Jump to ratings and reviews
Rate this book
Rate this book
"Montreal. Di sinilah Maghali Tifana Safri, perancang baju asal Solo yang mulai bersinar namanya, mendapat kesempatan melanjutkan studi. Ujian berupa teror dari sekelompok orang hampir merontokkan sikap toleran Maghali, kalau saja Kai Sangatta Reeves tidak muncul menyelamatkannya. Rupawan, cerdas, berhati emas. Model sekaligus dokter dan relawan. Pesona Kai begitu kuat, tapi Maghali sadar dia tak boleh terlena karena lelaki itu berada di kutub yang berbeda.

Ujian lain datang dalam bentuk gadis cantik bernama Isabelle. Model pirang yang memeragakan baju-baju rancangan Maghali ini meminta bantuan untuk lari dari jerat cinta sesama dan pemberitaan miring tentang masa lalunya. Seolah belum cukup pelik, Maghali kembali diuji kala Kai yang dirundung duka melabuhkan rasa resah pada dirinya, membuat gadis ini makin sulit memendam rasa. Kesadaran Maghali baru pulih kala melihat Isabelle mendekati Kai. Susah payah hatinya mengakui, keduanya lebih cocok menjadi pasangan karena sama-sama rupawan dan tak ada halangan mengadang.

Ketika masa tinggalnya di Montreal berakhir, Maghali mengira selesai pula siksaannya menahan rasa pada Kai. Tapi pada satu hari sakral di Tanah Air, Kai tiba-tiba muncul. Akankah terbentang masa depan untuk keduanya, ataukah mereka harus puas dengan sepotong episode penutup?"

240 pages, Paperback

First published November 7, 2016

6 people are currently reading
96 people want to read

About the author

Arumi E.

28 books97 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (20%)
4 stars
39 (45%)
3 stars
21 (24%)
2 stars
7 (8%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 23 of 24 reviews
Profile Image for Shirley.
923 reviews80 followers
March 28, 2020
This book is a continuation of Love in Sydney, it's Maura's twin sister story, Maghali.
This is sweet, too sweet and good to be true, at least in my opinion, but overall i like the story and characters.
Profile Image for Yasfin.
119 reviews
November 12, 2016
Nice. Akhir-akhir ini lagi ribut soal agama, Arumi mengangkat topik itu sebagai salah satu konflik di ceritanya.

And as always, cerita ini mengalir apa adanya. Romantisnya pas dan religiusnya juga pas

Dan ada lanjutannya nanti di Love in Saigon


3,5/5
Profile Image for Indah Novita.
10 reviews1 follower
April 2, 2021
Love in Montreal berkisah tentang Maghali, atau biasa dipanggil Lili, seorang fashion designer yang mendapat kesempatan untuk belajar di sekolah mode selama satu tahun di Montreal. Lili sendiri sebenarnya telah menyelesaikan program diplomanya selama 2 tahun di Indonesia pada jurusan mode di sekolah mode cabang dari sekolah mode di Montreal yang memberinya kesempatan belajar secara gratis. Oh ya, patut dicatat juga bahwa nama Lili cukup dikenal di dunia fashion di Indonesia karena dikisahkan bahwa ia sudah memiliki 5 butik di tanah air. Di samping itu, ia adalah saudara kembar Maura, seorang artis papan atas Indonesia yang mengembangkan karier artisnya hingga Sydney.

Lili tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam beradaptasi di Montreal. Ia tinggal di lantai 2 sebuah rumah yang disewakan oleh pemiliknya. Ia bahkan punya teman sesama muslimah di kampusnya, yaitu Shabrina yang sudah menjadi mualaf selama 4 tahun. Pada kesempatan pertamanya bergabung dalam sebuah pementasan busana, Lili berkenalan dengan Isabelle, seorang model cantik yang menyukai rancangannya. Lili juga bertemu dengan Kai, seorang model keturunan Indonesia yang ternyata juga seorang dokter. Seperti yang kalian tebak, Kai ini ganteng uhuy. Dan Lili, termehek sejak pandangan pertama.

Tapiii, Lili pandai menutupi perasaannya. Pura-pura biasa gitu, walaupun kadang-kadang kegeeran kalau Kai mulai menunjukkan perhatian. Tapi Lili juga sadar bahwa kemungkinan dia untuk jadian sama Kai itu kecil, karena Kai bahkan mengaku padanya kalau Kai tak beragama.

