Dirga benci banyak hal. Dia benci Bram karena telah merenggut mantan pacarnya. Dia benci Rafi karena selalu membuatnya terngiang akan masa lalu. Dia bahkan benci Papa karena tak pernah ada untuknya.
Namun, kecerobohan Dirga menantang Bram membuatnya harus berhadapan pada rentetan peristiwa yang tak pernah dia duga: bertemu cewek bawel bernama Alana, sekelas dengan Rafi yang selalu membuatnya naik pitam, serta bergabung dengan ekstrakurikuler paling beken di SMA Mulia Bangsa.
Seperti kejatuhan domino, satu peristiwa mengantarkan Dirga pada peristiwa baru lainnya. Masalahnya, apakah setiap kejatuhan domino itu akan menuntun Dirga pada peristiwa yang lebih baik daripada sebelumnya? Atau justru malah sebaliknya?
An avid reader who also loves to do book photography and writing.
A semifinalist of Gramedia Writing Project batch 3 in 2017. She published her debut novel Falling Domino under Gramedia Pustaka Utama Publisher in 2019.
Afy Zia can be found on Twitter @AfyZia and Instagram @andafy as well.
Mengandung pendapat pribadi! Agak panjang, bacanya santai aja.
Setelah sempat tertunda tujuh hari lamanya, akhirnya aku bisa selesai membacanya. Dan, setelah tertunda tiga hari, akhirnya review-ku sudah siap dipublikasi. Hahaha. Sebelum ini, aku mau kasih tahu alasan kenapa aku bisa lama bacanya. Bukan karena bukunya kok, tapi karena akunya. Akunya mabok ujian jadi buku ini terpaksa di-put off sementara.
Baiklah, mari kita mulai reviewnya. Aku bagi dua bagian, yaitu hal yang aku suka dan kurang--kurang bukan berarti benci ya. Kenapa kata 'aku'-nya dibold? Untuk menegaskan sekali lagi, review ini berdasarkan diriku. Boleh setuju, boleh juga tidak.
Hal yang aku suka dari buku ini
1. Gaya bahasanya Aku suka tata cara bahasa Afy dalam menggambarkan situasi dan kondisi. Tidak terbelit, sederhana, dan pilihan katanya tergolong enak karena mudah dipahami. Ini membuat ceritanya terasa mengalir dan tidak perlu waktu lama untuk memahami atau membayangkan keadaan yang terjadi di dalam novel.
2. Penokohan Setiap tokoh punya ciri khasnya, dan penulis bisa membangunnya cukup baik. Terlepas dari kata 'remaja labil', setidaknya Rafi, Alana, Dirga, dan kawan-kawan semua memiliki satu sifat yang cukup menonjol. Tidak sampai terlihat banget sih, hanya saja agak terasa sepanjang cerita. Jika boleh jujur, sebenarnya ketiga tokoh utama Falling Domino termasuk tokoh tipikal. Tipikal bukan berarti jeleknya. Maksudnya, tipikal yang sering kita temukan dinovel teenlit dan bahkan kehdupan sehari-hari.
Jadi, ke-tipikal-an tokoh ini sebenarnya bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa jadi kalian anggap klise atau unik juga. Kalau aku sih, dua-duanya. Soalnya, karena tipikal, tokoh-tokohnya bisa lebih mudah nyambung dibayangan. Tapi, karena tipikal juga, watak tokoh terasa klise. But, that's perfectly okay. So many books with typical main characters, and i'm okay with it--as long as the storyline caught me. lol
3. Topik dan konflik Topik yang dipilih Afy merupakan topik umum yang sering kali menjadi permasalahan di remaja Indonesia--atau bahkan dunia. Tentang perbedaan pendapat dengan orang tua dan kenakalan remaja. Karena topik yang seperti itu, terciptalah konflik yang, menurutku cukup menarik. Tenang saja, tidak seberat itu kok konflik yang diangkatnya. Masih tergolong ringan.
4. Percakapan antartokoh Aku suka karena kadang suka kocak dan bikin kesengsem. Suka geli aja gitu kalau ada yang gombal-gombal ala SMA. Konyol gitu. Dan, tokoh Rena itu cukup unik dan lucu.
Hal yang aku kurang suka dari buku ini
1. Latar waktu Jujur, aku sering bingung sama deretan kejadian di novel ini karena kurang jelasnya latar waktu. Sering kali aku mengiranya kejadian itu terjadi di hari yang sama, ternyata bukan. Kadang aku kira terjadi di hari beda, eh ternyata sama. Tapi, ini mungkin akunya yang agak lemot koneksinya. wkwkwk
2. Penyelesaian konflik Oke, ini agak kontradiktif dengan hal yang tercantum dalam 'hal yang aku suka dari buku ini'. Aku memang suka topik dan konfliknya, sayangnya agak kurang suka dengan penyelesaiannya. Menurutku, penyelesaian konfliknya terlalu cepat, bahkan aku kurang mendapat rasa deg-deg-annya. Semuanya kayak berlalu begitu saja. Untuk konflik yang agak ribet, seperti pertentangan pendapat/cita-cita dengan orang tua, aku rasa penyelesaiannya berlalu terlalu cepat. Karena, jujur, perlu waktu cukup lama untuk meyakinkan orang tua tentang keinginan kita. Tapi, yah itu, aku kan agak bingung latar waktunya. Jadi, mungkin saja Dirga sudah cukup lama meyakinkan kedua orang tuanya.
