Bagaimana memahami Hadis Nabi sesuai konteks kehidupan Rasulullah Saw. dan menjadikannya aplikatif untuk zaman now? Buku ini ditulis oleh akademisi yang memiliki reputasi internasional, tetapi juga dianggap sebagai kiai muda kebanggaan para santri tradisional. Kisah interaksi Nabi dengan para sahabat dan juga dengan kalangan non-Muslim, cara Nabi memutuskan sebuah perkara, hingga dakwah beliau yang terkenal santun—lengkap dibahas dalam buku ini.
Dengan merujuk ke literatur keislaman yang otoritatif, Gus Nadir (panggilan akrab Nadirsyah Hosen) mengurai problematika dan kontekstualisasi berbagai kisah Nabi dan riwayat hadis dengan cara yang unik. Kehati-hatian Gus Nadir dalam menjelajah berbagai referensi sungguh menggugah kesadaran kita untuk belajar memilah informasi dengan cara yang sama.
Melalui buku Saring Sebelum Sharing, Gus Nadir mengajak kita untuk memahami teks melalui konteks, meninggalkan kebiasaan belajar instan, dan tidak mudah menghakimi yang lain hanya dari sepenggal ayat maupun hadis.
Di era sosial media saat ini, masyarakat kita cenderung menjadi masyarakat yang reaktif terhadap informasi yang beredar dibanding klarifikasi. Orang sering kali hanya memilah informasi berdasarkan apa yang mereka anggap ingin atau suka. Misalnya ketika seorang ustadz memberikan ceramah mengenai suatu isu. Orang yang kontra dengan isu tersebut sering sekali menggunakan jurus 'hadisnya sahih tidak?'. Pertanyaan itu tidak salah, namun kebanyakan dari mereka bertanya bukan untuk tahu jawabannya, tetapi untuk menguji sejauh mana si penceramah mampu mempertahankan materinya.
Sayang sekali, dari banyak orang-orang yang bertanya, tidak sedikit dari mereka bahkan tidak tahu kriteria hadis itu dianggap sahih dan daif. Dalam bukunya, Prof. Nadir Syah Hosen merinci secara detail bagaimana memahami sebuah hadis, plus konteksnya. Tak hanya itu, Gus Nadir juga banyak memberi respon terhadap fenomena sosial saat ini, terutama mengenai berislam. Beliau membahasnya dari banyak sudut pandang, baik dari sisi ayat Qur'an, hadis, fikih, cerita sahabat Nabi, hingga analogi sederhana.
Ada beberapa hal yang saya garis bawahi dalam tulisan beliau. Bukan berarti yang tidak saya garis bawahi, tidak saya sepakati. Pertama, soal kelompok orang yang hanya memahami islam hanya melalui Quran dan Hadis, selain keduanya dilarang. Menariknya, mereka yang memahami ayat hanya melalui Quran dan Hadis mengesampingkan fakta, bahwa Quran dan hadis sendiri ditulis dalam bahasa Arab. Padahal, ada sebanyak 6000 lebih ayat Quran berbentuk prosa, dan tidak hanya bisa dipahami melalui akal saja, tetapi juga keindahan hati. Oleh karena itu, sangat perlu pemahaman ayat dilakukan melalui sumber rujukan lain, misalnya tafsir dari ahli yang kredibel, mazhab, kitab kuning, dsb. Bila dianalogikan, sumber rujukan ini nanti menjadi suplemen dari dua sumber utama (Quran dan Hadis).
Pemahaman konteks dan rujukan lain untuk memahami hadis sangat diperlukan. Misalnya pada kasus yang baru-baru ini dibicarakan, yaitu soal bacaan buka puasa yang selama ini "allahumma laka shumtu..." dianggap daif hadisnya, yang sahih menurut kelompok tertentu adalah "dzahaba al-zhama'u...". Padahal, menurut Gus Nadir berdoa di luar ibadah madhlah dengan menggunakan hadis daif itu dibenarkan, bahkan tidak ada hadisnya sekalipun juga dibenarkan. Doa ingin naik gaji, ujian nasional, mengakhiri jomlo, dengan redaksi apa pun boleh-boleh saja, selama itu untuk kebaikan.
