Jump to ratings and reviews
Rate this book

Talijiwo

Rate this book
Sudah berapa lama kau terjebak dengan beragam kesibukan yang tak habis-habis itu? Berhentilah berbusa-busa tentang kemerdekaan bila ternyata kau sendiri tak punya waktu luang. Padahal, hanya di dalam waktu luang manusia bisa berpikir dan merenung tentang bagaimana seyogianya mengisi kemerdekaan hidup. Maka, waktu luang itu jangan dimampatkan lagi dengan melulu main gadget. Berbincanglah bersamaku. Duduklah di sampingku dan buka ruang imajinasimu. Bersama-sama kita akan larut dalam suara-suara Talijiwo. Mungkin kau akan semakin gelisah, marah, atau justru lupa pada beban dunia. Mari bersama-sama merdeka. Meski kita tetap tak bisa merdeka dari kenangan. Heuheuheuheu ....

184 pages, Paperback

First published January 1, 2018

60 people are currently reading
428 people want to read

About the author

Sujiwo Tejo

27 books431 followers
Agus Hadi Sudjiwo (lahir di Jember, Jawa Timur, 31 Agustus 1962; umur 47 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo adalah seorang budayawan Indonesia. Ia adalah lulusan dari ITB. Sempat menjadi wartawan di harian Kompas selama 8 tahun lalu berubah arah menjadi seorang penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang. Selain itu ia juga sempat menjadi sutradara dan bermain dalam beberapa film seperti Janji Joni dan Detik Terakhir. Selain itu dia juga tampil dalam drama teatrikal KabaretJo yang berarti "Ketawa Bareng Tejo".

Dalam aksinya sebagai dalang, dia suka melanggar berbagai pakem seperti Rahwana dibuatnya jadi baik, Pandawa dibikinnya tidak selalu benar dan sebagainya. Ia seringkali menghindari pola hitam putih dalam pagelarannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
98 (31%)
4 stars
131 (41%)
3 stars
74 (23%)
2 stars
8 (2%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 52 reviews
Profile Image for Probo Darono Yakti.
84 reviews5 followers
May 1, 2018
#Talijiwo adalah ungkapan-ungkapan twit bernada romantis yang pernah dilontarkan oleh Presiden Jancukers di akun Twitternya. Jangan heran, sapaan "Kekasih" akan sering muncul dalam buku ini. Dikemas dalam sejumlah tulisan yang ditokohkan oleh pasangan Pak Sastro dan Bu Jendro (terilhami dari kitab Sastrojendro Hayuningrat Pangruwating Diyu), Talijiwo mengemas sejumlah percakapan dan anekdot sehari-hari masyarakat Indonesia yang sering kali diiringi kelucuan.

Sebagaimana tulisannya yang lain seperti seri Lupa Endonesa dan Balada Gathak-Gathuk, gaya satir ala Mbah Tejo terasa dalam buku ini. Bisa dibilang, perpaduan tulisan sang Presiden Jancukers yang ada pada Dalang Galau Ngetwitt dicampur dengan karya lainnya. Karena pada dasarnya kutipan tentang cuitan-cuitan Sujiwo Tejo di media dikemas dengan menyelipkan mereka dalam percakapan Sastro-Jendro. Memosisikan bahwa ungkapan Sujiwo Tejo ini seolah mereka berdua yang mengucapkan, dan mereka tinggal mengingat-ingatnya kembali.

Sejumlah bagian dalam buku menyindir tentang pemerintah, harga-harga yang naik, dan realitas lain yang selama ini dihadapi oleh rakyat Indonesia. Namun mengacu pada tulisan-tulisan Mbah Tejo sebelumnya mengenai rakyat Jancukers, maka terasa cetek IQ seseorang ketika hanya menyoroti pada isu-isu tersebut. Sangat biasa. Justru yang esensial adalah menggali jati diri bangsa yang sempat luntur karena meninggalkan nilai-nilai kejawaan, yang mana secara luas berarti keindonesiaan.

