Buku ini ditulis untukmu yang sedang goyah dan berdiri di ambang pintu kedewsaaa. Aku berpikir bahwa “dewasa” bukan merujuk pada satu “titik” dalam perkembangan manusia, melainkan sebuah “proses” untuk mampu mengatasi cobaan hidup. Kita menjadi dewasa setelah mengalami berbagai cobaan dan belajar sedikit tentang kehidupan.
Sebenarnya, kita semua memiliki cobaan yang tidak bisa kita selesaikan dengan seluruh tenaga sekalipun. Karena itu, terimalah takdirmu bertahanlah, jadikan ia teman. Pada akhirnya, kamu akan bisa melewatinya dengan baik, belajar setahap demi setahap “cara” mencintai takdir itu. Jika kita tabah melewati kerikil dalam takdir kita yang curam dan kasar, suatu saat kita pasti akan tiba di jalan kebahagiaan yang telah menunggu.
Mari kita lewati hari ini. Ada mantra yang harus kita hafal agar bisa melaluinya. Mantra yang harus dirapal dengan sungguh-sungguh seperti seorang penganut taat yang sedang berdoa, mantra yang tak terasa dapat mengubah diri dan takdir kita:
Ini bacaan yang tepat untuk kamu yang sedang berjuang di fase quarter life crisis. Ya, tepatnya muda-mudi berusia 18-35 tahun. Rando Kim seakan mengajakmu berkontemplasi dari segala kemelut hidup yang kian kalut. Dalam buku pengembangan diri ini, Kim bertutur kepada pembaca seputar pengalaman hidupnya semasa muda hingga menjadi orang tua. Penulis yang berprofesi sebagai dosen ini pun mengajak pembaca mudanya untuk merenung bersama atas setiap peristiwa hidup di sekitarnya.
Bab yang paling menyentuh sekaligus membuat saya tak henti menitikkan air mata ialah 'Berjumpa, mencinta, lalu hiduplah'. Pada bab ini, banyak fragmen kehidupan yang relevan bagi mereka dengan usia menjelang 30an dan dalam masa pencarian pasangan. Kim tidak bermaksud menasihati, tetapi cerita pengalaman hidupnya di bab tersebut menjadi referensi atau kisi-kisi sebelum membina kehidupan rumah tangga. Bisa dibilang itu semacam wejangan pernikahan.
Ada banyak kutipan favorit dari buku ini. Dua di antaranya yaitu: (1) "Menjadi dewasa mungkin merupakan sebuah proses untuk memahami orang tua dengan cara berbeda.."; dan (2) "Tidak ingin hidup seperti ibu, tetapi tetap saja mirip dengannya. Tidak ingin seperti ayah, padahal tidak mudah menjadi dirinya."
Bagi siapa saja yang sedang dalam masa bimbang di pekerjaan (ingin resign atau bertahan), merasakan kesepian karena ditinggal teman-teman, berjuang membangun pernikahan impian, dan ingin memulai kehidupan setelah bangkit dari titik terendah, duduklah bersama buku ini. Amor Fati. Cintai takdirmu. :)
"Cobalah tengok laci di hatimu. Ada apa di dalamnya? Mimpi-mimpi yang ditumpuk dengan asas kapan-kapan itu, masih adakah di sana? Atau justru sudah membeku?" - Amor Fati, Rando Kim. . . Aku membaca AMOR FATI karya Rando Kim ini, bersamaan dengan challenge @ibumudaindonesia, mengeluarkan 'yang terpendam'. Jadi.. sambil mengeluarkan benda-benda yang pernah kulupakan keberadaannya dari berbagai sudut rumah yang keliatan tapi ga keliatan, diwaktu lainnya aku merasa seperti dikupas sekupas-kupasnya oleh AMOR FATI ini ;9. . Aku diajak banyak bernostalgia oleh kedua kegiatan ini: mengeluarkan yang terpendam & membaca Amor Fati. Sekaligus diajak untuk menerima dan merelakan banyak hal lain yang dulu sulit untuk kuterima. Mensyukuri banyak hal yang ternyata sangat berharga bagiku. Sekaligus mencintai diri sendiri sepaket dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada. . . Berbaik-hatilah pada diri sendiri: akui, terima, atau bahkan let it go. Memiliki banyak kekurangan, melakukan banyak kesahalahan bukan akhir dunia, justru dari situlah kita seharusnya banyak belajar. "Kesadaran memang selalu datang agak terlambat, tetapi tidak pernah terlalu telambat untuk memulai apa pun sejak sekarang..."
