Kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, tidak juga mengembara ke masa depan.
Sering kali kita merasa sibuk dan kekurangan waktu untuk ini dan itu. Kita berusaha mengerjakan semuanya sekaligus, tanpa sadar bahwa tubuh dan pikiran kita memiliki keterbatasan. Karena itu, buku ini hadir untuk mengajak Anda duduk diam sejenak, agar dapat menyadari kehadiran Anda di sini, saat ini.
Di dalamnya diulas berbagai langkah praktis untuk mencapai mindfulness, yaitu keselerasan tubuh dan pikiran. Dengan begitu, diharapkan Anda dapat menjalani keseharian disertai energi yang lebih positif. Selain dapat membantu mengelola stres, mindfulness juga membuat Anda lebih menghargai kebahagiaan pada hal-hal sederhana. Profil Adjie Silarus
"I don’t pretend I’m more than I am.
I'm just a guy who has simplified his life
and focused on being mindful."
Adjie Silarus merupakan seorang praktisi mindfulness lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dengan predikat cumlaude. Buku pertamanya berjudul Sejenak Hening dan merupakan national best-seller.
Sejak 2010 sampai sekarang, dia sering diundang dan diminta berbagi mengenai “mindfulness” melalui pelatihan, seminar, konsultasi kepada orang-orang yang merasa membutuhkan solusi untuk meningkatkan fokus dan produktivitas kerja, menciptakan hidup bahagia dan tenang, mengelola stres, mengasah kecerdasan emosi, serta membina hubungan damai dengan sesama.
Dia telah berbagi mengenai mindfulness kepada banyak perusahaan ternama, termasuk BCA, Wijaya Karya, Jiwasraya, Kompas, Chevrolet, Adaro Indonesia, Sucofindo, dan masih banyak lagi. Termasuk Prasetiya Mulya Business School, Universitas Gajah Mada, dan Institut Teknologi Bandung.
Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2010 ini menjadi founder dan CEO dari SukhaCitta. Perusahaan tersebut membuat perencanaan, pelatihan, seminar, dan konsultasi yang berkaitan dengan hidup berkarya nan bahagia melalui pendekatan "mindfulness". SukhaCitta adalah perjalanan bersama dalam berbagi kebahagiaan.
saya suka Adjie Silarus. menurut saya, dia adalah penulis yang baik, buktinya ia bisa saja memberikan soft copy bukunya kepada orang lain dengan cara mengunduh di website. ia pun tidak memaksa orang harus beli, pinjam pun boleh, karena yang lebih penting adalah membaca buku ini. jujur, saya langsung kya kya kya dengan gayanya yg seperti ini. karena entah kenapa saya suka sekali. meski tidak boleh terlalu polos, bisa jadi itu juga strategi marketing. niat baik mas Adjie tetap saya acung jempol. sikapnya lah yg membuat saya justru berlangganan pada websitenya juga bukunya. sayang, saya belum berkesempatan untuk datang ke pelatihannya.
hanya saja, buku ini bukanlah buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca, sehingga bisa kamu habiskan segera. buku ini menurut saya agak berat, butuh jeda, dan bisa jadi semua itu karena saya mikirin hal2 yg ga seharusnya dipikirin
Buku ini kembali mengajarkanku untuk kembali bersyukur di saat aku sedang banyak-banyaknya mengeluh tentang banyak hal. Bersyukur memang nggak akan mengubah apa yang sudah terjadi tapi bersyukur bisa memberi kekuatan untuk melanjutkan hidup. It takes courage to live. Untuk menjalani dan menikmati hidup, memang butuh keberanian. Keberanian untuk menerima dan menciptakan perspektif lain.
Sejalan dengan stoicism yang sedang aku pelajari, segala peristiwa sejatinya adalah netral. Perspektif kita yang mengubahnya menjadi A atau B atau C. Mengombinasikan stoicism dengan mindfulness memang "mantul". Mantap bentul.
Buku ini sebetulnya lebih banyak berbicara soal teori dan nasihat-nasihat. Jadi untuk mengubahnya jadi sesuatu yang praktikal memang harus dikunyah dan diproses sendiri.
Seperti istilah "berkawan dengan sepi". Itu klise. Apakah untuk berkawan dengan sepi itu aku harus berkata: "Hai, sepi. Aku Dilla. Mau jadi kawanku?" Kan tentu saja tidak.
Jadi, untuk bisa memahami bagaimana caranya berkawan dengan sepi yang dimaksud penulis, pembaca (aku) harus bisa meresapi bacaannya dulu. Dibaca berulang kali. Baru ketemu: Oh, begitu maksudnya.
Kesimpulannya, nilai 3.5 dari 5 tapi berhubung ngga bisa kasih setengah jadi dibulatkan menjadi 4.
i'm giving up this book about halfway down... seperti pada umumnya buku2 self help, normal rasanya pembaca gak setuju sama sebagian tips, atau masukan yg penulis berikan. tapi khususnya di buku yg satu ini, ke-tidak setuju-an saya teralu banyak, untuk dilanjutkan. bukan berarti sy ga setuju semuannya, beberapa ada yg memang saya rasa masukan yg baik, bahkan saya praktekan juga di kehidupan sehari hari, sedangkan yg lainnya, membuat sy capek sendiri mendebat kosong lembaran buku ini. mungkin akan kembali buku ini suatu saat nanti, saat saya sedang lebih open minded. who knows, the result might be better... because, after all, we human. we use hearts, not only brains.
Dari gaya penulisannya yang ngga terlalu kaku, bikin aku menjadi rileks membacanya. Dan banyak banget hal-hal yang dibahas dibuku ini, pokoknya yang berdasarkan tentang mindfulness, kesadaran diri, dan rasa syukur.
