Jump to ratings and reviews
Rate this book

From Flores with Love

Rate this book
Clarissa kembali berlibur!

Bersama teman-teman kuliahnya, ia bertualang ke Pulau Flores. Perjalanan dimulai dari Desa Moni, Taman Nasional Kelimutu, Ende, Kampung Adat Bena, Labuan Bajo, sampai Taman Nasional Komodo.

Teman-teman dalam perjalanannya kali ini tak kalah unik ketimbang perjalanan sebelumnya. Clarissa selalu terpesona pada Arthur. Sementara Aster si penakut selalu sibuk mengabari keluarganya. Lalu, ada Genta si cewek blakblakan, dan Hendrik si pendiam yang ternyata menyimpan rahasia besar. Dan terakhir Yuyun, cowok yang jail dan jayus setengah mati, hobi nakut-nakutin Aster, dan selalu mengejek Arthur dan Clarissa yang saling lirik.

Bagaimana petualangan Clarissa bersama teman-teman kuliahnya kali ini? Apakah akan seseru liburannya waktu SMA? Akankah dia jatuh cinta kali ini?

264 pages, Paperback

First published July 25, 2016

2 people are currently reading
30 people want to read

About the author

Esi Lahur

13 books10 followers
Pendosa adalah novel perdana Esi Lahur yang memiliki nama asli Maria Theresia Lahur. Novel ini terinspirasi dari pengalaman hidup penulis yang pernah menempuh SMA di Blitar, tinggal di asrama yang dikelola suster Katolik, dan mengalami masa kuliah yang kebetulan bertepatan dengan penggulingan Orde Baru.

Lahir di Jakarta, 3 Oktober 1977, Esi adalah sarjana antropologi FISIP Universitas Indonesia (2001) yang kini bekerja sebagai wartawan di Tabloid Olahraga BOLA.

Ketertarikan Esi pada dunia tulis-menulis sudah muncul sejak kecil. Waktu SD, pernah menulis di majalah Paroki Kristus Salvator, Petamburan, Jakarta, yang bernama Tambur.

Saat kuliah, Esi mengikuti mata kuliah Penulisan Populer dengan dosen Ismail Marahimin yang membuatnya gemar menulis cerpen. Pengaruh mengikuti mata kuliah itu besar bagi Esi, karena cerpen pertama yang dikirimnya ke majalah Femina, Pengantinku menjadi juara pertama Sayembara Mengarang Cerpen Femina 2000. Sejak itu sejumlah cerpennya dimuat di majalah Femina dan Bobo.

Kegemaran melakukan perjalanan ke sejumlah daerah di Indonesia digabungkan dengan kesenangan menulis menghasilkan novel Pendosa.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (13%)
4 stars
10 (33%)
3 stars
13 (43%)
2 stars
2 (6%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for Annelice.
200 reviews8 followers
February 3, 2024
Actually ⭐️ 3,5! Yeyy!!

Beneran baru tau kalau cerita Clarissa di From Sumatra with Love ada kelanjutanya setelah 6 tahun terbit (3 tahun kemudian kalau di novelnya) huhuhu. Dan disini dia udah kuliah dong! Makasih Ipusnas, iseng-iseng berhadiah ini mah, karena asal baca aja awalnya.

Surprise juga karena di sekuel ini masih ada Krisna! Ish, padahal dulu saya ngarep banget mereka berdua bisa jadian. Sayang Krisna banyak-banyak karena udah 2 kali ditolak Clarissa wk.

From Flores with Love masih bercerita tentang Clarissa yang berlibur bersama teman-temannya. Jika dibuku sebelumnya ia berlibur ke Sumatra bersama 8 kawan SMAnya, maka dibuku ini ia pergi ke Flores bersama 5 teman kuliahnya.
Mereka adalah Arthur, Yuyun, Hendrik, Genta, Aster dan tentu saja Clarissa. Bersama teman-temanya mereka menjelajahi setiap sudut Flores. Sifat mereka yang saling bertabrakan membuat perjalanan mereka penuh warna.
Bukan hanya penuh warna tapi juga penuh perasaan karena ternyata Arthur menyukai Clarissa dan Hendrik menyukai Genta. Tapi Clarissa masih menunggu "dia-nya". Apakah perasaan mereka ber-4 akan saling berbalas?

Jujur, awalnya saya sempet keder karena Genta itu ternyata cewek dan Yuyun itu cowok! Ish kenapa namanya engga ditukar aja sihh? Bikin bingung.

