Mengisahkan kehidupan Keluarga Cemara yang terdiri dari abah, ema, dan ketiga putri perempuan mereka; Euis, Cemara/Ara, dan si bungsu, Agil. Keluarga Cemara tinggal di sebuah desa kecil di daerah Jawa Barat. Mereka hidup sangat sederhana jauh dari mewah. Abah bekerja sebagai penarik becak dan menjalani pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ema membuat opak, panganan ringan yang nantinya dibawa oleh Euis dan Ara untuk di jual di sekolah atau terminal pasar. Dulu sekali, sebelum Ara dan Agil lahir, abah adalah pebisnis yang sukes dan kaya. Keluarga mereka tinggal di Jakarta. Suatu saat, abah dikhianati oleh rekan kerjanya, harta mereka disita dan mereka pindah ke rumah kecil yang dulu pernah mereka beli di Jawa Barat. Sejak saat itu, abah hidup dengan prinsip yang tak pernah ia tinggalkan dan selalu ia ajarkan ke istri dan anak-anaknya yaitu 'kejujuran'.
Buku ini udah lama ada di reading list saya sejak awal 2021, nyatanya baru sempat baca saat ini. Saya pikir buku ini seperti novel umumnya, ternyata buku ini terbagi menjadi bab-bab yang terdiri dari judul yang berbeda yang sebenarnya nyeritaiin keseharian Keluarga Cemara dengan tokoh-tokoh pelengkap di lingkungan mereka. Semacam buku Lupus gitu! Ada tetangga mereka yang kaya namun agak angkuh, Nyonya Pressier dan anaknya, Pipin yang juga teman sekolah Ara. Ada Ceuk Salmah, Pendeta Eka, Tante Iyos, dll.
Satu hal yang pasti bisa banget diambil dari buku ini ya prinsip kejujuran dari abah dan keluarganya. Gimanapun keadaan mereka, abah ngajariin ke istri dan anak-anaknya untuk selalu jujur, berbuat baik, dan jangan ngambil yang memang bukan hak kita. Bahkan dibanyak bab, abah diceritaiin selalu nolak uang pemberian dari orang lain yang ia tolong tanpa sengaja. Beda cerita kalau abah ngelakuiin suatu pekerjaan dan dia dikasih upah. Pernah baca salah satu review tentang buku ini, dia bilang keluarga abah itu adalah keluarga yang menerapkan stoikisme yang mana gak terpengaruh sama hal-hal diluar diri mereka. Mereka selalu ngelakuiin yang mereka mampu dan walaupun seringkali hasilnya diluar harapan mereka, mereka selalu bisa menerima dan mensyukuri itu semua.
Kalo ngeliat kehidupan sekarang ini, rasanya jarang banget ada keluarga sejujur dan sekuat keluarga abah ini, bahkan dibanyak bab sering banget dibuat kecewa karena kok kayanya sulit banget buat mereka dapet atau ngewujudin apa yang mereka mau. Tapi toh ternyata banyak juga moment-moment bahagia mereka biarpun hidup dalam kesederhanaan. Abah sebagai seorang ayah, digambarkan sebagai sosok yang dihormati dan keputusannya adalah keputusan akhir dikeluarga tersebut. Abah jadi contoh yang baik buat istri dan anak-anaknya yang masih kecil buat selalu hidup jujur gimanapun sulitnya hidup. Pernah ketika lagi ngerasa down dihimpit beban kerjaan, terus lanjut baca buku ini, entahlah tiba-tiba sadar, kayanya banyak yang lebih susah hidupnya tapi mereka enjoy dan grateful aja ngejalaninya. So, maybe I can do the same way. Memang, kita harus melulu diingatkan oleh hal-hal seperti itu, and those reminders can come in many kinds, one of them is a book, maybe. Well, last but not least, buku ini adalah salah satu rekomendasi bacaan ringan tapi banyak hikmah dan contoh baik yang bisa diambil.