Despite all the quote bombarding on your social media to 'keep dreaming', this book remind us that there is sometimes harsh truth in life & we have to embrace it. It is because there is no such perfect life. Rando reminds us to stay on the ground & real while surrounding may seem brutal. His writing is far from lecturing style despite his occupation but it is an invitation to always be reflective.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku kedua rando kim yang saya baca. Ternyata dia lanjutan dari bumu pertama Time of Your Life. Bagian ini menceriyakan tentang peralihan dari masa lulus kuliah ke masa dunia kerja. Kasi tau ke kita kalau ga semua hal atau orang bisa bersikap seperti yang kita mau. Akan selalu ada hal buruk yang kita hadapi, akan ada orang jahat yang kita temui, tapi di balik semua itu ada satu hal yg bisa kita lakukan, mencintai takdir sendiri.
Buku ini lanjutan Time of Your Life, tapi namanya nonfiksi jadi sah aja baca yang mana dulu. Isinya tentang kisah-kisah perjalanan orang-orang menuju "kedewasaan". Mulai dari yang stres cari kerja, pengen resign dari kerjaan pertama, bingung atur waktu buat urusan kantor dan keluarga, sampai perkara nikah muda, dan obsesi untuk kesuksesan. Dari banyaknya bab dengan kisah berbeda, aku paling suka tentang "Hidup adalah Penderitaan". Penulis menjelaskan bahwa setiap orang punya cobaan dan kita nggak harus ngerasa iri atau iba secara berlebihan. Menurut penulis sih, hidup itu adil. Sebab ngasih penderitaan pun adil. Makanya dia bilang kita harus mencintai takdir kita, bahkan waktu kita kesusahan dan menderita. Aku pribadi lebih bisa terima pernyataan bahwa hidup ini nggak adil. Ada masa ketika kita udah berusaha semaksimal mungkin, tapi hasilnya nggak sesuai. Sering malah di kasusku. Lalu salah satu atasanku di kantor bilang, "Kamu itu harus jadi problem solver." Karena hidup memang nggak pernah adil. Nggak peduli kita nangis, berdarah, atau lelah, biasanya hidup tetap ngelempar masalah. Tapi kita bisa milih bagaimana bereaksi dan mengatasi masalah itu. Jadikan masalah sebagai peluang untuk berkembang *tsaah Nui Teguh berkata 😂😂😂 Anyway, buku ini sangat cocok dibaca oleh segala golongan. Tapi paling kerasa impact-nya buat 20 tahun ke atas hehe 😁
seharusnya ini menjadi buku penutup 2019. setengah buku sudah dilalap. namun, karena liburan di Malang yang begitu berkesan dan bertemu banyak orang sambil mendengar kisah mereka, aku putuskan untuk rehat dari membaca. aku lanjut lagi pada awal 2020 dan akhirnya selesai.
sudah dipastikan bahwa buku ini penting, setidaknya bagiku. ada beberapa pertanyaan tentang menjadi dewasa yang dijawab secara logis dan "dewasa" di buku ini. aku sengaja tidak membaca buku sebelumnya dari Rando Kim karena sepertinya masa remajaku--yang menjadi bahasan utama buku tersebut--sudah lewat.
aku mungkin akan menulis ulasannya. selamat tahun baru! dan wow, buku penting ini jadi karya pertama yang kubaca pada 2020!
Sejak manusia tercipta fisik dan ruhnya, takdir sudah tertulis mulai dari dia lahir hingga wafat. Jadi semua sudah sesuai dengan skenario yang ditulis oleh Tuhan tentunya.
Selama hidup pasti ada saja lika likunya mau senang atau susah hingga merasa bahwa hidup itu sulit. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa apa yang dijalani semua ini sudah merupakan takdir yang Tuhan tuliskan?
