Setelah malam penganugerahan Hero of The Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein beserta kedua anak gadis mereka Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasutri penyatu jembatan yang terpisah, pasangan yang dirundung kebahagiaan, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Rangga, tugas belajar dan riset telah menunggu setia di Wina.
Out of the blue, Cooper dari Global NewYork TV hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan sebuah penawaran mustahil tertolak oleh Hanum : menjadi produser sebuah acara Global NewYork TV yang meliput dunia Islam dan Amerika.
Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namun mengintai mahligai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.
Akankah Hanum mampu mengelak dari pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya?
Atau jangan-jangan impian yang menjadi kenyataan, tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?
Hanum Salsabiela Rais, adalah putri Amien Rais, lahir dan menempuh pendidikan dasar Muhammadiyah di Yogyakarta hingga mendapat gelar Dokter Gigi dari FKG UGM. Mengawali karir menjadi jurnalis dan presenter di TRANS TV.
Hanum memulai petualangannya di Eropa selama tinggal di Austria bersama suaminya Rangga Almahendra dan beke rja untuk proyek video podcast Executive Academy di WU Vienna selama 2 tahun. Ia juga tercatat sebagai koresponden detik.com bagi kawasan Eropa dan sekitarnya.
Tahun 2010, Hanum menerbitkan buku pertamanya, Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta. Sebuah novel biografi tentang kepemimpinan, keluarga dan mutiara hidup.
saya nggak tahu kenapa novel ini harus menggunakan nama asli kedua penulis sebagai nama tokoh utamanya. karena baca ceritanya memang fiksi banget. drama-dramanya, konfliknya, pemaparan masalahnya... terasa banget kalau setting-an. barulah di epilog saya tahu kalau sebagian cerita memang mengandung unsur real; misalnya Andy Cooper diambil dari sosok Anderson Cooper, jurnalis Amerika yang memang menjadi idola bagi Hanum. cuma ya gitu, di sini penulis semena-mena menggambarkan Andy Cooper sebagai seorang yang antagonis banget, bikin jadi berpikir apakah si Anderson betulan senista itu? padahal kalau baca di epilog *sori sedikit spoiler* dosa si Anderson ya "cuma" dia adalah seorang gay. maksud saya, tidak dijelaskan sosok Anderson (yang dijadikan sebagai inspirasi Andy) adalah orang yang ambisius dan kurang punya hati demi memenuhi tuntutan rating tinggi. saya merasa Hanum dan Rangga berusaha keras sekali memaparkan tentang masalah yang dihadapi suami-istri dengan cita-cita masing-masing dan keinginan menjaga keutuhan rumah tangga. di antara kedua tokoh utama, nggak ada yang bikin saya memihak salah satunya. Hanum dengan ambisinya menjadi jurnalis keren, dan Rangga dengan idealismenya sebagai seorang suami. padahal ya bisa lho dibicarakan baik-baik, apakah mereka berpisah dulu selama sebulan atau gimana gitu, nggak perlu pakai ngambek-ngambekan nggak jelas. sekali lagi kisah yang bikin saya mikir ini benaran fiksi, harusnya banyakin aja unsur fiksinya terutama nama-nama tokoh dan pemaparan masalah. sebenarnya saya masih sempat ingin menyematkan 3 bintang, tapi karena dramanya semakin lebay, turunlah setengah. tapi begitu tiba di epilog dan penulis terasa berkotbah banget, turun setengah lagi jadi 2 bintang saja. lepas dari ini adalah novel religi dan saya bukan penganut agama yang sama, tapi epilognya terasa melelahkan dengan segala ceramahnya tentang apa yang ingin Hanum sampaikan di novel ini. singkatnya: epilognya terasa menggurui.
"Andaikata seorang anak Adam telah memiliki tanah sebanyak satu gunung, tentu ia akan berusaha memiliki dua gunung. Dan andaikata ia telah memiliki tanah dua gunung, ia akan berusaha memiliki tiga gunung. Demikian tidak ada yang bisa menghentikan hasrat impian manusia, sampai gundukan tanah lah yang menguburnya nanti"
Ya buku ini menggambarkan bahwa betapa tamaknya manusia, ambisi, karir, "rating & share" serta peliknya dunia media yang turut membawa saya terbang ke cita-cita masa lalu saya untuk menjadi seorang jurnalis, seorang "TV news anchor" di stasiun TV terkemuka hihihi.. Di sini detail digambarkan bahwasanya media bisa dipelintir sejuta rupa demi hanya menaikkan rating&share, tanpa memperdulikan content, hati nurani, dan kebijakan hakiki. Penggambaran dunia kerja di media televisi sukses dituangkan secara detail dan nyata oleh Hanum, ya mungkin krn penulis sendiri dulunya pernah bekerja menjadi jurnalis di salah satu stasiun tv swasta. Good job untuk penggambaran profesi dan lingkungan kerja yg begitu pas dan detail.
Selain tentang media, ketamakan, ambisi, karir, dan materi, buku ini pun mengisahkan bagaimana sepasang suami istri dengan ego masing-masing berusaha mempertahankan prinsip, harga diri, dan cita-citanya masing masing. Bagaimana kebahagiaan itu sejatinya tidak hanya berasal dari materi atau pembuktian diri atau pencapaian ambisi, namun berasal dari hati. Bagaimana seseorang berusaha dengan keras untuk menggapai sesuatu yang dianggap besar namun penuh ketidakpastian tapi di sisi lain ia tidak sadar telah membuang atau mengorbankan sesuatu yg sangat penting dan hakiki yang sudah pasti dimilikinya.
Secara keseluruhan buku ini Bagus, namun saya agak sedikit kurang sreg dengan salah satu scene di ending buku ini. Menurut saya pribadi, adegan "kissing" di ending cerita itu justru tidak memperindah keharuan dan kesyahduan. Seharusnya tanpa adegan "kissing" pun, hanya sekedar berpelukan atau cium di kening menurut saya itu akan jauh lebih indah.. But again it is just my humble opinion :)
Overall saya suka bukunya, singkat karena hanya sekitar 224 halaman, namun padat... Kisah 3 minggu Hanum-Rangga dan teman-teman (Brown, Azima, Sarah, Layla, Sam, Cooper, dll) di kota paling sibuk dan paling prestise sedunia (NYC) terangkum lugas dalam buku ini.. Well Done Hanum-Rangga! Satu lagi fiksi menarik terlahir, can't wait for "the Converso"!
“Dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Tempat untuk bermegah, berbangga di antara kamu. Semula akan tampak indah seperti tanaman yang tersapu hujan, tapi kemudian mongering hingga kuning kerontang. Dan semua hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid:20)
Novel Faith and the City yang ditulis oleh duo favorit saya, yaitu Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini menawarkan suasana dan cerita yang berbeda dengan buku-buku karangan Hanum-Rangga sebelumnya seperti 99 Cahaya di Langit Eropa, Berjalan di Atas Cahaya, maupun Bulan Terbelah di Langit Amerika. Dalam novel dengan tebal 227 halaman terbitan PT Gramedia Pustaka Utama (yang saya selesaikan dalam satu malam persis setelah paketnya datang dari toko online) ini, selain akan tetap menyajikan keindahan-keindahan dan keluhuran ajaran Islam, kita juga akan dibawa ke dalam dunia media, jurnalistik. Ternyata, di balik gemerlapnya lampu studio, sorot kamera dan belitan kabel-kabel dan mikrofon, ada sisi gelap dari dunia media. Saat rating dan share menjadi dewa yang menjanjikan pundi-pundi, maka tak jarang orang-orang di balik layar kaca harus menutup mata dan mengiris hati nurani. Dan sayang sekali Hanum sempat disilaukan oleh gemerlap dunia itu. Setelah malam penganugerahan Hero of the Year untuk Philippus Brown di CNN TV, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Philippus Brown dan Azima Hussein (Julia Collins) beserta kedua anak gadis mereka, Sarah Hussein dan Layla Brown. Hanum dan Rangga sebagai pemersatu mereka, seketika ikut menikmati media frenzy. Anderson Cooper yang membawakan acara CNN Heroes, sekaligus orang yang diidolakan Hanum setengah mati hadir dalam kehidupan Hanum dan Rangga. Melalui Global New York TV (GNTV), ia menawarkan kesempatan emas bagi Hanum: menjadi produser acara GNTV yang meliput dunia Islam dan Amerika. Hanum bekerja keras, berusaha untuk memenuhi target yang ditetapkan oleh bos barunya, Andy Cooper. Bekerja di New York, memiliki acara sendiri tentang Islam, dan bekerja di bawah seorang idola adalah impian terbesar bagi Hanum, yang bahkan Rangga pun tak berani menyentuh dan mengusik impian itu. Ia tidak sadar bahwa Cooper hanya memanfaatkannya. Melalui buku ini, kita akan belajar bagaimana membuktikan kalau bad news is a good news yang dianut oleh media mainstream tidaklalah benar. Bad news is a bad news, and good news is a good news. Namun, jika ambisi sudah menutupi mata hati, maka segala cara akan dihalalkan demi mengejar share dan rating yang tinggi, bahkan kadang mempertaruhkan harga diri, bahkan ilahi. Kita juga akan belajar dari seorang Rangga, seorang suami yang sangat menyayangi istrinya. Bagaimana ia berusaha untuk mengalah demi impian sang istri, membunuh kesepian dan kebosanan yang ia alami selama 3 minggu Hanum bertugas di GNTV, tetap mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang positif di perpustakaan Philippus Brown. Ia tidak sedikitpun bersikap sebagai seorang suami yang egois dan bossy, meskipun tugas untuk menyelesaikan gelar Ph.D tengah menghadangnya. Namun, saat kesabaran Rangga berpadu dengan ambisi Hanum, ditambah dengan bumbu-bumbu prasangka, kecemburuan, dan hasrat Hanum untuk membuktikan bahwa ia bukanlah seorang jurnalis kelas nyamuk, ecek-ecek, smelekethe, beginner’s luck, atau apalah itu untuk mewujudkan eksistensi diri di jantungnya dunia, New York City, bersanding dengan impian Rangga yang masih tertinggal di Wina, mampukah mereka tetap bersama? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya? Atau jangan-jangan… impian yang menjadi kenyataan tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan? Mari kita telusuri petualangan Hanum dan Rangga bersama teman-teman mereka sekali lagi di New York City, dalam lembaran-lembaran Faith and the City! Yakinlah, saat mulai membaca novel ini, kamu tidak akan sabar untuk menyelesaikannya hingga halaman terakhir. Dan pada akhirnya, kita akan menemukan bahwa dunia memang hanyalah kesenangan yang menipu, seperti yang telah difirmankan-Nya.
Ditulis di Depok, 7 Desember 2015 Diposting tanggal 8 Desember 2015 (menunggu kuota bonus BOLT! XD )
Faith and the city, novel yang menyuguhkan gemerlap kehidupan para penggila kerja di New York dengan berbagai ambisi semu mereka terhadap dunia. Keren. Banget. Hanum selalu bisa membuat pembacanya larut dalam cerita dengan gaya bahasanya yang khas. Penggambaran karakternya pun sangat jelas. Diksinya keren dan berbeda dari penulis lainnya, membuat karyanya selalu unik dan menarik. Gaya hanum dalam memaparkan cerita sangat detail dan mengalir, enak sekali untuk dibaca. Namun tema yang diangkat hanum kali ini sudah cukup mainstream menurut saya. Novel ini membahas mengenai salah satu sisi gelap dunia media dalam memenuhi pencapaian tertingginya berupa rating dan share. Bagaimana seorang Andy Cooper yang dianggap sebagai lobbyist sejati ternyata acap kali mengesampingkan hati nurani hanya demi melejitnya rating. Cooper dengan mudah membolak-balik hati bawahannya dengan iming-iming bonus yang sangat menggiurkan. Menarik memang, tapi menurut saya sisi ini sudah pernah terekspos dan sudah banyak orang yang mengetahuinya. Semua konflik yang terjadi pun berakhir sejalan dengan keinginan karakter hanum sehingga ceritanya mudah ditebak dan kurang membuat penasaran. Tidak banyak juga pengetahuan baru yang saya dapatkan dari novel ini, tidak seperti novel karya hanum sebelumnya yaitu 99 cahaya di langit eropa yang menuturkan begitu banyak peradaban islam dalam kemasan seperti cerita fiksi sehingga saya yang tidak begitu suka membaca sejarah jadi tertarik untuk mengetahuinya. Meski begitu, ada banyak sekali nilai dan quotes inspiratif yang bisa saya petik dari novel ini. Hanum yang mengajarkan mengenai mimpi, ambisi dan eksistensi. Rangga dengan segala keikhlasan dan kesabarannya. Faith dengan kelembutan hatinya. Azima dengan keteguhan hatinya. Dan karakter lain yang juga memegang nilainya masing-masing sangatlah menginspirasi. Recommended!
Saya sudah membaca novel ini, jika harus dibandingkan menurut saya memang lebih bagus buku yang terdahulu, jika ada yg berkata buku ini terlalu memaksa, mungkin menurut saya buku ini "sedikit" memaksa, fiksi.. namun sepertinya penulis ingin membuatnya nampak nyata, tapi menurut saya malah menjadi sepertti novel drama yg berlebihan, tapi kalau kita melihat hanya pada kacamata jeleknya saja, sampai habis pun akan terlihat jelek isinya. Coba kita lihat dlm kacamata baiknya, ada sisi sisi yg saya suka dalam buku ini, salah satunya bagaimana puncak konflik yg terjadi antara hanum dn rangga, dan bagaimana penulis menjelaskan peleraian konflik tersebut, jujur jika memang ini nyata, saya selalu membayangkan wah alangkah romantisnya pasangan ini. Saya semakin dibuat penasaran tatkala rangga dan hanum memiliki jalan dan tujuan yg berbeda, namun keduanya ingin berdampingan dlm mewujudkan mimpi masing2, namun disisi lain saya sudah dpt menebak ending yg seperti apa yg dipilih penulis untk buku kali ini. Ada kalimat yg menjadi favorite saya pada halaman 224 pd paragraf pertma, yaa kami memang kecewa karna isi buku ini hanya sekedar mimpi penulis, tp sungguh kita akan dibuat lebih kecewa dengan dunia yg kita anggap nyata, ternyata hanya ilusi. Ah satu lagi, saya sempat heran dgn penulis, mengapa menuliskan adegan ciuman dilatar belakang yang sejatinya tempat ramai? Sedangkan baru saja disinggung oleh sam bahwa muslim tidak berciuman diruang publik.
