau-kalau menghadapi kesukaran untuk memahami percakapan Indonesia, percayalah, saya pun begitu dahulu. Tetapi, apabila sudah mulai membaca ianya tidaklah sesukar mana. Sememangnya ada banyak perkataan dari seberang yang sukar untuk saya mengertikan, ketika itulah fungsi Google bisa digunakan dengan mencari maksud perkataan tertentu.
Novel islamik ini ditandakan dengan Buku 1 di muka hadapannya. Menandakan cerita Ridho, Diana dan Syifa akan pasti bersambungan. Malah, cerita ni diakhiri dengan ‘happy ending’ tetapi masih tergantung. Saya sudah pastinya masih menunggu apakah kesudahannya untuk semua konflik kekeluargaan yang melanda kisah ini.
Insya Allah, sekiranya panjang usia dapatlah kiranya saya baca kesinambungan kisah ini. Aaminn.
Judul: Kembara Rindu Penulis: @kangabik Penerbit: @bukurepublika Dimensi: iv + 266 hlm, 13.5x20.5 cm, cetakan II Februari 2020 ISBN: 9786237458098
#Novel pertama dari dwilogi ini mengisahkan tentang perjuangan anak yatim piatu: Ridho dan Syifa, yang sabar, tegar, dan taat pada Allah. Di tengah ujian bertubi yang diberikan pada mereka, tetap Allah yang mereka nomorsatukan. Hingga rezeki itu perlahan terbuka, melalui ketaatan, kemauan bekerja keras, menjaga rumah Allah, berdirilah pesantren untuk anak yatim di tanah peninggalan orangtua mereka. Desa Way Meranti, Lampung.
Konflik keluarga berdasarkan silsilah dan warisan menjadi utama dalam kelanjutan novel ini. Pun ke mana Ridho akan melabuhkan hati. Pada Lina, Diana, atau Naimah? Hehe
Deskripsi detail dan tokoh berkarakter kuat serta kehidupan #pesantren membuat saya jadi ingin nyantri. Baru paham juga, mengapa lulusan pesantren itu sangat jaga #adab sama kyainya. Jadi gak sabar, menanti buku lanjutannya. Belum tahu juga judulnya apa, dan sudah beredar atau tidak.
Saya apresiasi 5 dari 5 bintang.
"Nenek pikir kebahagiaan itu kalau punya harta banyak, ternyata tidak. Kebahagiaan itu kalau kita bersama kebaikan dan orang-orang yang baik. Punya keluarga yang baik." (H.52)
"Dalam #pengembaraan kehidupan dunia ini, jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Sangat #rindu untuk segera pulang bertemu keluarga. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya di jalan. Kita harus memiliki #rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan #Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya." (H.61)
Flawless character is boring... sepertinya, penulis lebih ingin fokus pada pesan dan nilai-nilai kebaikan. Nyatanya, buku ini memang bergizi dan memotivasi, walau saya agak sebal karena "perfection" tadi.
🌻"Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang megembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.”
🌻Kembara Rindu merupakan novel dwilogi yang mengisahkan perjalanan seorang santri sekaligus khadim dari Kyainya di pesantren Darul Falah bernama Ridho.
🌻Pada suatu hari, Ridho disuruh Kyai Nawir untuk pulang ke kampung halamannya. Sebenarnya, Ridho memang tidak bisa pulang sebelum disuruh Sang Kyai. Ini merupakan amanah dari Kakek Jirun yang sudah mengurusi Ridho setelah ia menjadi anak yatim-piatu. Kakek Jirun juga yang memasukkan Ridho ke Pesantren Darul Falah dan menyuruhnya untuk tidak pulang sebelum diperintahkan oleh Sang Kyai.
🌻Ridho pun pulang atas dasar perintah tersebut. Namun, banyak masalah yang mulai bermunculan ketika Ridho berada di kampung halamannya. Mulai dari masalah finansial, warisan keluarga, hingga menunaikan amanah dari kakeknya serta Sang Kyai untuk memakmurkan masjid dan mengamalkan ilmunya selama di pesantren.