Perbedaan dalam kajian ilmu hadis dari para ulama itu hal biasa. Ulama A mengatakan hadis 1 sahih dan 2 daif (atau sebaliknya) itu hal yang wajar. Sebab mereka berbeda juga dalam memberikan kriteria untuk memverifikasi hadis. Contohnya, Nur Al-Din 'Itr mensyaratkan tujuh hal untuk memverifikasi hadis, Al-Hakim mensyaratkan tiga hal. Al Hakim memasukkan unsur tidak berbuat bidah sebagai syarat perawi (pentransmisi riwayat), tetapi Ibnu Al-Shalah, Nur Al-Din 'Itr, dan Al-Syawkani tidak mencantumkan syarat ini. Hampir semua ulama mensyaratkan perawi yang 'adalah, kecuali Al Hakim, memasukkan unsur "memelihara muruah" (kehormatan atau harga diri) sebagai unsur 'adalah seorang perawi. Namun, jangan dikesampingkan juga, meski sebagian besar ulama mensyaratkan 'adalah, kriteria 'adalah dari setiap ulama juga berbeda-beda.
Kedua, ini yang tidak kalah krusial diantara masyarakat kita, yaitu bagaimana masyarakat menganggap bahwa semakin banyak "atribut Arab" yang seseorang pakai maka semakin baik "islamnya". Atau semakin banyak seseorang meniru perilaku nabi, maka semakin baik imannya. Tradisi Arab dianggap lebih baik daripada tradisi lainnya. Semua yang diluar itu dianggap bidah. Padahal menurut Gus Nadir, segala sesuatunya tidak bisa lepas dari konteksnya. Misalnya suatu ayat menganjurkan kita berbuat A, kita harus tahu apa yang melatarbelakangi ayat A turun, dimana dan dalam kondisi apa ayat A diturunkan, dsb. Menurut Gus Nadir, akan tidak realistis misalnya ketika kita harus naik unta di desa hanya karena tidak ingin jatuh pada perbuatan bidah.
Pembahasan bidah lebih lengkap Gus Nadir tulis pada halaman 145-153. Perbuatan bidah menurutnya adalah perbuatan yang tidak ada dasarnya dalam kedua sumber utama kita. Kata bidah itu ditujukan untuk sesuatu yang berkaitan dengan pokok-pokok syariat (ushul), bukan masalah cabang (furuk). Misalnya, banyak kelompok memperdebatkan berapa jumlah rekaat salat tarawih. Menurut sebagian kelompok, nabi hanya melaksanakan 11 rekaat, Umar melaksanakan 23 rekaat. Menurut Gus Nadir, Umar tidak menganggap perbuatannya melanggar hadis, sebab yang dimodifikasi oleh Umar bukan ketentuan atau pokok utama salat, tetapi teknisnya.
Problem terbesar beberapa kelompok islam di Indonesia menurut Gus Nadir yaitu, mereka tidak membedakan mana ibadah madhlah dan ghair madhlah, tidak memilah mana perkara agama dan mana kearifan lokal, tidak memisahkan mana perkara akidah dan mana perkara muamalah. Pokoknya, kalau tidak ada riwayatnya, tolak! kalau ada riwayatnya, tetapi mereka anggap daif, tolak juga!
Semoga kita tidak menjadi kaum yang mudah menghakimi, membidah-bidahkan sesuatu. Kita tidak lantas menjadi kafir hanya karena kita makan dengan sumpit dibandingkan tiga jari seperti yang dilakukan nabi pada masanya, atau mengendarai motor daripada unta seperti yang dilakukan nabi pada eranya. Kalau kata Abu Yusuf dalam bukunya Gus Nadir, "Jika suatu nas muncul dilatarbelakangi sebuah tradisi, dan kemudian tradisi itu berubah, pemahaman kita terhadap nas itu juga berubah" (seharusnya).
Nabi Muhammad Saw. pun tahu bahwa kondisi kita berbeda-beda sesuai dengan perbedaan peran dan kapasitas kita. Dalam satu kesempatan, Nabi menjawab bahwa amalan yang paling utama itu beriman pada Allah, di lain kesempatan menjawab salat. Pernah pula menjawab berdzikir, juga bersedekah. Suatu waktu Nabi juga menjawab berjihad. Maka, banyak sekali pilihan amal yang bisa kita lakukan. Tidak perlu memaksa orang lain mengikuti amalan kita, atau mencemooh karena orang lain karena tidak sesuai dengan kita. Semakin banyak peran yang kita jalankan, semakin banyak ladang amal yang bisa kita kerjakan, kata Gus Nadir.
Dalam menyikapi hadis ini dibedakan menjadi apakah hadis tersebut terkait dengan ibadah mahdhah atau ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah yang sudah disebutkan dalam Al-Quran seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah hal-hal selain yang sudah dijelaskan oleh AL-Quran seperti penggunaan tasbih.
