Banyak hal baru soal budaya Jepang yang kudapatkan dari buku ini terutama soal keunikan cara hidup dan cara pandang orang Jepang pada umumnya. Namun, buku ini juga menimbulkan banyak pertanyaan. Selama membaca buku ini, aku jadi terus menelusuri banyak kata kunci baru melalui internet. Apa saja yang kudapatkan dari buku ini?
Filosofi WA
Wa adalah pasal pertama dan paling terkenal dari 17 konstitusi Jepang. Maknanya adalah bergaul dengan orang lain dengan harmonis, damai, dapat bekerja sama dengan baik, dan saling menghargai satu sama lain. Filosofi WA ini yang sering diulang di sepanjang buku ini pada berbagai bab yang berbeda untuk menekankan betapa masyarakat Jepang memiliki sifat dasar yang begitu mementingkan orang lain demi menjaga harmoni.
17 Pasal Konstitusi ini dibuat oleh Pangeran Shotoku yang pada usia 20 tahun dipasrashi kebijakan politik oleh kaisar. Saat itu yang berkuasa adalah Kaisar Suiko, kaisar pertama wanita di Jepang. Ada beberapa legenda terkenal soal Pangeran Shotoku, misalnya bahwa ia lahir di kandang kuda seperti Yesus Kristus. Ada juga legenda yang menceritakan bahwa pernah ada 10 orang yang bertanya pada Pangeran Shotoku. Kesepuluh orang itu berbicara di saat yang sama dan Pangeran Shotoku bisa memahami semuanya dengan baik, serta menjawab dengan baik juga. Di Jepang, sang Pangeran juga dikenal sebagai penyebar agama Buddha. Di Prefektur Nara, terdapat kuil kuno Horyuji yang konon dibangun olehnya.
Kanji "Wa" (和) berhomonim dengan kata "en" (円) (lingkaran, yen) dan kata "maru" (丸) (bulat). Di Jepang maknanya "hubungan manusia yang berjalan baik dan menuju keharmonisan". Sebaliknya hubungan manusia yang tidak berjalan baik diibaratkan sebagai kado ga tatsu atau tersudut.
Saat terjadi masalah, ketika seseorang berusaha memecahkan masalah dengan memahami hubungan manusia, hal itu disebut dengan maruku osameru atau melingkar. Kanji "enman" (円満) bermakna "membina hubungan baik dan memuaskan semua orang".
Seseorang yang sudah beranjak tua, bersikap tenang, dan lembut, disebut dengan "ano hito wa maruku natta" atau "ano hito wa kado ga toreta" yang artinya sama-sama "orang itu sudah sempurna". Ada banyak sekali istilah Jepang yang memakai kata "en" (lingkaran) dan "maru" (bulat). Bahkan bendera Jepang pun memiliki simbol lingkaran merah sempurna. Bagi masyarakat Jepang, lingkaran adalah simbol penting.
Bagi bangsa Jepang yang harus hidup rukun di negara kepulauan yang sempit,
"hitobito no wa"
(keharmonisan bangsa) dan "marui koto" (kesempurnaan) adalah hal yang sangat berarti.
*
Orang Jepang Lebih Mengutamakan Kelompok
Budaya Jepang mengutamakan harmonisasi, mementingkan hubungan dengan orang lain, terlebih dalam kelompok di lapisan masyarakat tempat mereka berada. Secara tradisi mereka lebih suka melakukan sesuatu bersama orang lain dan tidak ingin menonjol. Mereka juga mendengarkan pendapat orang lain lebih dahulu daripada memaksakan pendapat sendiri.