Saya sendiri tidak tahu apa keterkaitan buku Talijiwo dengan tulisan Talijiwo yang sering muncul di dalam salah satu media massa besar di Indonesia setiap hari Minggu. Namun nada tulisan dan gaya bahasa yang sama, saya menebak jika tulisan di buku-buku Talijiwo ini adalah hasil kompilasi Talijiwo-Talijiwo terbaik yang telah terbit dalam koran itu. Pada akhirnya, ini adalah kutipan yang paling saya favoritkan dari buku ini:

Kekasih, cara paling sederhana untuk mensyukuri otak adalah meninggalkan penceramah kalau dia sudah mulai menyalah-nyalahkan agama lain ....
Profile Image for avocatara.
94 reviews8 followers
December 7, 2021
Karya dari Sujiwo Tejo yang pertama kali saya baca.
Satu paragraf dari buku ini memerlukan referensi yang banyak. Yang disajikan seolah-olah sederhana, padahal sarat makna
Profile Image for Riska Maharlika.
14 reviews
October 27, 2018
Buku ini ringan tapi berat. Atau berat tapi ringan? Berkomposisikan isu-isu terkini yang realitanya bikin mumet tapi Talijiwo meraciknya dengan komedi, satir, dan sarkasme sehingga menghasilkan sajian yang bisa dinikmati semua. Maknyos!
Profile Image for Sukmawati ~.
79 reviews34 followers
July 9, 2023
Kalau ditanya ini buku tentang apa. Saya jawab: ini merupakan buku kumpulan kisah inspiratif dari tokoh Jendro-Sastro tentang berbagai perkara duniawi. Nasionalisme, budaya, rasisme, romantisme, politik, dan lain-lain. Semua dikemas dengan penceritaan yang unik dan jenaka.

Tokoh Sastro dan Jendro selalu ada dalam setiap cerita. Baik keduanya berperan sebagai pasangan kekasih atau suami-istri, atasan dan bawahan, atau sebagai anak dan orang tua. Dua nama itu selalu ada dan menjelma sebagai karakter siapa saja. Bahkan lintas gender. Sastro bisa menjadi Jendro. Jendro bisa menjadi Sastro. Sastro bisa jadi laki-laki atau perempuan. Begitu pula Jendro.

Uniknya, setiap cerita "seserius" atau sebercanda apapun tetap ada unsur romansanya berupa kutipan-kutipan mesra kepada yang terkasih. Pembaca berpotensi mesem-mesem, senang, alias ke-gede rasa-an ketika membaca sematan kalimat cinta dalam buku setebal 170-an halaman ini.

Namun, di antara sekian kutipan mesra, ada juga yang bernuansa satiris. Misal, pada halaman 103. Ada kalimat bertuliskan: "Dosa terbesar orang-orang yang kena Operasi Tangkap Tangan oleh KPK adalah mereka membuat kita semua merasa suci ..." Bukankah itu sebuah sindiran halus sekaligus seruan untuk berkontemplasi ihwal kesucian diri?

Intinya, ungkapan-ungkapan dalam buku Talijiwo senantiasa mengantarkan pembacanya agar berefleksi sehingga tidak sekadar membaca sebagai hiburan. Ibarat menyaksikan komedi berdiri (standup comedy): banyak guyonnya, banyak pula ajakan kontemplasinya.

Kalau kamu ingin rehat sejenak dari hiruk-pikuk perduniawian sembari menemukan inspirasi dan setitik tawa, maka bacalah buku ini.
Profile Image for Andita.
308 reviews3 followers
February 13, 2023
Talijiwo mungkin salah satu buku yang cukup sulit dinikmati walaupun dengan gaya penulisan yang cukup menghibur. Kenapa buku ini menurutku sulit untuk dinikmati karena isinya seputar peristiwa politik yang dikemas dengan seringan mungkin dengan tek tok an tokohnya seperti Sastro dan Jendro.

