Suatu hari, Hyeong-su dan Wu-yeong tanpa sengaja melihat teman sekelas mereka, Eun-jae, dianiaya oleh ayahnya sendiri. Seandainya pun Eun-jae melakukan kesalahan, apakah anak perempuan yang baru berusia 15 tahun itu pantas mendapat hukuman semengerikan itu?
Hyeong-su dan Wu-yeong merasa terusik sepanjang malam, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara itu, Eun-jae bersikap seolah tidak ada yang terjadi, menjauh dari teman-temannya, memilih hidup dalam kepasrahan dan ketakutan. Karena hanya kehidupan seperti itulah yang dikenalnya sejak ia kecil.
Narator dalam kisah ini adalah sosok istimewa yang sering kali disebut “takdir” atau “keberuntungan”. Ia senantiasa mengawasi anak-anak itu. Namun, sayang sekali, ia tidak bisa menyelamatkan siapa pun dari penganiayaan. Ia hanya bisa memberikan bantuan apabila seseorang masih memiliki keinginan besar untuk bertahan hidup dan meminta uluran tangannya. Apakah Eun-jae akan berhasil mengerahkan keberanian untuk meraih kembali hidupnya yang sempat terlepas dari pegangan?
❝Membesarkan anak memang sulit. Kau mungkin merasa baru mulai berhasil menyesuaikan diri, tetapi anak-anakmu sudah melompat jauh mendahuluimu.❞
actual rating: 3.5/5
Teman-teman sekelasnya menjuluki Eun-jae sebagai Dark Knight> karena gadis itu tidak pernah tersenyum dan enggan berbicara dengan siapa pun. Hingga suatu ketidaksengajaan membuat Hyeong-su dan Wu-yeong mendapati bahwa Eun-jae adalah korban penganiayaan oleh ayahnya sendiri.
Hyeong-su dan Wu-yeong tentu saja tidak bisa bersikap seakan-akan mereka tidak tahu apa yang terjadi. Sedangkan Eun-jae justru diliputi perasaan malu dan khawatir teman-temannya akan memandanginya dengan sorot kasihan. Sebab, ini bukan pertama kalinya orang-orang datang seolah peduli, seakan mampu melindungi, sebelum akhirnya justru berbalik arah memunggungi.
Meskipun sampulnya cerah, buku ini ternyata cukup gelap, ya 😅
Yang membuat Keberuntungan Sedang Menghampirimu terasa berbeda adalah topik kekerasan pada anak kali ini benar-benar berfokus pada bagaimana korban, saksi, dan orang-orang di sekelilingnya adalah anak-anak menjelang remaja berusia 15 tahun. Sama seperti Akan Kulintasi Dunia Untukmu, aku langsung tahu bahwa Lee Kkoch Nim memang piawai menangkap keresahan hati dan isi kepala remaja secara jujur.
Betapa menyakitkannya melihat anak-anak yang rapuh ini menganggap teriakan dan pukulan dalam keluarga sebagai suatu kenormalan yang harus mereka sembunyikan 😢
Bagian yang paling menohokku adalah ketika pelatih bertanya mengapa anak-anak begitu berani tanpa pendampingan mendatangi rumah teman mereka yang ayahnya seorang abuser, lalu anak-anak bilang “Tapi, Pelatih juga... sudah tahu.” 🥲 Mereka sama-sama tahu rasa sakit dan ketakutan yang dialami Eun-jae, tapi justru anak-anak yang rentan ini lebih berani dibanding orang dewasa untuk menyelamatkan Eun-jae 💔
Aku sadar di luar sana banyak Eun-jae lain. yang menunggu uluran tangan. Semoga fajar akhirnya datang menjemput mereka juga, mengakhiri malam panjang yang penuh luka.
"Mereka akan tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang hanya memikirkan diri sendiri, seperti mereka yang menutup jendela ketika melihat tindakan kekerasan..."
Ada satu hal yang terlintas dalam benakku ketika membaca kisah Eun-jae dan Wu-yeong: kok bisa ya orangtua tega melakukan hal buruk kepada anaknya sendiri? Saya sedih sekali membaca kisah Eun-jae dan Wu-yeong. Ibu Wu-yeong terobsesi dengan hidup anaknya, semacam orangtua yang controlling, daftarin anaknya les ini les itu, nilai di sekolah adalah segalanya, gak bisa mentolerir kegagalan. Sedangkan ayah Eun-jae "gemar" menyiksa anaknya, ibunya pun kabur.
Sebagai orangtua, saya sangat mengerti perasaan Eun-jae dan Wu-yeong. Rasanya ingin memeluk mereka dan bilang bahwa kalau saya jadi ortu mereka, saya gak akan kayak gitu. Sedih banget pokoknya. Di dunia ini pasti ada Eun-jae dan Wu-yeong lainnya yang butuh diselamatkan. Anak-anak itu rapuh, sudah selayaknya orangtua melindungi mereka. Anak titipan Allah. Namanya titipan ya harus dijaga agar tidak rusak karena mereka bukan milik kita.
Berkisah tentang tiga remaja SMP berusia 15. Konflik yang dihadirkan cukup berat; Eun-Jae dianiaya oleh ayahnya sendiri; Wu-Yoeng yang selalu dipaksa mengikuti obsesi ibunya. Bab-nya pendek-pendek, adegan cukup ringkas, dan naratornya unik merupakah sosok disebut 'keberuntungan'.
Membaca cerita tokoh remaja yang mengalami KDRT (termasuk bullying dan masalah hidup lainnya) memang selalu bikin tahan napas saat membaca. Apalagi dalam cerita ini, mataku memanas saat membaca adegan Eun-Jae ke kantor polisi. Rasa terbakar di mataku makin menjadi ketika Eun-Jae berkata, "Tolong... aku."
Aku berharap keberuntungan selalu menyertai anak-anak yang mengalami masalah hidup.