Feminisme sebagai sebuah gerakan dan teori sosial memiliki sejarah panjang perkembangannya. Di tiap zaman dan gelombang, ia saling berdialog, mengritik, dan menciptakan arus-arus pemikiran baru yang berperang untuk membedah ketidakadilan gender yang ada hingga hari ini.
Sebagai seorang sejarawan feminis, Nadya Karima Melati turut memberikan sumbangan pemikiran mengenai perkembangan feminisme di Indonesia lewat esai-esainya. Tidak berhenti sampai di situ, ia merelevansikan dan menautkan benang merah sejarah sehingga saling terhubung dengan berbagai permasalahan gender kontemporer saat ini.
Bisa jadi bacaan yang tepat untuk yang baru memulai mempelajari feminisme. Keseluruhan aku suka sekali, akan kurekomendasikan ke teman-teman. Bisa memahami sejarah feminisme di Indonesia dengan baik, serta apa yang diperjuangkan mereka
Namun memang ada beberapa esai yang aku tidak suka. Seperti di bab 4, soal feminisme sebagai refleksi, ada argumentasi yang kurang utuh soal mengenakan jilbab, takutnya orang jadi salah mengerti.
Buku ini untuk menyelesaikan OWLSReadathon2020 dan Tsundoku Books Challenge 2020
4,2 dari 5 bintang!
Sebenarnya aku sudah mengincar buku ini sejak November 2019 di Patjarmerah 2019 Semarang namun aku mengurungkan niat untuk membeli buku ini sehingga hanya membawa pulang Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam: Sehimpun Reportase oleh Rusdi Mathari ternyata ketika mengetahui Di Jakarta ada juga Patjarmerah dan aku menemukan buku ini lagi segera buku ini aku membawanya ke kasir.
Aku senang sekali ketika membaca buku ini karena memaparkan dari mulai sejarah mengenai feminisme di luar negeri dan di indonesia sampai dengan isu-isu yang menarik di Indonesia seperti mengapa calon presiden mencitrakan dirinya sebagai keluarga harmonis? kejahatan seksual siber, mengenai sampah masyarakat, penolakan terhadap LGBT, dan sampai buku ini ditutup dengan kisah si penulis yang membuat saya mengelus dada dan hati teriris
Iya saya tahu menggunakan jilbab adalah salah satu perintah agama yang terdapat di dalam kitab suci tetapi kenapa kita memaksakan kehendak kita kepada orang lain? kenapa kita tidak berusaha memahami bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk menemukan sisi spiritualnya? apakah kita sebagai manusia perlu menghakimi jalan apa yang mereka pilih? >__<
OWLSReadathon 2020 as Magizoologist 1. Care of Magical Creatures - Descendant of the Crane by Joan He (416 pages) Review : https://www.goodreads.com/review/show...
5. Dragon Tamer Training 6. History of Magic 7. Transfigurations - The Tales from Earthsea #1 by Ursula L.K Le Guin Review : https://www.goodreads.com/review/show...
Saya rasa buku ini memang membuat kita membicarakan feminisme di Indonesia. Sebagai pengantar untuk topik-topik dalam bentuk esai populer terkait mengurai tema-tema feminisme, buku ini cukup berhasil.
Untuk beberapa data sejarah, terkait dengan narasi sejarah perempuan Indonesia yang juga masih dalam proses yang banyak sekali, data sejarah terutama periodesasi banyak yang harus dicek ulang dan direvisi. Baik secara data dan juga narasumber. Terutama terkait dengan periode 1965-1980an. Karena memang jika membicarakan sejarah di Indonesia, periode kehilangan (atau penghilangan) perspektif politik dan pemikiran kritis perempuan sangatlah sistematis di masa Orde Baru. Ini juga masih peer kolektif yang sangat besar di kalangan sejarawan, dan juga membutuhkan pendalaman wacana serta riset yang panjang.