Dibuku terbitan BIP setebal 323 halaman ini menjelaskan semua hal detail mengenai bagaimana manusia menjalani hidup, bagaimana jika masalah muncul, bagaimana manusia bisa bertahan atau berjuang menghadapinya. Tapi manusia harus belajar bahwa apa yang dialami sudah tertulis dan ini disebut sebagai takdir.
Lalu apakah manusia harus membenci takdir yang tertulis dalam hidupnya? Tidak! Rando Kim sebagai penulis buku ini mengajarkan bahwa takdir itu harus dicintai, kemudian bertahan dan berjuang untuk bisa melewati semua jalan kehidupan.
Melalui tulisan beliau, kita akan belajar bagaimana menghadapi hidup baik secara individual maupun sosial dalam berbagai aspek kehidupan. Tujuannya sederhana, agar kita bisa menikmati dan mencntai apa yang sudah dijalani dalam hidup dan bisa melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya.
Bagaikan mantra, "Amor Fati" yang berasal dari bahasa latin yang artinya cintai takdirmu. Karena manusia sudah tertulis takdirnya, tinggal kita yang harus melewati dan menghadapinya. Kalau dihadapi dengan emosi dan menyalahkan kenapa hidupnya begini, yang ada jadi stres bahkan berakhir dg membunuh dirinya sendiri. Sayang kan?
Buku ini cocok untukmu yang sedang merencanakan kehidupan, berada di persimpangan jalan, remaja yg mencari jati diri atau sedang merasakan hidupnya sulit namun tidak tahu bagaimana bisa bertahan dan melewatinya. Karena buku ini penuh dengan nasihat dan quote yang bagus dan mengena sampai ke hati.
Maka dari itu, Syukuri apa yang dijalani, cintai takdirmu,.
Saya belum baca buku pertamanya yang berjudul Time of Your Life, tetapi begitu pertama kali saya melihat cover ini di toko buku. Saya langsung tertarik dengan tulisan Cintai Takdirmu. Jadi saya langsung membelinya. Begitu membaca, kata-kata nya begitu mudah dipahami tetapi maknanya dalam, terlebih lagi kita diberitahu step by step untuk menjadi dewasa dan apa yang akan terjadi di usia kita dari dunia kerja sampai menikah. Sebagian dari kita sudah dewasa secara fisik tetapi apakah kita sudah dewasa? Itulah yang perlu dipertanyakan. Banyak kata-kata yang bisa diambil kutipannya sebagai pelajaran untuk menjadi dewasa. Misalnya.. Bertahanlah. Kamu adalah Mojuk. Kamu adalah air yang sedang mendidih. Jadi, kesempatan terbaik sebenarnya adalah ketika kesempatan itu sendiri belum datang. Karena itu, bersiaplah; seperti Mojuk, seperti air mendidih, dan seperti Matahari.
Dewasa bukan berarti tidak mengalami cobaan, melainkan justru harus mengalami seribu cobaan. Ya, goyah sedikit tidak masalah. Sebab, kelabilanmu dan aku adalah jarak sangat pasti yang harus ditempuh untuk menjadi dewasa.
"Bila kita berpikir semua ini adalah kesalahan orang lain, tumpukan salju di atas payung pun akan terasa berat. Sebaliknya, bila kita berpikir bahwa ini adalah takdir kita, besi yang dipikul pub akan terasa ringan."
Menjadi dewasa adalah melepaskan diri dari obsesi harus menjadi hebat. Sedikit berbaik hatilah pada diri sendiri. Dengan demikian, kita akan bisa menjadi lebih baik.