Selain masalah perbedaan pendapat, ada masalah lain yang penyelesaiannya masih agak menggantung. Seperti hubungan Dirga dengan wanita tersayang itu [aku sensor biar tidak spoiler. ehe.] Terus, hubungan Dirga dengan orang masa lalunya. Bagiku, mereka perlu kejelasan sih. Soalnya, agak kurang diceritakan.
Yah, wajar sih, mengingat buku ini hanya memiliki 256 halaman.
3. Pilihan kata Yang satu ini lebih kepada 1/3 bagian awal dari buku ini. Afy agak terlalu sering menggunakan kata 'terperangah'. Semacam, ganti halaman sedikit, kata itu muncul lagi. Aku paham kok, maksudnya untuk menggambarkan bahwa orang-orang kaget lihat tingkah Dirga kali pertama. Cuma agak terlalu sering sih 'terperangah' muncul. Mungkin bisa diganti jadi 'terkejut' atau 'tercengang' atau 'ternganga'.
4. Chemistry para tokoh Chemistry bukan selalu berarti relasi percintaan ya. Bisa saja persahabatan atau afeksi orang tua dan anak atau permusuhan. Sebenarnya, cukup terasa. Hanya saja, belum sampai seperti berikatan kuat. Mereka semua punya hubungan, tapi belum sekuat itu. Dirga-[sama musuhnya] saja agak kurang 'perang'nya. Gimana ya ngomongnya...
Kurang greget gitu kebenciannya(?)
Gitu aja sih.
OH YA.
Perihal romansa, ya seperti teenlit SMA. Tapi bukan yang bucin-bucin gitu kok. Masih wajar. Hehe.
Sekian review-ku ini. Aku merekomendasikan untuk kalian yang butuh bacaan cepat dan ringan.
Untuk Afy, sukses untuk karya selanjutnya ya! Mohon maaf bila ada bahasa di-review-ku yang kurang berkenan. Good luck! <3
Nggak tahu kenapa, hati rasanya hangat ketika selesai baca buku ini. Teenlit emang nggak jauh-jauh dari yang namanya pacaran, persahabatan, dan keluarga. Buku ini menceritakan Dirga dan sekelumit kehidupannya yang awur-awuran.
Dalam buku ini kita diajak untuk mendalami mengenai sudut pandang. Misalnya Dirga yang casingnya beneran buruk, rupanya menyimpan sakit hati yang amat sangat. Selain itu masih banyak lagi kok. Intinya kita nggak boleh nge-judge orang hanya melalui sudut pandang kita saja, karena sudut pandang orang lain belum tentu sama seperti kita. Sesekali, kita perlu memosisikan diri kita sebagai orang lain.
Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, buku ini sangat mudah untuk dinikmati. Bahasanya yang nggak berat, serta percakapannya yang 'remaja' banget berasa gampang diserap. Plot serta twist-nya rapi, nggak bolong-bolong gitu. Premisnya sip pokoknya. Plus, kovernya itu Dirga banget.
Chemistry antar karakternya juga oke, terutama Alana dan Dirga. Mereka itu cute banget, aku sempat senyum-senyum sendiri. Haha *teringat masa muda* eaaaaa, kayak udah tuwir aja bleh!
Kalau ada yang nanya apa buku ini page turner, aku jawab ya. Apalagi waktu udah masuk ke dalam konflik dan twist-nya. You will know why its called Falling Domino.
3.5🌟 tadinya mau review di instagram, udah bikin caption juga, tapi sepertinya aku gak bakal ada di ig untuk waktu yg lama...bahkan mungkin gak bakal balik lagi haha Jadi reviewnya di sini aja deh ..
I have mix feelings about this book.....but first, congratulations Afy buat anak pertamanya, kapan anak kedua?😂
Falling Domino bercerita tentang Dirga yang gara-gara tawuran sama Bram, harus pindah sekolah ke sekolah yang ada Rafi, orang yang bikin dia teringat masa lalu. Tapi di sana, Dirga juga ketemu cewek bawel bernama Alana. Sejak saat itu, hidupnya kayak kejatuhan domino.😂
Well, aku rasa di cerita ini, Afy bener-bener mendedikasikan (eaaak) tulisan ini buat remaja bangettt, atau cuma feeling aku aja wkw.
Ceritanya sederhana; kehidupan anak SMA, badboy broken home, cinta-cintaan, tugas sekolah, musuh-musuhan, impian hehe. Yang bikin beda? Untuk ukuran teenlit, plotnya cakep!
Aku ngerasa cerita cukup pendek dan padat, tapi entah kenapa kerasa panjang gitu, mungkin gegara gaya bahasanya kali ya..cara Afy nyeritain tuh bener-bener dipikirin apa quote yang harus nyempil di setiap "musibah"😂
Jujur di sini aku lebih suka soal cinta-cintaannya drpd yg lain haha, kemistri Dirga sama Alana dapet banget, terus soal masa lalu Bram-Dirga bikin bimbang antara suka atau nggak.
