Jump to ratings and reviews
Rate this book

Saya, Jawa dan Islam

Rate this book
Jika boleh mengingat, pertemuan saya dengan Islam dan Jawa mungkin sejenis pertemuan dengan diri yang mengetarkan. Hingga hari ini, saya masih merasakan getaran itu.

***

Di masa itu saya benar-benar terbenam dalam penghayatan/ Saya mulai menyadari saya harus mulai mengenali diri saya sendiri (baca: man arofa..). Mengenali saya ini siapa, dari mana dan hendak ke mana. Saya menemui faktisitas diri: saya orang jawa yang beragama Islam itu harus rela menerima kemestian bahwa saya "terpaksa" lahir di sebuah dusun di Jawa, yang dengan seluruh perangkat tradisi, budaya, dan praktik keseharian yang membentuk diri, berusaha memandang dan memberi makna hidup, bahkan terhadap ajaran agamanya. Pencarian itu berujung: saya Jawa, saya Islam! Sejak itu, saya seperti baru memulai sebuah perjalanan.

221 pages, Paperback

Published April 1, 2019

15 people are currently reading
85 people want to read

About the author

Irfan Afifi

8 books9 followers
Santri Pondok Pesantren Al Miftah Mlangi, Yogyakarta, alumnus jurusan filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Di tahun 2013, ia mengelola rumah penerbitan Pustaka Ifada, Yogyakarta.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (19%)
4 stars
24 (58%)
3 stars
7 (17%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Hamima Nur Hanifah.
46 reviews10 followers
July 3, 2023
bacaan kali ini temanya #spiritualawakening karena selain belajar tradisi keislaman di Jawa juga belajar ttg psikologi perkembangan diri dlm bingkai kebudayaan org Jawa.

buku ini mendedah relasi Islam dan Jawa yg sering dianggap bertentangan (yg akarnya dari narasi besar kolonialisme). ada trauma kolektif yg dialami Belanda paska Perang Jawa/Diponegoro (1825-1830) yg didukung oleh jaringan tokoh2 pesantren dan kyai. Islam "pribumi" di mata kolonial dianggap sbg hantu yg meneror dan mengancam stabilitas kekuasaan mereka. politik kebudayaan Belanda scr sistematis dipakai utk menyangkal keislaman. Islam di Jawa dianggap asing, impor, intrusif, dianggap "tidak Jawa". shg anggapan2 soal musyrik, sirik, tahayul, mistik, dan klenik kemudian mjd momok yg menyulut intoleransi dan konflik bahkan antarsesama.

penulis jg merekonstruksi ilmu pengetahuan lama & kesusastraan Jawa (ttg suluk, serat2, tembang macapat, dll) —yg sering dianggap kuno, tidak relevan— utk menyusuri kembali konsep2 laku diri dan konsep tasawuf dlm ajaran Jawa. ttg sedulur papat lima pancer, konsep "ngelmu iku kelakone kanthi laku", dan jg pengetahuan2 utk mengenal diri sendiri (mawas diri).

bab paling menarik buatku berjudul "Dadi Wong Wadon: Mengurai Jebakan Pascakolonial". ttg stereotip peran ibu rumah tangga dan kerja2 ruang domestik (sbg ketertindasan perempuan). padahal dlm konteks sosiologi rumah tangga Jawa, rumah tangga merupakan simpul penting menuju peran sosial yg lebih luas, di dlmnya perempuan menempati posisi penting. gerak perempuan dlm rumah tangga tidak bermakna ketertutupan dan isolasi, tp suatu bentuk keterhubungan dgn apa yg bergerak di luar rumah tangga. kita tahu bgmn berdayanya ibu2 ini dlm urusan2 sosial seperti PKK, arisan, slametan, sesrawungan, jg ttg pengaturan keuangan, dsb.

buku ini jg menandai penting betapa beragamnya ekspresi/corak keislaman di berbagai zaman. Islamnya Maroko, Islam Afrika, Islam Turki dan Islam Jawa tentu berbeda. mengutip yg disampaikan penulis; "nilai islam itu universal. tetapi penerjemahan Islam selalu berkait dan berkelindan dgn manusia yg partikular, lokal, dan tidak universal." (hal.173)