🌻Kembara Rindu ini memberi pemahaman kepada kita khususnya yang belum pernah mondok tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang santri di Pesantren. Buat kamu yang berencana ingin mondok, mungkin buku ini bisa jadi salah satu referensi^^
🌻Kembara Rindu ini juga mengajarkan tentang bagaimana menyikapi cinta sebagai sebuah fitrah dari yang Maha Kuasa. Bahwa cinta bukan hanya untuk sang terkasih, namun cinta juga bisa dipersembahkan untuk keluarga dan sanak saudara terdekat. Intinya, letakkan cinta sesuai pada tempatnya~
👳♂️Judul Buku : Kembara Rindu Penulis : Habiburrahman El Sirazy Penerbit : Republika 272 halaman
👳♂️“Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang mengembara dan sangat rindu untuk segera bertemu keluarganya. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya dijalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat dan berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang megembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.”
👳♂️Latar tempat yang digunakan sebuah desa kecil di daerah provinsi Lampung. Mengangkat ketidak adilan yang dialami anak yatim piatu. Namanya Syifa, ia adalah anak yatim piatu bersama adik laki-lakinya Lukman. Yang terpaksa harus putus sekolah dan mencari nafkah. Kakeknya sedang sakit dan iya hanya tinggal bersama neneknya. Dia rela berjalan jauh berpuluh kilometer untuk menjual pisang goreng di pasar maupun di masjid demi sesuap nasi untuk keluarganya. Abang sepupunya Ridho, lantas pulang segera setelah tahu keadaan adik sepupu dan keluarganya di kampung sangat memprihatinkan. Ridho sendiri adalah seorang santri kesayangan kyai Nawir di salah satu pesantren kota Cirebon.
👳♂️Sesampainya di kampung, bukan mudah untuknya menjadi tulang punggung keluarga, mencoba berbagai usaha demi menghidupi keluarganya. Kini 2 keluarga itu bergantung padanya. Alih-alih menghidupkan kembali masjid desa yang merupakan peninggalan kakek buyutnya. Malah ia sering mengabaikan masjid tersebut demi mencari nafkah. Semua usahanya gagal hingga uang bekal dari guru2nya sudah menipis. Bagaimana akhirnya Ridho bisa kembali bangkit dan sampai bisa menyekolahkan kembali adik2 sepupunya?
👳♂️Buku ini sangat menginspirasi, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Tidak selamanya kita akan susah, dan tidak selamanya kita akan selalu senang. Buku karya kang Abik ini merupakan dwilogi pembangun jiwa. Sederhana namun dapat ikut membangkitkan semangat dalam beribadah dan senantiasa bersyukur terhadap apapun yang kita terima. Ketabahan Syifa yang luar biasa, membawanya selalu dalam jalan yang diberkahi Allah.
Setelah Diana pulas, keharuan Ridho meledak. Mata pemuda itu berkaca-kaca. Ia menyadari dirinya sedang ada di dalam kereta, duduk disamping putri bungsu Kyainya. Ia baru saja meninggalkan pesantren. Ia dalam perjalanan pulang. Inilah hidup, tidak ada yang tetap selamanya. Ia tidak mungkin terus tinggal dipesantren jadi santri sepanjang hayatnya. Matahari terus berputar pada garis edarnya. Bumi berputar pada porosnya. Siang dan malam datang pergi bergantian. Ia teringat nasehat Simbah Kyai Nawir dalam salah satu pengajiannya.
“Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang mengembara dan sangat rindu untuk segera bertemu keluarganya. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, itu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu, meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya dijalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia mampir di satu tempat dan berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang megembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya.”
Kali ini, lengangnya ruas-ruas jalan; rimbunnya kebun kopi; dan suasana Way Meranti dengan rumah panggung khas Lampung Barat menjadi latar utama cerita –selain suasana pondok pesantren di Sidawangi, Cirebon. Inilah yang menjadi salah satu ciri khas Kang Abik, tak jauh-jauh dari kehidupan seorang santri dan tokoh-tokoh shalih dalam setiap novelnya. Menurut saya, hal ini menjadi daya tarik tersendiri –mengakrabkan kehidupan santri di kalangan masyarakat melalui novel. Meskipun fiksi, namun kisah orang-orang shalih selalu menyenangkan untuk disimak karena dapat menjadi salah satu motivasi untuk menjadikan kebaikan dan kesalihannya sebagai teladan.
