Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Lady in Red

Rate this book
Betty ...
sebenarnya tidak ingin bersekolah di private school yang mahal itu
bersekolah di sana hanya karena mendapatkan beasiswa
tidak tahu bahwa itu akan mengubah hidupnya
Robert ...
sebenarnya tidak suka bersekolah di private school yang mahal itu
bersekolah di sana hanya karena disuruh orang tuanya
tahu bahwa itu memang jalannya ketika ia melihat Betty

Rhonda ...
tahu ia gemuk
tidak tahu bahwa ia menyukai Greg
tidak tahu bahwa Greg menyukainya juga
Greg ...
tahu ia hanya seorang pekerja di peternakan milik keluarga Rhonda
tidak tahu apakah ia berhak menganggap tempat itu rumah
tidak tahu apakah ia berhak menyukai Rhonda

Tapi sejauh apa pun dirimu pergi,
Sejauh apa pun perasaanmu menjauh,
Selalu akan ada tempat yang menarikmu pulang,
Selalu akan ada hati yang menarikmu kembali.

357 pages, Paperback

First published April 11, 2016

2 people are currently reading
49 people want to read

About the author

Arleen A.

221 books55 followers
Born in Indonesia, Arleen is a working mother of two. She has a teenage daughter and a younger son. Arleen started writing children books in 2004. At that time, she found it quite challenging to find good children books at affordable prices in Jakarta.

Arleen holds a BSc in Commerce and an MBA in Finance and is currently working full time in a distribution company in Jakarta. Even though her education background and work had given her more chances to deal with numbers rather than words, Arleen was raised as a book loving individual. In the past 14 years, she had written more than 250 children books and 10 adult novels.

Some of her books that became bestsellers : I Love you Mom, Kingdom Tales Collection, Motivate Your Kids the Right Way and Animal Tales Collection.

"To me, writing is not just an infatuation or simply a summer fling that lasts a fortnight, it's clearly an everlasting love that lasts forever. For as long as I live, you will definitely see me writing."

Arleen can be contacted at her email : arleen315@yahoo.com

Covers and sample pages of her books can be viewed at her site: https://arleen315.webs.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (19%)
4 stars
22 (34%)
3 stars
22 (34%)
2 stars
6 (9%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews301 followers
June 20, 2016
Bisa dibaca juga di http://www.kubikelromance.com/2016/06...

1920-1955

Betty Liu merasa berbeda dari anak keturunan Tionghoa lainnya, selain cantik dan memiliki rambut panjang yang indah, Betty sangat cerdas. Kepandaian Betty yang di atas rata-rata ini dimanfaatkan gurunya ketika lulus kelas 9 di Ford Bragg Public School, gurunya memasukkan lamaran beasiswa ke sebuah sekolah swasta terbaik di Ford Bragg, sehingga Betty bisa sekolah gratis di Redwood High School. Betty bukan berasal dari keluarga kaya, dia tidak memiliki keinginan bersekolah swasta karena tidak yakin bisa membaur dengan anak orang kaya yang biasanya sombong sehingga tidak antusias akan kepindahannya, tapi orangtua Betty menganggap beasiswa penuh di sekolah bergengsi sayang untuk dilewatkan. Di sekolah tersebut bisa dibilang Betty dipandang sebelah mata, dia terkenal dengan sebutan si anak beasiswa, rata-rata temannya sangat congkak, tidak ada yang mau dekat dengannya, kecuali seorang pemuda kurus berambut merah yang sangat terpesona akan kecantikan Betty dan rambut panjang hitamnya, yang hanya mampu memandang diam-diam dan memilih duduk di belakangnya.

Dia adalah Robert Wotton, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm -peternakan sapi yang memproduksi dan menjual susu kedua terbesar di Fort Bragg. Robert sebenarnya lebih memilih belajar di sekolah negeri, tapi karena orangtuanya sejak SD sampai SMA bersekolah di Redwood Private School, dia pun harus mengikuti jejak kedua orangtuanya. Robert tidak merasa bangga bersekolah di sekolah yang menggembar-gemborkan mutu pelajaran dan fasilitas tersebut, selain itu sebagian besar temannya adalah anak orang kaya dan suka menyombongkan diri, toh sekolah negeri juga memiliki mutu yang sama bagus. Robert mengira dia akan bosan di sekolah, tapi semenjak melihat Betty, dia menjadi bersemangat. Membutuhkan waktu tiga bulan bagi Robert untuk meyakinkan diri berkenalan secara langsung. Robert langsung menawarkan Betty untuk mengunjungi peternakannya dan melihat anak sapi karena Robert tahu Betty menyukai hal tersebut, sejak itu mereka tak terpisahkan.

2003-2012 dan 2019-2020

Rhonda Roth sangat mencintai Wotton Farm, rumahnya dan tidak bisa pergi dari sana karena banyak objek indah untuk dijadikan lukisan. Wotton Farm sekarang sangat luas, Stephens Farm yang dulu menjadi peternakan terbesar di Fort Bragg kini sudah menyatu dengan Wotton Farm. Rhonda kecil terkenal gemuk, hanya beberapa orang saja yang bilang sebaliknya, salah satunya adalah Gregory Drew. Orangtua Greg bekerja di Wotton Farm, dia juga satu-satunya teman Rhonda, walau kadang kakak Rhonda, Henry juga sering bermain dengan mereka. Rhonda menganggap Greg adalah temannya, walau Greg selalu merasa bahwa dirinya adalah pelayan Rhonda, melihat status yang mereka miliki. Hubungan mereka mulai berubah ketika Rhonda bersekolah, dia tidak membutuhkan Greg lagi, Rhonda menemukan teman-teman baru. Hal tersebut membuat Greg sedih dan kesepian, ditambah ketika Rhonda akan meninggalkan Wotton Farm, bersekolah dan kuliah di Boston, membuat Greg tidak bisa lagi bertemu dengan Rhonda.

Beberapa tahun kemudian, Rhonda berhasil masuk kuliah di School of Museum of Fine Arts bahkan sukses mengadakan pameran lukisan. Rhonda merindukan Wotton Farm, dan tanpa ingin diakuinya, juga merindukan Greg. Greg melewatkan masa-masa berharga bagi Rhonda, salah satunya pameran pertamanya, dia berharap kembalinya ke Wotton Farm akan disambut hangat, sama seperti dulu. Perpisahannya dengan Greg bisa dibilang tidaklah baik, terasa dingin dan meninggalkan tanya. Greg pun pada mulanya cukup antusias karena dia akan bertemu kembali dengan Rhonda, tapi begitu tahu Rhonda datang tidak sendirian, dia menarik diri, dia menyadari lagi akan posisinya, bahwa dia adalah pelayan dan tidak pantas untuk Rhonda, dia adalah majikannya. Mereka tidak pernah saling mengungkapkan perasaan, hanya merasa tidak pantas untuk satu sama lain. Berita Rhonda bertunangan dan akan segera menikah dengan pengusaha sukses, Brandon Rasensky membuat Greg patah hati, dia pun memutuskan untuk pergi dari Wotton Farm dan memulai kehidupan dari awal.

Namun, apakah Greg akan berdiam diri ketika hal buruk menimpa sahabatnya dan mengancam keselamatan Rhonda serta nasib Wotton Farm kelak?

"Terkadang risiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan."

"Nana, rasanya... rasanya aku jatuh cinta pada Rhonda," kata Greg.
"Baru jatuh cinta? Karena kupikir kau sudah jatuh cinta padanya sejak dulu."

Jujur saja, cukup sulit membuat resensi The Lady in Red tanpa harus membeberkan twist yang ada tapi sekaligus bisa mencakup semua cerita intinya, selain itu cerita di buku ini memiliki timeline yang sangat panjang, bercerita tentang beberapa generasi sehingga salah satu tantangan adalah membuat resensinya tidak terlalu panjang, walau tetap saja saya merasa jatuhnya bakalan panjang juga, hehehe. Ini adalah kali pertama saya membaca tulisan Arleen A. -padahal penulis sudah menelurkan ratusan buku anak dan beberapa buku dewasa, bisa dibilang sangat mengesankan. Ketika membaca saya merasakan gaya tulisan Arleen A layaknya perpaduan antara tulisan Nicholas Spark dan Sandra Brown, minus adegan dewasa yang vulgar. Kisah cinta yang menghangatkan hati dan terasa klasik, tokoh yang mudah disukai serta memiliki chemistry yang kuat, setting tempat indah yang digambarkan secara detail, dan konflik yang menggigit. Membacanya sangat mengalir sekali, menggunakan alur maju walau ada beberapa flashback. Peternakan sapi, ladang gandum, hutan Redwood, setting Amerika yang kental membuat The Lady in Red layaknya buku terjemahan.

Kalau kalian pernah membaca karya Jojo Moyes - The Girl You Left Behind, maka akan menemukan plot yang hampir mirip dengan buku ini. Ada dua setting waktu yang sangat berbeda dan terpaut jauh, tapi keduanya memiliki benang merah yang membuat cerita merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian, seperti tahun yang saya tuliskan di atas, 16 bab pertama bercerita tentang kisah cinta Betty Liu dan Robert Wotton, sisanya, total ada 59 bab dan epilog, bercerita tentang masa kecil Rhonda dan Greg, kemudian kisah di masa kini. Di sela-sela bab akan ada interlude yang diceritakan seperti dongeng, yang sebenarnya memiliki makna sama dengan cerita tokoh utamanya, saya rasa di bagian ini penulis menunjukkan kehebatannya mendongeng, melihat sudah ratusan buku anak yang ditulisnya. Untuk memahami peran para tokohnya, pembaca dibantu dengan adanya pohon keluarga, sehingga tidak perlu merasa terintimidasi akan setting waktu yang panjang dan banyaknya tokoh yang ada. Semakin ke belakang pembaca akan bisa menyusun sendiri puzzle yang disebar oleh penulis.

Sebenarnya penulis bisa saja melewatkan bagian tentang Betty Liu, tapi Wotton Farm tanpa Betty Liu maka tidak ada artinya. Bisa dibilang dia adalah nyawa dari Wotton Farm, perannya sangat terasa, pun tokoh lain yang tidak memiliki porsi banyak, kehadiran mereka melengkapi jalinan cerita, membuat cerita utuh dan tersusun dengan runtut, sehingga tidak akan ada tanya ketika kita menutup buku ini, tidak ada plot hole. Kalau disuruh memilih cerita bagian mana yang paling saya suka, maka saya memilih cerita tentang Rhonda dan Greg. Kisah cinta mereka tidak jauh berbeda dengan yang dialami Betty Liu dan Robert, kisah cinta si kaya dan si miskin, sangat cheesy memang, tapi Arleen A membuat kisah mereka jauh dari kata membosankan. Emosi para tokoh dari lintas generasi tersebut mudah sekali kita rasakan. Rhonda tidak yakin akan perasaanya kepada Greg, dia takut cintanya akan ditolak, sedangkan Greg merasa rendah diri, statusnya yang hanya sebagai pekerja dirasa tidak pantas bersanding dengan Rhonda. Sedangkan kisah cinta bagian Betty dan Robert tidak banyak mendapatkan gangguan, mereka hanya dua muda mudi yang malu berkenalan, tapi sangat yakin akan perasaan masing-masing.

