Riona tahu ada yang tak beres saat orang tuanya menjual rumah keluarga yang mereka banggakan dengan begitu mudahnya. Namun, ia tak menduga bahwa ketidakberesan itu berhubungan dengan Demit, makhluk yang selama ini ia kira hanya mitos semata. Ayah dan ibu Riona telah menjadi korban sihir hipnosis Darius Tejakusuma, seorang konglomerat properti terkenal. Riona bertekad menyelamatkan rumahnya dan mengembalikan orang tuanya seperti semula. Keadaan semakin rumit sejak Riona kenal dan dekat dengan Haniel dan Samuel Tejakusuma, anak dari musuh besarnya sendiri. Demi keluarganya, Riona harus mencari tahu: apakah kakak beradik itu kawan atau lawannya?
Kisah dengan latar kota Gandaloka masih tetap berlanjut. Setelah sebelumnya saya menyaksikan kisah Naira dan Gesta dalam Halfie, kini cerita Riona tak kalah menarik untuk diikuti. Tidak seperti Halfie yang cenderung lebih ringkas dan singkat, Home bisa dibilang lebih padat dari segi cerita. Di sini kota Gandaloka lebih diungkap akan asal-usul dan sejarahnya, meskipun hanya sekilas. Namun, entah kenapa saya masih belum bisa mengerti akan konsep dunia Demit yang diangkat. Dalam Halfie disebutkan jika jenis demit itu ada berbagai jenis, tapi di Home saya sendiri bingung Demit jenis apa yang diperlihatkan di sini. Sedangkan untuk sampul bukunya sendiri Home terlihat estetik dengan ilustrasi dua orang pria yang saling membelakangi dengan siluet seorang gadis yang sedang membuka pintu. Ilustrasi sampulnya sangat merepresentasikan isi ceritanya. Tokoh Haniel dan Samuel digambarkan dengan apik di sampul bukunya. Perpaduan warna dan aksen bunga menambah keindahan dari sampulnya yang cerah, segar, dan menghipnotis.
Tema kehidupan remaja yang dibalut fantasi masih menjadi daya tarik dari seri Gandaloka ini. Hanya saja dalam Home permasalahan akan keluarga lebih dikulik dan diangkat lagi. Bagaimana Riona yang merasakan kecurigaan akan keputusan orangtuanya yang menjual rumah mereka kepada Darius Tejakusuma. Riona yang menyelidiki kejanggalan tersebut menemukan fakta bahwa kedua orangtuanya menjadi korban hipnosis Darius yang merupakan seorang Demit. Riona pun ingin menghapus hipnosis tersebut dengan cara mendekati Haniel anak dari Darius. Di sini bisa kita lihat jika Riona berusaha untuk melindungi kedua orangtuanya. Terlihat perjuangan dan rasa cintanya untuk keluarga. Formulanya masih sama, yaitu lebih menekankan ke interaksi kehidupan remaja daripada sisi dunia fantasinya sendiri. Bagi saya ini tidak masalah karena memang cara pengemasan ceritanya dibuat dengan ringan dan menyenangkan.
Ada dua tokoh utama dalam novel ini, yaitu Riona dan Haniel. Tokoh Riona digambarkan sebagai gadis remaja yang pendiam, kutu buku, dan introver. Namun, anehnya saya justru merasa jika karakter Riona ini cenderung lebih ke ekstrover karena terlihat lebih terbuka dan blak-blakan. Namun, untuk kegemaran Riona dalam membaca sangat terlihat melalui beberapa buku yang dia baca. Apalagi saat perbincangannya dengan Haniel sangat menunjukkan rasa sukanya terhadap dunia membaca. Karakter Haniel pun tak jauh berbeda dengan Riona, yaitu pendiam, dingin, dan gemar membaca buku. Kalau untuk Haniel baru bisa saya rasakan sifat introver-nya. Bagaimana ia selalu menjauh dan menutup diri baik di sekolah ataupun dalam keluarganya. Selain Riona dan Haniel tidak banyak tokoh pendukungnya, selain Darius Tejakusuma, Samuel, orangtua Riona, Yuni, dan yang lainnya. Menurut saya ada beberapa bagian perkembangan karakter yang kurang konsisten, seperti Riona yang digambarkan introver malah cenderung terlihat menyenangkan dan enak diajak bicara. Namun, untuk selebihnya saya cukup menikmati tokoh-tokoh yang ada, khususnya Haniel karena merasa satu frekuensi dengan kehidupannya.