Yah apapun itu, faith and the city menyadarkan ku bahwa sejatinya aku pun hingga kini masih tertidur dlm dunia nyataku
"Singkirkan dulu apa itu hati, perasaan, nurani atau whatever bullshit you name it, Honey! Ini media. You live in this industry. This is industry of HISTERIA! You live IN THAT!"
ketika melihat tulisan ini saya langsung tertarik membaca nya dan bertanya bagaimana bisa kita hidup tanpa hati, perasaan dan nurani?"
Hanum dan Rangga lah yang bisa membuktikan bahwa hidup akan menjadi lebih indah jika kita memiliki hati, perasaan dan nurani. Buku inilah jawabannya.
Bukan Hanum dan Rangga, jika tidak bisa mengemas sebuah buku dengan sisipan dakwah yang segar dan mudah diterima oleh golongan mana pun. Karena setiap lembar berhamburan pesan-pesan yang sangat menggugah hati dan pengetahuan akan indahnya kota New York.
Dari segi tulisan dan alur memang sudah tidak diragukan lagi bagusnya, bagian menarik dari buku ini ada pada setiap lembar yang ditulis pasangan suami istri ini. Dari segi cover sama dengan buku-buku sebelumnya yang selalu eye catching dengan warna tosca, warna yang diidentik oleh para hijabers ini sudah dipastikan sesuai dengan target market dari buku ini. Pertama kali melihat cover buku ini saya sudah jatuh cinta apalagi setelah saya membacanya, seraya selalu dzikir dan doa agar bisa sekuat dan tangguh Hanum dan mendapatkan imam seperti Rangga yang sabar, setia dan selalu menjauhkan pada kegelapan.
review lengkapnya bisa Anda lihat di diahsally.com
Hmm, lebih tenang baca epilognya...chapter2 sebelumnya memang sesuailah kalau disebut mimpi yang melelahkan. Karena melewati setiap barisnya rasanya melelahkan kadang skip beberapa paragraph..sebagaimana orang yang sedang bermimpi, ada saat dimana kita ingin cepat melewati suatu fragmen yang tidak kita inginkan tapi tak kuasa mengendalikan alam bawah sadar.
Judul Buku: Faith and the City Penulis: Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ISBN: 978-602-03-2433-3 Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Desain Cover: Orkha Creative Layout Isi: Ayu Lestari Tahun Terbit: 2015 Tebal: 227 halaman
Perjalanan Hanum dan Rangga tidak berhenti pada malam penganugerahan Hero of the Year. Setelah malam yang penuh keharuan dengan rahasia-rahasia mengagumkan yang satu demi satu terkuak itu, langkah pasangan suami isteri ini digiring oleh takdir sekali lagi, untuk tetap tinggal di kota super sibuk, New York. Keduanya dihadapkan dengan pilihan antara impian sejak lama Hanum yang tiba-tiba menjadi nyata atau masa depan Rangga dengan Ph.D-nya, juga perasaannya sebagai suami, sebagai sang Imam.
Walau tidak disadari pada awalnya, keputusan Hanum yang memilih mengejar mimpinya bekerja dengan sang idola sejak lama, Andy Cooper, ternyata menjejakkan rasa sesak di dada sang kekasih, Rangga, yang bersikap seolah setuju tapi di dalam hati menolak. Sayangnya, Hanum asyik dengan "the city" hingga sedikit lupa akan "faith" yang dihadiahkan Allah kepadanya. Namun, di situlah takdir bekerja. Saat kita diberi kesempatan memilih, bukan hanya resiko yang akan kita dapatkan, tetapi pelajaran yang bisa kita ambil agar tidak mengulangi pilihan yang salah itu sekali lagi. Dalam kesibukan mengejar mimpinya, Tuhan pun mempertemukan Hanum dengan "faith" yang lain, sahabat sekaligus pengingat, yang membantunya untuk kembali sadar akan betapa berharganya sang suami, pun mengingatkannya bahwa keyakinan dan kepribadiannya sebagai seorang muslimah haruslah tetap mewarnai setiap jejak langkahnya, dalam keluarga, bahkan karir. Sementara Rangga, segala pengorbanannya, termasuk rela makan mie instan di apartemen sembari menunggu Hanum pulang dari kantor, menunjukkan bahwa Hanum akan sangat menyesal jika mengabaikan sosok suami sepertinya. Walaupun harus menahan kegelisahannya sendirian, Rangga berhasil membuat Hanum yakin untuk maju dengan mimpinya seolah tidak terjadi apa-apa dengan belahan jiwanya itu. Namun, seperti Tuhan mengutus sahabat untuk Hanum, Rangga juga ditunjukkan kebesaran-Nya itu. Hingga akhirnya segala masalah yang seolah hendak menjauhkan jarak antara dua insan ini gagal dan runtuh oleh keyakinan keduanya akan cinta, cinta Tuhan yang dituangkan dalam hati mereka masing-masing. Ketika selesai membaca buku Hanum dan Rangga yang sebelumnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika, apa yang saya dapatkan melebihi bayangan saya tentang kisah itu. Sangat mengharukan, penuh akan rahasia-rahasia yang ketika terbuka langsung membuat saya menahan napas sesaat karena terpukau atau kagum, juga kaget. Apalagi banyak fakta yang berkaitan dengan sejarah Islam dan Amerika yang belum pernah saya ketahui, terutama terkait peristiwa hancurnya gedung WTC. Dan saya sangat yakin cerita ini nyata. Dari situlah, saya berharap novel Faith and the City ini bisa membuat emosi dan ekspresi saya seperti saat membaca BTDLA. Namun, di sini, kisah yang disuguhkan seakan nyata di beberapa bagian dan fiktif di bagian lainnya. Kisahnya juga kurang meledakkan emosi saya. Saya sempat sedikit kecewa, sedikit.
Tapi, sudah saya katakan, bukan? Takdir selalu diiringi dengan pelajaran yang bisa diambil. Di sini saya belajar, jika mempunyai mimpi, tidak ada yang harus dilakukan lagi, selain mengejarnya. Tapi, sebelum mengejarnya, lihatlah kembali ke sekitar kita, renungkanlah dalam-dalam. Apakah mimpi ini akan membuat kita bahagia dan orang yang kita sayangi juga bahagia? Atau kita bahagia sementara orang yang kita sayangi terluka? Apakah jalan mewujudkan mimpi ini akan menggoyahkan keyakinan kita atau makin meneguhkannya? Dan takdir tidak membiarkan saya kecewa hingga akhir. Benar kata penulis. "Anda mungkin kecewa Faith and the City hanyalah dunia mimpi kami, tapi sungguh kita akan dibuat lebih kecewa dengan dunia yang kita anggap nyata, ternyata hanya ilusi." Kalimat ini mengingatkan saya, bahkan dari sesuatu yang fiktif, kita bisa belajar banyak hal, walau tak sebanyak yang ada di dunia nyata. Seperti dalam buku ini, satu pelajaran lagi, bukan sebuah negara, kota, apalagi sebuah gedung kantor ternama yang membawa kita mewujudkan mimpi, tapi sebuah keyakinan dan cinta yang tulus. Faith and the City mengajarkan kita bahwa tidak ada yang salah dengan mengejar mimpi, selama kita bisa menjaga cinta dan keyakinan kita, terutama keyakinan kita kepada Yang Maha Menciptakan.