Tokoh favorit saya di buku ini adalah Greg, karena perasaanya sangat tulus bagi Rhonda, sangat terasa sekali ketika Rhonda mulai mendapatkan teman selain dirinya, kemudian meninggalkan Wotton Farm, Greg sangat kehilangan. Sedangkan bagian favorit saya adalah ketika Greg mengajak Rhonda berdansa di pinggir hutan dan menciumnya, romantis sekali :p serta ketika keduanya mengungkapkan perasaan kepada Nana, terasa lucu, sama-sama memiliki perasaan cinta tapi tidak menyadarinya. Tidak banyak kekurangan, hanya saja saya berharap selain pohon keluarga ada denah Fort Bragg, khususnya wilayah Wotton Dairy Farm dan Stephens Farm sehingga membuat buku ini tambah lengkap. Saya juga kurang menyukai kavernya, tapi kalau ingin menunjukkan kesan misteri, hal tersebut tersampaikan dengan baik, karena buku ini memang mengandung misteri juga.

Buku ini memang bercerita tentang kisah cinta, tapi ada dendam masa lalu yang membalut kisah tersebut, ada kisah misteri bahkan sedikit thriller di dalamnya, menjadi konflik utama di mana melibatkan Wotton Dairy Farm dan Stephens Farm. Walau ada beberapa adegan dewasa, tidak ditunjukkan secara eksplisit, masih aman untuk dibaca. Kalau kalian bosan dari gempuran cerita Metropop dan Amore, Arleen A. menyuguhkan kisah cinta yang lain daripada yang lain, memberikan angin segar walau tema cerita cinta tersebut sangat mainstream, kisah cinta yang terasa klasik tapi tidak usang. Kisah cinta asli penulis dalam negeri yang terasa terjemahan. Saya berharap penulis banyak menghadirkan kisah cinta yang bernuansa seperti ini lagi, tentu dengan formula yang berbeda.
Profile Image for Tifany.
678 reviews15 followers
July 8, 2020
1,5

please be aware that :
• this review was written on jun 18th, 2016 by my 17-year-old self



// I got a copy from the author herself in exchange for an honest review //

My first impression pada cover buku ini adalah misterius, tapi justru hal itulah yang menarik dari covernya. Maka dari itu, saat aku mendapat kabar bahwa aku adalah salah satu pemenang first reader yang digelar oleh sang penulis, jujur aku senang banget! Dan, ketika aku membacanya, buku ini tidak seperti yang aku kira.

"Tapi terkadang di dalam diam, ada lebih banyak yang kau dengarkan dan kau mengerti, terutama bila kedua orang yang sedang diam itu mengetahui bahwa dengan dirinya berada di sana saja, itu sudah cukup bagi yang satunya."


Buku ini dibagi menjadi tiga cerita. Cerita pertama mengisahkan tentang bagaimana Betty menjalani kehidupannya di sekolah swasta barunya dan tentang pertemuannya dengan Robert yang merupakan anak pemilik peternakan Wotton. Cerita kedua mengisahkan tentang Jerry (anak dari pemilik peternakan Stephens yang merupakan saingan Wotton) yang berlibur ke luar kota untuk menjauhi peternakan sapinya tapi malah bertemu dengan pasangan hidupnya, Wanda di sebuah restauran. Dan cerita ketiga mengisahkan tentang bagaimana Rhonda (cicit dari Betty) dan Greg yang tumbuh bersama, akhirnya menyadari perasaan mereka dan bagaimana mereka mengungkapkan perasaan tersebut kepada satu sama lain.

Untuk buku ini, aku tidak bisa bilang bahwa aku menyukainya karena aku sendiri sebenarnya bukan fan berat buku-buku bertema "romance". Kenapa? Karena kebanyakan buku romance pasti memuat entah (1) insta-love, (2) cheesy romance scenes, ataupun (3) tokoh utama perempuan yang lemah lembut / terlalu baik. Dan semua hal itu terjadi di buku ini yang otomatis membuatku kurang suka.

Kemudian, aku juga tidak terlalu suka dengan gaya penulisan buku ini yang agak bertele-tele karena sekali lagi aku bukan fan berat buku-buku slow-paced, aku lebih menyukai buku-buku fast-paced. Karena penulisannya itu, deskripsi yang ada pada buku ini menjadi sangat panjang dan hampir tidak ada komunikasi antar karakter sama sekali. Kalaupun ada, beberapa dari mereka terasa aneh padaku. Karakter-karakternya pun aku kurang suka karena seperti yang aku bilang, aku tidak suka karakter yang lemah lembut / terlalu baik.

Aku juga merasa bahwa buku ini predictable karena, funny story, beberapa bab sebelum aku menyelesaikan buku ini, aku membuat suatu skenario di otakku dimana aku membuat plot twist ku sendiri untuk buku ini dan setelah aku membaca bab-bab selanjutnya, plot twist yang aku buat ternyata benar-benar terjadi, like what?

Tapi, selain itu semua, aku juga menyukai beberapa aspek dari dalam buku ini. Aku menyukai setting tempat yang berada di daerah peternakan daripada di kota-kota besar. Aku juga suka bagaimana tiga cerita yang ada dalam buku ini menyambung dengan satu sama lain. Tak lupa juga, aku mau menyebutkan bahwa aku sangat menyukai pemilihan warna untuk cover buku ini karena jujur, personally aku fanatik dengan warna merah dan hitam jadi tentu saja aku menyukainya.

Kemudian, aku juga menyukai makna yang terdapat pada setiap cerita dalam buku ini. Kemanapun kau pergi, kau akan selalu kembali pulang ke tempatmu berasal. Ketika aku mendengarnya, terasa seperti ada sedikit efek mellow dari pesan tersebut.

Sebelum aku mengakhiri review ini, ada satu hal terakhir yang belum aku sebut. Hal tersebut adalah sebuah chapter sisipan yang sangat aku suka! Setiap kali aku membaca cerita utamanya, aku selalu mencari chapter sisipan tersebut untuk melihat seberapa jauh lagi aku harus membaca sebelum akhirnya aku bisa membaca chapter tersebut. Walaupun pendek, tapi chapter-chapter tersebut benar-benar membuatku jatuh cinta.

"Seorang teman tidak membawakan barang temannya seperti ini. Hanya pelayan yang melakukan hal ini. Seorang teman berjalan di sisi temannya. Hanya pelayan yang berjalan di belakang seperti ini."


Overall, menurutku buku ini lebih cocok untuk kalian yang menyukai cerita romance dan juga klasik mungkin? Karena aku tahu cerita klasik kebanyakan memuat aspek-aspek diatas yang jujur aku kurang suka.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book274 followers
September 28, 2016
Betty Liu dan keluarganya merupakan imigran dari Tiongkok. Kedua orang tuanya datang ke Amerika jauh sebelum Betty lahir. Betty sendiri adalah anak yang cerdas, dan berkat kemampuan otaknya itu dia bisa masuk ke Redwood High School, sekolah bergengsi yang diperuntukkan untuk keluarga berada. Di sanalah dia bertemu dengan Robert Wotton, anak dari pemilik Wotton Farm yang terkenal.

Robert jatuh cinta pada Betty saat pandangan pertama. Tapi Robert hanya mampu menatap rambut indah Betty. Hingga suatu hari Robert memberanikan diri menawarkan kepada Betty untuk mengunjungi peternakannya. Betty tertarik, dan sejak saat itu keduanya menjadi akrab. Betty menyayangi Robert sebagaimana Robert menyayanginya. Keduanya memutuskan untuk menikah dan tinggal di Wotton Farm.

Tiga generasi setelahnya, dari pernikahan Robert dan Betty terlahirlah Henry dan Rhonda Roth. Wotton Farm semakin berkembang, dan kini Henry mengambil alih pengelolaan Wotton Farm, dibantu oleh Nana Betty. Henry juga memiliki seorang pekerja bernama Greg, yang juga adalah teman sepermainannya. Rhonda sudah menaruh hati pada Greg sejak mereka masih kecil, dan Greg juga menyayangi Rhonda. Sayangnya keduanya memendam perasaan mereka.

"Terkadang risiko memang harus diambil untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan."

Membaca novel ini seperti membaca dongeng dari Wotton Farm. Memang ada dongeng tentang gadis bertopi merah dan serigala yang disisipkan sebagai interlude. Tetapi fokus utama ada pada dua orang wanita, Betty dan Rhonda. Ada kesamaan antara kedua lady ini. Keduanya memiliki kisah cinta yang berbeda kasta. Jika di kisah Betty, dialah si pendatang dari keluarga sederhana di keluarga Wotton, di kisah Rhonda sebaliknya. Ketika Betty berani mengambil risiko untuk bersama dengan Robert, Rhonda memilih untuk menyerah pada nasib yang membawanya kepada pria lain.

Hal menarik sekaligus membuat saya bertanya-tanya adalah pemilihan timeline untuk novel ini. Diawali dari tahun 1920 hingga 2020. Hampir satu abad lamanya. Saya masih bisa mengerti ketika tahun 1920 dipilih sebagai awal timeline, mungkin ingin mengisahkan perjalanan kedua orangtua Betty sebelum Betty lahir (kalau tidak salah Betty lahir di tahun 1926, kalau dihitung dari usia hidup Betty). Tapi mengapa harus sampai tahun 2020? Di periode waktu antara 2019-2020 tidak ada hal istimewa terkait masa akan datang yang ditampilkan. Teknologi Whatsapp dan obat terlarang Liquid X bukan lagi hal yang baru di masa itu. Hanya saja, jika menilik pada judulnya The Lady in Red yang saya yakin merujuk pada Betty, bisa jadi penulis ingin menyajikan pergumulan yang dialami oleh Wotton Farm untuk bisa tetap berdiri.

Selain kisah cinta, ada unsur dendam juga yang ditampilkan dalam novel ini. Begitu juga sedikit informasi mengenai peternakan. Kalau ada hal yang saya anggap sebagai kekurangan adalah pemilihan diksinya yang baku, membuat novel ini seperti terjemahan. Mungkin karena setting-nya di Amerika ya. Padahal penulisnya asli orang Indonesia lho... dan karyanya sudah banyak pula. Tapi saya malah jadi penasaran untuk membaca karyanya yang lain.

