Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sebuah Kitab yang Tak Suci

Rate this book
Sebuah Kitab yang Tak Suci memuat dua belas cerita pendek terbaik di masa-masa awal kepengarangan Puthut EA. Buku ini yang terbit pertama kali pada 2001, ketika Puthut EA berusia 24 tahun ini, mendapatkan pujian dari berbagai kalangan sebagai puncak estetika dan kepenulisan seorang Puthut EA.Metafora dan jalinan kata khas dengan keindahan liris, mirip puisi, sekaligus penuh keterusterangan yang melampaui batas kesopanan awam. Kadang pula berteriak dengan nada muram.

Metafora dan jalinan kata khas dengan keindahan liris, mirip puisi, sekaligus penuh keterusterangan yang melampaui batas kesopanan awam. Kadang pula berteriak dengan nada muram.

87 pages, Paperback

First published January 1, 2001

19 people are currently reading
161 people want to read

About the author

Puthut EA

69 books239 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (16%)
4 stars
39 (26%)
3 stars
73 (48%)
2 stars
9 (6%)
1 star
5 (3%)
Displaying 1 - 30 of 30 reviews
Profile Image for Ikra Amesta.
149 reviews29 followers
September 3, 2020
Cerpen-cerpen di sini menampilkan realita alternatif di mana fantasi, enigma, dan keseharian yang biasa-biasa saling berkelindan. Maka di antara teks yang tercetak itu berserakanlah realisme-magis, dunia Murakami, negeri dongeng, Studio Ghibli, teater absurd, surealisme Dali, Magical Mystery Tour, mitos-mitos kuno, dan gagasan-gagasan imajinatif lainnya.

Ada banyak bumbu yang disajikan, yang diolah sedemikian rupa sebagai hidangan spesial yang sanggup membuai lidah namun terkadang juga sulit dikunyah. Kelebihan utama hidangan ini terletak pada narasi puitisnya, yang begitu luwes menggauli estetika sastra dan siap mengantar setiap pikiran berkelana jauh.

Tapi kelebihan tersebut tak jarang malah jadi berlebihan, berbelit-belit, dan menghilangkan rasa, sehingga kunyahan yang ditelan sejurus kemudian dengan mudahnya terlupakan. Cerita-cerita Puthut barangkali dicomot dari buku coretan ide Haruki Murakami atau Neil Gaiman, dan oleh sebab itu terasa masih belum matang benar. Saya merasakan energi Puthut muda yang sedang gandrung bereksplorasi dan sukarela mendobrak pakem-pakem; energi yang tak terlalu memperhatikan presisi sehingga salah sasaran adalah risiko yang wajar meskipun lompatannya cenderung tinggi di awal-awal.
Profile Image for Niskala.
94 reviews1 follower
February 9, 2022
Ada 10 cerpen
Gaya bercerita berbeda sekali dengan para bajingan yang menyenangkan. Yang ini kurang menarik. Terlalu banyak permainan kata serta metafor yang sulit dipahami dan membosankan.
Profile Image for Jonas Vysma.
30 reviews32 followers
July 12, 2018
Ini adalah buku kedua Puthut yang saya selesaikan, meskipun ini buku pertama yang saya baca terlebih dahulu. Kata-kata, diksi dan bahasa yang digunakan sangat jauh berbeda dengan bukunya yang berjudul ‘Para bajingan yang menyenangkan’. Bertemu dengan cerita pertama yang tersaji, saya mengernyitkan dahi. Kata-kata yang dipakainya memang bukanlah kata sehari-hari yang tersurat maknanya. Dan saya juga tak paham dengan maksud dari cerita tersebut. Barangkali seperti yang tertulis pada sampul belakang buku, “... puncak estetika dan kepenulisan ...”, terlalu estetik, saya tak mampu memahaminya dengan baik. Hingga ada beberapa cerita yang memang saya baca dua kali.
Cukup menarik, karena saya rasa keseluruhan cerita menggambarkan judul bukunya. Jika saya tak salah menafsirkan, cerita-cerita yang ditulis Puthut adalah cerita yang membongkar, yang mendobrak dan keluar dari jalur utama, yang dilakukan hanya karena tradisi tanpa tahu makna & tujuan yang jelas. Semacam sebuah inisiasi untuk mengubah suatu tatanan matang dan memberi pencerahan. Ada tiga cerita favorit saya dalam buku ini, yaitu Si pemungut mimpi, Penunggang kuda yang selalu memburu angin dan Seseorang di sebuah sudut.
Bintang dua untuk buku ini karena saya hanya menyukai tiga buah cerita dari buku tersebut, ditambah ada beberapa cerita yang saya tak mampu menangkap maksudnya .
Profile Image for Mutia Senja.
75 reviews9 followers
December 6, 2023
Membaca 3 cerpen pembuka, aku merasa cerita-ceritanya absurd. Meski saat membacanya, seolah ada kedekatan dengan cerita, mengalaminya, tapi sukar untuk dibilang akrab. Barangkali memang bermula dari kisah sehari-hari yang berkelindan, pengalaman ritmis yang acak, namun ditata sedemikian rupa oleh penulis, sehingga membuat pembaca mengingat-ingat.

