Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Last Crowd

Rate this book
A story of human confusion in the midst of a fast-changing digital era, when humans don’t have much chance to stop, look back, and contemplate. Moving from one crowd to another, from connecting to alienating, we ¬ock to the future and leave the past behind.

Technology has transformed human civilisation. Social network is the new world, where tremendous amount of time is spent running away from the harsh reality of life lled with defeat and absurdity.

The novel portrays a young Generation Y, who lives in two worlds with blurring boundaries. Unable to distinguish what's real and what's virtual, Jayanegara falls into the trap of hope and illusion of cyberspace.

As the rst Indonesian novel that explores the pressing issue of human existence in an era where modern technology consumes our existence, The Last Crowd cleverly unravels our deepest fears and desires: loneliness, isolation, and an innate obsession to be whoever we want to be on screens.

360 pages, Paperback

First published May 2, 2016

58 people are currently reading
428 people want to read

About the author

Okky Madasari

23 books447 followers
Okky Madasari is an Indonesian novelist. She is well-known for her social criticism with her fiction highlighting social issues, such as injustice and discrimination, and above all, about humanity. In academic field, her main interest is on literature, censorship and freedom of expression, and sociology of knowledge.

Since 2010 Okky has published 10 books, comprising of five novels, one short-story collection, three children’s novels and one non-fiction book. Her newest book (2019) is Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan or “Genealogy of Indonesian Literature: Capitalism, Islam and Critical Literature”, which is published online and can be freely downloaded from her website www.okkymadasari.net. Okky’s novels have been translated into English, Germany and Arabic.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
81 (13%)
4 stars
199 (33%)
3 stars
241 (40%)
2 stars
61 (10%)
1 star
7 (1%)
Displaying 1 - 30 of 134 reviews
Profile Image for Marina.
2,042 reviews361 followers
May 9, 2016
** Books 115 - 2016 **

3,4 dari 5 bintang

"Betapa pentingnya semua itu bagi mereka. Betapa kasihannya anak-anak muda zaman sekarang ini. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah dibuat haus perhatian. Semua ingin disukai, semua ingin punya banyak pengikut, semua ingin terkenal dan dikenal. Apa lagi yang menyedihkan selain menggantungkan kebahagiaan kita ditangan orang?" (Halaman 172)


Ketika saya tahu dari website Bukabuku bahwa ada buku terbaru dari mbak Okky yang berjudul Kerumunan Terakhir ini dirilis pada 2 Mei 2016 tanpa berpikir panjang saya langsung order karena saya adalah salah satu pengagum karya-karya mbak Okky yang biasanya unik dan berani tampil beda dari karya sastra yang sejenis. Tetap sih favorit saya buku Entrok dan Maryam :)

Eksistensi dan pengakuan diri itulah hal yang tidak lepas dari manusia jaman sekarang. Betapa semua hal dapat mudah diumbar ke khalayak umum dengan tanpa ada batasan apapun. Betapa mudahnya kita terhubung satu sama lain melalui sosial media dan telepon. Waktu yang dibutuhkan untuk mengirim surat dan pesan semakin singkat dan semua akses informasi dapat didapat secara mudah. Inilah inti cerita dari buku ini secara keseluruhan. Buku ini memuat betapa manusia dapat membuat dunia baru sebagaimana yang diimpikannya hanya dengan membuat username/Id berbeda dan mampu menjelma dengan kepribadian yang lainnya. Lagi-lagi demi mendapat reputasi, pengakuan dan eksistensi dari khalayak publik.

Tokoh utama kita bernama Jay yang merupakan singkatan nama dari Jayanegara. Ia dibesarkan dalam keluarga yang diluar tampak harmonis ternyata didalamnya tidak seindah apa yang diharapkan. Ia sempat dititipkan untuk tinggal bersama nenek dari ayahnya selama tiga tahun karena ibunya tidak sanggup mengurus ia dan ketiga adik perempuannya. Semuanya terlihat sempurna ayah yang pintar mendapatkan beasiswa hingga S3 di Inggris, Ibu yang tekun mengurus rumah tangganya tetapi semua itu musnah seketika ketika sang ayah lebih suka gonta ganti dengan wanita lain dan sang ibu minggat dari rumah.

Jay lelah hidup penuh dengan kepura-puraan. Ia muak dengan sikap kepalsuan ayahnya. Ia memilih tidak meneruskan sekolahnya dan minggat ke Jakarta bersama pacarnya, Meira. Disana ia mencoba mencari pekerjaan namun yang ia dapatkan adalah terpukau dengan pesona dunia baru yang memabukkan. Dunia maya dimana ia bisa tampil menjadi apapun, dimana ia mendapatkan eksistensi dan pengakuan menjadi sebagai MataJaya

"Manusia yang dulu hanya bisa berjalan kaki sekarang bisa terbang bahkan bisa sampai ke bulan dan ingin tinggal di Mars. Ribuan kilometer jarak antarbenua kini bisa dilipat hingga jarak antara jari dan mata. Mau bicara tinggal klik, mau berkirim surat tinggal klik, mau pesan makanan tinggal klik, mau apa pun tinggal klik. Apakah kita masih harus menggantungkan hidup kita pada orang lain?

Kenapa justru kebutuhan kita yang paling mendasar tak bisa kita penuhi sendiri? Kita punya mata yang gemar dimanja, kita punya telinga yang mudah tunduk pada suara, dan tentu saja kita punya tangan lengkap dengan jari-jarinya yang siap sewaktu-waktu untuk bergerilya. Kenapa kita tak mengandalkan diri kita sendiri untuk mendapatkan yang kita cari? (Halaman 242)

"Di dunia yang tak lagi berbatas ini, tak perlu kita memagari diri kita sendiri. Dunia baru yang serba terbuka tak lagi memberi tempat pada ketakutan dan kepura-puraan. Mari kita mencari apa yang kita maui, melakukan apa yang sudah lama kita rindukan. Atau jangan-jangan kalian semua masih belum tahu bagaimana caranya? Ya, itu wajar. Kita butuh pengalaman dan pengetahuan untuk melakukan hal yang kelihatannya sepele. Kita harus mencoba dan mengalami sehingga kita tahu dan memahami" (Halaman 244)"


Masih ingatkah kasus selfie di Taman bunga Amarilys yang terletak di Desa Asemayu, Pathuk, Gunungkidul, Yogyakarta yang hancur terinjak-injak oleh warga? Kasus Selfie di jembatan gantung Perumnas, Langsa Baro, Aceh? Bahkan saya tidak habis pikir dimana letak empatinya ketika seseorang mengunggah foto sedang selfie di kuburan/makam dan korban kecelakaan? =__=a Apakah segitu berpengaruhnya kah eksistensi dan jumlah likes yang diinginkan?

Kita juga dibuat miris dengan kejadian pada 6 April 2016 lalu dimana Sonya Depari mengancam polwan saat ditilang karena melanggar ketika melakukan konvoi usai ujian nasional (UN) yang beredar luas videonya secara viral dan netizen langsung membully habis-habisan dia sehingga terdengar kabar setelah itu ayah kandungnya meninggal dunia. Apakah segitu berhakkah kita menghakimi perbuatannya? Lagi-lagi semua ini karena adanya dunia baru yang membuat semua batasan-batasan yang ada menjadi bias.

Saya juga melihat fenomena di kota-kota besar ketika satu keluarga berkumpul kedalam satu meja didalam restoran tidak ada satu patah katapun yang terucap dari bibir mereka dan mereka masing-masing hanya terpaku pada dunia baru yang lebih memukau ketimbang dunia nyata. Sedih sekali melihat fenomena itu terjadi. Betapa social media menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Makanya itu sebisa mungkin saat liburan saya meletakkan handphone saya dan berusaha berinteraksi, bercengkrama dengan saudara-saudara saya ketimbang sibuk membaca buku ataupun bermain-main handphone. Quality time yang sebenarnya sudah banyak tergerus dengan waktu yang ada di dunia baru :(

Saya jadi teringat ketika selesai membaca buku ini dengan video klip salah satu Girlband Korea Favorit saya, 2NE1 yang berjudul Come Back Home rilis pada tanggal 27 Februari 2014 dimana semua umat manusia memilih untuk tinggal didalam dunia virtual paradise dan pada akhirnya beberapa perempuan mencoba membebaskan diri dari dunia tersebut dan memilih untuk hidup di dunia nyata tanpa ada kepura-puraan dan menjalani hidup dengan apa adanya. :')

Overall, saya lagi-lagi berhasil dibuat takjub dengan karya Mbak Okky yang satu ini karena berhasil mengangkat tema yang sudah ada di keseharian kita dan setelah saya sadari buku ini juga buku kedua mbak okky yang tokoh utamanya pria dan sebelumnya ada di buku Pasung Jiwa. Biasanya tokoh-tokoh utama di buku mbak Okky dihiasi dengan tokoh wanita soalnya :)

"Kota ini terasa sangat berbeda saat malam seperti ini. Semua yang mendadak senyap justru membuatku terasa semakin asing di kota yang sudah asing. Belakangan ini aku hidup dalam kebisingan, di tengah suara dan teriakan, melihat orang-orang berlalu lalang. Kesunyian dan kesendirian membuatku merasa begitu putus asa. Kota ini di malam hari seperti mata-mata yang terus berjalan mengikuti langkahku, mengintai apa yang kulakukan, mencatat semua yang kupikirkan. "(Halaman 200)
Profile Image for ABO.
419 reviews47 followers
June 8, 2016
2,5/5
Mungkin ekspektasi saya yang kelewat tinggi, saya kurang bisa menikmati karya terbaru Okky Madasari ini. Semakin ke belakang menurut saya semakin membosankan. Dan sering sekali saya bingung dengan pengandaian-pengandaian di dalamnya, mana yang memang terjadi di dunia nyata, mana yang cuma di dunia maya. Terus terang ini kali pertama saya kecewa dengan karya beliau.
Profile Image for Sulung  Mardinata.
42 reviews23 followers
June 21, 2016
Sebagai penggemar berat Okky Madasari, saya agak kecewa dengan karya terbarunya yang satu ini. Biasanya saya selalu menemukan hal-hal baru, mendapatkan pengetahuan yang belum pernah saya ketahui sebelumnya dari buku-buku beliau yang saya baca. Namun tidak dalam karya terbarunya ini.