Assalamualaikum mba Hanum dan Mas Rangga.. saya mau ngasih hasil kesimpulan dan beberapa saran dari skripsi saya yang berjudul Analisis wacana pesan moral dalam novel faith and the city karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Setelah saya simpulkan sesuai dengan analisis Van Djik, peneliti kemudian mencoba menarik kesimpulan dari keseluruhan hasil wawawancara dengan hasil menggunakan teori analasis wacana Van Djik. Apabila kita melihat dari segi judul Faith and The City maksud dari judul ini adalah apakah sang tokoh utama akan terlena dengan gemerlapnya kota dan melupakan iman dan keyakinan ataukah sebaliknya. Setelah penulis baca keseluruhan novel dan hasil wawancara sub Tema dari novel ini menceritakan tentang kegundahan pengarang yang kala itu dilema antara memilih karir atau keluarga. Secara lebih besar ini juga dilema antara keimanan dengan matrealisme. Atau kehidupan akhirat ataukah juga kehidupan dunia. Namun apabila kita melihat temanya novel ini bertujuan untuk mengcounter isu islamophobia yang telah trand di Negara barat. Jadi menurut penulis pesan moral yang diangkat pengarang dalam novel Faith and The City mengandung nilai tauhid. Dimana tauhid ialah mengesakan Allah sebagai sang pencipta alam semesta ini yang mengatur segala hajat hidup manusia di muka bumi. Dalam novel digambarkan bahwa tokoh utama menyandarkan dirinya kepada Allah tidak kepada materi, bahkan pada atasannya sekalipun. Ia berkeyakinan bahwa Allah lah sutradara dalam hidup ini. Kesuksesan yang didapat ialah hasil dari kerja keras dan doa kita yang selalu dipanjatkan kepada Allah agar impian dan keinginan yang kita inginkan tercapai.
kemudian sarannya 1. Dibagian Epilog merupakan bagian penjelas dari keseluruhan novel tersebut, alangkah baiknya dibagian tersebut menggunakan bahasa yang sederhana saja agar mudah dipahami. Padahal dibagian tersebut sudah baik sekali sebagai penjelesan dari novel tersebut. Jadi pembaca tidak akan bertanya-tanya maksud dan arah tujuan dari novel Faith and the City. 2. Tokoh-tokoh lanjutan dari novel sebelumnya seperti Brown dan Azima seharusnya dijelaskan secara singkat, siapa si Brown dan Azima, kenapa keduanya bisa bertemu dan sampai bersahabat dengan Hanum dan Rangga. Agar pembaca yang belum membaca novel sebelumnya tidak terlalu bingung dengan tokoh-tokoh lanjutan tersebut. 3. Pemakaian kata ganti orang ke 3 dinovel ini lebih banyak, ketimbang dinovel yang sebelumnya, penggunaan kata ganti orang ke 3 tersebut membuat seolah-olah karakter tokoh utama tidak sekuat jika menggunakan kata ganti orang pertama. Karena jika menggunakan kata ganti orang pertama, pengarang seolah-olah benar ada didalam novel atau buku tersebut, karena nama tokoh dalam novel memang disamakan dengan nama pengarang. Jika menggunakan kata ganti orang ke 3, seolah-olah pengarang menceritakan orang lain. Padahal jika penulis baca karya-karya sebelumnya pengarang lebih menonjolkan tokoh utamanya sesuai dengan sipengarang, yang memang menulis novel sesuai dengan pengalaman pribadinya. 4. Semoga dinovel lanjutannya, cerita tentang sejarah Islam di Negara Eropa dan Amerika, semakin banyak, karena memang salah satu daya tarik dari novel sebelumnya ialah diselipkannya cerita tentang sejarah-sejarah Islam tempo dulu di Negara Eropa dan Amerika yang kadang membuat pembacanya tercengang akan fakta yang disajikan didalam novel tersebut.
sekian kesimpulan dan saran yang bisa saya berikan.. semoga berkenan ya mba Hanum dan Mas Rangga saya tunggu karya-karya terbarunya ya :)
Time has a precious way to show what's really precious to our life (Phillipus Brown)
"Kamu enggak sadar? kamu udah dimanfaatkan oleh dunia yang tidak memberimu apa - apa, dan melupakan orang yang memberimu apa - apa..... " (Rangga to Hanum)
Entah mengapa setelah membaca buku ini... hatiku tersentil sedikitnya oleh kisah yang benar2 meledakan bendungan air mata. Alur ceritanya sangat indah, dan sekali lagi entah mengapa diriku seolah merasakan apa yang dirasakan oleh seorang Rangga. Pesan yang kudapat dari kisah ini ialah: "kebahagiaan yang hakiki tidak akan didapatkan dari dunia yang fana, namun kebahagiaan sejati akan didapat dari dalam hati.."
"How beautiful this is worldly life, but not a soul shall remain, we all come into this world, only to leave it one day" (Maher Zain)
Membaca buku ini, membuatku baper...geregetan dengan hanum, apalagi saat akhir-akhir cerita. sampe ikut nangis bacanya. Ini bener-bener menguras emosi deh...kisah kegigihan hanum dengan impiannya, kisah kesetiaan dan pengertian Rangga , Kisah Andy Cooper dengan GNTVnya. Atau sikap low profilnya Philipus Brown..lengkap deh.. membuat buku ini memang layak ditunggu oleh para pembaca
Novel ini diawali dengan hiruk-pikuk wartawan yang meminta wawancara ekslusif kepada Philipus Brown dan Azima, tetapi mereka sepakat untuk menolak tawaran-tawaran tersebut. Rangga dan Hanum memutuskan untuk kembali ke Wina karena tugas mereka telah selesai, tetapi saat chek in British Airways di bandara JFK, mereka dikejutkan oleh kedatangan Andy Cooper yang menawarkan Hanum sebuah kontrak kerja di Global New York TV (GNTV). Hanum langsung menerima tawaran tersebut, ini adalah impiannya bekerja sebagai jurnalis di kota New York, apalagi yang menawarkan Andy Cooper wartawan idolanya sejak belia. Bahkan tanpa meminta pendapat dari suaminya Hanum menyetujui kontrak kerja selama tiga minggu di GNTV. Dan dari bandara ini semua berawal sebuah kisah yang menguji kesetiaan, impian dan keyakinan. Andy Cooper memberikan Hanum sebuah program TV tentang muslim di Amerika yang bernama Insights Muslims
“Insights Muslims. Kau harus mencari profil muslim yang kontroversial. Wawancara kehidupan mereka, perkara merreka,perasaan mereka dengan banyak fenomena yang memojokan islam akhir-akhir ini ” (pg: 39)
Hanum bersama dengan patnernya Sam mulai merancang program tersebut, mereka harus membuat programnya mempunyai rating dan share yang baik
“Ya, jika tidak berhasil maka ditendang. Jika berhasil juga tetap “ditendang” ke pelukan kertas-kertas grafik lebih dalam ” (pg: 63)
Hari-hari Hanum selanjutnya disibukan dengan pekerjaannya di GNTV, bahkan sampai mengabaikan Rangga. Berangkat pagi-pagi sekali saat Rangga belum bangun dan pulang sudah larut malam saat Rangga sudah tertidur, bahkan beberapa hari Rangga makan dengan mie instan. Hubungan mereka makin menjauh, untuk menghabiskan waktu Rangga melamar pekerjaan di sebuah perpustakaan milik Philipus Brown. Bersama Azima Rangga ditugaskan untuk membuat tulisan tentang islam dan peradabannya,yang akan diterbitkan di Brown Publisher. Seharusnya Hanum yang dapat menulis tema seperti ini, tetapi sekarang Hanum sedang disibukan dengan ajang pembuktian diri di GNTV, bahwa ia bukan jurnalis kacangan. Hanum sedang berkutat dengan ambisinya.