Meskipun Kai mengaku tak beragama, tapi dalam kedekatan mereka yang terjalin, Lili mulai melihat kebaikan-kebaikan lelaki itu. Pertama Kai adalah seorang cucu yang sangat mencintai Grandmanya. Sang Grandma yang sakit kanker usus besar stadium 3 itu telah merawat Kai sejak Kai berumur 6 bulan. Jadi Kai sangat sayang pada Grandma dan menjaga Grandma dengan baik termasuk menjaga asupan makanan. Sebaliknya Grandma juga sangat sayang pada Kai. Grandma yang suka merajut sangat senang ketika Kai mengajak Lili ke rumah. Grandma langsung menduga bahwa Kai menyukai Lili.

Kebaikan lain dari Kai adalah bahwa Kai merupakan sukarelawan medis untuk pengungsi Suriah di Montreal. Lili sungguh tak menduga. Pada suatu kesempatan, ia menemani Kai berkunjung ke pengungsian dan melihat bahwa lelaki itu sangat telaten meladeni para pengungsi yang sakit. Saat mengunjungi pengungsian itu juga terjadi sesuatu peristiwa pada Lili. Ia bertemu dengan dua orang pembenci Islam yang berusaha mengintimidasinya hingga ia jatuh di tumpukan salju hingga pingsan. Kai lah yang menolong Lili dan membawanya ke rumah sakit.

Hubungan yang maju mundur tanpa kejelasan dengan Kai, mencapai titik balik ketika Lili, Kai dan Isabelle berjalan-jalan di sebuah festival mural. Di situ Lili seolah disadarkan bahwa Kai dan Isabelle jauh lebih pantas menjadi pasangan karena mereka sama-sama rupawan. Pada saat Lili mengundang teman-temannya makan di malam perayaan idul fitri, Kai juga datang bersama Lili. Mereka berdua bahkan berencana hendak meningkatkan karier di bidang model dengan tour ke eropa bersama-sama. Saat mendengar rencana itu, Lili merasa sedih dan memutuskan untuk tidak menghubungi Kai saat ia sudah harus pulang ke Indonesia. Lili pulang ke tanah air ketika Kai sedang tour ke Eropa.

Tiba di tanah air, Lili segera disibukkan dengan persiapan pernikahan saudara kembarnya, Maura. Lili bertugas merancang busana pernikahan Maura dan calon suaminya. Pada saat hari H pernikahan Maura, Lili dikejutkan dengan kedatangan Kai. Ternyata Kai sudah beberapa waktu di Indonesia tepatnya di Sangatta, Kalimantan. Ia mendaftar menjadi tenaga sukarelawan medis yang dikirim ke berbagai tempat terpencil di Indonesia. Ia pergi ke Solo untuk menemui Lili dan menyatakan perasaannya. Akhir cerita tentu saja mereka kemudian menikah, setelah Kai menjadi mualaf. Di ending ada sentuhan yang manis ketika mereka bulan madu ke Samboja tempat perlindungan orangutan.

Kisah yang cukup ringan, membacanya tidak perlu mengerutkan kening, cocok buat hiburan. Ada sedikit sentuhan toleransi beragama yang diangkat, isu cinta sesama jenis, dan juga tentang nilai-nilai kemanusiaan.**

Profile Image for Furadantin.
18 reviews
August 13, 2020
Judul: Love in Montreal
Penulis: Arumi E
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2016, 240 hal, versi ebook


Kesan pertama, jatuh cinta pada covernya. Lalu setelah membaca blurp, saya jadi tahu ini novel percintaan dengan nuansa religi.

Saya suka cara penulisan yang mengalir dan ringan walau menggunakan bahasa baku. Penggambaran suasana Montreal juga detail dan sanggup membawa angan saya melayang ke sana.

