Bagi sebagian kalangan sains, ada yang beranggapan bahwa ketika membahas sains, ayat-ayat Al-Qur'an jangan dibawa dan dikutip, karena tidak sejalan dan tidak nyambung. Ada juga sebagian kalangan awwam sains namun menganggap diri mereka lebih paham agama, yang sengaja membenturkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan sains, dan menganggap fakta-fakta sains sebagai sesuatu yang keliru karena dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
Buku yang berjudul Semesta pun Berthawaf:Astonomi untuk Memahami Al-Qur'an membantah semua anggapan keliru di atas. Buku ini ditulis oleh Thomas Djamaluddin, seorang Professor Riset Astronomi yang juga religius.
Secara umum buku ini membahas segala sesuatu tentang alam semesta, baik dari benda-benda langit seperti bintang, dll, maupun fenomena alam yang terjadi di sekitar kita seperti pelangi, dll. Semuanya dibahas dari sisi astronomi, dan dalil-dalil dari Al-Quran yang penafsirannya berkaitan dengan hal tersebut.
Setiap pembahasan diakhiri dengan suatu renungan untuk para pembaca supaya dapat menjadi manusia yang lebih beriman, dan lebih baik dalam berbagai aspek, juga lebih baik sebagai individu maupun berkelompok.
Sebagai contoh ketika penulis membahas mengenai langit. Beliau memulai dengan penjelasan astronomi. Langit yang begitu luas dan dihuni oleh banyak benda langit, di antaranya Matahari. Matahari yang merupakan benda langit terbesar di tata surya Matahari, sebenarnya hanyalah bintang kecil di galaksi Bima Sakti, karena masih banyak bintang raksasa yg diameternya ratusan kali dari Matahari. Galaksi dihuni miliaran bintang, gas, dan debu pembentuk bintang-bintang baru yg berjumlah tak terhingga di alam semesta ini. Dan Bima Sakti hanya satu galaksi dari miliaran galaksi (bahkan tak terhingga) yang ada di alam semesta ini.
Lalu penulis mengutip beberapa ayat dari Al-Qur'an yang berkaitan dengan langit dan menjelaskan penafsiran berdasarkan apa yang beliau pahami. Setelah itu beliau menutup pembahasan mengenai langit dengan mengajak pembacanya merenung. “Sadarkah kita akan perbandingan diri kita sendiri sebagai manusia dengan alam semesta? Semakin sering bertafakur, seharusnya semakin sadar akan lemah dan kecilnya diri manusia. Padahal hanya Allah yang MahaBesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri?”
Itu baru satu contoh pembahasan, masih ada pembahasan lain seperti cahaya, Bintang Hitam, pelangi, planet, dan pembahasan mengenai benda langit maupun fenomena alam lainnya.
Di zaman modern di tahun 2018 sekarang masih ada saja kalangan yang menganggap Bumi datar, termasuk derivatifnya, menganggap Matahari mengelilingi Bumi secara hakiki. Mereka yang beranggapan seperti ini ada juga yang membawa dan mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang ditafsirkan oleh mereka lalu membenturkannya dengan sains modern. Thomas Djamaluddin membantah hal ini dengan membuat pembahasan Bumi bulat atau Bumi datar, yang pada intinya adalah sudah menjadi fakta sains bahwa Bumi itu bulat dengan memiliki banyak bukti yang dapat dilihat, diamati, dan dirasakan oleh kita semua. Sedangkan beberapa ayat Al-Qur'an yang biasa digunakan untuk mencari pembenaran Bumi datar, mereka hanya membawakan tanpa memahami makna dan konteksnya. Jika ayat tersebut dipahami dengan baik sesuai konteks, justru akan membuktikan bahwa Bumi itu bulat, dan Bumi mengelilingi Matahari.
Pembahasan “kontroversial” populer lainnya seperti evolusi juga dibahas di buku ini. Masih banyak bagi sebagian orang yang berpikir bahwa evolusi adalah manusia berasal dari kera, dan karena itu mereka menolak evolusi dan membenturkannya dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Padahal evolusi adalah sesuatu yang pasti, ada, dan terjadi pada seluruh alam. Penulis menjelaskan beberapa contoh dan tahap evolusi pada alam semesta, juga disertakan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an mengenai evolusi alam semesta.
Walau Profesor T. Djamaluddin memastikan bahwa evolusi adalah ada pada alam semesta, namun beliau berpendapat manusia bukan evolusi dari hewan, namun diciptakan secara khusus. Beliau mempunyai teori menarik tentang asal usul Adam, dan kaitannya dengan homo erektus dan homo sapiens. Teori Profesor T. Djamaludin sangat menarik, walaupun teori ini kemungkinan besar sulit diterima oleh banyak ulama karena dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur'an, tapi walau teori ini belum tentu tepat, sudah sepantasnya teori ini diapresiasi karena dua hal :
1)Beliau tetap menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an mengenai Adam untuk mendukung teorinya dengan penafsiran yang beliau pahami sesuai bidang keilmuannya
2)Teori beliau ini tidak dibenturkan dengan evolusi yang merupakan keniscayaan dalam sains. Walau begitu, beliau berpendapat peristiwa “penciptaan” Adam terjadi secara khusus.
“Semua sains sudah Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum yang digali dan dirumuskan adalah hukum alam yang tunduk pada sunnatullah.”
Beberapa kisah yang diabadikan dalam ayat-ayat Al-Qur'an juga dibahas dengan penafsiran Al-Qur'an yang beliau pahami ditambah dengan melampirkan fakta-fakta yang ada, seperti mengenai Ashabul Kahfi dan Isra Mi'raj.
Bab Isra Mi'raj merupakan pembahasan yang juga sangat menarik, beliau membahas dari sisi sains dan dari sisi ibadah. Dari sisi sains, beliau berpendapat bahwa Isra Mi'raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Melainkan perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Caranya Iptek tidak dapat menjelaskan. Perjalanan lintas dimensi ruang waktu memang lebih logis dan lebih sesuai dengan sains daripada perjalanan antariksa.
“Pemahaman dengan pendekatan konsep ekstradimensi sekedar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep akidah terkait Isra Mi'raj, walaupun belum tentu tepat. Upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan akidah dan akidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal.” (hal.120)
Sedangkan dari sisi ibadah, beliau mengajak pembaca merenung bahwa shalat 5 waktu adalah ibadah utama umat Islam yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim, kaya, miskin, sehat, sakit, tidak ada pengecualian sama sekali. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan kiblat dan waktu shalat, sehingga dalam pelaksanaan shalat menjadi lebih mudah karena tidak perlu mengecek panjang bayangan dll seperti pada zaman dahulu.
Sungguh jarang sekali menemukan buku yang seperti ini, berbagai macam pembahasan yang sesuai dengan sains modern, yang sains tersebut dapat menjadi alat bantu dalam menafsirkan dan memahami Al-Qur'an, bukan untuk dibenturkan dan bukan pula untuk dicocok-cocokan (cocoklogi). Buku ini sangat bermanfaat dibaca oleh semua orang, terutama kaum Muslimin yang ingin tahu lebih banyak mengenai astronomi tanpa melupakan Al-Qur'an yang sebagian ayat-ayatnya dapat dipahami dengan sains dan astronomi.