Jump to ratings and reviews
Rate this book

Allah Tidak Cerewet Seperti Kita

Rate this book
Buku ini merupakan kumpulan ceramah Emha Ainun Nadjib di berbagai majelis. Tema-tema ceramah yang dipilih terkait hakikat ajaran Islam yang luwes dan tidak menyulitkan—jauh dari kesan yang ditimbulkan oleh sikap dan perilaku sebagian umat Islam masa kini.

240 pages, Paperback

First published April 1, 2019

5 people are currently reading
91 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books484 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
39 (55%)
4 stars
23 (32%)
3 stars
7 (10%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Nadya Kurnia.
23 reviews3 followers
October 3, 2019
Belajar dari Emha Ainun Nadjib tidaklah mudah. Bukan karena dia doyan mengutip ayat lantas membahas aturan fiqih yang baku dan tak bisa ditawar. Tapi karena kita perlu berlapang dada dan ikhlas membuka pikiran. Ikhlas menerima kalau-kalau apa yang kita kira benar selama ini ternyata salah. Tidak bisa kita datang ke Maiyah atau membaca buku Emha dengan pola pikir kaku dan ngotot.

Dalam buku ini, Emha memberi banyak pelajaran hidup agar tidak kagetan dan gampang marah. Kita diajari untuk tidak polos-polos saja melihat fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Harus mau melihat ‘kenapa’, bukan melulu fokus pada ‘apa’. Emha juga mengajar materi pokok kehidupan, yaitu menjadi manusia. Lantas menjalani hidup sesuai dengan tujuan penciptaan dari Tuhan. Hidup sebagai manusia tidak lantas menjadikanmu sudah lulus jadi manusia. Kamu belum manusia kalau untuk tidak mencuri saja butuh ditakut-takuti neraka. Kamu belum manusia kalau untuk menghormati orang lain saja mesti diiming-imingi surga. Sebab yang perlu diatur dengan perintah adalah hewan. Maka, latihlah akal agar cerkas bersikap dalam situasi apa pun, pandai berperilaku kepada siapa pun. Atas dasar kemanusiaan, atas kesadaran diri bahwa “Saya tahu ini benar dan baik”.
Profile Image for Rina.
35 reviews2 followers
December 28, 2020
Sesuai judulnya, buku ini membahas mengenai kemudahan dalam beragama. Ringan dan santai, Mbah Nun membuat pembaca enjoy menikmati nasehat2 kehidupan yang terkesan tidak menggurui. Sebagai pembaca yang menikmati tulisan beliau, saya optimis bahwa kebaikan2 yang diajarkan dalam agama itu akan kembali untuk keselamatan kita sendiri. Walau terkesan ringan dan santai, namun tak disangka buku ini sungguh emosional. Beberapa nasehat Mbah Nun yang disampaikan menggambarkan sungguh2 besar kasih dan sayang-Nya, tak kuasa saya menahan air mata haru.

Tak hanya itu, pengalaman menyelesaikan buku ini saat saya diopname di Rumah Sakit karena pandemic, memberikan kesan yang tidak dapat saya lupakan. Saya bersyukur telah didampingi buku ini. Terima kasih Mbah Nun!
Profile Image for Al Muaishim.
18 reviews1 follower
August 29, 2022
Jujur, saya membeli buku Allah Tidak Cerewet Seperti Kita karena tergelitik judulnya. Saya belum pernah ikut Maiyahan maupun baca buku penulis. Tapi saya tahu siapa Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dan kepakarannya dalam ilmu agama. Buku ini adalah salah satu dari sekian banyak sumber belajar saya dalam rangka belajar teologi Islam (sila cek profil saya untuk tahu buku lain yang saya baca). Dibanding daftar buku yang telah saya baca lebih dulu, buku ini yang bahasanya paling lugas.

Allah Tidak Cerewet Seperti Kita adalah kumpulan ceramah penulis di berbagai majelis. Tidak ada keterangan tanggal saat masing-masing ceramah dilakukan. Namun, saya bisa menebak konteks karena penulis beberapa kali menuliskan kondisi politis saat ceramah (misal: jual ayat, calon kepala negara yang sowan ke penulis, dll).

