Jump to ratings and reviews
Rate this book

Comedy Apparition, Rumah Penuh Cinta ini Milik Keluarga Penyihir

Rate this book
“Kami penyihir.”
Stephen Heagel terkesima saat teman sekolahnya yang tampan, Cameroon Seer, mengatakan kalimat itu dengan tenang dan biasa. Tapi, mengingat semua keganjilan yang terjadi di sekolah dan peristiwa aneh di sekeliling Cameroon, sepertinya Stephen harus percaya. Apalagi, saat Stephen diundang ke pesta Halloween di mana sosok wanita tua dengan hidung panjang dan bengkok, kucing-kucing hitam, kuali besar, dan segala hal yang hanya Stephen saksikan di film-film menjelma nyata di sana.

Tentu saja, hari demi hari yang dilalui Stephen pun makin aneh saja. Dia yang sebelumnya adalah sosok laki-laki “normal” (menyukai lawan jenis), tiba-tiba mulai menyukai Cameroon dan jatuh hati kepadanya. Ya, tanpa Stephen sadari, kini ia menjadi seorang gay! Benarkah hal itu karena Stephen berada dalam pengaruh sihir Cameroon?

Dengan unik dan kreatif, penulis novel Au-dessus de la tour Eiffel ini mengajak kita berimajinasi tentang cinta, persahabatan, dan ikatan keluarga di tengah-tengah kekuatan sihir yang demikian ajaib.

244 pages, Mass Market Paperback

First published September 8, 2015

4 people are currently reading
31 people want to read

About the author

Ginger Elyse Shelley

7 books16 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (17%)
4 stars
14 (35%)
3 stars
13 (33%)
2 stars
4 (10%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
January 11, 2016
Ini adalah novel tentang penyihir yang fokus utamanya bukan pada sihir itu sendiri. Alih-alih saling melontar mantra, berperang melawan sihir hitam, atau mencari telur naga; Ziggy mengajak pembaca untuk mencari apakah Cameron gay atau tidak, bagaimana Luca menemukan cinta monyet pertamanya, serta mengapa keluarga Seer tidak merayakan Natal. Yang lebih luar biasa dari ceritanya adalah kekayaan metafora yang ditebar penulis di sepanjang buku ini. Metaforanya, dan juga perumpamaan-perumpamaan di dalamnya, sungguh sangat 'baru.' Juga, masakannya, berlimpah banget, dan masakannya ala barat semua. Sama sekali tidak terdengar unsur lokal dalam novel yang ditulis bak novel terjemahan ini. Baratnya pun barat banget, alurnya rapi, dan walau sederhana tapi novel ini menyenangkan untuk dibaca. Review lengkap semoga segera menyusul.
1 review1 follower
August 23, 2023
I really like this book, the concept of it is very interesting but the ending kinda sucks. After all of that buildup, then some random girl just came to Cameron's life and then boom they got engaged somehow. I would've given this book a 4 star if not for the queerbaiting and the ending. Worth to read tho.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Cress Amethyst Sherianne.
4 reviews
March 30, 2021
Bagus! Bagus! Baguus! Entah kenapa aku masih berharap kalau Stephen bakalan berakhir sama Cameron tapi OK soalnya sama Rouscha pun mereka menggemaskan. 🥺 Aku suka hampir semua tulisan Ziggy (ada beberapa yang belum aku baca), dan buku ini juga gak mengecewakan!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Kici.
3 reviews
June 11, 2020
Menceritakan tentang keluarga Sher si penyihir. Konfliknya manis. Beneran sesuai untuk remaja. Aku suka banget sama tulisannya ginger Elyse. Kayak terjemahan tetapi mudah dicerna kok.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for R..
28 reviews
March 24, 2023
awalnya sih seru ya, tapi lama2 bosen banget.. soalnya di buku ini ngejelasin satu hal aja bisa sampe 1 paragraf yg bikin jadi bosen. terus cameron juga kenapa bisa tunangan sama bocah.. 🥲
Profile Image for naga.
450 reviews96 followers
October 9, 2015
Pertama-tama, salam hangat terfujoshi kepada siapapun yang membaca ini. (HUAHAHA-oke, enggak jelas)

Jadi, entah kenapa novel ini ngasih aku vibe kayak seri Keluarga Flood//The Floods waktu pertamakali ngelihat di rak buku. Terus lihat nama pengarangnya dan enggak berpikir dua kali buat beli. Aku tuh emang suka banget sama buku-bukunya Ginger senpai ini. Gaya menulisnya itu kayak novel terjemahan, dan berhubung aku sudah terbiasa sama novel terjemahan, jadi bacanya enak-enak saja huahaha.

Sudah gitu tema buku ini: penyihir, orang aneh, dan... dan.. gay!!! Bahagia banget tuh rasanya huahaha. Ceritanya simpel, bukan fiksi fantasi-sihir berat yang bikin puyeng. Dan walaupun banyak setting sekolah di novel ini, sekolahnya bukan jenis sekolah sihir yang kayak Hogwarts, tapi sekolah Muggle. Aku paling suka karakter Cameron, kalem tapi manis banget. Waktu dia ngegodain Stephen tuh malah aku yang salting /slapped. Tapi Cameron emang jago banget bikin baper u _ u

Tokoh-tokoh utama-sampingan (keluarga besar Seer) juga enggak kalah menyenangkan. Aku suka sama Rouscha, dia pembawaannya hampir mirip Cameron, kalem tapi manis. Luca juga menarik, sih. Cewek sebelas tahun, punya aura gelap sebegitu kuatnya; ayo semua puja Yang Mulia Luca.

Intinya, buku ini tuh menarik banget. Ringan tapi enggak membosankan. Cover bukunya juga lucu, lumayan buat jadi pajangan, huahaha.

Dan, selamat ulang tahun juga untuk Ginger Elyse Shelley!
Profile Image for Frida.
201 reviews16 followers
March 6, 2017
Hari-hari pertama Stephen bersekolah di Brooke High, setelah kepindahannya di Bayfield Hallway nomor 34 B, diwarnai serentetan kejadian mencengangkan, terlebih sejak berkenalan dengan Cameron Seer. Laki-laki tampan, berperawakan kurus, dan kalem itu mengenalkannya akan siapa sebenarnya keluarga Seer, yang selama ini dikenal aneh.

"Kami penyihir." (Cameron, hal. 53)

Memang, tak mungkin Stephen tak terkejut. Namun, dengan cukup cepat, ia mampu menerima kenyataan itu. Yah, sebelumnya ia sudah curiga akan kejadian ajaib yang dilakukan Cameron di kelas. Malah, yang membuatnya tak percaya adalah ketika Cameron berkata,

"Aku tidak bisa sihir." (hal. 57)

Di antara sepuluh anak keluarga Seer, Cameron dan Rouscha paling berbeda. Mulai dari warna rambut (yang merah) hingga ketidakkerenan sihir mereka. Makin lama, Stephen makin dekat dengan Cameron dan keluarga Seer secara keseluruhan, terutama Rouscha. Stephen juga tahu bahwa Cameron gay, bahkan dialah yang membantu Cameron memastikan orientasi seksualnya.

"Kau tahu, kata mereka, cara paling cepat untuk mengetahui perasaanmu pada seseorang adalah mencium mereka." (Stephen, hal. 45)

Hari itu adalah pertama kalinya Stephen berciuman dengan laki-laki. Ia merasakan getaran aneh saat bersentuhan dengan Cameron. Ia masih normal, kan.... http://kimfricung.blogspot.co.id/2015...
Profile Image for Aliftya Amarilisyariningtyas.
113 reviews7 followers
October 31, 2015
Secara keseluruhan, cerita yang disuguhkan oleh penulis terbilang menarik. Ia menawarkan tema yang berbeda dari novel-novel remaja Indonesia kebanyakan. Di dalamnya pula, terdapat beberapa twist-twist kecil yang tak terpikirkan oleh pembaca sebelumnya. Ah, ya, novel ini juga tidak hanya cocok dibaca oleh remaja, saya rasa para dewasa muda juga masih sangat cocok untuk membacanya.

Untuk segi teknis sendiri, saya tidak bermasalah dengan desain sampulnya. Warna kuning yang dipakai sebagai latar, cukup mengundang mata orang yang melihatnya. Yang kurang saya sukai adalah ukuran bukunya yang “panjang”. Kalau saya pribadi, sebetulnya, lebih suka dengan ukuran buku yang kecil, meski jatuhnya halaman buku menjadi lebih tebal. Selebihnya, saya tidak mempermasalahkan apapun.


*) ulasan lebih lengkap dapat dilihat pada http://aredjournal.blogspot.co.id/201...
Profile Image for Rif.
279 reviews35 followers
July 20, 2016
Seperti biasa, Ziggy selalu bisa membuat kagum.. meskipun untuk kali ini, gaya penulisannya agak mengganjal :"
Profile Image for Nora Apriyani.
151 reviews
April 24, 2017
Berkisah tentang keluarga Seer - keluarga penyihir yang hidup di kawasan bukan penyihir bernama Bayfield Hallway. Keluarga Seer terdiri dari 12 orang yang tinggal dalam satu rumah. Sepuluh anak keluarga Seer memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Cerita lebih terfokus kepada dua orang Seer yang berbeda dengan Seer lainnya dari segi fisik (warna rambut dan matanya). Mereka adalah Cameron dan Rouscha.