Sistem bekerja di Jepang (tadinya) seumur hidup. Bagi orang Jepang, kontribusi untuk kemajuan perusahaan lebih penting daripada kepuasan dan kesuksesan pribadi. Peningkatan kinerja perusahaan lebih penting daripada peningkatan kinerja pribadi. Ketika karyawan Jepang terlibat dalam suatu proyek, seluruh karyawan mempunyai tujuan yang sama sehingga kekuatan teamwork-nya pun luar biasa. Itu karena sejak kecil mereka diajarkan tentang betapa pentingnya menyesuaikan diri dengan orang lain sehingga secara alami bisa bekerja sama dengan orang lain. Di perusahaan Amerika dan Eropa umumnya diterapkan prinsip kompetisi sehingga para karyawan akan bersaing dalam organisasinya agar bisa berhasil dan mencapai promosi. Di perusahaan pemerintahan Jepang, aturannya berbeda: pegawai yang masuk pada usia yang sama akan dipromosikan secara bersama-sama dan disebut "seangkatan". Sehingga mereka akan berteman dekat dan saling bekerja sama daripada saling berlomba. Di kantor pemerintah Jepang, sehebat apa pun seseorang, jabatannya tidak akan mengungguli jabatan orang yang masuk lebih dulu, apalagi menjadi atasan orang itu. Di perusahaan swasta mungkin tetap ada persaingan, tapi tetap saja mereka lebih menitikberatkan pada kerja sama daripada berkompetisi. Sistem kenaikan gajinya disesuaikan dengan usia dan masa kerja (Length-Service Hierarchy atau hierarki berdasarkan masa pengabdian)
Masyarakat Jepang juga menghormati senioritas atau
choyonojo
. Orang yang lebih dahulu ada di tempat kerja atau di sekolah disebut "senpai", sedangkan "kouhai" adalah orang yang masuk belakangan. Jika berbicara dengan senior, maka bahasa yang digunakan lebih formal dan sopan. Di Jepang, saat memulai sebuah pekerjaan, seorang junior akan minta bantuan pada seniornya, lalu junior itu menjadi bagian dari kelompok. Senior (seharusnya) menjaga seniornya seperti layaknya orangtua atau kakak. Sang senior akan memberikan bimbingan yang sangat baik untuk perkembangan dan pertumbuhan juniornya. Para junior akan berterima kasih terhadap bimbingan itu. Mereka berusaha setekun mungkin mengasah keahlian tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk organisasi serta senior yang membimbing mereka.
Di Jepang, ada istilah
mura-hachi-bu
yang digunakan untuk mengasingkan seseorang karena dia telah melakukan pelanggaran tata tertib, ketentuan, dan peraturan yang berlaku di desa Jepang. "Mura" berarti desa, "hachi" berarti delapan, dan "bu berarti 1 dari 10 menit. Arti istilah itu bisa jadi memutuskan hubungan dengan orang lain sebanyak 80 persen. Di desa Jepang, ada 10 kegiatan yang dilakukan bersama-sama:
1. perayaan orang dewasa
2. pernikahan
3. kelahiran
4. merawat orang sakit
5. bantuan atas renovasi
6. bantuan ketika banjir
7. peringatan atas kematian (upacara memeringati kematian Buddha di hari ulang tahunnya)
8. tur/perjalanan
9. pemakaman
10. pemadaman api ketika kebakaran
Mura-hachi-bu berarti berhenti melakukan delapan dari sepuluh kegiatan di atas. Untuk urusan pemakaman dan pemadaman api tetap dilakukan, karena orang yang sudah meninggal tidak sepantasnya dikucilkan, sedangkan ketika kebakaran, masyarakat jelas harus bergotong-royong agar kebakaran tidak meluas. Berlakunya mura-hachi-bu tidak hanya terbatas di pedesaan. Pengucilan adalah salah satu cara orang Jepang untuk menghukum atau menegur, karena mereka berorientasi pada kehidupan berkelompok.
Setelah membaca ini, aku jadi bertanya-tanya, bukankah hal ini juga jadi cikal-bakal iijime berupa pengasingan pada seseorang (bahkan meskipun orang itu nggak bersalah)?
Tahun 1923, terjadi percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota Jepang. Pelaku menembak ke arah mobil yang sedang melaju membawa putra mahkota. Untungnya putra mahkota selamat. Setelah kejadian itu banyak orang mengambil sikap bertanggung jawab. Polisi senior di komisaris kepolisian dipecat karena dinyatakan kurang melakukan pengawasan terhadap putra mahkota. Karena kepolisian adalah bagian dari pemerintahan, perdana menteri selaku pejabat yang memegang tanggung jawab tertinggi di pemerintahan juga harus menyerahkan surat pengunduran diri dan mundur dari kabinet. Gubernur wilayah pelaku penembakan juga diberi sanksi. Kepala sekolah SD tempat pelaku pernah bersekolah juga mengundurkan diri. Ayah dari pelaku penembakan yang merupakan salah satu anggota DPR, juga mengundurkan diri dan tinggal di rumah tanpa mau makan sampai meninggal dunia.