"Baik di Swedia tempat asal Hari Dongeng Sedunia dan di mana-mana, namanya dongeng itu mujarab sebagai pengantar tidur. Kami warga dusun selalu ketiduran di depan televisi setiap ada berita politik." - pg. 144

Isi penulisan buku Talijiwo banyak menggunakan Bahasa Jawa, yang mana ini tidak mengganggu sama sekali dalam proses membacaku. Malah, hal inilah yang membuat buku ini menarik. Sebagai orang jawa timuran penggunaan istilah-istilah Bahasa Jawa sangat menarik.

Positifnya, membaca Talijiwo meng-update pengetahuanku tentang beberapa peristiwa politik yang pernah terjadi di Tanah Air.
Profile Image for Retno Purwa.
12 reviews1 follower
June 11, 2020
Buku ini berisi kumpulan 35 cerita pendek yang terbagi menjadi lima bagian dan sebuah cerita—atau mungkin bisa disebut prolog—di luar lima bagian tersebut. Secara garis besar, buku ini bercerita tentang fenomena-fenomena yang terjadi di dalam kehidupan dua tokoh bernama Sastro dan Jendro, yang bisa berperan menjadi apa saja pada masing-masing cerita. Kadang sebagai teman di salah satu cerita, sepasang kekasih di cerita lainnya, sepasang suami istri, guru dan murid, ibu dan anak, kakek dan cucu, atau tetangga.

Resensi lengkap dapat dibaca di blog saya: retno-purwa.com/resensi-menyambung-talijiwo :)
Profile Image for Anggraini.
43 reviews1 follower
April 17, 2018
Saya tidak pernah berminat membaca tulisan berunsur politik, demokrasi, dan kenegaraan. Tidak seperti membaca koran, tulisan-tulisan dalam buku Talijiwo ini justru memperkaya pengetahuan saya tentang hiruk pikuk yang terjadi dalam sistem pemerintahan Indonesia. Penuturan lugas melalui cerita-cerita pendek ditambah dengan sisipan kutipan yang puitis menjadikan buku ini terasa semakin manis. Bacalah!
Profile Image for Meilany.
84 reviews3 followers
June 15, 2020
Ini buku pertama yang aku baca karya Mbah Sujiwo Tejo, aku baca buku ini tuh pas awal KKN dan selesai di hari ke-5. Suka banget sama narasinya penulis di buku ini meskipun emang kita sebagai pembaca terutama aku sendiri sih bacanya ada yang berulang karena ada beberapa kalimat yang susah dipahami untuk sekali baca.
Alur di buku ini bener-bener bikin aku sedikit stress saat membaca. Romantisme tokoh bener-bener kuat dalam buku ini terus juga ngebahas tentang isu-isu politik juga
Profile Image for Fitra Rahmamuliani.
166 reviews3 followers
July 7, 2023
Buku ini menarik dan banyak cerita padat yang terangkum dalam halaman yang tipis. Dalam buku ini, penulis menghadirkan banyak kata-kata dalam bahasa Jawa, namun tidak perlu khawatir bagi pembaca yang tidak terlalu familiar dengan bahasa tersebut, karena penulis memberikan penjelasan arti dari setiap kata dalam bahasa Jawa yang digunakan. Hal ini memberikan nuansa kaya akan budaya dan kearifan lokal yang membuat pembaca semakin terhubung dengan cerita yang disampaikan.

Buku ini tidak hanya menghadirkan cerita-cerita menarik, tetapi juga disertai dengan ilustrasi yang mempercantik halaman-halaman dalam buku. Di antara cerita-cerita yang mengalir, penulis menyelipkan kata-kata yang membuatku tertarik dengan kebijaksanaan dan penggunaan kata-kata dalam kalimatnya. Misalnya, "Merdeka dari kenangan betapa susahnya. Kau tak akan bisa lepas dari kenangan" dan "Banyak orang pontang-panting mencari duit tanpa tahu alamat duit. Alamat duit adalah Tuhan, Kekasih. Jalan ke sananya cinta. Kendaraannya jiwa pasrah." Kutipan-kutipan ini menjadi bahan refleksi yang menambah makna mendalam dalam setiap cerita.