Terima kasih Arleen, untuk novel dengan sampul yang memikat dan kisah yang indah ini.
Profile Image for April Silalahi.
227 reviews213 followers
September 21, 2016
Membaca buku ini membuatku cukup tekecoh akan alur yang coba diarahkan penulis.
Betty adalah seorang gadis yang lahir dari keluarga keturunan Tionghoa. Dia suka sekali memakai baju berwarna merah. Betty berhasil mendapat beasiswa di sekolah terbaik dan disana Betty bertemu dengan pria bernama Robert. Robert berasal dari keluarga kaya raya yang memiliki sebuah perternakan besar.

Rhonda adalah cucu Betty. Sejak kecil dia bersama kakaknya Henry memiliki seorang teman bernama Greg. Kemanapun mereka kerap menghabiskan waktu berdua.
Namun waktu berjalan cepat. Rhonda memiliki dunianya sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh Greg.
Apalah artinya Greg jika Rhonda seringkali menegaskan bahwa Greg hanya;ah pegawainya di Wotton.

Lalu bagaimana yang akan terjadi dengan hubungan Rhonda dan Greg selanjutnya?

-------------------
Novel ini unik. Ditulis dengan setting waktu yang jauh sebelum aku lahir. Namun penulis mampu menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu dengan baik. Penulis juga mampu menggambarkan dunia perternakan dengan cukup detail. Aku bahkan ikut berpetualang dengan dunia Rhonda dan Greg di perternakan.

Namun, jujur saja aku harus mengakui, membaca novel ini cukup sulit pada awalnya. Aku mengira buku ini bercerita mengenai sejarah keluarga Tionghoa, namun ternyata murni romance. hahahahaha..
Novel ini memiliki font tulisan yang cukup kecil serta setiap paragrafnya memiliki narasi yang cukup panjang. hal itu rentan membuat pembaca bosan.
Akan tetapi penulis mensiasatinya dengan memberikan bagan silsilah keluarga Betty. Sehingga pembaca dapat dijelaskan siapa itu Rhonda, Greg bahkan nama lain yang tertera di novel ini.

Membaca buku ini menyindirku secara pribadi untuk mampu mengambil resiko akan sesuatu yang kita inginkan. Terkadang yang kita butuhkan hanya mampu bertindak sebelum akhirnya terlambat.

Sebuah karya yang menganggumkan jujur saja.

Tidak sabar membaca karya Arleen selanjutnya.

Review lengkap: http://duniakecilprili.blogspot.co.id...
Profile Image for htanzil.
379 reviews150 followers
November 23, 2016
Novel Lady in Red berkisah tentang kisah cinta dua wanita penyuka warna merah dalam bentangan waktu seratus tahun (1920-2020) lamanya. Dimulai dari kisah Betty Liu, seorang gadis Tionghoa sederhana yang kerap menggunakan baju berwarna merah. Betty adalah gadis yang pandai sehingga ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah swasta elit Redwood High School, California, Amerika Serikat. Karena bukan dari kalangan kaya, Betty kerap dipandang sebelah mata dan menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Tak seorangpun mempedulikan Betty kecuali Robert Wotton, teman sekelasnya, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm, peternakan sapi perah kedua terbesar di Fort Bragg, Caliornia.


Singkat cerita Betty Liu menikah dengan Robert Wotton, mereka lalu tinggal di Wotton Farm dan mengelola Wotton Farm hingga peternakan sapi mereka menjadi semakin berkembang bahkan mereka dapat membeli Stephen Farm peternakan sapi terbesar di Fort Bragg. Wotton Farm terus bertahan hingga beberapa generasi.


Dari kisah Betty Liu dan Robbert Wotton kisah beralih ke tokoh Rhonda Roth, cicit Betty Liu salah satu pewaris Wotton Farm. Rhonda kecil memiliki seorang pelindung yaitu Gregory Drew (Greg). Seperti Rhonda, Greg juga tinggal di Wotton Farm karena orang tuanya bekerja di peternakan milik keluarga Rhonda. Kemanapun Rhonda pergi Greg selalu menyertai dibelakangnya sambil membawa tas dan buku-buku Rhonda. Tanpa disadari ketika keduanya bertumbuh dewasa timbul rasa saling menyayangi diantara keduanya. Rhonda maupun Greg ragu apakah ini cinta? Bagi Greg sendiri ia berusaha menghalau perasaannya karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan bagi Rhonda.


Ketika Rhonda harus meninggalkan Wotton Farm untuk melanjutkan kuliah di Boston barulah keduanya menyadari arti dari kehilangan. Tak ada yang bisa dilakukan Rhonda selain membuat puluhan sketsa wajah Greg yang ia simpan dan rahasiakan dari siapun. Perbedaan jarak dan status (majikan-pelayan) membuat hubungan mereka menjadi berjarak hingga akhirnya Rhonda menyerahkan hatinya pada Brandon Resensky, seorang eksekutif muda sukses yang terus mendekatinya dengan cara-cara romantis yang diluar dugaan. Hubungan Rhonda dan Brandon berlanjut hingga akhirnya memutuskan untuk bertunangan dan merencakanan sebuah pernikahan.


Ketika pertunangan diresmikan di Wotton Farm, Greg yang kecewa memilih untuk lari menghindar dari kehidupan Rhonda. Ia meninggalkan Wotton Farm dan memilih bekerja di Los Angeles. Sebuah peristiwa yang mengancam peternakan akhirnya memaksa Greg untuk kembali ke Wotton Farm demi menyelamatkan peternakan milik keluarga Rhonda yang telah berdiri selama beberapa generasi.


Sebenarnya tema novel ini sederhana, yaitu tentang kisah cinta dua pribadi yang berbeda secara status, namun di tangan Arleen A, penulis produktif yang banyak menulis buku anak, kisah cinta ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Penulis termasuk berani mengambil resiko yang jarang ditempuh penulis-penulis lokal yaitu rentang waktu kisah yang panjang ( 1 abad), setting lokasi di Amerika Serikat, dan tokoh-tokoh yang bukan orang Indonesia. Walau novel ini ditulis oleh penulis lokal yang tinggal di Indonesia namun dalam hal pendeskripsian setting lokasi peternakan sapi perah, karakter dan keseharian tokoh-tokohnya semuanya bernuansa barat sehingga saya sependapat dengan dengan beberapa pendapat para blogger buku yang mengatakan bahwa membaca novel ini seperti membaca sebuah karya terjemahan dari penulis asing.


Dari segi romansa kisahnya, penulis mendeskripsikannya dengan sangat baik, perasaan dan kegalauan para tokoh-tokohnya terungkap dengan baik sehingga kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya. Kita akan dibuat kesal, galau, dan gregetan seakan sedang mengalami sendiri apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh utamanya.


Walau didominasi dengan kisah romansa percintaan namun novel ini juga menyajikan sedikit unsur thriller terutama di penghujung novel. Walau ending-nya mungkin berhasil ditebak oleh beberapa pembaca namun sebelum menuju ending penulis menyajikan sebuah kejutan yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca yang terlanjur terbuai oleh sebuah kisah roman yang apik.


Selain kisah Betty Liu dengan Robert Wotton, Rhonda dengan Brandon, dan gejolak Greg yang berusaha memendam cintanya pada Rhonda, penulis juga menyelipkan kisah Jerry dan Wanda. Jerry, anak pemilik peternakan Stephen Farm yang dihadirkan sebagai tokoh antagonis. Walau awalnya tampak tak memiliki hubungan dengan tokoh Betty atau Rhonda namun kelak pembaca akan mengetahui bahwa kisah Jerry dan Wanda ini bukan sekedar kisah tambahan semata.


Satu hal yang menjadi keunikan dalam novel ini adalah adanya interlude-interlude yang mengisahkan dongeng si Topi/Kerudung Merah (Red Ridding Hood) karya Grimm. Sepertinya penulis mencoba menghubungkan dongeng si Kerudung Merah dengan Lady in Red atau katakanlah ini adalah adaptasi atau versi modern dari dongeng tersebut. Namun sayangnya saya tidak berhasil menemukan keterkaitan yang jelas antara dongeng si topi Merah dengan novel ini. Atau mungkin saya yang kurang peka? :)


Dalam novel ini penulis membagi kisahnya kedalam tiga bagian besar berdasarkan periode waktu yaitu 1920-1955, 2013-2016, 2019-2020. Dari bagian pertama ke bagian kedua terdapat lubang rentang waktu yang cukup panjang (58 tahun) kisahnya pun melompat dari tahun 1955 ke 2013. Ada dua generasi keluarga Wotton yang hilang dari penceritaan. Akan lebih menarik jika penulis mengisi lubang waktu itu dengan kisah oleh kisah salah satu anak atau cucu Betty Liu sehingga novel ini bisa menjadi sebuah kisah kehidupan keluarga Roth yang utuh .


Terlepas dari hal tersebut kehadiran novel ini patut diapresiasi dengan baik. Novel yang dikemas dengan cover yang menarik ini ternyata memiliki isi yang lebih menarik dari covernya. Walau kisahnya hanya kisah cinta biasa yang dibalut dengan pembalasan dendam masa lampau yang diberi bumbu thriller di penghujung kisahnya, namun karena penulis berhasil menyajikan setting waktu, tempat, dan tokoh-tokoh barat yang jarang digarap oleh penulis lokal maka novel ini mampu memberi warna tersendiri dalam khazanah novel-novel lokal saat ini.

@htanzil
http://bukuygkubaca.blogpsot.com
Profile Image for Alvina.
733 reviews119 followers
September 29, 2016

Kau tidak akan bisa meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kau sendiri tidak yakini


Rhonda lahir dan dibesarkan dalam keluarga Wotton yang terkenal dengan bisnis peternakannya yang sukses. Peternakan itu dibangun sejak sebelum masa nenek buyutnya, Nana Betty. Meski dilahirkan di lingkungan petani, Rhonda lebih memilih seni dalam karirnya sehingga Wotton Farm diurus oleh Henry, kakak lelakinya.

Henry tak mengurus segalanya sendiri, ia juga dibantu oleh Greg yang keluarganya telah puluhan tahun mengabdi kepada Wotton Farm. Umur Greg tidak berbeda jauh dengan Henry maupun Rhonda, itu sebabnya ia amat akrab dengan mereka.

Meskipun demikian, Greg tetap menaruh rasa hormat dan sungkan yang tinggi terhadap keduanya, sehingga ia lebih sering menganggap dirinya sebagai pelayan daripada teman.
Seperti kata pepatah yang menyatakan cinta ada karena terbiasa, Greg diam diam menaruh hati pada Rhonda. Sayangnya, Greg tidak berani mengungkapkan perasaannya terhadap Rhonda. Ia takut Rhonda tak menyukainya lalu malah membencinya. Berani beraninya seorang pelayan mencintai majikannya?


Dan begitulah cerita mereka bergulir. Hari demi hari sampai Rhonda berkali kali menjalin cinta dengan pria lain, Greg masih diam saja menunggu. Apakah Rhonda menyukai Greg? Apakah akhir cerita mereka kelak bahagia?

