What do you think?
Rate this book


264 pages, Paperback
First published July 25, 2016
Novel ini bercerita tentang seorang tokoh utama bernama Clarissa dan teman-teman kuliahnya yang berlibur ke Flores. Sebelumnya, tokoh Clarissa ini pertama kali dihadirkan oleh penulis di novelnya yang berjudul “From Sumatra With Love”. Yang membedakan adalah di novel itu Clarissa yang masih duduk di bangku SMA berpetualang ke Sumatra bersama teman-teman sekolahnya, sedangkan di novel ini Clarissa sudah kuliah dan bersama teman-teman barunya, ia menjelajah Flores.
Diceritakan, Clarissa yang sudah dua tahun kuliah di jurusan antropologi ini bersama teman-teman kuliahnya pergi berpetualang ke Flores. Teman-temannya itu terdiri dari teman cewek yaitu Aster dan Genta, dan teman cowok yaitu Yuyun, Hendrik, dan Arthur. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata di Flores, yaitu Desa Moni, Taman Nasional Kelimutu, Ende, Tempat Pemandian Air Panas Mengeruda, Kampung Adat Bena, Situs Liang Bua, Kampung Adat Todo, Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Gua Batu Cermin.
Novel ini bertemakan perjalanan wisata atau travelling yang dilakukan oleh anak muda. Saat ini travelling memang menjadi hobi yang banyak digemari anak muda, bahkan tidak hanya anak muda, travelling menjadi kebutuhan oleh semua kalangan. Penulis terinspirasi menulis cerita lanjutan Clarissa berdasarkan oleh kegiatan travelling yang ia lakukan ke Flores pada tahun 2015. Penulis memilih tujuan destinasi yang sangat berbeda dari kebanyakan anak muda yang mungkin lebih tertarik wisata ke luar negeri daripada dalam negeri. Selain itu, di awal novel disampaikan bahwa Flores adalah daerah asal penulis sehingga penulis merasa sangat tertarik mengunjungi Flores sebagai tanah leluhurnya.
Penulis menceritakan bagaimana Clarissa dan kelima temannya memulai perjalanan menuju Flores dengan menggunakan pesawat terbang dan akhirnya tiba di Flores untuk memulai perjalanan darat dengan mobil. Karena berdasarkan pengalaman, penulis berhasil menyajikan suasana perjalanan yang membuat seakan pembaca ikut dalam perjalanan Clarissa dan teman-temannya.
Salah satu yang saya suka dari novel ini adalah penulis membubuhkan informasi yang mungkin tidak semua orang awam tahu. Misalnya mengenai penerbangan ke Flores yang harus transit, karena tidak ada pesawat yang langsung menuju ke Flores (hal 17), poin-poin peraturan tentang keselamatan sebelum memasuki Taman Nasional Kelimutu (hal 43), mengapa tidak boleh berada di sekitar Danau Kelimutu sampai siang (hal 55), dan serba-serbi tentang komodo (hal 188). Hal-hal tersebut tentunya menambah pengetahuan pembaca.
Konflik yang dialami Clarissa adalah mengenai percintaan. Arthur menyukai Clarissa, dan dari awal penulis menceritakan pula bahwa Clarissa juga sepertinya memendam rasa kepada Arthur. Menurut saya kisah cinta yang mereka alami biasa saja, seperti kisah PDKT anak muda pada umumnya, sehingga jujur saja, saya kurang tertarik. Tetapi ada hal lain yang menonjol di novel ini, dan yang menyedot perhatian saya adalah konflik batin yang dialami Aster. Aster adalah tipikal cewek yang selalu was-was, sehingga perjalanan wisata di Flores ini ia selalu gelisah dan sibuk mengabarkan kabarnya kepada sang mama, karena sepertinya mamanya Aster ini juga tipikal orang tua yang paranoid. Di sini saya melihat bagaimana Aster berjuang melewati batas amannya. Bisa dibilang saat ketika Aster melewati batas amannya adalah ketika ia mememutuskan untuk ikut Clarissa dan teman-temannya, meski ia banyak diceramahi mamanya tentang hal-hal yang menakutkan dan berbahaya yang bisa terjadi selama mengunjungi tempat-tempat wisata di Flores. Sebagai seorang anak muda yang sudah kuliah, Aster tidak mau terkungkung dalam dunianya yang sempit dan biasa-biasa saja. Ia tidak mau tertinggal dari teman-temannya yang bisa mandiri dan bisa kemana-mana tanpa perasaan was-was. Dari konflik yang dialami Aster ini, saya sebagai anak muda mengambil sebuah pesan penting yaitu agar saya bisa melampaui batas aman hidup saya, tidak takut mengambil resiko, sehingga nantinya saya bisa berkembang dalam proses menuju pendewasaan diri.
Beberapa kali penulis juga menyelipkan sindiran-sindiran kecil, misalnya mengenai fasilitas umum yang kurang memadai di tempat-tempat wisata, padahal para pengunjung tempat wisata tersebut tidak hanya wisatawan domestik tetapi juga wisatawan dari manca negara.
Novel ini secara tak langsung berpotensi untuk meningkatkan daya tarik wisata domestik. Saya yakin, para pembaca seperti saya yang belum pernah ke Flores, langsung ingin pergi berwisata ke Flores karena penasaran. Bagaimanapun juga banyak tempat wisata dalam negeri yang tak kalah indahnya dengan di luar negeri.
Terakhir, saya rasa penulis sudah menunjukkan rasa cintanya kepada Indonesia dengan mengunjungi tempat wisata di dalam negeri bahkan kemudian menorehkannya dalam bentuk tulisan fiksi. Saya sangat berterima kasih dan mengapresiasi karya penulis ini. Semoga banyak yang menjadi terinspirasi, menjadi petualang di negeri sendiri dan menorehkannya dalam bentuk tulisan, menunjukkan bahwa kita bangga hidup di Indonesia.