Setelah membacanya, saya menemukan stereotip. Dalam dunia teenlit ada Ketos dingin dan galak jatuh cinta pada gadis lugu, polos dan kadang ceroboh. Dalam dunia chicklit kita temukan bos galak nan dingin yang jatuh cinta pada anak buah yang tertindas. Begitu pula dalam romansa dewasa, ada CEO judes yang terpaksa menikah dengan perawan muda yang lugu dan tidak menarik. Nah di dunia romansa religi, kita kerap menemukan muslimah Indonesia yang gagap menghadapi gaya hidup dunia barat. Lantas berjumpa pemuda nonmuslim yang akhirnya menjadi mualaf.

Hmm, tentu tidak salah mengangkat topik yang sama berulang-ulang. Akan tetapi, sebenarnya saya mengharapkan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ditulis oleh orang lain.

Karakter Maghali dan Kai pun terkesan biasa saja. Kai bahkan terlihat terlalu sempurna. Perubahannya menjadi mualaf pun tidak terlihat. Padahal bisa jadi ini adalah poin penting dalam sebuah novel religi.

Dan satu lagi, tokoh utama wanita pergi meninggalkan tokoh utama pria (hal.198) tanpa pamit. Wah, berapa kali adegan seperti ini ditulis dalam novel-novel remaja?

Akhirnya, saya memberikan bintang 3 untuk novel ini.
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
December 11, 2016
Cinta, Mimpi dan Keyakinan

Judul : Love in Montreal
Penulis : Arumi E
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, November 2016
Halaman : 240 hlm
ISBN : 978-602-03-3460-8

Tema cinta memang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Selalu manis dan disukai pembaca. Lagi pula setiap individu itu unik dan selalu punya cara berbeda dalam mengisahkan sesuatu. Begitu pula tentang mimpi. Tema ini juga tetap disukai karena akan banyak keteladanan yang bisa diambil untuk memperbaiki diri. Memberi motivasi dan inspirasi. Tidak ketinggalan adalah masalah keyakinan. Mengingat cinta dan keyakinan sering kali bersinggungan, menjadi bumbu cinta yang kadang berbuah manis juga berbuah pahit.

Melihat fenomena itu, tidak salah penulis memadukan tiga tema ini dalam satu cerita yang dikemas dengan apik dan manis. Ditambah lagi dengan adanya perpaduan setting yang menawan serta masalah Islamophobia yang memang masih marak terjadi di berbagai negara minoritas Islam.
Love in Montreal merupakan seri Around The World With Love batch 3. Sebelumnya pada batch 1 Arumi E menulis novel berjudul Love in Adelaide lalu di batch 2 Love in Sydney. Dari ketiga buku ini, alhamdulillah saya sudah membaca semuanya. Meski dari ketiga novel ini ada sedikit pola yang terasa sama. Tapi keseluruhan cerita sangat asyik untuk dinikmati dan banyak sisi positif yang bisa diteladani. Novel ini memang diseting menjadi novel bersambung dan saling berhubungan. Namun tenang saja, karena setiap buku ini tetap bisa dibaca mandiri. Karena cerita yang dipaparkan point benang merahnya hanya berhubungan dengan si tokoh utama. Tapi jika membaca keseluruhan akan semakin menambah wacana.

Novel ini sendiri berkisah tentang Maghali atau yang lebih sering dipanggil Lili. Setelah sempat memamerkan rancangannya di Ethnic and Cultural Fashion Show di Sydney sekarang dia akan melanjutkan studinya di Montreal—Kanada. Dia akan di sana sekitar satu tahun. Selama di sana Lili tinggal di rumah Madame Marple sesuai dengan saran Miss Prudence—dosen yang membantu mengurusi beasiswa Lili.

Pertama tinggal di luar negeri sendirian, tentu saja sempat membuat Lili cemas. Mengingat di Kanada tengah marak Islamophobia. Tapi dia mencoba yakin bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. “Aku percaya, dengan tetap bersikap baik, suatu saat mereka sadar, Islam yang sebenarnya membawa damaai dan kebaikan. Teroris itu kriminal, nggak ada hubungannya dengan agama.” (hal 19). Dan benar saja ketika mulai memasuki perkuliahan di La Mode College, Lili langsung disambut hangat oleh teman-teman sekelasanya. Salah satunya adalah Shabrina yang ternyata seorang mualaf dan juga berhijab.

Di La Mode College, Lili bersama mahasiswa terbaik lainnya berkesempatan untuk memamerkan karya-karyanya dalam mini fashion show. Bisa dibilang karya Lili itu elegan. Terutama karena dipadukan dengan bahan-bahan tradisional negara Indonesia. Meski potongannya panjang, tapi tetap sesuai dengan konsep modest wear.

