Read from May 23 to 27, 2012
Judul: Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne
Penulis: Daoed Joesoef
Penerbit: Kompas
Edisi: Soft Cover
Rilis: April 2010 (cetakan 3)
Tebal: 304 hlm
ISBN: 9789797094867
Harga: Rp. 40.800,-
"Kau lihat sungat ini Daoed? Kau harus tetap berlaku seperti batang air ini. Walau ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya, semakin lama semakin menjauhi sumber asalnya, ia tidak pernah memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya, ia tetap setia padanya."
Pepatah mengatakan, di belakang setiap pria hebat pasti ada seorang wanita hebat. Benarkah? Bisa jadi di belakang setiap pria hebat ada seorang wanita yang jauh lebih hebat. Hal inilah yang Daoed Joesoef paparkan dalam buku ini, menggambarkan kecintaan dan kekaguman pada sang ibunda yang luar biasa. Sosok wanita yang diceritakan penulis dengan penuh cinta, terangkum dalam 22 bab yang semuanya diawali dengan kata "Emak".
Siti Jasiah atau yang biasa dipanggil emak adalah orang kampung yang buta huruf dan tidak berpendidikan formal. Emak berasal dari keluarga petani, yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pertanian. Dia digambarkan sebagai sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. Disatu sisi dia juga bisa menjadi orang yang tegas dan keras dalam memperjuangkan prinsipnya. Meskipun tidak menempuh pendidikan formal, emak berusaha menanamkan nilai pendidikan dan agama kepada anak-anaknya. Hubungan antar saudara yang rukun, ikatan keluarga harmonis sampai kebiasaan-kebiasaan sederhana yang diajarkannya menjadi seberkas cerita yang menakjubkan.
Kelebihan buku ini adalah cara penulis mengolah adegan menjadi demikian hidup, selayaknya sedang mendongeng dan menceritaan masa lalunya. Sulit untuk tidak menjadi terhanyut dan terbawa arus yang diciptakan penulis. Begitu banyak cerita humanis yang menyajikan beragam falsafah dan pegalaman hidup yang bisa kita ambil hikmahnya. Ambil contoh tentang filosofi buah kemiri.
"Untuk menanam kemiri ini kita tidak perlu menjadi dewa atau orang pintar. Kita hanya memerlukan niat, kemauan, ingatan pada anak cucu dan sebuah cangkul atau sekop."
Buku ini bernuansa religius yang kental. Sekecil apapun pelajaran yang ditanamkan emak dalam ranah keluarga ditampilkan dengan bersahaja. Dan tentu saja, saya menemukan begitu banyak kalimat-kalimat indah yang mampu mendamaikan hati dan menyejukkan nurani. Salah satu yang paling menyentuh saya adalah yang ini:
“Mengingat Allah dan agama kita sangat memujikan kedamaian dan kekhusyukan.”
Bicara setting, dalam buku ini di jelaskan bahwa mereka tinggal di Kampung Darat, Medan. Penulis menggambarkan suasana hutan dengan apik, lengkap dengan binatang buasnya yang mengerikan. Bahkan dia menuliskan nama-nama jalannya dengan detail. Saya jadi penasaran dengan Sungai Putih yang konon katanya airnya begitu jernih sampai ikan-ikan kecil kelihatan jelas berenang kian kemari. Hanya saja, saya menemukan beberapa cerita plot-nya membingungkan. Terkadang perpindahan satu adegan ke adegan yang lain berjalan kurang mulus. Dengan point of view orang pertama (penulis sendiri) untuk menceritakan banyak tokoh, saya harus berkonsentrasi agar tidak lupa. Dan beberapa dialog berbahasa Belanda cukup mengganggu.
Overall, saya suka debut buku Daoed Sang Menteri ini. Moral of the story novel ini berhasil menyentuh relung terdalam hati saya. Mengingatkan saya dengan sosok ibunda tercinta. Mengingatkan umur saya yang tak lagi muda. Menyadarkan bahwa saya masih belum sepenuhnya mendengarkan petuahnya. Dan parahnya, menghujam batin saya karena belum mampu membahagiakan dan membanggakan beliau.
"Tutur kata, perbuatan dan budi pekerti emak telah merajut hidupku. Ia terus berjalan. Mak, lihatlah, bagai batang air yang terus mengalir dengan tak pernah memutuskan diri dari sumbernya barang sedetik pun. Kepergian emak, maut ini, pasti bukan merupakan akhir tetapi bagian dari hidup itu."
Rate: 3 of 5 star