Di setiap pemakaman, pasti ada saja nisan yang tak lagi dikunjungi siapapun. Tak ada lagi yang peduli kisah hidup siapa yang ditanam di sana. Begitupun di setiap perpustakaan, selalu saja ada buku yang tak lagi dibuka siapa pun. Tak ada yang tahu pahlawan macam apa yang tertulis di sana dan tukang tenung seperti apa yang ia taklukan. Demikian pula setiap kerumunan manusia, selalu saja ada seseorang yang nasibnya seperti nisan dan buku tadi. Keberadannya seperti genangan setelah hujan di hari-hari yang tampak sedih - dilewati saja tanpa digubris." Serayu Malam membawa kisah seorang lelaki dan sepatunya, penjudi dan perempuan bercodet, serta kisah - kisah manusia yang bersekutu dengan kejahatan, amarah, bahkan makhluk gaib. Cerita - cerita dalam buku ini bukanlah perjalanan menyenangkan untuk dikenang, namun suatu saat bisa saja terjadi pada anda.
Bagaimana perasaanmu ketika seseorang menulis tentang kampung halamanmu? Bagiku, ada perasaan sedikit iri mengetahui bahwa akulah yang paling paham soal tempat aku lahir dan dibesarkan, tapi malah dia yang menuliskannya. Namun, ada perasaan bersyukur karena pada akhirnya ada orang lain yang menulis tentang kampung halamanku. Dan aku lebih bersyukur karena kumpulan cerita ini membalut kisah-kisahnya dengan indah. Tidak ragu deh merekomendasikan buku ini kepada pembaca-pembaca lainnya.
Serayu Malam adalah trayek kereta api kelas ekonomi yang melayani perjalanan Jakarta Pasar Senen - Purwokerto dengan melewati Karawang, Bandung, Tasikmalaya, Banjar, Sidareja, Maos, dan Kroya. Trayek yang tidak asing bagiku karena selain aku terkadang pulang menggunakan trayek itu, beberapa daerahnya amat aku kenal karena merupakan daerah yang dekat dengan daerah tempat tinggalku.
Selain menumbuhkan rasa rindu yang begitu personal (sialnya, aku membaca ini berpuluh ribu kilometer dari kampung halaman), buku ini juga menghadirkan kembali kenangan-kenangan yang terjadi ketika bepergian menggunakan kereta api. Belum lagi soal perintilan-perintilan kisah yang disajikan.
Ide tentang cerita tokoh-tokoh yang sedang dalam perjalanan menggunakan kereta api Serayu Malam ini, sungguh brilian. Walaupun ada beberapa cerita yang sepertinya dipaksakan.
Berapa kali harus aku bilang bahwa aku sangat menyukai kumcer lokal. Kalimat yang dipadu membuatku merasa rindu, rindu ingin membaca lebih banyak lagi kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis lokal yang unik. Unik dengan gaya bahasanya, kisahnya, karakter tokoh, dan tentu salah satunya adalah kumcer Serayu Malam.
Kupikir serayu malam adalah sebuah sajak tapi ternyata bukan itu. Kisah di dalamnya memiliki kisah yang saling terkait tanpa disengaja, maksud dari cerita tentang seorang pemuda bernama Dirga yang sedang dalam perjalanan menuju kampung halamannya, ternyata ia lewati bersamaan dengan kisah dari para tokoh di dalam cerita, selama menempuh perjalanannya.
Cukup unik. Cerita yang hangat. Juga memorable. Cocok dibaca untuk kalian yang menyukai dan merindukan suasana di kampung halaman.