Buku ini benar-benar cocok untuk pembaca yang ingin menjadi dewasa, sampai kapan pun kita tetap belajar menjadi dewasa sekalipun usia kita sudah tua. Jadi cocok untuk semua usia yang ingin membaca. Selamat membaca!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menjadi dewasa itu tak mudah. Kadang merasa bahwa kehidupan begitu menyesakkan dan rumit. Masalah pribadi yang belum tuntas, ditambah lagi dengan masalah sosial. Semuanya seolah berpadu dan bekerja sama membuat mental naik turun. Buku ini hadir tepat sekali sebagai upaya menguraikan kerumitan itu semua. Banyak statement yang membuat saya mengangguk membenarkan dan menyetujui apa yang beliau, Prof Rando Kim, tulis. Yang paling saya ingat adalah tentang filosofi pohon mojuk, kurang lebihnya begini "Kadang ada manusia yang seperti pohon mojuk, setahun, dua tahun, tiga tahun, tak menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Eh tak taunya ia sedang memperkuat akarnya." Sifat-sifat yang suka membandingkan hidup dengan hidup orang lain dan memandang orang lain lebih tinggi atau lebih rendah, luluh lantah terbantah. Jadi banyak istighfar karena merasa telah menjadi manusia yang teramat kurang dalam bersyukur 😔 Prof Rando Kim juga memaparkan sebuah kalimat yang bertolak belakang dengan pemikiran orang pada umumnya. Seperti ini contohnya, "Orang yang sakit akan berumur panjang dan orang yang memiliki banyak kekurangan akan sukses, ... ", penjelasan lengkapnya ada di bab "Kekurangan adalah Penyelamat Diri". Buku ini mengajak kita untuk mencintai takdir, bukan berarti berpasrah, akan tetapi melepaskan diri dari obsesi harus menjadi hebat, berbaik hati pada diri sendiri dan menjalani semuanya lebih baik lagi sesuai versi kita. Bersyukur sekali karena telah membaca buku ini :")
Waktu itu Saya membeli buku ini setelah tertarik dengan judul "amor fati". Setiap kali menyebutkan kata ini yang terngiang adalah nada dari lagu amor fati-nya Kim Yonja, yang pada saat itu dibawakan ulang oleh izone. 😂😂 apalagi setelah melihat penulisnya adalah rando kim. Saya membaca karyanya yang berjudul "time of your life" sebelumnya, cukup menghibur sekali pada saat dibaca ketika menjalani kehidupan sebagai dokter gigi muda kala itu. . Tulisan prof. Kim di halaman awal "mereka mengira bahwa semua masalah akan teratasi bila sudah bekerja." membuat Saya mulai larut dalam tiap untaian kata yang beliau tuliskan. Karena pandangan itu pernah mampir ketika mulai bekerja. . Penyampaiannya begitu ringan dan hangat, tapi mengena juga manis. Beberapa kali menangis gara-gara buku ini. 😂😂 Amor fati benar-benar membuka mata dari sudut-sudut pandang yang baru, menyemangati, dan mengajarkan untuk mencintai diri dengan lapang dada menjalani masa muda menuju dewasa dan melihat kehidupan secara wajar. . Layaknya seorang teman yang paham kondisi saat ini, Saya bacanya lambat-lambat biar gak cepet selesai. Banyak bagian yang bisa diambil sebagai quote, jadi pengingat dikala keraguan dan kesedihan melanda. . Buku ini direkomendasikan untuk mereka yang sedang berdiri di ambang pintu kedewasaan dengan bimbang.. Kayak prof. Kim bilang. .
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku motivasi yang terdiri dari 4 bagian dimana masing-masing bagian memuat beberapa artikel. Bagian pertama garis besarnya soal bersahabat dengan takdir. Bagian kedua tentang masa muda. Bagian ketiga soal masa-masa dewasa dan keluarga. Bagian keempat mengenai keterpurukan atau kegagalan. Artikel ditulis dengan bahasa yang santai. Kisah-kisah penulis atau orang lain juga disisipkan seperti buku motivasi umumnya. Terkait banyak budaya Korea yang disampaikan, terdapat penjelasan yang mungkin membantu. Yang menarik penulis menyajikan potongan-potongan puisi atau karya sastra lain dalam artikel. Beberapa kutipan baik yang disajikan dengan bahasa asing atau diterjemahkan ke bahasa Indonesia terasa puitis. Kata-kata mutiara juga bertebaran, misalnya : - Manusia ada bukan karena bernilai, manusia bernilai karena ada. (hal. 89) - Jika tidak akan mencintainya, tinggalkan. Namun jika tidak akan meninggalkannya, maka cintailah. (hal. 129) - Hidup adalah tentang sulitnya menjadi profesional dalam satu jenis pekerjaan yang kita jalani saja. Menjadi dewasa adalah melepaskan diri dari obsesi harus menjadi hebat. (hal. 303) Pada bagian tertentu anjurannya terasa klise seperti berbuat baik maka hasil akan baik. Namun pada bagian tertentu kita diajak untuk lebih menerima ketidaksempurnaan sebagai kewajaran. Sesuai judul buku yang kalau diterjemahkan berarti "cintai takdir".