Pada kesempatan inilah akhirnya Lili mengenal Isabelle, model cantik yang hangat, rendah hati dan membumi. Selain itu Lili juga berkenalan dengan Kai, model yang ternyata juga seorang dokter dan relawan. Sebuah perkenalan yang pada akhirnya membuatnya terjebak keadaan yang rumit.
Lili tidak menyangka akan dekat dengan Kai yang ternyata masih berdarah Indonesia—dia ada campuran darah Kalimantan. Padahal dia tahu, dirinya tidak boleh memiliki perasaan lebih pada Kai. Karena menyadari ada jurang dalam di antara mereka. Banyak kejadian membuat Kai tidak mempercayai Tuhan.

Lalu Isabelle yang sempat terjebak pada jalan yang salah mencoba meminta bantuan padanya. “Aku sudah bilang, hidupku dulu penuh liku dan menyedihkan. Apakah ceritaku ini cukup untuk membuatmu mau menerimaku tinggal bersamamu? Aku nggak bohong. Itu adalah kisah nyata kehidupanku yang sebenarnya. Kalau kau tak percaya, kau bisa mencari berita tentang aku di internet.” (hal 115).

Tidak hanya masalah itu, Lili juga harus menghadapi warga Kanada yang masih menganggap Islam adalah ancaman, sehingga dia sempat dibully. Padahal hidup itu sesungguhnya indah, andaikan semua orang merasa bahagia, bebas dari rasa benci dan saling curiga, meluapkan rasa ingin berbagi kasih (hal 103).

Menarik dan membuat penasaran. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan manis, membuat novel ini sangat nyaman dibaca. Penulis juga pandai membuat pembaca terus terpacu rasa penasaran hingga sampai di akhir bab. Banyak kejutan yang tidak terduga dalam novel ini.
Kelebihan lainnya dalam novel ini adalah tentang penggarapan setting yang sangat hidup dan tidak terasa tempelan. Narasinya yang persuasif, membuat saya seolah ingin segera bertandang ke Montreal. Dan sangat minim typo.

Hanya saja untuk rasa religi yang bagian Lili dan yang kerap bergi berduaan dengan Kai, kadang bikin gemes. Lili yang religius ternyata kadang masih belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Padahal dia tahu perbuatannya salah. Tapi nampak selalu dengan mudah menerima ajakan Kai atau malah pasrah tidak bisa menolak ajakan itu. Dan lagi tokoh Kai terlalu sempurna dan terlihat tanpa cacat. Tampan, baik hati dan sederet sikap baik lainnya. Perfect deh, kecuali dalam masalah keyakinannya.

Pada novel ini, penulis lebih condong mengarahkan semua emosi pada Maghali, sehingga untuk emosi Kai masih harus diterawang. Hal ini terlihat jelas dari kegalaun Lili setiap kali berdekatan dengan Kai. Sedangkan model dan dokter tampan itu tampak tenang, tidak peduli dan selalu baik pada siapa saja. Termasuk pada Isabelle yang tengah jatuh cinta padanya, yang otomatis membuat Lili kelabakan.

Selengkapnya bisa baca di sini http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...

Kalau penasaran dengan proses kreatifnya bisa baca di sini http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...
Profile Image for Nur Fadilla Octavianasari.
565 reviews45 followers
February 25, 2018
#2018-[29]

Waaaaah....
Ganteng, santun, sayang keluarga, keker, model catwalk, bonus Dokter lagi. Ada yang bisa nolak pesona Kai? Bahkan seorang Maghali yang teguh iman aja dibikin klepek-kelepek. LOL.

Bebekal one-sided love ke Zach yang kudu dikubur dalem-dalem bcs si ganteng itu bakalan jadi suami twin-sisternya, Maghali akhirnya punya kesempatan buat “kabur” ke Montreal. Disana ketemu Kai, dan semua oke sampai lagi-lagi “tembok raksasa” itu jadi penghalang mereka. Yah walaupun semua berakhir dengan happy ending sih.