Aku suka mereka mau balapan itu loh wkwk pengen cepet2 rasanya, soalnya aku suka cerita tentang kenakalan remaja haha. Tapi bagian Melodi itu yang aku kurang suka..bikin tepok jidat🙃
Trus plot twistnya sumpah bikin kaget😱 kayak nggak ada clue apa-apa trus jadinya bingung sama masalah keluarga si Dirga ini. Kayak ada yang kurang dijelasin aja gitu hm..dan juga masa lalu Dirga-Fia juga masih tdk terjawab haha
Aku suka cita-cita Dirga, aku suka dia mau bertahan di SMA Mulia Bangsa gegara The Fabllers dan bukan Alana. Aku suka Alana karena namanya cakep hahaha dan cepet ya niat dateng niat untuk move on😁 aku kzl sama Rafi soalnya dia kayak playboy tukang ngebaperin yg sok-sokan gatau🙄😂
Overall, aku suka bangettt sama kovernya!! Terutama warnanya yg cakep😭 endingnya yang tentang tipu muslihat itu leh ugha gayanya😂😎 epilognya bikin seneng soalnya itu yang aku tunggu-tunggu tapi malah ending haha😂
Rekomen buat kalian remaja-remaja SMA yang mau hiburan dengan baca plot cerita yang antimainstream ini😁👍
Awalnya gregetan sama si Dirga, juteknya itu loh. Tapi ya emang ada sesuatu juga sih dia jadi begitu. Sikap Dirga manis juga sih.
Alana, kasian dia patah hati. Untung saja dia bisa menemukan orang yg tepat jadinya gak larut2.
Konfliknya rumit sih, konflik keluarganya ini ngena banget, dan konflik romansa cinta pun manis. Jadi pas banget porsinya. Aku suka penyelesaian konfliknya, bikin degdegan.
4 bintang aku dedikasikan buat cerita si Dirga ini.
Baru sempet baca sekarang, padahal udah lama nimbun di rak, hmm ... well, sebelum bahas isi buku, gue memiliki sebuah pertanyaan.
Afy Zia ini adalah Afy yang itu, bukan sih? Yang ada di daftar temen gue? Iya enggak? Kok ... gue merasa kalau asumsi gue ini bener ... (°-°|||)
Oke, mari membahas tentang isi dari Falling Domino ini.
Untuk tema, jujur bagi gue agak sedikit mainstream, dengan cowok badboy sebagai main role-nya .. yang punya banyak masalah, yang selalu menderita diawal cerita, cukup mainstream (just my opinion) itu pula yang membuat gue awalnya enggan untuk membaca buku ini dan membiarkannya tergeletek di rak. Hahah sowrry...
Namun saat gue iseng buka goodreads dan gue gak sengaja baca review tentang buku ini, akhirnya gue pun kepo dan langsung baca nih buku, semalam.
Dari awal cerita pun juga mainstream, cowok badboy yang tawuran. Namun ternyata enggak sesimpel itu, masalah yang dialami Dirga nyatanya enggak semainstream yang gue pikirin, Afy cukup bagus untuk membuat konflik diawal seperti ini (Bram dan Fia).
Lalu adanya tokoh Rafi dan Alanna pun cukup menambah kesan dan warna, walaupun sedikit ganjal dengan peran seorang Fia yang enggak terlalu dieksplor. Kenapa? Padahal kan Fia ini termasuk Main Role yang udah dibawa-bawa namanya dari awal, doi bukan hanya sekedar support role aja. Tapi keberadaannya jarang diperhatikan.
Cuma itu sih yang bikin gue merasa cerita ini kurang, terlepas dari masalah tema yang mainstream tadi. Namun apa boleh buat kalau ceritanya mampu bikin gue senyum-senyum sendiri karena tingkah Dirga dan Alanna yang gemay banget itu? (°~°)
Buat Afy, untuk ukuran cerita debut. Ini keren. Mungkin gue bakal nunggu cerita lo lagi. Hehe...
Well, just it. Oh, tambahan, covernya bagus, like always, GPU selalu membuat Cover yang eye cathing banget, jadi gudah kan kalo enggak dibeli =)
Aku suka bagaimana cara Afy bercerita. Tata bahasanya rapi dan baik! Karakter-karakternya cukup banyak, ya. Salah satu yang cukup aku suka adalah Alana, tokoh utama perempuannya. (Tapi tidak dengan sifatnya di bagian menuju akhir cerita.) Aku suka Alana karena dia menunjukkan ketegasannya. Tokoh Dirga juga dapat memberikan pesan bagi pembaca melalui perkembangan karakternya, dari seseorang yang auranya negatif 😂, jadi orang yang bisa melakukan hal positif. Padahal dia itu kayak sudah ada di titik muak dengan kehidupan. Sayangnya, ada satu tokoh yang tiba-tiba hilang di akhir, padahal aku berharap tokoh tersebut dibahas lebih lanjut. Tapi dia juga cuma muncul dua kali, padahal kisah dia berperan penting dalam cerita. Novel ini (seperti yang kukatakan) memuat berbagai isu dan pesan bagus mengenai cita-cita dan hubungan keluarga khususnya, meski penyelesaian masalahnya masih bisa diperdalam lagi menurutku. Satu hal lagi, ada salah satu isu yang penulisnya sendiri garisbawahi perlu dibaca secara hati-hati, karena bisa "memicu". Makanya, novel ini dilabeli 17+. Secara keseluruhan, aku mengapresiasi dengan baik debut pertama Afy ini, terlebih lagi penulisannya yang baik sekali. ❤️
Ceritanya so-so aja sih. Berhubung bukunya tipis, jadi bisa selesai dalam sekali duduk.
Falling Domino, bercerita mengenai Dirga yang hobi membuat keonaran di sekolah. Sejak masuk SMA dia sudah 5 kali berganti sekolah. Hal itu lantaran kurangnya perhatian dari sang Papa dan juga perceraian kedua orang tuanya yang membuat kenakalan Dirga semakin menjadi-jadi.