Cerita dalam novel ini diawali dengan kisah Nurus Syifa, seorang gadis belia yang terpaksa putus sekolah sejak beberapa tahun karena tuntutan ekonomi. Setelah kedua orang tuanya meninggal, kehidupan Syifa berubah. Full Review: https://latifadelina.wordpress.com/20...
Kemarin aku baru saja membaca salah satu novel lainnya karangan Habiburrahman El Shirazy atau biasa dikenal sebagai Kang Abik. Jujur saja, di antara beberapa novel lain yang ditulis oleh penulis, cerita kali ini bisa dibilang cukup sederhana namun mampu menggetarkan hati pembacanya. Aku sendiri merasa haru ketika membaca novel ini hingga tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Kisahnya memang penuh makna dengan karakter tokoh-tokoh yang luar biasa yang seakan mengajak pembaca untuk melakukan kebaikan seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini.
Novel ini berlatarkan sebuah desa di pelosok Lampung yang mana seorang gadis remaja yatim piatu bernama Syifa tinggal. Diceritakan Syifa harus berjualan pisang goreng untuk menghidupi kebutuhan makan dan minum keluarganya setelah sang kakek yang menjadi tulang punggung keluarga akhirnya jatuh sakit dan koma. Hidup bersama dengan nenek dan nenek saudaranya yang juga sudah sulit bergerak karena sudah tua membuat Syifa tidak memiliki pilihan lain selain berkerja. Adiknya yang masih kecil juga tidak bisa membantu banyak. Harapan Syifa bahwa abang sepupunya (Ridho) yang sedang menuntut ilmu di tanah jawa dapat kembali lagi ke kampung halaman dan membantu keluarganya.
Melalui novel ini kita belajar banyak hal dari setiap tokoh-tokohnya, mulai dari arti kerja keras, pantang menyerah, keberanian, keikhlasan, dan juga tanggung jawab yang mana semuanya menjurus ke sebuah tujuan yakni meraih hidup yang berkah. Di novel ini, kita juga akan melihat perjuangan Ridho dalam memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya yang mana dalam perjuangannya tersebut kita akan melihat nilai-nilai hikmah yang disisipkan penulis seperti keutaaman menghormati guru, keutamaan menghidupkan masjid, keutamaan menyantuni anak yatim, integritas dalam berbisnis, dan adab dalam berhutang.
Kemarin aku baru saja membaca salah satu novel lainnya karangan Habiburrahman El Shirazy atau biasa dikenal sebagai Kang Abik. Jujur saja, di antara beberapa novel lain yang ditulis oleh penulis, cerita kali ini bisa dibilang cukup sederhana namun mampu menggetarkan hati pembacanya. Aku sendiri merasa haru ketika membaca novel ini hingga tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Kisahnya memang penuh makna dengan karakter tokoh-tokoh yang luar biasa yang seakan mengajak pembaca untuk melakukan kebaikan seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini.
Novel ini berlatarkan sebuah desa di pelosok Lampung yang mana seorang gadis remaja yatim piatu bernama Syifa tinggal. Diceritakan Syifa harus berjualan pisang goreng untuk menghidupi kebutuhan makan dan minum keluarganya setelah sang kakek yang menjadi tulang punggung keluarga akhirnya jatuh sakit dan koma. Hidup bersama dengan nenek dan nenek saudaranya yang juga sudah sulit bergerak karena sudah tua membuat Syifa tidak memiliki pilihan lain selain berkerja. Adiknya yang masih kecil juga tidak bisa membantu banyak. Harapan Syifa bahwa abang sepupunya (Ridho) yang sedang menuntut ilmu di tanah jawa dapat kembali lagi ke kampung halaman dan membantu keluarganya.
