“Ya, ya, kau sudah bilang,” kata saya. “Nenekmu Indian tulen.”
“—Makanya kontolku gede,” katanya sambil menekankan jempol pada layar ponsel.
Sebuah penis, yang ukurannya biasa saja tapi hitam minta ampun, bergerak maju-mundur di saluran peranakan seorang perempuan gemuk.
“Anjing,” kata saya, dalam bahasa Indonesia.
“Gaya anjing,” kata Salvador, dalam bahasa Inggris.
(Kaum Bergajul Sedunia, Bersatulah!)
Dea Anugrah menulis puisi, kemudian cerita pendek, terutama untuk menghibur dirinya sendiri. Ketika buku-bukunya terbit dia bersiap dihajar komentar-komentar keji dan laporan penjualan yang mengenaskan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya: buku-buku itu diterima dengan baik.
Buku ini adalah bunga rampai nonfiksi pertamanya. Ia membicarakan mulai dari perang sampai industri pisang, dari kesedihan kolektif sebuah bangsa hingga seni membikin senang bagian tubuh tertentu.
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.
Selepas obrolan di Post merayakan terbitnya, buku ini langsung terjual habis. Entah karena banyak sekali penggemar Dea yang datang waktu itu, entah karena tertarik setelah menyimak obrolannya (memang seru sekali.) Saya salah satu yang tidak kebagian, lalu lupa dan waktu mampir ke Toko Budi IBC baru-baru ini saja teringat lagi kalau saya ingin membacanya.
Sepertinya ini memang tipe-tipe non-fiksi yang cocok untuk saya. Opini-opini yang dituliskan dengan baik (dengan pertunjukan luasnya bacaan Dea). Gaya bertuturnya betul-betul asyik. Tulisan Dea memiliki nada yang amat enak untuk didengarkan--kalau itu masuk akal. Kalau berkawan dengan Dea, mungkin saya akan sering minta dia bercerita, apa saja. Betah sekali mendengarnya (dan membacanya).
Hampir keseluruhan buku menggunakan Bahasa Indonesia, kecuali yang memang perlu. Tidak mengurangi keapikannya, malah bikin gembira. Senang bisa membaca buku berbahasa Indonesia yang baik dengan benar. Diksi yang jarang digunakan terdengar wajar dan tidak pretensius (agak pamer kemampuan sedikit tidak apa lah.) Seperti yang Dea jelaskan di “Bersantai di Komering, Kabar Burung dari Pasundan”, ia mempraktikan langsung bahwa Bahasa Indonesia “memang diciptakan untuk kita semua, untuk mewadahi alam pikir dan sejarah yang kita rangkai bersama.”
Dengan data yang sungguh-sungguh, Dea sangat pandai meyakinkan saya untuk percaya saja dengan apa yang dituliskannya. Dari yang gembira hingga yang getir. Bikin saya tersadar juga, bagaimana bisa saya tidak peduli dengan sejarah dan bisnis pisang, padahal pisang adalah buah yang paling saya suka (baik Ambon maupun sekarang mulai terbiasa dengan Cavendish).
Sepertinya saya akan potong rambut di Cut Box Kemang minggu ini.
Pada tahun 1971, kalangan wartawan pernah mengalami kebuntuan saat mencari padanan “relax” dalam bahasa Indonesia. Ternyata kata “santai” yang kita gunakan saat ini pertama kali dicetuskan oleh Bur Rasuanto, penanggung jawab rubrik ekonomi majalah Tempo ketika itu. Ia mengusulkan “santai” untuk padanan “relax” yang diserap dari bahasa Komering di Sumatera Selatan, kampung asal puaknya Bur. Wawasan di atas hanya secuil ihwal menarik yang kucatat setelah menamatkan kumpulan prosa nonfiksi dan reportase pertama yang dibukukan oleh Dea Anugrah, yang lebih dulu dikenal sebagai penulis fiksi cerita pendek maupun kumpulan puisi. Meskipun beberapa subjudul pernah kubaca di portal elektronik, tetap saja tak mengurangi impresi terhadap ragam topik yang ditulis Dea. Dengan perspektif yang menarik, ia membicarakan mulai dari industri pisang, dunia sinematik Clint Eastwood, akun Facebook orang mati, keadaan di Iraq sampai Meksiko, hingga tentang bagaimana karya Hemingway dinilai dengan standar politis baru. Buku ini laiknya magnet, sebab dapat dibaca selagi buang hajat paling masyuk atau dihabiskan dalam sekali duduk. Pada bagian tertentu, pembaca bisa saja berhenti sejenak untuk sekadar berkontemplasi. Dalam satu judul, Dea ingin 'menceramahi' kita bahwa dunia yang ideal itu hampir tidak ada. Ia mengatakan, “Dunia ideal, bagi saya kini, cuma selaput tipis di kaki langit yang terus menjauh saban kita mendekatinya. Yang ada hanyalah dunia ini beserta hidup yang bergulir terus, terus, di dalamnya." Bagian favoritku tentu saja tulisan penutup yang dijadikan judul buku ini. Sinyalir agar kita siap menerima segala bentuk predestinasi, entah puas atau kecewa, karena memang hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.
"Jangan banding-bandingkan dirimu dengan orang lain." Kutipan yang entah dari mana asalnya itu sudah kerap terdengar di telinga atau terbaca di buku-buku atau di Internet. Namun, apalah daya manusia yang punya naluri selalu ingin menjadi lebih baik. Dari naluri tersebut muncullah rasa iri yang merupakan ketidakberdayaan diri untuk menjadi sebaik orang lain. Tentu saja iri itu tidak baik dan dalam Islam pun dilarang seperti yang termaktub dalam Qurat Surat An-Nisa ayat 32:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Hanya saja, kalau bisa, aku akan minta satu hal kepada Tuhan saat ini: biarkan aku mengasuh rasa iriku kepada tulisan-tulisan Dea. Mereka begitu dalam, begitu rinci, begitu indah untuk dibaca yang bahkan aku terbuai dalam setiap topik yang Dea angkat dalam tulisannya. Semakin ke belakang membaca buku yang sebetulnya hanya sebentuk kumpulan tulisan jurnalisme Dea yang kebanyakan bisa diakses di media massa ini, semakin aku menciut atas capaian menulisku sendiri yang tiada apa-apanya. Aku menikmati secara khidmat cerita yang terasa sastra sekali namun tetap dalam koridor jurnalistik yang penuh data, opini, dan kilas sejarah di dalamnya. Inikah yang disebut dengan jurnalisme sastrawi?