Aku belum banyak mengambil makna yang berarti, tapi beberapa kalimat membuatku menggarisbawahinya sebagai pemilihan kalimat yang asyik. Barangkali sanggahan ini benar, “Buku-buku tentang kematian ditulis oleh orang-orang yang masih bernapas” (hal 3-4). Seperti dalam beberapa cerpen, spekulasi ini memberi jarak, seperti bercerita tanpa pernah mengalaminya.

“Bukankah tumbuhnya sebuah tunas adalah sebuah persiapan menghadapi serangkaian pembinasaan?”(hal 10). Aku mengagumi pernyataan serupa ini. Deskripsi yang panjang, kadang menyimpan sesuatu yang membuat kita berhenti dan menatapnya lebih lama. Lagi, “Setiap fajar adalah sebait puisi di tubuh bayi. Tangisannya tetap rendah hati dan wangi” (hal 28).

Meski enigma yang diusung masih terasa membosankan, aku bersyukur betah membacanya hingga bertemu dengan 2 judul yang kusuka: “Penunggang Kuda yang Selalu Memburu Angin” dan “Seseorang di Sebuah Sudut”. Bagiku, membaca realitas adalah menyenangkan, apalagi dikemas dengan kalimat yang tepat.

Misalnya bagian ini, Puthut menulis: “Adalah biasa di kota ini untuk kenal muka tak kenal nama. Beberapa tahun yang lalu—ketika aku masih belasan tahun—orang terbiasa dengan nama junior dari nama ayahnya. Namun kemudian setiap nama berubah menjadi sapaan ‘hey’ atau cukup dengan senyuman” (hal 76).

Kumpulan cerpen yang hanya berisi 10 judul dengan tebal tak genap 100 halaman, buku ini dapat dibaca sekali duduk.
Profile Image for Truly.
2,767 reviews13 followers
February 26, 2021
Hidup kami selanjutnya adalah bernapas, berjalan, dan bertegur sapa lewat senyum. Perdebatan bahkan bincang-binvang menjadi begitu menyakitkan. anak-anak kami lahir dari ranjang-ranjang yang tidak berdenyit. Dan kami tak pernah mengajari mereka berdoa, hanya seekali kami mengajari hal-hal yang agak menggairahkan, mengasapi ikan, dan memanggang roti. Selebihnya bahkan tidak tahu dari mana mereka belajar rumus matematika
~ Sebuah Kitab Yang Tak Suci, hal 77~

