Jump to ratings and reviews
Rate this book

Matinya Seorang Penulis Besar

Rate this book
Demokrasi dan pasar telah merekayasa putaran lain: karena kini tak ada opini publik, hanya publik semata, maka si penulis-bintanglah—mereka yang paling tahu cara memanfaatkan media audiovisual, para “seleb media”—yang memberi prestise pada buku-bukunya, dan bukan sebaliknya, seperti yang terjadi di masa lalu. Alhasil, kita telah mencapai taraf degradasi suram yang telah diperkirakan paling bagus oleh Tocqueville: era para penulis yang “mementingkan sukses ketimbang keagungan”.

Alih-alih jatuh ke dalam depresi dan menganggap diri makhluk ketinggalan zaman yang ditampik oleh modernitas, penulis zaman sekarang harus merasa dipacu oleh tantangan berat untuk menciptakan sastra yang cocok bagi zaman kita dan mampu mencapai publik luas potensial yang menantikannya, yang kini, berkat demokrasi dan pasar, begitu banyak manusia bisa membaca dan mampu membeli buku, sesuatu yang tak pernah terjadi di masa lampau ketika sastra adalah agama dan penulis adalah sesosok dewa kecil yang diberi penghormatan dan pujapuja oleh “minoritas kebanyakan”. Tak pelak lagi tirai telah tertutup bagi para penulis narsis pengkhotbah itu; tetapi pertunjukan bisa terus berlanjut apabila para penerus mereka berusaha untuk lebih mengasyikkan dan jangan terlalu ambisius.

*

Mario Vargas Llosa telah menghasilkan tulisan-tulisan nonfiksi yang bila ditumpuk bisa jadi sama tebal atau bahkan lebih tebal dibanding seluruh karya fiksinya (di luar naskah drama, skenario film, dan cerita anak yang juga pernah dihasilkannya).

Tulisan-tulisan nonfiksi itu berupa esei dan kolom pendek, kajian panjang, pidato dan kuliah, bahkan buku utuh tentang permasalahan sastra, politik, seni rupa, atau kehidupan sosial budaya umumnya.

140 pages, Paperback

Published January 1, 2018

5 people are currently reading
53 people want to read

About the author

Mario Vargas Llosa

539 books9,397 followers
Jorge Mario Pedro Vargas Llosa, 1st Marquess of Vargas Llosa, more commonly known as Mario Vargas Llosa, was a Peruvian novelist, journalist, essayist, and politician. Vargas Llosa was one of the Spanish language and Latin America's most significant novelists and essayists and one of the leading writers of his generation. Some critics consider him to have had a more substantial international impact and worldwide audience than any other writer of the Latin American Boom. In 2010, he won the Nobel Prize in Literature "for his cartography of structures of power and his trenchant images of the individual's resistance, revolt, and defeat".
Vargas Llosa rose to international fame in the 1960s with novels such as The Time of the Hero (La ciudad y los perros, 1963/1966), The Green House (La casa verde, 1965/1968), and the monumental Conversation in The Cathedral (Conversación en La Catedral, 1969/1975). He wrote prolifically across various literary genres, including literary criticism and journalism. His novels include comedies, murder mysteries, historical novels, and political thrillers. He won the 1967 Rómulo Gallegos Prize and the 1986 Prince of Asturias Award. Several of his works have been adopted as feature films, such as Captain Pantoja and the Special Service (1973/1978) and Aunt Julia and the Scriptwriter (1977/1982). Vargas Llosa's perception of Peruvian society and his experiences as a native Peruvian influenced many of his works. Increasingly, he expanded his range and tackled themes from other parts of the world. In his essays, Vargas Llosa criticized nationalism in different parts of the world.
Like many Latin American writers, Vargas Llosa was politically active. While he initially supported the Cuban revolutionary government of Fidel Castro, Vargas Llosa later became disenchanted with its policies, particularly after the imprisonment of Cuban poet Heberto Padilla in 1971, and later identified as a liberal and held anti-left-wing ideas. He ran for the presidency of Peru in 1990 with the center-right Frente Democrático coalition, advocating for liberal reforms, but lost the election to Alberto Fujimori in a landslide.
Vargas Llosa continued his literary career while advocating for right-wing activists and candidates internationally following his exit from direct participation in Peruvian politics. He was awarded the 1994 Miguel de Cervantes Prize, the 1995 Jerusalem Prize, the 2010 Nobel Prize in Literature, the 2012 Carlos Fuentes International Prize, and the 2018 Pablo Neruda Order of Artistic and Cultural Merit. In 2011, Vargas Llosa was made the Marquess of Vargas Llosa by Spanish king Juan Carlos I. In 2021, he was elected to the Académie française.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
28 (41%)
4 stars
32 (47%)
3 stars
6 (8%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
September 24, 2021
Membaca buku ini karena tidak sengaja melihat seorang netizen mereferensikannya pada bahasan perihal fiksi di sini. Langsung saja kubeli dan kubaca.