Mbak Arumi, kenapa cuman Aleksa-Neil yang diceritanya masih ngambang ga jelas kaya tai sih :( Saya yang ngarep banget bakal ada kemajuan berarti sama hubungan meraka harus kecewa lagi disini. Udah gada lanjutannya ya serie yang ini?
62 reviews2 followers
July 15, 2022
Bisa lebih bagus dari ini kalau aja sedikit lebih diniatin dan lebih sabar nulisnya. Alur ceritanya kayak tersentak-sentak—gas rem gas rem gas. Perubahan emosi dan sudut pandang para tokoh pun terkesan terlalu drastis—kurang dibangun dan minim latar belakang yang jelas. Karakterisasi para tokoh gak kuat—cenderung berubah-ubah tanpa dasar—dan jatuhnya terkesan gak real. Toleransi dan kebaikan mereka kayak datang dari negeri dongeng. Sayang banget. Padahal tema cerita yang diangkat udah bagus. Minoritas di tengah kerumunan mayoritas—perbedaan drastis yang dialami si tokoh utama saat mencicipi menjadi masing-masing dari kedua kelompok itu di dua negara multi kultural berbeda.
Profile Image for Dee.
93 reviews1 follower
November 12, 2018
Baca ini seharian selesai karena cerita menarik. Penggambaran nya detail dan keren tentang suasana di sana.
Kai Sangatta Revees, si Ganteng nan santun, sayang keluarga, model catwalk, plus Dokter lagi. Maghali sang desainer yang keren prestasi nya. Yang paling bikin keren dari buku ini adalah pesan moral nya tentang rasa toleran dan kepedulian sosial dalam bermasyarakat yang tinggi. Lewat tokoh kai yang suka membantu kegiatan2 sosial , masyarakat disana yang menghormati keyakinan orang lain. Pokok nya keren dan keren cerita nya.
Profile Image for Asti Wisnu.
Author 2 books2 followers
March 12, 2020
Pertama melihat buku ini, tidak banyak ekspektasi kecuali penasaran saja dengan gaya tulisan Arumi E yang saya tahu sudah merilis banyak novel. Ternyata semakin saya membaca cerita ini, semakin suka saya dengan alurnya. Ceritanya sangat mengalir dan penuh pesan terkait multikulturalisme, pas banget memang Kanada dipilih sebagai latar belakang. Pekerjaan Lili sang tokoh utama sebagai fashion designer pakaian muslim juga terlihat pilihan yang sangat baik, menunjukkan kontrasnya dunia fashion dan agama yang ternyata bisa disatukan.

Simpulan singkat cerita ini: ringan dan penuh makna.
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books72 followers
September 19, 2022
Sukaaa! Ini cerita yang bernafaskan religi. Wanita muslim di luar negeri, khasnya Arumi tapi ceritanya gak mainstream. Kali ini perancang busana ketemu model ganteng, pintar yang juga punya profesi lain yang sangat membagongkan.

Kisah cintanya saya pikir bakal kandas sebelum bahkan dimulai, tapi ternyata memang kalo Allah sudah berkehendak, apapun akan menjadi mungkin. #eaaa

Cerita manis yang berbunga-bunga ini cocok dibaca santai sambil ngeteh/ngopi di teras sambil ditemani hujan rintik-rintik.
Profile Image for Wini Agnia.
54 reviews
June 6, 2025
cerita tentang maghali kembarannya, maura, merantau ke montreal untuk menempuh pendidikan tentang fashion. maghali bertemu kai yang seorang model dan sekaligus dokter.

akhirnya novel mbak arumi yang ini punya improvement yang bagus tentang konflik yang dibahas. konfliknya seperti maghali sebagai perempuan muslimah yang diserang oleh kaum islamophobia disana. konflik pertemanan issabelle dan jane. kisah granny-nya kai. dan ditutup dengan ending imut. katanya akan berlanjut di love in saigon ya, tp sepertinya novel yang sudah terbit judulnya love in ho chi minh. mungkin itu yang dimaksud.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Lievadiar.
147 reviews17 followers
July 22, 2017
Topik yang diangkat ciamik banget! Salut sama Mbak Arumi 👏👏👏

Maghali seorang desainer yang lumayan punya nama diberikan kesempatan untuk melanjutkan studinya di La Mode Montreal, Kanada, negara dengan multikulturalisme di dalamnya. Novel ini nggak melulu tentang percintaan, tapi juga mengangkat isu yang sulit untuk tidak diperbincangkan. Bagaimana Islam di mata dunia. Novel ini pas kadar romansa juga Islaminya, love it! 💕💕💕💕
Profile Image for lalaland.
13 reviews
October 24, 2023
love their chemistry. itu aja review-nya karna itu yg terpenting dari buku genre romance kyk gini. karna kalo chemistrynya gk dapet jadi males bacanya tapi ini enggak bikin aku pengen baca lagi dari awal
Profile Image for nasya.
844 reviews
February 26, 2022
waktu di awal baca, sudah ketebak sih endingnya gimana, tapi tetep tersentuh bacanya. berhubung aku lumayan tertarik dengan novel yg tema desainer gtu, jadi ya seneng bacanya
Profile Image for sey(٥↼_↼).
8 reviews4 followers
October 21, 2022
Thanks for Kai, he got my heart successfuly. I know that he isn't existing in this damn world, he is just too much
Profile Image for Erin  F.
135 reviews1 follower
December 20, 2016
Tokoh utama di Love in Montreal adalah Maghali. Dia kembarannya Maura tokoh utama di Love in Sydney. Maghali juga muncul di Love in Sydney yang membuatnya harus merasakan cinta bertepuk sebelah tangan. Kepergiannya ke Montreal bukan pelarian dari patah hatinya tapi karena Maghali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan sekolah desain-nya di La Mode Collage.

Montreal ternyata menyuguhkan pengalaman yang berharga untuk Maghali. Dia memergoki Isabelle berciuman dengan Jane. Bertemu pria yang islamphobia bahkan membuatnya hampir terluka. Jane yang memusuhi Maghali karena Isabelle akhirnya memutuskan pergi dari kehidupan Jane. Bahkan hal yang mengerikan adalah ada orang yang tega membakar hasil rancangannya menjelang fashion show. Tapi, Maghali memiliki teman yang berharga seperti Shabrina yang juga seorang muslim, Justin yang akhirnya mengagumi rancangannya.

Tapi, hati Maghali mendadak nyeri dan gundah saat Isabelle dan Kai semakin dekat. Bahkan keduanya sudah merencanakan untuk pergi ke Eropa. Maghali sadar, tentang perbedaan yang membentang antara dirinya dan Kai. Lelaki yang mendekati sempurna tapi sayangnya dia tak percaya dengan agama.

Aku suka cara penulis menggambarkan sosok Maghali yang awalnya langsung menilai orang dari luranya, namun dia belajar dari pengalamannya untuk tidak men-judge orang terlebih dahulu tanpa tahu sifat aslinya. Misal, saat memergoki Isabella dan Jane berciuman, Maghali langsung berfikir negative namun setelah mengenal Isabella yang sebenarnya, Maghali ta langsung men-judge saat ada pemberitaan buruk tentang masa lalunya.

Tak hanya Maghali, karakter tokoh lainnya seperti Kai, Jane, kuat.

Untuk konfliknya memang ada beberapa konflik yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama tentang bagaimana Maghali menyikapi hidupnya selama di Montreal dengan permasalahan yang menerpanya. Walau konfliknya terbilang ringan, tapi tetap menarik.

Untuk penyajian konflik penulis menyajikannya berdasarkan penyelesaian masalah satu per satu, missal saat masalah satu selesai yang lainnya muncul. Sebenarnya si itu tak begitu masalah, hanya saja saat menceritakaan Maghali, Isabelle dan Jane, sosok Kai ini menghilang. Sehingga chemistry antara Maghali dan Kai terbilang kurang. Sebagai pembaca, menurutku akan lebih menarik jika Kai dimunculkan dan ikut berperan dalam penyelesaian konflik tersebut.

Overall, aku sangat menikmati Love in Montreal. Rekomen nih buat kamu yang suka romance. Adopsi series ATWWL 3 ini.
Profile Image for Bintang Ach.
94 reviews
December 15, 2016
REVIEW LENGKAP: http://ach-bookforum.blogspot.co.id/2...