Disekolahnya yang baru dia bertemu dengan Alana, seorang gadis riang yang selalu berfikiran positif. Alana menyukai Rafi tapi Rafi selalu menganggap Alana sahabat.
Pertemuanya dengan Alana menjadi efek domino dihidupnya. Mulai Alana yang memiliki hubungan dengan Rafi yang merupakan orang masa lalunya. Orang tua Alana yang ternyata dulu memenjarakannya, pertemanan Alana dengan Fia yang merupakan mantan pacar Dirga serta kemunculan kembali Bram untuk menghancurkan hidup Dirga dan membuat Alana salah paham.
Mampukah Dirga mengurai tiap benang permasalahanya satu-persatu? Atau benang yang sudah kusut itu memang tidak bisa diurai lagi?
Hmm, sesuai judulnya ya Falling Domino jadi banyak banget kebetulan disini. Kebetulan si Alanan kenal Rafi, kebetulan si Papanya Alana polisi, kebetulan si Alana tau Bram dan kebetulannya lagi mereka semua kenal Dirga wkwk. Ceritanya itu ya muter-muter begitu.
Berhubung ini novel teenlit ya, jadi problem slovenyapun ya seadanya. Kesanya cepet dan gampang. Padahal kalau dilihat dari rumusan masalahnya yang semuanya menjurus ke Alana, konflik di novel ini bisa dikembangkan menjadi lebih berat lagi loh karena ceritanta bener-bener rumit.
Tapi ya.. menurut saya ini udah oke sih, kembali lagi karena ini teenlit dan target pasaranya pun mungkin para remaja jadi anti klimaksnya saya rasa udah cukup.
Oh iya walapun ini bacaan remaja yang notabene nggak begitu mementingkan realita seperti novel teenlit pada umumnya tapi saya mau protes satu hal nih, karena menurut saya ini tuh kaya nggak mungkin banget. Tentang rumah pohon!
Jadi diceritakan bahwa rumah pohon yang dibangun Dirga itu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Jadi gini logikanya, Dirga bangun rumah pohon itu sebagai tempat pelarian karena sering dibandingkan dengan adiknya yang jenius itu kan? Rumah pohon itu diisi dengan barang-barang mahal dan prestasi olahraganya. Nah pertanyaanya, Dirga dapet duit dari mana buat bangun rumah itu? Belum buat beli isian rumah yang mahal? Dia bangun di tanah siapa??
Oke, memang dia bilang dia bangun dari hasil uang saku dan menang lomba.
Tapi gini, saat dia dibandingkan dengan adiknya, itu artinya dia masih satu rumah kan dengan si adik? Masih belum bercerai dengan orang tuanya kan?
Nah orang tua Dirga itu bercerai ketika dia lulus SMP. Jadi bisa disimpulkan bahwa Dirga membangun rumahnya tersebut saat dia masih SD atau SMP karena saat itu dia masih serumah dengan sang adik dan masih dibanding-bandingkan.
Lalu anak SD sampai SMP mana yang uang sakunya bisa buat bangun rumah sampai diisi barang-barang mewah Tanpa orang tuanya tahu pula! Menangis saya dipojokan dengan keterangan ini. T.T
Sekaya-kayanya keluarga Dirga, orang tuanya memberi uang saku pada anak SD/SMP berapa sih? Yakali selama sekolah Dirga nggak jajan sama sekali karena uangnya buat bangun rumah. -_-
Back to konflik dinovel ini. Seperti yang saya bilang diawal bahwa penyelesaian masalahnya terlalu mudah, beberapa poin penting dinovel ini justru seperti kurang terselesaikan. Misalnya seperti Fia. Bagaimana akhirnya dia? Masih diusirkah? Lalu perasaan Rafi? Dia beneran suka Mila? Alasan logis Papa Dirga tidak jadi menikah apa? Masa sih cuma gara-gara berfikir kalau beliau sudah egois terhadap anaknya? Semudah itu?
Kurang lebih itu unek-unek saya sih wkkw. Untuk karakter Alana, saya suka-suka aja lah. Walaupun menurut saya dia nggak begitu menonjol untuk seorang FL tapi saya suka interaksi Alana dengan Rafi yang bikin greget wkwk.
Oke, sebelumnya mau bilang, sejatuh cinta ini dong aku sama kovernya! 💕 parah sih, sekarang itu kover GPU emang makin kece banget ehehe
Falling Domino menceritakan tentang Dirga dan segala kerumitan hidupnya. Tentang Dirga yang begitu membenci banyak hal dan mencoba berdamai dengan masa lalu. Juga tentang Dirga yang memperjuangkan cita-citanya.
“ … menurut gue cita-cita itu milik siapa aja. Nggak ada batasan siapa yang pantas dan siapa yang nggak pantas untuk punya cita-cita. Selama lo punya keinginan kuat untuk merealisasikannya, di situ pasti ada jalan.” – hal. 131
Overall aku suka sama bukunya. Apalagi konflik yang diangkat itu bener-bener related banget sama apa yang sering dirasain kebanyakan remaja. (termasuk w pada masanya) hahaha
Tokoh Digra di sini mungkin memang klasik. Cowok hobi melanggar peraturan, biang onar, dan suka tawuran. Tapi tenang, di sini Dirga bukan cowok playboy kayak di kebanyakan cerita kok hahahah... Ada something yang membentuk dirinya jadi sering berantem/bikin rusuh. Semua penyebab akan terungkap perlahan di bagian menuju ending.