Dalam satu titik, rasa iri bisa jadi bermanfaat saat ia menjadi pemicu atau patokan atas output yang sudah kaulakukan. Bila yang kaulakukan masih di bawah patokan, kau akan berusaha keras dan terus berlatih agar posisinya berada di atas patokan itu atau setidaknya sejajar dengannya. Jadi, mungkin aku akan tetap mengasuh rasa iri kepada tulisan-tulisan Dea.
Terlepas dari itu, buku ini sungguh berisi cerita-cerita yang baik sekali untuk dibaca.
Setelah Kartika Jahja dan Diaz pensiun dari menulis di The Jakarta Post, saya sangat jarang membaca kolom opini. Setelah membaca buku ini, saya seperti menemukan kembali minat saya yang dulu.
Ada dua kriteria buku yang menjadi favorit saya: 1. memiliki diksi-diksi yang tidak biasa, yang mengharuskan saya bolak balik membuka KBBI 2. membuat saya merasa merasa bodoh karena ternyata banyak pengetahuan yang dipaparkan dalam buku yang tidak saya tahu sebelumnya Buku ini memiliki kedua unsur tersebut.
Meskipun Dea banyak mengutip, menyebut, dan merujuk pada banyak judul buku, jurnal, majalah, tetapi terkesan dia tidak menyombongkan diri seperti "gue baca ini itu, dan lo enggak". Alih-alih Dea seperti menepuk bahu dengan lembut dan berkata "coba deh perluas tema bacaanmu".
Setelah menamatkannya, saya jadi tergerak untuk lebih mengeksplor minat bacaan saya. Mungkin tentang pisang, timah, ISIS, potongan rambut, bahkan masturbasi.
Dea menulis cerita nonfiksi sama baiknya dengan karya fiksinya, malah saya lebih menyukai tulisan-tulisan di buku ini. Mungkin karena selera saya belaka dari dulu tertarik dengan tulisan-tulisan pendek semacam ini.
Dua puluh cerita dengan tema berbeda-beda, mulai dari film Eastwood, pengalaman uniknya di Mexico, buku dan penulis, perang, isu sosial, masturbasi, hingga cerita tentang tanah asalnya di Belitung. Rampai tulisan ditutup dengan cerita reflektif tentang hidup yang jadi dasar judul buku ini.
Gaya tulisannya memikat, dengan topik menarik bisa membuat betah membacanya berlama-lama. Membaca buku ini semakin membuat yakin bahwa tulisan yang baik lahir dari banyaknya buku yang dibaca.
Essai-essai yang kerap kita temukan di masyarakat, seringkali, mengikuti format yang sudah ditetapkan dengan Goenawan Mohamad. Akhirnya, karya-karya esai yang lahir di Indonesia ini mencoba peruntungan untuk bisa jadi seprestisius itu Goenawan Mohamad. Beberapa, mungkin, berhasil melahirkan karya-karya berbentuk esai yang prestisius. Tapi, tidak sedikit juga, yang gagal dan justru terlihat sangat pretentius alias ngikut-ngikut apa yang sudah menjadi pakem kepenulisan orang lain. GM memang juga sejatinya memiliki basis yang cukup besar, mengingat ia punya nama dan memiliki sumbangsih signifikan dalam perkembangan sastra Indonesia, maka tidak heran, banyak yang mencoba peruntungan untuk mengikuti pakem kepenulisannya.
Di antara beribu penulis muda--penulis-penulis kontemporer Indonesia, ada nama-nama unik yang justru mencoba melepaskan pakem tokoh-tokoh sastra Indonesia kawakan itu. Baik dalam karya fiksi, mau pun karya-karya non-fiksi. Salah satunya, menurut saya, tentu adalah Dea Anugrah. Buku "Hidup Begitu Indah, Dan Hanya Itu Yang Kita Punya", sebenarnya tidak serta merta menyoroti permasalahan-permasalahan filosofis dan kontemplatif ala esai-esai kawakan penggawa sastra itu. Bahasannya tampak lebih liar dan lugas, Dea seperti memasuki dunia yang jauh dari masyarakat Indonesia pada umumnya. Enggak, enggak secara harfiah juga. Dea sebenarnya lebih mampu menangkap permasalahan-permasalahan remeh temeh yang tampaknya tidak ditampilkan dalam bentuk esai, atau bahkan hal-hal lain di sekitar itu. Tidak seperti apa yang ditulis GM, misalnya, di Catatan Pinggir, Dea lebih banyak menangkap permasalahan-permasalahan unik ke dalam tulisannya kali ini.
Dengan gaya tulisan artikel populer ala-ala VICE, atau media alternatif lainnya yang memperlihatkan kecairan bahasa dan gaya penyampaian, Dea tidak berusaha menggurui atau memberikan kesan "aku lebih banyak tahu daripada kamu". Dengan menghadirkan gaya bahasa yang cukup sederhana, dan terkesan "nyeleneh", karena kecairannya, aku justru mendapatkan kesan bahwa jangan-jangan Dea memposisikan diri sebagai teman akrab di atas meja yang sama dengan pembaca. Ini kupikir juga bertaut dengan latar belakang Dea sendiri, sebagai jurnalis di asumsi.co (ketika ulasan ini diterbitkan, Dea sudah berada di bawah media kumparan.co). Dengan latar belakang itu, Dea memberikan data yang cukup komprehensif sebagai bahan pembanding atas esai-esainya.
Hal di atas menjadi daya tarik tersendiri ketika kita berusaha menyentuh dan membaca karya-karya Dea. Selain karena kemampuan penyampaiannya tersebut, data yang ditampilkan juga memperlihatkan kemampuan olah data jurnalistik yang khas. Tidak banyak karya berbentuk esai yang bisa menghadirkan data secara komprehensif sebagai pendukung. Apa yang membedakan tulisan-tulisan Dea dari kerja-kerja jurnalistik pada umumnya, tentu saja, adalah bagaimana setelah data disajikan, Dea mencoba melihat kemungkinan-kemungkinan dari data tersebut. Ini mengingatkanku dengan tulisan jurnalistik Titah AW di buku "Parade Hantu Siang Bolong", reportase jurnalistik tadi diolah sedemikian rupa dengan memertahankan subjektifitas penulis agar bisa mendapatkan kesan personal.