Dan, isinya, ternyata, daging, sekali.

Buku ini berisi kumpulan opini dan dua teks pidato seorang penulis berkebangsaan Peru bernama Mario Vargas Llosa. Pada 2010, ia dianugerahi penghargaan Nobel Sastra yang teks pidatonya disertakan dalam buku setebal 140 halaman ini. Tema yang diusung berbenang merah literasi secara umum dan isinya sungguh memberi wawasan bermutu. Saking bermutunya dan saking tidak mau melewatkan pemikiran-pemikiran berharga, kukorbankan setiap helai kertas pada buku ini untuk dicorat-coret.

Tiga tulisan "daging" yang paling mengentakkan yaitu:

1. "Benarnya Kebohongan"

"Orang tidak menulis novel untuk mengisahkan ulang kehidupan, tetapi lebih untuk mengubahnya dengan menambahi sesuatu."


Sebuah teks reflektif penulis tentang kesukaannya pada bacaan terutama fiksi yang kemudian menyambungkannya dengan argumen kebohongan yang diperbolehkan pada karya fiksi. Penulis juga menjabarkan perbedaan novel (dalam hal ini fiksi) yang baik dan buruk serta bagaimana fiksi yang baik itu "berkata benar". Penulis lalu merelasikannya dengan jabaran fiksi dan fakta (di sini sejarah) serta betapa fiksi penting bagi manusia karena "berkat fiksi kita jadi lebih dan jadi lain tanpa surut untuk jadi tetap sama". Keseluruhan teks merupakan pemikiran menarik yang bermuasal dari satu term: fiksi.

2. "Matinya Penulis Besar"

"... Karena sesungguhnya, seseorang yang berbakat dalam karya-cipta sastra dan sanggup menulis novel bagus atau sajak indah tidak serta-merta waskita secara umum."


Ini merupakan tulisan respons terhadap sebuah esai seorang Prancis bernama Henri Raczymow yang berpendapat bahwa, singkatnya, karena hadirnya demokrasi dan pasar serta modernitas secara umum, tiada lagi seorang penulis besar yang adiluhung dan adimanusia. Llosa dengan rendah hati memberikan penjelasan alasan Raczymow tapi pada saat yang sama menangkal argumen tersebut bahwa "penulis pada zaman sekarang harus merasa dipacu...."

3. "Peradaban Tontonan"

"Apa yang kita maksud dengan peradaban tontonan? Yakni adalah dunia di mana tempat teratas dalam skala nilainya diisi oleh hiburan, di mana bersenang-senang, lari dari kesuntukan, menjadi hasrat universal."


Teks paling panjang yang ditaruh paling akhir di buku ini. Penulis menciptakan sebuah term bernama peradaban tontonan di mana segala bentuk kebudayaan pada zaman sekarang hanyalah keremeh-temehan. Dari karya sastra, film, teater, hingga bentuk kebudayaan lain seperti olahraga (dalam hal ini sepakbola), konser musik, dan jurnalisme semua berubah fungsi dan hasil akhirnya menjadi hanya sekadar main-main. Bisa dibilang, walaupun panjang, argumen yang dibangun oleh penulis pada teks ini amatlah komprehensif dan bisa dibuktikan. Salah satu teks terbaik yang kubaca!

***

Tiga tulisan lain yang memberikan wawasan ciamik yaitu "Nona dari Somerset" yang mengisahkan seorang penulis cerita romantis yang menghibahkan seluruh hartanya untuk gelaran anugerah sastra tahunan bagi novelis di bawah umur 35 tahun, "Menjenguk Karl Marx" yang merupakan tulisan reflektif Llosa yang berkunjung ke tempat tinggal Marx miskin di Oxford Street, dan "Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi" yang menegaskan tentang pentingnya fiksi dalam penyampaian yang santun dan personal (sebagaimana mestinya karena ini merupakan teks pidato penerimaan Nobelnya).