Lalu, aku suka gimana Afy membuat benang merah untuk setiap tokohnya. Tokohnya juga berkembang. Dan yang pasti aku paling suka interaksi setiap tokohnya hahaha. Ada bagian receh, bikin baper pun ada ^^
Untuk emosinya sendiri aku udah bisa merasakan, apalagi kalo udah ada bagian Bram. Astaga rasanya mau nabok itu orang aja :') Dari awal feelnya udah kerasa. Beberapa kali juga sempet dibikin nyesek waktu muncul adegan Dirga lagi bareng sama keluarganya.
Cuma ada yang aku kurang suka. Nggak tahu kenapa di bagian-bagian awal terlalu banyak pengulangan kata "sejurus" hehehe. Buat aku pribadi itu kayak agak gimana gitu hehehe. Dan di awal juga aku sempet ngerasa bingung sama latar waktunya 😂 Terakhir, aku merasa tokoh Fia agak kurang dieksplor, kemunculannya jugak terkesan tiba-tiba :')
Eh iya hampir lupa kan wkwkwk ini salah satu poin plus dari aku. Banyak kalimat yang quoteable. AKU SUKAK BANGET SAMA KALIMAT-KALIMATNYA 💕
Ah panjang banget ya? Intinya buku ini bagus. Cocok buat kamu yang suka baca teenlit tanpa drama cinta-cintaan yang lebay 💃
Ceritanya klasik seperti teenlit biasanya. Berkisah tentang anak sma yang bad karena broken home, suka tawuran akhirnya pindah sekolah. Aku agak gak suka sama pemilihan katanya. Terlalu rumit untuk kategori teenlit😅
Btw, awal tau buku ini karena Afy adalah salah satu bookstagram Indonesia yang cukup dikenal. Karena itulah tertarik buat baca buku karyanya Afy :)
Genre : teenlit/YA Rating : ☆☆☆.5 . Dari awal baca blurb buku ini, aku udah mengantisipasi cerita self-discovery, self-acceptance. Dan itu memang tergambar dengan baik di buku ini. Tambahan moral yang kudapatkan dari buku ini adalah untuk melihat kedua sisi koin dalam suatu permasalahan, untuk tidak nge-judge orang terlalu cepat, dan bahwa remaja-remaja Indo ternyata ada yang bikin geleng kepala 🤣🤣 (padahal umurku tidak terpaut jauh dari remaja). . Kalau bikin analogi, Falling Domino itu adalah campuran TATBILB, cerita bad guy good girl, dan grey-moralled characters. Afy bisa meng-combine trope2 itu menjadi sesuatu yang enak dibaca secara keseluruhan. Dibumbui dengan isu2 remaja Indo yang... agak gore... seperti tawuran dan .... (#nospoiler) tapi memang begitu kan kenyatannnya. Lihat aja yang terjadi di berita belakangan (kasus Audrey dll). Jadi selama membaca, aku tuh merasa buku ini sweet, easy to read, tapi juga membuka mataku bahwa remaja Indo tuh masih banyak isu2 yang dibiarkan begitu saja. . Nahhh... ummm... Urghh maafkan akuuu, tapi aku merasa konflik puncaknya kurang diperpanjang hehe. Ketika udah seru2nya, solusi langsung ditawarkan penulis. Jadi sebagai pembaca, rasa thrill itu terasa singkat. Dan sebenarnya aku merasa momen ketika karakter2 utama menyadari perasaan mereka kurang di-highlight. Tapiii itu adalah pendapatmu heheh... gimana pendapat kalian yg udah baca? . Tapi ingin apresiasi sekali lagi bahwa si penulis nulis ini dari kelas X. Aku ngapain kelas X? 🤔🤔 jadi secara keseluruhan this is a really good work! Dan aku akan menantikan karya2 berikutnya dari Afy! . 🌟🌟🌟.5 dari Erhi.
"Lo tahu? Sepahit apa pun masa lalu, itu akan tetep jadi bagian dari masa lalu. Selalu kayak begitu. Dan alih-alih meratapi apa yang udah terjadi, kita harusnya bangkit dan melihat masa lalu itu sebagai pelajaran. Lo paham maksud gue kan, Dir?" - Pg. 175 Selesai! Wah wah wah, ini adalah karya perdana penulis yang recehnya banget tapi ternyata novel pertamanya yang nggak bisa dibilang receh. Keren malah. Oke.... Pertama, aku suka sama tema yang diangkat sama penulis. Walaupun ada unsur cinta-cinta ala remaja, tapi di sini lebih di tekankan tentang keluarga & persahabatan. Kedua, dendam itu nggak nyelesaiin masalah, yang ada malah nambah masalah. Relate banget ini sama kehidupan sehari-hari anak jaman sekarang yang ga jauh-jauh dari namanya tawuran, bullying dan lainnya. Ketiga, aku seneng banget sama 3 sahabatnya Dirga: Fasha, Faris & Raka. Mereka tuh bener-bener yang saling jaga, saling dukung satu sama lain. Keempat, beban yang Dirga & Alana masing-masing rasain balik lagi mungkin sebagian dari kita juga pernah ngerasain. Belum lagi interaksi-interaksi Alana-Dirga yang kadang bikin senyum-senyum sendiri. Ini genre teenlit yang konfliknya nggak sesederhana itu gaes. Jadi, segera di jemput yha di toko buku terdekat!
