Kekasihku, di jalan ada perjumpaan dan sua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras suluk itu. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu......~Amongrogo untuk tambang raras
Ini perkenalan pertamaku dengan serat Centhini. Gara-gara buku ini aku mencari serat Centhini yang masih asli berbahasa Jawa. Aku sudah mendapat 9 dari 12 jilid serat itu. Entah kapan juga aku punya waktu untuk membaca serat Centhini dalam bahasa aslinya itu. Buku ini hanya penggalan dari buku Les Chants de l'ile a dormir debout le Livre de Centhini (2002)yang ditulis oleh pengarang yang sama dalam bahasa Perancis. Ada 3 buku lagi setelahnya. Perasaan luar biasa yang kurasakan setelah membaca buku ini tidak dapat kuungkapkan. Ada kekosongan yang dalam, seperti ada mata rantai yang terputus dengan masa lalu. PR lain yang harus kukerjakan.
Vulgar dan blak-blakan,meskipun demikian cerita ini mendapatkan banyak pujian. Mengisahkan tentang pasangan suami istri selama 40 malam dalam kamar pengantin tanpa bersetUbuh. Banyak hal indah dan mengagumkan yg bisa kita ambil hikmahnya.
Pernah baca yang versi jawanya, tapi karena pakai bahasa jawa kuno jadi gak ngerti artinya.. Begitu tau ada terjemahan indonesia-nya, langsung deh beli buku ini.. Buku ini cuma menerjemahkan kisah2 yang merupakan inti dari buku yang sebenarnya.. Jadi pengen baca buku yang selanjutnya juga..
Aku suka prosesi menyatukan raga dan ruh mereka dalam 40 malam. Begitu menikam kalbu tapi itu semua untuk terjalinnya penyatuan antara kekasih dan yg terkasih. Mistis, sakral, keramat, bukan hal awam, begitu menggugah rasa kemanusiaanku dan kebatinanku.
Ini buku centhini yang pertama saya baca.. Mempelajari sejarah sekaligus mempelajari nilai-nilai rohani dan budaya. Saya sangat suka buka ini, saya sangat suka membaca Centhini! :D