Maka tidak heran jika kemudian, esai-esai yang ditampilkan oleh Dea di buku ini topiknya merentang secara luas: dari permasalahan mengenai sambat antar penulis, permasalahan budaya, sampai juga permasalahan yang barangkali orang tidak pernah pikirkan--bahwa suatu saat di Facebook akan ada begitu banyak orang yang mati. Membaca karya Dea, kurang lebih membawakan kita pada hal-hal yang sangat baru, semacam ketika kita pertama kali mendengar Fun Fact atau semacam Trivia tertentu. Menarik, dan tentu membuat kita berpikir "Oh, iya, ya?". Bukan gebrakan baru kupikir di dunia kepenulisan esai, tetapi Dea semacam menciptakan pakemnya sendiri ketimbang mengikuti pakem yang sudah dibentuk oleh penggawa kepenulisan.
Tidak banyak ekspektasiku dalam membaca tulisan (baik fiksi maupun non fiksi) selain narasi yang asyik dan gaya bahasa yang cocok untukku. Buku ini jelas memenuhinya.
Dea Anugrah bukanlah nama asing. Program serial Distrik yang pernah digawanginya benar2 menarik hati, mengajak melongok sisi2 keras Jakarta yang terabaikan kaum kelas menengah kerah putih. Namun sebelumnya saya tak banyak membaca tulisannya.
Suksesnya Distrik membawa saya membaca tulisan2nya di beberapa media. Selintas, saya cukup menikmati, walau saya belum menjadi penggemar tulisannya.
Sampai akhirnya saya membeli buku ini pada gelaran Patjarmerah pada Desember lalu. Kumpulan tulisan yang tak terlalu panjang, ringan, namun berbobot, yang saya yakini ditulis seseorang yang rajin membaca maupun mengalami kondisi2 lapangan & kerasnya keseharian.
Buku 166 halaman ini terdiri dari 20 tulisan fitur yang pernah dimuat di berbagai media, dengan tema amat beragam. Kisah perjalanan, kisah2 penulis & sejarah tulisan, kultur populer & kolektif, rakyat pinggiran, pekerjaan unik, perjalanan hidup tokoh, tapol, & lainnya.
Cara menulisnya yang santai, kadang bergajul & diselipi candaan tongkrongan cowok, namun juga well-researched, menyadarkan saya: gaya menulis beginilah yang saya cari2 & ingin contoh. Terutama, saya menyukai caranya menulis narasi menggunakan "kau" sebagai kata ganti untuk mengundang pembaca menjadi bagian tulisan.
Yang menarik, saya menangkap bahwa dari gaya menulisnya tersirat pertumbuhan seseorang dengan sejarah seksis & maskulinitas toksik yang ingin belajar memahami. Saya menangkap sedikit dari itu dalam diri saya pula.
Beberapa tulisan favorit saya adalah "Tua seperti Clint Eastwood" tentang seberapa kerennya sang maestro film koboi, "Di Mana Ada Penulis, di Situ Ada Cemooh" yang membagikan keunikan cemooh2 lontaran antarpenulis2 kawakan yang punya bobot hinaan kelas dewa, & "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya", yang membahas "radikalisme" & menyebut2 bom 3 gereja di Surabaya (salah satunya gereja saya selama 10 tahun), mengundang saya merenung, bukankah lebih menyenangkan bila kita sama2 memandang hidup yang kita punya ini sebagai keindahan tersendiri alih2 menanti "surga"?
Menarik. Ada kualitas yang bisa ditemukan pada penulisan Dea Anugrah berupa mengawinkan pengalaman, pengetahuan, dan narasi. Bagaimana tumbuh rasa ingin tahu tanpa digurui? Bagaimana membaca fakta namun larut dalam emosi? Bagaimana takjub pada pengalaman orang kemudian ikut merenung?
Semoga Dea Anugrah diberi kelimpahan umur untuk hidup dengan pengalaman-pengalaman menarik, wawasan yang jauh dan luas, serta kemahiran menulis yang memikat nan dalam. Jika suatu saat si penulis menulis riwayat hidupnya dengan model seperti buku ini, tentu bisa menjadi sesuatu yang diwajibkan untuk diperoleh.
Banyak dari isinya udah pernah dibaca di Tirto, tapi karena ini tulisan Dea Anugrah, rasanya tidak beda saat membacanya pertama kali. Kalau ketemu penulisnya ga bakal minta kata-kata mutiara dan tanda tangan, tapi cemoohan yg personal dan menghibur.
"Dea Anugrah adalah penulis jenius. Dan dia tau itu." - saya, yang mempertimbangkan ingin menjadi Kawan Dea (sebutan fans Dea Anugrah).
.
20 judul di dalam buku ini adalah muatan dari pikiran Dea Anugrah yang sinis, kritis, dan satir. Hal-hal yang menjadi topik pembicaraan di buku ini sangat padat dan beragam. Mulai dari membicarakan Clint Eastwood, cemooh para penulis, melankolik kolektif, bisnis jual beli pisang, penciptaan musuh, aksi terorisme, pembunuhan anak, tukang cukur rambut, hingga hal yang paling jarang dibicarakan orang namun kerap dilakukan diam-diam: masturbasi. . Dea tidak hanya menuangkan gagasannya ke dalam bentuk ketikan. Ia memperlihatkan pandangannya yang luas dan kegigihannya dalam melahap buku atau esai-esai "serius" yang pada hakikatnya membosankan. . Saya, perempuan yang juga seusia Dea, sangat jarang membaca non-fiksi. Apa menariknya membaca panjang lebar tentang gagasan dan tetek-bengeknya? Namun, di buku ini, Dea berhasil melebur hal serius dalam non fiksi dengan dagelan gelap yang cerdas. Buku ini amat sangat menghibur. Diciptakan untuk kamu yang ingin menertawakan realitas. Diciptakan untuk kamu yang harus tau, bahwa hidupmu begitu indah, dan hanya itu yang kamu punya. ***
Usai membaca esai Dea yang juga menjadi judul bunga rampai nonfiksinya ini, saya teringat pada masa-masa awal liburan-panjang-tapi-kelam-dan-tak-menyenangkan ini, saat menonton salah satu serial terbatas Netflix, After Life.
Ricky Gervais, melalui karakter bernama Tony, suatu ketika membagi pandangannya tentang kehidupan. Bahwa apa yang kita namakan dengan hidup itu berharga karena ia berbeda dengan film atau serial favorit; tak dapat ditonton ulang, juga tak akan bertahan selamanya. Itu juga yang membuatnya begitu mengagumkan. Suatu hari kita akan memakan makanan, mencium bunga, atau memeluk seorang teman untuk terakhir kali. Tak ada yang tahu persis kapan tibanya yang-terakhir-kali itu, dan karenanya kita mesti melakukan apa yang kita cintai, apa yang kita hargai, dengan penuh antusias, dan sebaik-baiknya. Setidaknya semangat itu dapat membantu membuat ruang kecil yang masing-masing kita miliki di dunia menjadi sedikit lebih baik.