Buku ini tidak hanya mengangkat tema cinta, tetapi juga menyentuh isu-isu politik sehari-hari yang ada di sekitar kita, mengajak pembaca untuk merenungkan nilai-nilai pancasila, demokrasi, dan nasionalisme. Di tengah cerita-cerita yang mengalir, terdapat kutipan-kutipan inspiratif yang menghentikan langkah sejenak, seperti "Yang diperjualbelikan tak harus barang dan jasa. Bisa perasaan. Bisa pendapat" dan "Mengenang mantan itu kayak orang yang biasanya cuma ngomong doang tentang apa pun termasuk tentang NKRI harga mati." Kutipan-kutipan ini menggugah pemikiran dan mengajak kita untuk mengaitkan cerita dengan realitas sosial dan politik yang ada di sekitar kita.

"Kekasih, merindumu ibarat menyaksikan detik yang mengandung mengidam tahun ...." dan "Banyak orang berjasa. Tapi tak semuanya beruntung sedang berada tepat di depan hidung kita, Kekasih ....", buku ini mengajak kita untuk merenungkan makna hidup dan nilai-nilai yang penting. Buku ini cocok bagi kalian yang mencari cerita yang memikat dengan sentuhan budaya lokal dan pesan-pesan yang inspiratif.
Profile Image for Sunflower.
37 reviews
March 22, 2023
°— Talijiwo karya Sujiwo Tejo

Tiga hari lamanya, gue baca buku ini. Rasanya, luar bisa banget karena isinya lumayan menguras pikiran. Seperti biasa, gue bacanya di iPusnas. Oh ya, ini juga pertama kalinya gue baca bukunya Sujiwo Tejo.

Kesan pertama yang gue dapet ketika baca isinya, "mahal".

Serius, buku ini tuh punya aura mahal karena isinya yang lumayan kompleks. Maka dari itu, buku ini gak bisa dibaca sekali aja kalau menurut gue. Lu harus baca beberapa kali sampe bener-bener paham isinya tuh tentang apa. Dan sependek yang gue pahami—karena gue juga masih harus memahami lebih dalam lagi—, buku ini berisi sindiran.

Uniknya lagi, kalau dari sudut pandang gue, sindirannya itu bisa beliau kemas dengan rapi, pakai bahasa yang indah. Selain itu, poin paling uniknya lagi, ceritanya kebanyakan yang berlatar romantis, tapi tetep, isinya tuh tentang sindiran. Jadi, berasa lagi memahami dua jenis tulisan dalam satu waktu.

Hal unik lainnya, penulis punya ciri khas dengan menggunakan kata "Kekasih", hampir di setiap kutipannya.

Banyak banget kutipan beliau yang gue tandain karena bahasanya secantik itu, juga realiatis. Salah satunya, yang ikut gue unggah itu. *Untuk maknanya, silakan kalian pahami sendiri, atau kalau mau lebih paham, baca bukunya :)

Beliau juga punya bahasanya sendiri untuk menyebut setiap kutipan yang dibuatnya, yaitu pakai istilah "Talijiwo".

Oh ya, Talijiwo juga nambah wawasan tentang bahasa Jawa karena di dalemnya tuh memuat banyak bahasa Jawa. Cuma, emang semua kosakatanya kalau di versi iPusnas yang ini tuh, ditaruh paling akhir.

Kalau untuk yang update soal beberapa kejadian di negara ini, kayaknya bisa langsung paham sama isinya. Tapi, kalau gue, gak begitu paham bagian itu tuh nyindir yang mana. Jadi, harus sambil nyari di laman lain.

Satu catatan lagi, bacanya harus pelan-pelan dan diresapi biar makna tersembunyi yang penulis sampaikan itu bener-bener kita pahami.

Untuk keseluruhan, gue kasih 4.5/5
Profile Image for Agusman 17An.
80 reviews2 followers
April 30, 2018
#Talijiwo adalah kumpulan tulisan-tulisan sederhana tetapi memiliki banyak makna di dalamnya.

