Ada banyak cerita berjalan sekaligus: hubungan Eigetsu dengan Yougetsu, penyakit misterius yang melanda Provinsi Sa, rencana pembangunan sekolah, perjodohan Shuurei, cinta Eigetsu dan Kourin, hingga kemunculan aliran sesat yang mengancam posisi Shuurei. Tidak ketinggalan juga petunjuk-petunjuk tentang cerita-cerita yang sepertinya bakal menjadi penting ke depannya, antara lain hubungan keluarga Hyou dengan Shuurei.
Di antara begitu banyak cerita, mari mulai dengan kisah Eigetsu. Plot ini berjalan bagus. Tekad Eigetsu dan Doushu sangat mengharukan. Semakin banyak hal tentang Eigetsu yang terungkap, semakin aku suka padanya. Perbuatan baik yang ia lakukan bukan karena dia orang suci dan bukan juga karena ia orang munafik yang mau dianggap baik. Dia cuma melakukan apa yg ia mau dan segala yang ia bisa. Seringkali perbuatannya itu membawa kebaikan bagi orang lain, dan terkadang bagi orang lain malah menjadi tindakan yang seenaknya sendiri. Sisi baik dan buruk Eigetsu bersandingan dengan baik sehingga dia tidak menjadi tokoh yang sempurna.
Beralih ke Shuurei. Sebenarnya Shuurei juga punya sisi baik dan buruk yang seimbang. Sayangnya berbeda dengan Eigetsu, penggambaran Shuurei seringkali mendikte sehingga kadang bisa membuat hilang simpati. Dan lagi rasanya sebal karena dia tidak tahu banyak hal. Hal tentang keluarga Hyou tidak masalah masih dirahasiakan karena itu juga rahasia untuk pembaca. Tentang Reishin juga masih tidak apa karena dimanfaatkan untuk humor. Tapi banyak hal-hal tentang pekerjaan yang dirahasiakan darinya dan ini sulit aku terima.
Meski masih banyak dimanjakan oleh orang-orang sekitar, Shuurei mampu menunjukkan kemajuan dalam pekerjaannya. Memang selain faktor orang-orang sekitar, faktor keberuntungan juga banyak berperan. Tapi tidak ada yang salah dengan itu. Shuurei baru gagal jika dia tidak memanfaatkan keberuntungan itu dengan baik. Dan di volume ini Shuurei membuktikan bahwa dia gadis yang cukup cerdas untuk memanfaatkan keberuntungan.
Nah, sekarang Ryuuki! Tokoh satu ini semakin menunjukkan kehebatannnya sebagai raja melalui keputusan-keputusannya yang cerdik dan bebas dari kepentingan pribadi. Saking hebatnya kadang rasanya ngeri. Ngeri melihat “Raja” perlahan menggantikan “Ryuuki”.
Shuurei dan Ryuuki semakin hebat dan kisah cinta mereka pun semakin mengiris hati. Hati ini masih harus dikoyak lagi melihat pria-pria lain yang juga menaruh hati pada Shuurei. Proses menunjukkan perasaan mereka kepada Shuurei begitu menggugah emosi sehingga aku berharap mereka berhenti menyukai Shuurei demi menyelamatkan hatiku yang tidak tega. Malah ditambahi percintaan Eigetsu-Kourin yang juga tidak kalah menyedihkan. Kontras pasangan-pasangan yang miris ini dengan pasangan bahagia Tei Yushun – Sai Rin tambah membuatku pingin nangis.
Dengan begitu banyak cerita berjalan sekaligus, apa volume ini bisa merangkainya dengan baik? Jawabannya, ya. Inilah salah satu kekuatan Saiunkoku Monogatari. Tak hanya itu, serial ini juga ahli dalam menyebar bibit-bibit tentang cerita selanjutnya. Nah, bagaimana Saiunkoku Monogatari menuai bibit itu di volume kedelapan?