Cerita ini berlatar di Fort Brag, Amerika Serikat dari tahun 1920an sampai 2020. Alur cerita yang cukup panjang tetapi tenang saja, tidak terlalu kompleks. Tidak banyak tokoh yang bermain dalam novel ini, dan setiap karakternya dibangun dengan ciri khas masing-masing. Hanya saja, pembagian porsi perkenalan sampai konflik terlalu panjang, bagi saya. Sedangkan penyelesaian klimaksnya tidak dieksekusi dengan baik, tiba tiba selesai begitu saja. Padahal sebenarnya saya mengharapkan konflik yang lebih kacau dan menegangkan. Mungkin karena cerita dalam buku ini lebih fokus terhadap kisah romansanya, makanya porsi romannya lebih banyak.

Membaca blurb di belakang buku, saya cukup tertarik karena ada tokoh yang memiliki masalah dengan kepercayaan diri disebutkan di sana. Saya selalu penasaran akan sebuah cerita dengan perubahan karakter. Dari pemalu menjadi berani, dari terpuruk menjadi bangkit ataupun sebaliknya. Saya berharap menemukan tokoh seperti itu di dalam buku ini.

Sebenarnya tokoh Rhonda yang diceritakan tidak memiliki kepercayaan diri sempat disinggung dalam cerita. Tetapi rupanya itu hanya menjadi polesan dan angin lalu saja. Oke Rhonda bertubuh gendut, udah gitu aja. Jika pada blurb dituliskan hal tersebut, yang ada di bayangan saya adalah bagaimana Rhonda mengatasi krisis kepribadiannya dan berkembang menjadi gadis yang lebih tahan banting terutama pada penampilannya.

Sama seperti Rhonda, Greg juga disebutkan tidak memiliki rasa kepercayaan diri yang besar. Bedanya, tokoh Greg dikembangkan dengan cukup baik sampai akhir. Kita dapat melihat hal hal yang mendorong Greg untuk keluar dari zona nyamannya dan memilih mengikuti kata hatinya. Seakan membawa pesan kepada pembaca bahwa tak apa jika kau ragu di awal, tapi teruslah berusaha semampumu.

Tapi buku ini tak hanya menceritakan tentang kisah cinta Greg dan Rhonda melainkan juga mengisahkan tentang dendam masa lalu. Konflik ini yang kelak menghubungkan antara masa lalu Nana Bettie dengan Wotton Farm sekarang. Sebuah novel yang cukup menarik untuk dibaca, terutama bagi pencinta novel roman.
Profile Image for Fitriscia.
15 reviews2 followers
June 22, 2016
Full Review: https://twinieblio.wordpress.com/2016...

Jujur saja, menyelesaikan buku ini merupakan tantangan sendiri bagi saya. Karena bagi saya, tulisan buku seperti ini merupakan gaya baru bagi saya sendiri. Yah, biasanya buku yang saya baca tidak memiliki kalimat-kalimat narasi yang panjang, namun di buku ini, narasinya panjang-panjang, dan saya tidak terboasa dengan itu.

Namun saya semakin tertantang untuk menyelesaikan bukunya, karena saya dibuat jatuh cinta sekaligus penasaran dengan apa yang mau diceritakan dalam buku ini.

Dan hasilnya, saya terus dan terus membalik halaman, yang tanpa diduga sudah sampai di ending aja. Memang butuh waktu sedikit lama untuk menyelesaikannya, karena butuh waktu lama juga meresapi setiap cerita. Tapi hasilnya saya puas, saya suka sekali dengan cerita yang disampaikan. Dari semuanya, saya paling suka dengan kesan Dairy Farm nya. Serasa saya yang lagi disana, hehehe... XD

3.5 bintang untuk The Lady in Red! ^^
Profile Image for Aya Murning.
162 reviews22 followers
June 28, 2016
Cover

Desain sampulnya memang sangat sederhana, namun justru di situlah letak elegannya. Siluet wanita berwarna merah yang kontras dengan latar hitam sangat cocok dengan judulnya, The Lady in Red. Menimbulan kesan misterius walau cerita di dalamnya tidak semisterius yang saya bayangkan saat pertama kali melihat novel ini.

Sinopsis

1920-1955

Betty Liu ditawari bersekolah di Rewood High School di Fort Bragg karena kecerdasan dan nilai-nilainya yang sangat baik. Dia terlahir dari keluarga imigran Tionghoa sederhana dan tak akan mampu membayar sekolah swasta itu jika tanpa beasiswa. Di sekolah itu ia bertemu Robert Wotton, anak dari John Wotton yang merupakan pemilik Wotton Dairy Farm di Fort Bragg–sebuah peternakan sapi yang memproduksi bahan olahan susu seperti susu segar dan keju.

Robert telah menyukai Betty sejak pandangan pertama. Rambut Betty yang hitam legam–berbeda dengan teman-teman lainnya yang rata-rata berambut pirang dan cokelat–makin membuat Robert terpesona. Ia sangat ingin menyentuh helaian rambut halus dan wangi itu. Namun selama beberapa bulan sejak masuk sekolah ia tak pernah berani melakukannya. Bahkan hanya untuk menegur Betty pun ia ragu meski di kelas itu Robert duduk tepat di belakang Betty.

Akhirnya pada suatu hari Robert memberanikan diri untuk menyapa dan mengobrol dengan Betty di perpustakaan. Bahkan ia spontan mengajak Betty main ke peternakannya. Robert menunjukkan anak-anak sapi di kandang dan membimbing Betty menyusui anak sapi itu dengan botol khusus. Ternyata Betty sangat menikmati momennya bersama anak-anak sapi itu dan tidak keberatan saat Robert mengajak Betty kembali mengunjungi peternakan Wotton Farm pada hari Sabtu. Robert pun tidak segan menjemput Betty di depan pintu apartemen Betty. Berkat sebuah saran sederhana dari Burk Smith–seorang pekerja di Wotton Farm–Robert sangat diuntungkan oleh hal itu karena telah membuat Huan dan Xing–orangtua Betty–sangat percaya pada Robert selama Betty pergi bersama Robert. Maka sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat dan makin dekat. Bahkan dengan adanya Betty, Robert sangat terbantu dalam memperbaiki nilai pelajarannya di sekolah karena ia sering dipinjamkan catatan pelajaran oleh Betty.

***

Di sebelah Wotton Farm ada sebuah peternakan lagi bernama Stephens Farm milik keluarga Victor Stepehens. Mereka sama-sama memproduksi susu dan sangat bersaing dalam bisnis sehingga tak membuat mereka saling akrab. Anak tunggal di keluarga Stephens, yakni Jerry Stephens, tak sengaja bertemu seorang wanita yang menjadi cinta pada pandangan pertamanya saat ia ingin makan di sebuah restoran di San Fransisco. Wanda yang hanya bekerja sebagai seorang pelayan di restoran itu telah mencuri hati Jerry. Lalu Jerry pun mulai menyusun rencana untuk mendapatkan hati Wanda. Butuh waktu berminggu-minggu untuk menjalankan rencananya itu hingga ia bisa membuat Wanda merasa benar-benar menginginkannya juga.

Suatu hari, kurang dari 24 jam, banyak hal terjadi dalam hidup Wanda yang tak pernah ia duga. Lelaki asing yang belakangan ini selalu mengisi pikiran Wanda tiba-tiba muncul di hadapannya dan menawarkan diri untuk mengantar Wanda pulang ke apartemennya yang sangat sederhana. Semuanya tidak hanya sampai di situ. Pria tinggi besar bernama Jerry itu kemudian membawa Wanda ke kehidupan baru yang tak mampu Wanda tolak.

***

2003-2012

Rhonda Roth punya teman bermain yang telah ia kenal sejak lahir. Orang itu selalu setia menemani Rhonda ke mana pun dan di mana pun. Gregory Drew, atau biasa dipanggil Greg, hanya lebih tua 2 tahun dari Rhonda. Greg si pemilik mata biru itu merasa dirinya hanyalah salah satu pelayan bagi keluarga Wotton–walau memang sedari kecil ia telah bekerja di peternakan tersebut karena sudah turun menurun sejak kakek buyutnya dulu, Burk Smith, selalu mengabdi pada keluarga Wotton. Oleh karena itu, Greg sangat melayani Rhonda sebagai majikan seperti membawakan barang-barang dan tasnya, membuatkan roti lapis isi selai kacang dan keju, serta telah terbiasa berjalan 3 langkah di belakang Rhonda.

Seumur hidupnya ia selalu berjalan di belakang Rhonda dan Henry, kecuali bila mereka sedang menjelajah. Saat menjelajah, ia selalu berjalan di depan mereka sebagai penunjuk jalan. Seorang teman tidak membawakan barang temannya seperti ini. Hanya pelayan yang melakukan hal ini. Seorang teman berjalan di sisi temannya. Hanya pelayan yang berjalan di belakang seperti ini. Jelas dia memang hanya pelayan. Dan pikiran itu membuatnya sesak napas seolah kedua hidungnya dijejali selai kacang dan keju. — (hlm. 118)

Jika Greg merasa dirinya sebagai pelayan, Rhonda justru menganggap Greg sebagai temannya, teman bermainnya selain Henry–kakak kandung Rhonda yang lebih tua dari Greg. Mereka bertiga sering menghabiskan waktu bersama menyusuri hutan redwood di Wotton Farm, serta melakukan berbagai jenis permainan yang ditentukan Henry sebagai leader.

Tak hanya Greg dan Henry yang menjadi orang penting di hidup Rhonda. Ia sangat menyayangi papanya, Kakek Thomas dan Nenek Lily, serta nenek buyutnya–biasa dipanggil Nana Betty–yang sudah berusia 88 tahun. Rhonda sudah tak memiliki ibu. Ibu kandungnya meninggal setelah melahirkan Rhonda.

Saat akan melanjutkan sekolah, Rhonda memilih Boston. Tempat yang sangat jauh dari Fort Bragg. Hal itu membuat Greg sedih namun Greg tak punya kuasa untuk menahan keinginan Rhonda karena Greg bukanlah siapa-siapa. Greg merasa bahwa ia akan kehilangan Rhonda jika Rhonda akhirnya bertemu pria Boston, memulai hidup di sana, dan tak kembali lagi ke Fort Bragg.

“Kau tidak akan bisa meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kau sendiri tidak yakini,” — Peter (hlm. 178)

Di Boston, Rhonda bertemu Brandon Resensky. Lelaki dewasa dan tampan itu bekerja di JT Norman Investmen Bank dengan posisi yang cukup tinggi. Rhonda tak sengaja berkenalan dengan Brandon di acara pembukaan pameran lukisannya. Berawal dari karangan bunga, hal itu mengantarkan kedekatan Rhonda dan Brandon di pertemuan selanjutnya hingga memperkenalkan Brandon pada keluarga Rhonda di Fort Bragg. Sebelum ada Brandon, dahulu pun ada mantan kekasih Rhonda yang memaksa ikut ke Fort Bragg dan berkenalan dengan keluarganya, yaitu Peter yang langsung bersin-bersin sesampainya di peternakan.