Yang saya dapatkan setelah selesai membaca buku ini adalah dalam menerima informasi mengenai kesahihan hadits jangan langsung diterima begitu saja. Kita harus lebih cerdas. Pertama cek sanad. Kedua cek matannya. Selanjutnya cek apakah terdapat kitab yang me-syarh dan men-takhrij. Tentu saja merujuk ke beberapa kitab-kitab ulama-ulama yang sudah diakui validitas dan keilmuannya. Tidak semudah itu bukan?
Melihat ‘kompleksitas’ dalam memahami hadits, kita sebagai orang awam yang minim ilmu sebaiknya tidak mudah meneruskan hadits asal sahih, menghakimi orang lain bidah atau kafir. Bintang lima tentu saja!
If you are looking for an easy way to understand how important comprehending hadits in depth, this book is perfect for you! This book is truly mind-opening. It educates people to think with different perspectives in seeing Islam and its colors. I never regret spending money for this precious knowledge! It's absolutely worth it.
Seperti buku Tafsir Medsos, buku ini adalah kumpulan tulisan Gus Nadir yang berserak di berbagai media: Facebook dan situs pribadinya. Buku ini semacam debunking atas hadis-hadis yang sedang viral tapi sering lepas konteks -- yang seringkali disebar untuk mendukung kepentingan kelompok tertentu.
Beli ebooknya seharga kurang dari Rp 100,- di Google Play. Isinya tentang bagaimana menyikapi perbedaan makna dari hadis, dan beberapa topik lainnya yang cukup hangat dibahas di internet. Buku ini jenis buku yang bisa dibaca berkali-kali, atau dibaca per bab, sehingga layak untuk dikoleksi.
Buku ketiga ini lebih terfokus Sirah Nabawiyah walaupun begitu berbeda dengan Sirah Nabawiyah biasa karena bukan cerita Runtung dari Nabi lahir sampai wafat tapi dibagi perbagian sesuai dengan tema bagian tersebut dalam buku ini. Tema dalam buku ada Nabi Muhammad SAW dalam kitab hadis, relasi Nabi dan sahabat, saat mengambil keputusan, problematika umat, hubungan dengan non-muslim dll.
Walaupun fokus pada buku ini pada Sirah Nabawiyah tapi buku didahului dengan bagaimana kita menyikapi sebuah hadis. Yang mungkin pertanyaan2 diajukan sering ada benak2 orang-orang terutama untuk yang masih awam. Kenapa hadis sahih bisa memunculkan perbedaan pemahaman? Apakah semua hadis dalam shahih Al-Bukhori dan Shahih Muslim itu shahih? Mengapa habis Nabi bisa berbeda beda? Mengapa terjadi perbedaan penafsiran? Apakah semua hadis sahih harus langsung diamalkan?
Semua pertanyaan diatas dijawab dengan gampang dipahami karena dengan contoh juga tidak lupa rujukan jawaban pun langsung dari ulama dengan literatur keislaman yang otoritatif. Sehingga kesederhanaan pembahasan tidak menurunkan kualitas kajian di buku ini Kenapa buku ini diawali dengan pembahasan itu? Karena kondisi dewasa ini beredar banyak sekali cuplikan terjemahan Hadis atau kisah nabi Muhammad SAW yang dipakai untuk menghakimi praktik ibadah ataupun pilihan hidup orang lain karena penggalan terjemah hadis tersebut tanpa diberi penjelasan akan konteks ucapan/tindakan Nabi Muhammad tersebut, ataupun padangan ulama akan kedudukan riwayat dan penjelasan maknanya. Kebanyakan disodorkan dengan instan sehingga gampang untuk menghakimi yang berbeda. Buku ini hendak melakukan counter kepada wacana terhadap kecenderungan belajar secara instan tersebut
Dewasa ini banyak orang mengutip satu dua teks hadis tanpa menelusuri sebab musabab munculnya hadis tersebut. Padahal hadis saling berkaitan satu dengan yang lainnya, hingga menjadi diskusi para ulama mengenai kandungan dan aplikasi hadis tersebut untuk disesuaikan dengan kondisi pada saat ini.