Terlepas dari ini semua, saya rasa Nadya memiliki potensi untuk terus menerus berkembang dan berproses dalam menuliskan sejarah dalam perspektif feminis.
Ini adalah buku yang akan saya rekomendasikan kepada teman-teman yang nanyain tentang rekomendasi buku feminisme bagi pemula.
Buku ini adalah salah satu buku feminisme yang unik karena penulis mengkaji feminisme dalam konteks sejarah dan budaya Indonesia. Penulis menjabarkan tahapan perkembangan gerakan feminisme sejak masa kemerdekaan hingga postmodern. Buku ini memberikan saya insight baru mengenai fenomena-fenomena yang selama ini terlihat “biasa saja”, namun sebenarnya fenomena-fenomena tersebut berakar dari kebudayaan patriarki. Melalui buku ini juga saya menyadari bahwa peran perempuan yang selalu disudutkan dalam ranah domestik ternyata memiliki implikasi terhadap kehidupan sosial & politik secara lebih luas. Maka dari itu, suara perempuan sebenarnya sangat dibutuhkan, namun di saat yg sama suara perempuan juga dibatasi. Perempuan masih menghadapi masalah berbasis gender seperti ketimpangan hak & upah kerja hingga dianggap kurang layak menjadi pemimpin. Narasi-narasi mainstream tentang emansipasi pun seringkali hanya berfokus pada penekanan peran perempuan sebagai ibu dalam ranah domestik saja. Seperti misalnya, penulis memberikan contoh perjuangan Kartini untuk memperjuangkan kesetaraan hak perempuan, namun setelah merdeka justru konsep Hari Kartini dikerdilkan hanya sebagai hari “memakai kebaya” saja (yang mana identik dengan kualitas feminin saja). Buku ini cukup membuka mata saya atas ketimpangan hak yg dialami oleh perempuan & kelompok-kelompok marjinal.
Kelebihan buku ini terletak pada struktur penulisannya yang mengingatkan saya pada sistematika penulisan karya ilmiah yang runut. Selain itu, penulis menjelaskan feminisme melalui beberapa teori yang valid dan contoh kasus nyata sehingga tidak terkesan menggurui. Melalui buku ini, kita diajarkan untuk berempati & turut berperan serta dalam memperjuangkan hak perempuan & kelompok-kelompok marjinal agar bisa mendapatkan ruang yang aman di masyarakat.
Buku pertama yang selesai di 2021! Dimulai dengan topik yang cukup berat untuk beberapa orang. Feminim kalau di KBBI artinya mengenai wanita, atau bersifat kewanitaan. Gue dulu belajar sedikit tata Bahasa Indonesia, jika tambahkan imbuhan -isme artinya aliran. Jadi, secara kasar seharusnya feminisme berarti aliran kewanitaan :') *soktahubangetyaguehahaha
Feminisme adalah sebuah kesadaran kemanusiaan berbasis identitas gender
Kak Nadya mengawali bukunya dengan mengirim surat kepada Ibu Kartini. Surat yang berkata bahwa Ibu Kartini-lah yang mengawali pergerakan kebangsaan secara tidak langsung. Buku ini terdiri dari 3 bagian yaitu: dasar feminisme yang memuat tentang sejarah feminisme dan perkembangannya di seluruh dunia dan Indonesia, dan penerapan feminisme.
Bab Penerapan Feminisme ini terbagi menjadi dua subbab yaitu hak asasi manusia perempuan--bab ini bercerita tentang hak dan kewajiban wanita sebagai manusia juga membahas tentang RUU PKS. Apa yang sih yang diperjuangkan oleh RUU PKS? Kemudian membahas gender nonmaskulin. Kita tahu kalau maskulin tuh selalu dikaitkan dengan pria. Disini lebih dibahas mengenai konstruksi sosial gender yang berkembang di masyarakat, juga membahas tentang LGBTQ terkait ekspresi dan identitas gender. Terakhir, Kak Nadya merefleksikan pemahaman dan aktivitasnya sebagai feminisme.