Kerumunan Terakhir menceritakan seorang pria yang berusaha lari dari dunia nyata yang ia benci, dan menemukan kedamaian dalam dunia maya. Di dunia maya, ia bisa berubah menjadi siapa saja. Apapun yang ia inginkan. Ia pun menjadi sosok orang yang baru. Jayanegara di dunia nyata, Matajaya yang luar biasa di dunia maya. Matajaya yang ia ciptakan merupakan penggambaran sosok pria yang luar biasa: tinggal di New York, Fotografer, pernah menjadi stuntmant, dan berani mengambil risiko dengan pergi dari Indonesia untuk menjajal keberuntungan di tanah Paman Sam. Nyatanya, semua hanyalah bualan yang diciptakan Jayanegara agar orang-orang di dunia maya melirik dirinya.

Sepertinya tema yang dia angkat baru, nyatanya tidak. Bagi generasi sekarang yang selalu update dengan berita terbaru dan tak pernah lepas dari smartphone, topik-topik yang ia angkat ke dalam novel kebanyakan berkisah dari apa yang telah kita ketahui. Sebut saja, guru yang ditangkap karena memukul murid, pemalsuan identitas untuk memerkosa wanita, yang demikian bukanlah sesuatu yang baru. Padahal sebagai pembaca yang haus, saya selalu ingin mendapatkan hal baru dari apa yang saya baca.

Pun, saya rasa novel ini terlalu tebal dan bertele-tele untuk memadukan sesuatu yang tidak nyata dengan sesuatu yang nyata. Karakter tokoh pun tidak sekuat biasa, palingan tokoh Jayanegara, ayahnya, serta kekasihnya yang cukup kuat. Yang lain, terkesan tempelan.

Saya justru lebih menyukai bagian lokalitas yang sempat disinggung oleh Okky dalam beberapa bagian di novel ini. Sebut saja, Mbahnya Jayanegara yang memilih menyendiri untuk menjaga puncak tempat orang biasa berdoa. Suasana mistis saat ia dipilih langsung oleh makhluk halus, atau penggambaran kehidupan si Mbah yang jauh dari modernitas justru yang mencuri hati saya.

Mungkin saya sebagai salah satu generasi smartphone, sudah terlalu jenuh dengan segala bentuk kemodernan. Karena itu saya lebih menyukai lokalitas tersebut. Yah, semua kembali ke soal selera bukan?
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
June 11, 2016
2.8/5

Review lengkap menyusul


--------------------------------------------------------

Aku harus lahir kembali. Lebih dari sekadar berganti nama menjadi Matajaya


Di era yang teknologinya makin melesat ini, manusia berlomba-lomba untuk mengejar dan menyamai kemajuannya. Tentu saja sebagian besar dikarenakan ego kita yang tak rela untuk kalah. Bukankah teknologi itu diciptakan oleh para manusia? Masa iya manusia malah kalah dengan kemajuan ciptaannya?

Adalah Jayanegara, lelaki muda yang menjalani hidup biasa biasa saja. Bahkan cenderung tak beres dalam segala hal. Keluarga yang tak harmonis, bapak yang suka main wanita, ibu yang murka, kuliah yang tak kunjung sarjana. Sehari hari Jaya tak pernah memusingkan apa pencapaian atau target hidupnya. Sampai suatu hari, ibunya pergi dari rumah meninggalkan Jaya serta adik adiknya bersama Bapak yang kemudian menikah lagi. Hidup Jaya makin sumpek, rumah tak pernah menjadi labuhan yang nyaman baginya. Ia memutuskan untuk mengunjungi Maera di Jakarta, sudah sesukses apa kekasihnya itu di sana.

Maera bekerja menjadi seorang wartawan politik di sebuah koran kota. Kedatangan Jaya yang tiba tiba tak terlalu memusingkannya, Maera malah bersemangat mengenalkan Jaya kepada dunia baru, internet. Setiap Maera pergi kerja, ia akan selalu berpesan pada Jaya untuk melamar pekerjaan secara online. Tetapi setelah berbulan bulan Jaya mencoba, bukannya pekerjaan di dunia nyata yang ia temukan, ia malah asyik menjelajahi dunia baru yang ramai dan bising di internet.


Aku adalah Matajaya yang ingin membangun hidup baru di sini


Berbekal nama baru dan kemampuannya merangkai kata, Matajaya -nama barunya- menjadi sosok yang terkenal di kerumunan dunia baru. Jaya membangun identitas dan cerita baru tentang siapa dirinya tak peduli apakah itu cerita asli atau hanya fantasi belaka, toh tidak akan ada orang yang tahu atau repot repot mencari tahu.

Merasa menemukan kesenangan baru, Jaya semakin akrab dengan kerumunan kerumunannya dan abai terhadap dunia nyata. Sampai kelak ia menyadari bahwa dua dunia tersebut -nyata maupun internet- saling berkelindan dan mempengaruhi satu sama lainnya..

Buku ini sudah saya tunggu tunggu sejak lama, bahkan sampai ikut pre order segala. Tapi setelah membacanya..eng.. Saya agak kecewa. Cerita Okky memang seringnya terasa membumi, humanis, akrab dengan orang orang yang dikucilkan atau berbeda. Cerita Okky di buku ini agak berbeda, menurut saya. Konfliknya tidak berkesan. Secara garis besar ini tentang Jayanegara dan bapaknya yang bejat, dimulai dari konflik tatap muka sampai konflik yang berlangsung pula di internet. Ini lebih personal, meski memang ada tokoh tokoh sampingan yang digambarkan memiliki konflik juga dengan perihal internet dan dunianya. Tapi tokoh sampingan ini tetap saja tak membuat ceritanya menarik.

Selain itu, saya muak juga dengan ocehan ocehan Jaya yang menasihati pembaca dengan kalimat kalimat bijaknya. Saya lebih suka sebuah pelajaran akan saya temukan setelah selesai membaca sebuah kisah, bukannya malah dijejali dengan petuah petuah dan kata kata mutiara sementara jalan cerita hidupnya sang lakon garing garing aja.

Tentu saya masih akan mengoleksi cerita cerita Okky, sehingga saya pribadi berharap kelak karya beliau berikutnya akan lebih mengendap dan berkesan bagi saya. Akan ada rasa penasaran yang diam diam timbul dalam tiap konflik dan penyelesaiannya. Bukan berakhir seperti cerita Jaya dan Maera begitu saja.
Profile Image for A.A. Muizz.
224 reviews21 followers
February 3, 2021
"𝘑𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪."⁣
—𝘩𝘭𝘮. 230⁣

Sebelum ini, aku sudah membaca lima novel dewasa karya Mbak Okky (Entrok, 86, Maryam, dan Pasung Jiwa) dan sebagian besar kusuka. Jadi, nggak salah dong, kalau aku memasang ekspektasi yang lumayan tinggi terhadap Kerumunan Terakhir ini. Namun, ternyata novel ini nggak sesuai ekspektasiku. 😥⁣

Berkisah tentang Jayanegara yang sudah muak dengan kehidupannya, terutama gara-gara bapaknya yang profesor itu selalu gonta-ganti perempuan, yang membuat ibunya pergi meninggalkannya dan ketiga adik perempuannya. Dia kabur, putus kuliah, dan menyusul pacarnya yang bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Dia tinggal satu kamar kos dengan pacarnya, dan mencari kerja secara daring. Nggak kunjung dapat pekerjaan, dia malah kecanduan main internet (situs porno, media sosial, dsb). Di sana pulalah, dia mencari ketenaran dengan bualannya dan melakukan sebuah pembalasan untuk bapaknya.⁣

___⁣

Geregetan banget dengan kelakuan Jaya ini. Oke, dia kecewa dengan keluarganya. Tapi, masa berbulan-bulan dia hanya numpang di kosan pacarnya aja sambil main internet. Pacarnya juga sulit melepasnya, karena udah candu sama belaiannya. Duh!⁣