Yang paling bikin suka dari buku ini adalah pesan moral yang disampaikan. Yaitu tentang rasa toleran dan kepedulian sosial yang tinggi. Lewat tokoh Maghali dan kesehariannya di Montreal, kita tahu bahwa salah satu aspek penting ketika kita hidup negeri orang adalah rasa toleran. Kemudian, dari tokoh Kai kita bisa belajar tentang rasa kepedulian sosial yang tinggi. Hal ini bisa kita lihat ketika Kai terlihat dalam beberapa aktivitas kemanusiaan seperti membantu pengungsi Syria di pengungsian, dan lain-lain.

Untuk latar Montreal-nya sendiri, jangan ditanya. Sudah pasti sangat baik, aku suka. Kemudian, penulis juga menghadirkan unsur Islamophobia di sini. Beberapa adegan di dalamnya sangat realitis dan berhasil membukakan fakta yang sebenarnya kepada para pembaca.

Isi yang bagus, dan ditutup dengan ending yang bagus juga. Untuk buku pertama dari penulis yang kubaca, sepertinya tidak salah kalau aku memberinya 4 bintang!
Profile Image for Zahira R.
21 reviews
February 24, 2025
RATE: 4,4

Bercerita tentang Maghali, seorang mahasiswi sekolah desainer di Indonesia yang mendapatkan kesempatan untuk belajar di Montreal. Impiannya yang sangat besar untuk bisa mendapatkan kesempatan menimba ilmu di sana sedikit terdistraksi dengan keadaannya yang mengenakan jilbab (karena ia bisa dibilang minoritas di sekolahnya itu).

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang model yang biasa membantu mahasiswa sekolah desainer untuk memeragakan hasil desain mereka yang bernama Kai Sangatta Reeves. Kai, yang mendiang ibunya adalah orang Indonesia, menaruh minat untuk menjalin pertemanan dengan Maghali.

Cerita berikutnya diisi dengan bagaimana Maghali dan Kai saling mengisi satu sama lain walau Kai tidak digambarkan memiliki perasaan kepada Maghali sewaktu mereka masih di Montreal (menurut saya) oleh sang penulis tetapi beberapa scene berhasil membuat saya senyum-senyum sendiri. Sayangnya, menjelang selesainya masa studi Maghali, sesuatu terjadi diantara mereka yang menyebabkan gadis itu untuk pergi dari Montreal tanpa pamit kepada Kai.

Akhirnya, mereka kembali dipertemukan di Indonesia ketika keluarga Maghali tengah mengadakan suatu acara dan merajut apa yang sempat terputus.

Novel ini termasuk ke dalam bacaan romansa yang ringan kalau menurut saya, karena penggambaran tiap karakter jelas dan alurnya cukup singkat dengan konsep love at first sight. Very recommended untuk orang yang butuh bacaan selingan bergenre romansa yang lumayan membuat senyum sendiri.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Helena.
10 reviews
December 13, 2016
Kalau saja aku belum baca Love in Edinburgh, pasti akan ngasih minimal 3 bintang untuk novel ini. Tema tentang Islamophobia dan penanganan pengungsi dari negara-negara Islam yang lagi berkonflik, masih langka diulas di novel lokal. Tapiiii.... Love in Edinburgh sudah lebih dulu melakukannya. Menjadi relawan di rumah penampungan itu spesifik banget, mengingatkan pada apa yang dilakukan Katya setelah menetap di Edinburgh. Kebetulan? Entahlah. Andai iya, lucu banget. Karena Love in Montreal dan Love in Edinburgh satu seri tapi ditulis oleh orang yang berbeda. Love in Edinburgh terbit lebih dulu.
Saran saja untuk penulis dan editornya, sebaiknya hindari bahasan spesifik kayak gini di dalam satu seri. Karena kesannya ada yang meniru.
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
December 7, 2016

Love in Montreal merupakan salah satu seri Around The World With Love batch ketiga. Sebelumnya Arumi E telah menulis Love in Adelaide untuk batch pertama dan Love in Sydney untuk batch ketiga. Dari ketiganya, baru Love in Montreal saja yang sudah saya baca. Novel ini memang berkaitan dengan kedua novel sebelumnya, tapi hanya sebatas keterkaitan antar tokoh utama. Jadi novel ini tetap bisa dinikmati secara lepas dan nggak menunjukkan spoiler pendahulunya kok.
Displaying 1 - 23 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.