Ali Audah menulis di berbagai majalah dan surat kabar sejak tahun 1946. Majalah yang memuat karya Ali Audah antara lain Sastra, Zenit, Indonesia, Kisah, Mimbar Indonesia, Roman, Konfrontasi, Gema Islam dan Sasterawan.
Ali Audah kini lebih dikenal sebagai seorang penerjemah daripada sastrawan. Dua puluh tahun lebih ia menerjemahkan buku-buku sastra, filsafat, dan agama. Lebih lanjut, Ali Audah mengkhususkan diri dalam menerjemahkan karya sastra Arab modern. Pengkhususan itu dilakukan atas dorongan Asrul Sani. Ali Audah juga mempunyai perhatian yang besar dalam pengajaran sastra di sekolah.
Saya baru membaca bagian awal, sampai dengan bab Rasulullah meninggal. Penulis menyajikan dengan lancar, ringkas, tidak bertele-tele, dan yang penting: menghindari dramatisasi. Hal ini penting khususnya pada masa-masa sepeninggal Rasulullah, ketegangan kelanjutan kepemimpinan di Madinah menjadi isu sensitif. Penulis tetap mengangkat dialog antarkelompok, namun tidak perlu memberi opini atau melebih-lebihkan dialog-dialog tsb.
Ali Audah salah satu penulis buku-buku Islam yang enak dibaca dan penting.