Buatku selain mengagumkan, sikap bertanggung jawab ini juga tidak masuk akal. Masa sampai kepala sekolah SD pun perlu merasa bertanggung jawab? Kejauhan nggak, sih? Tapi begitulah orang Jepang.
Orang Jepang mengajarkan pentingnya berkelompok pada anak-anak sejak TK, ketika mereka diajari baris-berbaris secara berulang-ulang, dan kebiasaan apel pagi. Pelajaran juga disisipkan dengan diadakannya pertandingan olahraga rutin yang diadakan setiap tahun. Semua siswa harus berpartisipasi dan para orangtua maupun orang-orang dari luar sekolah datang berkunjung. Semua jenis olahraga tidak bisa dilakukan dengan baik kecuali dengan bekerja sama dalam kelompok. Sebagian besar siswa akan berlatih keras dari jauh hari agar tidak malu ketika orang luar datang menonton. Para guru juga membimbing dengan sungguh-sungguh saat pelatihan pendahuluan.
Selain itu pentingnya kerja sama dilakukan dengan adanya kegiatan sosial masyarakat setempat, darmawisata, program budaya seperti konser dan drama sekolah, kegiatan seperti upacara pelepasan, upacara pembukaan, acara wisuda, dan upacara penerimaan siswa baru. Mereka juga memiliki jadwal piket untuk membersihkan kelas. Ternyata soal jadwal piket membersihkan kelas ini tidak ada di Amerika.
Ketika seorang anak tidak mau makan, orangtua Jepang akan berkata, "Ya sudah, tidak mau makan juga tidak apa-apa," dengan nada keras. Maka anak Jepang pun akan makan bukan karena mengerti makanannya bergizi, melainkan karena tidak mau mengecewakan orangtuanya. Hal ini juga berlaku di dunia kerja. Jika seorang atasan mengatakan, "Boleh lakukanlah sesukamu" atau "Lakukanlah tanpa minta izin padaku," ini berarti atasan itu sudah sangat kecewa. Bawahan yang mengerti akan langsung meminta maaf. Sayangnya anak-anak muda di Jepang bisa jadi kini tak mengerti maksud dari ungkapan ini.
*
Budaya Rendah Hati
Di Jepang ada budaya herikudaru, budaya rendah hati. Jika dipuji, mereka biasanya tidak berterima kasih atau membanggakan diri. Sebaliknya mereka akan bilang "Ah saya nggak sehebat itu" atau "Saya hanya beruntung". Saking rendah hatinya, mereka tidak terbiasa melakukan selebrasi jika menang, misalnya para atlet. Menang atau kalah, para atlet akan membungkukkan badan untuk menghormati lawannya. Ekspresi kemenangan seperti meninju langit jarang dilakukan. Pesumo Yokozuna asal Mongolia pernah melakukan selebrasi dengan meninju udara saat menang dan ia langsung dikritik. Namun, karena pergeseran nilai, anak-anak muda Jepang saat ini lebih mengekspresikan rasa senang mereka secara terbuka ketika meraih kemenangan atau keberhasilan. Bagi masyarakat tradisional Jepang, hal ini tidaklah sopan.
Jika mereka mendapat keberuntungan, lolos ujian, sembuh dari penyakit, dan hal baik lainnya, mereka akan berkata, "Okagesama de yang berarti "berkat bantuan" bahkan jika sebenarnya ia tidak ditolong.
Okagesama de genki desu
, juga jawaban bagi pertanyaan
ogenki desuka, genki de yatte imasuka
, dan
ikaga osugashi desuka
, yang berarti
how are you?
. Artinya berkat dirimu, aku baik-baik saja. Okagesama de genki desu berarti berkat dirimu aku baik-baik saja." Budaya Jepang mewajibkan untuk bersikap rendah hati di setiap saat.
Yang paling mencengangkan bagiku dari bagian ini adalah pernyataan bahwa orang Jepang tidak memuji anggota keluarganya sendiri. Itu karena posisi anggota keluarga sama dengan posisi diri sendiri. Karena mereka tidak memuji diri sendiri, mereka juga tidak memuji anggota keluarga. Misal ada orangtua yang memiliki anak yang sangat pintar, maka orangtua itu tidak akan berbicara "anak saya pintar" kepada orang lain. Mereka justru akan berkata "saya pusing karena anak saya tidak pintar."