Tokoh & Penokohan

• Betty Liu — Seorang gadis keturunan Tionghoa yang mempunyai kecerdasan melebihi anak seusianya sejak kecil. Ia sudah bisa membaca saat usianya belum genap 2 tahun, pandai bercakap tentang hal yang biasanya tidak dipahami anak-anak, dan nilai-nilainya di sekolah sangatlah memuaskan sehingga ia dapat beasiswa bersekolah di sekolah swasta Redwood High School di Fort Bragg. Betty termasuk murid yang tak pernah ambil pusing meski ia diperlakukan berbeda oleh teman-temannya di sekolah itu lantaran ia mendapat beasiswa. Sebagai keturunan Tionghoa, sedari kecil Betty sudah banyak sekali mempunyai baju warna merah hingga warna itu jadi warna kesukaanya. Setelah tua dan punya cicit, Betty memang menjadi yang paling dituakan, yang paling bijaksana dan menjadi penengah dalam urusan apa pun termasuk membantu tetek bengek di Wotton Farm.

• Robert Wotton — Lelaki ini sangat mencintai Wotton Farm. Ia suka sekali ikut membantu memerah susu sapi dan menjalankan mesin penampung untuk memanen gandum. Bahkan ia menganggap sapi-sapi di sana jauh lebih menarik daripada wanita–itu sebelum ia bertemu Betty. Robert lebih suka menghabiskan waktu dengan sapi-sapinya dan jarang bergaul dengan teman-teman seusianya. Hal itu membuat ia lebih penyendiri dan tidak punya teman dekat seperti geng lain.

• Burk Smith — Pria sederhana yang setia mengabdi pada Wotton Farm. Ia sangat baik dan mengayomi Robert yang telah menganggapnya seperti kakak sendiri.

• Jerry Stephens — Anak dari pemilik Stephens Farm ini sangat tidak suka dengan sapi kendati ayahnya punya peternakan sapi. Baginya, sapi adalah hewan yang menjijikan. Ia juga tak suka jika harus memerah susu dengan tangannya sendiri. Ia lebih cocok jika bekerja di belakang layar daripada terjun langsung di lapangan untuk mengurusi sapi-sapi itu. Karakternya agak absurd di sini. Bukan orang yang serius dan tekun. Ia seolah hanya mencari kesenangan tanpa benar-benar peduli pada Stephens Farm. Jerry mengurus Stephens Farm hanya karena kewajibannya pada sang ayah sebagai pemilik tempat itu.

• Wanda — Wanita muda yang belum genap berusia 20 tahun itu memang bertubuh tinggi dan cantik. Ia sering digoda oleh pengunjung restoran yang suka menyolek tubuhnya ketika ia lewat. Namun ia tak pernah ambil pusing karena ia harus tetap bekerja demi menghidupi dirinya sendiri. Wanda pandai memasak, pekerja keras, dan setia. Namun sifat jeleknya adalah saat sesuatu yang telah ia sayangi direbut orang lain maka ia bisa menjadi penghasut agar mendapatkan haknya kembali.

• Henry — Seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Ia juga punya jiwa pemimpin sedari kecil karena merupakan anak tertua, sangat bertanggung jawab mengurus Wotton Farm hingga tak punya waktu untuk urusan wanita.

• Rhonda — Sama seperti Nana Betty, Rhonda juga penyuka warna merah. Ia pandai melukis, ia suka sapi, dan ia cinta Wotton Farm. Tetapi ia tidak pandai mengenali perasaannya sendiri terhadap lawan jenis, terutama pada Greg. Ia tak mengerti apa arti dari dentuman jantungnya yang ia rasakan saat ada Greg. Cinta atau bukan? Selama ini ia selalu bersikap dominan kepada Greg yang selalu menuruti semua perintahnya. Rhonda merasa bahwa Greg hanya menganggapnya sebagai majikan, tidak lebih.

• Greg — Ia tak pernah jauh-jauh dari urusan sapi di Wotton Farm. Ia sudah menganggap Wotton Farm sebagai rumahnya. Ia adalah pria setia yang tak banyak menuntut dan sangat pekerja keras. Loyalitasnya sangat tinggi terhadap Wotton Farm. Ia rela melakukan apa saja demi sesuatu yang baginya penting dan kepada orang-orang yang ia sayangi, termasuk pada Wotton Farm dan Rhonda. Tetapi sayangnya ia bukan sosok yang peka apalagi pemberani dalam menyatakan cintanya.

• Brandon — Lelaki tampan yang menjadi suami idaman bagi setiap wanita. Pekerjaan mapan, wajah aduhai, sikap manisnya sangat memabukkan, rayuannya sungguh romantis, pandai meluluhkan hati wanita mana saja hingga jatuh di pelukannya. Contohnya seperti Rhonda.

• Peter — Untungnya ia bukan jenis mantan yang bermusuhan pasca putus dari pacar secara tiba-tiba. Ia cukup dewasa menyikapi sesuatu dan rela melepaskan apa yang memang bukan miliknya dengan baik-baik.

• Huan & Xing — Mereka masih sangat percaya pada tahayul dan kepercayaan soal keberuntungan. Seperti Xing yang masih menyimpan almanak kadaluarsa untuk menentukan langkah pertama suaminya setiap hari di pagi hari.

Setting

• Waktu — Dibagi menjadi 3 bagian utama, yaitu pada tahun 1920-1955 (menceritakan tentang masa sekolah dan perkenalan dari Robert-Betty dan Jerry-Wanda), 2003-2012 (menceritakan tentang kehidupan masa kecil dan awal pertemanan Rhonda-Greg), dan 2019-2020 (masa di mana Rhonda dan Greg sudah benar-benar dewasa).

• Tempat
(1) Wotton Dairy Farm dan Stephens Dairy Farm di Fort Bragg. Dulunya kedua lahan ini adalah ladang gandum yang luas totalnya 270 hektar. Namun berkembang menjadi peternakan sapi karena hasil menjual susu lebih untung banyak daripada hanya memanen gandum.
(2) San Fransisco. Kota ini kerap jadi persinggahan, seperti Jerry yang rencana awalnya hanya ingin jalan-jalan di SF demi menghindari kesibukan di Stephens Farm sebelum akhirnya ia bertemu Wanda, atau seperti Rhonda sekeluarga dan Greg yang sering bolak-balik ke SF untuk mengantar atau menjemput Rhonda di bandara. Perjalanan dari Fort Bragg ke SF melalui perjalanan darat adalah 4 jam.
(3) Los Angles. Tempat Greg melanjutkan sekolah sekaligus pelariannya saat hatinya sedang kalut karena Rhonda.
(4) De Jong Dairy Farm. Sebuah peternakan sapi di Wildomar, LA, seluas 300 hektar dan menjadi rumah kedua bagi Greg setelah Wotton Farm.
(5) Boston. Tempat Rhonda menuntut ilmu dalam bidang seni dan melukis. Ia tinggal di sana selama 6 tahun lamanya sebelum kembali ke Fort Bragg.

Tema Cerita

Sebelum memasuki bab baru, ada beberapa bab interlude yang disisipkan di novel ini. Berisi penggalan cerita tentang gadis berkerudung merah yang tinggal di rumah tua dengan neneknya di tengah hutan. Kemudian dari situ saya baru menyadari bahwa novel ini sepertinya merupakan sebuah retelling dari dongeng Gadis Bertudung Merah yang dikejar oleh srigala. Hal itu makin dikuatkan dengan kemiripan judul yang sama-sama mengandung unsur merah. Mungkin benar adanya bahwa novel ini terinspirasi dari dongeng tersebut.

Review selengkapnya bisa dibaca di sini
https://murniaya.wordpress.com/2016/0...
Profile Image for Isa Sulistyorini.
168 reviews3 followers
October 12, 2018
Setelah disodori buku ini oleh @liliyanahalim akhirnya aku selesai baca ini.
.
.
Well, mbak @arleen315 ga pernah mengecewakan. Buat aku novel ini kompleks banget. Ceritanya di kemas dengan epik, sangat padat dan sangat jelas hanya dengan 360 halaman. Semua perasaan tokohnya tersampaikan. Novel ini such as novel terjemahan, detail men setting tempatnya!
.
.
Ps. Aku Bukan Dia masih jadi novel favorite ku.
Profile Image for Prahasti.
150 reviews15 followers
June 9, 2018
Membaca novel ini seperti membaca karya terjemahan. Tidak nampak jejak Indonesianya sama sekali.
Di bagian interlude, cerita tentang red riding hood, menunjukkan sisi Arleen sebagai penulis cerita anak.
Profile Image for Aya Aruki.
44 reviews4 followers
May 16, 2016
Betty adalah gadis keturunan Tionghoa. Memiliki ibu yang sangat menjaga tradisi. Betty selalu diminta ibunya untuk mengenakan pakaian berwarna merah agar hidupnya beruntung. Tapi rupanya yang membawa ‘keberuntungan’ itu bukanlah baju berwarna merah, melainkan rambut panjangnya yang selembut sutera. Teman sekelas Betty yang bernama Robert, jatuh cinta pada Betty karena rambutnya. Setiap hari duduk di belakang Betty membuat Robert tanpa sadar terobsesi untuk menyentuh rambut Betty.

Dan… hadirnya kesempatan itu sekaligus membuka jalan bagi dua kisah berikutnya untuk ‘hidup’.

Kisah Jerry dan Wanda, yang juga memiliki peternakan sapi seperti Robert, yang secara unik ternyata juga memiliki benang merah dengan kisah Betty dan Robert.

Kisah Rhonda dan Greg yang menguasai 70% dari keseluruhan isi buku juga memiliki keterkaitan yang kuat dengan kisah Betty dan Robert. Dikisahkan tentang Rhonda yang tinggal dipeternakan memiliki teman bernama Greg. Greg adalah anak dari pekerja di peternakan Rhonda. Setiap hari mereka selalu bermain bersama hingga usia mereka menginjak dewasa dan hubungan mereka tanpa sadar pun berjarak. Namun melalui jarak itu pula lah mereka sadar dengan perasaan masing-masing. Hanya saja, hubungan mereka berkembang tak semulus datangnya cinta. Status Greg yang seorang pekerja membuatnya merasa tidak pantas untuk memelihara perasaan cinta terhadap Rhonda. Sikap Greg yang menahan diri akhirnya membuat Rhonda berpikir bahwa Greg tak pernah menganggapnya lebih dari seorang majikan, sehingga tak mungkin Greg menyukainya. Kisah cinta mereka yang berjarak ini membutuhkan beratus-ratus halaman untuk menemui penyelesaian.