Alur ceritanya berjalan dengan teratur dan dinamis. Tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat. Kedekatan yang tercipta antara Riona dan Haniel pun tergolong normal dan tidak dipaksakan. Ada tahapan-tahapan yang sulit bagi Riona untuk dekat dengan sosok Haniel. Gaya bahasa dan berceritanya mengalir dan sederhana. Memang karena novel ini diperuntukkan untuk pembaca remaja, maka tak heran jika gaya bahasanya mudah untuk diikuti. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga melalui tokoh Riona dan Haniel. Kedua tokoh ini berbagi sudut pandang dengan porsi yang sesuai. Masing-masing tokoh berhasil memperlihatkan pandangan mereka akan permasalahan yang sedang dihadapi. Terakhir latar tempat kota Gandaloka pada Home ini lebih terasa dan digambarkan dengan cukup baik. Bagaimana nuansa perumahan di sektor 2A dan 2B serta ada mal besar juga menjadi nyawa bagi suasana kota Gandaloka.
Konflik yang terjadi di Home adalah saat Riona berusaha membebaskan pengaruh hipnosis Darius Tejakusuma kepada orangtuanya sekaligus menyelamatkan rumah peninggalan kakeknya. Riona memulai penyelidikannya dan menemukan fakta yang mengejutkan tentang sosok Darius. Maka dari itu ia memerlukan bantuan anak Darius, Haniel, untuk menghilangkan efek hipnosis yang menempel pada kedua orangtuanya. Konfliknya nggak berlangsung heboh atau mengejutkan. Konfliknya berjalan dengan mengalir begitu saja, meskipun ada satu adegan perkelahian yang lumayan seru untuk dilihat. Walaupun begitu usaha Riona untuk menyelamatkan orangtuanya dari pengaruh hipnosis layak diapresiasi. Bagaimana ia berusaha melindungi keluarganya, meski nyawa yang jadi taruhannya.
Magical Tales of Gandaloka: Home menceritakan kisah yang lebih padat dan kuat jika dibandingkan dengan Halfie. Asal-usul kota Gandaloka sedikit dikupas sehingga tak menimbulkan tanya dalam benak pembaca. Kehidupan Riona sebagai remaja juga dibawakan dengan sederhana dan apa adanya. Penulis terbilang lihai dalam merangkai kata dan bahasa yang mudah dicerna. Nuansa kota Gandaloka cukup terasa lewat penggambaran beberapa lokasi yang ada, seperti perumahan sektor 2A dan 2B serta mall. Sayangnya ada pula kekurangan dalam ceritanya. Seperti tokoh Riona yang tidak konsisten karakternya. Di satu sisi penulis menyebut jika Riona adalah pribadi yang introver, tapi di sisi lain saya justru lebih merasa jika Rioan itu ekstrover. Kemudian sosok Demit yang digambarkan pun kurang jelas jenisnya. Sementara di Halfie sendiri di Gandaloka itu terdapat beberapa jenis Demit, seperti fairy dan goblin. Namun, di Home ini jenis Demit-nya kurang begitu terjelaskan. Tadinya saya kira antara satu buku dan buku lainnya itu ada saling keterhubungan, tapi ternyata ceritanya berjalan masing-masing. Secara keseluruhan Magical Tales of Gandaloka: Home adalah sebuah sajian remaja yang menghibur lewat rasa fantasinya.