Secara keseluruhan, membaca buku "daging" ini seperti mengikuti beberapa pertemuan kelas seorang dosen favorit dalam satu semester. Amat bisa dipahami, tapi saking menariknya jadi terasa terlalu singkat.

Buat yang ingin mendalami soal sastra dan literasi secara umum, buku ini amat kurekomendasikan!
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
August 9, 2019
Buku kecil yang sangat padat, dan lagi diterjemahkan dengan bagus sekali oleh mas Ronny Agustinus (sampai saya menemukan istilah koran kuning dan bonek--saya suka banget terjemahan model dynamic equivalence gini). Membaca buku ini bikin teringat sama bukunya Eka Kurniawan (Senyap yg Nyaring) dan dari Eka juga saya jadi pengen baca esai esai para penulis Latin, bukan hanya karya fiksi ya.


Mario Vargas Llosa ini termasuk salah satu penulis latin yg sering dikutip, tapi kok karya fiksinya masih sulit ditemui di Indonesia kalo dibanding Marques atau bahkan Isabel Alende. Membaca tulisan2nya di buku ini, luar biasa. Kita jadi ada tambahan utang satu lagi tentang penulis yang karyanya kudu dibaca. Ya Llosa ini.

Tulisannya saat memaparkan tentang menulis, membaca, dan sastra begitu jernih (terjemahannya juga berpengaruh sih) dan relatif mudah dijangkau. Kalimat2nya kutipable banyak sekali, dan walau kita sudah tau kebanyakan isinya, Llosa mampu menuliskannya ulang dengan rasa baru (dan lebih sederhana).


Pokoknya bagus.

Profile Image for Nike Andaru.
1,646 reviews112 followers
January 9, 2020
9 - 2020

Sebenarnya saya penyuka kumpulan esai, tapi ya memang milih banget esai mana yang saya mau baca. Dengan membaca esai, yang membaca bisa membaca apa yang dipikirkan si penulis, bagaimana dia melihat suatu ide/problem dari sudut pandangnya. Menariknya lagi banyak esai membuat si pembaca mengangguk setuju kadang hal-hal kecil bisa ditulis secara menakjubkan, seperti halnya dalam buku ini.

Mario Vargas dalam buku menulis banyak tentang sastra, tentang membaca, tentang perpustakaan, tentang jurnalisme masa sekarang dan tentang banyak hal soal menulis. Membaca dan menulis adalah hal yang saling menopang dalam hidup penulis. Banyak nama-nama penulis dan karyanya disebutkan dalam buku ini, jujur saja saya malah banyak gak tahunya. Terbukti, cetek banget pengetahuan saya dalam hal sastra dunia, karya klasik juga.

Saya membaca buku ini dengan santai, sempat kesal karena ada satu esai yang kayaknya panjang banget trus paragrafnya luar biasa panjang. Mas Ronny memang sudah oke banget menerjemahkannya, hanya saja beberapa kata-kata baru saya temui di sini, sehingga harus bolak balik liat KBBI untuk tahu artinya apa. Benar-benar membaca sastra, bukan? Sastra itu dikenal dengan bahasa njelimet kan ya? :p

Favorit saya esai dengan judul Epitaf untuk Sebuah Perpustakaan (1997), Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi (2010), Peradaban Tontonan (2012).
"Kita yang adalah warga-warga yang beruntung dari negeri-negeri di mana demokrasi, kebebasan, gagasan, nilai-nilai, buku-buku, dan kesusastraan Barat telah memberi kita privilase untuk mengubah hiburan sesaat menjadi aspirasi puncak eksistensi manusia, disertai hak untuk memandang dengan sinis dan rendah segala yang menjemukan, mengkhawatirkan, dan mengingatkan kita bahwa hidup bukan hiburan belaka melainkan juga drama, duka, misteri dan frustasi."
Profile Image for Iqbal Dalimunthe.
34 reviews44 followers
May 16, 2022
Ditutup sangat baik dengan “Peradaban Tontonan”, tulisan lainnya yang memukau saya: Sastra Itu Api, Benarnya Kebohongan, Epitaf untuk Sebuah Perpustakaan, serta Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi.
Profile Image for Fadlir Nyarmi Rahman.
19 reviews
March 31, 2021
Berkat Dea Anugrah atau Eka Kurniawan, aku jadi tertarik dg kebudayaan hispanik, dan terutama penulis-penulisnya. Sebermula adalah Gabo, langsung melompat ke beliau, Mario Vargas Lllosa itupun bukan karya fiksinya. Yah, meski esai-esai di dalam bunga rampai ini sangat intens membahas kefiksian dan sastra.