#HamimaReadingJournal
#bukubagus
Profile Image for Sandys Ramadhan.
114 reviews1 follower
August 14, 2021
Butuh waktu lama menyelesaikan buku ini, dikarenakan banyaknya istilah yang saya pribadi belum ketahui ditambah penulisan yang panjang dan membosankan lalu tidak menemukan adanya benang merah antara bab yang satu dengan bab yang lainnya. Padahal kalau boleh dibilang topik yang dibahas sangat menarik untuk diulik. Mungkin satu kesimpulan yang bisa saya tarik dari buku ini adalah " Bahwasannya Islam dan Jawa itu sejalan dalam hal tujuan kemaslahatan umat manusia."
Profile Image for Faisal Chairul.
269 reviews16 followers
May 6, 2022
Buku ini merupakan kumpulan tulisan pemikiran, hasil perenungan dan pergulatan penulis tentang diskursus (menjadi orang) Jawa dan Islam. Dua identitas yang, menurut penulis, "saat ini ada dalam posisi saling menegasikan, dalam relasi yang saling hadap-perhadap, dan ada perselisihan, atau tepatnya pertentangan yang menggoncang diri". (halaman 14)

Islam Jawa, sebuah narasi bentukan kolonialisme sebagai upaya melemahkan (menolak) pengaruh Islam saat itu, terutama pasca Perang Diponegoro, dengan cara menciptakan identitas baru untuk memecah-belah konsentrasi (fokus) orang-orang pribumi Jawa. Sebuah narasi yang mendasarkan pada dua buku karya Sir Stamford Raffles (The History of Java) dan John Crawfurd (History of the Indian Archipelago), yang di dalamnya terdapat argumen bagaimana 'agama Jawa' didefinisikan, lantas kemudian direproduksi terus-menerus hingga saat ini. Argumen Raffles memiliki signifikansi paling besar terutama karena saat itu ia mempelopori kajian agama Jawa, melalui penghidupan kembali lembaga 'Batavian Society' bentukan Belanda, yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

"Kajian 'Society' ini sebelumnya di masa VOC merentang dari geografi, teknologi, agrikultur, sejarah alam, etnologi, kesehatan tropis, dan sedikit tentang sejarah dan sastra. Sedangkan fokus tentang kajian agama tidak ada. Sejak Raffles mengambil alih lembaga ini (Batavian Society), kajian tentang deskripsi etnografis dan agama Jawa meningkat drastis." (halaman 216).

Narasi yang dibangun kedua tokoh tersebut (Raffles dan Crawfurd) menekankan bahwa "masyarakat Jawa adalah 'supervisial muslim' alias 'muslim yang hanya ada di permukaan'. Bahkan lebih lanjut, bagi Crawfurd, Islamnya orang Jawa adalah 'modified Islam, a mixture of native customs with Islamic and Hindu laws'." (halaman 218).

Berangkat dari narasi ini, penulis di dalam buku ini berusaha meyakinkan pembaca bahwa anggapan itu tidak benar. Sejak dulu, terdapat kesesuaian sepenuhnya antara kebudayaan Jawa, seperti satsra Jawa yang dibedah tuntas oleh penulis dalam buku ini (di antaranya Serat Wedhatama dan Serat Centhini), dengan ajaran Islam, terutama tasawuf.

Terkait Serat Wedhatama misalnya, penulis membedah tuntas salah satu baitnya, "ngelmu iku kelakone kanthi laku" (ilmu itu tercapainya dengan laku/olah diri). Dalam pembahasannya, penulis mencoba mengaitkan empat tahap 'laku'/olah diri dalam 'ngelmu' dengan empat tahap berjenjang dalam tasawuf. "Yang ingin saya tunjukkan, Serat Wedhatama tidak sedang ingin keluar dari bingkai Islam." (halaman 55)
15 reviews
December 9, 2024
Berangkat dari premis yang amat personal dari sang penulis mengenai dikotomi islam dan jawa. Buku ini adalah serangkaian kontemplasi dari kegelisahan penulis, sekaligus penemuan kembali dirinya, terkait dua identitasnya ini yg terasa saling menegasikan.

Melalui penelusuran historis penulis menjabarkan polarisasi Jawa Islam ini berakar dari narasi dan politik kebudayaan yg dibangun oleh pemerintah kolonial. Akibat trauma pasca perang Diponegoro (Perang Jawa) dengan dukungan ratusan kiai pedesaannya menggerakan pribumi. Islam dipandang sebagai suatu tenaga revolusioner menentang status quo kolonialisme.