Udah lama ngga baca cerita remaja yang bikin cengar-cengir karena terlalu gemes (and with no hint of cringeness). I usually not into fantasy genre because I suck balls at imagining things, but love mba Ines' choice of words yang ngga bikin susah untuk membayangkan semesta Gandaloka dan dunianya Riona.
Warganet demand a second, third, fourth book of Riona's adventures because I'm way too invested in her life now, especially with Samuel. I love him and need to know what happened next!!!
"Home" adalah salah satu dari kelima series Magical Tales of Gandaloka yang bisa dibaca secara terpisah. Novel ini bercerita tentang Riona yang sangat terkejut dan sangat marah mendapati kabar dari sang Ayah bahwa rumah mereka yang disebut sebagai cagar budaya Gandaloka dijual begitu mudahnya kepada perusahaan Teja Group milik Darius Tejakusuma untuk dibangun sebuah apartemen mewah. Ia sadar ada yang tidak beres karena ia tahu awalnya keluarganya tidak berniat melepas rumah peninggalan turun temurun itu.
"Riona telah menyaksikan sendiri bukti bahwa Demit benar-benar ada. Mereka sunggu hidup di antara manusia, dengan wujud manusia, dan menggunakan kekuatan sihir mereka untuk mencelakai manusia." (hlm. 21)
Lewat penyelidikan singkat, Riona akhirnya mengetahui bahwa Darius Teja adalah seorang Demit. Sebagai manusia biasa, Riona tentu tambah terkejut hingga gemetar saat Darius mengeluarkan sihirnya. Hampir saja Riona putus asa. Namun kabar dari sahabatnya, Yuni, yang mengatakan bahwa kedua putra Darius Teja, Samuel dan Haniel, satu sekolah dengannya memunculkan harapan baru. Dan Haniel, salah satu teman sekelasnya adalah target Riona untuk mengembalikan rumah serta kedua orang tuanya.
Apakah misi Riona berhasil? Ataukah malah kedua bersaudara Teja itu balik menyerang Riona untuk memuluskan bisnis ayah mereka?
"Manusia biasa pasti takut sama orang-orang dengan kekuatan supernatural atau superpower. Mungkin daripada saling curiga dan merusak kedamaian, lebih baik dirahasiakan?" (hlm. 151)
Misi Riona untuk mengembalikan rumah yang telah dijual secara paksa kepada Darius Teja dan mengembalikan orang tuanya ke sedia kala tidak semudah yang ia bayangkan. Meskipun Haniel Teja, yang ternyata memiliki kekuasaan yang sama seperti ayahnya, membantu dirinya. Kehadiran Samuel Teja, si prince charming, ternyata mampu mengoyahkan Riona. Apakah misi Riona berhasil? Jika Haniel berada dipihaknya, apakah Samuel juga?
Sukaaa banget sama ini. First impression waktu baca blurbnya "oh ini pertarungan antara Demit dan manusia, nggak yakin seru". Tapi ternyata sebagus itu, meskipun melibatkan manusia (baca: Riona), justru itu yang bikin ini seru. Baca ini aku merasa seperti Riona yang merasa clueless tentang Demit. Tapi lewat tokoh-tokoh Demit dan sejarah Gandaloka yang diceritakan Kakek Riona, Kak Ines berhasil menjelaskan seperti apa kehidupan Demit agar tetap damai hidup berdampingan bersama manusia. World building yang dibangun penulis sangat detail jadi terkesan nyata dan aku berasa baca fantasi luar bukan lokal. Aku juga suka covernya, menggambarkan keseluruhan cerita.
Konflik yang dihadirkan penulis lebih cenderung ke masalah keluarga. Aku suka gimana penulis menghadirkan konflik keluarga Teja dengan tambahan kekuatan masing-masing. Ikutan tegang dan rada merinding bagian dua bersaudara Teja berubah jadi Demit. Sayangnya, aku merasa di ending Kak Ines agak sedikit terburu-buru. Jadi berasa kurang greget.