Esai yg dijadikan judul, misalnya, alias dalam bahasa asli "El lenguaje de la pasión". Yang mempertanyakan masihkah ada dalam kehidupan modern ini seorang "penulis besar", macam Flaubert, Victor Hugo, Tolstoy, dll, yang karya fiksinya memberi sedikit pengaruh pada dunia nyata. Pertanyaan itu tentu disebab oleh pasar yang membentuk selera pembaca. Lebih jauh, kekhawatiran pada seleb yng terjun ke dunia sastra, akan merusak ekosistem yang ada. Mungkin yang ia maksud adalah Rupi Kaur? Wqwqwq. Atau di indon ada sapa itu lupa namanya smh~

Dalam tulisan-tulisan lain di dalam buku ini, hampir berkesinambungan isinya. Atau, saling menguatkan. Meski diambil dari tahun-tahun yang terentang agak jauh, dsri buku ini kita bisa melihat bagaimana peraih nobel Sastra 2010 ini memandang dunia yabg di dalamnya ada kebudayaan, politik, ekonomi, dll.

Namun, tidak melulu itu. Ada juga 2 judul, kalau tidak salah, yang membahas hal di luar itu. Tapi, tetap tidak jauh2 dari buku. Judul "Mengunjungi Marx" adalah kisahnya main ke London tempat Marx menghasilkan produk inteleknya yg paling agung. Atau, "Zaman Tukang Obat", yang mengomentari toko buku di London yang telah menyingkirkan karya-karya sastra.

Tapi, judul favoritku tetaplah "Benarnya Kebohongan". Adalah kebenaran yang dikandung oleh cerita fiksi. Bahwa sastra atau fiksi tidaklah sekadar omong kosong penuh mimpi dan khayalan. Lebih jauh, ia menceritakan kebenaran kedalaman manusia seperti nafsu, ketakutan, dan segala hal yang tak mampu ditunjukkan, oleh dan ke, kehidupan nyata.
Profile Image for Aris Kristanto.
15 reviews
April 30, 2022
Dari judulnya, buku kumpulan esai Vargas Llosa ini cukup provokatif (diambil dari esai kelima, dari total sepuluh dalam buku ini), dan malah mirip dengan esainya Barthes, "The Death of Author". Beruntung, itu terbayarkan dengan tulisan-tulisan bernas dari Vargas Llosa mengenai bermacam isu kebudayaan. Jadi, enggak cuma gahar di tampilan luarnya.

Esai-esai dalam buku ini tak diurutkan secara kronologis. Dan menariknya, kita bisa membaca ada kecenderungan yang berbeda dari tulisan-tulisannya kalau mengingat kronologis tiap tulisan: makin lawas tulisan tersebut, makin berapi-api pula (baca: kekiri-kirian) pandangan Vargas Llosa tentang suatu hal. Ya, Vargas Llosa sekarang setidaknya "lebih kalem" ketimbang semasa muda--kayaknya itu hal lazim yang dialami orang saat menua haha.

Empat esai terakhir adalah yang terbaik, menurut saya. Kalau mau disederhanakan, dalam keempat esai tersebut Vargas Llosa menjelaskan betapa pentingnya "kebudayaan tinggi" bagi peradaban manusia. Dia, dengan bernada sedikit marah, mencemooh bentuk-bentuk kesenian atau kesusastraan masa kini yang sekadar berfungsi sebagai hiburan alih-alih menjadi bara api kehidupan untuk manusia terus berkembang. Tapi, pada akhirnya, toh dia sadar bahwa penyebab di balik semua fenomena kebudayaan zaman sekarang itu punya jalinan yang rumit, juga termasuk imbas tak terduga dari apa yang diperjuangkan manusia di masa lalu: kebebasan.

Buku ini diterjemahkan dengan apik dari bahasa Spanyol oleh salah seorang penerjemah favorit saya, Ronny Agustinus. Tak ada alasan bagi saya untuk tak membaca/membeli karya-karya yang diterjemahakannya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Rizkana.
248 reviews29 followers
July 30, 2023
"Kebutuhan akan hiburan ini, motor penggerak peradaban tempat kita hidup, bersumber dari keinginan untuk kabur dari kehampaan dan kegelisahan yang timbul dari kebebasan, dan juga kabur dari kewajiban untuk mengambil keputusan tentang apa yang perlu diperbuat dengan diri kita dan dunia sekitar kita, terutama yang penuh tantangan dan drama.”