Dengan segala penderitaan dan samarnya tujuan kehidupan, saya, persis seperti Dea, percaya selalu ada harapan dan suatu hal yang patut dirayakan. Selalu. Hidup memang begitu indah, karena hanya itu yang kita punya.
Buku ini adalah buku Dea Anugrah pertama yang saya baca, dan ternyata asyik sekali membacanya!
Dea berbicara tentang banyak hal. Dengan bahasa yang lugas dan segar setiap bahasan yang disampaikan Dea menjadi sangat menarik. Selain bahasa tulisannya yang memang memikat, pokok bahasan yang diangkatpun tidak biasa. Banyak hal-hal baru yang rasa-rasanya tidak akan saya ketahui kalau bukan dari esai Dea ini. Seperti misalnya tentang polemik dari perusahaan pisang, anak-anak yang berusaha menghentikan Perang Salib, sejarah PN Timah di Belitung, sampai barbershop unik di Kemang yang membuat saya ingin mencobanya juga.
Secara keseluruhan karya ini ditulis dengan sangat bagus. Karena Dea baru saja menerbitkan kumpulan esai terbarunya, rasanya saya ingin membaca juga buku itu yang berjudul Kenapa Kita Tidak Berdansa.
Terima kasih perpusnas sudah meminjamkan buku ini!
Sama halnya dengan menulis fiksi, kemampuan membawa narasi juga sangat diperlukan untuk menulis non-fiksi, terlepas dari berat atau tidaknya tema yang diangkat. Dan saya kira hal itu sudah sangat dikuasai mas dea di bukunya yang satu ini.
Mas dea adalah tipe orang yang senang dengan hal-hal yang merepotkan lalu setelahnya malah membuat orang tertarik terhadap hal-hal tersebut. Siapa yang bisa menyangka dalam satu buku terdapat pembahasan onani dan selanjutnya membicarakan rumitnya konflik palestin-israil lalu mengenai dunia pisang secara global.
Mungkin buku ini tidak terlalu penting, tapi cukup menjadi contoh bagaimana menulis non-fiksi yang menarik dan mengasyikan untuk dibaca.
Saya kira Dea lebih pandai menulis cerita daripada esai. Walaupun demikian, tulisan-tulisan di buku ini masih enak dibaca dan berhasil menghadirkan sudut pandang baru bagi pembacanya. Oh ya, saya suka betapa bertaburannya kata-kata yang tidak begitu populer di esai ini, membuat pembacanya membuka kamus, menambah kaya bahasa kita.
argh. jam terbang itu nyata adanya, ia tidak hanya hadir dalam narasi yang piawai dan apik, tetapi juga menghadirkan rasa minder yang amat sangat, betapa menulis bagus itu susahnya setengah mampus.
Review/Catatan pembacaan x 3 - Aku rasa pembacan kali ketiga kumpulan buku esai ini, mengarah kepada konteks yang lain. Dari usia 20an awal di kali pertama dan kedua saya membaca buku ini. Hingga 20an akhir, di kali ketiga. Saya bukan lagi dewasa tanggung, namun semakin matang dari segi usia dan pengalaman. (Meskipun masih bingung, apa itu adulting2).
Peluruhan akan kacamata bewarna atas pesona penulis (yakni Dea Anugrah), penulis dari satu kampung yang sama. Dan penanda akan sisa pencarian jati diri, di usia saya pada masa itu. (pengalaman yang sama dari beliau akan rantau, dan penaklukan Jawa & Jakarta misalnya, masih menjadi rujukan saya).
Ada yang klise dari tulisan ybs. Suara Hemingway terasa sangat kentara, dengan humor yang sedikit berbeda. Dan ritme pedantik dan abang-abangan yang familiar dan terasa. Layaknya Zen RS, atau penulis lain dari generasi beliau yang menjadi rujukan. Suatu wow, sama sekali di usia dewasa-tanggung, sedangkan sekarang rasanya sedikit beda.
Pemahaman akan konteks lain, seperti feud dan konflik yang berlarut dengan NEP di masanya. "Kepensiunan" ybs dari dunia sastra. Dan pendapat dari teman saya yang juga membaca buku beliau, yang tentu jauh dan berbeda level dengan penulis Indonesia yang saya mention sebelumnya. Dan rahasia dan versi dari dua penulis ybs, yang tak perlu saya tahu sebagai pembaca.
Albeit, penemuan kembali buku sebagai sebuah comfort (dalih pembacaan kali ketiga dari buku ini), memberikan kekuatan. Atau nostalgia. Atau perasaan sentimentil. Akan apa yang telah, dan akan saya alami. Di ujung hari, layaknya merapal mantra. Bergumam bahwa hidup begitu indah, dan hanya itu yang kita punya.
- Saya membaca ulang esai-esai ini, untuk memberikan gambaran apa-apa yang akan saya tuliskan untuk esai terakhir saya, di website lembaga pers fakultas. Menulis itu luar biasa sulit, saya masih belum membayangkan tulisan saya mencapai tingkatan tulisan yang jernih dan mengalir layaknya tulisan-tulisan di buku esai ini. Namun, saya tetap membayangkan, begitu penuh dan bergairahnya hidup apabila tingkatan tulisan saya dapat mencapai (atau melampaui) tingkatan tulisan ini, yang saya anggap sebagai representasi dan perwakilan dari suara generasi saya, di tengah kesulitan menghadapi hidup dan beranjak dewasa. Dea Anugrah adalah salah satu penulis yang saya "temukan" dan telah lama mengagumi tulisan2nya saat masih menjadi jurnalis di tirto. Kesamaan minat terhadap penulis dan penyair favorit; Ernest Hemingway dan Subagio Sastrowardoyo, dan kesamaan asal kampung halaman: provinsi Kepulauan Bangka Belitung, membuat saya jatuh hati kepada tulisan-tulisannya, yang telah begitu banyak membantu saya.
Dea Anugrah selama saya mengikuti karir dan persona yang dia ciptakan di media sosial, tentu saja memiliki kontradiksi (yang akan saya bahas di lain waktu di buku kumcernya), namun dalam singkatnya waktu dan kesempatan; saya merasa sangat puas telah menemukan tulisan-tulisannnya dan berupaya untuk menulis sebaik mungkin yang saya bisa untuk menyamakan tingkatan, atau melampaui esai-esai darinya yang telah saya baca.
