ST Sunardi hebat!, Dia tidak terperangkap dengan paradigma para filsuf Indonesia yang merasa takut dan rendah hati ketika membaca filsuf barat. Hal ini menjadikan karakteristik penulis itu agak emosional dalam membaca filsuf dari barat. Pemikiran Nietzche banyak berbeda dengan filsuf lainnya. Polanya sering tidak sistematis dan runtut. Sering kali identitasnya dianggap sebagai sastrawan daripada filsuf. Gaya ketidakteraturan dalam gaya penulisannya sering kali menuai komentar pedas dari kalangan filsuf lainnya. Pandangan St Sunardi dalam membandingkan dengan filsuf lainnya, tulisan Kant dan Hegel bisa diibaratkan musik klasik, sementara tulisan Nietzche bisa diumpamakan seperti musik jazz.
Oleh karena itu, mengulas pemikiran Nietzhe perlu hati-hati supaya tidak salah dalam mengartikannya. Tidak perlu tergesa-gesa untuk masuk ke perangkap teorinya. Menurut penulis yang menelaah pemikiran Nietzche secara mendalam, pendapatnya tidak sepenuhnya mengandung nilai-nilai atheisme, melainkan juga ada unsur teologis. Sekalipun Nietzche itu sendiri diklaim sebagai orang atheisme, tapi sebelum beranjak sejauh itu, amat penting untuk mengartikan secara bahasa agar tidak terjadi simpang siur penafsiran teori Nietzche. Maksud Tuhan telah mati (the god is dead), bukan kepada ”Tuhan” sebagai objeknya, melainkan kepada manusia itu sendiri yang menjadi subjek.
Menurutnya arti ”kematian” adalah bentuk ketidakmampuan manusia untuk menjalankan norma-norma agama. Dari sini, sedikit ditemukan benang merah dari pendapatnya yang sangat aneh, sebab Nietzche lahir dari keturunan agamawan, yakni kalangan Protestan Lutheran Jerman. Namun, dari fenomena inilah yang menjadi akal permasalahannya karena dia telah tahu kehidupan orang beragama. Literatur agama yang memberikan nilai-nilai kebenaran dan keyakinan hanya sebatas pemahaman belaka, tidak bisa dipraktikkan di dunia nyata. Ini menunjukkan, manusia masih tetap mengikuti hasrat nafsunya yang rakus, segalanya merasa kurang.