Melalui novel ini kita belajar banyak hal dari setiap tokoh-tokohnya, mulai dari arti kerja keras, pantang menyerah, keberanian, keikhlasan, dan juga tanggung jawab yang mana semuanya menjurus ke sebuah tujuan yakni meraih hidup yang berkah. Di novel ini, kita juga akan melihat perjuangan Ridho dalam memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya yang mana dalam perjuangannya tersebut kita akan melihat nilai-nilai hikmah yang disisipkan penulis seperti keutaaman menghormati guru, keutamaan menghidupkan masjid, keutamaan menyantuni anak yatim, integritas dalam berbisnis, dan adab dalam berhutang.
. "Menjadi muslim yang baik itu mudah. Asal seseorang itu tidak melakukan sesuatu yang tidak ada faedahnya, itu adalah ciri muslim. Asal seseorang itu bisa menjauhi segala yang sia - sia, itu ciri muslim yang baik. Dan, sebaliknya, orang yang masih terbiasa bergumul dengan perbuatan yang tidak ada faedahnya, perbuatan yang sia - sia, maka boleh dikatakan itu bukan muslim yang baik, kalau dia seorang muslim". - Kambara Rindu (P.207).
. -Kembara Rindu buku ke 1 dari Dwilogi Pembangun Jiwa-
Mengisahkan Ridho dengan liku - liku kehidupannya. Ada Syifa gadis kecil, saudara Ridho yang rela membanting tulang dan bikin pembaca merinding habis - habisan bahkan metitihkan air mata. Semangat Syifa luar biasa hebat. Banyak permasalahan yang muncul dan tentunya tidak sederhana. Namun, semua dilewati dengan doa dan keyakinan akan Allah.
. Berasa diajak tour ke pesantren - pesantren mulai Cirebon hingga Lampung. Kampung - kampung hingga kebun kopi, berasa menelusuri tempat baru yang menarik.
. -Lanjut dengan buku ke 2 "Suluh Rindu"-
Dalam "Suluh Rindu" kadaan Ridho dan Syifa yang awalnya bisa dikatakan buruk lebih membaik. Di bagin ini justru memberikan semangat lebih kepad pembaca kalau kesusahan itu akan bisa dilewati meski perlu banyak peluh. Allah selalu bersama orang - orang yang berusaha juga rajin berdoa. Lalu, kadaan kampung halaman Ridho, Way Meranti pun jauh lebih baik dari berbagai sisi.
. "Dwilogi Pembangun Jiwa" tersebut memberikan banyak pesan moral untuk pembaca. Salah satunya, untuk tetap tegar dan semangat menghadapi hidup. Tetap berusaha diikuti banyak doa karena Allah selalu ada di setiap saat. Dan, suka sekali karena diajak keliling Lampung. Yup! Daerah yang belum pernah saya kunjungi.
Buku ini bercerita tentang Ainur Ridho, seorang santri yatim piatu yang mondok di pondok pesantren asuhan Kyai Nawir di daerah Cirebon. Setelah 5 tahun mengabdi di pondok sebagai khadim Kyai Nawir, Ridho diperintahkan untuk pulang ke kampung halamannya di Lampung oleh sang Kyai. Kepulangan Ridho sudah ditunggu-tunggu oleh keluarganya karena tulang punggung utama keluarga Ridho, yaitu Kakek Jirun, sudah berbulan-bulan sakit dan lumpuh. Selama tidak ada Ridho di rumah, yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga dengan 1 orang kakek, 2 orang nenek, dan 1 orang anak adalah Syifa. Syifa sendiri adalah adik sepupu Ridho yang terpaksa putus sekolah menengah atas karena harus mencari nafkah untuk keluarganya.