"Masyarakat panik dan mengutuk hal-hal terkait dengan tindak pemerkosaan itu tetapi bukan tindakan perkosaan itu sendiri. Hukuman kebiri bagi pelaku pemerkosaan tidak menyelesaikan akar permasalahan perilaku perkosaan.
Buku 'Membicarakan Feminisme' ini membahas feminisme sebagai ilmu pengetahuan dan gerakan. Perannya sebagai ilmu pengetahuan bersifat dinamis tidak terikat waktu dan ruang--artinya ada suatu penelitian ilmiah yang mendukung gagasan. Feminisme sebagai gerakan artinya ia bisa digunakan sebagai kontrol oleh para aktivitas untuk mendukung dan menyejahterakan perempuan sebagai subyeknya. Wanita dilihat sebagai manusia, tidak terikat oleh alat kelaminnya.
Saat baca buku ini, gue merasa kayak 'ah, gitu-loh,.." ada beberapa pertanyaan mendasar yang membuat penasaran lalu buku ini seperti memberikan ringkasan terhadap jawaban pertanyaan itu. Buat gue sih, cukup awal dan muda untuk menilai kalau gue pro-feminisme. Banyak waktu untuk belajar dan memahami inti dari gerakan yang mencoba diupayakan oleh para aktivis, setidaknya mereka memperjuangkan hal yang gue rasakan sebagai perempuan.
" Ukuran keberhasilan menjadi lelaki dan perempuan itu adalah bentukan masyakarat. Apa yang selama ini diperjuangkan feminisme bukanlah kesamaan, karena kesamaan jelas-jelas gagal menangkap perbedaan pengalaman antargender."
Perasaan kesal, marah, sedih serta meng”iya”kan setiap pernyataan yang tertulis dalam buku ini saya rasakan karna mampu memberikan gambaran nyata akan sebuah lingkugan patriarki yang terkontruksi dari kondisi sosial masyarakat yang turut serta melanggengkan budaya yang terjadi di negeri ini. “𝗙𝗲𝗺𝗶𝗻𝗶𝘀𝗺𝗲 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝘀𝘂𝗮𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗿𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝘁𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗮𝗸𝘂, 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗷𝘂𝘀𝘁𝗿𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗽𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝘀𝘁𝗮𝗻𝗱𝗮𝗿 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶𝗯𝗲𝗻𝘁𝘂𝗸”. Berbagai pengalaman baik buruk saya rasakan serta alami sebagai seorang perempuan yang tumbuh besar dan tinggal dilingkungan masyarakat yang memiliki standar sosial tertentu yang mampu dideskripsikan dengan nyata dan tegas di dalam buku ini.
Berbicara mengenai basic fundamental pengetahuan dan wawasan terkait feminisme, buku ini dapat menyampaikan dengan bahasa cerita yang baik dan jelas. Dikaitkan dengan banyak problematika budaya konserfatif dan patriaki yang menutup mata terkait perubahan dan pergeseran budaya yang terjadi diberbagai belahan dunia tak lupa di negeri sendiri.
Dibagi menjadi 4 bab utama, Membicarakan Feminisme bersuara dengan lugas dan lantang pada tiap bab dan sub bab nya. Dimulai dari pengenalan sejarah dan teoriasasi mengenai feminisme, kemudian penerapan femenisme dan ditutup dengan refleksi dari feminisme. Berbagai macam aspek yang bersinggungan dengan perempuan, wanita, dan ibu-ibu diceritakan, serta dijadikan contoh nyata. Terutama banyak dibahas mengenai alasan yang melatarbelakangi sebuah budaya patriarki yang terkontruksi bisa terjadi hingga saat ini.
Perlunya ruang diskusi menjadi salah satu cara untuk dapat menerima akan perbedaan serta mampu mengkaji banyak pengetahuan baru agar bisa terus memanusiakan manusia yang beragam. Saya merekomendasikan buku ini kepada siapapun dari berbagai latar belakang yang merasa awam dan haus pengetahuan terkait “feminisme”, untuk dibaca dan menjadi renungan bersama akan berbagai macam hal yang terjadi di lingkungan kita yang berdampak kepada orang-orang terdekat.