Tiap judul memiliki keunikan cerita tersendiri. Di dalamnya selalu ada kritikan yang disajikan dengan cara baru, tidak koar-koar sembarangan tapi memang ada fakta yang ingin penulis sampaikan kepada kita.

Jelas sekali, kritikan itu di sampaikan dengan cara lucu tapi tak ketinggalan penulisnya melengkapi dengan catatan kaki sehingga kita tahu bahwa memang kejadian itu baru-baru ini memang terjadi.

Catatan kaki yang dibuat itu aku rasa sengaja dibuat untuk mengingatkan kita. Seperti mantan Presiden SBY yang merasa disadap saat bicara dengan Ketua MUI yang dianggap terkait Ahok jelang Pilkada DKI. Begitu juga dengan Sindiran tindakan Menko ke Ketua MUI. Ada pula momen saat Presiden memberi hadiah sepeda pada seorang anak SD yang salah menyebut nama Ikan. Pemberitaan Mantan Presiden SBY yang masih menggunakan mobil kepresidenan. Warga Rembang yang Demo dengan menyemen kaki. Sampai pada bendera Indonesia yang di balik saat Sea Games 2017 di Malaysia yang pada akhirnya menteri olahraga memohon maaf atas kejadian itu.

Ada pula kritikan halus seperti E-KTP yang tak jadi-jadi, dan tentang para koruptor yang tak tahu diri. Tentang agen travel umrah yang menipu orang yang mau beribadah. Tentang lapor melapor juga tentang masyarakat yang mudah termakan hoax dengan hanya membaca judul berita tanpa membaca isi yang tersebar di dunia maya.

#Talijiwo memang nikmat di baca, mengajak kita tertawa, mengajak kita bagaimana seharusnya mengkritik. Ya, dengan karya bukan dengan omong kosong tak ada gunanya.

Kutipan favoritku terdapat pada halaman 32, "Cinta tak perlu pengorbanan!!! Saat kau mulai merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar!!!.

Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book267 followers
January 8, 2026
Kumpulan esai dari Sujiwo Tejo yang konon berasal dari cuitan beliau di twitter. Kalimatnya puitis, satir dan juga lucu.
Saya suka dengan esai yang berjudul "Sembukan". Di situ disebutkan ada kampung yang merayakan 17-an dengan caranya sendiri. Lomba kentut. Maka ditanamlah sembukan, jengkol dan pete untuk meramaikan acara. Lalu ada lomba nyanyi lagu perjuangan. Tapi mereka nggak mau nyanyi lagu perjuangan "yang itu-itu saja". Disepakatilah lagu perjuangan adalah tentang perjuangan apapun dalam hidup. Termasuk lagu yang dipopulerkan Betharia Sonata tentang perjuangan perempuan..."pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku...". Hahaha...

Ada banyak quote menarik juga. Salah satunya adalah ini...
"Inkonsistensi sedang mengancam bangsa ini. Banyak yang ngakunya suka persatuan. Giliran makan soto nasinya minta dipisah"
Profile Image for Agustina L.
4 reviews1 follower
August 15, 2021
“Laut mengarang batu,

debar berdebur tak menghempasnya,

Kekasih, di sana tegak abadi

rinduku padamu…..”

 

Benar, kita disambut oleh sebait sajak indah, bisa dibuat menggombal mereka-mereka yang sedang dilanda cinta. Alih-alih bakal mesam-mesem mengimajinasikan percintaan dua sejoli, Sastro Sutali dan Jendrowati Sujiwo alias Sastro Jendro, atau Tali-Jiwo, aku, kamu, kita, barangkali justru tidak akan mempedulikan lagi, apa itu Sastro Jendro, apa itu Talijiwo, lantaran terjebak dalam kritik sosial yang dibangun dengan gaya khasnya Mbah Jiwo.

Buku ini nyatanya cukup membuatku (*mungkin juga kamu) tergugah untuk lebih melek banyak hal di kehidupan, yang biasanya aku cenderung cuek dengan apapun, tapi dari situ, aku perlahan mulai menyadari bahwasanya, cuek tak akan mengubah apapun.