Saya menikmati membaca kisah perjuangan Ridho untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya yang digambarkan oleh Kang Abik dalam novel ini. Seperti khas novel Kang Abik lainnya, dalam novel ini beliau banyak menyisipkan value tentang keutamaan menghormati guru dan ilmu, integritas dalam berbisnis dan berusaha, adab dalam berhutang, keutamaan menghidupkan Masjid, keutamaan menghafal Al-Qur'an, dan keutamaan menyantuni anak yatim sesuai tuntunan ajaran Islam. Namun sebagai pembaca, saya merasa ada beberapa hal dan detail-detail cerita yang menggantung (mungkin karena ini masih buku 1 ya? Semoga detail cerita yang menggantung akan dijelaskan di buku 2-nya). Buku ini juga cenderung minim konflik dan terlalu sering ada "kebetulan" yang dialami oleh tokoh utama.
Walaupun begitu, buku ini cukup menyegarkan untuk dibaca sebagai selingan bacaan ringan penggugah jiwa.
Matahari terus berputar pada garis edarnya. Bumi berputar pada porosnya. Siang dan malam datang pergi bergantian. la teringat nasihat Simbah Kyai Nawir dalam salah satu pengajiannya.
"Santri-santriku, dalam pengembaraan mengarungi kehidupan dunia ini, jadilah kalian orang-orang yang penuh rindu. Orang-orang yang rindu pulang. Jadilah seperti orang yang mengembara dan sangat rindu untuk segera pulang bertemu keluarga. Orang yang didera rindu untuk segera pulang, tentu berbeda dengan orang yang tidak merasa rindu. meskipun sama-sama bepergian. Orang yang didera rasa rindu, tidak akan membuang-buang waktunya di jalan, ia ingin cepat-cepat sampai rumahnya. Sebab, ia ingin segera bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Sebaliknya, orang yang tidak merasa rindu, mungkin dia akan mampir di satu tempat dan berlama-lama di situ, jadinya banyak waktu terbuang dan sia-sia.
Kita seperti orang bepergian di dunia ini, orang yang mengembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya."
Ia pernah mendengar dari seorang kyai saat pengajian akbar di Pekon Kenali bahwa buah pisang itu juga ada di surga. Hal ini katanya dijelaskan dalam Al-Qur’an di surat Al-Waqi’ah ayat dua puluh sembilan. Hal 4
Do’a anak yang saleh akan mendatangkan kebahagiaan dan kemuliaan luar biasa bagi setiap orangtua yang sudah meninggal dunia. Hal 5
Meskipun ia kini juga miskin, ia berharap kuat iman dan tidak memakan harta orang lain dengan haram. Hal 6
Di sana ulama sepuh yang sangat dihormati itu menggelar sajadahnya untuk salat Dhuha dan berdzikir tak kurang satu jam lamanya. Hal 42
Dulu nenek berpikir kebahagiaan itu kalau punya harta banyak, ternyata tidak. Ternyata, kebahagiaan itu kalau bersama kebaikan dan orang-orang yang baik. Hal 52
Ridho memperkirakan sudah jam tiga. Ia memaksakan diri untuk bangun dan salat Tahajjud dua rakaat, witir satu rakaat, kemudian rebahan lagi. Hal 57
Inilah hidup, tidak ada yang tetap selamanya. Hal 60
Rindu dengan suasana pondok pesantren? Atau, ingin mengetahui kehidupan para santri?
Buku ini cocok dibaca bagi kalian yang lagi merundung rindu dengan kehidupan pondok pesantren. Ingin mengingat kembali gimana sih sedih senangnya mencari ilmu di pondok pesantren. Kembali mengingat wejangan dari para kyai yang tidak akan pernah dilupa.
Dengan tokoh utama seorang santri yang taat—yang dapat mencerminkan nilai-nilai pondok pesantren. Hal ini dapat menambah nilai lebih dari buku ini. Bahwa menjadi santri tidak hanya belajar di pondok pesantren. Namun, juga mampu membawa nilai-nilai santri di kehidupan sehari-hari. Tidak goyah akan godaan dunia.
Tapi, buku ini bukan cuma ditujukan untuk mereka yang pernah merasakan bersekolah di pondok pesantren lho. Buku ini juga cocok dibaca untuk umum.
Dengan latar cerita di Way Meranti dan Cirebon, pembaca dapat merasakan kehidupan para tokoh yang memerjuangkan kehidupan. Konflik-konflik seputar keluarga, ibu dan anak, dan harta anak yatim yang membuat semakin menarik.