Karakterisasi tokoh juga kuat dan konsisten. Heroin-nya berani walau beberapa kali sempat ragu dan lengah. Hero-nya juga bikin gemas. Chemitry dan interaksi Riona-Haniel manis khas anak remaja, tapi hubungan half-brother Haniel dan Samuel yang bikin bikin heartwarming.
Meskipun bergenre urban fantasy, dari yang aku tangkap selesai baca buku ini adalah penulis ingin menyampaikan bahwa lewat beberapa hal antara manusia dan makhluk lainnya bisa hidup damai dengan kompromi yang adil. Dan juga bahwa seperti apa pun keluarga kita, kita berhak menentukan ingin seperti apa kita. Baik atau buruk.
"Itu bikin gue sadar, selama ini gue pun nggak pernah hidup buat diri gue sendiri. Gue selalu menahan diri, karena gue merasa nggak layak lebih bahagia daripada dia yang selalu kerja sangat keras." (hlm. 264)
"Jujur pada perasaan sendiri justru adalah tanda kekuatan, terlepas dari bagaimana reaksi orang dan apa yang mereka lakukan pada kita nantinya." hal 25
AM I FALL IN LOVE WITH THIS BOOK?????
Jadi intinya, di pinggiran Jakarta, ada kota kecil penuh sejarah, namanya Gandaloka. Berdasarkan legenda setempat kabarnya Gandaloka awalnya tempat para Demit—mahluk supranatural, siluman(?) or something like that lah, tapi kemudian setelah adanya manusia, kaum Demit ini udah ga kelihatan lagi, dan cuma jadi dongeng pengantar tidur semata. (~ ̄³ ̄)~
Masa sih??? Tapi what if ... kamu tiba-tiba ngelihat salah satu pengusaha tersukses se antero Gandaloka ternyata adalah Demit? (☉。☉)!
That's what happened to Riona. t_____t
Awalnya dari rasa sebel, kesel dan penasaran juga kenapa tiba-tiba orang tua Riona mau ngejual rumah mereka yang mana itu bangunan bersejarah—sekomplek—dari segi legenda dan arsitektur nya ke grup Teja untuk dijadikan apartemen mewah. Tapi bagai disambar petir, ternyata yang Riona lihat justru Darius Teja yang pakai sihir—brainwash—ke penghuni sektor 2A 2B untuk setuju sama penjualan rumah mereka. (╥﹏╥)
Modal nekat, Riona yang masih SMA itu nyoba nyari tau gimana caranya ngehilangin efek brainwash Darius biar orang tuanya, rumahnya, dan tetangganya semua bisa kembali normal. (;ŏ﹏ŏ)
Suka banget sama worldbuilding nya. Di novel ini, melalui cerita Riona atau lewat tangan Haniel, tanpa sadar tuh sebenernya lagi dijelasin tentang semesta Gandaloka dan Demit nya. Tapi cara nyelipin informasi-informasi yang penting, banyak, dan cukup detail ini caranya asik, ga dengan disuguhi narasi berparagraf-paragraf jadinya malah bikin lebih gampang diingat dan ga ngebosenin. (Tepuk tangan)(ʃƪ^3^)
Terus apa yang bikin novel ini ga bintang 5 buatku??? Ok, my toxic traits, aku bakalan kehilangan semangat kalo mumcul si sempurna most wanted chara ... super duper mega ultra cakep, smart, rich, berprestasi, then down bad for orang biasa-biasa aja. ┐( ̄ヘ ̄)┌
Pokoknya ini seru banget, buat pecinta fantasy yang ga terlalu suka banyak bumbu romanceKarena tokohnya yang emang masih SMA, alurnya pun terkesan ringan, sesuai juga sama situasi dan kondisi tokohnya. Just like anak SMA pada umumnya, engga yang tiba-tiba jadi overpower gitu, jadi ya masih masuk akal gitu. (Jangan komen kalau fantasi emang ga masuk akal ya), novel ini cocok banget buat refreshing. Dan jenis-jenis buku yang bisa habis dalam sekali duduk juga. Oke banget pokoknya. )2/2) (ر(
Novel Home ini merupakan salah satu dari kelima novel yang masuk dalam Magical Tales of Gandaloka. .