(Catatan: Kaum Begajul Sedunia, dan Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, adalah dua esai favorit saya)
20 prosa nonfiksi yang mengalir dengan lugas, indah, padat isi, dan penting; tentang maskulinitas Clint Eastwood, Hemingway, perang, seni tata rambut, pembakaran buku, onani, dan akhirnya hidup itu sendiri. Cerdas tanpa perlu jadi intimidatif. Suka sekali dengan buku ini!
Setelah sukses membuat saya terkagum-kagum dengan ragam gaya penulisan yang unik di buku kumpulan cerpennya: Bakat Menggonggong: Kumpulan Cerita Pendek; saya tak sabar melahap buku yang berisi esai-esai nonfiksi dari Dea Anugrah ini. Meski tidak seeksperimental gaya penulisan di kumpulan cerpennya, esai-esai yang ditulis Dea dalam bunga rampai ini tetap memikat. Informasi-informasi unik yang disisipkan dalam esainya menunjukan luasnya pengetahuan dan ragam referensi si penulis. Dea seperti seorang guru sejarah yang menyenangkan. Pandai merangkum bahan ajar menjadi sebuah dongeng yang tak membosankan.
Salah satu esai yang membekas bagi saya adalah yang berjudul "Orang Buta Berpandangan Jauh". Esainya bercerita tentang perjuangan hidup seorang Georg Eberhard Rumphius—pakar botani asal Jerman yang mengabdikan sebagian besar hidupnya di Pulau Ambon untuk mengatalogkan ragam spesies tanaman dan hewan.
Cobaan datang bertubi-tubi, tapi kecintaan Rumphius pada ilmu pengetahuan, mendorongnya terus melangkah ke depan. Di umurnya yang ke-43, Rumphius harus kehilangan penglihatannya karena glaukoma. Tapi itu tidak membuatnya berhenti. Dia terus melanjutkan penulisan manuskrip buku-bukunya dibantu istri dan anak laki-lakinya.
Empat tahun berselang, di tengah perayaan imlek, gempa besar melanda Ambon. Ribuan penduduk Ambon menjadi korban, termasuk istri dan putrinya. Tiga belas tahun kemudian rumahnya dilalap api. Manuskrip, ilustrasi, koleksi spesimen miliknya ikut terbakar. Itu juga tidak mematahkan semangatnya. Dibantu juru tulis dan juru gambar bayaran, ia mengerjakan ulang naskah-naskahnya.
Tahun 1690, karya Rumphius yang berjudul Herbarium Amboinense akhirnya rampung. Tahun 1692, kapal yang membawa salinan naskah tersebut ditenggelamkan angkatan laut Prancis. Tahun 1697, naskahnya terkumpul lengkap di Belanda. Tapi karena alasan biaya dan "keamanan", naskah tersebut tidak juga dicetak dan menjogrorg di gudang arsip.
Tahun 1699, Rumphius menyelesaikan masterpiece-nya yang lain: D'Amboinsche Rariteitkamer. Belajar dari naskahnya yang terdahulu, Rumphius tidak lagi mengirimkan naskahnya lewat petinggi VOC. Tahun 1701, ia menyelundukan naskah D'Amboinsche Rariteitkamer ke Walikota Delft.
Rumphius menutup usia selang setahun kemudian; tahun 1702 di umurnya yang ke-74. Rumphius wafat tanpa pernah melihat buku-buku hasil kerja kerasnya yang panjang diterbitkan. D'Amboinsche Rariteitkamer terbit tahun 1705, sedangkan Herbarium Amboinense akhirnya terbit tahun 1741—39 tahun setelah wafatnya Rumphius.
Dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang diangkat Dea dalam buku ini. Ada kisah Abah Ajip Rosidi yang ternyata gemar bersolek. Katanya abah bahkan pernah meminyaki rambutnya dengan oli mesin penggiling teh. Atau soal melankolia kolektif dan kata hüzün yang dalam konteks penduduk Istanbul berarti perasaan terputus dari bayang-bayang kejayaan bangsa Turki di masa Kesultanan Utsmani.
Ada juga kisah Giordano Bruno—seorang kosmolog, filsuf, dan mantan biarawan yang dibakar hidup-hidup di akhir abad ke-16. Atau asal kata "santai" yang pertama kali dibawa oleh Bur Rasuanto—novelis dan wartawan Tempo—dari bahasa Komering di Sumatera Selatan, sebagai padanan kata relax. Atau tentang praktik monokultur yang mengakibatkan pisang Gros Michel alias pisang Ambon nyaris punah di berbagai belahan dunia. Atau soal 80% anak-anak di Aleppo yang pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan.
Sebuah bunga rampai yang memikat dan layak baca. Cocok untuk menghabiskan waktu luang sembari menambah wawasan.
Ini adalah buku yang sudah lama ada di daftar buku yang ingin saya baca dan saya baru berkesempatan menyelesaikannya beberapa tahun setelah ia pertama kali ada di daftar tersebut.
Beberapa esai Dea yang ada di buku ini sebagian besar sudah saya baca di internet, tapi tetap tidak mengurangi kenikmatan ketika membacanya ulang di buku ini. Mungkin karena saya selalu suka cara Dea bercerita, mungkin karena penyusunan kalimat dan pemilihan katanya yang selalu tepat, atau juga mungkin karena topiknya yang dekat dan saya sukai.
Namun, tetap tidak semua esai dapat saya nikmati. Mungkin masalah selera; beberapa esai yang memberondong nama-nama besar untuk dikutip perkataannya adalah esai-esai yang kurang bisa saya nikmati. Meskipun tentu secara topik tetap menarik. Ini bisa dilihat di salah satu esai Dea dengan topik seputar industri pisang di dunia. Esai-esai selain itu dapat saya lahap dengan kenikmatan yang beragam, campuran antara rasa getir, pahit, miris, dan kocak.
Saya tidak bisa untuk tidak berhenti ketawa ketika membaca esainya di Di Mana ada Penulis, Di Situ ada Cemooh. Juga, tidak dapat untuk tidak bisa membayangkan situasi menyakitkan di esai-esai yang bercerita tentang konflik, membunuh anak-anak, dan perang. Esai yang membawa perasaan getir dan miris jika direnungkan lebih lama.