Secara garis besar, buku ini sangat padat informasi dan menyajikan contoh kasus yang sederhana namun sarat makna. Sangat cocok sebagai jembatan pertama kita untuk mempelajari apa itu Feminisme dan apa saja yang diperjuangkannya.
Dari bab pertama, aku sangat terpukau dengan penjabaran historis yang ringkas dan mudah dipahami. Lalu buku ini punya judul sub-bab yang eye-catching sekali bagaimana lelembut juga diikutsertakan 😂
Namun ada suatu hal yg menjadi janggal bagiku, aku pribadi tidak bisa membenarkan melepas hijab dengan dalih kebebasan berekspresi. Aku khawatir 2 sub-bab yg kental akan pembahasan ini akan misinterpretasi jika dibaca oleh remaja yang belum bisa mengolah informasi yg mereka dapat. Karna faktanya ada sejarah tersendiri mengapa berhijab itu menjadi sebuah perintah, bukan semata-mata hanya sebagai alat kontrol sosial untuk menindas perempuan.
Aku tidak mendukung pemakaian hijab secara paksa, namun juga tidak bisa membenarkan melepas hijab dengan dalih kebebasan berekspresi😔 Dari awal kehadiran feminisme bukan untuk menjadi musuh suatu agama, bukan? Dan semestinya tidak perlu menjadi musuh satu sama lain.
Aku sebagai perempuan dan individu yang utuh, pernah berjuang untuk bisa berhijab dan akan merasa sangat sedih kalau ada perempuan lain yang justru malah memandang hijabku sebagai bentuk penindasan 😔
Perempuan selalu bisa dan berhak untuk memilih, dan orang lain baik itu perempuan, lelaki, atau gender lainnya tidak punya kapasitas untuk menghakimi pilihan mereka🤗
Buku ini bagus untuk dibaca bagi orang yang pertama kali atau mau mendalami tentang feminisme. Karena bab-bab yang ada di dalam buku ini tersusun cukup rapi, dari pengetahuan dasar seperti apa itu feminisme, dan di mana letak perjuangan feminisme dan juga sejarah lahirnya feminisme itu sendiri. Hal yang dapat membedakan buku ini dengan buku lain terutama buku feminisme yang ditulis oleh penulis dari luar negeri adalah bagaimana buku ini juga menjelaskan singkat tentang bagaimana feminisme itu sendiri muncul di Indonesia. Sayangnya, penjelasan tersebut saya anggap terlalu singkat bagi orang yang ingin tahu lebih banyak, sejarah feminisme di indonesia.
Selain pengetahuan dasar tentang feminisme, buku ini juga menyinggung bebeberapa studi kasus tentang isu feminisme yang ada di Indonesia. Sehingga, kita lebih melek lagi sebenarnya semenjak Indonesia merdeka sampai sekarang, berkembangan isu keadilan gender ini masih terus butuh perhatian dari kita semua.
Secara menyeluruh, buku ini cukup bagus dibaca bagi orang yang ingin tahu tentang apa itu feminisme dan isu-isu apa yang diangkat oleh feminisme, terutama di Indonesia. Namun, bagi orang yang sudah mendalami isu ini dan sudah hapal dengan dasar-dasar apa yang dibicarakan feminisme, buku ini belum cukup untuk mengaji lebih dalam tentang isu feminisme itu sendiri.
Membicarakan feminisme adalah buku tentang feminisme pertama yang aku baca. Awalnya aku nggk ngerti feminisme itu apa dan beli buku ini pun gara2 tertarik sama covernya. Baru liat reviewnya pas bukunya udah dikirim. Dari situ mulai kepo sama yang namanya feminisme.