Untung lama-lama mulai paham sama karakter tokoh-tokohnya. Oh iya, disini tokohnya lumayan banyak ya mirip kaya FSwL.

Arthur yang enakan dan suka memimpin. Hendrik yang nggak PDan dan pemalu. Yuyun yang heboh, asik dan kalau ngomong suka seenaknya. Genta yang judes dan nggak kalah sama Yuyun kalau ngomong. Aster si penakut dan anak mami serta Clarissa yang selalu jadi penengah.

Dari dulu watak Clarissa mah gitu-gitu ya. Sedikit banyak tokoh-tokoh dibuku ini mengingatkan saya pada teman-teman SMA Clarissa wkwk. Apa jadinya kalau Yuyun ketemu Sandro dan Anty? Mungkin bakalan rame banget kali ya wkwk.

Dan disini ada Krisna! Aduh kangennyaa. Masih nggak rela Clarissa nggak sama Krisna hiks. Padahal dulu berharap banget ada epilog mereka berduaan kek atau apa kek yang agak romantis dikit.

(Seneng banget ketika tebakan saya tentang "DIAnya" Clarissa yang "ditunggu-tunggu" beneran Krisna dong) \°,°/

Tapi sayang baik di buku ke-1 maupun ke-2 ini romacenya tipis banget. Bikin greget sendiri baca kisah Clarissa sama Arthur sumpeh deh! Isinya ngomong dalam hati mulu, nggak ada yang mau maju buat ngungkapin dan justru suka belaga sok cool gitu. Kan ngeselin ya wk.

Iya sih, mungkin sama kaya buku pendahulunya, cerita lebih menitiberatkan pada liburanya. Pada tempat-tempat wisatanya. Makanya romacenya nggak begitu dibahas.

Dan itu berhasil. Saya jadi cek-cek google setiap tempat yang didatangi mereka. Kayanya bagus-bangus banget ya ampun!

Overall saya suka sama ceritanya, sama setting tempatnya dan sama tokoh-tokohnya yang bisa dibilang lebih "dewasa" dibanding FSwL. Tau sendiri Sandro-Anty-Mahmud kalau bercanda kaya apa. Pokoknya beda banget sama Yuyun dan Genta deh! Jujur saya sih lebih suka buku ke-2 ini. Lebih "halus" dan lebih jelas juga romancenya.


NB : PENGIN BANGET KE LABUAN BAJO! Dan makan kompyang wkwk. Minta Yuyun dikasih engga ya?
Profile Image for Adek Fbree.
159 reviews
August 21, 2016
Jika di From Sumatra with Love (FSwL) posisi Clarissa sang tokoh utama jadi pemeran pembantu (pengamat?) buat drama cinta-cintaan yg mewarnai cerita jalan2xnya, maka di From Flores with Love (FFwL) Clarissa menjadi pusat drama-nya. Sama kaya FSwL, di buku ini pun slain kisah roman utamanya yg cinta segitiga, ada kisah cinta lainnya yg mulai bersemi kira2x di pertengahan cerita (klo di FSwL malah dah dari sblm cerita dimulai, tapi hampir ga pernah diekspos hingga beberapa halaman terakhir).

Pendek kata, garis besar cerita di FFwL kurang lebih sama dgn di FSwL. Yang beda cuma personil yg terlibat (kcuali sang heroine) dan lokasinya. Gaya penulis bercerita pun masih sama asiknya dgn FSwL. Informasi sputar traveling di Flores pun sama melimpahnya dgn di FSwL. Hanya saja, saya lebih menikmati kisah FSwL dibanding FFwL. Mungkin krn tokoh2x di FFwL sudah di bangku kuliah jadi leluconnya jadi sdikit "di-rem", berbeda dgn FSwL yg kocak banget. Sbg perbandingan, di FFwL hanya ada 1 kejadian yg berhasil membuat sy ktawa ngakak, sebaliknya di FSwL hampir di setiap scene ada aja kejadian ato percakapan yg ngga bisa bikin ngga ketawa.

