Tulisan-tulisan Iqbal adalah ikhtiar untuk melontarkan kritik-kritik sosial yang disesuaikan dengan bahasa zamannya. Upaya seperti ini mesti diperbanyak, agar kalangan terdidik tidak putus komunikasi dengan masyarakat yang harus terus-menerus mereka ajak berdialog. – Ahmad Syafii Maarif
Anda penggemar gado-gado, yang makannya di pinggir jalan sambil duduk mengangkat kaki, ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok? Jika iya, ini buku yang cocok untuk Anda. Isinya dipenuhi dengan tema beragam, mengalir santai, bisa dibaca kapan saja sesuai mood Anda. Dan satu lagi: gaya bertutur penulisnya begitu akrab seperti keakraban Anda dengan Mbok Yu penjual gado-gado. – Nadirsyah Hosen
Ini kali pertama saya membaca karya Iqbal dalam bentuk buku. Biasanya, saya cukup rutin membaca tulisan-tulisan beliau di media Detik dot com. Dan percaya atau tidak, tulisan beliau di sana hampir tak pernah saya lewatkan tiap minggunya. Oh, tidak, bukannya saya mendewakan beliau sehingga merasa perlu sekali untuk membacanya tiap tujuh hari sekali, tapi saya melakukannya karena memang tulisan beliau itu kelewat sayang untuk dilewatkan (begitulah, semoga ini tidak masuk ke dalam koridor mendewakan, ya.)
Sebabnya mungkin bisa dipahami kalau Anda pun akrab dengan tulisaan-tulisan beliau. Entah mengapa, dengan gayanya yang ia sebut sebagai verbalisme dalam menulis itu, saya menemukan ceruk pengetahuan yang unik saja. Tidak seperti opini atau esai di media cetak yang cenderung kaku dan terbaca serius, tulisan saudara Iqbal di sini terasa akrab sekali. Bahkan, di beberapa tulisan, saya membayangkan tengah duduk takzim di depan Saudara Iqbal ini sementara dia sambil ngudut, ngoceh soal perpolitikan tanah air, keadaan sosial di masyarakat, atau isu-isu di Nusantara lainnya. Sialnya—atau malah berkah juga, apa yang Saudara Iqbal ocehkan ini selalu bikin saya manggut-manggut setuju. Persis seperti seorang muda bau kencur yang sowan ke sesepuh yang punya pandangan luas dan tahu pasti bagaimana menyampaikannya dengan bahasa yang menyenangkan. Untuk yang satu ini, saya kagum sekali.
Namun begitu, saya masih dibayangi pertanyaan yang tak juga terjawab saat menamatkan buku ini. Isi buku yang dibagi tiga bab dan dinamai makanan itu latar belakangnya apa, ya?
Lucu-lucu sub bab nya, ada yang tentang PKS, tentang pro Prabowo vs Jokowi. Penulisannya yang ringan dan kocak, bikin nggak mau berhenti baca.
Suka sama pemikirannya Mas Iqbal, meski nggak semuanya aku setuju. Tapi, tetep wajib baca banget sih untuk nambah wawasan seputar sosial, politik, dan agama.
Sebagaimana kekhasan seorang Iqbal Aji Daryono. Selalu menyajikan tulisan yang renyah tentang sebuah fenomena, namun dari berangkat dari sudut pandang yang tak disangka-sangka. Sangat memperkaya wawasan dan pemahaman. Barangkali kerenyahan tulisannya berasal dari gaya bahasa dan pemilihan diksi yang nggak ndakik-ndakik ya. Sangat cocok untuk kamu yang mencari referensi tulisan esai.
Kumpulan esai sosial, politik & agama yg menurut saya sangat renyah dg bahasa yg mudah dipahami untuk menyampaikan berbagai kritik. Tentunya dg analisis tajam yg khas pak Iqbal Aji Daryono (IAD). Rekomended buat mencari gaya penulisan yg lg belajar menulis esai.
baru sekali ini baca tulisan Iqbal Aji Daryono, biasanya cuma baca di status2 efbe nya. sama2 renyah kayak rengginang, baru baca beberapa judul sih..pas buat teman sebelum tidur..