“Menjadi seorang muslim yang baik itu mudah. Asal seseorang itu tidak melakukan sesuatu yang tidak ada faedahnya, itu adalah ciri muslim. Asal seseorang itu bisa menjauhi segala yang sia-sia, itu ciri muslim yang baik. Dan sebaliknya, orang yang masih terbiasa bergumbul dengan perbuatan yang tidak ada faedahnya, perbuatan yang sia-sia, maka boleh dikatakan itu bukan manusia yang baik, kalau dia seorang muslim.” –hal. 207
Tidak pernah bosan kalau baca novel karya Kang Abik ini. Dari halaman pertama rasanya sudah pengen segera menamatkan. Cerita Kang Ridho ini membuat saya kembali menemukan jati diri. Semua manusia itu diuji dengan kadarnya masing-masing. Dan Allah tentu memberi yang terbaik.
Cerita tentang Ainur Ridho anak yatim piatu, yang disuruh kakeknya untuk nyantri di Cirebon. Beruntungnya dia mendapat posisi sebagai asisten sang kyai, petinggi pesantren itu. Jadi mau tidak mau Ridho mendapat banyak sekali pengajaran. Ketika pulang ke kampungnya. Barulah ia bertemu dengan masalah sesungguhnya. Sepupunya yang yatim piatu, kakek neneknya yang sudah tak berdaya, kehidupan ekonomi yang bermasalah hingga masalah hak waris. Namun pelan-pelan semua itu bisa diselesaikan. Sudah ada titik terangnya.
Ini buku dwilogi, berarti akan ada buku keduanya. Kalau boleh saya tebak sepertinya di buku kedua akan mengulas kisah cinta Ridho dengan wanita wanita shalehah yang ada di sekelilingnya. Karena di buku pertama ini minim sekali cerita cintanya, namun sudah ada tanda2, menunjukkan kearah cinta yang akan mekar. Mari kita lihat nanti.. 😁
Seperti biasa, novel Kang Abik pasti ada jalan cerita yang menggugah jiwa dan membumbu haru.
Kisah kali ini, adalah nyala rasa daripada sebuah kisah pemondok pesantren, Ridho, yang setia bertahun lama bergagah memondok mengaji dari sang kiai. Sedangkan, jalan takdir yang Allah kurniakan tatkala pulang ke kampung halaman Ridha, sama sekali tak terduga malah menampar keras iman di dada.
Kisah Ridho, bikin hati teringat sewaktu pulang dari mengaji di luar negara. Sukarnya mencari rezeki, dan setianya hati menjemput rezeki berkadaran dengan percaya rasa pada takdir Ilahi sebagai sumber yang Maha Kaya.
Banyak kali air mata tertumpah, teringat kisah lalu, dan jalan cerita yang macam serupa.
Tidak sabar menunggu karya terbaru sebagai sambungan Kembara Rindu. Semoga hak-hak Ridho dan keluarganya terjaga. Ameen.
Penulis buku ini yaitu kang Habiburrahman El-Shirazy menyampaikan pesan dan amanat yang sangat indah di dalam buku kembara rindu. Pembaca dibawa kedalam suasana pesantren dan pedesaan yang begitu asri. Penulish menyampaikan bagaimana seharusnya seorang murid taat dan patuh kepada guru nya, dan menjaga marwah ulama.
Pemeran utama dalam buku ini adalah Ainur Ridho yang berasal dari pekon way meranti. Ainur Ridho yang juga dipanggil dengan sebutan Udo ini di sekolahkan di salah satu pesantren di Bandar Lampung oleh kakek nya. Setelah pulang dari pesantren Ridho berusaha keras untuk menghidupi keluarganya dengan cara berjualan gorengan dan ayam bakar, tapi hasilnya hanya kerugian.