Rasanya seperti teman mengobrol yang baik :") Itulah hal pertama yang muncul setelah aku menyelesaikan buku ini. Teman mengobrol topik-topik yang ada di dalam buku ini (tentang dunia orang dewasa), yang ga aku miliki di dunia nyata. Rasanya aku ga nyesel beli buku ini. Dan, rasanya memang seperti seorang teman yang (cukup) memahami perasaanku sebagai seorang yang mulai menapaki dunia orang dewasa. FYI, Rando Kim ini adalah seorang Profesor di Seoul National University. Saat beliau menulis ini, usianya sudah mendekati 50 tahun.
Aku banyak banget nandain bagian-bagian bagus di buku ini; yang relateable, yang ngejleb perasaanku, menyindir pemikiranku, membuka sudut pandangku, yang membuatku merenung sedikit lebih lama. Aku jarang baca nonfiksi, dan aku merasa sedikit kagum saja dengan diriku yang menyelesaikan buku ini. Mungkin karena memang aku tengah membutuhkan seseorang yang membicarakan topik-topik ini di usiaku yang tanggung. Atau bisa jadi karena memang gaya menulisnya, yang rasanya seperti teman. Rasanya dekat dan mengayomi; mendengarkan suara kita.
Satu hal yang membuatku semakin memantapkan diri untuk membaca (membeli) buku ini adalah taglinenya dan juga blurbnya. Di bagian covernya dituliskan, "untuk kamu yang beranjak dewasa..." RASANYA BUKU INI SEPERTI TENGAH MEMANGGIL DIRIKU (!!!), kurang lebih begitu rasanya. Dan blurbnya, "Buku ini ditulis untukmu yang sedang goyah dan berdiri di ambang pintu kedewasaan"; begitulah panggilan jiwa itu tercipta. Selain kedua hal tadi, buku ini memiliki judul yang mengingatkan aku kepada salah satu member BTS, Namjoon (RM). Pernah suatu waktu Namjoon mengatakan Amor Fati kepada fansnya. Aku tahu maknanya, tapi untuk memahaminya dengan seluruh kesadaran milikku sendiri secara penuh sepertinya belum. Aku belum bisa memahaminya :") Di dalam buku ini ada satu essay dengan judul yang sama "Amor Fati", dan setelah membacanya pun aku masih belum benar-benar bisa memahaminya dengan baik. Hanya sebatas, "Oh, begitu maksudnya." Apakah mungkin ini karena aku belum bisa menerima takdirku? Menerima diriku? *hening*
Jadi, buku ini berisi 4 bagian : (1) Amor Fati, Cintai Takdirmu (2) Anak Muda, Tapaki Dunia (3) Berjumpa, Mencinta, Lalu Hiduplah (4) Untukmu yang Akan Memasuki Titik Balik Dalam Hidup
Aku menemukan diriku lebih "tertarik" di dua bagian terakhir; topik-topik yang dibicarakan lebih mengena dalam pikiranku. Untukku yang berada di depan pintu kedewasaan, topik-topik yang diangkat benar-benar menjadi sebuah insight (beberapanya pernah aku rasakan); rasanya seperti mengintip sesuatu yang bisa saja terjadi dalam hidupku, memberikan gambaran seperti apa kehidupan orang dewasa, atau apa yang orang dewasa rasakan (pengalamannya Rando Kim). Tentang pernikahan, pertemanan orang dewasa, krisis identitas diri, tentang orangtua, kehidupan "working mom", kehidupan seorang istri, dan lain-lain. Dua bab pertama membahas tentang pekerjaan, gaji, nilai diri, perasaan kesepian, dan beberapa petuah yang membuat hati bisa bernapas dengan sedikit lega di tengah hidup yang dirasa berat :")
Gimana ya? Saat usiamu 20-an, kamu mulai memikirkan kamu ingin hidup seperti apa, hidupmu ingin dibawa kemana. Kamu memikirkan soal pekerjaan, jodoh, pernikahan, hidup Ayah dan Ibu, juga tentang siapa diri kita yang sebenarnya. Dengan alami, muncul juga perasaan kesepian. Ingin membicarakannya dengan seseorang, tapi tidak tahu siapa yang bisa diajak mengobrol soal topik-topik "serius" macam ini, atau takut dianggap kalo kita terlalu "berlebihan" dalam memikirkannya. Makanya aku merasa beruntung bisa membaca buku ini, karena ada seseorang yang kira-kira paham apa yang kamu rasakan; apa yang ada di dalam pikiranmu, kegamanganmu. Ada seseorang yang berbicara mengenai topik-topik itu padamu dan membicarakannya dengan santai; rasanya tidak menggurui. Rasanya seperti seorang teman.