Pembahasan yang sepele? Nggak juga, bahkan ada beberapa hal yang masih susah aku jalankan. Contohnya aku masih kesulitan dalam mengontrol diri supaya tidak berada di "Autopilot" mode. Apa itu Autopilot mode? Ya baca!!!😜
Dan karena buku ini aku jamin seru bahasannya, jadinya review-nya segini aja deh😂
Oiya, Aku dapet e-booknya langsung dari blog penulisnya loh, GRATIS!!!💖💖
Banyak banget pemahaman baru dari buku ini yang berhasil membuatku tergugah. Quotes-quotes-nya pun tak kalah keren, banyak yang aku anotasi.
Namun, buku ini kurang relate buatku, entah kenapa rasanya buku ini ditujukan kepada pekerja-pekerja dewasa. Meskipun begitu, isinya tetap nggak menurunkan kualitas, justru membuatku makin bersemangat membaca buku-buku self-improvement lainnya!
Ada catatan hikmah yg mudah dituliskan yg selama ini telah teraba. Namun kasus contohny seringkali terlalu personal.. Hikmah terjabar berulang betele Tele kadang.. Mungkin krn sy biasa Dan penyuka tulisan ilmiah yg cenderung singkat padat
Ketika saya sedang berada dalam kondisi fisik yang drop, saya menemukan buku ini. Mas Adjie kembali mengingatkan saya pentingnya hidup secara utuh hari ini dan seterusnya.
Review kapan-kapan, masih sibuk mencoba ilmu mindfulness dari ini. Sadar penuh, hadir utuh powerful banget ternyata (iya, kalo kita bisa memaksimalkannya) 😁
Awalnya saya mengira multitasking adalah sesuatu yang luar biasa. Di mana kita bisa melakukan semua hal dalam waktu yang sama. Namun buku ini membuat saya mengerti bahwa pada dasarnya otak manusia tidak mampu memerhatikan lebih dari satu aktivitas yang kompleks secara bersamaan.
Hidup tak melulu tentang tergesa untuk bertindak, tetapi juga ada kalanya yang bisa kita lakukan hanya menunggu. (hlm. xvi) Seringkali pula dalam melakukan sesuatu, kita tidak fokus sepenuhnya. Pikiran mengembara entah kemana. Contoh sederhana di saat kita sedang minum, namun pikiran kita melayang membayangkan masalah yang sedang menimpa. Hal ini membuat kita tidak bisa menikmati setiap detik langkah kita. Maka di sini, Adjie Silarus mengajak kita untuk belajar memfokuskan pikiran. Menyadari segala hal yang kita lakukan sepenuhnya dan menghadirkan diri seutuhnya.
#missejournal #aisyahfadh • • "Akar dari banyak masalah yang kita hadapi adalah ketidakmampuan kita untuk sadar penuh—hadir utuh, lalu melepaskan dan merelakan pergi." —Adjie Silarus
MEMBACA ADALAH KEMEWAHAN. Itu adalah bagian favoritku dalam buku #SadarPenuhHadirUtuh ini. Beberapa judul manis dengan sejumlah permasalahan dan solusinya dipaparkan secara apik oleh penulis sehingga pembaca tak hanya membaca tapi juga merasa.
Ini adalah buku kedua yang dihadiahkan @17indaah kepadaku (satunya adalah buku #IKnowYou). Maka, setelah membaca buku ini beberapa waktu lalu, ku pikir aku telah menemukan 'teman terbaik' yang dimaksudkan Abraham Lincoln. . . “My best friend is a person who will give me a book I have not read.” –Abraham Lincoln . . Buku ini keren. Wajib kamu baca! . . . Judul: Sadar Penuh Hadir Utuh Penulis: Adjie Silarus Terbit: 2015 Halaman: 270 Penerbit: Transmedia
Buku ini mengajarkan kita untuk hadir secara utuh saat ini. Bukan untuk terus mengenang masa lalu ataupun berkelana ke masa depan. Terkadang fikiran perlu untuk berhenti sejenak untuk merasakan apa-apa yang terjadi saat ini. Saat kita makan rasakanlah dan nikmati makanan yang sedang engkau makan. Saat bekerja bekerjalah dengan maksimal. Saat bermain bermainlah dengan menyenangkan. Jangan bekerja tapi memikirkan liburan ataupun liburan memikirkan pekerjaan. Usahakanlah untuk tidak multitasking dalam melakukan kegiatan sehari-hari agar kita lebih memahami, merasakan dan menyadari apa yang sedang dilakukan. Mindfullness.
"Kadang kita perlu duduk sejenak merangkul diam, tidak terperangkap masa lalu, tidak juga mengembara ke masa depan."
Awalnya saya cuma sekedar keliling di toko buku. Tiba2 ketemu buku karya Adjie Silarus, tanpa berpikir lama, saya langsung menuju kasir dan langsung membaca.
Buku ini sangat membantu saya dalam melatih mindfulness. Banyak cara-cara yang disampaikan agar kita bisa melatih mindfulness. Ini adalah buku pertama saya yang bergenre self help. Sejak membaca buku ini, saya selalu tertantang untuk lebih mengembangkan diri menjadi lebih baik.
Sepanjang yang saya ketahui, masih sedikit buku tentang mindfulness yang ditulis oleh penulis Indonesia. Adjie Silarus menurut saya berhasil memperkenalkan konsep mindfulness dalam bukunya dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti.
Very recomended book for release ur stress and practice about mindfullness. It's make you to more focus with your task and feeling greatful about this life. Very inspiring!