Buku yang terdiri dari 8 bab ini menjelaskan semuanya. Dari jenis-jenis hadis yang dikaitkan dengan perawinya, hingga teladan Nabi Muhammad Saw yang patut kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Bagian 1 Nabi Muhammad Saw. dalam Kitab Hadis Bagian 2 Relasi Nabi Muhammad Saw. dan Sahabat Bagian 3 Saat Nabi Muhammad Saw. Mengambil Keputusan Bagian 4 Nabi Muhammad Saw. dan Problematika Umat Bagian 5 Hadis Nabi Muhammad Saw. dan Masalah Ibadah Bagian 6 Nabi Muhammad Saw. dan Non-Muslim Bagian 7 Cinta Nabi Muhammad Saw. Bagian 8 Nabi Muhammad Saw. dan Dakwah
Setelah membaca buku ini aku belajar banyak tentang pengambilan keputusan. Rasulullah disukai banyak orang karena siapapun merasa nyaman berbicara dan berinteraksi. Rasulullah bahkan tidak marah karena persoalan pribadi, mengajarkan kita dengan rendah hati, tidak menghiraukan mereka yang benci, dan menghindari perdebatan.
Bahkan, Al-Qur’an pun menegaskan bahwa bukan tugas Muhammad untuk memaksa semua orang menjadi Muslim. Tidak ada paksaan dalam beragama. (hlm 255)
Buku ini cocok dibaca oleh semua orang agar memahami bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin, yang membuat semua nyaman dan aman.
Dakwah itu simpel dan kita tidak perlu menunggu jadi ustaz atau ustazah untuk menunjukkan keindahan budi pekerti yang diajarkan oleh Nabi. Setiap kita punya kewajiban untuk berbuat baik, tanpa harus punya penjelasan yang canggih, kita berbuat baik saja semampu kita. (hlm 287)
Buku ini terbit sejak awal tahun 2019 tapi baru berkesempatan menyelesaikannya awal tahun 2020, forgive me Gus Nadir :')
Seperti kata Prof Jimly Asshiddiqie, buku ini padat seperti buku-buku teks ilmiah namun ringan dibaca seperti novel :)
Yap. Aku dulu mengira buku ini bacaan berat lho, karena membahas soal khilafiyah ibadah dan lain sebagainya. Duh, memang harus menerapkan prinsip "Don't Judge Book by The Title" nih 😄 Buku ini asli ringan banget dan bisa dibawa kemana-mana. Membacanya pun tidak membutuhkan waktu khusus untuk menyepi dan berkonsentrasi membacanya. Kita bisa membacanya di kendaraan, di sela-sela mengantri dan dimanapun. Karena buku ini seperti berisi esai-esai pendek yang diklasifikasikan sesuai temanya :)
Buku ini juga "menetas" di momen yang tepat, momen saat panas-panasnya suasana pilpres. Awal buku ini membaca tentang bagaimana membaca Hadits Nabi, masyaallaah.. ini yang aku ingin sekali masyarakat tau dari dulu. Salah satunya bahwa hadits dla'if itu SAMA SEKALI BERBEDA dengan hadits maudhu'. Aku pernah mencoba menuliskannya tapi kebingungan memilih diksi dan mengatur kalimat agar mudah dimengerti masyarakat non-pesantren. Kerennya, Gus Nadir melakukan itu dengan sangat baik (ya iyalah Yun, bandingannya dirimu dan Gus Nadir wkwk)
I so love this book! ❤️ Oh iya, kalau sudah sampai di bagian akhir buku maka kita perlu : MENYIAPKAN TISU ! Buku ini ditutup dengan bab yang menceritakan cinta dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW ❤️ Trenyuuuuh :')
Terimakasih Gus Nadir, it's a amazing masterpiece :)
Buku ini adalah buku ketiga Gus Nadir yang saya baca. Seperti biasa bahasanya santai tapi isinya berat. Sy cukup menggemari tulisan - tulisan beliau baik yg di media sosial maupun versi cetaknya, sehingga sy membeli bukunya tanpa membaca sinopsis terlebih dahulu. Waktu ikut pre order dg membaca judulnya saja, sy pikir "saring sebelum sharing" ini bakalan ringan seringan judulnya. Tapi ya seperti kebanyakan buku-buku beliau, isu-isu ringan yang betebaran di media sosial, dijelaskan dg sangat komprehensif dg rujukan-rujukan yang sangat kaya. Rujukan dari ulama kontemporer yg cukup dikenal namanya sampai yg asing terdengar bagi orang awam macam saya.
