Jump to ratings and reviews
Rate this book

Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde #101

Control of Land and Labour in Colonial Java: A Case Study of Agrarian Crisis and Reform in the Region of Cirebon during the First Decades of the 20th Century

Rate this book
Land reforms are usually associated with political regimes trying to restructure rural society in accordance with principles of equality and justice. In striking contrast the colonial land reform discussed in this book led to the introduction of a land floor below which small owners lost their property rights. Thus the regional authorities dealt very firmly with the agrarian crisis which became manifest in Cirebon residency in West Java at the beginning of the 20th century. The study explores the historical background of these developments, highlighting the role of agribusiness in the underdevelopment of the peasant economy. Underlying the new, rather drastic policy was the colonial government’s attempt to encourage social differentiation at the village level in order to pave the way for capitalistic agricultural development. Caught between the dominant interests of the large-scale sugar estates in the area and the ideals of the protagonists of a doctrine of more populist inspiration, the land reform was bound to fall short of the stated objective: the development of a viable peasantry which would become the economic and political backbone of a stable colonial order. The final part of the book, in which the analysis shifts from the regional to the national level, discusses rural stratification and rural policies in post-colonial Indonesia.

172 pages, Paperback

First published January 1, 1983

Loading...
Loading...

About the author

Jan Breman

47 books9 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (36%)
4 stars
7 (31%)
3 stars
4 (18%)
2 stars
2 (9%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Kiagus Iqbal.
9 reviews
June 20, 2025
Buku yang dibuat Jan Breman ini sangat menarik. Dalam pengantar yang dibuat Sajogyo, mengindikasikan bahwa 'niat' merombak penguasaan tanah itu sebenarnya memang sudah ada sejak zaman jajah itu. Bagaimana Reforma Agraria diinisiasi oleh pejabat daerah (Residen).

Namun tentu, buku ini mengungkap bahwa 'niat baik memperbaiki' saja tidak cukup. Awalnya, Pemerintah berusaha untuk merombak penguasaan tanah komunal desa dan sistem gilirnya yang justru melahirkan ketimpangan penguasaan tanah disebabkan sistem pemerintahan desa yang korup yang berkelindan dengan ambisi sindikat industri gula besar di Cirebon Timur. Perombakan struktur Agraria menjadi jawaban yang muncul saat itu.

Setidaknya buku ini membedah mengapa Reforma Agraria ala pemerintah kolonial Belanda ini gagal. Yang disorot adalah kegagalan pemerintah kolonial menyelesaikan akar persoalan: Kompromi yang berlebih terhadap industri besar gula, terhadap mengamankan kedudukan muka kepala desa dan para priyayinya. Akibatnya, kaum tani yang 'disasar' hanyalah lapis tani kaya, khususnya mereka yang memiliki kedudukan di struktur desa.

Mereka, sikep-sikep yang sudah gelagapan akibat pasang naik utang piutang yang berbunga dan penuh intrik (ijon, sewa tanah jangka panjang, berakhir pada gadai dan lepasnya tanah) jatuh dalam jurang kemiskinan dan bertungkus-lumus menjadi buruh tani tunakisma. Lebih sial: mereka yang sejak telah menjadi buruh tani akibat kebijakan kolonial di masa sebelumnya (Sistem Kultur Paksa).

Pada akhirnya, buku ini ingin menyampaikan: Reforma Agraria dari atas pada akhirnya akan berakhir menjadi anti-reform (memperkuat yang kuat, dan menindas yang sudah lemah)

Membaca buku ini harus cukup fokus, selain bahasanya yang agak belibet juga banyak kosakata yang cukup jarang dipahami dan lawas. Namun, untuk memahami buku ini, pengantar dari Pak Sajogyo menjadi pembimbing baik poin apa yang akan disorot dan apa yang harus digarisbawahi.

Btw, buku ini mengungkap telah terjadi percobaan riset aksi yang cukup 'simpatik'. Meski begitu, kata 'simpatik' harus kita makna-kritiskan dalam bingkai kolonialisme.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews