Jump to ratings and reviews
Rate this book

Playon: Kumpulan Puisi

Rate this book
Garis awal, garis pintu, satu kaki di depan, satu di belakang, kepala lurus, angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. garis akhir, garis pintu, satu kaki di dalam, satu di luar, kepala lurus, angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. debu dan keringat lengket, pikiran sekosong ceret, garis hablur terseret, angin bersidorong. yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

80 pages, Paperback

First published November 1, 2015

2 people are currently reading
92 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (17%)
4 stars
24 (35%)
3 stars
29 (43%)
2 stars
0 (0%)
1 star
2 (2%)
Displaying 1 - 16 of 16 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books235 followers
February 7, 2017
"Playon" karya F. Aziz Manna adalah sebuah kumpulan puisi yang tidak biasa. Pertama, dari segi nasib. Buku ini awalnya diterbitkan terbatas oleh Dewan Kesenian Provinsi Jawa Timur setelah memenangkan Sayembara Penulisan Puisi Dewan Kesenian Jawa Timur 2015. Setelah itu, sang penulis menyerahkan naskahnya kepada Pagan Press, sebuah penerbit di Lamongan, untuk kembali dicetak. Nah, setelah itu, "Playon" kembali 'bernasib baik' dengan memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 dan kembali dicetak oleh penerbit yang lebih besar, Grasindo.

Dari segi isi, "Playon" juga termasuk unik. Tema yang diangkat sangat sederhana dan sehari-hari, tapi diberikan sebuah narasi yang membuatnya memiliki makna lebih.

Kekurangan kumpulan puisi ini, buat saya, adalah unsur bahasa daerahnya yang kental. Ada banyak kata yang sulit dipahami dan sialnya saya telat tahu kalau ada glosarium katanya di belakang buku. *yee... itu sih, salahmu sendiri.

Secara keseluruhan, "Playon" adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Sebuah kumpulan puisi yang berbeda dari kumpulan puisi lain yang pernah saya baca.

Salah satu contoh puisi di buku ini:

Layangan

musuh kami bukan lagi reranting dan dedaunan yang mudah digesek benang gelasan. tembok dan kabel lebih dempal dan bebal. jika tak lincah bisa munting dan nyungsang. meski tetap harus kuat dan tajam, benang tak lagi bisa diulur panjang seperti kami punya pikiran. semua kini serba berbatas. lengah sedikit saja, urat yang serupa benang bisa rantas dan amblas.

(Sidoarjo-Surabaya, 2015)

Let's meet on social media:
Instagram | Twitter | Youtube
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
November 28, 2016
Saya merasakan sedang kembali ke kampung halaman, desa dengan penuh ketenangan, dan aneka warna suasana yang membuat pikiran sedikit menjauh dari pikuk dan bising suasana kota. Permainan tradisional, aneka pekerjaan orang desa, dan kesederhanaan.

Paling suka dengan potongan bait yang ini:

salah hitung bisa buntung, salah baca bisa nelangsan, salah tafsir bisa-bisa tersingkir. kenapa buang hati jika terambil kembali? bukankah permainan harus seimbang dan pusatnya ada dalam pikiran. kawan, truff terbesar ialah hati hitam (hal.4)

Selain kemampuannya menyeret pembaca ke suasana desa nan sederhana, penulis juga mampu menyajikan sastra sebagai kebebasan berkespresi dan kata yang eksploratif. Dari halaman pertama sampai akhir, penulis sengaja tak membatasi antara bahasa indonesia dan bahasa lokal. Licentia poetica.

asyeeek bgt, membaca ini jadi pengen pulang
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
February 9, 2017
Ulasan sekaligus petikan wawancara bersama F. Aziz Manna: http://bibliough.blogspot.co.id/2017/...

Membaca ini butuh perjuangan, bahkan bagiku yang sedikit mengerti bahasa Jawa. Dan kesalnya, aku baru tahu ada glosariumnya setelah selesai membaca ini. Jadi, harus baca ulang dari awal.

Sejauh ini, buku puisi ini adalah yang paling beda. Beda dalam artian tak melulu tentang cinta dan perasaan. Beda, bukan tentang kata-kata indah nan mendayu-dayu. Beda karena ada rasa "kemenangan" dalam setiap baitnya.

(Dibaca dalam perjalanan di commuter line ke Bekasi, sungguh liburan yang indah.)
Profile Image for Iin Farliani.
Author 6 books5 followers
October 13, 2023
Perbedaan yang sangat terasa ketika membaca buku puisi ini, antara Bagian Pertama “Main” dan Bagian Kedua “Ajang Barang” ditentukan oleh penggunaan diksinya. Tiap kali ingin melakukan pemaknaan yang bersifat koheren, pemaknaan itu seakan dijegal oleh diksi-diksi bahasa daerah. Meski buku ini sudah menyertakan glosarium, pemaknaan tak serta merta bisa langsung dibaca secara koheren karena muatan tiap diksi daerah itu ada yang berisi uraian panjang, ada pula yang bersifat praktis. Sedangkan di Bagian Kedua “Ajang Barang” lebih bertumpu pada bahasa Indonesia dibandingkan pengucapan daerah sehingga lebih mudah untuk diikuti alur kisahannya. Puisi-puisi ini bergerak seperti mengisahkan sesuatu. Fitur-fitur waktu juga kerap digunakan seperti “masa depan” dan “masa lalu”. Kisahan yang lebih variatif pembaca temukan di Bagian Ketiga “Laku”. Beberapa poin yang bisa jadi titik berangkat untuk mengurai buku puisi ini:
Di mana posisi subjek larik dalam permainan yang dikisahkan? Apa yang ia lakukan terhadap permainan itu? Pemaknaan ulangkah atau mengisahkan ala kadarnya? Suara macam apa yang disampaikan oleh subjeknya?

Saya rasa puisi-puisi dalam buku ini lebih banyak bertumpu pada yang bersifat teknis. Saya tidak terlalu merasakan emosi personal selama membacanya. Seperti judul-judulnya yang menggunakan objek-objek mati: “Paku”, “Dadu”, “Balon”, “Telepon Kaleng”, hubungan dengan benda-benda mati yang berjalan satu arah. Barangkali di lain kesempatan lewat pembacaan ulang akan bertemu dengan model pembacaan dan tafsiran yang lain. Sementara, ini dulu review yang bisa saya tulis untuk buku ini.
Profile Image for Alfa.
203 reviews8 followers
February 27, 2017

Layangan
musuh kami bukan lagi reranting dan dedaunan yang mudah disegrek benang gelasan. tembok dan kabel lebih dempal dan bebal. jika tak lincah bisa munting dan nyangsang. meski tetap harus kuat dan tajam, benang tak lagi bisa diulur panjang seperti kami punya pikiran. semua kini serba berbatas. lengah sedikit saja, urat yang serupa benang bisa rantas dan amblas. hal13

Merconan
letusan itu seperti ledakan masa lalu: ada jeritan, ada teriakan, juga ada gelak tawa di sudut lain di sana. sesepihan kertas serupa pecahan dinding. semburat di jalanan, bergulingan disapu angin. lalu debu menyelimutinya, menyembunyikannya dari pikiran kita. kami terus menatap malam. malam yang panjang. cahaya hanya garis-garis abstrak di hamparan cakrawala gelap. melesat, meletup, lenyap. hal 23



2.8/5

Membaca puisi-puisinya mas Aziz di bagian awal mengingatkan saya akan permainan-permainan yang dulu saya mainkan ketika saya masih bocah, unik juga puisinya, jadi rindu main layangan di pinggir sawah atau nyalain mercon segede gajah, yang bunyinya bikin genting dan tembok tetangga bergetar dan kertas berhamburan kemana-mana (sekarang mah mana berani nyalain yang gedhe gitu, bisa kena razia polisi wkwkwk.....)