Tak lama dari situ Udo sowah ke kyai Harun dan mendapatkan beberapa nasehat yang akan merubah kehidupan Ridho dan keluarganya
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku Kang Abik selalu seru, selain cerita yang disajikan penuh makna juga selalu disisipi ajaran ajaran islami. Buku ini mengisahkan tentang Syifa dan Udo Ridho dengan pelbagai permasalahan kelurganya. Ridho yang sedang berada di pesantren dan tidak boleh pulang oleh kakeknya jika kiyai nya belum menyuruhnya pulang, namun syifa adik ny ridho di desa begitu kesulitan harus mengurusi adik dan nenek kakeknya sehingga syifa menginginkan Ridho pulang.. firasat seorang guru besar memang kuat kiyai Tempat ridho belajar di pesantren meminta ridho pulang sebelum surat syifa datang. Sepulang ke desa ternyata cobaan bertubi terlebih masalah ekonomi. Ridho diberi pesan oleh kiyai Harun untuk mensejahterakan mesjid yang dibangun keluarganya dahulu agar ia pun sejahtera, perlahan ia mulai menemukan titik terang. Seru pokonya tidak sabar baca yang kedua Suluh Rindu
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Di dunia ini kita seperti orang bepergian, orang yang megembara. Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan kita adalah Allah. Kita harus memiliki rasa rindu yang mendalam kepada Allah. Dan Allah akan membalas dengan kehangatan rindu dan ridha-Nya yang tiada bandingannya."
Buku ketiga dari Kang Abik yang saya baca, setelah Bumi Cinta dan Api Tauhid.
Kisah sekitar pesantren dan perjuangan hidup. Antara kebutuhan hidup dan ekspektasi orang-orang. Antara jangka pendek dan jangka panjang. Antara duniawi dan ukhrawi.
"Menjadi muslim yang baik itu mudah. Asal seseorang itu tidak melakukan sesuatu yang tidak ada faedahnya, itu adalah ciri muslim. Asal seseorang itu bisa menjauhi segala yang sia-sia, itu ciri muslim yang baik. Dan sebaliknya, orang yang masih terbiasa bergumul dengan perbuatan yang tidak ada faedahnya, perbuatan yang sia-sia, maka boleh dikatakan itu bukan muslim yang baik, kalau dia seorang muslim" - Kembara Rindu ☘
Rekor buku tercepat yg saya baca. Kebetulan memang baca di weekend dan saking menariknya di setiap halaman, menjauhkan saya dari rasa kantuk dan ga dirasa selesai kurang dr 1 hari. Khas Kang Abik, novel pembelajaran ttg cinta dg sisipan nilai tauhid tanpa menggurui pembaca. Bener2 makanan jiwa. Sangat "lezat" dan "sarat gizi"
Membaca kembara rindu seperti melihat cermin lalu merasa menampar diri sendiri. Banyak hikmah kehidupan yang disampaikan dalam novel kang Abik ini, tentang tulusnya persaudaraan, tentang kejujuran yang tak bisa digadaikan, dan tentang hidup yang tak bisa diputar kembali. Harus banget dibaca generasi millenial zaman now. Menggugah jiwa!
Novel ini tentang syifa dan lukman,anak yatim piatu. Dan seorang ridho kakak sepupunya. Sayangnya syifa dan lukman adalah anak dari istri kedua ayahnya. Sehingga mereka diperlakukan tidak adil dan tidak mendapatkan hak waris dari ayahnya. Namun sepertinya ada part ke 2 nya, kembara rindu 2.
Lebih tepatnya bintangnya 4.5, menurutku alur cukup lambat di awal dan terkesan cepat di akhir. Over All, bagus bangeet menceritakan sebuah pembangun jiwaa, tentang kerja keras, menyayanfi keluarga.
Kisah perjalanan hidup Ridho selama di pesantren dan menjadi kepala keluarga bagi kakek nenek dan adik sepupunya. Seperti biasa buku pak Habiburrahman ini memang selalu daging semua isinya. Tapi alurnya lumayan lamban dan aku ngerasa boring dengan ceritanya. Dibeberapa aspek pun aku merasa anehhh.
Selalu mengagumi tokoh tokoh yang diciptakan kang abik dalam tiap novelnya. Konflik dalam buku ini tidak terlalu klimaks dan memang tidak sebagus novel kang abik lainnya seperti ayat ayat cinta