Tapi untuk romannya memang lebih bagus di FFwL, setidaknya ga ada tokoh manja nan nyebelin (*colek Nidya*). Special applause for FFwL boys characters, terutama Yuyun yg super usil bin ajaib (ngga, ngga salah sebut, ini beneran nama cowo loh). Walau ngeselin tapi menghibur banget tingkah2xnya. (^ ^)

Special note : buat yg penasaran dgn lanjutan kisah kasihnya Krisna, kudu baca FFwL. Yup, Krisna is back to action.
Profile Image for Ila Rizky Nidiana.
65 reviews75 followers
December 28, 2016
4 bintang
Baca di Scoop Premium

Buat saya, novel Esi Lahur ini bercitarasa catatan perjalanan walau dengan bumbu fiksi. Hehe. Jadi bisa banget deh buat kamu yang penasaran Flores tuh kayak gimana sih? Kamu bisa contek itinerary wisata ke Flores di novel ini. Semuanya ada, mulai dari bayar kapalnya kisaran berapa, hotel yang bagus apa, tempat wisata sampai kuliner Flores yang khas.

Seru banget mengikuti jalan ceritanya, jauh lebih seru dari novel pertama. Mungkin karena tokohnya udah dewasa kali ya (diceritain Clarissa tingkat 3 di kuliahnya), jadi beda aja rasanya membaca novel yang murni teenlit dengan young adult. Harusnya sih novel ini dimasukkan ke genre young adult tapi mengingat ceritanya masih nyambung dengan novel teenlit sebelumnya jadi nggak papa juga sih masuk ke teenlit. Hehe. Dan endingnya antiklimaks. Wkwk.

Review selengkapnya di http://resensi.ilarizky.com/2016/12/r...
Profile Image for Bookish Dungeon.
105 reviews
November 26, 2021
Sebenarnya nggak jauh beda kedua novel ini. Hanya beda tokoh dan karakter tokoh tersebut, dan alur ceritanya ada sedikit penambahan. Pensaran, aku akan ulas singkat serta tambahannya seperti apa pada novel ini.

Flores ini mengambil liburan semsteran dan yang terlebih dahulu mencetuskan untuk berlibur adalah Arthur—cowok beken si fakultasnya. Tercetuslah Flores adalah tempat tujuan berlibur dengan beberapa destinasi unggulan di Flores.

Nah yang membedakan jumlah teman Clarissa ketika ke Sumatera lebih banyak (9) daripada ke Flores (6). Ditambah perbedaannya terletak pada waktu liburan ke Flores super padat, tidak ada waktu untuk berkumpul dan ngobrol selain ketika waktu makan. Berbeda ke Sumatera, mereka masih menyempatkan berkumpul dan bermain Truth or Dare (mungkin aku bahas From Sumatera with Love)

Ditambah kehadiran Krisna, teman SMA Clarissa bertemu di Labuan Bajo. Pertemuan Krisna bukan tanpa maksud, cowok itu ingin menuntaskan hal yang belum beres di masa SMAnya bersama Clarissa. Tapi pemberesannya tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Alurnya begitu ringan banget, khas Teenlit banget meskipun mengambil range waktu Universitas masih tetap dinikmati oleh pembaca SMP atau SMA tidak berat. Sangan rekomendasi banget bagi pecinta romance.
Profile Image for Elisa.
328 reviews10 followers
February 10, 2017
Judul : From Flores With Love
Penulis : Esi Lahur
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2016

Novel ini bercerita tentang seorang tokoh utama bernama Clarissa dan teman-teman kuliahnya yang berlibur ke Flores. Sebelumnya, tokoh Clarissa ini pertama kali dihadirkan oleh penulis di novelnya yang berjudul “From Sumatra With Love”. Yang membedakan adalah di novel itu Clarissa yang masih duduk di bangku SMA berpetualang ke Sumatra bersama teman-teman sekolahnya, sedangkan di novel ini Clarissa sudah kuliah dan bersama teman-teman barunya, ia menjelajah Flores.


Diceritakan, Clarissa yang sudah dua tahun kuliah di jurusan antropologi ini bersama teman-teman kuliahnya pergi berpetualang ke Flores. Teman-temannya itu terdiri dari teman cewek yaitu Aster dan Genta, dan teman cowok yaitu Yuyun, Hendrik, dan Arthur. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata di Flores, yaitu Desa Moni, Taman Nasional Kelimutu, Ende, Tempat Pemandian Air Panas Mengeruda, Kampung Adat Bena, Situs Liang Bua, Kampung Adat Todo, Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Gua Batu Cermin.


