Banditry was rife around Batavia (modern Jakarta) during the late colonial period, with at least one major robbery committed every day. Banditry in West Java identifies the bandits and describes their working methods and their motives, which often went beyond simple self-enrichment. It also explores the world of the robbers' victims, city-dwellers for whom the robbers were the antithesis of civilization, convenient objects onto which respectable citizens projected their own preoccupations with sex, violence, and magic.
The colonial police force in the Dutch East Indies was reformed in the early 1920s, and banditry was subsequently brought under control. However, the bandit tradition lived on in Javanese popular imagination and folk culture, not least in tales of Si Pitung, a Robin Hood figure who flourished in nineteenth-century Batavia. The author argues that banditry in Batavia was closely linked with the modernization process, particularly the ready availability of firearms and the rise of a money economy. However, her findings do little to support suggestions that banditry should be seen as part of the revolutionary struggle for independence in Indonesia.
Banditry in West Java is a translation of 'Batavia bij Nacht: Bloei en ondergang van het Indonesisch roverswezen in Batavia en de Ommelanden, 1869-1942. (Amsterdam: Uitgeverij Aksant, 2006).
Salah satu poin menarik yang terdapat dalam buku ini adalah bahwa romantisme “Robin Hood lokal” di Batavia kolonial sejatinya tidak terlalu mendapatkan bukti historis yang kuat seperti yang dipercaya selama ini. Setidaknya itulah yang dikemukakan Margreet melalui hasil penelitiannya dengan menelusuri sejumlah sumber historis berupa media-media sezaman. Banyak yang yakin bahwa aksi perampokan yang misal dilakukan Pitung di Batavia pada akhir abad 19-awal abad 20 lalu merupakan tindakan kriminalitas dengan motif sosial, yaitu membagi-bagikan hasil rampokan kepada orang miskin. Pun diyakini bahwa aksi-aksi tersebut ditujukan sebagai perlawanan terhadap kolonialisme. Padahal berdasarkan data yang dihimpun, korban perampokan ini tidak selalu orang kulit putih. Orang Tionghoa dan pribumi pun sama-sama menjadi korban.
Memang benar para perampok ini dalam beberapa hal dikagumi oleh rakyat banyak, paling minim dianggap sebagai jago yang punya kekuatan berlebih di masyarakat. Namun ini juga sekaligus menunjukan sebuah sisi yang ironis bagaimana kriminalitas kerap mendapatkan afirmasi dari masyarakat banyak, yang dalam beberapa hal masih terus berlaku hingga kini. Juga agak aneh jika mengaitkan tindak kriminalitas ini sebagai bagian dari kesadaran kebangsaan/nasionalisme karena juga tidak ada bukti kuat yang mengarah ke situ. Tentu tidak sepenuhnya yang disampaikan Margreet ini tepat, tapi paling tidak ia telah memberikan sedikit gambaran bagaimana dunia kolonial sebetulnya bekerja dan semakin memantapkan struktur kuasanya, yang salah satunya merespon keberadaan para pelaku kriminal ini.