Setelah menyelesaikan buku ini, ada sedikit perasaan kehilangan. Ingin lebih banyak membicarakan soal kehidupan. Tentang menjadi dewasa. Aku ingin membaca buku lainnya dari Rando Kim. Ingin berjumpa lagi dengan beliau dan berbincang sedikit lebih lama :") [NR/18]
Ini adalah buku yang bakal aku baca berulang-ulang sampai entah kapan. Iya, secinta itu aku sama buku karya Rando Kim ini. Buku yang membahas tentang proses menjadi dewasa, bahwa dewasa itu nggak mengacu pada satu "titik", tetapi lebih kepada proses. Buku ini menyajikan kisah-kisah yang dialami dan ditemui penulis. Walaupun latarnya di Korea, aku sendiri sebagai pembaca tetap merasa sesuai dengan buku ini, dan paham saja dengan apa yang dibahas.
"Apakah hari ini kamu adalah tuan bagi kebahagiaanmu sendiri, ataukah budak dari pandangan orang lain?"
Banyak sekali hal-hal yang dikatakan oleh Rando Kim membuatku bergumam, "Iya juga, ya." atau "Bener juga, sih." Bukan cuma disadarkan, tetapi juga rasanya seperti tertampar. Banyak bahasan menarik dalam buku ini. Salah satunya tentang pernikahan dan tentang ibu rumah tangga yang seolah seperti dipenjara yang mengatasnamakan "demi keluarga tercinta".
Soal bab yang membahas pernikahan, aku setuju banget. Dijelaskan kalau definisi pernikahan itu subjectif, tergantung siapa yang mengantakannya, karena semua orang punya definisi masing-masing dan sudut pandang yang berbeda mengenai pernikahan. Pernikahan juga pilihan. Mau menikah atau enggak, ya itu semua ada risikonya. Kalau memilih menikah, kebebasannya sudah tidak sama seperti dulu, kalau memilih tidak menikah ya harus merasakan saat-saat sendiri tanpa orang lain di sisi kita.
Dari buku ini aku banyak belajar, terutama untuk mencintai diri kita sendiri dan takdir kita. Juga karena buku ini aku merenungkan banyak hal. Tentang ketakutanku menjadi dewasa, bagaimana aku nanti, bahkan tentang hari esok yang sudah menanti. Duh, rasanya pengin sekali ketemu sama penulis. Beruntunglah orang-orang yang bisa menemui beliau.
Buku ini layak dibaca semua orang dari berbagai usia, tapi memang impact-nya lebih terasa dibaca pada usia 20-an sih. Jadi kepingin baca buku yang pertama, yang judulnyaTime of Your Life.
Apakah yang kamu tangkap dengan istilah dewasa? Apakah saat kamu telah berusia 20an ke atas atau saat kamu telah mendapatkan pekerjaan dan kemapanan hidup?
Amor Fati, atau yang diterjemahkan dengan Cintai Takdirmu merupakan sebuah buku self-improvement yang berisikan esai inspiratif yang dipadukan dengan kisah yang menarik. Kamu akan mendapati banyak petuah yang membantumu menstabilkan kehidupan kala segala yang kamu inginkan telah terpenuhi.
Terkait dengan esensi dewasa. Dewasa adalah suatu proses kemampuan dalam mengatasi cobaan hidup. Kita semua menjadi dewasa setelah mengalami serangkaian cobaan yang menimpa kita dan belajar dari pelajaran yang disuguhkan oleh kehidupan atasnya.