Novel ini membuatku makin mengerti tentang dunia jurnalis, yang ternyata memang benar adanya banyak nurani dikesampingkan untuk meraih rating dan share dengan berbagai cara dan menghalalkan segala cara agar program TV banyak ditontot orang.
“Aku yakin dalam diri manusia selalu ada nurani bertakhta, sebuah serambi hakiki. Namun ia akan rentan goyah ketika disambangi uang,kekuasaan, kepopuleran dan berlian-berlian semu kehidupan (pg:94)
Faith and The City sebuah pergulatan antara ambisi untuk menaklukan kota New York tetapi sering kali bertentangan dengan nurani. Hanum harus memilih tetap di New York dengan segala impian dan cita-citanya atau memilih menemani Rangga kembali ke Wina dan mengubur impiannya. Judul yang dipilih memang pas sekali, saya pikir ini hanya tema dari buku ini, ternyata “Faith” juga merupakan salah satu nama tokoh yang diceritakan dalam buku ini. Faith atau Zuraida menjadi narasumber dalam acara Insights Muslims, dan episode Faith ini menjadi salah satu episode terbaiknya
“Misi mengubah dunia? Fine !itu mulia sekali, Tapi kau mengubah dunia dengan cara mengubah hubungan dengan suamimu sendiri. Kamu telah dimanfaatkan dunia yang tidak memberimu apa-apa. Bahkan melupakan orang yang sudah memberimu apa-apa…” (pg :130)
Saat membaca novel ini, emosiku cukup teraduk-aduk, terkadang kesal dengan sikap Hanum yang keterlaluan dengan suaminya. Konflik-konflik yang terjadi dalam rumah tangga mereka mengingatkanku untuk selalu berusaha memahami satu sama lain dalam sebuah keluarga. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang banyak mengupas tentang sejarah islam , novel ini banyak membahas tentang konflik dalam sebuah keluarga muslim. Antara Rangga dengan Hanum, antara Ikbal dengan Zuraidha, memang tidak sesuai dengan ekspetasi saya tentang karya Hanum-Rangga yang selalu mengupas sejarah islam. Mungkin di buku selanjutnya “The Converso” akan dibahas lebih dalam tentang peradaban islam.
Ada beberapa kalimat yang menurut saya tidak pas dalam penempatanya. Di Buku ini seringkali penulis menggunakan kata“ditendang” atau“menendang” . Dalam kalimat Menendang Getrude Robinson dari kehidupankuatau Ia menoleh ke Rangga..tapi Hanum tidak akan menendangnya.Meskipun itu hanya makna tersirat, tetapi lebih bijak kalau menggunakan bahasa yang lebih sopan, apalagi ditujukan untuk suaminya.
Ada adegan yang menurut saya juga berlebihan, saat Hanum tiba-tiba meloncat ke pelukan Rangga dan mengecup bibirnya cepat, itu dilakukan di depan umum dan di sorot kamera. Padahal sebelumnya juga ada dialog antara Sam dan kemaramennya yang mengatakan bahwa Muslim tidak ciuman di ruang publik. tetapi ternyata Hanum dan Rangga melakukannya. Padahal hanya dengan saling menatap, tersenyum dan berpegangan atau berpelukan untuk mengungkapkan kegembiraan saya rasa itu sudah cukup.
Tetapi overall buku inikerren, di setiap lembarannya banyak kata-kata yang tersirat dan memberi makna yang dalam. Banyak mengajarkan tentang dunia jurnalis, tentang kehidupan muslim di Amerika, tentang pemikiran-pemikiran masyarakat Amerika dan tentang hakikat sebuah keluarga.
“William Shakespeare mengatakan dunia hanyalah panggung sandiwara, kita hanyalah para pemain sandiwara yang datang dan pergi dalam panggung kehidupan.”
Sederhana dan Amazing. Dua kata yang tersirat dalam benak saya setelah selesai membaca halaman terakhir buku ini. Akhirnya hari ini, buku Faith ad the City yang saya order pada tanggal 4 kemarin mendarat mulus di kantor saya. Penasaran akan cerita apa lagi yang akan disajikan oleh mbak Hanum, saya langsung melahapnya di hari ini juga dalam kurun waktu 3 jam. Aliran cerita mengenai perjalanan mba Hanum dan mas Rangga selama di kota New York selama 3 minggu tertuang di dalam 224 halaman buku ini. Lanjutan cerita Bulan Terbelah di Langit Amerika berlanjut di dalam buku ini dengan tema yang lebih spesifik lagi yaitu mengenai keluarga, cinta, impian dan keteguhan hati. Setelah malam terpenting yang dialami oleh Philipus Brown, Azima Hussein, Sarah Hussein dan Layla Brown karena jembatan terbaik yang dihubungkan oleh Hanum dan Rangga, semua menjadi berubah. Tidak hanya Azima Hussein yang kembali menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan hijabnya, namun Hanum pun mengalami sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Hanum ditawari oleh idolanya yaitu Andy Cooper sebagai seorang jurnalis dalam sebuah stasiun televisi terkemuka di Newyork (GNTV) selama 3 minggu. New York kota yang menjadi impian semua orang dengan hingar bingarnya, seperti memiliki kekuatan magis yang menarik semua orang untuk berada di kota ini.