Sebelum memulai review (yang mungkin akan) panjang, terlebih dahulu aku ingin mengakui bahwa sesungguhnya cover buku ini menipuku. Yahh… memang aku sudah membaca blurb yang secara jelas telah memberitahu kita genre buku ini. Hanya saja aku berpikir bahwa blurb bisa saja menipu sehingga mulanya kupikir buku ini akan ada unsur misteri, thriller, detektif, atau semacamnya.

Aku salah besar. Genrenya murni romance saudara-saudara…

Hal kedua yang juga memiliki potensi untuk menipu adalah diksi yang digunakan penulis. Jika seseorang membaca buku ini tanpa memperhatikan nama penulisnya, tentu saja ia akan beranggapan sedang membaca buku terjemahan. Gaya bertutur penulis yang terasa kental aura baratnya juga diperkuat oleh latar tempat cerita yang berlokasi di Fort Bragg, California. Berbeda dengan novel yang memiliki setting luar negeri dari penulis lain, The Lady in Red justru mengedepankan nuansa country-side dengan peternakan sapi dan ladang gandum.

review selengkapnya di: https://arukiwords.wordpress.com/2016...#
Profile Image for Riadhea.
20 reviews21 followers
July 30, 2016
Nana Betty tahu sesungguhnya. Ia orang tertua disana. Nana Betty mengenggam liontin berbentuk hati pada dadanya. “Robert, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya dalam hati. pg.87


Oke, sebetulnya saya tdak terlalu menyukai novel bergenre romatis. Sepert biasa saya tertarik dengan judul dan cover bukunya yang unik. Pertama saya piker ini adalah novel terjemahan. Namun, penulisnya orang Indonesia sendiri. Patut saya acungi jempol. Setting-nya sangat mendetail dan sangat menarik. Waktu kejadian dalam novel ini adalah maju mundur dan itu menjelaskan asal usul kejadian yang dialami oleh tokoh dalam cerita.

Dimulai pada tahun 1920 hingga tahun 1955, ketika Betty Liu mendapatkan beasiswa di Redwood private School dan orang tua serta guru dan temannya sangat mendukung agar Betty bersekolah di sana. Reputasi Redwood Private School sebagai sekolah swasta terkenal sangat bagus. Namun, sebenarnya Betty tidak menyukainya. Siswa siswi di sekolah itu mengganggap seorang yang mendapatkan beasiswa adalah sesuatu yang menjijikan karena Redwood menurut mereka adalah sekolah khusus untuk orang-orang kaya dan terhormat. Orangtua Betty datang dari Tiongkok yang menjadi pekerja kontrak disana, namun orangtuanya memutuskan menetap di Amerika.

Robert Wotton dipaksa oleh orang tuanya untuk bersekolah di Redwood Private School. Orangtua Robert adalah pemilik Wotton Diary Farm, dan memang sepantasnya Robert bersekolah di Redwood, karena nantinya Robert adalah pewaris mereka. Menurut Robert sekolah dimanapun sama baiknya. Ia tidak menyukai teman-teman sekelasnya yang tukang pamer. Hingga pada suatu hari ia menatap gadis dengan rambut sangat hitam dan lurus lalu berkulit seperti susu. Jantung Robert berdesir ketika pemilik rambut hitam itu melewatinya.

2003-2012, Menceritakan kehidupan Rhonda yang gemuk dan tahu bahwa ia naksir berat dengan Greg namun ia tidak menyadarinya. Dan, Greg entah sejak kapan mencintai Rhonda. Munkin sejak lahir Greg menyukai gadis itu dan tidak pernah menggap Rhonda gemuk (baguslah tidak seperti trend jaman sekarang. Trend lidi-lidian -_-)

Mulanya saya menyangka novel ini merupakan novel terjemahan hingga akhirnya saya menemukan benang merah pada tengah-tengah bab dan menebak apa yang terjadi selanjutnya. Saya sudah menduga endingnya akan seperti yang saya pikirkan. Asli khas novel Indonesia yang bergenre romantisme yang akhirnya endingnya akan seperti ini.

Namun, dibagian tengah cerita saya terenyuh membaca bagian Greg yang memberi kata-kata terakhir pada Henry sahabat sejak kecil yang juga kakak Rhonda. Terus terang saya sangat sedih. Greg amat menyayangi Henry seperti kakaknya dan Henry adalah sahabatnya sejak kecil.

Rating 3/5
Profile Image for Ratnani El Ratna Mida).
Author 11 books14 followers
June 24, 2016
Tema cinta memang selalu laris untuk diangkat dan akan terus menjadi tema yang menarik untuk dieksekusi. Sebagaimana novel ‘The Lady in Red’ yang mencoba menawarkan kisah serupa. Tentang cinta dua anak manusia yang berbeda kasta dengan berbagai macam intrik yang menarik. Itulah kenunikanya, meski mengambil tema sama, novel ini dikemas dengan cara berbeda. Apalagi dengan latar yang jarang dipakai. Membuat novel ini patut untuk dinikmati.

Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang menarik dan renyah. Seolah tengah membaca novel terjemahan. Novel romance ini asli membuat tertegun dan gemes.

http://tulisanelratnakazuhana.blogspo...
Profile Image for Gus.
605 reviews63 followers
April 25, 2024
--- The Lady in Red ---
Plot: ....Hm.
Penokohan: ..........Hmmmm.

Rhonda dan Greg awalnya dekat sekali. Tetapi saat Greg menggarisbawahi posisi dirinya sebagai anak pegawai yang bekerja di keluarga Rhonda, semuanya berubah. Anak perempuan itu menjadi tidak yakin apakah Greg menganggap dirinya teman Rhonda. Greg sendiri tidak yakin ia pantas bersanding dengan Rhonda. Mungkin hanya Nana Betty yang menyadari Rhonda dan Greg yang tumbuh dewasa dan tetap menyimpan perasaan bagi satu sama lain.

Tetapi apa yang bisa ia lakukan untuk dua insan muda itu selain menjadi pendengar dan penasihat yang baik? Bukankah anak muda sebaiknya berjalan sendiri dan mengikuti kata hati mereka?


Ughhh saya tidak cocok menulis sinopsis. Ada mungkin yang bisa menulis lebih baik-- dan itu bukan saya XD.



The Lady in Red... memiliki kover yang simpel dan cukup bagus. Saya sudah agak lama tidak membaca novel lokal. Mungkin karena saya agak takut dengan loe-gue-atau-panggilan-seperti-ini...
...
...
...sehingga saya membutuhkan waktu untuk membeli novel Indonesia.

Nah tapi The Lady in Red memiliki tulisan ala novel terjemahan! ヾ(^-^)ノ Yahouuoo!
Gaya bahasanya baku tapi enak dibaca. Kalimatnya mengalir dan permisalannya juga. Tapi memang kadang ada beberapa detil yang terlalu melalang-buana diceritakan dari A ke J, sehingga saya agak greget dan ingin cepat-cepat masuk ke topik pembicaraan. Tapi overall... saya merasa perlu banyak belajar dari penulisnya. Karena saya suka gaya bahasa di novel ini ʚ(´◡`)ɞ.

Nah itu tadi soal gaya penulisan.
Soal plot, lain lagi.
Novel ini secara mudah, bisa dibilang dibagi atas tiga kisah.
1. ★★★★Kisah paling bagus di antara semua kisah cinta dalam novel ini Betty dan Robert Wotton.
2. ★★★Kisah strategi mencari istri sekaligus pembantu cantik ala orang kaya super menyebalkan Anak pesaing peternakan Wotton.
3. ★Kisah utama ala tersanjung yang rasanya jaraknya tidak perlu sampai sepanjang ini Rhonda dan Greg.

Heh saya tidak perlu capek-capek menutup namanya. Toh dari sinopsis asli kover The Lady in Red, sudah jelas pasang-pasangannya. Dan bisa dibilang semua kisahnya saling terhubung.

Tapi untuk kisah ketiga, sekaligus kisah utama novel ini, si Rhonda dan Greg, saya sangat menyayangkan banyak hal.
Intrik utama hubungan mereka hanyalah... kurangnya komunikasi.


Saya tidak minta mereka berkomunikasi dan novelnya selesai dalam lima lembar, tapi ya, saya tidak mau juga kalau sampai dibuat berpuluh-puluh hanya untuk akhir seperti itu.
Kurasa itu merembes ke kurangnya percaya diri dan imajinasi negatif Rhonda dan Greg yang luar biasa.

Lebih menyebalkan lagi sifat Rhonda.
Tidak, saya tidak mempermasalahkan hubungan cintanya. Tetapi saya tidak bisa menerima bagaimana ia menjadikan semua yang berdiri bersamanya seolah backup plan.
Bahkan sekalipun penulis mencarikan kebenaran atas tindakannya, saya merasa Rhonda sangat tidak pantas dengan... endingnya :v //gus yang pengen dia ditinggal saja.




Yah, jika melihat secara fair mungkin saya terlalu jahat dan berat sebelah pada Rhonda. Tapi itu ya itu.

Anyw dibanding Rhonda, saya jauh lebih suka kakaknya.
Sayangnya dia memiliki akhir yang mengenaskan ˚‧º·(˚ ˃̣̣̥⌓˂̣̣̥ )‧º·˚ //gus yang menangisinya.
[7/10]
Profile Image for booksventura.
87 reviews4 followers
June 23, 2022

Satu kata saat menuntaskan buku ini adalah indah! Deskripsi penulis akan setting tempatlah yang paling juara. Arleen sukses membawa saya hanyut dalam suasana khas pedesaan California: sapi, jerami, afalfa hingga rerumputan hijau. Tepat saat hati saya telah dicuri, lebih mudah untuk kemudian jatuh cinta pada tiap aktor. Karakter yang dibangun masing-masing tokoh begitu hidup, sampai-sampai saya ikutan googling. Ini nyata? kok bisa se-dapet itu feel nya?

Layaknya pohon silsilah, kisah ini dibagi menjadi 3 bagian dan 2 rentang waktu berbeda. Adalah Robert dan Betty generasi awal pendiri Wotton Farm saling jatuh cinta dan hidup sejahtera. Kontras sekali kebahagiannya dengan Jerry dan Wanda pendiri Stepphen Farm yang hanya berat sebelah. Lalu ada pula Interlude kisah serigala yang terusir dari tanah moyangnya. Interlude ini membuat saya menebak-nebak apa hubungannya dengan jalan cerita yang utama. Ketika memasuki konflik ditahun 2020, kisah Greg, Rhonda dan Brandon barulah saya paham benang merahnya.

Gaya tulisan Arleen seperti membaca terjemahan dengan editing terbaik. Seakan lupa kalau penulisnya berasal dari negeri sendiri. Semuanya memang diramu secara matang dengan berbagai alasan. Misal, tiap bab hanya dibuat 2-4 lembar saja bertujuan untuk mengantisipasi jenuh. Adegan tiap paragraf disertai bumbu pergulatan batin bawah sadar tokoh, yang menggiring opini untuk setuju dengan tindakan sang aktor. Paparan olah tubuh tokoh hingga dialognya selalu detil, seakan saya sedang nonton drama TV saja. Jikalau ada develop karakter yang kurang pun akan terasa wajar, karena memang porsi cameo atau tokoh jahat sepantasnya ya sampai disitu saja.