Sesuai dengan judulnya, Cintai Takdirmu, kita diajak untuk mencintai kehidupan yang kita miliki. Alih-alih fokus pada sesuatu yang tidak kita miliki, melalui buku ini kita akan diajak untuk mengembangkan apa yang telah kita miliki, sesuatu yang ada di dalam diri kita sendiri.
Seperti salah satu quotation yang diungkapkan oleh sang penulisnya, Rando Kim, menjadi dewasa adalah melepaskan diri dari obsesi harus menjadi hebat.
Sesuai judulnya, buku ini lebih mengarah ke bagaimana harus bersikap terhadap takdir. Ya, cintai takdirmu. Menurut penulis, buku ini ditujukan untuk anak muda yang bergerak menuju dewasa, seperti umur >20th. Dari bab-babnya, memang relevan dengan kehidupan 20-an, seperti masa ketika lulus kuliah dan belum dapat kerja, atau ketika mau resign dari pekerjaan, atau ketika mendapat gaji pertama, dan masalah kehidupan lainnya. Sebenarnya saya kurang suka buku ini, entah karena kurang ngena atau penyampaiannya yang menurut saya kurang menyentuh. Tapi setelah dipikir-pikir, banyak pelajaran yang dapat diambil dari buku ini. Sebagai catatan untuk diri sendiri. Saya paling suka dengan filosofi pohon mojuk (silakan dibaca sendiri hehe). Pelajaran yang paling saya ingat adalah setiap manusia memiliki waktunya masing-masing, tidak perlu iri dengan kehidupan orang lain, cukup persiapkan dirimu, teruslah berkembang hingga waktunya tiba kau mendapatkan yang kau inginkan.
Untuk kamu yang beranjak dewasa...... Amor Fati (Cintai Takdirmu)
Buku ini membahas tentang aspek-aspek kehidupan orang yang katanya 'sudah dewasa' . . . Mulai dari soal prioritas dalam hidup. Pilihan karrier, keluarga, dan hobi. Bagaimana orang dewasa sering dihadapkan dengan 3 hal tersebut yang kadang harus mereka pilih dan mereka relakan salah satunya. Dan juga pilihan mengenai pekerjaan atau uang. . . Lalu mengenai kehidupan menjadi seorang yang dewasa yang semakin sepi dan bagaimana menjadikan kesepian tersebut sebagai kekuatan. Flee into thy solitude ! Thou hast lived too closely. To the small and the pitiable. Buku ini juga membahas tentang bagaimana pertemanan orang dewasa dan bagaimana untuk hidup sebagai seorang yang amatir. . .
This entire review has been hidden because of spoilers.
Salah satu buku self improvement "ternyaman" yg pernah kubaca. Vibes bacanya smooth, soft, tapi poinnya kena ke hati. Bacanya kudu pelan2 biar bisa lebih memaknai tiap esainya.. Awalnya kukira buku ini ditujukan utk remaja, krn di covernya tertulis "untuk kamu yang beranjak dewasa.." Tapi ternyata bukan. "Dewasa" yg dimaksud di sini adalah org dewasa muda, yg baru memasuki dunia kerja profesional, yg baru menapaki gerbang pernikahan, yg baru lulus kuliah, yang dituntut bersikap "dewasa" oleh kehidupan. Intinya, setelah baca buku ini aku jadi mulai mengerti kalau apa yg aku rasakan itu bukan sesuatu yg aneh, kalau ternyata apa yg aku rasakan adalah hal yg hampir seluruh orang rasakan. Bukan buku yg solutif, tapi cukup menenangkan. =`)
Menurutku sama seperti epilog pada buku ini, memang bukan buku yang berbobot..
Namun buku ini ringan dibaca dan cukup mencerminkan judulnya mengenai kehidupan orang2 yg memasuki masa kedewasaan
Aku sendiri entah kenapa selalu merasa tertarik membaca self improvement yg berasal dari korea dari pada yg berasal dari barat, entah itu karna kehidupan masyarakat yg digambarkan serta kondisi yg terjadi disini mirip2.