Keputusannya untuk mengambil pelatihan dalam program televisi tersebut dengan tujuan menunjukkan Islam merupakan agama yang baik, mencintai kedamaian dan tercapainya cita-citanya menjadi jurnalis yang dapat diperhitungkan dengan pengalaman yang luar biasa di kota yang penting yaitu New York (Kota yang Magis). Rangga dengan berat hati akhirnya mengikhlaskan hatinya untuk mendukung keputusan Hanum untuk extend selama 3 minggu di New York untuk mengikuti pelatihan di kantor berita GNTV. Dia tdak ingin Hanum berfikir bahwa ikatan pernikahan menghalangi istrinya dalam menggapai impiannya. Dan, perubahan pun mulai mereka rasakan dalam kurun tiga minggu tersebut. Tak ada lagi, masakan istri yang tersedia bagi Rangga, salat berjamaah yang mereka biasa lakukan biasanya, ataupun makan malam romantis di luar. Rangga menghabiskan waktunya di perpustakaan milik Mr Brown untuk membuat tulisan mengenai sejarah Islam di Spanyol dengan jurnal-jurnal yang telah dikumpulkan oleh Azzima dengan perasaan campur aduk memikirkan Hanum. Sedangkan Hanum dituntut untuk terus dapat menghasilkan acara yang mampu mencapai rating tertinggi dibandingkan kantor berita lainnya dalam acara Insights Muslim. Setiap episode, Hanum terus merasakan konflik batin, dia tidak ingin menghasilkan cerita seorang Muslim dengan cerita-cerita yang mendramatisir dan membuat obyek berita tersebut menjadi tersudut, namun kembali dia terus dituntut untuk dapat bekerja dengan profesional demi sebuah rating yang mampu menunjukkan kemampuannya sebagai seorang jurnalis yang dapat diperhitungkan tanpa mengenal rasa peduli terhadap objek cerita. Bagaimana akhir dari aliran cerita ini? Apakah Hanum akan terus mengikuti ambisinya untuk mencapai impian dengan mengatasnamakan citra Islam di mata dunia, dan apakah Rangga akan terus membiarkan sang istri semakin jauh darinya? Azzima maupun Brown tidak menginginkan pasangang favorit ini mnejadi hancur hanya karena ketamakan sesorang demi sebuah image berupa angka-angka rating, apakah yang akan mereka lakukan
Buku ini menceritakan hal yang umumnya saat ini terjadi antara suami istri, tentang impian seorang istri, tentang restu seorang suami dan tentang suatu impian yang mungkin mampu dicapai namun malah mampu menghancurkan keluarga yang telah terbina dengan baik. Dan semua kembali kepada iman dan keyakinan hati. Apakah kau akan menghnacurkan keluarga yang menjadi impianmu menjadi sakinah, mawadah dan warahmah hanya karena sebuh impian duniamu. Karena bisa jad impian yang menjadi kenyataan, tetapah ilusi dan bisa jadi mampu melupakan iman dan keyakinan yang selama ini dipercayai. Buku ini mengingatkan bahwa di dunia ini tidaklah ada yang abadi. Kita diberi umur seolah kita hidup (bermimpi tanpa ujung) selamanya, padahal sejatinya waktu kita sangat pendek. Kejarlah akhirat dan janganlah “lupakan” duniamu, kata-kata yang telah tertera dalam firmanNYa tela menunjukkan bahwa prioritas yang paling penting adalah akhirat namun kamu tetap dapat mengejar impianmu di dunia demi bersinergis dengan apa yang ingin kau capai di akhiratmu.
Buku ni, membuat saya berfikir mengenai kodrat saya sebagai seorang wanita dan akan menjadi istri yang mengharapkan ridho suaminya untuk mendapatkan surga yang telah dijanjikanNya. Berfikir kembali impian apakah yang saya akan kejar untuk mendapatkan nikmat akhirat namun dapat terus berkarya di dunia guna menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Itulah mengapa saya katakan buku ini sederhana dan amazing, kisah yang sederhana yang sudah sering kita lihat kejadiannya di sekitar kita tentang pencapaian karir, image Islam di berbagai media, dunia kerja dengan target setinggi mungkin tanpa peduli yang dikemas sebaik mungkin dan memnculkan makna yang sangat dalam. Selamat membaca, pertengahan ini buku Faith and the City dapat dicari di toko buku Gramedia. Selamat membaca dan semoga bermanfaat ^_^
“Dan kejarlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebhagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan (melenakan) bahagiamu dari (kenikmatan) dunia” (QS. Al- Qashshas:77)
Sebuah Novel yang menceritakan konflik yang sering terjadi pada kehidupan pasangan suami istri kebanyakan, novel ini mengisahkan konflik tersebut dengan elegan dan menyayat hati, dimana Rangga yang sabar hingga akhir menghadapi Hanum yang gigih menggapai mimpi, mimpi yang sudah tumbuh sejak sangat lama bekerjasama dengan Cooper. Novel ini menggambarkan betapa agama dan Tuhan mengarahkan hati seorang istri untuk patuh terhadap suami, doa Rangga terjawab meski dengan kesabaran yang teramat sangat dan keikhlasanlah yang justru menjadi perantara Tuhan menjawab doanya justru ketika Rangga merelakan Hanum mengejar mimpinya. Kesadaran Hanum yang telah di peralat oleh Cooper menjadi adegan akhir yang dramatis dan sangat romantis, dimana Rangga sudah siap boarding lalu mereka bertemu di receptionist karena jam tangan, iya jam tangan HR (Hanum Rangga). Ulah teman teman Hanum yang tak menyia-nyiakan momen tersebut dengan menyiarkan secara live justru menambah rating bagi mereka.
Bagian favorit saya pada novel ini adalah Epilognya, Hanum berkata kata bukan fiksi, menerjemahkan arti ayat al-quran dengan pengetahuan, menajubkan. Bagaiamana Hanum membicarakan manusia, setan, nadi leher semua isi epilog justru sangat saya sukai dan saya baca berulang-ulang.
Setelah kedua kali baca buku karangan 2 sejoli ini, buku pertama yg saya baca Bulan Terbelah di Langit Amerika, dan menonton film yg diangkat dari buku Hanum, saya menyimpulkan bahwa sepertinya saya suka dengan gaya bahasa dan cerita yg Hanum dan Rangga buat. Ada intrik2 yg menyiratkan fakta2 di kehidupan sehari-hari yg terkadang tidak banyak kita sadari.
Novel ini sepertinya lanjutan dari novel Bulan Terbelah di Langit Amerika. Tapi tidak bisa dibilang dwilogi, atau trilogi, atau tetralogi. Karena penulisnya sendiri tidak menyebutkan begitu. Bisa disebut sebagai sequelnya barangkali. Dan, menurut saya kalau belum baca buku sebelumnya, agaknya kurang seru dan kurang mengerti dengan ceritanya ini.
Sebenarnya ada sesuatu yg menurut saya agak monoton dalam alurnya di sini. Cerita utamanya sebenarnya hanya tentang media. Tentang Hanum yg bertahan bekerja di sebuah media besar yg dicita-citakannya. Dan bumbunya adalah bagaimana Hanum dan orang2 media bekerja demi rating dan share, bagaimana kisah kehidupan seorang 2 orang muslim yg diangkat dalam sebuah acara di sebuah media, dan banyak keburukan2 dari kehidupan pekerjaan jurnalistik. Yang membuat bumbu2 ini menjadi menarik adalah permainan emosi yg ditampilkan oleh kedua tokoh utama yg juga merupakan penulis novel ini. Bagaimana pergulatan batin keduanya, cara mereka menghadapi perkara di dalam rumah tangga, & cara mereka saling mencintai dan berkorban untuk pasangannya. Saya suka dengan tokoh Rangga sejak awal membaca buku mereka. Rangga digambarkan sebagai seorang suami yg pintar, sabar, penyayang, bijaksana, dan juga romantis. Yang mampu mengimbangi istrinya yg juga pintar dan baik, namun agak manja, mewekan, & gegabah.