Narasi kolonial didukung para orientalis seperti Snouck Hurgronje, Pigeaud maupun Raffles yang memberi label islam di pulau jawa sebagai islam sinkretis. Islam hanya lapisan tipis yg menyelimuti masyarakat jawa secara keseluruhan, bahkan dianggap sebagai interupsi puncak kesusastraan jawa masa Hindu Budha Majapahit.

Yang kemudian dibantah melalui rekonstruksi serat, suluk, babad, wirid (yang dianggap sebagai renaissance kesusastraan jawa di abad 18-19) bahwa konsep mistisisme naskah ini mengacu pada konsep mistisime islam seperti dikembangangkan Al Ghazali maupun Ibn Arabi.

Bahwa seluruh ajaran pengetahuan dan ilmu jawa berpusat pada pengetahuan mengenal diri sendiri, mawas diri, agar ia bisa mengutuhkan atau menyempurnakan kemanusiaannya. Melalui laku atau suluk, yang tahapannya serupa dengan tasawuf berjenjang empat (macapat) yaitu syariat atau sembah raga, tarekat atau sembah cipta/kalbu, hakikat atau sembah jiwa, makrifat atau sembah rasa.

Narasi kolonial ini luput akan fakta bahwa betapa beragamnya ekspresi keberagamaan islam zaman itu, baik corak islamnya maroko, islamnya afrika, islamnya arab saudi, dan islamnya jawa. "Nilai islam itu universal. tetapi penerjemahan Islam selalu berkait dan berkelindan dengan manusia yg partikular, lokal, dan tidak universal." (p.173)
Profile Image for Aldila.
48 reviews
February 27, 2021
Buku ini sedikit banyak memberi wacana jawab pada apa yang saya heran dan pertanyakan tentang keberislaman orang Jawa. Hari-hari ini wacana yang merangkul Jawa dan Islam, dan wacana yang mempolarisasikan keduanya begitu kental dalam arena persaingan dan perebutan pengaruh. Tidak hanya di dunia nyata, melainkan sudah masuk ranah dunia sosial media. Bahkan antara kenyataan dan dunia maya saling melengkapi.

Hal yang paling menarik adalah bahwa penulis mencoba menjabarkan wacana dimana polarisasi antara Jawa dan Islam itu berawal sejak perang Jawa 1825-1830. Antara segenap rakyat Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Belanda yang mengalami kerugian akibat perang tersebut mencoba cara lain untuk menjinakkan orang Jawa. Maka ditemukanlah cara untuk memisah antara paradigma Jawa dan paradigma Islam.

Profile Image for Afif Fauzi.
20 reviews1 follower
September 23, 2022
Buku yang menjadi beberapa keping puzzle pencarian jati diri saya.
Lahir sebagai Jawa dan Islam, sering ditempatkan dan menempatkan diri sebagai Jawa Putih, Jawa Ijo, Jawa Kaum, ataupun Jawa Santri. Buku ini mengingatkan saya bahwa trikotomi (Priyayi-Kaum-Abangan) ini bukan terjadi tanpa sebab dan tidak terjadi secara organik
Profile Image for Iki.
6 reviews
September 21, 2022
Jujur saya membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan buku ini, selain banyaknya istilah yg baru saya ketahui juga alur yang terasa panjang yang membuat saya kadang bosan. Tapi tulisan ini cukup berhasil mengawinkan cerita tentang jawa dan islam.
3 reviews
April 23, 2023
Perkenalan antara diri, budaya, dan agama yang dibahas secara utuh. Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu
Profile Image for Chanif Ainun.
1 review
March 6, 2024
I read this book and was left shaken from the opening of the book. An in-depth reading carried out by Irfan Afifi to see his self, his identity, and how that identity is formed and shapes him.
Profile Image for Geza Bayu.
14 reviews
January 6, 2025
Pergulatan identitas penulis yang ditulis dengan menyenangkan, meski ada beberapa bagian yang harus diakui.....
Profile Image for Nava.
52 reviews
October 6, 2022
Buku ini membantu saya mengenal lebih dalam tentang keberislaman orang Jawa yang mana saya merupakan bagian darinya namun selama ini belum memahaminya sedalam itu. Melalui buku ini, saya akhirnya menemukan arti dan makna dari hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian orang Jawa, contohnya seperti istilah "durung jawa", konsep "dadi wong", dan tradisi "slametan" dalam berbagai momen perayaan peralihan hidup masyarakat Jawa. Membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan buku ini sebab terdapat banyak hal dan istilah yang baru kali pertama saya temukan, membacanya sedikit demi sedikit dan memberi banyak jeda agar dapat memahami dengan baik.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.