Sebagai penutup, buku ini tidak terlambat utk dibaca diusia ku ini, banyak pelajaran yg bisa aku ambil dari sepenggal cerita yg dihadirkan, semoga aku dan pembaca lainnya dapat menjadi orang dewasa seutuhnya bukan karna usia, ditungggu prof buku selanjutnya
Direkomendasikan oleh salah satu teman saat aku mencari buku berbau self-love, dan kuakui ini salah satu buku favoritku sepanjang perjalanan membacaku, yang mengherankan, ini non-fiksi.
Penuturannya begitu ringan dan mengalir tanpa menimbulkan rasa bosan saat membacanya. Selain itu, dia tidak menbosankan karena begitu relatable dengan kehidupan yang sedang dan akan kuhadapi.
Kalian harus baca ini, terutama untuk yang akan beranjak dewasa. Harus!
(5/5) “kulepaskan kegembiraan menikmati proses karena rasa kewajiban harus sukses dan tidak boleh merepotkan atau mengecewakan. Sementara itu, hidup sebagai amatir berarti menikmati proses secukupnya mengakui bahwa kita tidak harus menjadi profesional dalam setiap lini kehidupan”.
Not gonna lie, this book is really helps me to understand this “transition phase to adulthood”. the last chapter was enough to make me almost shed tears. I want to thank Rando Saem for writing this such wonderful book.
Membaca buku ini sangat sangat bikin healing, kadang mikirin banget masa masa dewasa itu menyulitkan, tapi itulah kehidupan bukan. Ada tantangan, begitu tajam naik turun dan banyak tikungan. Baca buku ini bikin aku tersadar kalau berapa pun umur kita, kita tetap saja belajar bagaimana caranya menjadi dewasa. Banyak part berbicara tentang kehidupan setelah kuliah. Tentang pekerjaan, pernikahan, Punya anak, dan sampai membicarakan kematian. Aku ingat bagian trilema apakah mungkin aku akan mengalami itu juga nanti ya hehe
"Mereka kira semua masalah akan teratasi bila sudah bekerja. Namun setelah terpelanting kesana kemari barulah mereka sadar menjadi dewasa tidak semudah membalikkan tangan. Sesulit itulah kita menjadi dewasa" (hlm. 13)
Yak yg merasa relate, bisa baca buku ini guys, bs bikin adem.
Arti Amor Fati adl cintai takdirmu. Yep buku ini jg termasuk self-improvement. Buku ini sesuai bgt buat orang2 yh di ambang pintu kedewasaan dan sedang dalam kebimbangan, entah dari segi kerja, pertemanan, bahkan hingga kisah asmara
Buku ini bagus banget buat memberikan gambaran kalau hidup menuju kedewasaan itu bukan hal yang mudah namun bukan berarti kita menyerah begitu saja. Membaca buku ini rasanya seperti mendengarkan kisah dari orang-orang yang sama-sama berjuang menuju kedewasaan di luar sana haha. Jadi makin sadar kalau hal seperti ini dan itu bisa terjadi pada siapa saja sehingga tak perlu merasa frustasi dan depresi sendiri, dan bisa memulai mencintai takdir kita 👍
menceritakan sifat asli beberapa orang korea yang bisa menjadi pelajaran buat kita sebagai pembaca, ketiaka rando kim tahu bahwa seorang bisa dewasa tergantung bukan dari dirinya sendiri. Banyak kisah menarik yang di ceritakan rando kim sebagai penulis ketika banyak orang yang menyakitkan dalam hidup tapi tetap mau berjuang dalam kesulitan tersebut.
This is the ultimate book for people in their 20s. I am in my 20s and this is (so far that I've read) the best "self-help" book for young adults. The portion between the author's story and the advice was good, so we can relate to the author's point.
One of favorite books all the time! Buku yang benar-benar mengajarkan value hidup baik itu tentang kegagalan, pernikahan, masa tua dan lainnya. Perlu banget untuk dibaca at least once in a life time. 🙌
Banyak bab yang relate untuk kehidupan ku di usia 26 ini. Banyak pertanyaan2 dalam diri, yang terjawab setelah membaca buku ini. Namun di bab-bab akhir, agak sedikit menjenuhkan. Mungkin karena kehidupan ku belum relate dengan apa yang dibahas di bab tsb. But overall, good.