Saya belum pernah membaca tulisan Mario Vargas Llosa lainnya, kumpulan 10 esainya dalam buku ini adalah yang pertama.

Dalam kumpulan esai ini, Mario membahas beragam topik seputar dunia sastra dan kehidupan sosial budaya. Ia ketengahkan kembali isu yang terus diperbincangkan, bahwa sastra harus ada, perlu ada.

Ia ajukan argumen mengapa makin ke sini, makin langka untuk menemukan penulis besar—salah satu argumennya yang menarik adalah reduksi peran buku yang kini sebatas komoditas.

Ia soroti arah perkembangan zaman dan kehidupan sosial budaya yang ia sebut sebagai “peradaban tontonan.” Argumentasinya jelas, bahwa semua-mua yang dikerjakan sekarang semata demi hiburan.

Ia jawab perdebatan seberapa “dekat dengan realita” karya penulis yang menulis dari negeri lain. Ia sampaikan kekecewaannya terhadap perpustakaan publik yang berubah, demikian pula pandangan seorang kawan yang kian berbeda.

Menarik bagaimana ia merespons hal-hal yang “mengganggunya” lewat tulisan. Ilmiah, kalau boleh saya tambahkan. Bukan sekadar racauan atau sindiran julid yang menembak ke mana-mana, tapi tidak pernah terang-terang dialamatkan kepada yang bersangkutan, esainya disampaikan dengan argumen-argumen yang jelas dan kerap didukung oleh pendapat ahli lainnya.

Budaya menulis seperti itu yang saya kagumi.
Profile Image for Ardhias Nauvaly.
68 reviews3 followers
April 30, 2024
Pertama kali membaca Llosa. Saya sama sekali tidak berkecil hati berjumpa bukan di fiksi-fiksi babonnya macam "Sang Pengoceh". Sebab, justru, Llosa mula-mula adalah seorang esais. Tumpukan karya "nonfiksi"nya barangkali lebih tinggi ketimbang cerita-cerita yang ditulisnya. Dus, seperti yang ditulis Ronny dalam Pengantar Penerjemah, Llosa pertama kali "menyapa" Indonesia justru lewat teks nonfiksi, yakni dalam kata pengantar buku "Masih Ada Jalan Lain: Revolusi Tersembunyi Negara Dunia Ketiga" yang terjemahannya diterbitkan Yayasan Obor Indonesia.

Kurasi esai ini tidak asal comot. Atau dinukil dari metrik keterkenalan. Ronny, dengan tekun, menyusun bibliografi supersingkat esai-esai Llosa yang, bukan saja menggambarkan perjalanan intelektual si tampan dari Peru, memberi gambaran akan perkembangan kebudayaan manusia. Nada sinis namun tetap utuh dalam mengurai persoalan bikin saya langsung jatuh cinta dengan Llosa. Dia menguliti dengan sabar persoalan-persoalan kebudayaan seperti ketika dia menjelaskan peran fiksi sebagai "ribuan bayangan kehidupan ketika kita hanya punya satu". Laporannya saat berkunjung ke London untuk menyambangi masa-masa kere Marx menunjukkan kepiawaiannya sebagai jurnalis dalam menulis feature.

Bila ada satu sikap yang saya rasa mau dikedepankan Ronny dalam melihat Llosa adalah betapa bencinya peraih nobel sastra 2010 ini terhadap kedangkalan. Sastra dangkal hingga tontonan dangkal. Nyaris tiap esai dia mengutuki banalitas; dan dengan sangar dipungkasi oleh esai panjang "Peradaban Tontonan" yang mampu bikin saya menimbang ulang ide baik demokrasi bahwa "semua tontonan adalah sama baiknya".