Tapi, masalah yang membuatku nggak suka bukan itunya. Meskipun gaya bercerita Mbak Okky mudah dicerna seperti biasanya, rasanya cerita di novel ini terlalu bertele-tele. Juga biasnya kenyataan dan bualan Jaya di medsosnya guna mendapatkan popularitas di dunia maya. Rasanya mau berhenti di tengah-tengah, tapi aku masih menaruh harapan bakalan ada sesuatu yang memikat seperti empat novel sebelumnya. Nyatanya, aku belum mendapatkan itu. Seperlima bagian menjelang akhir baru mulai seru dengan aksi "kriminal" yang dilakukannya bersama teman daringnya. Namun, itu terasa begitu singkat.⁣
Profile Image for Rani Rachman.
93 reviews4 followers
March 19, 2021
Kerumunan terakhir karya kak Okky Madasari kali ini menceritakan tentang kisah seorang laki-laki bernama Jayanegara. Kehidupan seorang laki-laki dari generasi dimana Internet dan teknologi baru saja masuk ke Indonesia, generasi peralihan dari kehidupan kuno menuju kehidupan modern dengan segala kecanggihannya. Di buku ini kak Okky menceritakan bagaimana kehidupan Jayanegara dengan segala permasalahan hidup yang dialaminya dalam keluarga, pendidikan, asmara dan kehidupan sehari-harinya yang berlatar belakang setting waktu di zaman pertama kali handphone di perkenalkan dari yang masih sederhana sampai pada masa dimana handphone bisa memotret dan menyimpan foto. Serta perjalanan hidup Jayanegara sebagai Matajaya yang mulai ketagihan mencicipi kecanggihan teknologi dan internet dan memasuki dunia baru sebagai Matajaya. Di sini kak Okky menggambarkan begitu detail kehidupan seorang Jayanegara atau kehidupan kita semua ketika pertama kali berkenalan dengan Internet, dunia tanpa batas dan sekat, bagaimana seorang Jayanegara menjadi kecanduan berseluncur mengunjungi berbagai negara dengan hanya duduk di kamar kosan dengan hanya sekali klik dan menghadap layar.

Jayanegara digambarkan sebagai seoarang anak laki-laki yang pengecut, tidak bertanggung jawab, dan seenaknya sendiri sungguh tipe laki-laki yang tidak punya masa depan, tidak punya ambisi ataupun rencana hidup, dan baru kali ini saya membaca novel yang karakter laki-lakinya digambarkan dengan begitu apa adanya, bukan karakter laki-laki khas kebanyakan di berbagai cerita yang terlihat begitu sempurna. Jayanegara digambarkan sebagai laki-laki yang egois dan tidak peduli dengan sekitarnya, bisa di bilang produk gagal di tambah lagi dengan latar belakang yang putus kuliah dan menjadi pengangguran, sungguh kita akan dibuat benci dengam karakter ini, karakter yang sebenarnya secara sadar seperti apa dirinya tapi tidak ada niatan untuk berubah, tapi entah mengapa kak Okky bisa membuat saya menjadi empati pada Jayanegara, dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yang digunakan kak Okky pada karyanya ini, saya sebagai pembaca entah kenapa dibuat mengerti dengan tingkah laku si Jayanegara ini, menjadi empati dan merasa wajar dengan segala pemberontakkan yang dilakukannya, dan membuat saya menjadi ikut-ikutan membenci bapaknya si Jayanegara ini. Bukan kah anak akan melihat dan mencontoh tindak tanduk orang tuanya? Tapi mungkin ini karena dari sudut pandang saya sebagai seorang anak.

Kerumunan Terakhir menitik beratkan cerita tentang kehidupan di dunia maya atau dalam cerita ini disebut dunia baru karena memang ini adalah dunia baru bagi semua orang, dimana menjadi kehidupan dan rumah baru dengan e-mail sebagai alamat kita, sosial media sebagai rumah kita. Aku baru tau maksud dari kerumunan dalam buku ini, kehidupan baru yang di jalani Jayanegara.
Kerumunan yang di maksud dalam buku ini adalah kehidupan dunia maya, mungkin kehidupan suatu perkumpulan atau komunitas online yang di ibaratkan seperti kehidupan nyata, ruang-ruang media sosial seperti facebook dan milis. Dimana kita bisa berkenalan, saling menyapa satu sama lain dan berinteraksi tanpa batas dan tanpa sekat.

Dunia maya memang dunia yang penuh tipu-tipu memang, buku ini menjelaskannya, atau lebih tepatnya menyindir bahwa kita bisa memulai suatu kehidupan baru, dengan nama baru, karakter baru dan masa lalu baru yang bisa kita rangkai, persona seperti yang ingin kita tampilkan.

Jayanegara vs Matajaya
Jayanegara sebagai Matajaya di dunia barunya membalikkan semua cerita yang ada dari kehidupan dunia nyatanya. Kehidupan yang sebenarnya ingin dia jalani tapi tidak bisa di lakukan di dunia nyata, merangkai dan membangun kembali kehidupan baru dengan nama baru yaitu Matajaya. Kehidupan Matajaya yang begitu detail menjelaskan bagaimana kehidupan di dunia baru ini berjalan. Penggambaran kehidupan Matajaya dan karakter lain dalam dunia barunya mungkin sesuai dengan kehidupan kita sekarang ini, atau mungkin ada sebagai orang yang membuat akun dengan nama samaran untuk memulai kehidupan baru menyembunyikan kehidupan nyatanya. Karakter Akardewa dalam cerita ini bisa diibaratkan sebagai seoarang influencer yang sekarang banyak bertebaran di sosial media dimana kata-katanya di dengar dan di ikuti.

Konflik antara bapak dan anak lelakinya yang menjadi poin utama dalam cerita ini dengan dibalut cerita kehidupan Jayanegara sebagai Matajaya dalam menjalani hidup, peralihan kehidupan memasuki dunia baru dengan segala kecanggihan teknologi dan internet yang membuat candu, membuat sebagian orang betah berlama-lama memandangi layar berselancar di dunia maya, menembus batas, pergi dan mengunjungi penjuru dunia, menjadi suatu daya tarik sendiri dalam cerita ini. Seolah memberikan penggambaran kehidupan kita sekarang ini.
Kerumunan terakhir adalah bacaan agak berat menurut saya tapi dengan bahasa yang ringan, tapi memuat sedikit unsur cerita dewasa, tentu saja saya tidak menyarankan kamu yang dibawah 18 tahun untuk membaca ini.

Dunia tanpa sekat? Tanpa batas?
Dunia Maya? Sosial media? Dunia dimana kata-katalah yang berperan penting, dunia yang sekarang juga kita tinggali. Dunia yang memberikan kita segala kemudahan. Dunia baru ini.
Di sebabkan oleh...
Teknologi dan Internet

Suatu bentuk kemajuan zaman yang katanya menuju masa depan yang lebih baik, menciptakan masyarakat yang hidup dengan menatap layar, generasi digital. Membentuk satu kerumunan ke kerumunan yang lain. Bagaimana kehidupan dunia baru ini berlangsung dan dampaknya bisa kita lihat dalam karya Kak Okky Madasari yang berjudul Kerumunan Terakhir.

Melalui Jayanegara yang memulai hidup barunya di dunia yang serbacanggih ini sebagai Matajaya. Laki-laki yang hidup pada generasi 2000-an yang pertama kali mengenal kecanggihan teknologi dan Internet membangun kehidupan barunya pada tiap kerumunan yang ada di dunia baru itu. Mencoba menjadi sosok orang lain dengan menggunakan nama samaran, bersembunyi dari kehidupan dunia nyata dengan nama Matajaya, berselancar di dunia maya, dan mulai kecanduan.

Kisah yang ada di novel ini begitu dekat dengan kehidupan saya, kamu dan kita semua yang juga hidup dunia maya, terutama saya yang juga termasuk generasi 2000-an dimana menginjak usia remaja ketika telepon umum dan wartel mulai di tinggalkan dan pertama kalinya handphone di perkenalkan yang kemudian disusul dengan adanya internet yang dibarengi oleh menjamurnya warnet. Saya merasa kisah Jayanegara begitu dekat, bagaimana dulu sepulang sekolah atau ketika jam istirahat selalu menyempatkan diri mampir ke warnet hanya untuk membuka friendster haha yang kemudian beralih ke facebook.

Bisa dibilang Kerumunan Terakhir adalah karya Penulis Okky Madasari pertama yang saya baca. Saya tertarik membaca ini karena judulnya kerumunan terakhir oh sesuai dengan situasi kita sekarang ini, kerumunan terakhir, sudah tidak ada lagi kerumunan semenjak adanya pandemi tapi ketika membaca oh beda ternyata hehe.
Profile Image for Mandewi.
575 reviews10 followers
February 3, 2021
Updated/now:
Ketika selesai baca dulu, aku kasih buku ini lima bintang karena topiknya aktual sekali. Semacam merekam zaman dengan sangat baik. Poin ini bikin aku mengabaikan aspek yang aku nggak suka dari sebuah novel; terlalu preaching. Setelah dipikir lagi, agaknya tindakan yang pas mengembalikan penilaian ke rating seharusnya.