Jadi, kalau kamu tanya 𝘔𝘰𝘥𝘦𝘳𝘯 𝘙𝘦𝘵𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 kisah Si Kerudung Merah terbaik? Disinilah tempatnya.
Profile Image for Evita MF.
92 reviews8 followers
May 2, 2016
The Lady in Red berkisah tentang kehidupan pemilik Wotton Dairy Farm, sebuah peternakan sapi yang memproduksi dan menjual susu. Wotton Dairy Farm merupakan peternakan sapi terbesar kedua di Fort Bragg. Cerita dibuka pada tahun 1920, saat Robert Wotton, anak pemilik Wotton Dairy Farm masih remaja dan bersekolah di sebuah sekolah swasta elit bernama Redwood Private School. Karena biaya untuk bersekolah di Redwood Private School begitu mahal maka hanya anak orang-orang kaya saja yang bisa bersekolah di sini.

Kehidupan sekolah Robert terasa menjemukan. Sesungguhnya ia benci sekolah di Redwood Private School, karena kebanyakan teman-temannya berlagak congkak dan menyebalkan hanya karena mereka kaya. Namun, tiba-tiba semuanya berubah semenjak kehadiran gadis Tionghoa bernama Betty Liu atau yang sering disebut sebagai ‘si anak beasiswa.’ Betty mendapat beasiswa di Redwood Private School karena kepandaian yang ditunjukannya di sekolah. Gurunya pun merekomendasikan Betty untuk mendapat beasiswa ketika Redwood Private School sedang membuka lowongan beasiswa.

“Sejak hari pertama sekolah, ia sudah mendengar anak-anak lain yang menyebut dirinya si anak beasiswa seolah mendapat beasiswa itu adalah kondisi menyedihkan seperti mendapat penyakit campak.” (Halaman 18)

Robert tersihir dengan rambut hitam milik Betty yang ingin sekali disentuhnya sejak pertama kali melihat gadis itu. selama tiga bulan lamanya ia hanya bisa memandangi Betty yang duduk di depannya, nyalinya selalu ciut setiap kali ia hendak menyapa Betty.

“Setiap pagi sebenarnya Robert punya rencana. Rencana untuk mengucapkan sepatah kata, kata apa saja, pada Betty. Tapi ketika bertemu dengan Betty, lidahnya langsung mogok. Alih-alih bergerak, lidahnya hanya menempel pada dasar mulutnya, parkir di belakang gigi bawahnya, dan menjadi begitu berat dan kaku seolah terbuat dari batu.” (Halaman 27)

Robert dan Betty menjadi dekat berkat sapi-sapi milik ayah Robert. Ternyata Betty memiliki ketertarikan yang sama pada sapi-sapi seperti Robert. Tak butuh waktu lama akhirnya Robert dan Betty pun berpacaran.

Cerita berlanjut ke bagian dua, yang mengambil latar waktu mulai tahun 2003. Di tahun ini mengisahkan tentang Rhonda. Keturunan dari pemilik Wotton Dairy Farm. Rhonda memiliki seorang kakak laki-laki bernama Henry dan seorang pelayan sekaligus teman bernama Greg. Sejak kecil kemanapun Rhonda pergi selalu ada Greg di sampingnya. Greg bertugas menjaga dan membawakan barang-barang milik Rhonda. Rhonda bahkan lebih suka bermain bersama Greg daripada bersama kakaknya sendiri. Rhonda dan Greg tumbuh bersama, dan tanpa sadar perasaan yang semula hanya sebatas teman berubah menjadi cinta.

Ketika SMA, Rhonda pergi ke Boston untuk masuk sekolah seni dan melanjutkan ke perguruan tinggi yang ada di Boston pula. Greg tidak ingin Rhonda pergi tapi ia bukan siapa-siapa. Ia bahkan tak bisa menahan Rhonda untuk pergi dan berada jauh darinya. Greg tahu ia hanya salah satu pegawai di Wotton Dairy Farm, dan Rhonda tak mungkin mencintainya. Apalagi dengan kedatangan Brandon, laki-laki mapan yang membuat Greg menyerah pada cintanya.

Ketika membaca bab pertama novel The Lady in Red ini saya sempat berpikir bahwa ini merupakan novel terjemahan. Sebab gaya penulis saat bercerita terasa seperti novel-novel terjemahan. Apalagi latar tempat Fort Bragg membuat saya merasa novel ini adalah novel terjemahan.

Entah mengapa saya merasa sedang bernostalgia ketika membaca novel The Lady in Red yang membahas mengenai peternakan sapi. Saya jadi teringat sebuah permainan PlayStation berjudul ‘Harvest Moon’ yang sering saya mainkan ketika masih kecil. Permainan Harvest Moon mengajak pemainnya untuk bercocok tanam dan beternak. salah satu perternakan dalam Harvest Moon adalah peternakan sapi. Ketika bermain, saya seolah-olah sedang beternak sapi, seperti memberi makan dan minum sapi. Lalu setiap hari saya bisa memeras susu sapi untuk dijual. Kurang lebih kegiatan di Wotton Dairy Farm dalam novel ini seperti ketika saya bermain Harvest Moon. Saya bisa membayangkannya dan rasanya menyenangkan sekali.

Saya suka sekali latar Wotton Dairy Farm dalam novel ini. Jarang sekali penulis yang mengangkat latar peternakan sapi. Saat banyak novel mengambil latar perkotaan dengan segala barang-barang mewahnya, tapi novel ini dengan berani mengambil latar tempat peternakan sapi di Fort Bragg. Wotton Dairy Farm yang terisi sapi-sapi dan ladang luas ternyata bisa dikemas menjadi cerita yang sangat menarik.

Alur yang digunakan dalam novel The Lady in Red adalah alur maju. Novel ini dibagi menjadi dua bagian, yang pertama tahun 1920-1955 dan bagian dua pada tahun 2003-2012. Bagian pertama menceritakan tentang kisah Betty dan Robert, dan pada bagian kedua berkisah tentang Rhonda dan Greg. Novel ini seperti potongan puzzle yang perlu dirangkai. Ketika membaca novel ini saya bertanya-tanya mengapa perlu diceritakan menjadi dua bagian? dan mengapa selalu ada interlude setiap beberapa bab sekali? Semua pertanyaan itu terjawab ketika saya selesai membacanya dan saya senang sekali ketika berhasil menyatukan potongan-potongan puzzle cerita tersebut. Saya suka sekali dengan pemikiran penulis dalam merangkai cerita.

Untuk karakter dalam novel ini saya menikmati karakter Rhonda dan Greg. Dua karakter ini membuat saya gemas. Rhonda menyukai Greg tapi ia selalu saja bisa membuat rasa percaya diri Greg hilang dengan kata-katanya. Sementara Greg yang juga menyukai Rhonda tapi terlalu malu untuk menyatakan cintanya, karena ia tahu bahwa ia hanya pegawai di Wotton Dairy Farm. Ia tak pantas bersaing dengan laki-laki hebat di luar sana yang lebih pantas dengan Rhonda. Kebimbangan hati dan tarik ulur antara Greg dan Rhonda membuat cerita dalam novel ini semakin seru. Saya bahkan menanti-nanti bagaimana akhir untuk kisah Rhonda dan Greg.

“Apakah mungkin kau kehilangan seseorang yang tidak pernah jadi milikmu sebelumnya?” (Halaman 244)

Secara keseluruhan saya suka dengan tulisan mbak Arleen dalam novel The Lady in Red ini. Walau tema tentang cinta seperti ini sudah banyak digunakan, tapi latar peternakan sapi dan gaya penceritaannya membuat novel ini menjadi sangat menarik. Bagi saya novel The Lady in Red seperti mengingatkan saya kembali pada permainan Harvest Moon, dimana saya seolah sedang beternak sapi di Wotton Dairy Farm. Untuk Anda yang sedang jenuh dengan novel-novel berlatar perkotaan dan ingin mengintip kisah cinta Betty dan Robert, serta Rhonda dan Greg di balik Wotton Dairy Farm, saya merekomendasikan novel The Lady in Red untuk Anda baca.

Read full review: https://booknivore.wordpress.com/2016...
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
June 21, 2016
Ini adalah novel ke-2 Mba Arleen yang kubaca, setelah sebelumnya aku jatuh cinta dengan tulisannya Ally : All These Lives. Masih mengangkat tema yang sama, CINTA kamu akan dibuat penasaran dengan kisah The Lady in Red. Sebenarnya ide novel ini sederhana sekali, namun di tangan Mba Arleen ide sederhana itu dirajut menjadi sebuah kisah romansa yang tidak biasa. Unik sekali.

Alih-alih kamu langsung diajak berkenalan dengan para tokohnya bahkan masuk ke pokok masalah, kamu akan diajak untuk mengumpulkan keping demi keping puzzle dalam novel ini. Kepingan demi kepingan yang akan membentuk sebuah kisah yang utuh. Novel ini mengambil setting waktu yang cukup panjang sekali dari tahun 1920-2020 yang melibatkan beberapa generasi dari 3 keluarga yang berbeda.

Untuk itulah, novel ini dibagi menjadi 3 bagian besar untuk memudahkan kita membacanya.

Di bagian kesatu, 1920-1955 kita akan diajak ke sebuah peternakan sapi bernama Wotton Dairy Farm di Fort Braag. Dulu di Fort Braag, selain Wotton ada juga Stephens Farm yang sejak dulu saling bersaing. Di novel ini, kita akan bertemu dengan sosok Robert, anak pemilik peternakan itu. Robert lahir dan tumbuh di peternakan itu, membuatnya sangat mencintai peternakannya.

"Robert menyukai peternakan orang tuanya. Seluruh bagian dari tempat itu memberinya perasaan bahagia seolah tidak ada hal buruk yang dapat terjadi di tempat itu."

Robert tidak mempunyai banyak teman, sejak kecil juga Robert sudah bersekolah di Redwood High School. Namun, Robert lebih memilih menghabiskan waktunya mengerjakan banyak hal di peternakan orang tuanya daripada bermain dengan teman sebayanya. Karena Robert tidak suka dengan teman-temannya yang sombong dan selalu membanggakan harta yang dimiliki orang tuanya.

Semuanya berbeda sejak kehadiran Betty Liu, seorang siswi di sekolah Robert. Robert tak pernah melihat sebelumnya. Kehadiran Betty dengan rambut panjangnya membuat Robert tertarik. Sayangnya mereka tak pernah bertegur sapa,walau tempat duduk mereka saling berdekatan.

Akhirnya, peternakan dan sapi-sapi Robertlah yang mampu membuat Betty dekat dengannya. Tak menunggu waktu mereka akhirnya berpacaran dan akhirnya menikah.