Saat bukunya udah dateng dan kubaca OMG ternyata penjelasan dalam bukunya sangat mudah untuk dipahami dan gk berbelit-belit. Dari buku ini aku banyak paham tentang feminisme, patriarki, misoginis, dan LGBTQ. Yang sebelumnya aku gk paham sama sekali dengan isu2 tersebut.
Buku ini berisikan esai-esai yang dibagi menjadi 4 bagian: 1. Mejelaskan dasar dari feminisme (sejarah dan teorinya), 2. Menjelaskan HAM bagi perempuan, 3. Gender Nonmaskulin, 4. Sebuah refleksi yang membahas mengenai isu2 seputar feminisme yang hangat diperbincangkan.
Aku rasa buku ini sangat cocok untuk dipelajari oleh orang yang belum paham sama sekali tentang feminisme (seperti aku). Melalui buku ini aku menjadi mengerti bagaimana menyikapi isu kekerasan dan pelecehan seksual dan aku juga menjadi paham bahwa perjuangan kartini untuk memerdekakan perempuan belum berakhir. Kita sebagi perempuan-perempuan era modern masih harus melanggengkan apa yang telah diperjuangkan oleh kartini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Aku membaca buku ini agak telat ketika hype-nya sudah habis. Baru selesai membaca di tahun 2024 dan ada beberapa judul yang membicarakan suatu fenomena yang sudah terlewat. Pernikahan Aming misalnya, aku membacanya ketika mereka sudah bercerai. Tentu saja isinya masih relevan karena esensinya sebenarnya adalah membicarakan mengenai bagaimana ekspresi gender seseorang bisa dipertukarkan dan bagaimana ekspresi gender itu tidak selamanya berkaitan dengan seksualitas seseorang. Tetapi, karena aku membacanya ketika aku tahu pernikahan ini sudah berakhir, rasa-rasanya contohnya sudah tidak relevan untukku.
Buku ini berisi kumpulan esai singkat, sehingga membacanya tidak sulit. Bisa dibaca sambil lalu untuk mengisi waktu luang ditengah tugas-tugas perkuliahan yang menumpuk. Kupikir ini highlight-nya bagiku: meskipun esainya sendiri adalah non-fiksi, penulisannya teori-teori yang digunakan tidak se-njelimet academic text yang sehari-hari wajib kubaca. Ini jadi membuatku tidak jenuh membaca soal isu gender.
“Tulisanmu dilupakan, pakaianmu dibanggakan, perni: kahan diwajibkan, pengasuhan anak dibebankan pada kami. Sungguhlah tragedi-tragedi perempuan pada masamu itu diulang kembali dan dirayakan di seluruh negeri. Bahkan, setelah presiden itu tumbang, sampai hari ini kami hanya mengenalmu melalui gambar di swalayan sebagai pertanda hari diskon perlengkapan perempuan. Kami lupa betul pada gagasanmu. Kartiniku, jika saja kamu mash hidup, aku mau memelukmu erat dan mengecup pipimu. Aku mau ungkapkan kepadamu bahwa hari ini perempuan bisa menempuh pendidikan tinggi di tempat-tempat yang jauh. Ada banyak beasiswa diberikan pada perempuan agar mereka bisa memiliki cita-cita, tidak lagi diharuskan menjadi ibu rumah tangga saja. Hari ini banyak perempuan Indonesia bisa menulis dan membaca. Namun ada yang hilang: gagasan dan semangat kemanusiaan yang menjadi bara bagimu untuk menulis dan membaca.”
Dalam buku ini, penulis menjelaskan gerakan feminisme di Indonesia dengan pendekatan sejarah. Terdapat kritik mengenai sistem patriarki di Indonesia yang tidak menguntungkan gender non-maskulin, serta esai mengenai kehidupan sehari-hari yang dikaji dengan teori feminisme.
Sebagai seorang perempuan, saya merasa buku ini membantu saya untuk mengetahui sampai manakah hak-hak perempuan di Indonesia sudah diperjuangkan? Serta apa saja yang masih bisa dikaji untuk menjadi lebih baik? Saya rasa untuk mengenal feminisme, sangat dianjurkan untuk memulainya dengan dasar dasar teoritis sehingga jelas diketahui tuntutan tuntutannya dan tidak melenceng jauh kemana-mana.