Then:
Masih padat, masih cepat, masih penuh dengan pesan-pesan kebaikan (baca: ceramah), tapi terima kasih karena unsur roman yang porsinya besar sehingga novel ini menjadi lebih bisa dinikmati. Plus, saya merasa harus memberi nilai lebih atas usaha Okky Madasari untuk merekam zaman. Beberapa dekade lagi, kita akan membaca cerita ini lagi untuk mengenang era media sosial, era pencitraan dan/atau kepalsuan.
Profile Image for Matchanillaaa.
93 reviews1 follower
May 27, 2025
Kehidupan Jaya di dunia maya menggambarkan betapa kehidupan masa kini penuh dengan haus validasi. Semua mengejar eksistensi dan pengakuan diri. Berlomba-lomba ingin dipuji dengan mencari like dan komentar palsu.
Kehidupan Jaya yang hopeless membawa Jaya pada kerumunan yang penuh kebebasan di dunia maya. Dimana semua orang bisa menciptakan dunia penuh kepalsuan hanya dengan menggerakkan jari. Dia bisa membunuh tanpa menyentuh, dia bisa menjelajahi dunia tanpa berjalan, bahkan dia bisa memuaskan hasrat tanpa perlu menyewa wanita. Dia bebas melakukan apapun dan berkata apapun di dunia maya. Bahkan di kerumunan maya ini, Jaya bisa melawan ayahnya sendiri.

Aku sendiri selama membaca ini jujur aja agak membingungkan. Sejak awal aku tidak menemukan tujuan cerita ini mau di bawa kemana. Apalagi tokoh Jaya yang punya karakter stagnan, ga ada kemajuan, dan dia pengangguran.

Kecewa juga dengan endingnya yang menggantung. Bagaimana nasib Jaya dan Mae kedepannya? Nasib bapaknya? Nasib Kara? Semua tokoh tidak ada kejelasan ending. Mungkin penulis sengaja ingin membuat pembaca menganalisis sendiri akhir cerita mereka. So far, aku tetap suka dengan pembahasan dunia maya yang begitu menjebak dan penuh ilusi.
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
May 30, 2017
Kerumunan dalam buku ini menunjukkan sekumpulan orang-orang dalam dunia maya alias dunia internet. Bukan kerumunan orang dalam dunia nyata. Kerumunan orang yang berinteraksi dalam chat dan media sosial di internet.

Kemajuan teknologi memungkinkan orang untuk merubah jati diri, membuat image palsu tentang diri sesuai impian. Seorang yang sebenarnya pendiam, kere, jelek dan kampungan bisa berubah seketika menjadi lugas berkoar-koar, kaya raya, tampan rupawan dan trendi dengan memasuki dunia maya.

Tokoh didalam buku ini, Jayanegara, adalah salah satu pencari jati diri serba ideal sesuai keinginannya dengan memasuki alam maya. Didunia nyata Jaya hanyalah seorang lelaki muda dengan kehidupan keluarga berantakan dan kuliah yang tak kunjung selesai. Bapak yang tidak setia dan ibu yang akhirnya kabur meninggalkan keluarga membuat Jaya meninggalkan rumah menyusul pacarnya Maera yang merantau di Jakarta.

Sebagai pengangguran, Jaya tinggal bersama Maera yang telah bekerja menjadi seorang wartawan politik di sebuah koran. Saat Maera bekerja, Jaya diminta untuk mencari pekerjaan. Dengan bantuan internet, Jaya dapat melamar pekerjaan secara online. Namun keasyikan di dunia maya lebih menarik Jaya daripada kebutuhan untuk mencari pekerjaan. Jaya berubah menjadi seorang yang baru, Matajaya.

Matajaya menjadi seorang selebriti internet, menjadi titik fokus dalam kerumunan di dunia maya. Keahliannya berkata-kata mampu menarik kerumunan mendekat padanya. Ia membangun cerita baru tentang dirinya dan orang-orang percaya tanpa perlu mencari tahu kebenarannya.

Orang-orang berkumpul membentuk kerumunan untuk memuja-muja karena sependapat, atau orang-orang berkerumun untuk mencaci maki yang tidak sependapat.

Begitulah.....





Profile Image for Rossa Imaniar.
221 reviews5 followers
February 1, 2021
“Berapa banyak orang di dunia ini yang berani membuka hal buruk yang mereka lakukan? Semua orang sibuk memamerkan yang bagus-bagus dari diri mereka. Sekalipun tak ada yang bagus,mereka membuat seolah-olah ada yang bagus dan layak untuk ditunjukkan ke banyak orang. Aku pun begitu. Selalu menunjukkan yang baik-baik, semua yang serba membanggakan..”

“Betapa kasihan anak-anak zaman sekarang ini. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah dibuat haus perhatian. Semua ingin disukai, semua ingin punya banyak pengikut, semua ingin terlihat dan dikenal. Apa lagi yang lebih menyedihkan selain menggantungkan kebahagiaan kita di tangan orang?”


‘Kerumunan Terakhir’ menjadi buku pertama yang ku selesaikan di bulan Februari. Dan ini kali ketiga aku membaca karya Mbak Okky Madasari. Seperti biasa, Mbak Okky kembali mengangkat tema yang tak jauh dari tindak-tanduk manusia di kehidupan nyata. Beliau memaparkan apa yang Beliau rasa,dan apa yang Beliau lihat dari kehidupan sehari-hari di Negeri ini.

Di buku ‘Kerumunan Terakhir’ ini, Mbak Okky coba memaparkan tentang kehidupan sosial yang berlangsung di tengah kecanggihan teknologi. Di mana kita di permudah untuk menjalin hubungan dengan siapa pun dan kapan pun. Kita juga bebas memilih untuk menjadi siapa sesuai dengan yang kita ingini.

Iya, kita sebut kehidupan sosial yang seperti itu dengan dunia baru. Yang mana rang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan kehidupan dunia maya. Dari kehidupan dunia maya kita dapat berkenalan dengan siapa saja, berkelana ke mana saja, dan kita dapat memperoleh informasi terbaru, tentang apa pun itu dari sana—internet.

Melalui buku ini, penulis ingin mengajak kita untuk menengok kehidupan sosial macam apa di dunia baru tersebut. Dari bagaimana mudahnya menjalin komunikasi di dunia baru, serta dampak buruknya dari kehidupan dunia baru. Melalui beberapa tokoh dalam buku ini, kita akan menyusuri jalan kehidupan dunia baru. Bertemu dengan berbagai kerumunan, kita akan singgah dari satu kerumunan ke kerumunan lain..

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Sebab Mbak Okky selalu tampil dengan ide yang memukau. Aku sangat bangga bahwa Indonesia memiliki penulis seperti Beliau.

Mbak Okky dengan keberaniannya selalu menyuarakan kebobrokan yang tersembunyi dalam sebuah tampilan luar yang terlihat arif. Mbak Okky berhasil menggambarkannya dengan apik melaui setiap tokoh-tokohnya.

Jujur di bab awal—Bab Dunia Pertama—aku tidak bisa meraba akan seperti apa jalan ceritanya. Aku bingung, apa hubungan cerita di bab awal tersebut dengan judul ‘Kerumunan Terkahir’?Apa yang di maksud dengan ‘Kerumunan Terakhir’di buku ini?

Aku baru sedikit memahaminya saat masuk di bab kedua—Bab Dunia Kedua. Jadi kerumunan yang dimaksud adalah kerumunan yang terjadi dalam dunia maya. Sebagai contoh, seperti kita mampir di status facebook seseorang, kita meninggalkan like atau bahkan mungkin komentar. Ya semacam itulah yang bisa kutangkap sebagai kerumunan.

Di buku ini Mbak Okky tidak hanya menyuguhkan kehidupan dunia baru saja. Tapi juga kehidupan dunia lama—dunia nyata. Dengan mengekspos kehidupan keluarga Jayanegara, tokoh utama dalam novel ini.

Kehidupan keluarga yang berantakan. Bapak yang keblinger, Ibu yang berusaha kuat namun akhirnya memilih pergi untuk sebuah ketenangan dan kebaikan bersama. Lalu ada anak-anaknya yang berusaha untuk menjalani kehidupan senormal mungkin dengan mencoba menelan rasa pahit dengan cara mereka masing-masing.

Aku rasanya benci sekali dengan sosok Bapak. Dari sosok Bapak aku jadi bersyukur, memiliki Ayah seperti Ayahku. Walau jauh dari sempurna, tapi aku merasa Ayahku lebih baik dari si Bapak dalam buku ini.

Aku juga benci rasanya dengan Jayanegara. Betapa dia terlalu pengecut menjadi laki-laki. Aku jadi kembali bersyukur, Tuhan memberiku kekuatan pada diriku yang perempuan ini untuk bertahan hidup dengan cara yang lebih baik menurutku ketimbang dengan Jayanegara.
—Fyi, kehidupan keluargaku juga sedikit berantakan tapi tentunya tidak separah keluarga Jayanegara. Hanya sedikit, iya hanya sedikit berantakan.

Sebenernya, di sisi lain aku juga kasihan dengan Jayanegara. Dia terbentuk dari keluarga yang tidak sehat, broken home. Aku tahu seperti apa rasanya. Tapi, bukankah dia memiliki pilihan untuk menjadi manusia seperti apa? Dan, sayangnya dia memilih menjadi manusia seperti itu...
Kalian baca sendiri saja lah biar tahu bagaimana rasanya memiliki rasa belas kasihan sekaligus benci terhadap seseorang.

