Jump to ratings and reviews
Rate this book

Seri Buku TEMPO

Jalan Pos Daendels

Rate this book
Membentang dari Anyer, Jawa Barat sampai Panarukan, Jawa Timur, Jalan Raya Pos dibangun hanya dalam setahun, 1808-1809. Kala itu, Herman Willem menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Buku ini mengisahkan liputan Tempo menyusuri ruas-ruas Jalan Raya Pos. Ada kawasan tempat perkebunan pekerja rodi di zaman Daendels, yang juga makam jenazah korban penembakan misterius Orde Baru. Terdapat pula kelenteng-kelenteng yang setiap Cap Go Meh menggelar arak-arakan melewati Jalan Pos Daendels. Tak hanya itu, tersaji kisah pencarian awal stasiun pos Daendels di Serang, Banten, serta lokalisasi di sepanjang Pantai Utara Jawa.

123 pages, Paperback

First published October 2, 2017

Loading...
Loading...

About the author

Tim Buku Tempo

46 books95 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (14%)
4 stars
10 (28%)
3 stars
18 (51%)
2 stars
2 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
December 25, 2020
Lebih mengangkat pada hasil investigasi kondisi Jalan Pos Daendels masa sekarang, alih-alih lebih detail membahas proses pembangunannya. Tapi cukup salut, karena pembahasannya cukup detail.
Profile Image for Reiza.
199 reviews7 followers
February 18, 2018
Alkisah, di Gresik pada bulan November 1808, Daendels marah luar biasa. Di tengah inspeksinya, ia menemukan fakta bahwa jembatan yang seharusnya sudah rampung, ternyata mandek. Daendels tidak habis pikir, sekaligus tidak mau tahu. Jembatan tersebut harus sudah rampung, bagaimanapun caranya.

Dalam amukan murkanya, ia memanggil bupati Gresik. "Panggil rakyatmu!" mungkin kurang lebih seperti itu bentaknya. Sang Bupati yang panik segera mengumpulkan warga. Warga yang sudah berkumpul, oleh Daendels diperintahkan untuk membawa balok kayu. Mereka kemudian dibariskan sembari saling berhadapan di ruas jembatan yang mandek itu. Jadilah jembatan tersebut bertiang manusia, dan kemudian Daendels, dengan kereta kudanya, melintasi jembatan tersebut.

Itu hanya salah satu cerita mengenai Daendels, sang mas galak. Orang Jawa, dengan niatan memelesetkan sekaligus kendala bahasa, memanggil Daendels sang maarschalk dengan sebutan "mas galak" karena kebiasaan membentak dan wataknya yang keras. Jejak Daendels melintasi daerah Anyer-Banten-Batavia-Bogor-Priangan-Cirebon-Semarang-Surabaya-Panarukan, dengan berbagai cerita di tempat yang disinggahi olehnya dan juga jalan besarnya.

Di Banten, penolakan Sultan Aliyuddin II untuk memenuhi permintaan mengirimkan ribuan buruh untuk Daendels dan penghinaan sang Sultan terhadap utusan yang dikirimnya menyebabkan ia membumihanguskan Keraton Surosowan, di Bandung, ia menginisiasi pembangunan sekaligus perpindahan ibukota Kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuh Kolot) menuju ke bantaran sungai Cikapundung yang dilintasi oleh Jalan Raya Pos, di Sumedang, daerah yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran, ia memerintahkan penggunaan artileri meriam untuk membobok medan yang sangat keras, di daerah pesisir utara seperti Cirebon-Surabaya, ia memerintahkan kepala daerah setempat untuk menghimpun rakyat melakukan kerja wajib.

Bukan tanpa sebab Daendels memerintahkan pembangunan jalan raya pos yang besar dan ambisius ini. Daendels adalah utusan dari Pemerintah Prancis yang ketika itu menguasai takhta Belanda untuk melindungi pulau Jawa dari serangan pasukan Inggris. Saat itu, Prancis sedang berperang melawan Inggris, dan Prancis sudah kehilangan beberapa wilayah lautnya seperti Mauritius ketangan Inggris. Khawatir pulau Jawa mengalami nasib yang sama, Raja Louis, adik dari Kaisar Napoleon Bonaparte yang ditempatkan olehnya sebagai raja Belanda, menitahkan Daendels, mantan anak buahnya dulu di Legion Etrangere, Legiun Pasukan Asing Prancis, untuk melindungi Jawa dari serangan Inggris sekaligus membenahi sistem administrasi disana. Daendels pun datang dengan selamat di Pulau Jawa pada tanggal 5 Januari 1808, tepat 4 bulan sebelum ia mengeluarkan instruksi pembangunan Jalan Raya Pos.