#MembicarakanFeminisme is an Indonesian book that tells the feminism history in the world, especially in Indonesia. This book also brings up gender issues that we might be familiar with, wrapped up in a such story that enable us to understand the path of feminism battle. In my opinion, this book has managed to compile history, issues, and argument coherently so the readers are able to understand it easily. I would reccomend to readers who want to start to learn about #feminism 🌠
Ada beberapa yg pro Dan ada beberapa juga yg kontra. Aku kesulitan menerima semua isi buku ini. Ada beberapa yg aku mencoba untuk menerima fakta tapi hati nurani ku menolaknya. Bukan kah suaraku kali ini jg disebut suara perempuan yg menyuarakan suaranya. Mb Nadya, so proud of you. Bukunya sangat bagus Dan Indah. Banyak buku yg saya baca ttg feminisme. Tp "membicarakan feminisme" karya beliau adalah buku yg aku rekomendasikan untuk dibaca.
Pengantar yang sangat baik untuk feminisme, khususnya dalam konteks Indonesia. Singkat tapi tetap berwawasan, meskipun saya tidak setuju dengan pandangan/klaim penulis tentang/bahwa perempuan behijab adalah terkekang atau mengalami represi. Mungkin itu yang dirasakannya sendiri saat dia berhijab dulu, hanya saja menurut saya tidak seharusnya pandangan itu dijadikan klaim secara general.
buku ini sangat cocok untuk saya dan mungkin saja teman-teman yang mau belajar tentang feminisme yang berarti keadilan untuk seluruh gender. diisi berbagai kumpulan essay yang cukup mudah dipahami.
penulis membicarakan feminisme dengan banyak data-data dan sejarah yang mungkin perlu dikaji ulang.
sudut pandang pada bab pertama feminisme dan sejarah, cukup menarik. dari situ jadi tahu bagaimana perjalanan feminisme sebagai sebuah pemikiran, pergerakan, dan perjuangan. tak hanya di luar negri (barat), tapi juga di Indonesia sendiri. meskipun beberapa judul argumentasi yang disajikan rawan rapuh, tapi tetap disampaikan dengan baik dan mudah dicerna.
Nadya Karima Melati menyajikan banyak kritik dan fakta menohon soal gerakan, sudut pandang, dan kondisi ide feminisme. Ia menjajakan sudut pandang yang kritis soal kehadiran gerakan ini di Indonesia dan bagaimana pemimpin bangsa ini memandang gerakan/ide feminisme. Buku ini sangat bagus untuk mengenal gerakan Feminisme dari masa ke masa dan Indonesia.
Aku akan rekomendasiin buku ini untuk teman-teman yang ingin mulai untuk belajar feminisme. Buku ini bisa dijadikan sebagai handbook. Pembahasannya sudah cukup lengkap. Terima kasih untuk penulis telah menerbitkan buku ini.
Buku ini memberikan saya perspektif tentang feminisme yang bagi saya masih terkungkung pemahaman negatif tentang feminisme, tapi kiramya perbedaan dalam ilmu adalah hal. Wajar
Baca seminggu kaya abis kuliah sit-in 1 semester. I love iiit. I need moore like thiiis. Yang membicarakan feminisme dengan studi kasusnya Indonesia. ❤️
Seorang slow reader seperti saya mampu menyelesaikan buku ini dengan cepat. Buku ini cocok banget buat baby feminist yang baru belajar tentang feminisme. Buku ini berisi kumpulan essay dan penulisnya mengemas dengan bahasa yang mudah untuk dipahami. Saya rasa saya cocok dengan gaya penulisan si penulis. Banyak insights baru yang saya dapatkan ketika membaca buku ini.
Salah satu quote yang paling ngena adalah “Our society blame everything but the rape itself”