Kali ini Emily tak membutuhkan banyak usaha untuk menjodohkan bujangan ketiga dari daftar calon suaminya. Brett Hamilton, Wakil Direktur divisi Perjalanan Luar Negeri, rupanya seorang keturunan bangsawan Inggris dan tampaknya sedang mengalami kesusahan ketika kakak laki-lakinya mendapat bayi perempuan 'lagi'. Ya, beban untuk menghasilkan pewaris, yaitu anak laki-laki, akan jatuh di pundaknya, padahal dia tak ingin terikat dengan segala aturan kebangsawanan keluarganya. Dengan segala cara dia menghindari perjodohan yang dilakukan ibunya, sampai tercetuslah ide dengan mempunyai tunangan pura-pura, dia akan terbebas dari itu semua. Brett pun meminta Sunny Robbins, asisten Grant Lawson dari bagian Hukum, untuk menjadi tunangan pura-puranya dan meminta gadis itu untuk pindah ke apartemennya. Sunny yang sedang membutuhkan tempat tinggal karena apartemennya kini penuh sesak sejak kedatangan kedua orang tuanya yang nyentrik, akhirnya menyetujui ide Brett. Dan mereka pun menjalankan pertunangan pura-pura yang akkhirnya malah membuat mereka menjalani pertunangan yang sebenarnya.
--
Seri ketiga ini nggak sebagus seri keduanya. Cukup kecewa karena sudah berekspetasi cerita bujangan ketiga lebih menarik secara covernya cukup bagus dibanding cover kedua buku sebelumnya. Cerita pertunangan pura-pura ini boring dan datar, walaupun chemistry antara Brett dan Sunny lumayan menghibur. Agak sedikit jengkel dengan kedua orang tua Sunny, akan tetapi lebih jengkel dengan ibu Brett, maklum sih karena berasal dari keluarga bangsawan. Hasil akhirnya gampang ditebak, alurnya juga tidak menggugah emosi saat membacanya.
BUJANGAN # 3 Brett membutuhkan seorang tunangan agar orangtuanya tidak berusaha menjodohkannya dengan para wanita-wanita bangsawan Inggris yang tidak disukainya. Dengan sedikit skrenario, Brett menarik Sunny, seorang paralegal di Wintersoft untuk tinggal bersamanya dan pura pura menjadi tunangannya. Walaupun mereka sebenarnya saling tertarik satu sama lain, tapi masing masing berusaha menyangkalnya. Ketika orangtua Brett datang dari Inggris, mereka jelas-jelas tidak menyukai Sunny. Tapi ketika orang tua Brett membebaskanya untuk hidup bahagia dan merestui pernikahannya dengan Sunny. Bahkan Sunny yang ingin membatalkan pernikahannya dengan Brett dan menghentikan sandiwara ini terpaksa harus menunda keinginannya ketika Brett menyatakan cintanya padanya.
Semakin gariiiing! Bukan renyah kriuk-kriuk, tapi bikin boring dan bacanya terpaksa diskipping karena ga perlu-perlu amat untuk dihayati (jadi ingat waktu baca Twilight). Biar tokoh utamanya mirip Daniel Craig kalo dilihat dari belakang, tapi jalan ceritanya basi banget. Konfliknya juga ringan dan terlalu gampang untuk dipecahkan (keramik kali...)