Dan dari semua esai-esai tersebut, meski juga saya sudah pernah membacanya, tetapi tetap membuat saya meringis sedih adalah esai terakhirnya di buku ini dengan judul yang sama: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Kenangan, memori, dan sederet kisah hidup manusia seharusnya cukup untuk dapat menguatkan seseorang agar bertahan. Tapi, ia juga dapat menjelma menjadi harapan untuk menuju dunia ideal di versi kepala masing-masing orang. Padahal, mungkin, dunia ideal dapat berbentuk apa saja dan dapat pula tidak pernah ada.
"Dunia ideal, bagi saya kini, cuma selaput tipis di kaki langit yang terus menjauh saban kita mendekatinya. Yang ada hanyalah dunia ini, beserta hidup yang bergulir terus, terus, di dalamnya."
"Dunia ideal bisa berwujud apa saja: surga, negara terokratik, masyarakat tanpa kelas, komune mualaf Richard Dawkins sedunia, alam raya yang terbuat dari kue apem. Apa saja, selama ia menjanjikan kehidupan yang lebih baik, bukan dunia yang kita diami saat ini, dan bercacat bagi orang-orang yang mengidamkannya."
"Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat pera- saan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara ibunya berseru-seru dari dalam: "Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!" dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya."
"...Berlalai-lalai dan berlela-lena mereka sudah biasa, juga lengah dan kalem tidak asing bagi kuping, tapi apa, sih, santai? Bur Rasuanto, novelis dan wartawan Tempo, mengangkat kata itu dari bahasa Komering, bahasa puaknya di Sumatera Selatan, dan memperkenalkannya sebagai padanan kata Inggris relax. ...Sila periksa liputan Tempo pada 1971 tentang para eksekutif perusahaan negara yang memimpin maskapai dari jauh. Dalam tulisan itu ada kalimat "Di antara direktur-direktur perusahaan negara, direktur pabrik gula yang paling santai atau relaks."
Di atas merupakan kutipan salah satu esai yang bisa saya nikmati di antara esai-esai lainnya yang cenderung kurang bisa saya nikmati. Esai ini membahas tentang kepunahan bahasa daerah padahal bahasa daerah punya potensi untuk digunakan sebagai padanan kata berbahasa asing.
Esai lainnya yang bisa saya nikmati adalah sejarah tentang Pulau Bangka dan Pulau Belitung, yang jamak disalahpahami sebagai satu kesatuan. Padahal, walaupun keduanya berada dalam kendali pemerintahan yang sama (Provinsi Bangka Belitung), sejarah yang membentuk kehidupan sosial, politik, dan ekonomi keduanya berbeda. Hal ini bisa dilacak dari sejarah eksplorasi timah di sana, dimana timah di Pulau Bangka dikelola oleh VOC (oleh negara) sementara di sisi lain timah di Pulau Belitung dikelola oleh perusahaan swasta. Kemudian bagaimana perbedaan pengelolaan keduanya berpengaruh juga secara ekonomi. Di satu sisi, kebijakan pembayaran di muka yang diterapkan di Pulau Bangka membuat para buruh harus bekerja untuk melunasi utang akibat berfoya-foya di awal, sementara di sisi lain, kebijakan pembayaran di akhir yang diterapkan di Pulau Belitung membuat para buruh yang mayoritas didatangkan dari negeri Tiongkok bisa terbebas dari utang dan memiliki kesempatan untuk kembali ke negeri asalnya.
"Belitung adalah wilayah pertama di Indonesia yang kembali ke tangan Belanda, tanpa peralihan kekuasaan yang diatur Sekutu," tulis Heidhues (Mary F. Somers Heidhues, penulis buku Company Island: A Note on the History of Belitung)
Selain membahas fakta sejarah tentang Pulau Belitung sebagai wilayah pertama di Indonesia yang kembali ke tangan Belanda (18 Oktober 1945), di dalam esai ini juga dibahas tentang ketergantungan yang terlalu kuat para penduduk Pulau Belitung akan perusahaan swasta Belanda pengelola timah (NV Gemeenschappelijke Mijnbouwmaatschappij Billiton/GMB).
One thing that I can say is the author is well-read. He has an extensive list of references and sources, which is to be expected due to his many titles: writer, poet, and journalist.
And most well-read people are good writers. Dea's essays (which mostly have been published on newsportal Tirto and Pindai) in this book are mostly structured like this: historical background or details, then a snippet of a related event in Indonesia. He decorates the essays with literary anecdotes or quotes from books he read, which is interesting.
Aside from being informative, it gives the impression that the events aren't entirely unique or limited to Indonesia only. It might have happened to someone somewhere a long time ago, or simultaneously at a country thousands of miles from here. We get to see the issue from many angles, not navel-gazing.
In the essay about Jakarta's growing number of barbershops, for example, he quoted an excerpt from Hemingway's "A Free Shave"; then when telling about certain local author quarrels, of course he referred to several legendary western authors spats. Despite giving a different and unique colour to the pieces, this technique is a double-edged sword. It could, uh, blur from the main point of the essay. Let's say, the first and last essays.
Dea uses his own life story as leads to the main topics. Talking about a fight with his former (?) friend who joined an extremist group, the piece somewhat ended with a family suicide-bombing case. Perhaps, he wanted to say that enjoying even the smallest and most trivial moments in life could give people hope and purpose; it doesn't always have to grand, like a just world, prosperous society, and whatnots.
Well, I kind of understand his intention, but perhaps the trick just doesn’t work as intended. The piece feels forced, like two puzzles that don't match each other but paired anyway, just to make a piece, whatever it is. As I closed the book, it just dawned on me: what, exactly, is he trying to say?
Maybe that's why, despite being informative and beautifully narrated, the essays still feel lacklustre; like a beautiful person with no personality. Personal essays tend to reflect the writers, like David Sedaris and his cheekiness; Virginia Woolf’s stern and snarky view of mostly everything; or Intan Paramaditha’s conciseness. As for Dea, the first word that came to mind is "boastful" but I could be wrong.
I initially wanted to give 2 stars, the list of interesting essays and books I get from this essay collection, worth another star
Saya telah mengikuti Dea Anugrah sejak dari, segmen street documentary nya di Narasi berjudul "Distrik" saya terpukau melihat kepawaianya dalam menarasikan sesuatu, kemudian juga cara dia dalam berbaur ke setiap lapisan masyarakat. Pada awalnya, saya hanya mengira bahwa Dea hanyalah mas-mas yang demen ngobrol dan menjelajahi wilayah di indonesia, karena pada saat itu saya tidak terlalu sering untuk searching nama seseorang di google ataupun internet.
