Buku pertama dari Zarry Hendrik yang saya baca. Isinya berupa kumpulan tulisan syahdu dari sang penulis. Semacam curhatan pribadi. Saya hanya mampu membaca sampai pertengahan. Namun pada akhirnya saya paksakan untuk membaca hingga akhir.
Buku ini tidak cocok untuk kamu yang lagi galau atau patah hati karena akan membuat kamu makin jatuh dan terpuruk.
Judul: Titik Lemah Penulis: Zarry Hendrik Penerbit: Media Kita ISBN: 978-979-794-576-3 Tahun Terbit: 2018 Halaman: 206 hlm . . “Pada akhirnya, hati bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang pertama datang atau yang paling berkesan, melainkan tentang siapa yang belum datang, dia berdoa. Ketika dia datang, dia membawa tujuan. Dan apabila dia pergi, dia tidak akan pulang terlambat.” . . 'Titik Lemah' karya Zarry Hendrik adalah buku pertama yang aku baca mengenai tulisannya. . . Berupa sebuah buku tentang kumpulan perasaan yang siapa saja bisa mengalami, ibaratkan dengan manis pahitnya pengalaman pribadi yang dapat dituang dengan kata-kata ataupun kalimat. . . Tak jarang ketika membacanya dengan suasana yang begitu tenang, sesekali memahami maksudnya, akan mengantarkan kita akan pada kilas-kilasan yang datang maupun pergi. . . “Namun, setega-teganya hati yang telah kamu tak acuhkan ini, aku tidak mau mendoakanmu yang buruk-buruk.” ini seperti mewakili hati, mendoakan diri sendiri dan juga dirinya, agar kehidupan selanjutnya tidak sia-sia menumpuk hal-hal yang membuat sesak di hati dan pikiran, berdamailah kepada masa lalu. . . Buku ini cocok buat kita yang kehilangan arah, karena akan memaparkan kita pada nyatanya dibalik kalimat. —menjadi manusia berarti berperasaan. Tidak ada yang memalukan dengan itu. Justru rayakan.
buku ke 2 Zarry Hendrik yang saya baca. Jauh lebih baik dari buku Dear Zarry's. buku kumpulan tentang perasaan ini seperti sebuah surat-surat yang dibukukan. seperti post-postan IG tentang rangkaian kata Zarry Hendrik yang suka dipost di sosmednya, isinya "tulisan Zarry Hendrik banget" sebagus apa? cringe gak? yaa liat aja di sosmednya, termasuk selera kamu gak? kalau aku yaa suka ajaa, banyak yang bagus. Tapi nggak ada kesan yang gimanaaa gitu
Sudah membaca. Karya kontemporer yang sesuai dengan generasi milenial. Sarat dengan pengalaman pribadi membuat bait per bait semakin dekat dengan pembaca. Namun bagi saya pribadi hanya teman di saat tertentu saja, menguap dengan cepat. Bukan untuk direnungkan namun cocok sebagai pencarian teman sejawat.
Tulisan tulisannya seperti membaca timeline twitter dengan kata-kata kadang puitis kadang biasa meski mayoritas tentang kelemahan hati. Yang sedang galau, patah hati atau belum bisa move on...sangat tidak anjurkan membaca buku ini..karena dijamin bisa nambah galau teriris
Membeli buku ini karena hype jasa caption berbayar bung ZH yang bikin penasaran sama karyanya dia. Terus setelah dibaca, ya Tuhan baru sampai halaman depan aja udah nggak kuat nyelesainnya. Harus maksa sih tapi.