Saya suka bagian epilognya. Tulisan yg cukup panjang dan berbobot ceramah yg menelisik relung hati sebagai penutup cerita. Yg sebenarnya adalah inti yg ingin disampaikan penulis kepada semua pembaca. Bahwa, hidup di dunia fana ini penuh dengan godaan, kesombongan, ketamakan, ketidakpuasan, dan segala macam keinginan2 manusia yg tidak ada habisnya. Hanya dengan akal sehat dan iman yg kuat kita bisa mengimbanginya agar kehidupan kita tetap bahagia meski dalam kesederhanaan.
Faith & the city ini pada dasarnya merupakan kelanjutan kisah perjalanan Hanum & Rangga dari buku sebelumnya--Bulan Terbelah di Langit Amerika. Yang membuat seru adalah topik baru yang mereka pilih untuk diangkat dalam buku terbarunya ini bisa dibilang cukup menyentil. Apalagi pasca tragedi terorisme yang terjadi di Paris baru-baru ini.
Jika buku Bulan Terbelah di Langit Amerika mengangkat topik tentang Islamophobia yang melanda masyarakat Amerika pasca tragedi WTC, buku Faith & The City ini mengangkat topik yang tak kalah penting dan menarik, yaitu peran media massa dalam mencitrakan Islam dimata dunia.
Hal-hal dibalik layar yang penuh trik & intrik demi pencapaian rating dikupas secara tajam disini. Mudah-mudahan bisa membuka mata kita yang awam untuk tidak begitu saja percaya dan menelan mentah-mentah apa yang disajikan oleh media yang tentu saja punya berbagai kepentingan, mulai dari kejar target produksi hingga provokasi.
Selanjutnya, seperti biasa, kepiawaian Hanum & Rangga dalam mengemas cerita & memainkan emosi pembaca membuat kita tak bisa berhenti untuk menuntaskan membaca buku ini hingga sampai pada halaman terakhir. Konflik yang dibangun terasa begitu dekat dengan realitas kehidupan kita sehari-hari: manusia dengan impian-impian dan ambisinya; setan dengan segala tipu dayanya; kenikmatan dunia yang melenakan para memburunya; cinta, perjuangan dan pengorbanan yang terkadang menempatkan manusia pada pilihan-pilihan yang sulit, semuanya dikemas secara apik dalam buku ini. Pergolakan batin Hanum & Rangga dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya akan membuat kita ikut terhanyut dalam berbagai macam perasaan. Mungkin bisa juga jadi sebuah tamparan yang menyadarkan kita untuk kembali bertanya pada diri sendiri : apa yang sebenarnya kita cari?.
Faith and The City. Inilah sebuah novel yang saya pikir menggambarkan tantangan di era modern saat ini. Bagaimana gemerlap materialisme seolah menjadi magnet sebagian manusia. Banyak yang berbondong-bondong menyesaki kota besar dengan harapan dan impian. Berharap dapat meraup kekayaan yang menggunung --padahal rezeki Illahi itu terbentang luas dimuka bumi ini--. Dan jika kekayaan itu telah diraih, akhirnya terlena dengan gemerlapnya dunia perkotaan.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan sebuah impian sukses di pusat kota. Semua orang berhak menentukan jalan hidupnya. Namun, yang harus diperhatikan adalah sudah kuatkah keyakinan dan keimanan kita? Karena jika keyakinan dan keimanan telah mendarah daging, dimana pun kita mengejar impian tak kan mudah tergoyah oleh silau dunia. Selalu mengingat Tuhan dalam setiap detik perjuangan. Yang pada akhirnya setiap keputusan yang kita ambil selalu melibatkan Tuhan dan semoga selalu diberi yang terbaik.
Itulah makna yang saya peroleh dari novel terbaru Hanum dan Rangga ini. Setiap penulis punya gayanya tersendiri dalam menyampaikan pesan. Dan saya pribadi menikmati kalimat demi kalimat dalam novel Faith and the City ini. Semoga novel-novel yang memberikaan pesan kebaikan seperti ini semakin tumbuh subur di negeri Indonesia. Amin
Faith and The City mengajarkan banyak hal untuk kita.
Pertama, kita bisa belajar bahwa "boleh" kita menjadi seseorang yang "ambisius". Dalam artian "ambisius" yang positif. Ambisius itu diperlukan pada diri kita untuk mendorong kita lebih melakukan effort yang besar untuk meraih cita- cita atau mimpi yang kita inginkan. Jangan sampai kita terllu ambisius dan kemudian membawa kit pada cara yang salah dlam meraih mimpi kita.
Kedua, dalam buku ini secara tersirat mengajarkan kepada kita untuk bisa menerima nasihat atau saran dari orang lain. terutama dari orang-orang terdekat kita. Seperti keluarga (bapak ibu kakak) ataupun suami. Jangan meremehkan omongan orang lain yang bermaksud baik pada kita. Tidak ada salahnya jika kita mendengarkan saran dari orang lain jika itu memang baik untuk kita.
Ketiga,mencari pasangan hidup. hehhe Belajar dari Hanum dan Rangga, mereka itu memang pasangan yang saling melengkapi. saling menguatkan. untuk itu, kita bisa menjadi pelajaran untuk kita bahwa mencari pasangan adalah yang saling menguatkan, mensuport dan ketika menghadapi Up and Down bisa saling memberikan solusi.
Sekian review dari saya, Great Faith and The City!! Great Hanum dan Rangga!!!
Kejarlah akhirat tapi jangan lupakan duniamu. Kejarlah duniamu tapi jangan lupakan akhiratmu."Menurut saya novel Faith and The City mengajarkan banyak hal yang real kita alami dalam kehidupan kita terutama tentang impian, cinta dan cita.
Kita sebagai manusia yang punya banyak impian, keinginan dan cita - cita kerap kali terlalu ambisius untuk mengejarnya. Mengejar dunia kita hingga terkadang kita terlena untuk menuruti ambisi kita.
Seperti yang digambarkan dalam novel,ketika Hanum ingin mengejar impiannya. Ia terlena tapi kemudian tersadar bahwa ia terlalu memperturutkan ambisianya hingga membuat pahala yang bisa diperoleh lewat pintu suami kian menjauh.
Jika impian yang kita raih tapi membuat orang yang kita cintai makin menjauh, sungguh kebahagiaan dari impian itu tak berarti. Kebahagian sejati adalah ketika hati kita merasa bahagia bersama orang yang kita sayangi.
Part demi part buku ini membuat penasaran gimana cerita akhirnya. Makin terbuka mata ini mengenai dunia tv yang cuma kejar rating. Dan sajian epilog dalam buku ini membuat kita paham pesan penulis dalam buku ini.
Hal yang saya suka dari buku ini adalah bagaimana buku ini menggunakan nama tokoh yang ada dalam kehidupan nyata. Hal ini membuat saya sebagai pembaca merasakan apa yang sedang dihadapi oleh Hanum dan Rangga di buku ini. Di satu sisi ada kesenangan karena bisa mencapai apa yang diimpikan. Di sisi lain apa yang diimpikan menjadi hal yang "menyakitkan" bagi diri karena terkadang kenyataan yang kita dapatkan dari mengejar impian tak sesuai dengan apa yang sebenarnya diimpikan.