Akhirnya secara tidak sengaja, teman saya kita sebut saja namanya "James" menyarankan saya untuk membaca buku dari Dea Anugrah, awalnya saya hanya tertawa mendengar celotehan itu. Lagipula "Hah? Buku Dea? Emangnya beliau penulis" Itu yang ada di pikiran saya pada saat itu. Namun voilah! Saya cukup terkejut setelah melihat bahwa, beliau sudah banyak menulis dan beberapa kali memenangkan penghargaan, salah-satunya yang cukup mengejutkan adalah masuk kedalam majalah Rolling-Stone Indonesia.
Saya memulai tulisannya Dea dari buku ini, karena saya anggap buku ini tipis dan cocok untuk memulai adaptasi dalam mengenal tulisannya. Dan alangkah terkejutnya, saya menyukai cara dia menarasikan sesuatu dengan gaya yang "Unik", sesuai dengan deskripsi buku ini "bisa dijadikan sebagai teman cerita seperti camping malam!" Dan itu benar adanya. Tatkala juga, saya menemukan beberapa diksi yang baru dan juga Trivia menarik, serta cerita personalnya yang ia beri sentuhan yang saya rasa manis sekali.
Banyak cerita yang terkesan receh namun ajaibnya, ia dapat menkemas tulisan yang receh dan pendek itu menjadi menarik untuk dibaca sampai habis. Akhir kata, dari penilaian saya sendiri buku ini lebih menunjukkan bahwa; Hidup ini meskipun banyak hal yang pendek dan receh, tapi itulah keindahannya. Dan hanya itu yang kita punya.
Ketika pertama kali beli buku ini, tahun 2020 (yep, you read that right), aku tidak pernah mengira bahwa bukunya akan sebagus ini. Sejujurnya aku bukan orang yang terlalu suka membaca non-fiksi. Tapi entah bagaimana buku Dea Anugrah yang satu ini berhasil aku tamatkan nyaris dalam satu kali duduk (sisa tiga esai lagi tapi aku keburu mengantuk).
Aku belum pernah membaca buku Dea Anugrah sebelum ini. Tidak tahu pula kalau (katanya) setelah terbit buku ini langsung habis. Tapi setelah membaca, aku jadi mengerti kenapa tulisan Dea layak dikagumi. Membaca buku ini seperti membaca diari lama milik temanmu yang pandai bercerita. Sekalipun kamu malas membaca, sekalipun ada banyak hal yang mesti kamu lakukan di hari itu, entah bagaimana kamu enggan melepaskan buku ini dari genggaman.
Dea mengajak pembacanya berpikir bersama. Dan tidak seperti esai Goenawan Mohamad yang seolah meminta pembaca untuk ‘menyaksikan’ isi pikiran penulisnya, tulisan Dea membuatmu ikut tertawa, menangis, dan bergumam, “Hmm, bisa jadi,” selagi membaca. What a fun experience, indeed!
Esai-esai di dalam buku ini tidak saling berhubungan satu sama lain. Jadi pembaca tidak perlu berpikir banyak soal keterikatan antara satu esai dengan yang lainnya. Kamu bisa menandai bagian mana dari buku ini yang kamu suka untuk membacanya berulang-ulang (seperti aku). Di dalam buku ini, pembaca akan menemukan fenomena-fenomena sosial yang digambarkan dalam sudut pandang penulisnya (yang entah bagaimana terasa hangat dan akrab). Bagian favoritku adalah esai di mana Dea membahas mengenai industri pisang dan penyakit Fusarium oxysporum (hei, ini pekerjaanku sehari-hari, untuk mengurusi penyakit dan hama tumbuhan). Bagian favorit kedua adalah esai berjudul Orang Buta Berpandangan Jauh. Walau sedih, aku entah kenapa terus membacanya berulang-ulang.
Kudos untuk Mas Dea Anugrah dan tulisannya yang ciamik.
Buku ini adalah buku terakhir yang saya comot dari rak perpustakaan kota, tetapi justru saya baca pertama kali di antara buku-buku yang sudah saya ambil sebelumnya. Saya habiskan dalam dua kali duduk. Ada tulisan yang pernah saya baca, yang si saya naik ke puncak mercusuar. Dan saya tetap menikmatinya, sebagaimana saya menikmati tulisan-tulisan yang lain.
Setiap bagiannya membahas hal baru, dengan judul artikel ilmiah, buku, atau film sebagai acuan (meskipun pada konteksnya nuansanya lebih seperti berceletuk) bertebaran dalam bacaan. Yang menarik bagi saya tentu "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya," karena saya jadi teringat saat gencarnya kampanye mewujudkan Indonesia sebagai negara Islam masuk ke SMA saya, jadi bikin relate.
Referensi bacaan dan topiknya begitu banyak, bikin kagum. Topik yang dibahas macam-macam, menambah pengetahuan dan bikin saya ingin terus belajar. Cerita "Orang Buta Berpandangan Jauh" tentang Rumphius itu begitu sentimentil. Ada juga di bagian-bagian lain yang bikin saya tertawa kecil.
Sepertinya kalau saya punya buku ini, akan saya bawa ke mana-mana untuk beberapa waktu, dan saya baca lagi sesekali (berbeda dengan buku-buku yang sekadar saya bawa saja dalam tas tapi nggak saya lanjutin; membawa buku ke mana-mana bukan berarti bisa menuntaskannya ...). Saya suka caranya bertutur. Saya begitu kerasan membacanya. Seperti mendengar orang berceloteh. Pengalaman yang menyenangkan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya mencoba kembali peruntungan saya pada bacaan non-fiksi. Buku ini adalah kumpulan tulisan non-fiksi Dea rentang tahun 2016-2018 di berbagai media. Saya menyenangi karya Dea pada awalnya dalam cerpen “Bakat Menggonggong”. Dan beberapa kali membaca tulisannya dari media tempat ia bekerja. Dan saya cukup senang tulisan-tulisan non-fiksi Dea itu.
Buku ini mengumpulkan beberapa liputan yang cukup bahkan sangat menarik. Gaya pembawaanya juga kadang tidak terlalu "liputan banget" sih saya rasa. Haha Dari 20 tulisan, saya menandai kurang lebih 9 tulisan yang menurut saya menarik. Salah satu yang cukup berkesan adalah liputan “Kebebasan dan Keberanian”, mengenai sebuah Barbershop ‘aneh’ di Jakarta. Juga “Di mana ada penulis, di situ ada cemooh” tentang perseteruan penulis dan kritikus (meskipun saya tidak tau banyak nama-nama yang diangkat”. Atau “Tua seperti Clint Eastwood”, yang membahas sosok tersebut sebagai legenda dengan cara yang saya sukai.