Saat memperkenalkan keluarga, mereka cenderung bersikap rendah hati dengan mengatakan, "Ini anak laki-laki saya yang bodoh" (gusoku) atau "ini istri saya yang bodoh" (gusai). Kanji "gu" berarti bodoh. Tapi juga berarti sebutan untuk diri sendiri dengan rendah hati. Jadi gusai bisa berarti "ini istri dari saya yang bodoh". Yang bodoh adalah dirinya, bukan istrinya.
Saat memberi oleh-oleh mereka juga akan berkata "ini adalah sesuatu yang tidak berharga" padahal bisa jadi barang yang diberikan adalah barang mahal. Begitu juga ketika menjamu orang, mereka akan berkata, "tidak ada sesuatu yang mewah, tapi mohon dinikmati", padahal bisa jadi yang disuguhkan benar-benar makanan yang enak.
Mereka juga memiliki budaya sungkan yang tinggi. Jika diundang makan, mereka akan selalu sungkan, meskipun ketika menerima undangan benar-benar ingin pergi. Mereka juga akan mempersilakan orang lain untuk mengambil makanan lebih dulu, lalu mengambil lebih sedikit agar orang lain bisa mendapat makanan yang cukup. Orang Jepang juga tidak mengambil makanan terakhir yang tersedia untuk diri sendiri, dia akan mempersilakan orang lain. Karena itu biasanya di Jepang makanan terakhir di piring tidak diambil oleh siapa pun.
Jika mengajak orang lain makan akan lebih dahulu mengutamakan preferensi orang lain di atas keinginannya sendiri. Mereka tidak akan memaksakan keinginan mereka pada orang lain karena merasa itu tidak sopan. Biasanya mereka akan menyesuaikan dengan keinginan orang lain dan berpikir, "Ya sudah lah ikut saja"."
Tapi bagian yang membuatku paling bertanya-tanya, ada di bagian penjelasan mengapa orang Jepang sering meminta maaf. Ditulis bahwa para ahli berpendapat itu karena orang Jepang tidak pernah ditundukkan atau dikuasai bangsa lain. Sejarah negara lain sering diwarnai kisah penekanan agama dan budaya dari bangsa lain, sebuah kondisi yang sulit untuk dihadapi hanya dengan maaf. Kusimpulkan dari pernyataan ini bahwa orang Jepang dianggap mudah meminta maaf karena merasa tidak melakukan kesalahan yang sangat fatal sehingga mudah bagi mereka untuk minta maaf.
Dengan mengecualikan keterpurukan setelah Perang Dunia II, selama lebih dari ribuan tahun, bangsa Jepang dikatakan tidak pernah mengelami pertempuran untuk mempertahankan hidup-mati bangsa Jepang itu sendiri. Apakah masa-masa sengoku jidai yang penuh peperangan itu tidak dihitung? Banyak orang mati pada saat itu, kan? Belum lagi peristiwa-peristiwa seperti pembantaian orang Kristen. Yang paling tidak masuk akal bagiku adalah ketika dituliskan juga bahwa Jepang tidak pernah memiliki konflik atau bertentangan dengan bangsa lain karena pada dasarnya Jepang adalah negara yang damai. Bagaimana dengan yang mereka lakukan pada orang Okinawa? Bagaimana dengan yang sudah mereka lakukan pada Indonesia dan negara lain di era Perang Dunia II? Kasus jugun ianfu dan romusha? Bagian ini membuatku berpikir bahwa buku ini ditulis untuk propaganda dan menyatakan bangsa Jepang adalah bangsa yang unggul tanpa mempedulikan sisi gelap yang sudah mereka timbulkan dalam sejarah dan masa kini.