Di bagian kedua, 2003-2012 kita akan diajak berkenalan dengan Rhonda Roth, cicit dari Betty Liu. Disini kita masih akan bertemu dengan Betty Liu yang sudah semakin tua namun masih cukup kuat untuk mengurus Wotton Dairy Farm. Sekarang sudah tidak ada lagi Stephens Farm, karena Robert, suaminya yang telah meninggal telah membelinya dan sekarang Wotton Dairy Farm sudah menjadi peternakan yang besar dan sungguh luas.

Disinilah kita akan diajak berkenalan dengan Rhonda dan Greg. Robert dan Greg tumbuh dan besar bersama-sama di Wotton. Namun, Greg tahu bahwa status mereka berbeda. Greg hanyalah pekerja di peternakan itu, seperti buyutnya dulu Burk. Dari generasi ke generasi Burk hingga Greg mengabdi disana.

Sedangkan Rhonda adalah majikannya. Namun, bagi Nana Betty, Greg bukanlah orang lain, Greg sudah dianggap keluarganya sendiri.

Karena tumbuh bersama, tak disangka mereka saling menyukai satu sama lain, namun terlalu ragu untuk mengakui. Greg dibuat patah hati berulang kali saat melihat Rhonda membawa laki-laki lain,termasuk Brandon tunangannya.

Seakan takdir sedang bermain di antara keduanya, ketika mereka ingin saling jujur ada saja hambatan yang datang. Entah itu dari Greg maupun Rhonda sendiri.

Semuanya berjalan seperti biasa, ketika Greg sudah merelakan Rhonda. Ternyata badai itu datang, Henry tiba-tiba meninggal, Wotton Dairy Farm terancam dijual hingga Nana Betty yang akan diracun? Ada apa sesungguhnya? Bagaimana akhir kisah Rhonda dan Greg?

"Apakah mungkin kau kehilangan seseorang yang tidak pernah menjadi milikmu sebelumnya?"
Jujur aku bingung sekali bagaimana menulis review novel ini tanpa spoiler ending maupun jalan cerita terlalu banyak. Banyak hal sekali yang ingin kutulis dari karya terbaru Mba Arleen ini. Bagaimana aku dibuat penasaran sejak membuka halaman awal novel ini hingga akhirnya menutup lembaran terakhir.

Sejak awal aku mengira aku akan disuguhkan sebuah kisah cinta biasa, namun tak sebiasa yang kukira. Setting waktu yang cukup panjang, dan setting tempat yang berbeda membuat novel ini menjadi begitu berwarna. Mba Arleen mampu merajut kisah dengan rentang waktu yang cukup panjang ini menjadi sebuah kisah yang menarik untuk dinikmati. Tokoh dalam novel ini juga cukup banyak, tapi memang fokus pertama ada di Robert dan Betty kemudian di fase kedua buku hingga terakhir ada Rhonda dan Greg.

Jika Robert-Betty mempunyai kisah cinta yang mulus tanpa hambatan yang berarti walau status sosial mereka berbeda, hal ini tidak berlaku bagi Rhonda dan Greg. Aku dibuat gregetan sekali dengan hubungan mereka. Jelas-jelas orang awam pun tahu cinta yang terpancar di antara keduanya, tetapi ada saja halangan untuk mereka bersatu. Aku dibuat deg-degan menanti kelanjutan kisah mereka.

Yang unik dari novel ini, di beberapa bagian saat kita membaca novel ini, ada interlude-interlude yang menceritakan dongeng si topi merah. Aku dibuat menebak-nebak apa hubungannya antara dongeng si topi merah itu dengan kisah dalam novel ini. Apa benang merahnya dan apa yang ingin disampaikan? Ternyata semakin lama aku membacanya, aku berhasil menebaknya juga dan ternyata dugaanku benar.

Mba Arleen dengan gaya menulisnya yang layaknya membaca sebuah karya terjemahan membuatku tak kuasa untuk berhenti membaca hingga halaman terakhir. Ada bagian yang membuatku tersenyum, jengkel, bahkan gregetan sendiri saat membacanya. Mba Arleen sukses mempermainkan emosiku saat aku membaca novel ini, membuatku larut dengan kisah The Lady in Red.

Salut sekali buat Mba Arleen yang juga berani mengambil setting tempat yang berbeda, setting yang jarang diambil oleh karya penulis lokal yang membuat novel ini punya citarasa tersendiri. Aku dibuat terkagum-kagum dengan Wotton Dairy Farm, Mba Arleen cukup detail sekali menggambarkannya sehingga aku bisa membayangkan setiap sudut dari peternakan itu. Ah jadi pengen jalan-jalan, dan pengen nyobain minumin bayi-bayi sapi sepertinya menarik sekali.

Setiap karakter dalam novel ini juga menarik dan kuat membuatku sulit sekali memilih mana yang paling kusukai. Namun, jika disuruh memilih aku sudah jatuh cinta dengan Betty Liu sejak awal kemunculannya dalam novel ini.

Overall, kamu mencari sebuah kisah romansa dan keluarga dengan setting peternakan sapi, kamu bisa mencoba membaca The Lady in Red. Bersiaplah untuk jatuh cinta dengan kisahnya :)
Profile Image for Gabriella Halim.
194 reviews13 followers
January 25, 2018
more on : https://whatsgabyread.blogspot.com/20...

Novel ini, novel kedua karya Arleen yang aku baca. Kukira awalnya ini bercerita tentang 4 sahabat yang sedang jatuh cinta. Tapi kemudian aku salah. Hahaha.. Ternyata mereka sudah jadi cicit. Novel ini dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian awal tentu saja bagian Betty dan Robert. Bagian kedua, adalah bagian Rhonda, bagian ketiga adalah bagian Greg, dan yang terakhir adalah bagian Brandon. Pacar Rhonda yang hampir menikah dan membuat kesalahan besar.
Profile Image for Melinda.
174 reviews5 followers
October 3, 2017
Ini cerita 2 generasi yang terpisah jauh... nenek buyut dan cicit. Sebenernya seru, tapi rasanya penghubung kisah 2 generasi ini masih kurang kuat.
Kisah cinta yang dibumbui dendam masa lalu.

Lumayan buat bacaan di kereta 😬
Profile Image for Salwa Isheeqa.
10 reviews1 follower
February 15, 2021
Kisahnya cukup menarik. Perjalanan cinta dan kehidupan yang tidak terlalu monoton. Tokoh kesukaan saya di sini adalah sang tokoh utama, Betty Liu. Menurut saya Betty Liu adalah wanita yang pintar, cantik dan tegas. Betty Liu mengingatkan saya pada seseorang, Silvana Mandeville.
Profile Image for Lucy1188.
48 reviews
November 23, 2019
Cerita buatan kak Arleen memang tidak pernah membosankan. Gaya bahasanya enak dibaca.
Profile Image for Lisa Sentani.
7 reviews8 followers
July 12, 2016
Review full on : http://lisasent.blogspot.co.id/2016/0...

Novel ini mengangkat tema yang masih sama dengan novel kak Arleen yang pertama, yakni tentang Cinta, Romansa dua insan –bahkan bisa jadi lebih– yang dibumbui dengan konflik kehidupan, menariknya dari novel ini adalah tidak hanya menceritakan satu generasi, tapi beberapa generasi.

Tebal tapi tidak jadi masalah ketika dapat membuat pembacanya –termasuk saya– selalu dibuat penasaran untuk lanjut membuka halaman demi halaman.

Berlatar belakang di dunia pertanian membuat saya memberikan nilai plus untuk novel ini, karena dengan membaca novel ini tidak hanya pelajaran mengenai cinta dan kehidupan yang bisa diambil tapi ada juga ilmu pertanian –khususnya peternakan– Saya yang juga kuliah di jurusan pertanian jadi semakin bangga ketika novel Kak Arleen ini bercerita mengenai kehidupan tokoh yang juga berlatar pertanian.

Salut untuk pemikiran kak Arleen yang di luar dugaan ini.
Profile Image for Bintang Ach.
94 reviews
July 13, 2016
Buku ini termasuk tebal, ukuran font-nya pun cukup kecil, tapi sungguh… tidak ada kata bosan untuk membacanya. Aku suka sekali dengan ide penulis yang membagi cerita menjadi beberapa bagian. Termasuk interlude. Awalnya aku dibuat bingung, kenapa harus ada interlude di beberapa bagian? Ternyata saat mencapai ending, pertanyaan itu terjawab sudah. Benar-benar dibuat kagum. Sebagai buku pertama dari penulis yang aku baca, The Lady In Red berhasil meninggalkan kesan tersendiri. Mulai dari kisah para tokohnya yang menyentuh hati, konfliknya yang benar-benar merasuk, dan beberapa surprise yang sempat dihadirkan oleh penulis.

Review selengkapnya: http://ach-bookforum.blogspot.co.id/2...
Profile Image for Halida Hanun.
325 reviews13 followers
August 21, 2016
Ada 3 bagian cerita di buku #TheLadyinRed yang saling berkaitan. Sampulnya yang sederhana dan berwarna hitam-merah sehingga terkesan misterius ini, membuat aku penasaran akan isi bukunya. Begitu baca sinopsisnya, aku sedikit mengernyitkan dahi. Dalam sinopsis, diberitahukan tokohnya adalah anak SMA. Lalu mengapa judulnya menggunakan kata Lady? Lalu saat aku baca ceritanya, hingga di bagian pertama aku mulai tahu siapa si Lady ini. Tapi tetep belum menjawab pertanyaanku. Apalagi di bagian kedua sama sekali tidak ada klu. Namun, menjelang akhir cerita akhirnya aku menemukan peran si Lady in Red ini.
Profile Image for Afifah.
410 reviews16 followers
November 18, 2017
Suka banget sama cerita di buku ini. Ada begitu banyak tokoh dengan latar belakangnya masing-masing. Kisahnya berjalan cepat sekaligus lambat, dengan gaya menulis Arleen yang deskriptif namun tetap mengalir. Terdengar kontradiktif, ya? Tapi memang seperti itu rasanya untukku ketika membaca buku ini.

4.5 dari 5 bintang untuk buku yang indah ini :)
Profile Image for Elvina.
3 reviews
June 25, 2016
Ada beberapa kata yang salah/typo. Beberapa bagian dari ceritanya mudah ketebak. Tapi dari keseluruhan ceritanya menarik. Liked it :)
Profile Image for Dian Shinta.
170 reviews
August 10, 2016
2.5 bintang

Ceritanya: biasa
Alurnya: lumayan
Konfliknya: ngga mendalam
Bahasanya: lebih mending daripada s*nshine b*comes y*o
Profile Image for Metta Diana.
55 reviews
September 29, 2016
There are 3 stories but they moved into 1 main story and a main point. This is a modern-classic story to me. Recommended
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.