"Islam itu mudah, jangan dipersulit", begitu tulisan pada halaman sampul depan. Itu juga yang menjadi benang merah pada 15 judul buku ini. saya akan berbagi bagian-bagian buku ini yang mengena untuk saya:
Judul pertama "Tuhan Bekerja Keras Untuk Manusia", menekankan pentingnya yakin bahwa Allah punya skenario dan menerima amalan kita. Ada satu cerita soal wahyu dari Malaikat Jibril untuk Nabi Muhammad yaitu "Iqra'", padahal Nabi Muhammad seorang buta huruf.
"...Dalam perintah iqra' itu mencakup hal yang luas: kauniyah, qawliyah, sampai pada ayat alam semesta, ayat manusia, ayat tekstual-sampai pada apa yang dimaksud membaca itu adalah meneliti, menganalisis, mendata, menyimpulkan, menarik garis jarak pandang, sudut pandang, dan sisi pandang." (hal. 28)
Iqra' ini pula yang dapat kita pakai dalam membaca persoalan hidup. Kita tahu nasib akan berubah jika kita berusaha. Allah akan bekerja keras untuk kita.

Pada sepuluh halaman berjudul "Menyepakati kebenaran bareng-bareng", saya belajar tentang bedanya berpikir Islam dan silmi.
"Silmi adalah Anda tidak harus hafal Al-Qur'an, Anda tidak harus menguasai semua ilmu Islam. Yang penting, dalam keadaan apa pun, hujan atau kemarau, gelap atau terang, ekonomi krisis atau sejahtera, tetap berlaku baik, tetap berlaku lembut, tetap berlaku penuh kasih sayang, tetap berlaku untuk menciptakan keseimbangan satu sama lain." (hal 103)

Ada kalimat menarik yang saya dapat dari judul "Sedekahlah karena cinta Indonesia", yakni bagaimana penulis mengibaratkan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat sebagai suatu sistem bukannya stratifikasi.
"Tidak mungkin syariat dilkakukan tanpa hakikat, dan tidak mungkin hakikat didapatkan tanpa tarekat. Sementara, tidak mungkin orang yang bertarekat tidak mendapatkan makrifat. Semuanya adalah satu kesatuan sistem." (hal 145)

Ada rasa haru saat diingatkan penulis tentang makna takwa dalam judul "'Berkantil kita satu", bahwa kita harus selalu ingat kepada Gusti Allah.
"Takwa itu waspada, bahwa di dalam hidup Allah tidak pernah absen. Siang, malam, dalam keadaan apa pun, sedih, gembira, Allah tidak pernah absen dari hidup Anda..." (hal 209)

Saya pun memiliki pengetahuan baru mengenai istilah ridha selepas membaca judul "Memilih agar tidak disesatkan".
"Ridha itu tidak sama dengan "menerima". Kalau menerima itu masih ada kemungkinan untuk memperjuangan. Tapi kalau ridha, ya itulah ketentuan dari Allah. Itulah yang terbaik dari Allah." (hal. 223)

Saya menamatkan buku ini dengan perasaan senang, karena banyak ilmu baru yang saya dapatkan. Ilmu mengenai Islam tentu saja, dan yang lebih penting adalah ilmu dalam mencari ilmu. Seperti yang saya tulis di awal ulasan, saya berniat belajar agama lagi. Cak Nun memberi perspektif baru untuk saya mengenai cara membaca hidup ini. Manusia memang harus selalu belajar, jauh lebih giat dari sekadar belajar ujian di sekolah.

Saya diingatkan untuk selalu mencari ridha Allah semata. Bukan mengejar penghargaan manusia, atau merasa takut akan hukumanNya. Pengingat yang baik untuk memahami bahwa identitas agama letaknya di dapur, yang kita munculkan di depan rumah harusnya bagaimana laku kita dalam keseharian. Buku ini cocok dibaca mereka yang telah menjalani Islam dan Iman, lalu berusaha menuju Ihsan.
Profile Image for Ira Nadhirah.
602 reviews
July 29, 2025
Sesiapa sahaja yang membaca buku ini, saya kira perlukan keterbukaan hati yang luas dan asas agama yang kukuh. Ada beberapa bahagian yang mungkin perlu diteliti dalil dan sumbernya. Seperti bahagian berkenaan Nur Muhammad. Mungkin sahaja saya yang kurang ilmu pengetahuan.