 
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for N.  Jay.
242 reviews10 followers
July 26, 2018
Campur adukkan rindu, cinta, manisnya kasih, bersama rasa rempahnya hidup. Itulah yang saya temukan dalam narasi ngalor-ngidul khasnya si Oom Jiwo ini, dibalut dalam percakapan dua tokoh dalam usia, kelamin dan tempat yang berbeda. Awalnya tahu seri tulisan ini ketika membaca Jawa Pos, entah minggu bulan apa pada tahun 2017. Dan saya sadar waktu menyadari tulisannya lebih sedikit, ternyata Wayang Durangpo sudah selesai.

Puitis, menggelitik, terkadang kritis dan mempertanyakan cara kita berlogika dalam memahami setiap kata satirnya, filosofis hanya sebagian kecil yang cukup menenangkan dalam buku ini.

Suwun.
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
October 30, 2018
Jangan berharap mendapatkan kisah-kisah penghangat hati dalam buku ini karena sejatinya saya sendiri agak bingung mau mengelompokkan tulisan simbah ini ke dalam genre apa. Tulisan di cover belakang sih Inspirasi. Tp cerita yang disuguhkan sebenarnya justru fiksi, tokoh-tokohnya kadang fiksi kadang nyata. Isu dan guyonan-guyonannya ada yg fiksi dan tidak. Semua seolah diaduk-aduk begitu saja seenak penulisnya sepanjang begitu banyak ide di kepala kayaknya. Awalnya agak optimis ketika mulai baca tp sudah seperempat buku jd agak kurang nyaman. Baru lanjut lagi karena mulai bisa menerima keunikan tulisan dan pribadi penulisnya sendiri sih, sembari menebak-nebak setiap tulisan maunya apa. Hehe.
Profile Image for Sri.
897 reviews38 followers
March 15, 2019
Lucu juga sih. Ya nyastra, ya kekinian-membahas current issues-, ya nyentil, ya aneh-aneh juga. Kadang mbahas rada-rada filosofis lalu tiba-tiba mbahas kehidupan sehari-hari lagi. Udah mbahas soal kehidupan sehari-hari, macam soal nyuci baju dan lain-lain, lalu mbahas current issues lagi. Lalu di sana sini nyelip si talijiwo yang eciyeeeh banget. Di setiap babnya selalu tentang Sastro dan Jendro sampai-sampai ada yang kebalik-balik. Masih di bab awal-awal, yang soal dosen lagi ngajar gitu. Asalnya Bu Dosen Sastro jadi Bu Dosen Jendro, atau semacam itu pokona mah.
Profile Image for Nike Andaru.
1,644 reviews111 followers
July 15, 2019
141 - 2019

Kali pertama baca bukunya Sujiwo Tejo, menarik sebenarnya membaca kumpulan esainya hanya saja banyak sekali bahasa Jawa yang jarang saya dengar, mana lagi artinya diberitahukan dibelakang. Saya lebih suka diberi footnote saja, catatan kaki biar istilah/bahasa Jawa yang dipakai langsung bis diketahui isinya tanpa buka halaman belakang dulu.

Isinya sendiri menarik, sindiran isu sosial, isu politik paling banyak berbalut tokoh yang namanya selalu sama Sastro dan Jendro.

Judul favorit : Bendera
Profile Image for Aisyah Firlinda.
15 reviews1 follower
April 26, 2018
I absolutly love this book! Buku ini ndak tentang cinta-cintaan aja, meski segala macam diksi atau covernya sangat amat menggambarkan kisah cinta. Nyatanya banyak pesan tentang kehidupan ataupun tentang negara kita selama ini. Yang paling Icha suka adalah bagian dimana ketika pak Sastro bilang ke bu Jendro "Aku ingin melihat uban pertamamu tumbuh..." yeah I thoght I'm insane!!!
Profile Image for Vanda Deosar.
68 reviews4 followers
May 15, 2018
"Banyak orang pontang-panting mencari duit tanpa tahu alamat duit. Alamat duit adalah Tuhan, kekasih. Jalan kesananya cinta. Kendaraannya jiwa pasrah."