Buku ini paling pas menemani perjalanan, ukuran dan ketebalan bukunya juga pas di tas kecil👍 Bacaan ringan tapi sarat akan makna, dan yg paling penting isinya tidak menggurui, sederhana tapi tidak murahan, banyak twist yg ngagetin atau terkesan "Astaga..tapi lucu" (lucu dengan banyak makna) nano-nano deh bacanya😁 . Awalnya aku agak kurang minat sih karena baca judulnya #serayumalam ntah kenapa buku ini terkesan galau (udah lama dan kurang minat baca buku2 galau) tapi ternyata... Dibaca cerita pertama.."hmm oke juga"..terus lanjut ke cerita kedua "wah..ini gak kayak penulis pendatang baru"..dan baca cerita ketiga "kayaknya ini cerita favorit aku" (trs kasih lipatan kecil), baca cerita2 berikutnya "wah, ini juga favorit" (dan semakin banyak lipatan kecil, akhirnya semua lipatan dibuka, demi menjaga keutuhan buku) . Satu sesi baca gak kerasa udah setengah buku, (sengaja berhenti biar lebih menikmati kehadiran tokoh2 ceritanya Lanjut sesi kedua, begitu selesai baca, rasanya sayang berpisah sama tokoh2 cerita dalam buku (berharap ada lanjutan kisahnya dalam buku yg lebih tebal)
Bagus banget.... Cara penulisnya menggambarkan adegan-adegan dalam buku ini terasa sangat akrab, seolah kita sendiri pernah mengalami. Bagi yang pernah naik kereta dari Pasar Senen (atau stasiun mana pun bisa, sebenarnya), siapa yang nggak kebayang riuhnya orang-orang yang menunggu keberangkatan kereta? Yang pernah naik kereta malam (atau kendaraan umum apa pun, sebenarnya), siapa yang nggak jadi terbayang sensasinya harus berbagi ruang dengan penumpang-penumpang lain? Mungkin kita pernah bertanya-tanya seperti apa kehidupan penumpang-penumpang lain itu sehari-harinya, atau mungkin kita memilih tidur dan asyik main hp sendiri? Semua gambaran itu terasa hidup dalam buku ini.
Aku kebetulan baca buku ini paralel dengan Keajaiban Toko Kelontong Namiya, dan mendapati keduanya memiliki struktur yang mirip. Keduanya menceritakan kisah hidup beberapa orang yang berbeda-beda, yang dihubungkan dengan satu benang merah. Di Namiya, benang merah itu adalah si Toko Kelontong Namiya. Di buku ini, benang merahnya adalah si kereta Serayu Malam. Pembaca seolah diajak untuk menggeluti cerita-cerita baik dari para penumpang kereta maupun warga yang berkegiatan di dekat jalur rel yang dilalui kereta itu.
Kisah-kisah di buku ini, sekali lagi, terasa lebih akrab dan realistis. Rasanya kiita sendiri pernah mendengar atau mengalami peristiwa yang dialami tokoh-tokoh di sini. Mungkin karena itu aku jadi jauh lebih menyukai cerita-cerita di sini dibandingkan dengan di Namiya.
Banyak kisah dalam buku ini menceritakan tentang orang-orang kecil dengan nasib yang miris, tapi penulis tidak menggambarkannya dengan melodramatis, malah dengan sedikit guyon di sana-sini, walaupun penggambarannya tetap tajam dan peka. Tulisan yang bisa dibilang terasa pahit-manis. Suka.
aku menemukan buku ini secara tidak sengaja di ipusnas. di antara tumpukan bacaan-bacaan yang ingin kubaca, buku ini menyelip dengan senyap. kemudian, tak terasa tibalah aku di halaman akhir . ialah buku yang membuat page turner, ingin membalik hingga sisa halaman di sisi kanan habis tak tersisa. aku sendiri menghabiskan sekitar 2 hari merampungkan buku ini. waktu yang singkat bagiku dibanding durasi membacaku biasanya.
ketika membaca ini, aku merasa seperti diajak berkeliling dan menaiki salah satu gerbong kereta Serayu Malam. mendengar percakapan Mustafa, Hasan Magrib, serta penumpang lainnya. melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam buku ini. sembari berkeliling dengan kereta, aku juga diajak berkeliling di sekitar kereta Serayu Malam yang sedang melaju. melalui awug yang dilempar Lilik, para pemuda di depan Warung Kopi Bersama, atau keributan warga desa yang tampak seperti sedang berperang, dll..
menurutku, penulis benar-benar mahir membuat bab-bab yang sama sekali berbeda menjadi terhubung, oleh serangkai dua rangkai peristiwa. perasaanku ketika membaca ini, rasanya seperti sedang berjalan-jalan di sekitar rumah. sebab, hal-hal yang dikisahkan di buku ini sangat lekat dengan kita. salah satu hal yang memikat dari buku ini yakni diksinya. rasanya, bukannya sedang membaca kumpulan huruf, tapi aku sedang melihat hamparan bunga yang menari-nari. indah.
Serayu Malam sendiri diambil dari nama salah satu kereta api ekonomi yang melintasi jalur lintas selatan yang memiliki rute Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Purwokerto.