https://trulyrudiono.blogspot.com/202...
Profile Image for Noni Sitinjak.
13 reviews
March 1, 2018
Hubungan saya dengan @mojokdotco baru berjalan sekitar 4 bulanan. Kalau diibaratkan sebuah hubungan pacaran, situasi ini masih dalam tahap PDKT. Dari sekian banyak penulis, yang auranya menarik perhatian nampaknya jatuh kepada Om @puthutea (dipanggil om saja biar akrab). Ini adalah buku pertama miliknya yang saya beli dari sekian persen gaji yang siklusnya habis dalam sehari. Konon buku ini berisi cerita-cerita pendek terbaik miliknya, (pastinya sih, kalau bukan terbaik nggak mungkin juga di publish). Baru membaca 3/4 bagian, saya sadar ada beberapa bagian dari kalimatnya sulit untuk saya pahami (untuk memahami seorang filsuf memang susah kawan) tapi beberapa kalimat lain cukup bisa saya tangkap dan pahami. Hal-hal yang selama ini sulit saya cari, tertuang dalam buku ini. Jika sebelumnya Ayu Utami, dan Eka Kurniawan jadi penulis yang saya kagumi atas keberaniannya menggunakan kata. Hari ini saya menambahkan satu nama, siapa lagi kalau bukan sang empunya Sebuah Kitab Yang Tak Suci itu. Si om mengubah obrolan tabu jadi sesuatu yang patut di bahas. Kemalangan yang harus ditertawakan hingga kalimat "SETUBUHI AKU, KUSELESAIKAN DIRIMU" yang membuat saya geleng-geleng kepala.
Profile Image for melancholinary.
456 reviews38 followers
November 3, 2018
The necrophilic short story itself worth of five stars. The rest is self-indulgent diction circus.
Profile Image for afatsa.
51 reviews2 followers
March 1, 2021
Cerpen-cerpennya terasa seperti lirik puisi. Dipenuhi banyak metafora sampai saya bingung mencerna.

Maybe it's just not my cup of tea.
Profile Image for Vania Evan.
9 reviews4 followers
February 21, 2019
A book of wretched monologue, that's what I would probably describe this book in one sentence.

Each of the stories could be read in one day, they really match the qualifications of how long a short story should be. But a little advice, please do read this book at the right time. What I meant by that is when you're fully aware of what you're doing, when your mind is not occupied by whatever it is that's been weighing you down, or when you're alone. Just because it's short, doesn't mean that you'll get to read the whole book in a very short time.

Metaphors are everywhere. There's only a little conflict on each story, sometimes there is none.
You need to digest words by words, putting yourself in the author's shoes, then you get to guess what happened to anyone who wrote that. Nothing explicit, it's more like an interpreting game.

I don't know about you, but for me, it's quite draining. Everything is wrapped in figurative expression. But I guess there will be some of you who find this as a plus point. You gotta read it by yourself and find how this book would affect you.
Profile Image for Geza Bayu.
14 reviews
Read
March 23, 2023
Sebagai pembaca yang lumayan banyak melahap karya-karya Mas Puthut, buku satu ini memberikan perspektif baru kalau beliau adalah penulis yang pernah sangat ngawur dalam berimajinasi, tidak pernah membayangkan ada buku se-jahat ini dalam beberapa diksi. Metafornya kaya, meski agak sulit untuk menangkap maksud dari dalam cerita.

Ya, buku yang cocok untuk melatih imajinasi-imajinasi ngawur, melihat realitas dengan perspektif yak-yakan, kaya akan diksi, penuh dengan dua kata ngeri seperti "vagina berkarat" dll. Kalau niat awal baca buku ini setengah-setengah, pasti boring pas udah dapet dua atau tiga judul cerita. Agak sulit dicerna!
Profile Image for Afifah.
92 reviews4 followers
September 19, 2017
berisi 10 cerita.
sangat imajinatif, mnggunakan gaya bahasa dan diksi yg estetis, filosofis dan punya makna tertentu. kadang aku bisa tangkap, kadang aku sama skli gak bisa.
Membacnya trkadng serasa pnuh dndam, kengerian, kmtian, pmbunuhan, tapi ada renungan, knangan masa kecil , mimpi, dan kasih syang.

kasih 3,5 /5 jd kubulatkan 4
Profile Image for Aditya Agni.
47 reviews3 followers
November 17, 2020
Beberapa cerita harus dibaca berulang-ulang beberapa kali, kadang masih tidak bisa dimengerti juga.