Selipan demi selipan kalimat yang diletakkan membuatmu geleng-geleng kepala. Bagaimana sesuatu yang serius tentang polemik dan sindiran terhadap Indonesia menjadi begitu romantis? Kamu bisa dapatkan di buku ini!
Profile Image for Sergei Anthonikov.
25 reviews9 followers
June 20, 2018
Okay.... Here we go... This "Wacky Dalang" is committing another psychosis through his book, which is blowing my mind, sometimes. Seriously, how could a man being so keen that he puts actual social, political, religion and cultural issue around us into a beautifully, logical and witty short essay?
Just imagine a classic "gado-gado" where everything is beautifully incorporated so the taste is getting to know each other. This, is how I feel when I read this book. Oh, and don't forget to slowly enjoy it while it still warm, so your palate won't miss any of the taste inside it!.
5 reviews
August 25, 2019
Buku ini berisi sindiran-sindiran atas isu-isu terkini. Disajikan dalam percakapan antara Sastro dan Jendro yang kadang jadu bapak, ibu, suami, istri, ponakan, bahkan anak. Semua cerita dibalut dalam kejadian kehidupan sehari-hari sehingga membuat pembaca lebih cepat menyadari bahwa isu tersebut benar-benar nyata. Cukup membuka mata terhadap apa yang terjadi di masyarakat sekarang.
38 reviews
June 30, 2022
Emang kayaknya jangan di seriusin-seriusin banget banyak tersirat politik dan kerasa penulisnya seorang seniman. Tokohnya kirain nyambung per bab ternyata tidak. Sejujurnya sampai setengah belom dapet feelnya tapi setelahnya memutuskan baca santai saja... ambil maknanya sejauh yang aku mampu

ciri khas buku ini :
"..., kekasih"
Profile Image for Lantikawati Nurkumala.
9 reviews
November 4, 2018
Senang sekali membaca buku Talijiwo, terutama pada bab Sampah, yang mengingatkanku pada suasana di rumah dengan 3 saudara perempuan lainnya dan ibu yang kelakuannya hampir mirip dengan Bu Sastro. Semua #talijiwo indah..
Profile Image for Fauzi Karo Karo.
22 reviews
July 1, 2019
Buku ini kelihatannya saja ringan tapi aslinya berat, sebuah kritik yang dituliskan dengan mesra. Sangat tidak mudah menuliskannya tapi mbah Tejo benar-benar cerdas bisa meramu kata dengan begitu mesra untuk menyampaikan kritiknya.
Profile Image for Khurin W. F..
192 reviews9 followers
August 22, 2021
Kontemporer at its finest. Sebenarnya di balik 'keabsurdan' buku ini, banyak sekali satire-satire yang berisi kritik sosial masa kini. Jika kita mau duduk dan berkontemplasi sejenak, narasi-narasi yang disuguhkan oleh Mbah Tejo membuat pembaca berpikir, "Oh? Iya ya?"
Profile Image for Lusi Padma.
36 reviews3 followers
September 21, 2021
Beberapa kisah satirnya menarik dan memang betul adanya dan beberapa kutipan-kutipan dalam buku ini sudah ada sebelumnya di buku/twit penulis. Mungkin untuk pembaca yang suka dan mengikuti masalah sosial dan politik lumayan cocok buku ini dijadikan bahan hiburan
Profile Image for reas.
94 reviews4 followers
April 24, 2022
Ini buku kedua yang aku baca dari Sujiwo Tejo, karena bacanya di iPusnas, aku jadi agak kesulitan buat terjemah kata-kata bahasa Jawa, karena letaknya ada di belakang. Meski begitu, ini buku dengan kisah-kisah menarik, walaupun aku lebih suka Tembang Talijiwo kalau boleh membandingkan.
Profile Image for Pram.
3 reviews13 followers
May 30, 2018
buku yang selalu menyenangkan untuk dibaca. pembaca akan misuh berkali-kali karna tulisan mbah sujiwo
Displaying 1 - 30 of 52 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.