Ada banyak cerita berjalan sekaligus: hubungan Eigetsu dengan Yougetsu, penyakit misterius yang melanda Provinsi Sa, rencana pembangunan sekolah, perjodohan Shuurei, cinta Eigetsu dan Kourin, hingga kemunculan aliran sesat yang mengancam posisi Shuurei. Tidak ketinggalan juga petunjuk-petunjuk tentang cerita-cerita yang sepertinya bakal menjadi penting ke depannya, antara lain hubungan keluarga Hyou dengan Shuurei.
Di antara begitu banyak cerita, mari mulai dengan kisah Eigetsu. Plot ini berjalan bagus. Tekad Eigetsu dan Doushu sangat mengharukan. Semakin banyak hal tentang Eigetsu yang terungkap, semakin aku suka padanya. Perbuatan baik yang ia lakukan bukan karena dia orang suci dan bukan juga karena ia orang munafik yang mau dianggap baik. Dia cuma melakukan apa yg ia mau dan segala yang ia bisa. Seringkali perbuatannya itu membawa kebaikan bagi orang lain, dan terkadang bagi orang lain malah menjadi tindakan yang seenaknya sendiri. Sisi baik dan buruk Eigetsu bersandingan dengan baik sehingga dia tidak menjadi tokoh yang sempurna.
Beralih ke Shuurei. Sebenarnya Shuurei juga punya sisi baik dan buruk yang seimbang. Sayangnya berbeda dengan Eigetsu, penggambaran Shuurei seringkali mendikte sehingga kadang bisa membuat hilang simpati. Dan lagi rasanya sebal karena dia tidak tahu banyak hal. Hal tentang keluarga Hyou tidak masalah masih dirahasiakan karena itu juga rahasia untuk pembaca. Tentang Reishin juga masih tidak apa karena dimanfaatkan untuk humor. Tapi banyak hal-hal tentang pekerjaan yang dirahasiakan darinya dan ini sulit aku terima.
Meski masih banyak dimanjakan oleh orang-orang sekitar, Shuurei mampu menunjukkan kemajuan dalam pekerjaannya. Memang selain faktor orang-orang sekitar, faktor keberuntungan juga banyak berperan. Tapi tidak ada yang salah dengan itu. Shuurei baru gagal jika dia tidak memanfaatkan keberuntungan itu dengan baik. Dan di volume ini Shuurei membuktikan bahwa dia gadis yang cukup cerdas untuk memanfaatkan keberuntungan.
Nah, sekarang Ryuuki! Tokoh satu ini semakin menunjukkan kehebatannnya sebagai raja melalui keputusan-keputusannya yang cerdik dan bebas dari kepentingan pribadi. Saking hebatnya kadang rasanya ngeri. Ngeri melihat “Raja” perlahan menggantikan “Ryuuki”.
Shuurei dan Ryuuki semakin hebat dan kisah cinta mereka pun semakin mengiris hati. Hati ini masih harus dikoyak lagi melihat pria-pria lain yang juga menaruh hati pada Shuurei. Proses menunjukkan perasaan mereka kepada Shuurei begitu menggugah emosi sehingga aku berharap mereka berhenti menyukai Shuurei demi menyelamatkan hatiku yang tidak tega. Malah ditambahi percintaan Eigetsu-Kourin yang juga tidak kalah menyedihkan. Kontras pasangan-pasangan yang miris ini dengan pasangan bahagia Tei Yushun – Sai Rin tambah membuatku pingin nangis.
Dengan begitu banyak cerita berjalan sekaligus, apa volume ini bisa merangkainya dengan baik? Jawabannya, ya. Inilah salah satu kekuatan Saiunkoku Monogatari. Tak hanya itu, serial ini juga ahli dalam menyebar bibit-bibit tentang cerita selanjutnya. Nah, bagaimana Saiunkoku Monogatari menuai bibit itu di volume kedelapan?