Di sini kita melihat "konflik" antara idealisme dan hasil yang dialami di buku ini. Bagaimana idealisme melawan rating dan share iklan pun menjadi konflik yang menarik yang disajikan di buku ini.
Momen-momen ringan pada buku ini tidak sekalipun "membebani" pembaca dalam artian mereka terlalu banyak memakan halaman buku. Tetapi momen-momen ringan ini memberikan kita sebagai pembaca waktu untuk "beristirahat" sebelum munculnya konflik-konflik baru.
Overall, saya menyukai buku ini dikarenakan ceritanya yang menarik. Buku ini terasa ringan dibaca tapi di balik ringannya buku ini tersimpan makna yang begitu dalam.
Luar biasa memberikan pencerahan. Jadi membuka mata dan pikiran bahwa memang sejatinya apa yang dilihat belum tentu sejati kebenaran. Berkisah ttg pergolakan batin Rangga yang khawatir iman dan prinsip Islam sang istri, Hanum dijajah oleh kepalsuan kota New York. Hanum yang tak bisa menolak tawaran dari seorang Andy Cooper yg menjadi idolanya selama ini perlahan larut dengan target-target rating & share yg menggilas nurani. Disitulah keikhlasan Rangga diuji, merelakan disertasi yg ter-pending, terabaikan, dan menjalani hari-hari sendiri di New York.
Ah, gemerlap dunia sangat menggoda. Menggilas keyakinan yg dipegang teguh selama ini. Tapi akhirnya Hanum menyadari bahwa berlian yg selama ini ia genggam tak seharusnya dilepaskan begitu saja. Reunited.
"Banyak orang sibuk mengejar dunia. Bahkan, meghalakan segala cara untuk mendapatkan dunia. Namun, ternyata, saat kita sibuk mengejar dunia, dunia justru menusuk diri kita sendiri." Pesan inilah yang saya tangkap usai selesai membaca novel ini.
Novel ini ternyata masih lanjutan dari "Bulan Terbelah di Langit Amerika", di mana Hanum dan Rangga melanjutkan kisahnya di New York dan Hanum terperdaya dengan gemerlapnya New York. Karena nama-nama pemeran dalam novel ini ada dalam kehidupan nyata, sehingga saya awalnya mengira ini adalah kisah nyata penulis. Ternyata, kisah ini hanyalah fiksi, saya agak kecewa mendapatkan hal tersebut.
Akan tetapi, terlepas dari hal tersebut, novel ini cocok dibaca supaya kita sadar tentang fana dan gemerlapnya dunia.
Faith and The City menceritakan tentang konflik yang terjadi antara suami dan istri. Konflik ini ditimbulkan oleh ambisi atau ego sang istri untuk menjadi reporter berkelas. Mereka mencoba untuk menghadap konflik tersebut secara bijaksana. Selain itu, buku ini juga menceritakan tentang keserakahan manusia. Manusia dapat melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika dalam buku ini mencotohkan, untuk mendapatkan rating yang tinggi media akan menghilangkan kesopanan, content, dan rasa menghormati antar sesama. Disini jga diceriakan mengenai nilai-nilai persahabatan.
Faith and The City memberikan gamabaran kepada kita, jika setiap masalah atau konflik yang dihadapi suami istri harus dihadapi secara bijaksana. :) :)
Novel Faith and The City bagus untuk dibaca siapa pun. Khususnya untuk pasangan suami istri yang sedang menghadapi berbagai tantangan dan cobaan dalam membangun rumah tangga yaitu bagaimana sikap seorang istri terhadap suaminya serta kejujuran tidak akan pernah mengkhianati. Terakhir, sangat cocok juga untuk yang tertarik di bidang pertelevisian karena banyak menyuguhkan dunia pertelevisian. Jadi bagi orang yang berminat di pertelevisian bisa jadi rujukan untuk lebih mendalaminya. Hal tersebut juga diperkuat bahwa si penulis juga memiliki stasiun televisi sendiri. Namun, jalan ceritanya mudah ditebak
sejatinya kita semua masih tertidur dan kematianlah nanti yg akan membukakan mata kita ,Pesan religi dan epilog dalam novel ini sangat mengena sekali,betapa kita slama ini terlalu diiming2i oleh gemerlap dunia,skali lagi nemu bacaan skaligus sbagai pengingat,thanks mba hanum atas karya2nya dan slalu menunggu karya mba hanum dan mas rangga slanjutnya ,the converso ? Dan kejarlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat ,dan janganlah kami melupakan(melenakan) bahagianmu dari (kenikmatan) dunia (Qs : Al Qashshas:77)
Kadang kita hanya perlu untuk menoleh ke samping, atau memandang sejenak ke sekitar kita. Dan kita akan mendapat siapa orang paling luar biasa dalam hidup kita, atau hal apa yang paling bernilai untuk kita.
Mbak Hanum sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca nih. Sebal karena tokoh 'Hanum' yang tak peka, sosok 'Rangga' yang kelewat baik di novel ini. Sampai pukulan terakhir, bahwa namanya rezeki itu milih Alloh. Bahwa gemerlapnya dunia bahkan tak sebanding dengan rezeki Alloh bernama keluarga, jalan yang memberi lebih dari sekadar kebaikan dan kebahagiaan hidup. Keren lah pokoknya :)
Buku ini sangat menginspirasi sekali. Meskipun saya masih seorang mahasiswa dan belum menikah, saya menemukan pelajaran berharga dalam kehidupan pernikahan. Di mana kita harus menjaga kehidupan pernikahan kita disamping perjalanan kita mengejar mimpi. Jangan sampai dalam semangat kita mengejar karir kita melupakan keluarga kita. Buku ini juga mengajarkan kita untuk tetap menjaga iman kita dibalik tuntutan dunia. Bagaimana kita tetap berjalan benar serta tetap bersikap profesional dalam pekerjaan.
Selesai baca buku ini tadi malam. Lanjutan dari Bulan Terbelah di Langit Amerika. Masih cerita yang simple tapi (tetap) bermakna. Antara ambisi dan nurani.
"Dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Tempat untuk bermegah, berbangga di antara kamu. Semula akan tampak indah seperti tanaman yang tersapu hujan, tapi kemudian mengering hingga kuning kerontang. Dan semua hanyalah kesenangan yang menipu."
Novel karya anak Bangsa ini sangat menyentuh pesan moralnya. Dimana ada konflik yang dikemas ciamik dengan balutan masalah tentang Keluarga atau Impian. Keluarga, cinta, impian dan keteguhan hati konflik batin cerita yang menyentuh. Impian dan kebanggan yang harus bertentangan dengan iman dan cinta karena ada kesempatan. Moral yang dapat diambil adalah Islam itu Indah
Walaupun bukan real life story kaya biasanya, buku ini udah menarik dan sangat harus dibaca. Buku ini membuat aku belajar bahwa, meraih mimpi-mimpi kita di dunia seharusnya tidak membuat kita lupa untuk meraih mimpi di akhirat, biarpun lupanya hanya satu menit, tetap tidak boleh.