Oke,ku pikir sampai di sini dulu review suka-suka dariku tentang buku ‘Kerumunan Terakhir’ ini. Secara keseluruhan buku ini oke. Khas sekali dengan Mbak Okky. Betapa Beliau tidak hanya menyuguhi cerita, namun juga pengetahuan baru tentang beberapa hal yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari di Negeri ini.

So, buat kalian yang penasaran dengan kehidupan Jayanegara beserta keluarganya, dan seperti apa kehidupan dunia baru yang dipaparkan Mbak Okky...
Segera baca buku ini...!!!
Selamat membaca... 😉
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
September 14, 2017
Mau berlari bersama atau mengejar perkembangan zaman yang tak pernah mau mengerti untuk berhenti, dua hal itu adalah pilihan. Sekali mengambil keputusan, siap-siaplah terjun bebas dan menyelam sedalam-dalamnya. Tak ada yang namanya pilihan setengah-setengah, ambil resiko, nikmati permainannya, dan jadilah nahkoda utuk kapalmu sendiri yang berlayar bersama kapal lainnya di tengah gelombang kemajuan zaman yang acap kali menenggelamkan ketika kita tak pintar mengendalikan kapal. Yang pintar, yang modern, yang serba maju, memang sedang berkerumun untuk berpacu menuju garis finish tanpa akhir. Tak siap, siap-siap digilas.
Profile Image for Dian Maya.
194 reviews12 followers
April 23, 2019
Dengan menamatkan ini, tuntas sudah semua buku-buku genre dewasa karya Okki Madasari kulahap habis. Sayangnya, penutupan ini kurang sesuai ekspektasiku. Kurang dapet gregetnya jadi rasanya kurang bisa melebur ke dalam ceritanya.

Berkenalan sama Okky Madasari melalui Entrok, kemudian 86, lanjut ke Pasung Jiwa, lalu Maryam, nah yang terakhir ya sesuai namanya, Kerumunan Terakhir.

Mungkin setelah ini akan lama baru baca tulisan dewasa dari beliau lagi karena belakangan beliau fokus menulis Serial Buku Anak.
Profile Image for Ayunda.
444 reviews29 followers
September 17, 2018
Ketika kami melihat dan menonton Okky Madasari berbicara di Asean Literary Festival 2017 kami langsung membeli dua bukunya. Buku pertama yang saya baca darinya adalah sebuah koleksi cerpen Yang Bertahan dan Binasa Perlahan yang membicarakan berbagai tema menarik yang sancta pending dan dalam - meski begitu, sudah lebih dari setahun semenjak saya membaca buku itu dan sekarang saya hampir tidak ingat satupun cerita dari buku itu (Review: https://www.goodreads.com/review/show...)

Namun novel yang satu ini berfokus pada satu tema yang paling utama: teknologi jaman sekarang. Karakter utama kita, Jay, memiliki kehidupan yang lumayan susah. Bapaknya lelaki yang suka bermain dengan wanita dan setelah ketahuan selingkuh dengan ibu Jay, sang ibu pun meninggalkan keluarga Jay beseta adik-adiknya. Jay yang tinggal di desa jauh dari peradaban pun pindah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, dan di situlah ia menemukan internet.

Dalam buku ini, sang karakter utama mendeskripsikan situs-situs yang ia kunjungi sebagai dunia lain, dan orang-orang yang ia temui di dunia maya sebagai berbagai jenis “kerumunan”. Sehari-hari kegiatannya hanyalah bereksplorasi dalam dunia internet, bertemu dengan berbagai kerumunan berbeda dan perlahan-lahan ia menjadi terkenal.

Cerita di buku ini lumayan lambat, dan dengan lambatnya cerita ini, buku yang relatif tebal ini sebenarnya tidak memiliki banyak momen-momen yang besar atau penting. Karakter yang kita kenali di cerita ini juga tidak terlalu banyak, semuanya berfungsi untuk menunjukkan tujuan sang penulis untuk fokus kepada tema utama yang ia ingin pamerkan, yaitu hal-hal buruk yang bisa kita alami oleh karena teknologi.

Krisis identitas, salah pergaulan, keputus asaan dan kebingungan adalah banyak perasaan dan tema yang saya tangkap dari cerita ini. Tapi ada banyak juga perasaan cinta, kasih sayang dan keluarga yang kerap muncul dalam cerita Jay.

Sebagai penutup, buku ini secara keseluruhan merupakan sebuah teriakan oleh Okky Madasari mengenai situasi di dunia kita sekarang, lewat segelintir karakter yang ia ciptakan dengan tulisannya yang indah. Meskipun ceritanya sedikit kurang mendorong ku untuk memberikan buku ini 5 bintang, secara menyeluruh ini adalah cerita yang menarik dan buku yang membicarakan hal-hal penting dalam masa sekarang.
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
August 19, 2022
Dibandingkan dengan karya-karya Okky lain yang sudah pernah saya baca (Entrok, 86, Pasung Jiwa, Maryam), sepertinya Kerumunan Terakhir ini membuat "jarak" sendiri yang menjadikannya kurang menarik dibandingkan teman-temannya. Nggak terlalu berekspektasi tinggi karena sejak awal saya tahu kalau gaya menulis Okky memang terdiri dari struktur kalimat yang sederhana dan mengalir, saya nggak bisa mengharapkan permainan diksi atau sesuatu yang "wah" kecuali karakter penokohan yang dibuat sangat-menyebalkan-seperti-gaya-Okky yang bikin kesal sepanjang cerita.

Awalnya saya cukup menikmati karena menemukan beberapa hal menarik yang sering dijumpai di dunia nyata, seperti misalnya ketimpangan relasi kuasa antara ayah Jayanegara dan ibunya (yang pada akhirnya membuat mereka bercerai), dosen mata keranjang yang doyan main perempuan, mas-mas (atau malah bapak-bapak?) SJW atau social justice war macam Akardewa yang berseliweran di internet dan memangsa gadis-gadis muda, kasus pencemaran nama baik sekolah yang dihadapi Juwi (adik Jayanegara), sampai pada fakta bahwa karakter pemalas dan tak punya minat pada masa depan seperti Jaya. Beberapa kali saya tertawa dan mengangguk-anggukan kepala, lantas mengakui kalau Okky memang paling jago dalam memberi contoh riil dari masalah sosial masyarakat kita.

Sayangnya, karena fokus utama yang diungkap adalah soal kemajuan teknologi, terutama internet (bagaimana semua orang bisa menjadi apa dan siapa saja tanpa harus dikenali identitas aslinya), saya nggak menemukan kebaruan yang membuat saya tergugah untuk melanjutkan lembar demi lembar ceritanya. Malah saya sempat bosan di tengah-tengah jalan, akibat rasa jengkel pada semua tokohnya (serius, semuanya menyebalkan, kecuali Kara). Mungkin, Kerumunan Terakhir kurang cocok jika dibaca oleh generasi Z seperti saya yang sudah nggak merasa relate kalau internet itu adalah barang "mewah", "luar biasa", atau "menakjubkan" karena saya tumbuh besar dengan internet. Makanya, saya nggak merasa keseluruhan novel ini "istimewa" juga, meski beberapa hal di dalamnya masih patut diapresiasi.
Profile Image for Rachel Yuska.
Author 9 books245 followers
June 19, 2016
Saya salah satu orang yang ikut pre-order 'Kerumunan Terakhir' di bukabuku. Setelah 'Pasung Jiwa', saya terpikat dengan tulisan mbak Okky dan berniat untuk membaca seluruh karyanya.

Pada saat membaca 'Pasung Jiwa', saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa dan ternyata saya suka pake banget. Kebalikannya, sebelum membaca 'Kerumunan Terakhir' ekspektasi saya kelewat tinggi jadi ada rasa kecewa setelah menyelesaikan buku ini. Kecewa karena 'kok endingnya cuma begini aja setelah berkelana selama beberapa hari dan sempat terengah-engah?'

Yang saya suka dari buku ini:
1. Bahasa mbak Okky sangat mudah dimengerti. Plotnya mengalir dan nggak perlu mikir ketika membaca buku ini

2. Karakternya yang tidak kompleks sehingga dalam beberapa halaman sudah terbaca seperti apa Jaya, Maera, Sukendar bahkan Simbah. Paling suka dengan Kara.

3. Temanya yang 'up-to-date'. Kali ini isu keriuhan media sosial yang dibahas dan semuanya pernah terjadi.

4. Hubungan Jaya dengan Maera yang tidak terlalu berlebihan. Saya seperti melihat pasangan kekasih dalam dunia nyata.

Yang saya kurang suka dari buku ini:
1. Karakternya di situ-situ saja jadi konfliknya kurang greget dan saya sempat merasa bosan di tengah-tengah buku.

2. Endingnya juga kurang greget. Mengapa oh mengapa? *cry*

3. Karena permasalahan yang mbak Okky angkat sudah pernah terjadi, mungkin itu juga yang membuat saya jadi agak bosan saat membaca buku ini.

Saya masih suka dengan tulisan mbak Okky dan masih menunggu karya selanjutnya.