pgn baca buku ini grgr liat reading list temen, trs tertarik sm judul dan sinopsis di bagian belakang buku.
bacaannya cukup ringan, meski ga berbanding lurus sm tema yang diangkat. aku personally suka krn penulis berani mengangkat isu-isu remaja yang mungkin agak riskan untuk dibahas ke dalam sebuah tulisan.
jujur sempet pgn dnf di bab 9 krn ceritanya masih berputar di situ-situ aja, jd menurutku agak membosankan. aku diemin sehari, trs lanjut lagi dan okelah bab 10 ke atas aku mulai nemu hal yg bikin aku termotivasi untuk menyelesaikan buku ini dlm sekali duduk wkwkwkwk.
latar waktunya kurang jelas. bbrp kejadian jg terasa aneh, enggak realistis, dan kesannya seperti 'bukan tempatnya'. idk why sepanjang baca, aku ngerasa flat bgt. part sedihnya kurang kerasa, rasa 'benci' itu jg kek cm tempelan aja. kemistri dirga-alana kurang nampol, tp masi asiq buat diikutin. penyelesaian konfliknya kurang klimaks, dan terkesan terburu-buru. bbrp dialognya kurang natural, bahkan narasi pikiran tokoh satu sama dialog tokoh lainnya bisa sama persis, which is impossible utk kejadian di dunia nyata 🙃
penggunaan kata yang sama, berulang-ulang, di satu halaman yang sama juga bikin aku agak gmn gitu sbnrnya... misalnya; berserobok, terperangah, familier, dsb. mungkin ke depannya bs menggunakan kata pengganti lainnya, seiring dgn pengetahuan diksi yang makin luas.
anyway, tokoh fav ku kayanya fasha deh WKWKKW. persahabatan mereka jg pure bgt!
i originally wanted to give it 2 stars, tp seperti yg uda aku blg, temanya cukup keren untuk diangkat meski penyelesaian konfliknya kurang oke. 😉👍
Cuma bisa bilang keren, dan merupakan salah satu buku yang bisa bikin perasaan gua campur aduk ngga jelas. Bisa tiba-tiba ngerasain bahagia, sejurus kemudian nangis. Pokoknya ini buku keren bisa membawa pembacanya masuk ngerasain hal yang dirasain sama tokoh-tokoh dalam cerita ini. Suka juga sama covernya yang kalem tapi elegan.
Adegan yang paling ngena di buku ini itu ketika si Alana salah paham sama Dirga tentang Fia, aku bisa ngerasain rasa kecewa yang di miliki alana tapi dari sudut pandang lain juga bisa merasakan kalo Alana juga salah karena berpikir terlalu pendek.
Kalau kalian penasaran , langsung baca aja karena sejujurnya ini buku bagus.
"Sepahit apapun masa lalu, itu akan tetap jadi bagian dari masa lalu" - Afy Zia
Falling Domino tentang Dirga yang membenci banyak hal. Dirga yg belum bisa lepas dari masa lalunya shg membuat dia membenci Bram yg telah merenggut mantan pacarnya. Kebencian ini membawa Dirga kedalam rentetan peristiwa yg membawanya bertemu dengan Alana.
Alana yang ternyata terjebak dengan perasaannya yaitu jatuh cinta diam-diam dgn sahabatnya sendiri. Cinta Alana bertepuk sebelah tangan. Alana mencoba melepaskan perasaan yg selama ini terus membunuh dirinya sendiri. Hingga akhirnya bisa move on setelah bertemu Dirga.
So far, ceritanya bagus. Dalam cerita ini setiap tokoh utamanya memiliki masa lalu yg sulit mereka terima dan selama itu jg masa lalu menyakitinya.
Point yang aku ambil disini bukan tentang cinta-cinta anak remaja ini ya. hehe...(ingat umur wkwk) Aku lihat dari sisi lain buku ini yg mengangkat 'Masa Lalu'. Karena menurutku, setiap org punya masa lalu yg memang sulit untuk dilepaskan atau dibiarkan pergi begitu saja. Tetapi, lambat laun jika itu menyakitkan kita harus mencoba melepaskannya.
Dengan melepaskan masa lalu, mungkin kita bisa berdamai dengan perasaannya masing-masing. Memang asa lalu nggak semudah itu lepas karena cukup bnyak memori yg nggak mungkin totally bisa dilupain. Yang hanya bisa kita lakukan ya berusaha melepaskan.
Ketika menyadari waktu takkan terulang kembali dan kita tidak bisa membenahi masa lalu. For now, yaa harus memanfaatkan waktu yg kita punya dengan sebaik-baiknya.
Mix feeling, ghes. Wkwkwk di satu sisi, aku suka karena teknis rapi. Tapi di sisi lain aku nggak bisa mematikan mode editor. Premisnya agak njelimet karena ada banyak (?) atau saking nggak jelasnya. Pokoknya si Dirga ini tipe murid bermasalah yang sebenarnya baik dsb, lalu hidupnya terkena rangkaian perubahan apalagi setelah dia ketemu Alana.
Jadi, yang aku suka: 1. Teknis. Kayaknya cuma nemu beberapa biji deh yang nggak sesuai KBBI, tapi wajar aja, aku menganggapnya selingkung penerbit. 2. Vibe sekolah zaman dulu. 3. Bagian-bagian manis Dirga-Alana. Pas, nggak berlebihan. 4. Gaya nulis yang ngalir.