Ada banyak hal lain lagi yang saya sukai dari kumpulan tulisan ini. Terutama mungkin bagaimana fakta-fakta dan data itu saling dibenturkan sendiri, saling dipertentangkan misalnya dalam “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi”. Atau meskipun tidak banyak nama dan istilah ataupun keterangan tempat yang diangkat, saya masih bisa mencernanya dengan berusaha memahami konteksnya. Membaca non-fiksi semacam ini menjadi semacam kegiatan mengisi kepala yang menghibur. Haha
Dua hal yang saya duga dari Dea Anugrah setelah merampungkan buku kumpulan esainya. Pertama, dia sangat suka membaca. Referensi bacaannya sangat banyak. Opininya tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu mengutip penulis atau filsuf yang pernah mengutarakan pendapat yang sama dengannya atau minimal menjadi fondasi dalam bernalar hingga sampai pada satu buah pikiran. Yang kedua, Dea sepertinya penggemar Hemingway. Entah berapa banyak namanya disebut dalam esai yang berbeda-beda.
Sebelumnya saya tidak pernah membaca tulisan Dea, baik yang fiksi maupun nonfiksi. Bisa jadi pernah di suatu media, tetapi tidak pernah menyadari bahwa beliau penulisnya. Pada beberapa esai, Dea menggunakan diksi-diksi yang puitis. Saya kurang cocok dengan tulisan yang seperti itu, menyebabkan gagal paham. Saya bilang beberapa, karena ada esai-esai yang ditulis dengan bahasa "normal" buat saya. Dan, saya menikmatinya. Topik dalam buku juga tidak membosankan. Saya bisa menyelesaikan bukunya dalam dua hari.
Dua esai yang menjadi favorit saya adalah Di Sinilah Api Berkobar dan Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Tanpa saya sadari keduanya ternyata bertemakan hal yang sama, yaitu agama. Masing-masing memaparkan bagaimana tuduhan penistaan yang sifatnya subjektif membawa penderitaan bagi yang dituduh dan bunuh diri atas nama agama bisa jadi sebuah bentuk optimisme. Ironis memang. Hati saya mencelos pada paragraf penutup di kedua esai itu.
Buku kurang dari dua ratus halaman ini rasanya tak bisa dihabiskan dalam sekali duduk. Apalagi jika membacanya dengan mendengarkan musik atau terjebak di tempat gaduh. Bagi saya, keheningan malam pun belum cukup untuk menelan habis isi pikiran Dea. Namun anehnya, saya begitu menikmati membaca lembar demi lembar buah pikiran Dea. Hal paling menarik dalam buku ini adalah cara Dea menarasikan data-data menjadi kisah yang menyenangkan untuk dibaca.
Mirip seperti tokoh Hartoyo, dalam salah satu judulnya, Efek Proust, sebenarnya ada beberapa kalimat yang kurang saya pahami di buku ini. Namun saya memilih untuk tetap lanjut dan menghabiskan seluruhnya. Lagi, kata Hartoyo, kita sebagai pembaca bisa memposisikan diri sebagai pendengar yang simpatik. Artinya tidak perlu ngotot untuk memahami segala yang disampaikan penulis.
Keistimewaan lain dari buku terbitan Mojok ini adalah kaya akan coretan sejarah. Dea selalu meninggalkan kisah di masa lalu yang relevan. Dia tengah membicarakan media sosial, orang buta, kesehatan mental atau bisnis, tak ketinggalan Dea mencatut kejadian di masa silam.
Buku nonfiksi ini membuat saya larut dalam dunia penulis. Kepiawaian penulis merangkai alur membuat buku ini serasa sebuah fiksi kumpulan cerita pendek. Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya sempurna membuat saya enggan beranjak dari tempat duduk.
Apakah permintaan maaf dan pengakuan dosa it berguna but Galileo Galilei dan Giordano Bruno? Tentu tidak. Tetapi ia berguna bagi kita. la mengingatkan kita bahwa keyakinan, yang rambu-rambunya ditetapkan oleh para wakil Than di dunia bisa salah. Dan setiap yang bisa salah semestinya tidak menghukum orang dengan cara merampas darinya hal-hal yang tak terkembalikan." Kalimat tersebut merupakan secuil kutipan favorit saya dalam buku ini. Buku in berisikan kumpulan cerita pendek non-fiksi yang menakjubkan oleh Dea Anugrah. Tema-tema yang dipaparkan dalam setiap ceritanya sangat akrab dengan kehidupan kita sebagai manusia seperti perihal kebahagiaan, kesedihan, penderitaan, kekuasaan, persahabatan, hingga perihal keyakinan. Berbagai hal tersebut dibalut dengan sangat baik oleh penulis dalam cemoohan, sindiran, bahkan juga pujian.
Saya rasa cerita-cerita pendek dalam buku. in sangat relatable dengan berbagai keadaan yang kita hadapi akhir-akhir in dan juga mungkin masih kita temui di masa-masa yang akan datang. Adapun tiga cerita pendek yang sangat menarik dalam buku ini menurut saya adalah "Vita Brevis, Facebook Longa", "Disinilah Api Berkobar", serta tentunya "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya".
Buku Dea anugrah ini seperti panggung sok pintar beliau menceramahi orang kolot yany masih terus saja padahal hanya bisa menerka-nerka apa yang ingin disampaikan olehnya. Orang kolot yang saya maksud tentu saja saya sendiri karena tiap bagian buku ini selalu membuat saya terkesima dengan narasinya yant padat tapi mengalirkan informasi dengan cair. Dea memang kelihatan pintar disini dan dia tidak berusaha menutupi kepintarannya tersebut agar mudah dipahami oleh pembacanya. Narasinya terus melaju disesaki info-info tentang sesuatu yang hanya bisa dimengerti ketika sudah berada di tengah bacaan atau bahkan di akhirnya. Tiap judulnya bahkan tidak lagi bisa disatukan dengan isinya yang lari kesana kemari dari ahli botani ke korban PKI. Dari artis film sampai perang antar penulis dengan kritikus. Atau perburuan paus atau barbershop atau cerita sedih hermingway. Ceritanya memang tidak beraturan namun disitulah indahnya membaca buku ini. Lagipula memang harus seperti itu. Siapkan ember yang kosong untuk mengambil air yang banyak. Jangan menolak ilmu hanya krena kamu tau telah menguasainya. Apalagi jika ilmunya datang dengan spontan tanpa dikira2