Dari segi cover, novel ini terlihat eye-catching dengan perpaduan warna dan ilustrasi tokoh yang pas dengan isinya.
Kedua, idenya sebenarnya sederhana tentang kisah keluarga yang mengharukan dan persaingan bisnis, tapi yang membuat menarik novel ini memadukan unsur fantasi didalamnya. Dimana memasukkan sosok lain, selain manusia yaitu Demit disini. Demit disini digambarkan "bisa" hidup berdampingan dengan manusia dengan kemampuan khusus masing-masing.
Aku cukup menyukai kisah ini, bagaimana karakter yang kuat, setting yang terbangun cukup baik, aku bisa membayangkan seperti apa Gandaloka. .
Aku suka bagaimana kisah ini dieksekusi, walaupun menjelang ending aku merasakan kisah terasa cepat sekali berakhir. .
Gara-gara baca novel ini, aku jadi penasaran membaca ke-4 novel lainnya dari seri ini
Home memberikan lebih banyak porsi character growth kepada kedua anak-anak Darius Tejakusuma, Samuel dan Haniel, alih-alih protagonisnya. Riona, di mata saya, adalah sesosok karakter yang 'sudah jadi'. Ia memang mengalami hal-hal baru seiring berjalannya kisah, namun relatif tidak ada self-discovery. She's got this. Saya tahu Riona akan baik-baik saja, sehingga saya punya waktu luang dan kapasitas mental untuk dibikin baper jumpalitan oleh segala pergolakan batin yang dialami Samuel. Narasi terasa agak kedodoran saat penulis berusaha mendeskripsikan adegan berantem (suatu hal yang saya ketahui memang SUSAH), tapi apa yang terjadi masih cukup bisa diikuti. Personal rating: 3,5 out of 5, namun sayangnya Goodreads tidak mengakomodasi 0,5 poin rating sehingga ya.. tiga bintang.
Ini adalah series gandaloka kedua yang saya baca. Saya dibuat jatuh cinta lagi dengan gandaloka dan keajaibannya. "Home" untuk seusia remaja memiliki konsep dan alur cerita yang nggak lebay. Terlebih teenlit sekarang banyak yang mengangkat topik percintaan, saya rasa "Home" memiliki pesona sendiri tanpa harus mengikuti trend cinta remaja yang marak di pasaran.
Bagus. Nama-nama para Demit berhawa Jawa Kuno/Pertengahan banget, mungkin sengaja untuk memberi kesan ancient, ya. Di sini ada teen romance drama, juga ada sedikit action. Seger banget buat bacaan seseorang yang lelah melihat begitu banyaknya novel remaja yang nyeritain cinta terus.
Karena ini seri gandaloka pertama yang aku baca jadi agak kaget dengan sebutan ‘demit’ tapi itu gak jadi masalah kok karena konflik antar manusia dan demit di sini dibangun cukup menarik. Mengenai karakter, kayaknya riona agak sedikit ambigu ya kadang ngerasa riona hidup di jaman dulu sama kadang ngerasa dia hiduo di jaman sekarang.
Aduh lupa when exactly I finished reading this book - it was a while ago. I liked it! I think I want to read the entire series and then come back to this book and really write a review of it.
Riona heran karena mendadak orangtuanya menjual rumah yang katanya merupakan cagar budaya kota Gandaloka. Reina makin curiga karena ternyata yang membeli rumah itu adalah Teja Group, dan Riona mendapati fakta bahwa orangtua dan tetangga-tetangganya keba hipnotis bangsa Demit. Riona pun bertekad untuk menyelamatkan mereka. Caranya? Dengan mendekati dua anak Darius Teja yang satu sekolah dengannya, Samuel dan Haniel Tejakusuma. Sayangnya, dua-duanya terasa mustahil karena Samuel terlalu populer dan Haniel terlalu antisosial.