Buku ini berisi kumpulan tulisan-tulisan Gus Nadir dengan tema yg berbeda-beda. Di bagian depan lebih banyak menceritakan kemuliaan akhlak Rasulullah. Dan diikuti dg deretan isu-isu lainnya, mulai dari perbedaan pemilihan doa saat berbuka puasa, kontroversi hadist perang dan yang paling saya ingat adalah penafsiran hadits "sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat", yang selalu dijadikan landasan untuk berdakwah walau hanya bermodalkan satu hadist. Sy juga sempet bertanya-tanya (dalam hati) sebenernya apa makna dan illat dari hadist ini, dan akhirnya terjawab pada tulisan di buku ini. Jd kesimpulannya memang benar bacalah secara lengkap apapun itu sebelum dibagikan.
Alhamdulillah, setelah Kiai Ujang di Negeri Kanguru yang banyak mengulas problem-problem keislaman di Australia, akhirnya selesai juga membaca buku ini. Ke depan, buku ini pasti akan tetap sering dibuka karena bisa dipakai sebagai rujukan praktis.
Buku ini banyak mengulas akhlakul karimah Rasulullah yang patut kita teladani. Setiap problem yang dipersoalkan, dijelaskan dengan runtut disertai referensi dari Al-Quran, Hadist dan pendapat para ulama selengkap-lengkapnya. Selain itu, buku ini juga banyak mengulas Hadist secara lebih kontekstual, bagaimana kondisi dan situasi ketika Hadist itu disabdakan dan relevansinya pada jaman sekarang. Buku ini juga banyak mengingatkan agar jangan mudah menghakimi, apalagi kita bukan ahli di bidang tersebut dan hanya karena ikut-ikutan.
Sudah pasti jika ingin belajar lebih lanjut, harus mencari guru mengaji. Tetapi untuk pengantar/ sekedar pengetahuan praktis, saya merekomendasikan buku ini.
Ada banyak yang tidak tahu bahwa ada seorang rabi Yahudi yang sangat sayang pada Nabi. Mukhayriq namanya. Dia seorang kaya raya dan kemudian memutuskan ikut dalam Perang Uhud untuk membela Nabi. Dia berwasiat bahwa kalau dia terbunuh maka semua kekayaannya diserahkan kepada Nabi.
Sejarah menyisakan cerita manis bagaimana Nabi Muhammad Saw. menjalin hubungan baik dengan non-Muslim. Jadi, saya adalah salah satu orang yang ikut bersedih ketika ada yang membawa-bawa nama agama dan meneriaki pemeluk agama lain dengan kalimat: “Ini penistaan agama” atau dikit-dikit menyebut pemeluk agama lain dengan ungkapan menyinggung dengan sebutan ‘kafir’.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku yang sangat menarik! Beberapa hal yang saya dapatkan dari buku ini: - Menekankan pentingnya memahami nas agama tidak sebatas tekstual, tapi juga secara kontekstual - Perbedaan pendapat para ulama dalam menentukan derajat hadis disertai referensi yang kredibel - Peintingnya akhlak di era Revolusi Industri 4.0, terutama akhlak dalam ber sosial media - Kisah-kisah inspiratif terkait kehidupan Nabi Muhammad SAW Sebagaai seorang "santri", buku ini sangat memotivasi saya untuk lebih meningkatkan kualitas diri terutama dalam hal tafaqquh fiddin. Mantab!
Buku teologi yang tidak "ndakik-ndakik". Baru kali ini saya membaca buku yang isinya membahas penuh tentang hadist tapi tidak membuat pusing dan justru sangat memahamkan dari berbagai aspek. Buat saya yang suka "ngantuk" saat kajian ataupun membaca kitab, buku ini menjadi oase yang sangat direkomendasikan buat siapa pun yang tak mau salah paham dalam memahami persoalan agama. Jangan sampai apa yang dikira baik ternyata menjerumuskan dan apa yang dikira jelek justru membuat salah paham, hanya karena pemahaman yang tidak komprehensif.
Awalnya saya pesimis ketika berniat membaca ini mengingat latar belakang saya bukan anak pesantren jadi pasti sulit memahami istilah2 yang berkaitan dengan ilmu fiqih. Ternyata gus nadir memberi penjelasan istilah2 tertentu di catatan kaki sehingga memudahkan saya untuk memahami poin2 tertentu semisal ketika membicarakan ibadah yang mana yang harus sesuai rukun dan mana yang tidak. Terima kasih gus sudah menulis ini. Saya langsung lanjut baca buku gus nadir yang judulnya ngaji fiqih hehehe
Kalo mendengar ceramah terkadang bikin kita ngantuk, kalau baca di buku ini mah boro-boro ngantuk, yang ada melek terus pengen baca.
