Saya menyukai buah stroberi. Rasanya adalah perbaduan antara manis, asam dan segar. Enak banget, apalagi kalau dibuat jus dan diminum kala terpapar terik matahari pantai.
Ya, awalnya saya heran mengapa stroberi -buah yang enak dan segar ini, yang digunakan oleh Kasali sebagai metafora generasi Z (yang notabene lemah). Ternyata, usut punya usut, Kasali telah menulis di kata pengantarnya, begini: "Dalam lukisan kanak-kanak, strowberi termasuk buah yang mudah digambar. Bentuknya eksotis dan indah. Namun, begitu strowberi terkena benturan, atau tergesek sikat gigi saja, ia begitu mudah terkoyak. Lalu hancur."
"Owhh.... rupanya begitu," ujar saya paham.
Well, Berbicara mengenai isi keseluruhan buku ini, saya sependapat dengan penilaian beberapa warganet yang saya baca di laman ini (baca: goodreads.com), bahwasannya buku kumpulan esai yang terdiri dari 5 bab besar ini -Pada Mulanya Adalah Mindset, Hi-Tech and Hi-Touch Parenting, Memetik Moral Dari yang Viral, Bianglala Entrepreneurship dan Mencegah Rajawali Jadi Merpati tidaklah seperti pendahulunya (baca: Self Driving). Bukan tidak bagus, namun (yaaa... namanya juga buku kumpulan esai) topik bahasannya meloncat-loncat, tidak fokus. Bahkan, bagi saya pribadi, saya mengalami kebosanan membaca dan memerlukan waktu yang sangat lama untuk menuntaskannya ketika saya tiba di bab-bab terakhir. Saat ia menjelaskan mengenai IndonesiaX dan Mentee.
Tapi, jujur, bukanlah Kasali kalau tidak bisa membuat saya terperangah. Banyak sekali bagian yang saya tandai dan bersepaham dengannya. Misal, ketika ia menulis, "Uang dan surga adalah dua janji yang selalu digunakan untuk menjerat." (hal. 155). Di artikel atau bab berjudul Seorang Guru di Langit Biru tersebut Kasali berkisah tentang keresahannya terhadap guru yang masih saja tertipu dengan "money game", dengan bentuk-bentuk usaha pengayaan diri dengan iming-iming uang dan kesejahteraan umat. Ya, bila gurunya sendiri saja tertipu, bagaimana dengan muridnya?
Atau bab berjudul Dua Generasi di Dunia Pendidikan Kita. Bagaimana tidak, bab ini langsung mengajak saya untuk melihat dan menyadari sekeliling saya. Bagaimana saya yang generasi Y, harus berhadapan dan menjawab kebutuhan zaman (baca: belajar) generasi saat ini, Z dan alfa.
Namun, di atas itu semua, bab yang paling saya sukai dan mengangguk-angguk seharian penuh tanda bersetuju adalah bab berjudul Kalau Ingin Anak Hebat, Orangtua Harus Berubah! Benak saya langsung tertuju pada keluarga saya sendiri. Ya, sebut saja tante saya, sama seperti yang dikatakan Kasali, "tragedi yang terjadi pada anak-anak yang dikuasai oleh orang tuanya". Pasangan diatur dan dipilih orang tuanya, jurusan diatur, mata kuliah diatur, teman-temannya dipilihkan, bahkan (mungkin nantinya) siapa dosennya dan di mana ia boleh bekerja pun akan dipilihkan oleh orangtuanya, atau tante saya itu. Anak-anak hebat yang dirusak oleh pengawalan superekstra.
Takut berlebihan bisa membuat anak-anak lumpuh dan bermental penumpang.
Ya, itulah beberapa hal yang saya petik dari buku ini (yang bisa jadi berbeda dengan Anda). Buku biru kedua yang saya tamatkan membacanya di bulan ini (kebetulan bulan ini yang jadi buku tantangan saya bersama mbak Dian adalah buku yang covernya biru). Ya, buku yang judulnya stroberi (pink) namun warnanya covernya biru.