Novel ini bertemakan perjalanan wisata atau travelling yang dilakukan oleh anak muda. Saat ini travelling memang menjadi hobi yang banyak digemari anak muda, bahkan tidak hanya anak muda, travelling menjadi kebutuhan oleh semua kalangan. Penulis terinspirasi menulis cerita lanjutan Clarissa berdasarkan oleh kegiatan travelling yang ia lakukan ke Flores pada tahun 2015. Penulis memilih tujuan destinasi yang sangat berbeda dari kebanyakan anak muda yang mungkin lebih tertarik wisata ke luar negeri daripada dalam negeri. Selain itu, di awal novel disampaikan bahwa Flores adalah daerah asal penulis sehingga penulis merasa sangat tertarik mengunjungi Flores sebagai tanah leluhurnya.


Penulis menceritakan bagaimana Clarissa dan kelima temannya memulai perjalanan menuju Flores dengan menggunakan pesawat terbang dan akhirnya tiba di Flores untuk memulai perjalanan darat dengan mobil. Karena berdasarkan pengalaman, penulis berhasil menyajikan suasana perjalanan yang membuat seakan pembaca ikut dalam perjalanan Clarissa dan teman-temannya.


Salah satu yang saya suka dari novel ini adalah penulis membubuhkan informasi yang mungkin tidak semua orang awam tahu. Misalnya mengenai penerbangan ke Flores yang harus transit, karena tidak ada pesawat yang langsung menuju ke Flores (hal 17), poin-poin peraturan tentang keselamatan sebelum memasuki Taman Nasional Kelimutu (hal 43), mengapa tidak boleh berada di sekitar Danau Kelimutu sampai siang (hal 55), dan serba-serbi tentang komodo (hal 188). Hal-hal tersebut tentunya menambah pengetahuan pembaca.


Konflik yang dialami Clarissa adalah mengenai percintaan. Arthur menyukai Clarissa, dan dari awal penulis menceritakan pula bahwa Clarissa juga sepertinya memendam rasa kepada Arthur. Menurut saya kisah cinta yang mereka alami biasa saja, seperti kisah PDKT anak muda pada umumnya, sehingga jujur saja, saya kurang tertarik. Tetapi ada hal lain yang menonjol di novel ini, dan yang menyedot perhatian saya adalah konflik batin yang dialami Aster. Aster adalah tipikal cewek yang selalu was-was, sehingga perjalanan wisata di Flores ini ia selalu gelisah dan sibuk mengabarkan kabarnya kepada sang mama, karena sepertinya mamanya Aster ini juga tipikal orang tua yang paranoid. Di sini saya melihat bagaimana Aster berjuang melewati batas amannya. Bisa dibilang saat ketika Aster melewati batas amannya adalah ketika ia mememutuskan untuk ikut Clarissa dan teman-temannya, meski ia banyak diceramahi mamanya tentang hal-hal yang menakutkan dan berbahaya yang bisa terjadi selama mengunjungi tempat-tempat wisata di Flores. Sebagai seorang anak muda yang sudah kuliah, Aster tidak mau terkungkung dalam dunianya yang sempit dan biasa-biasa saja. Ia tidak mau tertinggal dari teman-temannya yang bisa mandiri dan bisa kemana-mana tanpa perasaan was-was. Dari konflik yang dialami Aster ini, saya sebagai anak muda mengambil sebuah pesan penting yaitu agar saya bisa melampaui batas aman hidup saya, tidak takut mengambil resiko, sehingga nantinya saya bisa berkembang dalam proses menuju pendewasaan diri.


Beberapa kali penulis juga menyelipkan sindiran-sindiran kecil, misalnya mengenai fasilitas umum yang kurang memadai di tempat-tempat wisata, padahal para pengunjung tempat wisata tersebut tidak hanya wisatawan domestik tetapi juga wisatawan dari manca negara.


Novel ini secara tak langsung berpotensi untuk meningkatkan daya tarik wisata domestik. Saya yakin, para pembaca seperti saya yang belum pernah ke Flores, langsung ingin pergi berwisata ke Flores karena penasaran. Bagaimanapun juga banyak tempat wisata dalam negeri yang tak kalah indahnya dengan di luar negeri.