Selain cerita-cerita di dalamnya cukup informatif, gaya penulisan Gus nadir dalam buku ini juga enak dibaca, gaya anak muda jaman sekarang banget lah, gak kaku.
Buku ini cocok banget buat orang-orang yang mau belajar tentang hadist nabi tapi dengan cara yang ringan dan dijamin gak ngebosenin.
Buku yang mudah dipahami walaupun judul yg dibahas berat. Penjelasannya ringan, tapi mendalam dan tidak bertele-tele, penulisannya pun di tiap babnya pendek-pendek, kayanya halaman paling banyak dari satu babnya itu 7-10 halaman. Sangat menggambarkan Islam yang penuh kedamaian, buku ini dapat menjadi oase bagi para pembaca yang telah jenuh dengan model dakwah yang mudah menjudge muslim lain dengan kafir, munafiq atau lainnya. Asik, menarik 👍
Buku yang sangat bagus yang mengingatkan kita untuk bisa berlaku adil dalam menyaring informasi, sebelum menyebarluaskannya kembali. Banyak pembahasan tentang dalil-dalil yang sering dipelintir, hingga isu-isu hoaks dibahas dalam buku ini. Sangat saya rekomendasikan untuk dibaca bagi Muslim maupun Non-Muslim, agar lebih paham konteks didunia post-truth yang kita rasakan pada saat ini.
Saya pikir, isinya hanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan media sosial saja, misalnya hukum menyebarkan hoaks dan etika bermedia sosial, nyatanya saya mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan lebih luas. Misalnya tentang bagaimana melakukan tabayyun terhadap hadist-hadist, hingga cerita-cerita tentang kemuliaan Nabi Muhammad SAW.
Ada beberapa bagian dari bahasan yang menurut saya tidak melibatkan pembahasan dengan optimal. Namun secara keseluruhan, bahasan- bahasan ini bagus dan cukup update dalam membahas masalah-masalah dalam kehidupan bermedsos. Barangkali bakal ada jilid kedua berkaitan dengan buku ini mengingat selalu ada celah untuk melakukan pemelintiran informasi.
gara-gara sosmed, banyak kesalahpahaman muncul. gara-gara jempol yang jadi juru bicara pengganti mulut. lebih mudah salah dan lebih rame. gimana tidak. medsos cepatnya bukan main. sedetik aja berita sudah menyebar kepelosok dunia. terkadang kita terhasut dengan komen yang lain tanpa mencari tahu kebenaran berita.
salah satu buku favorite saya, yang saya bawa kemana-mana untuk dibaca pada waktu senggang. bahasannya ringan dan disertai dengan sumber. gus nadir mudah mudahan selalu sehat dan mendapatkan yang terbaik di dunia maupun akhirat
Besarnya rasa cinta gus nadir kepada kekasih hati baginda nabi Muhammad ﷺ sangat terasa ketika membaca buku ini, sangat indah dan memberikan pencerahan pada kita semua
Saya sangat suka membaca buku ini, bisa digunakan sebagai semacam pegangan atau rujukan bagi kita yang awam ini, untuk menghadapi serbuan kaum-kaum hoax dan tukang shar-sher tanpa dilandasi ilmu. Benar kata Gus Nadir, membaca buku ini bisa dilakukan sambil lalu, pilih bab yang kita suka, baca, tutup lagi, lain waktu baca lagi bab lain, karena meskipun tiap bab itu sangat berbobot tapi penyajian dari Gus Nadir ini terasa ringan, tidak seperti buku-buku agama lain nya.
Semakin dalam membaca buku ini, semakin terpampang kebodohan kita dengan jelas, tentang ketidak tahuan kita mengenai suatu hal dalam beragama, yang memang perlu perunutan panjang untuk pembuktian suatu hadis misalnya, apakah itu bersifat shohih, dhoif, palsu dan lain sebagainya. Jika selama ini jemari kita tidak tahan untuk memencet tombol share/bagi terhadap suatu hal, maka setelah membaca buku ini, kita bisa lebih berfikir jernih dan bisa menimbang apakah akan lebih banyak mudharat nya atau lebih banyak manfaatnya atas apa yang kita sharing tersebut.
lewat buku ini gus nadir menjawab keresahanku soal kondisi umat islam yang akhir akhir ini gampang tersinggung dan merasa kaidahnya paling benar. penjelasan gus nadir sangat mudah dicerna khususnya bagi orang yang awam tentang perdebatan kaidah islam yang mana yang harus diikuti.