Buku yang dikarang oleh Muhamad Wahyudi ini menceritakan tentang seorang mahasiswa Bernama Dirga yang berkuliah di Jakarta yang pulang ke kampung halamannya di Sidareja menggunakan Kereta Serayu Malam. Setiap bab kisah-kisahnya berhubungan satu sama lain, di mana semua sebab-akibat peristiwa di buku ini dijelaskan secara gamblang, contohnya seperti asal-usul dari penumpang sebelah Dirga ataupun kejadian yang dilihat oleh Dirga selama perjalanan kereta.
Walaupun semua hal dijelaskan secara gamblang, tetapi tidak usah khawatir bahwa buku ini masih cukup ringan dan bisa dinikmati tanpa perlu merasa “sumpek”. Selain itu, buku ini pas banget buat dibaca pada saat perjalanan naik kereta, khususnya kereta yang melewati jalur lintas selatan (opini pribadi).
Kisah tentang permasalahan, kerumitan, dan nasib manusia dalam kehidupannya masing-masing. Menyadarkan aku untuk lebih menghargai hidup, dan juga bahwa hidup itu gak terpusat ke kamu aja, setiap orang berjuang untuk masalahnya sendiri, setiap orang punya kerumitan dan kesibukannya sendiri. Sepertinya orang2 yang tidak sengaja bertemu di Serayu Malam itu, mereka punya cerita hidupnya masing-masing. Juga yang di luar, Serayu Malam melewatinya seakan menjadi saksi kisah-kisah unik setiap insan yang berbeda.
Keren bangeeet, setiap kalimatnya indah, suasana sedih, kelabu, tak berdaya, mistis, kampung halaman, kerumitan hidup, semuanya tersampaikan maknanya dengan sangat baik. Aku suka banget bagian lelaki yang mencium kuncup bunga, dan banyak moment2 yang membekas, masih kerasa vibesnya walaupun udah selesai baca.
"Bila waktu bisa pergi dan kembali lagi seperti sebuah kereta, akankah kehilangan-kehilangan tak akan terasa sepedih ini?'
Cerita-cerita yang diangkat dalam buku ini kental sekali dengan kampung halaman, mulai dari hal-hal yang ngangenin, sampai hal-hal aneh lain yang agak menggelitik. Cara penulis mengaitkan satu cerita ke cerita lain juga mengagumkan, hingga ketika membaca satu cerita yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan cerita-cerita sebelumnya, saya menenangkan diri dengan berpikir “pasti ada hubungannya”, dan saya tidak salah, pun terkadang hubungan antara satu dan lain sangatlah unik. Hanya sayangnya, banyak sekali detail cerita yang menurut saya tidak perlu dituliskan karena detail tersebut mengganggu dan merusak mood pembaca. Penulisan beberapa majas dan analogi pun juga terkadang tidak pas dan tidak berirama dengan jalan cerita. Butuh 1 minggu lebih untuk menyelesaikan buku tipis ini karena saya bosan membaca kalimat-kalimat sia-sia yang tidak menarik untuk dibaca.
Cerita yang enak dibaca. Tentang permasalahan kehidupan manusia sehari2, digambarkan dengan banyak perasaan namun tidak meledak-ledak.
Pada awal cerita saya menyangka tokoh utamanya hanya satu namun ternyata Muhammad Wahyudi membawa pembacanya ke dalam banyak kehidupan orang-orang yang beririsan dengan si tokoh utama.
Saya sangat suka dengan cara pengarang menulis cerita ini dari berbagai perspektif dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik pula, tanpa perlu menyelipkan kata-kata bahasa Inggris agar terkesan modern.
Untuk yang mencari bahan bacaan selama perjalanan, terutama yang menggunakan kereta, saya rekomendasikan buku ini.
Salah satu hidden gems di iPusnas. Cuma 200 halaman dan bisa selesai sekali duduk. Berkisah tentang perjalanan seorang pemuda untuk pulang kampung dengan menaiki kereta. Ditulis dalam format kumcer, tapi saling berhubungan antara satu cerita dengan lainnya. Ada benang merah di setiap tokoh karena semua berkaitan dengan Dirga, tokoh utama, seperti: penumpang kereta, orang-orang di stasiun juga penduduk kampungnya. Gaya bahasa dan penuturan yang ringan dan sederhana layaknya buku-buku slice of life.