Cak Nun ini backgroundnya mungkin lebih ke Sufism, mungkin Cak akan marahkan saya kerana mengkategorikan beliau. Premis utama isi isi ceramah beliau memang banyak berkisarkan sifat manusia itu sendiri, to please Allah kita perlu jadi baik.

Ada beberapa pelajaran yang saya ingat, bilamana Cak mengkritik orang orang yang sudah beribadah dengan ikhlas, dan kemudian mengucapkan 'semoga Allah menerima'. Iya, pastilah diterima. Jika hatinya sudah ikhlas kenapa kita mempersoalkan lagi Allah terima atau tidak?

Dan juga bahagian di mana Cak menerangkan potongan ayat ayat Al Quran, bagaimana ketakwaan seorang manusia itu seharusnya kepada Allah.

Ada beberapa bahagian Cak mengkritik cara Muslim Malaysia beragama, sebagai contoh selain dari Muslim tidak dibenarkan menggunakan perkataan Allah. Dan juga, ramai ibubapa yang menghantar anak mengaji agama di Yogyakarta meski ramai orang Malaysia mengkritik cara beragama di Indonesia. Saya kira kritikan ini sama sahaja bagaimana Cak tidak ingin aliran agama lain dikritik, tidak seharusnya dipandang negatif tanpa diberitahu sebab musababnya.

Pembacaan Maryam oleh Okky Madasari agak membantu dalam pembacaan buku ini apabila Cak beberapa kali menyebut aliran agama Muhammadiyah.

Pelajaran paling utama, jangan lah kita dengan mudah mengkafirkan, mensyirikkan dan membidaahkan cara beragama orang lain. Allah itu tidak suka Muslim sendiri berpecah belah.
Profile Image for Amalia Chairida.
43 reviews1 follower
April 18, 2021
《Allah Tidak Cerewet Seperti Kita》

Buku keduanya Cak Nun yang saya baca. Di buku ini Cak Nun mengajak kita untuk meresapi bahwa sebenarnya Allah itu tidak ribet, tidak cerewet seperti manusia yang penting kita usaha untuk terus berbuat baik.

Dicontohkan di buku, apabila kita terjebak dalam lautan najis pun yang Allah lihat adalah usaha kita apakah kita berenang ke tepian yang kadar najis nya sedikit atau memilih tetap di tengah yang kadar najisnya banyak.

Seperti biasa Cak Nun selalu memberikan penjelasan tentang ayat-ayat Al-Qur'an dengan pikiran terbuka. Kita selalu diajak ber-iqra lagi.

Cak Nun juga kerap kali mengangkat isu sosial politik dan budaya dalam bukunya dan itu yang menjadi nilai plus di setiap karyanya. Ada kalimat yang menjadi sulut untuk instrospeksi diri.
"Yang sakit bukan Indonesia, tapi bangsa Indonesia."
Profile Image for Vito Hamza.
26 reviews
May 2, 2022
Baru baca satu buku Cak Nun lain, yaitu Hidup Harus Ngegas Ngerem. Inti dari bukunya saya rasa kurang lebih sama : Jangan sok bener dalam berislam, karena yang bener absolut cuman Allah dan Rasul. Menurut saya tulisan Cak Nun sangat diperlukan pas kita sendiri sedang "ilfeel" dengan masyarakat sekarang yang seringkali nyebut kafir dan haram.

Selain itu, Cak Nun sering banget nekenin kalo fungsi manusia tuh bukan cuman untuk "khatam" Al-Quran tapi juga harus khatam dengan fungsinya masing-masing tanpa lupa melihat gambaran besar kebutuhan masyarakat. Ini mungkin yang dimaksud jadi sarjana "universitas" / universal.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
329 reviews5 followers
April 21, 2021
Mungkin ini buku kedua atau entah keberapa yang disusun dengan metode menyarikan kembali dari ceramah sebenarnya di berbagai forum yang diasuh Cak Nun.

Buku ini bisa dipedomani sebagai bacaan santai sehari-hari atau mau dieskalasi sekalian menjadi bacaan yang serius. Keajaiban buku ii adalah pembaca dituntun untuk memetakan pikiran secara jernih dan terarah. Menuju cahaya yang abadi. Cahaya maha cahaya.