Sementara yang bisa dikembangkan: 1. Premis dan eksekusi konflik. Dari awal tuh bingung aja gitu golnya apa, terus konfliknya kurang tajam dan terlalu banyak sampai susah fokusnya. Padahal dengan modal penulis yang gaya nulisnya udah sengalir ini, tinggal pengemasan plot aja yang harus lebih diperhatikan. Nggak perlu menggebrak, satu ide sederhana asal dibungkus dengan bertanggung jawab pasti bakal berkesan. 2. Terlalu banyak kebetulan dan hubungan karakter yang saling berbelit. Mereka nggak perlu semuanya saling kenal 😅 3. Beberapa bagiannya mengingatkan aku sama novel-novel lama jebolan GPU juga. Wajar sih, namanya debut, aku pun sampai sekarang kadang kebawa vibe buku kesukaanku.
Secara keseluruhan, buku ini cukup menghibur dan tidak bikin migrain. Aku suka. Semangat buat penulisnya, ditunggu karya lanjutan!
Falling Domino menceritakan sosok Dirga yang membenci Bram karena membuatnya kehilangan seseorang yang ia cintai.
Buku juga mengisahkan tentang masalah keluarga Dirga, persahabatan Alena dan Rafi jg persahabatan Dirga dan teman-temannya. Buku ini tentang harapan, mimpi, dan juga cita-cita para tokohnya.
Well, aku suka sama topik yang diangkat penulis. Cukup pelik sih menurutku ya. Membaca ini membuat kita tahu, bahwa ada banyak yang bisa di explore perihal sosok remaja. Sayang, tapi menurtku konfliknya dan penyelesaiannya kurang 'dalem' dan 'greget'.
Aku suka sama interaksi antar tokohnya. Chemistry antar tokoh 'lumayan'. Mungkin yang aku suka itu interaksi Rafi dan Alena. Rafi such a good best friend❤. Tapi, antara 'Dirga dan Alena' kurang greget.
Aku jg kek semacam 'butuh penjelasan lebih' mengenai keadaan keluarga Dirga. Karena kayak cuma sekilas doang sih, tau-tau begini aja udah✌
Suka sama covernya. Such a eye catching cover 😍.
Btw, aku baca ini via Gramdig, dan kalo gak salah ini termasuk novel remaja ya, Kan? Di label belakang begitu sih. Yang artinya remaja disini mulai 13+. Tapi, pas liat rate umur 17+
Ini aku yg salah lihat atau emg gitu? Secara ini remaja ya, gak harus 17+ juga. Karena memang ringan sih. Atau mungkin ada pertimbangan lain yang menyebabkan rate umur jadi 17+?
Dirga punya. Dia punya banyak penyesalan. Tentang Fia, tentang papa dan keluarganya, tentang sahabatnya, tentang cita-citanya.
"Sepahit apa pun masa lalu, itu tetap akan jadi bagian dari masa lalu." (h. 175)
Falling Domino adalah novel pertama yang saya tamatkan di bulan Juni (yey!) dan saya suka. Untuk karya debut, Falling Domino punya penulisan yang sangat rapi. Konfliknya pun berlapis. Dan karakternya dibangun dengan baik. Geser gambar ya buat baca blurb. 😉 Sayangnya, ada terlalu banyak karakter di sini jadi kadang suka mikir dulu ini siapa 😂. Terus penyelesaian konfliknya terlalu cepat. Selepas konflik berlapis itu ketahuan, semua penyelesaiannya terasa buru-buru. Bakal lebih bagus lagi kalau penyesalan karakter di Falling Domino diperdalam. Btw, ada satu scene yg bikin saya rada gimana. Pas Dirga kabur ke kamar mandi cewek itu. Si Dirga kan kabur, tapi ... Pak Umar yg ngejar kan nggak? Kok bapaknya selo banget masuk kamar mandi cewek 😅 Yah secara keseluruhan Falling Domini merupakan karya debut yg solid. Saya menantikan tulisan Afy selanjutnya. 💙
very typical of bad boy romance tp gatahu lah ya aku lg pengen ngerasa kebodohan jadi anak sma lagi jadi baca aja wkwkwkwk bagusnya sih di buku ini tokoh Dirga lebih ke immature dan ga toxic jadi bagus di perkembangan karakternya. agak ga realistis di bbrp bagian dan kayaknya lebih ke author sangat have fun saat nulis 😂😂
1. temen2 Dirga berniat buat ngelacak Dirga pakai GPS, tapi gaada tanda2 kalo mereka salong ngesync GPS hape lho. ini caranya gimana wkwkwkwk 2. kenapa ada betrayal betrayal gini woy cuma satu kali dari seluruh buku kalo situasi “ada yg ngikutin gue” (Dirga) diutarakan dan ternyata oh ternyata itu di Danni?? 3. si Alana rambutnya bau coklat. ini aku aja sih tapi… segitunyakah suka coklat sampe mau punya rambut bau coklat??😭 4. Alana keitung cepet ga si move on nya.. kurasa kalo orang suka setengah mati sama orang kayak Rafi sampe bertahun2 walaupun masi zaman puber tapi yah, cepet banget ya?
good things i like tho abt this book: - pdkt-nya lucu la i’d give it a pass 💖 kdg jijique tp yasudahlah - friendshipnya aku suka - plot twist dmn Rafi dan Dirga itu [redacted] jujur jadi tambahan lucu utk plot - parenting!!!!