*
Awal Jepang Begitu Mementingkan Pendidikan
Tahun 1853 Jepang terpaksa membuka negaranya karena terintimidasi dengan empat kapal uap perang Amerika yang memang datang untuk minta akses perdagangan. Kapal-kapal itu berwarna hitam sehingga disebut "kapal hitam". Untuk pertama kalinya orang Jepang melihat armada kapal perang besar yang dinavigasikan dengan mesin uap dengan cerobong asap yang mengeluarkan api, ditambah meriam yang banyak. Meriam-meriam itu memberi kesan terjadinya kebakaran hebat. Orang Jepang ketakutan dengan kapal hitam sampai tidak bisa tidur di malam hari. Peristiwa ini terjadi di Edo, Era Bakufu. Sebelumnya pemerintahan Edo Bakufu memberlakukan kebijakan isolasi negara, membatasi secara ketat kegiatan pertukaran dan perdagangan dengan negara asing.
Sebelum kedatangan kapal hitam, sejak tahun 1840-1842 terjadi perang candu ketika Tiongkok dikalahkan Inggris. Akibatnya Hongkong jatuh ke tangan Inggris. Kebanyakan orang Jepang berpikir bahwa pihak Barat bertujuan untuk menjajah dan sasaran berikutnya adalah Jepang. Karena minimnya kegiatan pertukaran dengan bangsa asing, Jepang sangat takut untuk memulai kegiatan perdagangan dan pertukaran dengan pihak asing. Militer Jepang masih sangat lemah jika dibandingkan dengan negara barat. Bakufu pesimis Jepang mampu menghadapi Amerika meski negara itu hanya membawa empat kapal. Akhirnya Jepang terpaksa menuruti keinginan Amerika dan negara-negara barat lainnya pun menyusul Amerika dalam menjalin kerja sama perdagangan dengan Jepang.
Kebijakan membuka negara ini membangkitkan gerakan menentang Bakufu. Tahun 1867 (14 tahun kemudian), kekuasaan Edo Bakufu runtuh setelah memerintah selama 260 tahun. Setelah keruntuhan Bakufu, dimulailah pemerintahan oleh kaisar yang disebut zaman Meiji. Saat itu banyak negara Asia dijajah negara-negara barat. Orang Jepang berpikir bahwa ada kemungkinan mereka bisa mengalami nasib yang sama. Maka mereka pun ingin mengembangkan industri dan memperkuat militer. Orang Jepang pun mendirikan pabrik agar bisa menyamai Eropa. Mereka terus membuat kapal dan menanam padi. Muncul pemikiran untuk "membuat manusia" melalui pendidikan.
Jepang mulai membuat sistem sekolah di tahun 1872 pada era Meiji. Anak-anak usia di atas 6 tahun, diharuskan ke sekolah. Hanya dalam tiga tahun, telah berdiri 24.303 sekolah dasar. Banyak orang mengorbankan harta pribadinya agar bisa berdonasi untuk mendirikan sekolah.
Di prefektur Nigata, ada klan Nagaoka yang dulu sangat miskin di akhir era Tokugawa. Melihat klan Nagaoka kelaparan, klan-klan lain menyumbang 100 karung beras untuk mereka. Namun pemimpin klan, Kobayashi Torasaburo, menjual semua itu demi mendirikan sekolah. Tentu saja tadinya ia ditentang oleh kebanyakan orang. Ia berhasil meyakinkan mereka semua dengan berkata: "Biar sekarung beras pun bila habis dimakan maka kota akan hilang. Tapi dengan pendidikan, di masa yang akan datang mungkin akan ada sepuluh ribu bahkan sejuta karung beras. Pembangunan Jepang masih tertinggal dan mungkin sekarang akan diinvasi oleh bangsa asing seperti Amerika, Eropa, dan Tiongkok. Mulai saat ini meskipun lapar, kita akan mendirikan sekolah, membangun manusia, dan memperkuat Jepang." Meskipun dalam keadaan kelaparan, orang Jepang dengan teguh berinvestasi di bidang pendidikan.
Lima puluh tahun setelah kedatangan kapal hitam, Jepang berperang dengan Rusia yang merupakan negara adidaya Eropa, dari tahun 1904-1905. Saat itu Rusia mengerahkan Armada Baltik yang merupakan salah satu armada terbesar dan terkuat di dunia. Namun, pada 5 September 1905, Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Salah satu penentu kemenangan Jepang pada perang Jepang-Rusia adalah pertempuran laut Jepang. Armada Baltik kehilangan sebagian besar kapalnya dan Rusia pun terpaksa menawarkan perdamaian.
*
Masih banyak catatan yang kudapat dari membaca buku ini, kulanjutkan mengetik di kotak komentar saja karena keterbatasan space.