For: Reight Book Club tema Romance
Author 5 books8 followers
February 7, 2017
Ini adalah buku ketiga dari Okky Madasari yang saya baca setelah Entrok (2010) dan 86 (2011). Masih menyajikan kritik sosial, buku ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu Dunia Pertama, di mana Jaya mengalami kesedihan-kesedihan dalam hidupnya akibat perilaku Bapaknya yang suka main perempuan, Ibunya yang akhirnya meninggalkan Jaya dan adik-adiknya karena tidak kuat menerima perilaku Bapaknya, kisah cinta masa kuliahnya bersama Meira yang harus kandas karena kesedihannya ditinggal pergi Ibu, pelarian-pelariannya ke tempat-tempat asusila hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat, dan kepergiannya menyusul Meira untuk mencari apa yang dia anggap masa depan.

Lalu ada Dunia Kedua. Dunia Baru tempat Jaya mulai mengenal internet karena dipaksa Meira membuat e-mail untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Di Dunia Baru ini jugalah Jaya hidup kembali sebagai Matajaya. Orang yang sangat populer karena pintar bercerita. Cerita yang ia bagikan dilikes dan dishare oleh ribuan orang. Ia menjelma menjadi sumber inspirasi yang sangat heroik. Kisah-kisah hidupnya yang berantakan ia sunting agar mengesankan. Jaya yang di dunia nyata diam saja melihat ibunya diperlakukan buruk oleh bapaknya karena masih tergantung secara finansial, disulap menjadi seorang pahlawan yang menghajar bapaknya habis-habisan. Toh di Dunia Baru, kebohongan dan kebenaran tidak ada bedanya. Di Dunia Baru ini juga Jaya mengenal Kara, gadis nekat penuh dendam yang sangat percaya akan cerita-cerita hidup Matajaya.

Review lengkap di sini : http://blacklazy.blogspot.co.id/2017/...
Profile Image for Kimi.
406 reviews30 followers
May 18, 2016
Kerumunan Terakhir bercerita tentang Jayanegara. Ia adalah seorang pria pecundang di kehidupan nyata, namun menjelma menjadi seseorang yang cukup punya nama di dunia maya. Di dunia baru tersebut dia memakai nama Matajaya.

Novel ini terdiri dari tiga bagian, yaitu Dunia Pertama, Dunia Kedua, dan Dua Dunia Bermuara.

Dunia Pertama

Pada bagian ini semuanya bermula. Jaya, begitu dia biasa mengenalkan dirinya karena dia tidak begitu menyukai nama lengkapnya, adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya seorang intelektual. Dia dosen di universitas ternama dan punya jabatan. Ibunya hanya seorang guru madrasah.

Jaya membenci ayahnya. Ayahnya selalu menasehati anak-anaknya agar rajin sekolah lalu punya pekerjaan. Jaya melihat ayahnya munafik. Memiliki pendidikan tinggi tapi bermoral bejat. Ayahnya menyakiti ibu Jaya dengan kerap bermain perempuan. Sampai akhirnya ibunya pergi meninggalkan rumah. Sejak saat itu Jaya semakin membenci ayahnya.


Riviu lengkapnya di sini.
Profile Image for Hani.
Author 4 books24 followers
February 5, 2017
Isu yang dikemukakan oleh Okky sentiasa tidak beranjak daripada permasalahan sosial yang melingkungi masyarakat. Begitu juga dengan Kerumunan Terakhir yang berpusat kisah ketagihan internet dalam kalangan masyarakat masa kini. Okky menerusi novel ini memperlihatkan kepercayaan membuta tuli masyarakat terhadap setiap isu yang dibawa oleh netizen dan bagaimana hal ini membentuk pandangan umum masyarakat secara. Isu 'what to believe, what to think' yang dibentuk media internet ini. Hal ini dilihat baik. Cuma, semakin lama halaman ke halaman, pembaca cepat hilang rasa untuk membaca. Barangkali, perulangan malah tulisan yang sengaja diperpanjangkan untuk menambah ketebalan halaman menyumbang kepada hal ini.

Jauh sekali dengan novel-novel Okky sebelum ini yang lebih menarik.
Profile Image for Agung Prasetyo.
46 reviews12 followers
October 15, 2017
Buku ini mengambil contoh ekstrim tentang perilaku orang di media sosial. Orang bisa menjalani kehidupan berbeda karena anonimitas yang ditawarkan media sosial tersebut.

Gaya penulisannya enak buat diikuti. Tapi sayangnya tokoh utama di novel ini terlalu brengsek...dan sulit untuk mendukung orang brengsek, apalagi harus ngikutin kisahnya sepanjang 300an halaman.
Profile Image for R.A.Y.
292 reviews47 followers
November 5, 2019
3,3

sangat menikmati kisah-kisah tentang "dunia baru", tapi nggak suka banget sama si Jaya dan banyak tokoh lainnya. sepanjang baca ini kayak lagi dengerin cerita orang-orang yang sebenernya nggak saya suka, tapi saya tertarik sama ceritanya.

ini novel Okky Madasari yang saya pertama baca. nggak kapok meski nggak terlalu puas. masih mau baca yang lain.
Profile Image for Furadantin.
18 reviews
February 5, 2020
Judul: Kerumunan Terakhir
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Versi ebook, 2016, 360 halaman.


Ini buku Okky Madasari keempat yang saya beca setelah Entrok, Pasung Jiwa, dan Maryam. Membaca judul dan melihat cover, saya mengira ini kisah tentang kelompok terpinggirkan lagi. Ya ada benarnya, sih. Tapi tak terduga, ternyata tentang kehidupan di dunia maya atau yang oleh sang tokoh, Jaya, disebut dunia baru. Baru beberapa halaman saya baca, saya terkaget-kaget. Ternyata orang sampai segitunya menggunakan internet. Wow! Baru saya sadari bahwa saya benar-benar kudet (kurang update).

Kisah ini menceritakan tentang seorang lelaki bernama Jayanegara yang serba kalah di dunia nyata. Jaya kemudian menciptakan dirinya yang baru di dunia baru, dunia maya. Dia membuat akun palsu dengan nama Matajaya. Okky menuturkan dengan gaya lugasnya yang khas, berani namun santun, mengalir dengan irama yang cepat, yang sesuai dengan selera saya. Yah, beberapa bagian memang agak membosankan sehingga saya skip, tapi tetap alurnya padat dan saya suka. Saya kadang harus membaca dengan jeli, karena Jaya dunia nyata dengan Jaya dunia maya kadang berbaur tanpa batas jelas. Saya paham ini, karena demikianlah bila seseorang sudah sedemikian larut di dalam ’dunia baru’ itu.

Sosok Jaya dan Maera, pacarnya, benar-benar merepresentasikan manusia zaman sekarang. Jaya dengan segala ketakberdayaan dan keapatisan akibat memberontak dengan sang ayah, Maera dengan segala ambisi mudanya. Menarik banget dua karakter ini, sehingga saya begitu penasaran dengan akhir kisah ini.

Kemudian ada dua tokoh, Bapak dan Akardewa. Keduanya tokoh dengan banyak penggemar. Bapak, tokoh di dunia nyata. Akardewa, tokoh di dunia maya. Melalui kedua tokoh ini Okky mengkritik kepemimpinan zaman ini, di mana citra lebih penting dari segalanya. Hmm … yang namanya kelemahan manusia itu akan ada di mana pun manusia itu berada, bukan? Saya setuju nasehat Okky melalui dua tokoh ini: jangan mudah silau!

Tokoh Ibu adalah yang paling berkesan bagi saya. Ibu yang lari dari kepedihan, meninggalkan anak-anaknya, ibu yang kalah wibawa dari sang suami yang semena-mena. Namun, sikap pasrah dan ikhlas itu juga yang meluluhkan Jaya. Sayang di akhir kisah, tidak dijelaskan dengan gamblang bagaimana nasib si ibu.
Selebihnya buku ini diisi oleh berbagai fenomena efek samping internet. Mulai dari remaja yang dipolisikan karena cuitannya di medsos, remaja yang memberontak, perjuangan melawan ketidakadilan, hingga mencapai orgasmus melalui internet dengan pasangan di nun jauh di sana. Luar biasa memang ‘dunia baru’ itu. Benar sekali bahwa kita (saya) sedang gagap menghadapi gelombang baru perubahan zaman.

Menjadi diri sendiri yang sejati, barangkali itulah pesan utama buku ini. Saya saya sayangkan adalah endingnya yang menggantung. Mungkin ini gaya khas Okky yang saya amati dari empat buku yang saya baca.

Ada beberapa kutipan favorit:
172. Apa yang lebih menyedihkan selain menggantungkan kebahagiaan kita di tangan orang lain?
177. Sementara aku hanyalah jagan dalam kata-kata … (di sini saya tertohok)
190. Kenapa selalu Bapak yang jadi pemenangnya? (kritik pedas)
212. Koran dan TV hanya memberitakan. Sementara orag-orang seperti Akardewa menelanjangi, memghajar, mengeroyok kami semua. (sadisnya netizen)

Lalu curhatan hati Maera berikut membuat saya merenung:
221. sepanjang hidupku hanya habis untuk belajar, berusaha membuat orang tuaku bangga, mati-matian mengejar cita-cita. Hingga aku sadar hidupku hanya begini-begini saja. (Maera, apa tujuan hidup yang sebenarnya?)
231. Tapi aku tetap terus menggoda, karena itu juga caraku untuk menyalurkan hasrat setiap kali usai melakukan rekreasi digital.
237. Aku yang ingin mendapat pengakuan.
313. Eee … tahunya malah menangkap anak sendiri.

Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
July 15, 2017
Jayanegara adalah seorang pemuda yang kecewa dengan kelakuan Bapaknya. Bapaknya yang terpelajar, bahkan sampai bergelar Doktor dari Inggris ternyata melukai perasaan Ibunya. Bapaknya selingkuh. Berkal-kali, sampai akhirnya Ibunya menyerah dan memilih meninggalkan suami dan anak-anaknya. Jaya hanya bisa diam, meski dalam hatinya dia berontak.

Ada ngilu yang berlapis-lapis. Ada beban berat dalam tiap tarikan napas yang sialnya tak sedikit pun bisa kubagi dengan orang lain. Karena semua orang hanya boleh tahu : aku tidak apa-apa. (Hal 17)
Jaya mencari pelarian. Maera, kekasihnya mengenalkannya pada sebuah dunia. Dunia dimana semua orang bebas berteriak, dunia dimana dia bisa menemukan apa saja. Tidak ada yang peduli apakah yang ada di dunia itu hanya bualan atau memang benar apa adanya. Siapa yang bisa beretorika, dia akan punya panggung. Jaya sendiri memilih untuk tampil dalam wujud dan nama lain. Matajaya, seorang pemuda dari keluarga broken home yang bisa sukses menjadi stuntmen di New York.

Kerumunan Terakhir menyorot tentang dunia maya dengan segala keriuhannya. Media sosial menjadi panggung tempat manusia-manusia beraksi. Seperti Jaya, orang yang mengenal dunia maya bisa terjebak dan menjadi kecanduan. Jaya sendiri bisa bertahan berjam-jam di depan layar komputer di dalam kamar kost Maera. Uniknya, cara Okky Madasari berkisah, membuat batasan antara dunia maya dan dunia nyata tidak jelas.

Jujur saja, saya tidak bisa berempati pada Jaya, meski kisah hidupnya lumayan menyedihkan. Dia penuh kepalsuan. Mungkin karena di dunia maya, saya memilih jalan seperti Maera yang tampil dengan identitas aslinya. Jaya menghukum Bapak-nya yang dianggapnya bejat, sementara dia sendiri kelakuannya tidak bisa dibilang santun dan bermoral.

Novel ini menarik, meski tidak menjadi favorit saya seperti karya Okky sebelumnya. Selalu ada fenomena sosial yang diangkat oleh Okky dalam setiap novelnya. Saat ini kita tidak bisa lagi bersembunyi dari media sosial. Yang perlu dilakukan adalah menjadi orang yang bertanggung jawab di dunia maya. Jejak digital yang kita tinggalkan tidak akan sepenuhnya hilang. Hanya perlu waktu, semua akan terbuka.
Profile Image for Chels.
189 reviews3 followers
January 16, 2026
Pemuda yang dipenuhi dendam kepada ayahnya karena pemain wanita adalah Jayanegara, tokoh utama dalam Kerumunan Terakhir. Dia merupakan bukti kelalaian orang tua yang sibuk memoles citra. Jaya hidup di bawah bayang-bayang ayahnya tanpa tahu tujuan hidup, tetapi ingin diakui. Balas dendam kepada ayahnya tidak dengan cara menjadi lebih baik, tetapi upaya apa saja demi menjatuhkan si ayah dari jabatan. Dia akhirnya jatuh ke dunia pelacuran setelah ditinggalkan sang ibu dan kekasihnya yang merantau ke Jakarta. Tak hanya itu, dia berkenalan dengan dunia baru yang membawanya semakin hanyut ke aliran yang keruh. Internet baginya hanya sarana untuk memuaskan berahi dan mengobral omong kosong. Dia palsukan nama dan kisahnya demi mencapai ketenaran yang palsu. Semua ini karena ia haus pengakuan, terlebih setelah hidup menumpang di indekos kekasihnya. Tak jauh berbeda dengan Jaya, Maera si kekasih akhirnya terjerembab di dunia internet setelah dipupuskan oleh harapannya sendiri. Dia bagikan kisah asli bernuansa seksual demi mendapat apresiasi dan validasi banyak pengguna internet. Karena ceroboh, mereka akhirnya sama-sama jatuh berkat internet dengan cara yang berbeda. Namun, hal ini justru mempererat mereka yang sempat pecah. Kemudian, mereka memilih menyepi, meninggalkan dunia baru yang ingar-bingar. Mereka memilih hidup di dunia yang nyata dan asli, yang bisa membuat mereka bernapas dan menjadi diri sendiri.

Novel ini cukup menarik dengan topik internet yang dianggap sebagai dunia baru dan masa depan ummat. Namun, teknologi yang tidak diimbangi dengan literasi digital hanya akan menyengsarakan. Tokoh Jaya dan Mae cukup bikin emosi karena yang satu luntang-lantung tanpa tujuan dan haus validasi, sementara yang satu lagi terlalu banyak menuntut dan kalah pada nafsu. Aku agak menyayangkan adik-adik Jaya yang tidak banyak berperan; Ibu yang hanya muncul di bagian menjelang akhir bab dengan cerita yang cukup bikin geram sekaligus menyejukkan; dan ending si Bapak yang cuma gitu aja (gak puas jujur).

Reading thread: https://x.com/yangmuliadiva/status/20...
15 reviews
November 20, 2021
Karya pertama yang selesai dibaca dari Okky Madasari sang penulis asal Magetan.

Ngeri!Sakit!Parah! kemudian menyadarkan kita berkali-kali untuk memilih hidup di antara batas yang nyata atau yang selalu menawari kesenangan tapi sejatinya cuma sementara. Sementara yang diperlama dengan gegap gempita sebagai alih-alihnya.

Buku yang ketika dibaca bikin emosi sendiri, lalu merasa bodoh, asing, atau tiba-tiba merasa bahwa apakah kita sedang hidup pada dunia yang kita mau? Apa yang dilakukan Jayanegara demi membalas dendam Bapak menjebaknya pada hubungan rumit dengan kekasihnya,Maera lalu membawanya terseok-seok pada kerumunan yang membuatnya senang dan terbentur berkali-kali dalam satu waktu. Jayanegara, pemuda 27 tahun dengan pikirannya yang kolot, tidak mau tahu, hidup berbekal rasa nyaman yang ia dapat dari rumah Simbah, dan tidak memiliki kendaraan apapun untuk menyongsong masa depan berbanding 180 derajat dengan Maera, gadis ayu yang dipacarinya sejak Maera semester pertama. Maera yang melebarkan imajinasinya untuk jadi orang kota, lulus kuliah dengan nilai bagus, merantau ke Jakarta dan menjadi orang sukses adalah harapan yang terus berdebur di dadanya.

Keduanya terjebak dalam dunia baru yang menyuguhkan kerumunan demi kerumunan. Ruang dimana kita bisa menjadi apa saja, mau melakukan apa saja, menjelajah ke bagian dunia manapun dengan bebas dan menjanjikan masa depan dengan sorak tepuk tangan kekaguman. Dunia yang membuat Jayanegara bertemu orang-orang dunia maya dengan nama terbaik supaya dikagumi berbekal kata-kata dan suara yang mengelabui.

Cerita makin kompleks dengan hubungan cinta kedua tokoh yang rumit, Bapak yang makin lihai saja seolah menjadi pahlawan dalam setiap babak hidup Jayanegara, Ibu yang tak lagi pulang ke rumah, Simbah yang tak peduli dengan apa itu hp atau internet, dan semua sorot cahaya dari kerumunan yang ada di dunia baru.

Dari satu kerumunan ke kerumunan lainnya, generasi zaman milenial berduyun-duyun meninggalkan masa lalu untuk hidup di masa depan. Tapi di manakah masa depan itu?
Profile Image for Alya N.
306 reviews12 followers
August 20, 2021
I read this book on English version.

What i can say about it is nothing intriguing revolves around whole story.
Don't get me wrong, it is not bad at all. Really. For any reason, i like all Okky Madasari's books i read previously. It happens to this book that the story flows well, but i just find no excitement to turn every page. The only reason that survives me to complete until the last page is the great name of the author. Relating to the fact, i try to finish Last Crowd.

The main male character, Jayanegara, who readers find as coward one, brings the main value of the story. Tell me any excuse to love Jayanegara? It is nothing. A man that doesn't want to be controlled by his jerk father, but also can do nothing but complaining to his own life. But besides his cowardice, he's the one who controls the plot, so instead of hating the main male character, i just force myself to follow what useless thing this man's gonna do next.