Profile Image for Dire.
14 reviews2 followers
March 26, 2022
Play-on: Tualang dalam Ledakan Masa Lalu

letusan itu seperti ledakan masa lalu: ada jeritan, ada teriakan, ada juga gelak tawa di sudut

Manna berhasil mengajak saya berpelisir ke dalam serpihan memori masa kecil yang hablur ditelan waktu. Sebagai orang Jawa Timur, buku ini serasa kawan lama yang ingin bertegur sapa. Tentunya cukup membius saya dengan gejolak ingatan berbagai hal yang pernah mengakrabi saya.  Mulai dari berbagai dolanan, tradisi Jawa Timuran, hingga tempat yang sempat tertambat di masa lalu saya, misalnya wisata Api Tak Kunjung Padam. 

Hal-hal yang aneh namun rekat dengan keseharian juga dibawakan Manna dengan bahasa dan daya imajinasi yang cair. Layaknya ngupil, dihidangkan secara sublim oleh Manna. Seperti nukilan puisi Ngupil: /serupa arkeolog muda penuh gairah aku disengat goda, ditantang tualang// segala yang kasar dan nggeronjal: biji-biji waktu, tergerus// serupa sejarawan aku menurutnya, memeriksanya

Puisi yang serat metafora tanpa menelanjangi secara penuh pesan-pesan dan ruh Jawa Timuran ini layak dibaca, terutama bagi orang Jawa Timur, juga manusia-manusia yang sedang dilanda rindu tak bermuara tentang mesranya masa anak-anak yang tak tersentuh oleh candunya gawai.
Profile Image for Willy Akhdes.
Author 1 book17 followers
October 7, 2017
Sesaat setelah saya membaca puisi pertama kumpulan puisi pemenang KSK 2016 ini saya merasa kembali jadi anak kecil di kampung halaman dan bermain-main dengan gundu, kartu remi, endog-endogan, kelereng, layangan dan sebagainya. Aziz Manna bermain-main dengan permainan tersebut, namun tetap menyajikan wacana-wacana sosial yang butuh kontemplasi mendalam demi merenunginya.
Profile Image for Lidia.
91 reviews
November 19, 2021
Saya merasa kembali ke masa kecil saat bermain dengan kumpulan puisi ini. Buku yang dikemas sedikit bahasa jawa, lumayan memutar otak tapi menariknya penulis menghidangkan Glosarium, hal baru bagi saya setelah membaca beberapa buku puisi lain.

Dan menurut saya, buku ini memang pantas jadi pemenang sayembara dan kusala sastra, sebab benar-benar beda.
Profile Image for Randa Muhammad.
96 reviews4 followers
November 7, 2019
sungguh memperkaya bahasa. aku bs eksplorasi kata2 baru lagi dan lagi pada aktivitas menulis.
isi buku puisi ini berupa kegiatan2 yg tak terpikir bs dijadikan sebuah puisi, seperti misalnya permainan bendan dan nyuci pakaian.
Profile Image for keen.
37 reviews1 follower
March 27, 2022
Such a great book! Walau memang sempet pusing pas baca di awal karena pertama kali baca kumpulan puisi, namun ditulis glosariumnya kok, kerenn👍
Profile Image for Rido Arbain.
Author 6 books100 followers
December 26, 2016
Kayaknya musim (lagi) ya onomatope di bait puisi? Apakah ini efek "om telolet om"?
Profile Image for Nikotopia Nikotopia.
Author 4 books21 followers
December 14, 2016
Bukune Mas Aziz iki ngingetke jamanku cilikan. playon neng ngarep omah simbah, dolanan ndog-ndog'an, pyar!

Arume buku iki, arume naliko cuwilikanku, marai kangen tenan. bar mangan sego sambel gereh, bar kuwi playon karo sedulurku. aku yo mbiyen, dadi penari cilik, nari jaranan, topeng, lan nari panji semirang.

seng tak seneng buku iki, nguripke meneh bocah cilik neng jero ati.

Suwun sanget yo Mas Aziz.
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
April 6, 2017
Terhanyut akan diksinya yang kaya & menggoda. Puisi-puisi dalam buku ini membawa ingatan-ingatan akan permainan masa kecil, tetembangan yang dilantunkan para sesepuh dan filosofinya. Love it :')
Displaying 1 - 16 of 16 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.