Mungkin, beberapa orang menganggapnya abang-abangan betapapun dia adalah seorang mbah sekarang. Barangkali, beberapa orang melihatnya sebagai kakek tua yang gagap zaman. Entahlah, saya memilih menilainya sebagai "Sang Pengoceh" yang ocehannya bisa didengar, bisa diabaikan.
Profile Image for Jay.
20 reviews3 followers
June 21, 2021
Membaca judulnya, saya kira ini sebuah novel. Semacam matinya Seorang mantan menteri, matinya seorang penari telanjang, matinya seorang pahlawan, dan sebagainya. Ternyata ini adalah kumpulan esai dari penulis yang dipilih dari beberapa karyanya.
Beberapa esai yang ada disini cukup menarik, utamanya tentang kesukaan membaca dan menulis, serta kisah tentang perpustakaan cukup mengasyikkan.
Tapi sayang, di sebagian besar esai saya seperti sedang mendengarkan grundelan orang tua kolot konservatif tentang "anak muda jaman sekarang". Pandangannya tentang seni dan sastra yang kaku, arogansinya tentang budaya tinggi, dan kecenderungan otoritarian dalam memandang isu kekinian terasa seperti tulisan dari abad yang lampau. Tidak ada perspektif baru yang ditawarkan, selain omelan dan romantisisme masa lalu. Matanya juga tidak terlalu jeli melihat perubahan cara pandang modern. Tidak saya temukan kritikan mendalam yang jenial tentang masa kini yang digambarkannya banal dan bermutu rendah.
Dan akhirnya, sama seperti saat ia ngeloyor sehabis mendengarkan dan secara spektakuler gagal paham mengenai ulasan Baudrillard tentang perang Teluk, kita juga mesti ngeloyor dari pandangan yang sudah ketinggalan zaman ini. Cukuplah kita tersenyum sopan dan menganggapnya relik masa lalu yang nampaknya patut di museumkan untuk kita kenang sebagai peninggalan masa silam.
Profile Image for Alfin Rizal.
Author 10 books51 followers
September 9, 2022
Pertama, harus saya ucapkan terima kasih kepada penerjemah buku ini. Walau saya ingin sekali membaca versi aslinya, hadirnya buku ini merupakan salah satu “pencerahan”—baik dari apa yang dituliskan maupun bagaimana menuliskannya. Kedua, terima kasih kepada penulis untuk pidato, dongeng, kritik, juga gagasannya. Saya membaca buku ini sampai tiga kali dalam lima bulan. Selalu saya bayangkan sedang dituturi dengan asyik oleh Mario Vargas Llosa tentang bentang kesusasteraan dunia. Cukup. Semoga bisa menulis lebih panjang tentang buku ini di waktu dan platform media lain.
Profile Image for Rulfhi Alimudin Pratama.
79 reviews
August 9, 2019
Fantastis, Membaca Esai karya Vargas membuat saya berdecak kagum. Bagaimana bisanya penulis asal Peru ini menulis dengan sangat mengalir, detil, kritis. Bahasan buku Tipis ini dimulai dari penulis yang memiliki banyak karya namun tidak terkenal. di penghujung usia, penulis tersebut memberikan kekayaan sebagai hadiah bagi penulis cerita romantik. Lalu Esai laiinya ada soal penulis dan residensi. Tentu setelah Membaca buku ini, saya tercerahkan dimana lokasi sastra kini berada
Profile Image for Ronaboyd.
46 reviews
August 3, 2018
Buku tipis yang cantik dan luar biasa. Kita menjadi tahu perjalanan pemikiran Llosa
Profile Image for Wahid Kurniawan.
206 reviews3 followers
December 24, 2022
Jarang-jarang loh, menemukan buku kumpulan esai (terjemahan) yang isinya daging semua begini.
Profile Image for rickus.
107 reviews11 followers
August 26, 2025
Buku kumpulan esai terbaik yang pernah saya baca.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
September 4, 2025
Matinya Seorang Penulis Besar bukan sekadar teks; ia adalah elegi terhadap martabat penulis dan sastra yang meredup dalam gelombang industri hiburan. Llosa merayu pembaca untuk kembali menghidupkan gairah intelektual yang “api”, yang menolak untuk menjadi bunga api yang cepat padam. Ia mengingatkan: seorang penulis tak boleh menyerah pada imej atau popularitas—karena karya sejati adalah tujuan itu sendiri, bukan alat untuk eksistensi. Buku yang menarik untuk dibaca.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,094 reviews17 followers
April 6, 2020
Tentang esai-esai pilihan dari Mario Vargas Llosa yang dipilih oleh penerbit. Di buku ini, kita jadi bisa memahami bagaimana pandangan Llosa terhadap sastra, kebudayaan, dan politik. Terlebih tentang politik yang terjadi di Amerika Latin.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.