--------
Enggak tahan buat nggak baca seri dari Gandaloka Kota Sihir ini. Untung dapat diskon 50tahun Gramedia 😅
Dibanding "Stay Ugly" pembahasan soal kota Gandaloka dan Demit jauh lebih banyak di sini. Ya mungkin emang fokus ceritanya ke kota Gandaloka itu sendiri ya. Senang rasanya karena jadi tahu sejarah kota Gandaloka. Di sini juga dijelaskan bagaimana hukum di Kota Gandaloka berjalan juga beberapa aturan alami di dunia Demit. Seru banget deh, lebih berasa Demitnya. Haha
Tapi sayangnya, banyak tokoh sampingan yang terlalu menonjol. Misalnya Randu Gardalor dan Ratan & Tanta Gardaksina. Penggambaran dan karakter mereka terlalu kuat, dan cukup mengganggu bagi pembaca yang gampang terdistraksi sepertiku. Kehadiran mereka meski sebentar, bisa menenggelamkan tokoh utama. Aku jadi bertanya-tanya, apa mungkin mereka bakal jadi tokoh di cerita lain? Mungkin. Entah. Kita lihat aja nanti.
Terus, aku agak bingung dengan beberapa disinformasi di sini, misalnya:
1. Haniel bilang Samuel lebih dekat dengan sang Ayah. Tapi kemudian Haniel berpikir kasihan sekali Samuel karena seolah nggak punya tempat di rumah dan tendensi favoritism Darius kepada Haniel. Apakah ini hanya semacam persaingan dua saudara yang selalu merasa orangtuanya lebih sayang kepada sodaranya?
2. Haniel bilang kalau dia nggak bisa melihat yang mana Demit dan yang mana bukan demit. Tapi di cerita selanjutnya, Haniel bisa ngasih rahu Riona siapa-siapa tamu pesta ulang tahun samuel yang demit. Jadi, sebenarnya dia bisa melihat tanda-tanda demit?
3. Tokoh Riona. Disebutkan bahwa Riona itu termasuk golongan cupu dan antisosial di sekolahnya. Tapi aku nggak melihat gambaran itu dalam cerita. Malah aku menemukan kesan bahwa Riona ini tipe teman yang asyik, blak-blakan, tapi disukai sama teman-temannya. Apalagi karakter Riona yang cukup ceplas-ceplos itu. Sebenarnya karakter Riona ini terbilang kuat. Sama seperti Haniel dan Samuel. Cuman ya itu tadi, aku tetap bingung kenapa penulis menyebut Riona cupu dan susah bersosialisasi, padahal menurutku nggak begitu.
Oh ya, urusan layout dan font, kayaknya seri Gandaloka ini emang beda dari buku-buku yang lain, termasuk dari penerbit yang sama. Bisa ditiru nih, soalnya tebel dan nyaman banget dibaca. Nggak bikin capek.
Overall, aku cukup puas baca buku ini, terutama penjelasan soal Demit dan Gandaloka. Walaupun ada bebarapa hal yang meninggalkan tanya.
Btw, aku penasaran. Demit-demit itu apakah menua dan mati layaknya manusia biasa? Mungkin aku akan mendapatkan jawabannya di buku yang lain.
Sukaa banget sama buku ini. Sama sekali nggak nyesel buat pilih buku ini walau awal baca aku nggak ada ekspetasi apa-apa.
Ceritanya berjalan sangat pas, aku tidak merasa terlalu cepat atau lambat saat baca. Jadi aku tidak merasa terburu-buru, maupun bosan. Karakter di cerita ini menurutku juga sangat mudah untuk disukai. Pengembangan karakternya benar-benar terasa, terutama karakter Samuel dan Haniel.
Interaksi Riona-Haniel aku suka banget. Kayaknya jarang banget nemu cerita remaja yang buat senyum-senyum, tanpa ngerasa cringe.