aku adalah tipe orang yang sangat menyukai teenager literature, terutama jika itu mengisahkan tentang kehidupan anak SMA atau anak sekolahan dengan genre romance ataupun komedi yang masuk ke dalam setting cerita tersebut.
jujur, awalnya aku berpikir agar skeptis ketika aku membaca sinopsis Falling Domino ini. karena dari sinopsisnya, sekilas memiliki kesan yang biasa saja. apalagi zaman sekarang banyak sekali novel yang memakai nama Dirga sebagai pemeran utama dalam cerita, jujur aku bosan dengan nama tokoh Dirga.
tapi ketika aku membaca dari halaman pertama sampai terakhir, I must say that, this literature is that impressive on its own way. cerita ini ringan tapi memiliki konflik perdebatan batin yang cukup pelik diantara pemeran-pemerannya. cerita ini juga mengajarkan banyak banget hal yang bisa dilihat sama anak-anak muda. perjalanan menuju dewasa anak-anak SMA pada umumnya, bener-bener dijabarkan di cerita ini. tentang betapa beratnya seorang anak yang memikul tanggung jawab sebagai kakak dan sebagai anak yang dituntut untuk menjadi apa yang bapaknya inginkan. terlepas dari pemeran utamanya yang begitu banyak dikisahkan dalam cerita ini sendiri, kursi penokohan antara pemeran utama wanita dan teman-teman pemeran utama pria semuanya pas.
thumbs up for Afy Zia yang mampu menyulap cerita dengan sisi gelap yang dikemas secara menggemaskan, penuh haru dan menguras emosi. 🌹
Premisnya terlalu basic beserta eksekusinya yang kurang mateng. Karakter-karakternya banyak yang sekadar muncul tapi nggak dikasih ciri khas watak ataupun latar belakang yang masuk akal, misal Bram yang ditakuti itu karena apa? Kalau nggak dijelaskan latar belakang dia malah jadi konyol semua pertikaian Dirga dengan Bram.
Point of view orang ketiga serbatahu yang berubah terlalu cepat. Lagi membahas Dirga di awal bab, tau-tau berubah ke sudut pandang Alana padahal posisi mereka lagi berjauhan. Memang ada yang begini dan nggak masalah, cuma kalau tidak memakai cara yang oke malah jadi terasa loncat-loncat. Kayak lagi main The Sims lalu kita ubah karakter tiap satu menit sekali.
Momen berantemnya cuman sedikit, banyaknya momen PDKT Dirga-Alana. Seolah konflik utamanya terlupakan gitu aja. Juga soal The Fabllers yang sempat absen di pertengahan cerita. Kerja kelompok Dirga-Alana yang terkesan terburu-buru, baru juga dapet ID LINE tapi udah latihan masak.
Sebenarnya novel ini menarik. Kisah teen litnya terasa banget, tapi konflik Dirga dengan Bram terlalu deep untuk jadi teen lit. Malah jadi terasa bertabrakkan dengan konflik yang khas teen lit banget di novel ini. Mungkin bisa konflik Dirga dan Bram dibuat lebih sesuai dengan teen lit akan terasa lebih baik.
Ada beberapa konflik yang tidak selesai di novel ini. Terutama tentang mantannya Dirga yang hamil. Tidak ada kelanjutan bagaimana hidup gadis itu, padahal dia yang mengalami problem paling berat.
Penyelesaian konflik Dirga dengan keluarganya juga terasa kurang memuaskan. Dirga dan Rafi sudah lama menjauh dan saling salah paham, tetapi konflik di antara mereka bisa selesai hanya dengan beberapa kalimat saja. Tidak ada adegan klimak untuk penyelesaian konflik mereka sehingga terasa datar.
Hubungan Dirga dan Alana terasa pas sekali untuk teen lit. Bener-bener rasa hubungan anak sekolahan.
Yang aku suka di novel ini, kita diajak untuk belajar berharap, meskipun kita tau harapan itu kecil atau bahkan nggak ada. Sama kayak Dirga, ngerasa hidupnya gitu-gitu aja. Sudah ada 'catatan' dari kepolisian yang pasti cukup menghambat dia di masa depan. Keluarga di rumah juga nggak bagus-bagus amat. Jadi mungkin itu salah satu alasan dia untuk 'cari perhatian' di luar sana. Aku juga suka persahabatan Dirga sama Faris, Fasha dan Raka, kayak apa ya? Mereka tuh solid banget. Nolong temen tanpa minta imbalan sama sekali. Kayak persahabatan cowok pada umumnya, tapi lebih solid gitu.
Nilai 2.5/5 dari saya, maaf - Fia dan Alana nggak begitu dekat. Tapi, Fia langsung nyeritain masalahnya ke Alana pas nggak sengaja ketemu - Terlalu banyak nama yang tidak penting. Seperti guru yang ditemui di ruang TU, nama orang tua Dirga, nama orang tua Alana, nama orang tua Rafi, nama guru olahraga, Dimas. Rino, Rei, dan sebagainya - Kemal kan cuman lihat Dirga main basket. Kenapa yakin banget Dirga jago sepak bola? - Nasihat antar tokoh terlalu memaksa - Puncak masalahnya kurang "wah"
Novel teenlit yang bagus karena membawa banyak sisi tema: pertemanan, romansa, keluarga, dan kehidupan. Banyak hal yang membebani Dirga tetapi dia beruntung mengenal Alana, cewek cerewet, yang membuatnya berubah secara perlahan menjadi lebih baik.