Terakhir, saya rasa penulis sudah menunjukkan rasa cintanya kepada Indonesia dengan mengunjungi tempat wisata di dalam negeri bahkan kemudian menorehkannya dalam bentuk tulisan fiksi. Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi karya penulis ini. Semoga banyak yang menjadi terinspirasi, menjadi petualang di negeri sendiri dan menorehkannya dalam bentuk tulisan, menunjukkan bahwa kita bangga hidup di Indonesia.



oleh : Elisa Wibi Amarta
twitter : @nansbear
4 reviews1 follower
July 8, 2023
4.2/5
Ceritanya sangat ringann, selama baca ini hatiku selalu positif vibess😍, sampai pertengahan buku masih belum tau konflik mereka itu apa, tapi aku sungguh menikmati perjalanan mereka, seperti melihat orang treveling, suka banget
Profile Image for Ekha Nuh.
2 reviews12 followers
September 26, 2016
Sebelumnya, kesan From Sumatra With Love begitu melekat di kepalaku. Kala itu aku masih "sama-sama SMA" dengan Clarissa dan teman-temannya yang berpetualang ke sebagian pulau Sumatra. Novel tersebut benar-benar mengajakku untuk mengenal siapa Clarissa, menertawakan kelucuan Anty, kegarangan Kelly, kekaleman Lia, kesialan-kesialan Krisna, bahkan sempat diam-diam suka dengan sadisnya Sandro (ini serius haha kok suka sama karakter galaknya sih? tau ah), dan gemas juga dengan kisah cinta segitiganya Nadya, Adi, dan Mahmud.
Membuatku ingin segera berpetualang dengan teman-temanku!

Bertahun-tahun kemudian, setelah lulus SMA dan sekarang sedang melanjutkan kuliah, muncul kelanjutan kisah Clarissa. Tapi kali ini ia bersama teman-teman kuliahnya. Cuma berenam. Dan menariknya, mereka berpetualang ke Flores, daerah yang dari dua tahun lalu ingin sekali kukunjungi! Sampai rela-relain melobi teman kampus yang asal Flores buat ikut pulang kampung, tapi masih belum tercapai karena belum punya waktu "kosong" minimal seminggu.

Sayangnya, kegilaan Yuyun, pesona Arthur, Aster yang parnonya gak ketulungan, serta si cuek Genta dan si Misterius Hendrik yang menemani Clarissa entah mengapa tidak membuatku seterkesan sebelumnya. Kesan yang membekas setelah menyelesaikan novel ini pukul 1 dini hari (3 jam setelah diberikan Budi sebagai hadiah ulangtahunku yang ke-20), adalah sekumpulan anak kota yang jalan-jalan jauh dari Ibukota. Udah. Tanpa menorehkan setitik rasa untuk segera menyusul mereka ke pulau yang mereka kunjungi seperti di novel From Sumatra With Love. Seperti membaca komentar basa basi "Wah, Flores keren sekali" "Pemandangannya indah, etapi wajar sih, ini kan bukan iklan visit Flores atau semacamnya, haha. Setelah itu kita kembali pada konflik tokohnya yang kebanyakan baper-baperan sendiri. Iyalah, jelas-jelas judulnya From Flores With Love. Namun ada beberapa bagian kecemasan para tokoh yang kurasa tidak perlu terjadi, mengingat mereka adalah remaja kekinian. Seperti bayangan bahwa pulau Flores yang masih "primitif". Oh ayolah.

Atau mungkin akunya aja ya yang terlalu peka? Ah entah.
Tapi ada satu yang kehadirannya bikin aku gemas betulan.
Krisna! Uh.
Profile Image for najwass.
21 reviews
April 26, 2023
Aku baru sadar kalau ini bisa dibilang series kedua. Ternyata sebelum liburan bareng Arthur, Carissa pernah liburan SMA dulu dengan Krisna. Tapi, bagiku untuk nggak tahu liburannya dengan Krisna itu juga nggak masalah. Konfliknya yang bikin ada love triangle justru menarik.

Untuk alurnya di Pulau Flores, aku suka bagaimana penulis mendeskripsikan secara lengkap. Dari penduduknya, makanan, bagaimana mereka datang ke tempat-tempat wisata, juga penegasan keadaannya. Yang paling menonjol, ya, udara di sana yang sangat dingin. Sampai aku ngomong sendiri sama Yuyun, "iya, iya, percaya. dingin." Gitu, HAHAHA.

Buku yang cukup menghibur dari sisi persahabatan mereka. Karakter juga dijelaskan secara lengkap kok. Ada orang macam Aster yang ketakutan buat Travelling jauh, Yuyun yang humoris, Carissa yang pemberani, semua karakter membentuk sekumpulan traveller menarik yang memperkuat plot sampai akhir buku. Buku ini juga membawa banyak cerita unik yang dijelaskan detail dari segi isu yang ingin diangkat, narasi lengkap mengenai latar-latarnya juga dialog-dialog interaktif yang dibuat senyaman mungkin untuk disampaikan kepada pembaca dengan mudah. Paling suka pas di adegan di kapal dan pantai huhuhu jadi mau liburan jugaak!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.