The main female character, Maera, Jayanegara's girlfriend, is a typical of woman who really adhere to what society says. That a normal life's supposed to go to university, get good grades, graduate own self soon as possible, find a work that can make parents proud, and others. It is presumably good, but when you do it just to impress people, it's no longer good. Maera is described as the way it is. She's the one who always push her boyfriend to follow what society says: finding job, producing money, stopping useless activites her boyfriend does. Jayanegara in Maera's eye is useless. However in the end of story, Maera made some errors and Jayanegara, prove that he's not as useless as his girlfriend thinks, try to save her

However, Last Crowd still contains with some understandable values that keep coming after i read it: always watch what you post and publish on social media, always choose carefully what kind of image you choose to display on social media because there's no place to hide once you have been leaving bad path's.
30 reviews3 followers
May 5, 2024
"Setiap orang selalu merindukan cerita dari dunia yang tak pernah bisa mereka miliki." — hlm. 12

Akhirnya aku menemukan novel Okky Madasari yang cocok, setelah dulu bergulat batin dengan Maryam dan Pasung Jiwa. Mungkin karena sekarang aku bisa membaca Kerumunan Terakhir dengan kedewasaan berpikir yang lebih baik.

Kerumunan Terakhir bercerita tentang kita, generasi milenial dan gen z. Generasi yang amat relevan dengan digitalisasi dan kemajuan teknologi.

Lewat tokoh-tokohnya, novel ini mencerminkan betapa di atas segala kemudahan dan kemajuan teknologi, era ini adalah dunia yang ancur dan penuh kemunafikan.

Aku suka gimana Mbak Okky memberikan insight dari sudut pandang berbeda dengan pemaparan yang apa adanya. Pahit, amoral, dan menjijikan, tapi kenyataannya emang gitu. Jadi, kita bisa ngerti kenapa generasi ini suka punya sikap dan putusan yang mindblowing, gak habis pikir. Kenapa mental, moral, dan pola pikir generasi ini tuh bobrok banget. Termasuk penggambaran terstruktur tentang betapa kaburnya fakta dan fiksi di jagat internet ini.

Novel ini termasuk buku yang aku cap "bijak-bijak membaca", jadi ada baiknya dibaca oleh usia 17+. Tapi tenang aja, novel ini recommended untuk sastra starter pack, karena diksi yang ngalir dan storytelling yang page turning.

Sedikit beropini, aku benci banget sama karakter Jay. Lelaki pengecut, pemalas, tukang ngibul, dan si paling playing victim. Erghh. Karakter utama yang sempurna untuk novel ini, karena keberadaannya makin menajamkan pesan-pesan di novel ini.

Mungkin sedikit kritik di bagian khayalan Jay tentang New York. Aku ngerasa agak off, karena dia digambarkan tidak ambisius, dan minim wawasan dunia. Apakah penuturannya tentang New York gak terlalu detail? Maksudku ... sebagai orang yang gak pernah ke sana dan gak dipaparkan punya ambisi ke Amerika, kayaknya dia terlalu pintar untuk bercerita sereferensial itu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for bookswormie.
136 reviews6 followers
September 17, 2025
Memang enak jadi orang sukses, punya jabatan, uang, nama besar, tapi anaknya malah jadi berandalan? Bukankah keberhasilan orangtua diukur dari keberhasilan anaknya?


Setelah baca Maryam, Pasung Jiwa dan beberapa karya Okky Madasari lainnya yang penuh kritik sosial-politik dengan nuansa historis, aku mencoba membaca Kerumunan Terakhir. Tapi sayangnya, karena ekspektasiku yang lumayan tinggi, aku malah kena reading slump.

Novel ini mengisahkan Jayanegara, anak sulung dari keluarga sederhana yang hidupnya dipenuhi pemberontakan pada bapaknya—seorang akademisi sukses tapi penuh skandal. Hidup Jayanegara berantakan: kuliah gak kelar, sering kabur dari rumah, dan berakhir larut di dunia maya. Dari sana ia mencari pengakuan lewat kebohongan-kebohongan kecil, sampai nge-fans sama seorang selebtwit berpengaruh yang ternyata seorang predator seksual yang memanipulasi pengikutnya. Saat korban speak up, mereka justru kalah oleh “kerumunan” para pendukung si pelaku dan drama digital pun tak ada habisnya.

Aku harus jujur. Buku ini bikin bosan. Dari pertengahan sampai akhir rasanya udah gak ada hasrat buat lanjut baca, bahkan sempat kepikiran buat DNF. Aku bertahan pun karena kepalang tanggung, akhirnya banyak bagian yang aku skimming. Isunya memang relevan (pelecehan di dunia maya, abuse of power, gaslighting korban), tapi terlalu mirip drama Twitter yang sering berseliweran di timeline. Semuanya berputar di dunia maya dan terasa repetitif, bikin aku capek bacanya. Akhirnya lebih terasa kayak “baca ulang keributan online” daripada sebuah novel dengan insight baru. Endingnya pun kurang memuaskan, meski ada satu hal yang aku suka: keberanian ibunya Jayanegara untuk akhirnya speak up dan menjegal mantan suaminya dari jabatan tinggi.

Okky Madasari berhasil memotret realitas digital yang masih relate sampai sekarang. Tapi buatku pribadi, kali ini ceritanya gak menimbulkan kesan yang mendalam, malah bikin lelah.
3 reviews
August 8, 2021
Buku kedua Mbak Okky Madasari yang saya baca. Mengenai bagaimana penulisannya mungkin saya tidak dapat menyampaikan atau membandingkan, karena ini adalah buku kedua. Saya akan membaca lebih banyak buku tulisan Mbak Okky Madasari karena saya selalu tertarik dengan topik yang ditulis Mbak Okky.

Kerumunan Terakhir menceritakan sebuah fase kehidupan tokoh utama yaitu Jaya. Cerita berkaitan tentang kehidupan pribadi Jaya, keluarganya dan teknologi. Mbak Okky menggambarkan kekhawatirannya akan dampak negatif teknologi. Jaya merasa dunia maya tidak bisa disatukan dengan dunia nyata, namun semua itu salah. Di dunia yang sudah serba teknologi ini kita bahkan tak bisa membedakan dunia maya dan nyata, semua melebur menjadi satu dan juga cepatnya informasi yang ada pada saat ini. Kesalahan di dunia nyata mungkin bisa kita lupakan dan maafkan. Namun, kesalahan di dunia maya akan meninggalkan jejak digital yang akan memengaruhi dunia nyata selamanya. Pergejolakan batin dan pencarian jati diri Jaya sebagai pemuda umur 20an cukup dapat dirasa karena saya juga sedang berumur 20an. Dimana masa pencarian pengakuan eksistensi diri sedang bergelora. Kita ingin diakui sebagai sosok yang unik atau memiki ‘sesuatu’ yang membuat kita bersinar di dunia maya, tapi kita malah melupakan otentiknya diri sendiri. Semua mencari panggungnya dengan berbagai cara.

Saya sangat tertarik dengan kisah si Mbah. Saya selalu tertarik dengan cerita terkait kultur lokal. Akan lebih baik bila cerita si-Mbah di tengah modernitas dapat diberikan porsi lebih banyak.

Terima kasih, Mbak Okky.

Saya baru mulai menulis review buku-buku yang pernah saya baca. Dan saya ingin membiasakan menulis review pada semua buku yang saya baca. Jadi maafkan apabila review ini masih banyak kekurangan.
Profile Image for Vindaa.
190 reviews3 followers
August 16, 2025
Ini kali kedua aku membaca karya Mbak Okky Madasari, setelah Mata di Tanah Melus. Dan seperti yang kuduga, gaya tulisannya tetap konsisten: lugas, tajam, tapi tidak pernah terasa menggurui.

Kerumunan Terakhir adalah tamparan halus—atau bahkan keras—bagi siapa pun yang hidup di zaman ini. Zaman ketika kebebasan seolah hadir di ujung jari, tapi sejatinya kita semakin dikendalikan oleh kerumunan: opini mayoritas, algoritma media sosial, dan hasrat untuk diakui.

Melalui tokoh Jayanegara, kita diajak menyelami kegelisahan yang sangat manusiawi—tentang makna hidup, identitas, dan kebebasan yang sesungguhnya. Jayanegara, pemuda yang gelisah terhadap realita di sekitarnya, memilih untuk tidak tunduk pada kehidupan yang serba palsu.

Tapi yang tragis, saat ia berontak dan mencoba menciptakan dunianya sendiri di ruang maya, ia justru terperangkap dalam bentuk penindasan baru—yang lebih halus, lebih licin, dan lebih berbahaya. Dunia virtual yang awalnya menjanjikan kebebasan, ternyata justru menciptakan kerangkeng eksistensial.

Like, komentar, dan followers berubah menjadi alat ukur nilai manusia. Di sinilah kekuatan novel ini, ia tidak sedang mengkritik teknologi, tapi memperlihatkan bagaimana manusia melulu butuh kerumunan untuk merasa hidup.

Mbak Okky tidak berhenti di situ. Kritik sosial dalam buku ini begitu gamblang dan tajam. Salah satunya tertuju pada sosok bapak Jayanegara—seorang profesor, tokoh intelektual, panutan masyarakat. Tapi di balik titel dan jabatan itu, ia digambarkan sebagai manusia yang bejat, kejam, dan menjijikkan secara moral. Sosoknya menjadi cerminan bagaimana kekuasaan sering menyaru sebagai kehormatan.

Sebagai warning, buku ini layak dibaca untuk usia 21+ karena banyaknya konten dewasa yang dibicarakan, serta kritik sosial yang tajam.
Displaying 1 - 30 of 134 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.