Cipayung, 21 April 2021.
(bersambung)
Profile Image for Diah Ayu.
319 reviews8 followers
March 24, 2025
+
aku memang sedang butuh dinasehati, dan ada beberapa hal yg ditulis disini cukup mengena buatku. misalnya bahwa 'kebenaran' harusnya adalah sesuatu yang kita proses secara internal di dlm diri kita, sementara yg terlihat dari luar oleh orang lain cukup outputnya saja, yaitu 'kebaikan'

-
karena ini sebenarnya adalah ceramah lisan yg dibukukan, jadi secara struktur penulisan memang kurang rapi. ada yg terasa diulang2, ada juga yg terasa ujug2 tanpa konteks.
2 reviews
January 15, 2022
Buku ini sebenarnyaa akumulasi dari ceramah -ceramah yang disampaikan oleh Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Najib). Isinya tentang refleksi kehidupan, tauhid, dan ada juga tasawufnya. Bagi yang merasa galau akan hidup, buku ini bisa jadi refleksii bahwa hidup tuh nggak usah di buat susah karena sebenarnyaa dunia dan seisinyaa hanyaa ampasnya saja.
Profile Image for oatmeal77155.
366 reviews
June 13, 2024
Keimanan itu hubungan si insan kepada sang Pencipta.
Tapi terkadang manusia bawaannya suka ovt sendiri.
Bukannya tambah tenang, hal-hal printilan diurusi, orang2 ga sepemahaman didebat habis2an. Bahkan terkadang kita lupa, hubungan kita ke sesama manusia juga penting. Jadi plis jangan suka nanyain kapan nikah atau basa basi kok gemukan ya. 😞👾
7 reviews
April 20, 2020
Buku ini ibarat sungai, alur penulisannya jernih dan menyejukkan sehingga mudah dipahami. Keren! :)
Profile Image for baguswicak.
4 reviews
November 25, 2020
Beberapa wejangan dari Cak Nun di beberapa sinau bareng disampaikan di sini. Bahan belajar yg bagus untuk yg sedang merasa haus siraman bagi jiwo nya.
Profile Image for Selvi Ramadhenisa.
27 reviews
March 13, 2021
Bagus banget. ‘Simplifying’ the concept of Islam. Beli buku ini karena jenuh dengan bahasan Islam yang kebanyakan mengenai fikih, ternyata sesuai dengan bagusnya ekspektasi :)
Profile Image for nur'aini  tri wahyuni.
896 reviews30 followers
April 29, 2021
enak dibaca dan dipahami, pembahasan khas bukubuku Cak Nun, dari tauhid sampe NKRI. 3 bab terakhir sungguh bacaan yg menenangkan dan menyadarkan.
Profile Image for Maulana.
9 reviews4 followers
May 5, 2019
Buku yang berisi kumpulan ceramah Emha Ainun Najib terkait ajaran Islam yang luwes dan tidak menyulitkan. Menyikapi maraknya ceramah-ceramah yang memperlihatkan kakunya Islam. Sedikit-sedikit bidah, saling berebut menjadi benar.
Ok pertama akan saya ulas dari segi 'penampilan'. Buku yang terdiri dari 238 halaman ini dicetak dengan menggunakan font yang cukup nyaman untuk mata. Baik dari jenis font yang digunakan maupun ukurannya. Setiap tema yang berbeda dipisahkan dengan lembar halaman berwarna hijau. Selain dituliskan tema besar, juga disertakan highlight kalimat dalam ceramah tema tersebut. Untuk memudahkan pembaca menangkap hal-hal penting yang harus diingat, kalimat-kalimat penting diberikan warna hijau.
Yang kedua mengenai kedalaman materi. Disampaikan dengan padat dan jelas, menggunakan perumpamaan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagaimana kita ketahui bersama Cak Nun (begitu Emha Ainun Najib biasa disapa) secara rutin melakukan "diskusi" dengan masyarakat dari berbagai kalangan lewat Maiyah (tiap daerah punya nama/istilah yang berbeda). Ada 15 buah tema yang dibahas dengan mendalam. Lebih detailnya silahkan berkunjung ke https://bukureviewbuku.wordpress.com/... ;)
Profile Image for Fersa Alaina.
12 reviews1 follower
February 22, 2021
Cak Nun ini memang spesial. Semua dibawakan dengan sangat mudah dipahami. Semuanya yang dianggap sulit, disampaikannya dengan simplifikasi. Membuat semua tuntunan dan apa yang kita pahami yang kita anggap sulit terasa sangat mudah.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.