Bahwa kisah yang menarik tak melulu soal rupa yang sempurna, kehidupan yang nyaman, hingar bingar gemerlap kota besar, atau romansa bak dongeng Cinderela Kisah - kisah yang terpintal melewati rel panjang antara Jakarta - Purwokerto menjadi bukti, bahwa kesederhanaan, kesedihan, kegagalan bahkan tragisnya hidup bisa menjadi cerita menarik penuh makna untuk diresapi,,karena apapun, bisa terjadi pada siapapun di dunia yang hampir gila ini, pun di dunia diluar nalar akal sehat kita.
Rangkaian cerita dari satu tulisan ke tulisan yang lain sangat menarik untuk diikuti. Meski terdiri dari banyak tulisan, cerita pendek, tulisan-tulisan itu disatukan dalam garis lurus. Meski begitu, tidak masalah bila kita hanya membaca beberapa tulisan. Tulisan-tulisan itu pada akhirnya bermuara pada Kereta Serayu Malam.
Ini contoh buku pertama pengarang muda yang berhasil, tidak mengecewakan. Saya lebih suka menganggap cerita-cerita dalam buku ini sebagai bangunan yang utuh, ketimbang sekumpulan cerita, lantaran Wahyudi bisa menjahit benang merah antarcerita secara rapi. Saya akan selalu memanjatkan doa-doa paling intimidatif agar Wahyudi menulis lagi, terus menulis lagi.
Penuh dengan nostalgia soal kampung halaman, seolah saya juga pernah tinggal di sana. Menyitir kehidupan masyarakat kelas bawah yang meski banyak yang pahit, namun dikemas dengan sebuah filosofi yang dalam. Penuh penerimaan dan yang paling saya suka unsur lokalitas yang diusung.
Wahyudi menuliskan Serayu Malam laiknya sebuah cerita yang lari dan terus berjalan namun tetap mengesankan. Menyesal kenapa tidak menamatkannya lebih awal dari seharusnya. Kumpulan cerita yang menarik.
Waktu penceritaannya mungkin hanya semalam, tapi cerita berlangsung lama, dengan tokoh beragam dan saling berkaitan dari bab ke bab. Mungkin awalnya ini seperti cerita pendek, tapi tak disangkal juga bentuknya jadi seperti novel.
kalian harus baca ini, apik sekali,,,, saling terkait antar cerita.. dengan masih membawa nama nama yang orang dulu mayoritas punya menambah nuansa membaca serasa dikampus halaman
serasa ikut pulang ke kampung halaman bersama Dirga dan kereta Serayu malam dengan disuguhkan kisah-kisah kehidupan yang saling berhubung satu sama lainnya
“Doa adalah bunga dan puisi adalah putiknya terima kasih Tuhan, telah menyiramiku setiap hari.”
4/5 🌟 Kumcer yang suprisingly page turner!! Membaca Serayu Malam rasanya seperti diajak berkeliling di kereta malam. Berkenalan dengan tiap orang yang memiliki perjalanan dan kisah hidup yang berbeda-beda, namun antar cerita seperti bertautan. Aku suka cara penuturan penulis yang sederhana dan 'membumi'. Beberapa kumcer mengisahkan kegetiran para tokoh masing² namun masih terselip guyonan yang membuatku terhibur. Kumcer favoritku yaitu cerpen yg berjudul “Lelaki Yang Mencium Kuncup Bunga”
Serayu Malam membawa kisah seorang lelaki dan sepatunya, penjudi dan perempuan bercodet, serta kisah-kisah manusia yang bersekutu dengan kejahatan, amarah, bahkan makhluk gaib. Cerita-cerita dalam buku ini bukanlah perjalanan menyenangkan untuk dikenang, namun suatu saat bisa saja terjadi
Serayu malam adalah kumpulan cerita layaknya omnibus dari berbagai karakter yang saling bersinggungan. Hal ini sedikit banyak mengingatkan saya pada pengalaman membaca "Cantik itu luka" dimana para karakternya punya kehidupan sendiri dalam jalan kisah pemeran utamanya. Kepiawaian penulis merangkai kalimat dalam cerita ini juga sangat indah. Meskipun ceritanya tidak bisa dikatakan drama yang menyenangkan semuanya, namun suasana yang dihadirkan terasa mengalir dan mampu meresap. Menggambarkan kehidupan yang aneh namun bisa saja ada disekitar kita.