Cameron mendapat teman baru yang memang merupakan murid baru di sekolahnya, bernama Stephen Haegel. Seperti orang-orang kebanyakan yang baru mengenal keluarga Seer, Stephen pun penasaran dengan desas-desus mengenai keanehan keluarga Seer.

Cameron pun tanpa segan mempersilakan Stephen ke rumahnya, agar Stephen berhenti penasaran. Tidak semua teman ia beri kesempatan itu, ia cukup menyukai Stephen hingga memutuskan hal tersebut. Namun Craish - kakak Cameron, tidak menyukai kedekatan Cameron dengan Stephen yang notabene nya cuma anak biasa - bukan penyihir. Craish pun menyuruh (atau lebih tepatnya memaksa) Cameron untuk membawa Stephen ke rumah mereka (lagi) tepat pada perayaan hari Halloween yang selalu mereka peringati dan rayakan setiap tahunnya. Bukan hanya terkejut dan tidak mau menuruti perintah kakaknya, Cameron juga memohon agar Craish tidak memaksanya melakukan hal itu.

Sebenarnya Stephen tidak keberatan untuk menghadiri pesta Halloween itu, namun bagi Cameron hal itu bisa saja menjadi akhir bagi persahabatan mereka. Dan tentu saja ia tidak pernah menginginkan hal tersebut terjadi.

*** *** *** *** ***

Comedy is a work of mind with a dramatic irony to create laughter. It contains a generous amounts element of surprise, incongruity, and effect of the opposite expectation. Apparition is anomalous experience, a perception of unseen object. It is an unexpected encounter. Then, is Comedy Apparition a series of unexpectedness, or in other words things impossibly expected, or... the expected?

Yeah, penjelasan in english tersebut cukup menjelaskan inti dari buku Ginger ini yang berjudul Comedy Apparition, Rumah Penuh Cinta Ini Milik Keluarga Penyihir. Comedy di sini bukan berarti lawak, tetapi lebih kepada dramatic irony in a life. Salah satunya adalah ketika terungkap orientasi seks dari Cameron (tokoh yang bisa dibilang sebagai tokoh utama dari buku ini, meski sebenarnya tidak ada tokoh utama di dalam buku ini) yang ternyata menyukai sesama jenis alias gay.

Hampir tidak ada konflik khusus di buku ini, kalaupun ada mungkin hanya pada ketidak bisaan sihir oleh Cameron dan Rouscha. Yah, mereka berdua tidak bisa sihir hingga mereka merasa seperti pecundang yang memiliki nasib sial yang sama. Namun setelah mengenal Stephen, Cameron dan Rouscha mulai menemukan 'bakat' mereka di dunia persihiran. Well, selain itu, ceritanya datar, seperti cerita sebuah keluarga, hanya saja keluarga yang satu ini keluarga penyihir.

Penyihir di sini bukan seperti yang di Harry Potter, tapi lebih kepada kisah penyihir klasik dengan kuali, labu, ramuan ekor kadal, dsb, di mana nenek moyang mereka berhidung bengkok, keriput, berwajah bengis, bongkok, dan bertopi kerucut.

Untuk segi cerita, bukan selera saya sih, walapun saya biasanya suka dengan cerita ala-ala magic, tapi yang ini terlalu datar, aku bosaaan :( .
Untuk gaya menulis, Ginger alias Ziggy emang udah fasih banget nulis-nulis ala novel terjemahan. Metafora yang digunakan pun sungguh bikin kagum. Hanya saja POV nya yang ga jelas, kadang pakai POV orang ketiga, kadang pakai POV orang pertama, jadi rancu aja bacanya, dan itu sangat saya sayangkan karena benar-benar mengurangi kenyamanan ketika membaca buku ini.

Over all 2,5 bintang untuk buku ini, dibulatkan ke atas karena saya beneran kagum dengan metafora yang disajikan oleh Ginger.

P.s : Buku ini sudah lama saya liat di tobuk, hampir beli tapi masih ragu. Kemudian setelah beberapa kali baca buku Ziggy, akhirnya membulatkan tekad untuk beli buku ini, tapi pas dateng ke tobuk langganan ternyata buku ini udah ga ada di tempatnya. Minta cariin sama pegawai tobuknya, eh ternyata bukunya dipindah ke bagian Home Design gitu karena judul bukunya itu kan ada kata 'rumah'nya, makanya malah di pindahin ke situ, lol.. :D
Ini tuh mirip sama kejadian duluuu banget waktu beli buku Tere Liye yang Hapalan Shalat Delisa (waktu itu Tere Liye belum setenar sekarang), puter-puter nyari bukunya di bagian novel ga ketemu. Pas nanya pegawainya, ternyata buku nya di taruh di deretan buku-buku islami, dipikir bukunya isinya tentang bacaan shalat kali ya :)) .
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.