Daendels dikota kelahirannya, Hattem, bukan sebuah figur yang begitu dikenal. Melalui arsip, ia diketahui sebagai anak kedelapan dari 13 bersaudara. Ia berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Harderwijk pada 1781, dan disinilah ia mulai berkenalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh kaum revolusioner Prancis. Ia kemudian bergabung kedalam kelompok patriot Belanda, suatu gerakan yang terinspirasi dari gerakan revolusi Prancis dan memiliki tujuan untuk menggulingkan kekuasaan Stadhouder (kepala negara) Pangeran William Oranje V. Kelompok patriot berencana untuk melakukan upaya kudeta, tetapi karena gagal, kaburlah Daendels ke Dunkerque, Prancis Utara. Disinilah ia mendaftar sebagai perwira di Legiun Pasukan Asing Prancis, posisi yang kemudian membawanya kembali ke Belanda ketika negeri itu diserbu oleh pasukan Prancis.

Jabatan Daendels sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 ini berakhir pada tahun 1811, tiga tahun setelah ia mulai memerintah pada 1808. Terlepas dari semua kontroversinya, dalam tempo waktu kurang lebih tiga tahun tersebut, Daendels memberikan banyak hal yang sampai saat ini masih dapat kita lihat dan rasakan.

Bagaimana dengan Daendels selepas dari Hindia Belanda? Setelah Perang Napoleon usai, ia dipindahtugaskan pada tahun 1815 ke Gold Coast (sekarang bagian dari Ghana) untuk menjadi gubernur jenderal disana sampai ia terkena malaria dan wafat pada 1818.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
247 reviews44 followers
October 23, 2020
Saya kira buku ini menceritakan sejarah pembangunan Jalan Pos Daendels. Ternyata, lebih seperti kolom features koran.

Buku ini memotret Jalan Pos dalam era sekarang: bagaimana perubahannya, dan gejala sosial apa yang mewarnainya. Sedikit banyak dihubungkan dengan cerita pembangunannya sih, tetapi hanya sebagai pemanis sepintas lalu.

Kalau dari segi tulisan, narasi tim Tempo memang tidak perlu diragukan. Enak dibaca dan mengalir. Cuma bukan kebutuhan saya saat ini saja.
Profile Image for Bambang Yuno.
276 reviews13 followers
January 18, 2018
Penelusuran Tempo terhadap jalur lintas utara Jawa yang dikenal dengan jalan raya pos, yang dibuat oleh Dendels pada masa pemerintahannya...

Banyak terjadi perubahan di sepanjang jalan itu, terkait keadaan sosial ekonomi dan budaya ..

Bacaan ringan tapi menarik ...

Tema yang sama sebelumnya juga pernah dikupas oleh Pramudya Ananta Toer dan juga pernah diliput juga oleh Kompas ...
2 reviews5 followers
May 27, 2018
Buku sejarah yang dikemas cukup baik dengan bukti foto dan fakta yang terurai. Lebih baik jika penulisan waktu ditulis berurutan sejak zaman Daendels hingga masa kini. Menurut saya lebih banyak kisah tentang masa kini (profesi seorang sopir, cat truk, PSK, dll.) daripada kisah yang saya ekspektasi, zaman Daendels.
Profile Image for Diany Wira.
11 reviews
March 29, 2021
Buku ini menjelaskan tentang "Bagaimana sih Jalan Pos Daendels saat ini?" dan menurut saya pembahasan yang terdapat dalam buku ini sangat mengasyikkan. Selain itu, di buku ini juga dijelaskan tentang sejarah singkat mengenai Daendels dan Jalan Pos itu sendiri. Disertai dengan foto dan penulisan yang ringan. Sangat membantu bagi saya yang penasaran dengan kondisi Jalan Pos saat ini.
Profile Image for Sejutaluka.
64 reviews10 followers
March 22, 2021
Buku seri Tempo yang merupakan kumpulan tulisan hasil liputan. Lebih banyak menyajikan hal-hal sekunder dari pokok utama berdirinya Jalan Raya Pos. Kurang tajam pada proses pengerjaan dan kisah konflik intruksi Daendels terhadap penguasa lokal dan penduduk di sepanjang proyek megah itu dibangun.
Profile Image for Aprianto Nugraha.
100 reviews2 followers
May 8, 2020
Ada yang tau kalo ternyata jalan daan mogot beserta parit di sebelahnya itu termasuk jalur asli Daendels?
Displaying 1 - 9 of 9 reviews