Bukankah tidak semua hal diciptakan untuk bisa dimengerti, namun tanpa sedikitpun mengurangi keindahannya. Seperti kamu, misalnya.

Pemilihan diksinya sangat cermat, jika disuarakan kadang terdengar seperti puisi.
Profile Image for Aya Canina.
Author 2 books44 followers
December 13, 2017
cerita-cerita pendek yang puitis, liris, mengiris. tiga cerita yang paling saya cinta:
1. Kota yang Menuju Diam
2. Si Pemungut Mimpi
3. Seseorang di Sebuah Sudut

ada baiknya membaca buku ini tidak dengan suasana semrawut atau jika kamu mampu memisahkan kepala di keramaian, itu lebih baik.
Profile Image for Titisbear.
29 reviews
March 22, 2020
beli buku ini paketan dengan bukunya puthut ea yang lain:
sarapan pagi penuh dusta & isyarat cinta yang keras kepala.
rada gak mudeng sih sama beberapa cerita di buku ini,
mungkin akunya yang bego, jadi bingung :v
Profile Image for Doddy Rakhmat.
Author 4 books4 followers
August 1, 2019
Pikiranku belum cukup dalam untuk memenuhi cerita-cerita dalamnya yang penuh dengan kiasan.
Profile Image for Rifqi Septian Dewantara.
14 reviews2 followers
December 12, 2020
Membaca cerpen ini saya jadi teringat Afrizal Malna sedang membuat puisi.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Huruf Hidup..
19 reviews
July 16, 2021
Buku pertama dari Puthut EA yang saya baca dan terkesan dengan surrealismenya. Padat dan mengakar.
Profile Image for Alvi Tita Wijaya.
35 reviews1 follower
December 12, 2022
Not my cup of tea. 10 cerpen pendek tapi sangat sulit untuk dipahami, terlalu banyak metafora yang digunakan, membingungkan.
15 reviews
September 11, 2024
Paling keren cerpen terakhir karena masih dapat dipahami secara naratif di antara cerita-cerita lain yang abstrak
Profile Image for Aria Anggana.
209 reviews23 followers
June 23, 2015
selesai dalam satu kali duduk. rekor x)))

ini kali kedua saya membaca buku Phutut EA. yang pertama novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. meski bernuansa kelam tetapi humor-humor ala penulis membuat buku itu terasa menarik. kemalangan-kemalangan seakan lumrah ditertawakan (dan memang seharusnya begitu). di kumpulan cerpen ini, beberapa cerita lebih terasa dark ketimbang hanya disebut kelam. tak ada lelucon di buku ini (tetapi ada beberapa kalimat yg akan membuatmu tersenyum, secara pribadi), EA menuliskan sejarah paling kelam negeri ini lebih brutal dan lebih kejam dr yang pernah kubayangkan. awalnya kukira semua cerpen akan bertema seragam tetapi ternyata hanya ada dua cerpen (kalau tidak salah) yang berlatar itu. selebihnya absurditas penulis dalam memahami lingkungan sekitarnya dan menjadikannya sureal.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
September 4, 2025
Membaca Buku Sebuah Kitab yang Tak Suci seperti menjelajah kegelapan dalam balutan estetik yang kelam dan memikat. Puthut EA tidak sekadar menulis—dia melukis absurditas yang menohok nurani, memaksa pembaca untuk mengendapkan rasionalitas dan menyerahkan diri pada absurd lega, bahkan sunyi yang berbisik. Buku ini bukan untuk mereka yang mencari kenyamanan; melainkan untuk jiwa pemberani yang bersedia menatap bayangan paling gelap dan menemukan estetika di sana. Buku yang cukup menarik untuk dibaca.
Profile Image for Yusnaeni Yusuf.
16 reviews1 follower
December 1, 2014
ooohhhh...it's hard understand the essential of it... i have tried so hard for it.....
Displaying 1 - 30 of 30 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.